Saturday 8 February 2014

Rahasia (bananaprincess)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini


Severus Snape, Lily Evans – Harry Potter – J.K. Rowling.
Sherlock – Steven Moffat, Mark Gattis, & BBC. Sherlock Holmes – Arthur Conan Doyle.

Akibat dari Sherlock hangover, akhirnya iseng nulis fanfik ini untuk Snape Day (challenge profesi lain) yang diadakan Ambudaff. Aku menukar Molly Hooper dengan Lily Evans dan Anderson Phillip dengan Severus Snape.
Enjoy!

Beberapa orang berharap bisa mengingat lebih banyak. Yang lain berharap tidak pernah lupa segala sesuatu. Ada juga yang ingin tahu apa yang terjadi pada kehidupan yang lalu.
Akan tetapi, bagaimana jika kamu benar-benar bisa menyimpan semua memori dalam kepalamu? Hidup demi hidup yang dijalani. Kenangan-kenangan.
Saat kamu bisa mengingat segalanya, tanpa bisa melupakan.
Severus sering berdoa agar dapat menghapus memori tentang sepasang mata hijau cemerlang.
-o-
"Lily, kamu harus lihat ini!"
Severus menyamai langkah Lily di koridor rumah sakit St. Bart's. Jas dokter yang dipakai perempuan berambut merah gelap berkelepak setiap kali ia melangkah. Permintaan lelaki tinggi dengan pakaian hitam-hitam itu seakan sengaja diabaikan. Laki-laki itu bisa saja menarik lengan Lily agak berhenti, tetapi ia tidak melakukannya.
"Lily!" panggilnya sekali lagi dengan suara agak keras, meski mereka berjalan bersisian.
"Apa lagi, Sev?" Lily berhenti tepat di depan pintu kamar mayat.
"Kamu harus lihat video ini!"
Lily mengambil ponsel Severus yang sejak tadi ditawarkan. "Video lain tentang Sherlock Holmes?" tanyanya memandangi layar ponsel.
"Greg yang mengambilnya ketika kami memeriksa flatnya untuk mencari narkotika."
"Aku tahu teorimu, Sev."
"Dia memakai kokain, Lily!"
"Mana buktinya?" Lily menyerahkan kembali ponsel itu dengan tidak sabar.
Muka Severus merah padam. Namun dia tidak bergerak sedikit pun dari hadapan Lily. "Kami memang nggak menemukannya kemarin. Lain kali, aku akan mendapatkan bukti," katanya dengan nada rendah.
Lily mendengus dan berpaling. Severus tahu ia sudah membuat Lily terganggu dengan pernyataannya. Akan tetapi, ia tidak akan membiatkan kalau sampai Lily terluka karena pria itu.
"Sev," Lily mendorong pintu kamar mayat, "Kenapa sih kamu selalu mengurusi urusannya? Kalian seharusnya bekerja sama. Kamu—petugas forensik dari kepolisian dan dia—detektif, sorry, konsultan detektif. Bagus untuk kalian kalau bisa akur, kan?"
"Aku nggak bisa!" Severus menahan pintu dengan tangannya agar tidak tertutup.
Mulut Lily terbuka sedikit, menunjukkan kekagetan oleh seruan Severus barusan. Ia mundur, merapat ke pintu. Memasukkan tangan ke saku jas. "Yah, dia memang agak menyebalkan," sahutnya pelan. Lily tertawa kecil dan hampa. Ia sendiri tidak mengerti mengapa tertawa.
Sangat menyebalkan.
Sesaat tak ada yang bicara antara mereka berdua. Severus masih berdiri mengawasi Lily. Bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah punya nyali untuk mengatakan apa yang sebenarnya. Rahasia yang lama disimpan. Rahasia yang berdebu di sudut kepalanya. Selalu seperti ini, setiap kali kesempatan datang Severus akan mundur. Ia tahu apa yang akan terjadi. Hidup yang ini hanya ulangan hidup yang lain.
Severus menelan ludah. Menurunkan tangannya dari pintu. Ia mengusap rambutnya yang hitam gelap dan berminyak. Pada setiap kehidupan yang dijalaninya, ia selalu mencoba untuk memperbaiki penampilan. Tetapi itu tidak pernah cukup untuk membuat Lily melihatnya.
"Kukira kita punya janji makan siang bersama," Severus merapikan jaket kulit yang dipakainya.
Lily menunduk. "Aku harus mencatat bentuk memar yang muncul pada mayat di dalam... Sherlock memintaku."
"Apa?!" potong Severus terkejut.
"Ada yang harus aku lakukan, Sev. Pergilah ke kantin, aku akan menyusul."
Pintu kamar mayat itu tertutup tanpa memberi kesempatan Severus untuk menjawab.
-o-
Lily tidak pernah datang.
Pun sampai hari ini.
Severus merindukannya.
Severus berjongkok di samping seorang perempuan muda yang berlumuran darah. Rambutnya merah terurai. Beberapa kotoran yang tampaknya cat-cat terkelupas mengotori helaiannya. Tubuhnya telungkup, wajahnya tertutupi oleh rambut. Severus bersyukur karena itu.
Dia beruntung dulu tidak melihat darah. Bukan Severus benci dengan darah—ini adalah pekerjaan sehari-hari yang harus ia lakoni. Hanya saja, ia sulit membendung memori yang datang bertubi-tubi. Semua kenangan itu sejelas siang hari. Mata itu—hijau yang menghantui.
Tangan Severus gemetar ketika hendak mengambil sidik jari dari korban pembunuhan itu. Ia takut untuk melihat paras korban. Ia tak bisa.
Pintu kamar di rumah kosong itu menjeblak terbuka. Greg Lestrade, Detektif Inspektur dari satuan Scotland Yard datang bersama Sherlock Holmes. Severus menghela napas. Matanya melirik sinis kepada pria itu.
Arogan. Mengapa sejak dulu ia selalu berkompetisi dengan orang-orang seperti dia?
"Ah Severus, kita bertemu lagi," kata pria itu menyebrangi ruangan, lalu berlutut di sisi mayat tersebut.
Dari sudut mata, Severus mengenali kode dari Greg yang memintanya untuk keluar dari ruangan. Tangannya masih bergetar ketika menjauh dari mayat itu. Kali ini, dia tidak ingin membantah bahkan berdebat dengan Sherlock. Ia membencinya. Tetapi, untuk kali ini Severus merasa terselamatkan.
"Ini TKP. Aku tidak ingin terkontaminasi. Jelas?" ujar Severus tegas.
Keduanya saling tatap.
"Cukup jelas, Severus," balas Sherlock, menegaskan nama lawan bicaranya. Matanya tertuju kepada tremor di tangan Severus. "Keluar sekarang. Aku tidak ingin melihatmu."
Severus tersinggung. Ia tahu Sherlock membaca sesuatu dari matanya. Sebelum pria itu mengeluarkan semuanya lewat mulut ularnya, lebih baik Severus menyingkir. Severus buru-buru berpaling, sementara Sherlock meneruskan investigasinya atas mayat perempuan itu.
Saat Severus menyingkir ke arah pintu. Ia mengerling sekali lagi kepada Sherlock. Pria itu menyibak rambut korban. Lampu-lampu yang dipasang di sekitar TKP, membuat Severus bisa melihat warna matanya.
Dia bukan Lily. Bukan Lily.
-o-
Severus tahu itu bukan mimpi. Ia tahu itu adalah memori. Sepasang mata hijau cemerlang. Milik Lily. Milik seorang anak laki-laki yang ia benci. Severus tahu segala sesuatu. Ia tak pernah bisa melupakan apa-apa. Tetapi, memaksa untuk mengingat tak pernah mudah.
Bertahun-tahun ia mencoba untuk melupakan. Apapun. Kian keras ia mencoba, justru ingatan satu persatu mengapung dalam kepalanya.
Kenangan-kenangan tentang Lily Evans. Cintanya kepada Lily yang selalu membuat Severus kembali kepada perempuan itu. Pada setiap kehidupan. Ia tak pernah bisa melupakan. Dan, pada akhirnya, Severus selalu mencari. Selalu menemukan kembali.
Ia mencari tahu apakah ada orang lain yang seperti dirinya. Punya ingatan-ingatan dari berbagai kehidupan. Akan tetapi, hingga kini ia tak pernah menemukan seorang pun yang mengalami layaknya yang terjadi kepadanya.
Bahkan Lily, yang ia tahu merupakan sosok yang sama dengan yang dicintainya dulu. Lily, dokter forensik di St. Bart's yang membuat Severus matian-matian menjadi bagian forensik dari Scotland Yard. Mereka punya rambut sewarna. Mata yang sama terangnya. Semua. namun, tak satupun ingatan bahwa mereka pernah saling mengenal di kehidupan yang lalu tertinggal pada Lily. Severus mengingat semua sendiri. Perasaan-perasaannya yang tak pernah berpindah dari dalam hati.
Tetapi, Severus nyaris selalu luput untuk mengatakan apa yang selama ini dibendung dalam hatinya.
-o-
Janji untuk makan siang bersama itu tak kunjung terpenuhi. Hingga teror mulai datang lagi. Satu demi satu ancaman bom itu datang. Dimulai dari Baker Street dan hari ini, Severus berada di sebuah pabrik gula-gula di Addlestone.
Sepasang anak hilang dari asramanya. Sherlock dengan kemampuannya yang luar biasa, dengan cepat memperkirakan di mana kedua anak itu berada. Severus berjalan di antara lorong mesing yang tidak lagi digunakan. Senter tergenggam erat di tangannya. Langkahnya terhenti saat salah seorang staf berseru sudah menemukan kedua anak tersebut.
Severus melirik Sherlock ketika kedua anak tersebut dievakuasi ke dalam ambulans. Ekspresi pria itu cerah tak tertahankan. Jauh berbeda dengan seluruh orang di dalam sini yang tampak prihatin. Apa dia tak punya hati?
Severus seharusnya bisa lebih cemerlang dibanding Sherlock, tetapi bagaimana bisa ia sama sekali tidak punya daya untuk menguak jejak sepatu anak-anak itu yang tertinggal di asrama mereka?
Karena ia berpikir tentang Lily. Selalu dan setiap saat.
-o-
"Lily, dengarkan aku."
Harus ada korban yang jatuh terlebih dulu, agar akhirnya mereka berdua bisa duduk di kantin St. Bart's siang ini.
"Sev?" sahut Lily kesal. "Itu tidak mungkin."
"Dia bisa menemukan anak-anak itu hanya dengan jejak sepatu. Dan kamu tahu si anak perempuan, Claudette, yang langsung berteriak ketika melihat Sherlock. Bagaimana bisa seorang anak bereaksi seperti itu ketika pertama kali melihat pria itu. Dia memang mengerikan, kecuali..."
"Aku bisa menebak teorimu, Sev. Sherlock Holmes memang berengsek, tetapi dia nggak mungkin melakukan itu," potong Lily, menyuap kentang ke dalam mulutnya. Cerita Severus barusan jelas mengusik Lily, ekspresi menampakkan itu dengan jelas.
"Dia seorang sosiopat, Lily. Dia bukan manusia. Suatu saat kalau dia bosan. Dia akan melakukan itu. Aku sudah menebaknya sejak dulu," ujar Severus dengan suara tertahan.
"Sev!" hardik Lily. Sepasang mata hijau cerlang itu menatap Severus tajam.
Benak Severus memanas karena perdebatan ini. Sejak Sherlock Holmes muncul, Lily selalu menganggap pria itu seperti emas. Lebih brilian. Lebih cakap dalam hal apapun dibanding Severus. Padahal, jelas orang-orang menganggap pria itu hanya bajingan yang terobsesi dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.
Ia menenggak cola dingin yang dikirinya bisa memadamkan perasaan terbakar dalam hatinya. Perempuan manis di depannya ini, selalu punya pembelaan untuk Sherlock. Semua orang bahkan jelas tahu kalau Lily menyukai pria itu. Tak ada orang lain yang bahkan berniat untuk melakukan itu kepada Sherlock, pria tidak berhati dan tak pernah bisa berkata-kata dengan benar itu. Tak ada, kecuali Lily.
"Mengapa tidak sekali saja kamu mempercayaiku, Lily." Tangan Severus tergenggam di atas meja. Bola matanya yang gelap membesar ketika mencondongkan tubuh dekat Lily.
"Sekali?!" balas Lily membentak. Gerakannya yang tiba-tiba mengguncang meja mereka dan nyaris menumpahkan jus jeruk. "Sejak sekolah tak ada yang mau berteman denganmu kecuali aku. Kapan aku nggak pernah mempercayaimu. Jangan bersikap seperti anak kecil, Severus."
"Jadi, siapa yang lebih kamu percayai? Aku atau Sherlock Holmes?"
Lily berdiri tiba-tiba, nyaris membuat kursinya terjungkal. Severus ternganga. Sekejap ia menyesali apa yang tadi keluar dari mulutnya. Belum pernah ia melihat Lily semarah itu. seluruh wajahnya bersemburat merah. Kedua mata hijau terang yang biasa lembut itu kini memandang seperti tersulut api.
Severus segera bangkit. Mengambil barang Lily yang tertinggal di atas meja. "Lily! Dengarkan aku," seru Severus yang begitu keras hingga semua orang menoleh kepada mereka.
"Apa lagi?" katanya tanpa memandang Severus. Kakinya bergerak cepat menapaki koridor.
"Kamu harus percaya kepadaku," jelas Severus.
"Kenapa?" tanya Lily. Marahnya tak lagi disembunyikan.
Severus menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang. Dalam udara sejuk St. Bart's, ia bisa merasakan gerah dalam tubuhnya. Panas yang entah datang dari mana dan membuat peluh mulai keluar lewat pori-pori punggung dan tangannya.
Ia mengingat mata hijau cerah. Anak perempuan di balik pohon. Lorong-lorong sekolah tua yang penuh keajaiban.
Ia ingat pertama kali berkenalan dengan Lily karena rumah mereka berdekatan. Berangkat ke sekolah menengah bersama dan memiliki loker bersama. 2010.
Ia belum lupa ketika mereka berdua menjadi pelayan seorang restoran cepat saji. 1970.
Ia tidak pernah lupa bagaimana dulu mereka menaiki kereta bersama. 1890.
Semua berakhir di sebuah gereja kecil. Lily dengan gaun putih. Severus mengawasinya.
Ia mengingat perasaan itu.
"Karena aku tahu. Semua tentangmu," ucapnya, saat mereka tiba di depan pintu laboratorium forensik.
"Omong kosong!" bantah Lily.
Ia tak pernah mengingat apapun. Sedikit pun. Hati Severus mencelus. Perih mendera dadanya.
"Dia bukan seseorang yang pantas untukmu, Lily," ujar Severus, mengikuti Lily masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa kamu mulai mengatur-atur hidupku?! Kamu nggak berhak, Sev!"
Severus membisu dan mematung. "Aku hanya khawatir kepadamu, Lily. Aku nggak mau kamu menjadi korban yang jatuh untuk lain kali."
Lily menggeleng. "Aku bisa menjaga diri."
"Lily, kamu bisa mengandalkanku."
"Sebaiknya kamu menjaga dirimu sendiri."
"Dia tidak mencintaimu. Kamu tahu?" Severus menatap Lily lurus-lurus. "Dia tidak pernah mencintaimu. Karena..."
Kalimat Severus terhenti ketika sebuah tamparan mengenai pipinya. Perih yang merambati wajahnya, tidak sebanding dengan luka yang tertoreh dalam hati.
"Aku melihatmu menikah. Tetapi, bukan bersamanya." Severus berdiri tegak. "Aku melihat bayi dalam pelukanmu."
"Oh, Severus! Kamu kembali dengan khayalan dan teori-teorimu lagi!"
Lily berbalik, namun Severus mencengkeram lengan Lily. "Aku nggak berteori, Lily. Aku mengatakan yang sebenarnya."
"Lepaskan aku, Sev!" Lily menarik tangannya dari Severus. Wajahnya mengernyit menahan sakit.
"Ma-maafkan aku, Lily." Severus melepaskan tangannya.
Suara pintu yang terbuka mendiamkan keduanya.
"Oh, Severus, kamu ada di sini? Apa aku menginterupsi kalian—pertengkaran domestik?" katanya, di depan pintu yang tertutup.
Severus meliriknya mangkel. Selalu saja orang itu muncul di saat yang tidak tepat.
Sherlock melepas mantel dan syalnya, menggantungnya di belakang pintu. Severus bahkan jelas merasa penampilannya jauh lebih baik daripada pria yang menata rambutnya seperti wanita tahun 1950-an itu. Dia hanya memiliki hidung yang lebih baik, mulus, tidak bengkok seperti milik Severus.
Severus berdecak. Melipat tangan di dada.
"Apa kamu sudah selesai dengan Lily, Snivellus? Aku membutuhkannya."
"Jangan panggil aku seperti itu, Holmes," sahutnya keras.
Severus dan Sherlock bersemuka. Tatapan keduanya sama-sama menyorot tajam, hingga Sherlock berpaling. Melengos, tak mau peduli dengan perdebatan itu.
"Panggilan kecilmu. Bagus untuk nostalgia, bukan?" Sherlock berjalan melewati Lily dan Severus, menuju mikroskop di ujung meja.
"Tutup mulutmu, Holmes," hardiknya. Severus mengepalkan tangan di sisi tubuh.
"Nope. Panggilan itu pantas untukmu," katanya, membuka lemari penyimpanan. Mencari sampel yang dia tinggalkan beberapa hari lalu. "Kamu jelas datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu. Kamu mengurungkannya karena Lily tidak mau mendengarmu. Dan kalian bertengkar, sampai ia menamparmu. Apa aku benar?" Sherlock melambaikan tangan, kembali mengamati preparatnya di bawah mikroskop.
Rahang Severus mengeras. Wajahnya memanas.
"Abaikan saja aku. Kalian bisa meneruskan bertengkar. Lily, jika kamu pergi ke bawah, bawakan aku kopi. Hitam. Dua sendok gula."
Severus menoleh kepada Lily yang berlalu. Ia ingin melarangnya, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian, terdengar pintu yang dibanting.
"Tidak bisakah kamu sedikit saja sopan kepadanya?" tegur Severus.
"Siapa?" sahut Sherlock cuek.
"Lily."
"Aku selalu sopan kepadanya, Snivellus."
Severus bergegas menuju ke dekat Sherlock.
"Apa? Kamu ingin bicara kepadaku?" Sherlock mengangkat wajah, menatap Severus sesaat.
"Jangan sampai aku mengungkapkan siapa dirimu dulu," desis Severus.
Alis Sherlock terangkat. "Oh, menarik. Kamu jelas tahu apa yang tidak aku tahu. Kamu penuh teori dan imajinasi, Snivellus."
"Kamu adalah penjahat besar," tuding Severus. Deru napasnya yang pendek-pendek terdengar jelas saat mereka berdua sama-sama diam. Seperti ada yang meledak dalam pikirannya. Keping-keping kenangan berhamburan. Ia teringat pada janji-janji. Pada kabar yang tak disangkanya datang dulu. Kematian Lily. Ia masih merasakan kepedihan dan penderitaan yang merayap dalam hidupnya mulai detik itu.
Selalu dan setiap saat. Hingga kini. Meski ia dan Lily dipertemukan lagi dan lagi. Rasa bersalah itu seperti batu besar yang tak pernah bisa terungkit dari permukaan hati Snape. Di sana. Diam dan beku. Memberat hari demi hari.
Dia yang mengingkari janji.
Sepasang mata biru di hadapannya itu berkedip. Seluruh pikiran dalam kepala Snape mendadak lenyap.
"Aku?" Sherlock menunjuk dirinya sendiri. "Lanjutkan."
"Kamu membunuh semua orang," Suara Severus perlahan bergetar. "Dan Lily."
Severus terkesiap ketika mengucapkan itu. Semua itu meluncur dari mulutnya begitu saja. Ia tidak pernah mengira. Ia tidak pernah berpikir sampai ke sana. Ia kelihatan begitu terpukul saat mengucapkan itu. Tremor kembali menyerang tangannya.
Ini semua tidak mungkin. Severus bisa mengenali Lily. Mengapa orang ini luput darinya?
"Aku membunuh banyak orang," ujar Sherlock menanggapi dengan santai. "Mengapa aku harus melakukan itu? Dan mengapa aku harus membunuh Lily?" Matanya menyipit, mengamati Severus yang mundur pelan-pelan.
Severus tak pernah lupa, mengapa Lord Voldemort datang malam itu ke Godric's Hollow.
"Aku asumsikan jika kita berada di dalam cerita yang sama, Snivellus. Aku datang membunuhnya karena kamu memberitahuku sebuah rahasia. Tentang kekuatan. Sesuatu yang aku inginkan."
Severus menjauh dari Sherlock, namun langkahnya terhenti saat tubuhnya menabrak pinggiran berisi tabung-tabung reaksi. Satu tabung menggelinding dari rak, tetapi ditangkap dengan cepat oleh Sherlock.
"Dan setelah itu, kamu melarikan diri. Membocorkan semuanya kepada pihak lawan." Sherlock meletakkan tabung kecil itu kembali ke rak. "Itu apa yang selalu dilakukan pecundang ya, Snivellus?"
Severus mendorong tubuh Sherlock. Tubuh pria itu bergeser, hampir terhuyung jatuh, tetapi Sherlock menyeimbangkan dirinya dengan cepat dan kembali berdiri tegap. Ia sama sekali tidak terpancing dengan sikap Severus yang berapi-api.
"Itulah mengapa kamu tidak pernah berani mengungkapkan semuanya kepada Lily. Karena kamu pecundang, Severus." Ia mengatakan itu seakan kejadian barusan tak pernah terjadi.
Kemarahan mengisi benak Severus. Tetapi, ia memilih pergi. Ia melihat memori itu lagi dalam kepalanya. Ketakutan dan kesedihan.
"Kamu tidak ingin tahu apa yang dikatakannya terakhir kali, Severus Snape?"
Langkah Severus terhenti. Ia memandang Sherlock dengan tatapan horor. Sekarang, ia menemukan orang lain seperti dirinya. Orang yang bisa mengingat apapun dan tak bisa melupakan apa-apa. Sama sepertinya.
"... Not Harry. Please — I'll do anything."

Your Psychol No More (kai anbu)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini


All characters belong to J.K. Rowling.
Fic by Kai Anbu
Made for challenge "Snape: Other profession" from ambudaff

::
Your Psychol No More
::

Severus Snape, D. Psych.
Psikolog paling laku di kota. Usianya masih tiga puluhan, tidak terlalu tampan, kurus dan tinggi, dan hidup sendirian melajang di apartemen pinggir kota. Prakteknya buka di malam hari setiap akhir pekan, sisanya ia bekerja di rumah sakit jiwa.
Akhir pekan ini pun, daftar janji temu dengan para kliennya penuh mulai sore hingga malam. Berbeda dengan dokter biasa, kau harus mengatur janji untuk melakukan sesi konsultasi psikologi, karena lama satu sesi bisa antara 30 menit hingga dua jam.
Untuk malam ini, klien pertamanya adalah seorang gadis canggung berambut pirang, Ms. Loony Lovegood.
"Dok, saya phobia kecoak,"
Severus berdehem pelan, pura-pura simpati.
"Mengapa kau takut kecoak?"
"Warnanya coklat hitam, menjijikkan, dan bau,"
Severus tersenyum.
"Sepatumu yang kau pakai itu, Ms. Loony, Jimmy Choo keluaran terbaru?"
Ms. Lovegood menggerakkan tumitnya, memperlihatkan sepatu kulit mengkilat yang baru saja dibelinya di butik.
"Eh? Iya betul…"
"Warnanya coklat seperti kulit kecoak,"
Ms. Lovegood menautkan alisnya di kening, bibirnya mengerucut terperanjat, antara jijik dan menyadari sesuatu.
".. dan kau bilang, kecoak juga bau?"
"Y-ya.."
"Tubuh manusia mengeluarkan bau yang lebih menyengat dari kecoak," sahut Severus.
"Jadi, kenapa harus takut pada kecoak, Ms. Lovegood?" Kali ini Severus menatap mata kliennya, menuntut jawaban yang sepertinya tak perlu dijawab.
rs. Lovegood mengangguk, seengah tak berdaya, setengah menyadari kalau ketakutannya terasa bodoh.
Klien keduanya, seorang remaja berambut perak yang sepertinya menyimpan amarah. Severus melirik nama daftaranya. Draco Malfoy, anak Duke Malfoy yang kaya raya.
Anak-anak orang kaya biasanya bermasalah, pikir Severus.
"Ibuku yang menyuruhku kesini, bukan karena kemauanku," Draco langsung membukanya dengan wajah yang kesal.
"Apa masalahmu?" Severus langung to the point.
"Aku dianggap liar dan lepas kendali. Hanya karena aku bergaul dengan seorang gadis. Padahal tidak ada salahnya. Dia gadis baik dan latar belakang keluarganya juga baik. Hanya saja, dia memang bukan bangsawan,"
Hoo, cinta yang melawan kemauan keluarga, Severus langsung menangkap intinya.
"Kenapa kau berpikir itu tidak salah?" Severus balik menantang.
Draco mengerutkan kening, seharusnya Severus yang selevel Ph. D mengetahui jawaban pertanyaan itu.
"Tentu saja tidak salah!" ia berkata seperti memprotes. "Bukankah manusia diciptakan sama, kenapa harus membeda-bedakan?"
"Kau melawan kehendak orang tuamu, itu salah," Severus berkata tajam.
"Tapi, aku mencintai gadis itu!"
"Kau menyukainya karena kau bangsawan, kau bisa membuatnya tunduk dengan mudah karena gadis itu hanya dari keluarga biasa,"
"Tidak! Oh, kau menjengkelkan!"
Severus menyunggingkan senyum sinis.
"Lalu, kalau kau memang mencintainya, apa kau berani mengatakan argumentasi tadi kepada orang tuamu?"
Draco terhenti. Merenung dan berpikir.
"Masalahnya, kau sendiri tidak bersedia untuk memperjuangkan gadismu,"
"Tidak! Kalau tidak, aku tidak meneruskan hubungan…"
"Baiklah, kalau begitu apa yang menghalangimu bicara jujur pada orang tuamu? Apakah kau takut?"
Draco mengerutkan kening. Ia merasa ditantang.
"Tidak, aku tidak takut."
"Kalau begitu, lakukan apa yang harus kau lakukan." Severus menautkan kedua tangannya, menyunggingkan senyum yang tampak begitu menyebalkan di mata Draco.
Draco Malfoy keluar dengan otak yang terbakar. Severus berharap ia tidak keterlaluan mengkonfrontasi anak muda itu.
Klien ketiga adalah seorang tentara yang frustasi karena baru saja pulang dari medan perang, bernama Charlie Weasley.
"Aku dihantui mimpi buruk tentang perang. Aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa bekerja, dan mood-ku menjadi sangat jelek. Keluargaku mengeluh, kata mereka aku telah berubah,"
Aha, ini menarik. Pikir Sev.
"Apa kau sudah mencoba bebagai cara untuk tidur?"
"Sudah. Mulai dari relaksasi, menghitung domba, membaca buku yang berat, mendengarkan musik yang tenang, semua tak berhasil. Aku baru bisa tidur setelah minum obat tidur, tapi aku tak suka efek sampingnya, membuat jantungku berdebar,"
"Baiklah, aku beri kau satu saran" sahut Severus. Ia mendekatkan tubuhnya kepada Charlie, menjelaskan satu hal yang tampaknya sangat serius.
"Malam ini, cobalah untuk tidak tidur,"
"Hah? Kau sungguh-sungguh? Masalahku adalah tidak bisa tidur!"
"Cobalah sebaliknya. Kau tidak bisa tidur karena kau berusaha menghindari masalah itu. Karena itu kusarankan kau untuk menganggapnya bukan sebagai masalah. Tidak bisa tidur itu bukan masalah. Lakukan segala hal yang bisa membuatmu terjaga semalam suntuk. Cobalah dulu semalam ini, oke?"
Charlie tampak berpikir sejenak.
"Oke,"
"Kita bertemu lagi besok malam, untuk mengetahui hasilnya,"
"Oke dok, akan kucoba mulai malam ini,"
Severus bertaruh, malam ini Charlie akan tidur seperti bayi. Masalah bisa menghilang ketika kita tidak lagi menganggapnya sebagai sebuah masalah, demikian premisnya.
Klien keempat, dan kliniknya sebentar lagi tutup.
Severus menarik napas gelisah.
Wanita ini lagi.
Seorang wanita berambut merah, berusia kira-kira tigapuluhan, masuk ke dalam ruangan. Wajahnya cantik meski riasannya sederhana.
"Saya punya masalah,"
"Katakan,"
"Saya mencintai seseorang,"
"Adakah yang salah dengan itu?"
"Saya sudah bersuami dan memiliki anak. Tapi saya tetap mencintai orang itu,"
"Kau berpikir tidak rasional, Nyonya. Itu tidak diijinkan. Itu salah," tanpa rasa kasihan, Severus langsung memvonis.
"Saya tahu itu salah, tapi hati saya tidak bisa berbohong,"
Severus menghela napas.
"Perasaan anda bisa semaunya sendiri. Tetapi pernikahan, itu adalah komitmen yang harus anda jaga,"
Ada keheningan sejenak antara kliennya dan Sev.
"Apa yang harus saya lakukan?"
Severus menghela napas lagi.
"Sebulan yang lalu anda datang kepada saya dan mengadukan masalah yang sama. Saya sudah memberikan jalan keluar, bukan?"
"Ya, menuliskannya,"
"Tuliskan perasaanmu di selembar kertas. Sudah kau lakukan?"
"Sudah,"
Wanita itu mengeluarkan beberapa lembar kertas yang terlipat rapi, meletakkannya di meja kecil di sampingnya.
Severus meletakkan tangannya di meja. Seperti akan mengambil kertas-kertas itu. Tetapi kemudian ia berhenti.
Ia langsung menuliskan sebuah note pendek, berupa surat referensi. Berikut mengambil sebuah kartu nama dari lacinya.
"Mrs. Potter," Ia menyerahkan note dan kartu nama itu, sambil menatap lurus kepada wanita itu. "kurekomendasikan kau menyerahkan catatanmu kepada rekan kerja saya, Minerva McGonagall D. Psych. Ini surat referensi dariku untuk anda berikan kepadanya. Ms. McGonagall adalah psikolog yang kompeten di bidang perkawinan. Saya yakin ia bisa menjawab masalah anda,"
Wanita bernama Lily Potter itu tampak terkejut.
"Kau.. sungguh-sungguh?"
"Ya, Lily. Aku sungguh-sungguh,"
Kau sudah bersuami. Kau tak boleh mencintai orang lain.
Untuk sesaat mata wanita itu berkaca-kaca.
Lalu ia mengambil catatannya, surat referensi dan kartu nama itu, kemudan berdiri dan mohon diri.
Di pintu, ia berhenti, menatap sang psikolog dengan mata sendu.
"Selamat tinggal,"
Severus melemparkan senyum lembut.
Kau akan baik-baik saja, Lily.
Tetapi ia hanya mengatakan: "Selamat tinggal, Mrs. Potter,"
Lily Potter menutup pintu dengan wajah pedih, Severus sempat melihat jejak air mata di pipi wanita itu.
Ia duduk diam tak bergerak di kursinya. Sentimentalitas tak boleh mengusik objektivitasnya. Ia sudah melakukan hal yang benar. Merujuk Mrs. Potter ke McGonagall.
Klien terakhir telah berlalu pulang.
Severus menutup jendela tirainya. Mematikan lampu dalam ruangan kliniknya.
Tiga klien yang berhasil ia bantu menemukan jalan keluarnya sendiri. Ditambah satu wanita,… yang bersikeras mempertahankan cinta yang telah menjadi mustahil.
Tanpa membaca tulisan tangan Lily Evans Potter pun, Severus sudah tahu siapa yang ia bicarakan. Siapa pria lain yang dicintai Lily Evans, kepada siapa cinta terlarang itu ia tawarkan. Lily Potter yang bersikeras tetap menjadi Lily Evans, seorang gadis yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Severus Snape.
Semua sudah berlalu, Lily. Waktu takkan bisa diputar kembali.
Severus takkan mengijinkan perasaan itu meluap, melewati batas integritas dirinya sebagai seorang psikolog. Ia berharap Lily memahami makna penolakannya dalam bentuk rekomendasinya terhadap psikolog lain.
Karena bagi seorang psikolog, menguasai diri itu penting.
Perasaannya pribadi? Itu nomor kesekian.
Ia mengunci pintu klinik kecilnya, menaikkan kerah mantelnya. Lalu menyusuri jalan yang sepi itu sendirian.
Malam yang seperti biasanya untuk Severus Snape, D. Psych.
Sekaligus malam bernostalgia yang hambar untuk Severus.
THE END

I Think I'm In Love (Again)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini


I THINK I'M IN LOVE (AGAIN)
Severus Snape dan kawan-kawan merupakan milik JK Rowling
AU, Romance/Friendship, rate T
Tadinya untuk Giveaway Novel ITILA-nya Night dan Suu Foxie, tapi karena terlalu lama nyeleseinnya, jadi aja XD Lagipula, bukan fluff. Juga lebih dari 2K. Sekarang jadinya untuk Snape Day: Challenge Profesi Lain
-o0o-
"Sev, itu rambut merah!" bisik Filius sambil menahan tawa.
Sontak kelompok dosen yang sedang menuju kelas masing-masing itu menoleh ke arah yang dituju Filius Flitwick. Seorang pemuda tinggi kurus sedang berjalan memintas arah mereka, dengan ransel, jaket, setumpukan buku di pelukan, dan earphone di telinga. Rambutnya memang merah, dan gondrong, hingga mencolok mata.
Dosen biasanya menjaga image di depan mahasiswanya, demikian pula kawanan dosen yang ini, menahan tawa hingga melampaui kawanan mahasiswa, baru melepasnya terbahak-bahak.
"Filius! Kau ini!" sambil tersenyum lebar Minerva mendorong bahu Filius—yang lebih pendek dari rata-rata dosen yang ada di situ—main-main, sementara yang didorong bahunya terbahak. "Itu kan cowok! Lagipula, tampangnya seperti itu—"
Severus yang sedang dijadikan bahan tertawaan, hanya menyeringai. Sudah biasa.
Dosen-dosen Hogwarts University kebanyakan masih berusia muda, dan kebanyakan juga kompak satu sama lain. Kalau tidak sedang di depan mahasiswa, becandanya sama saja bagai mahasiswa. Eh, padahal ada beberapa dosen yang usianya bisa dibilang tidak muda lagi, tapi tetap saja...
Salah satu topik yang sering jadi bahan candaan adalah buat mereka yang masih jomblo. Bahkan, sesama jomblo juga sering saling meledek. Tak ada dendam, yang penting senang-senang.
Salah satu sasaran adalah Severus Snape. Tidak bisa dibilang muda lagi, usianya sudah menjelang 40. Dan masih single. Beberapa dosen mengetahui bahwa kekasih terakhirnya, Lily, berambut merah. Panjang.
Karena sampai sekarang masih saja melajang, beberapa dosen meledeknya, mungkin saja Severus mencari yang berpenampilan seperti Lily. Terutama, berambut merah.
Ya, seperti Filius tadi. Mahasiswa berambut merah juga diajukan. Hihi.
Tiba di persimpangan empat gedung, Severus melambaikan tangan. Mereka berpisah gedung, ia akan mengajar di gedung A, rekan-rekan lainnya juga berpencar, akan mengajar di gedung yang lain.
Masuk ke kelas, suasana mendadak hening. Severus memasang wajah dinginnya, menyimpan mapnya di meja, dan berdiri di depan kelas.
"Buka halaman 394," sahutnya.
Serentak mahasiswanya membuka apa yang mereka punya. Sebagian membuka textbook, sebagian lagi membuka laptop-nya menuju ebook-nya, sebagian lagi bahkan via tablet.
"Ada yang sudah membaca ramuan yang akan dibicarakan? Ada yang tahu konsekuensinya?"
Satu tangan teracung dengan antusias. Beberapa detik kemudian menyusul beberapa tangan lain, dengan ragu-ragu.
Severus menghela napas nyaris tak terlihat. Pasti dia lagi. Nona-Tahu-Segala sekaligus Nona-Pasti-Sudah-Membaca-Apa-Yang-Akan-Ditanyakan.
"Miss Granger, beri kesempatan pada orang lain—"
Tangan antusias itu turun dengan lesu.
Tetapi jawaban-jawaban lain tak memuaskannya, sehingga terpaksa ia kembali pada pilihan pertamanya.
"Bagaimana menurutmu, Miss Granger?"
Ia hampir bisa mengeja satu-demi-satu jawaban yang diucapkan Nona-Tahu-Segala ini.
Menghela napas, ia berdiri di depan kelas tinggi-tinggi, tegak-tegak. "Jawaban yang disampaikan oleh Miss Granger itu persis sama apa yang ditulis dalam buku teks. Bukan salah, akan tetapi kalian harus ingat bahwa kalian ini mahasiswa, bukan anak SMA. Bukan penghapal buku teks, tetapi harus menemukan hal baru—"
Kenapa ia harus selalu menyampaikan hal ini di depan para mahasiswa, tahun demi tahun? Kapan mereka akan sadar sendiri?
"Sekarang," ia mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, "coba kalian buat Ramuan pada halaman itu dengan mengurangi satu unsur, lalu tulis apa yang terjadi. Setelah itu, bereksperimenlah untuk menggantikan bahan yang dikurangi itu dengan bahan lain. Analisis kemungkinan apa yang akan terjadi. Kumpulkan minggu depan, tak ada kecuali. Oya, ini tugas perorangan," Severus kembali ke mejanya. Meraih map yang tadi diletakkan di sana, dan bersiap untuk keluar kelas, sebelum ia mengeluarkan perintahnya yang terakhir: "Jangan lupa buat daftar nama, unsur apa yang akan dikurangi, dan unsur apa yang akan dimasukkan sebagai pengganti. Nanti siang daftar itu sudah harus ada di mejaku di ruang dosen—"
Ia memang hanya beberapa menit masuk kelas, tapi efek tugas yang ia berikan membuat mahasiswa baru keluar dari kelas setelah didesak oleh mahasiswa lain yang punya giliran memakai kelas itu kemudian—
-o0o-
"Profesor Snape—"
Severus mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dibacanya.
Nona-Tahu-Segala itu lagi.
"Ya?"
"Daftar nama beserta unsur yang dikurangi dan unsur pengganti—" sahut gadis itu, menyerahkan selembar kertas. Rapi tersusun. Persis seperti permintaannya tadi pagi.
Diterimanya. Disimpannya di atas tablet di atas meja.
"Kau boleh keluar—"
"Terimakasih, Profesor."
Dan gadis itu keluar dari ruang dosen. Severus kembali membaca kalimat demi kalimat yang barusan ditinggalkan.
Tapi kenapa ia tidak bisa memusatkan perhatian?
-o0o-
"Coba jangan berisik kenapa sih," Hermione bersungut-sungut. Kalau bisa, sepertinya ia mending masuk ke dalam buku yang sedang dibacanya, supaya tidak terimbas keberisikan ruang belajar bersama ini.
"Yah, kalau ingin tenang sih mending belajar di Perpus, Hermione! Tapi di Perpus kan enggak bisa bikin ramuan dan menyaksikan apa yang akan terjadi pada ramuan coba-coba-mu—" belum juga Harry selesai berucap, kuali Ron sudah meledak lagi—ketiga atau keempat kalinya.
"Ron!" Hermione khawatir dan langsung mendekatinya.
"Enggak apa-apa, beneran!" Ron mengusap wajahnya yang legam terkena asap percobaannya, dengan lengan bajunya. Jelas saja kemeja putihnya berubah menjadi hitam di bagian lengan.
Ron langsung menuju meja tempat di mana laptopnya diletakkan, dan mulai mengetik. "Dari... empat... percobaan... keempatnya... berakhir... dengan... meledaknya..." dan Hermione semakin tak sabar.
"Baiklah. Kalau ada yang mencari, aku ada di Perpus ya!" sahutnya, menumpukkan bukunya, dan membawanya pergi.
"Hermione! Percobaanmu bagaimana?"
Hermione hanya melambaikan tangan, tanda percobaannya sudah selesai dari tadi, dan ia hanya menginginkan ketenangan untuk membaca.
-o0o-
Deretan buku sudah ditelusuri, sudah ada beberapa tumpuk buku untuk dibuka diletakkannya di meja. Rasanya sudah cukup, Hermione membatin.
Ia kembali ke mejanya, dan mulai membuka satu demi satu bukunya. Membuat catatan di laptopnya. Membandingkan dengan file-file yang sudah ia buat. Mencari tautan rujukan baru di internet.
Ada satu item yang sulit sekali ia temukan. Rasanya ia pernah membacanya di buku. Coba ia cari dulu di internet.
Tapi tak diketemukan. Mungkin kata kunci pencarinya bukan itu?
Hermione mencari lebih lanjut.
Masih belum ia temukan.
Baiklah.
Mungkin bisa ia cari manual di buku. Kalau tidak salah bukunya—
—Hermione baru ingat bahwa tadi ia tidak mengambil buku itu. Terpaksalah ia berdiri untuk kembali menelusuri rak-rak, mencari bukunya. Kalau tidak salah bukunya ada di—
—terlambat!
Kenapa Hogwarts sebegini besarnya, buku di perpustakaannya selalu masih terasa kurang? Buktinya ini! Buku yang ia cari, sudah ada yang duluan mengambil.
Hermione melihat berkeliling. Siapa tahu orang yang mengambil duluan masih ada di perpustakaan. Siapa tahu orang yang sudah duluan mengambil bukunya, bisa mengijnkannya melihat barang sehalaman-dua halaman. Ia tidak membutuhkan buku itu seutuhnya, hanya halaman tertentu saja.
Matanya terhenti di meja Madam Pince. Pustakawati itu sedang melayani—tidak lain dan tidak bukan, Profesor Snape. Dan buku yang ada di tangannya, yang akan dipinjamnya, adalah buku yang ia cari-cari sedari tadi.
Lemas.
Ya sudah. Hermione kembali duduk di kursinya. Ya sudah. Mungkin itu bisa dilakukan besok atau lusa, sekarang mending mencari data tentang hal lain lagi.
Tapi, Hermione sama sekali tidak bisa memusatkan perhatian.
Kenapa buku yang ia cari justru sudah dipinjam, dan peminjamnya kenapa justru Profesor Snape?
Huuuuuh!
Rasanya ingin menjambak-jambak rambut, batin Hermione. Tapi cepat-cepat diralatnya sendiri, karena ia tahu seperti apa sulitnya menyisir rambut bergelombang seperti rambutnya kalau sudah dijambak-jambak begitu.
Ya sudah!
Hermione berdiri. Mengembalikan buku-buku yang sudah diambilnya ke rak-rak (sst, seharusnya pustakawati yang mengembalikan buku ke rak, karena mereka tahu kode-kode buku. Akan tetapi Madam Pince biasanya membiarkannya mengembalikan buku itu sendiri karena ia tahu Hermione hapal kodenya seperti pustakawati)
Ada beberapa buku yang akan ia pinjam bawa pulang, jadi ia mematikan laptopnya, memasukkannya ke dalam ranselnya, lalu berjalan menuju meja pinjaman, dan mendaftarkannya pada Madam Pince.
Iseng-iseng ia bertanya, buku yang dipinjam Profesor Snape tadi, dipinjam untuk berapa lama? Kalau peminjaman biasa, dua minggu, ia bisa minta tolong Madam Pince menyimpankan untuknya nanti kalau dikembalikan.
Peminjaman semester?
Dosen dan mahasiswa tingkat akhir punya hak istimewa untuk meminjam buku dalam jangka waktu lama. Biasanya kalau mahasiswa hendak membuat skripsi, atau dosen untuk bahan pemberian kuliah.
Huweeee! Masak ia harus menunggu satu semester?
Ruang Belajar Bersama sudah tidak begitu ramai seperti saat tadi ditinggalkan. Hermione meletakkan ranselnya di sebelah laptop Ron.
Harry dan Ron memandangnya heran.
"Cepat amat, kau sudah kembali dari perpus?" Ron penasaran.
"Buku yang aku cari enggak ada. Ada yang sedang pinjam. Jadi, yah, kupikir aku kembali saja lagi ke sini, dan menulis lagi di sini," sahutnya. Mengeluarkan laptopnya dengan segan, menghidupkannya malas-malasan. Setelah hidup, ia tidak langsung berselancar seperti yang biasa ia lakukan.
"Hermione, ada apa?" Harry khawatir.
Bukannya menjawab, Hermione malah balik bertanya, "Ada nggak ya, orang yang selaluuuu bikin kesel orang lain? Apakah disengaja, atau tanpa ia sengaja, bahkan mungkin ia tak sadar, tapi tingkahlakunya bikin selalu bikin kesel orang lain?
Harry memandang Ron. Ron memandang Harry.
"Kau."
"Aku?"
"Ya," sahut Ron tanpa tedeng aling-aling. "Kau itu selalu bikin kesel orang lain dengan tingkahmu yang bossy dan selalu lebih tahu dari orang lain. Tapi jangan khawatir, kau akan tetap jadi teman kami semua—"
Hermione menunduk. "Jadi, aku bikin kesel ya?"
Harry memandang Ron. Ron memandang Harry. Lagi.
Kali ini Harry menggeser duduknya hingga mendekat. "Ada apa sih? Ini bukan tentang buku yang sudah lebih dahulu dipinjam orang lain, kan?"
"Semacam itulah," keluh Hermione.
"Memang siapa yang meminjamnya?"
Hermione menghela napas panjang. "Profesor Snape."
Kedua rekannya juga menghela napas panjang.
"Tapi, kau kan tinggal menunggu dua minggu—"
"Peminjaman semester—"
Baik Ron maupun Harry merasa perlu untuk mem-pukpuk rekan mereka itu.
Kemudian bahkan Harry dan Ron juga merasa perlu untuk menutup buku dan laptop mereka, demi solidaritas pada rekan (yang kemudian diprotes Hermione 'kalian kan belum selesai mengerjakan tugas, kenapa mesti berhenti, dasar kalian saja yang malas!') dan mulai mengutuk Profesor mereka yang satu ini.
"...dan memang ia tak punya hati—"
"Sebentar. Apa katamu, ia tak punya hati?" Hermione tiba-tiba merasa seperti diingatkan akan sesuatu.
"Kenapa memangnya?"
"Kalian tahu, ada orang yang tega menjual nyawanya pada iblis?"
"Hermione, itu bukannya cuma mitos?" Harry tak percaya.
"Bukan. Aku pernah membaca literaturnya, memang ada. Hanya tak bisa diungkapkan secara ilmiah. Nah, ada tingkat yang lebih rendah dari menjual nyawa, seperti menjual hati ini lah—" Hermione bangkit bergegas, tetapi kemudian ia duduk lagi.
Harry dan Ron memandangnya tak mengerti.
"Aku bisa mencarinya di perpus. Tapi kalau ketahuan Madam Pince, bakal cerewet ia bertanya. Sebaiknya kutunggu sampai jam perpus tutup, lalu aku masuk dari tempat biasa—"
"Hermione—"
Mata Hermione berkilat-kilat membayangkan masuk perpus 'dari tempat yang biasa'. Tak banyak yang tahu tentang sebuah jendela yang bisa dibuka dari luar, dan tempatnya strategis karena berada di Restriction Section. Bukan tempat patroli yang biasa. Di angkatan tahun ini, hanya Hermione yang tahu, plus dua orang 'partners in crime'-nya, Harry dan Ron.
"Hermione—"
Tapi kalau sudah bulat tekad, mana bisa ditegur? Yang ada Harry dan Ron tiba-tiba merasa lemas.
"Kalian tidak usah ikut kalau tak mau. Biar aku saja—"
"Kau pikir, bagaimana kau bisa masuk dari jendela itu tanpa bantuan kami? Kau pikir kau bisa masuk menyisip tembus tembok seperti hantu?"
-o0o-
Maka tersusunlah rencana: Harry dan Ron akan membantu Hermione masuk lewat jendela itu, tapi tak usah ikut masuk. Menunggu saja sampai Hermione memberi tanda, dan mereka akan membantu Hermione keluar lagi.
Jadi, malam itu, berusaha tak membuat suara sedikitpun, ketiganya mengendap-endap menuju jendela itu.
Hermione menggunakan sepatu yang tak berbunyi saat dipakai. Ron dan Harry berfungsi menjadi tumpuan. Hermione naik, membuka jendela dari luar, lalu masuk. Soal di dalam, beres, Hermione punya kartu untuk melewati Restricted Section. Sedikit utak-utik oleh Ron, data yang akan tercatat oleh Restricted Section adalah bahwa Hermione melewati pintu Section itu tadi siang, bukan malam ini.
Singkat kata, Hermione sudah di dalam. Menelusuri rak-rak buku dengan bantuan cahaya senter.
Tak ada di rak-rak buku Restricted Section yang biasa.
Mungkin di lemari khusus.
Hermione perlu waktu lebih lama di bagian ini, karena judul buku-bukunya kebanyakan berhuruf asing. Walau akhirnya ketemu juga. Justru bukan buku tentang penjual nyawa pada umumnya, melainkan daftar pelaku penjualan nyawa. Di sini. Di Hogwarts. Dengan pelaku perantaranya—tak lain dan tak bukan—Madam Pince.
Gemetar Hermione melembari buku itu. Selembar demi selembar. Bagian awal buku itu kebanyakan berisi nama-nama yang tidak ia kenal, dan tahunnya pun jadul.
Halaman menjelang akhir, barulah Hermione menemukan apa yang ia cari. Makin gemetar ia membaca hati-hati, kata demi kata.
Nama: Severus Tobias Snape
Tanggal lahir: 9 Januari 1960
Tanggal transaksi: 1 November 1981
Jenis transaksi: Hati, ditukar dengan kepiawaian sebagai mata-mata ganda
Tak cukup Hermione membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali.
Jadi, Profesor Snape sama sekali tidak menukar nyawanya pada iblis seperti yang diduga semula. Lebih menyakitkan justru.
Profesor Snape justru menukarkan hati.
Dan itu untuk mendapatkan sesuatu demi kepentingan negerinya, bukan demi dirinya sendiri.
Hermione sendiri merasakan saat-saat pahit masa-masa Perang Besar. Sekarang, beberapa tahun kemudian, orang bisa bebas menuntut ilmu, tak pandang warna kulit atau gender.
Lemas, nyaris saja ia terjatuh. Tapi ia mendadak sadar, ia harus secepatnya keluar dari sini.
Jadi, Hermione menyimpan buku itu kembali di tempatnya, hati-hati agar seperti semula. Ia berusaha tak bersuara, kembali ke jendela tadi. Memanjatnya, lalu turun di sebelah luar, disambut Ron dan Harry dengan wajah penasaran.
Hermione memberi isyarat agar mereka cepat-cepat kembali ke Ruang Belajar Bersama dulu, baru nanti di sana ia akan menceritakannya.
Tak ada yang tahu, di kegelapan ada sepasang mata menyaksikan semuanya.
Dahulu kala saat ia masih mempunyai hati untuk mencinta, pernah ia berusaha menitipkan hatinya pada seorang wanita berambut merah. Tapi wanita berambut merah itu malah mencintai yang lain.
Itu sebabnya ia berani menukarkan hatinya.
Dengan demikian, ia tak akan pernah merasakan sakit hati lagi. Karena ia sudah tak punya hati lagi.
Tapi, kali ini lain terasa.
Ada rasa sakit, tatkala ia merasa ingin memulai lagi. Padahal, ia percaya ia sudah tak punya hati lagi.
Apakah orang yang sudah tak punya hati lagi, masih bisa merasakan sakit hati?
-o0o-
"Semua tugas dikumpulkan. Bersihkan meja, kecuali alat tulis. Semua peralatan elektronik: ponsel, iPad, dan sebagainya, dikumpulkan. Kuis akan dimulai dalam lima menit—"
Gerutuan di sana-sini, akan tetapi perintah tetap dilaksanakan. Kelas hening saat kuis dimulai.
Mulai lagi gaduh saat kuis selesai. Pengumpulan kuis, mencari-cari lagi alat elektronik yang tadi dikumpulkan, dan sebagainya, dan sebagainya.
Seperti biasa, Miss Granger mengumpulkan semua hasil kuis, dan menumpukkannya di meja depan. Ia menunggu hingga mahasiswa terakhir memberikan hasil kuisnya, baru ia sendiri hendak beranjak pergi.
"Miss Granger—"
Gadis itu berhenti.
Tapi Severus tak kuasa mengeluarkan apa yang ada di hatinya—tidak, bukankah ia sudah tak punya hati?
"—terima kasih."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Tapi gadis itu tersenyum. "Sama-sama, Profesor," sahutnya.
Matanya menyampaikan lebih dari apa yang ia ucapkan.
Sepertinya ia juga bisa menangkap apa yang ia ingin sampaikan.
Filius, Minerva, dan kolega-koleganya yang lain bisa ia bungkam kini. Bukan gadis berambut merah yang ia perhatikan, tetapi rambut coklat.
Dan mungkin tidak pada saat ini. Ia harus menyelesaikan dulu kuliahnya, sehingga mereka tak terbatas status.
Tipis bibirnya membentuk senyum.
FIN

Folk Love Story (Haruki Ichiisi)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini

Mwahahahaha akhirnya saya kembali lagi setelah berabad-abad kena writer's block. Saya nulis ini sambil bayangin Hogwarts versi Shire─dengan atmosfernya yang menyenangkan, cerah, dan sangat mendukung kegiatan masyarakat /eh lu ngocol apaan/
Oya, mereka di sini bukan penyihir, melainkan Muggle tradisional.
oxxxo
FOLK LOVE STORY
Kisah seorang petani gandum dan putri pemilik kantor pos yang terbawa angin sepoi-sepoi di pedesaan kecil Skotlandia.
Dipersembahkan untuk challenge SNAPE DAY 2014. Sugeng tanggap warsa, Severus!
.
.
Harry Potter adalah milik © J.K. Rowling
Saya hanya menculik beberapa tokoh untuk dibuat sisi kehidupan yang berbeda.
.
.
.
Bagaimanapun juga, Hogwarts adalah wilayah yang aman dan tenteram. Berpetak-petak ladang menjulur sepanjang lembah itu. Suara gelombang air dari Danau Hitam mengalun merdu di sisi Selatan, sedangkan hutan pinus dan cemara berjajar di sisi Baratnya.
Udara pagi yang segar mengawali hari penduduk setempat. Para ternak sibuk berlarian dan merumput. Di sebelah Selatan rerimbunan tanaman gandum yang bernama latin T. aestivum itu, ada sebuah rumah bertingkat dua beserta cerobong asap mungilnya. Pintu dan kusen-kusen jendelanya terbuat dari kayu mahoni coklat. Spinner's End, begitulah orang-orang menyebut rumah yang berada di ujung Utara Hogwarts itu.
Severus dan para pegawainya sedang memanen gandum. Oh yeah, dia adalah salah satu petani gandum di Hogwarts. Jenis gandumnya sendiri adalah yang berprotein tinggi.
Ciri-cirinya yaitu berbiji keras, kulit luarnya berwarna coklat, dan daya serap airnya tinggi. Jenis inilah yang paling umum digunakan untuk bahan roti. Dan tentu saja gandum yang dihasilkan di rumah industri ini berkualitas tinggi.
Namun tiba-tiba beberapa ekor domba berlarian masuk. "Potter! Apa yang domba-dombamu lakukan di ladangku?!" gelegarnya kepada seseorang yang menunggang sapi beberapa meter di depannya.
"Well, kukira domba-dombaku sedang mencari rumput, Snape," jawab laki-laki berkacamata bernama James Potter itu.
"Singkirkan sebelum kujadikan mereka pakaian wol, Potter. Bahkan domba-domba ini sama bodohnya dengan pemiliknya, rumput saja tak bisa membedakan," kata Severus sinis.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Snivellus, atau kubabat habis gandummu ini!"
"Memangnya kau berani, heh?" Sekarang jarak Severus dan James hanya lima meter. "Kau mau melihat tanaman gandummu ini diserbu hewan ternakku yang lain?" tanya James mengancam.
Severus mendengus sebal, "Tak akan kubiarkan itu terjadi, Potter. Lagipula urusanku masih banyak daripada mengurusi hewan-hewanmu," cemooh Severus.
"Masih belum berhasil mendapatkan buruanmu ya, Snape. Kasihan, seharusnya kau belajar banyak dariku. Aku memiliki tips berguna untuk orang sepertimu," ekspresi James sekarang berubah total, seakan menggoda Severus.
"Jangan mencampuri urusanku, Potter," sejurus kemudian Severus berlalu ke dalam rumahnya sambil menggerutu. Berani-beraninya James Potter menggurui dirinya. Lihat saja nanti, akan kubuat kau tersedak di pesta pernikahanku, batin Severus. Dia yakin akan berhasil mendapatkan hati perempuan yang sudah lama mencuri perhatiannya.
oxxxo
Memang perlu waktu lama melepas Lily untuk si Potter arogan itu. Tapi takdir berkata lain, hatinya kini tertambat pada perempuan berambut cokelat yang mengembang seperti surai singa, putri pemilik kantor pos yang baik hati. Hermione Granger, nama perempuan itu. Desas-desus mengatakan mereka memang sedang dekat, atau lebih tepatnya Severus yang mencoba mendekat.
Mereka saling mengenal sejak Severus bekerja di perkebunan bunga milik Albus Dumbledore. Usianya saat itu masih dua puluh tahun, sedangkan Hermione masih kanak-kanak. Orang tua berjenggot putih itu sering memintanya mengantar pesanan buket bunga ke sana, sehingga Severus sudah kenal baik dengan keluarga Granger.
Semakin dewasa, Hermione semakin terlihat matang. Kini ia bukan sekedar anak-anak lagi, ia perempuan yang cerdas dan berwawasan luas. Di usianya yang kedua puluh lima ini, ia bagaikan bunga yang mekar di musim semi. Mengundang lebah manapun untuk mengambil nektarnya.
Lima tahun lalu, Severus memutuskan untuk mengolah tanahnya sendiri. Tapi Severus senang karena Hermione masih belum menentukan pasangan hidupnya―yang berarti, kesempatan emas masih terbuka lebar bagi Severus.
"Hei, Severus, ada undangan untukmu," ucap Peter Pettigrew dari lumbung penyimpanan, sontak membuyarkan lamunannya. Laki-laki berperawakan kecil itu mengulurkan sepucuk amplop coklat muda bergaris-garis.
Severus membuka dan membaca isinya, kini sebuah seringai menghiasi wajahnya. Tentu saja Severus senang sekali, ia diundang makam malam di rumah keluarga Granger!
Tapi jangan keburu senang dulu, masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan, kata sebuah suara di kepala Severus. Dengan gontai, ia mendorong kereta kecil yang berisi gandum utuh menuju tempat pembersihan.
Pembersihan ini dilakukan menggunakan ayakan kasar untuk menghilangkan debu, kulit gandum, batang gandum, batuan, kerikil, dan logam. Kemudian gandum utuh yang sudah bersih itu mengalami proses pelembapan, yaitu penambahan air agar campuran gandum memiliki kadar air.
Setelah itu, gandum akan mengalami proses pengondisian dengan menambahkan air pada gandum. Kemudian didiamkan selama waktu tertentu agar meresap, tahap ini bertujuan agar kulit gandum menjadi liat. Sehingga tidak mudah hancur saat digiling dan mencapai kadar air. Tujuan lainnya yaitu untuk memudahkan endosperma atau intisari gandum terlepas dari kulit dan menjadi lunak.
Tahap selanjutnya yaitu reduction. Dimana intisari gandum yang sudah dihancurkan diperkecil lagi menjadi terigu. Selanjutnya diayak dan dipisahkan dari bran dan pollard (yaitu hasil sampingan dari terigu ini). Tujuannya untuk memperoleh hasil ekstrasi yang tinggi dengan kualitas tepung yang baik. Tugas ini biasanya dilakukan oleh Argus Filch dan pegawai lainnya.
oxxxo
Severus menatap pantulan dirinya di cermin malam itu. Merapikan kemeja abu-abu bergaris dan celana hitam panjangnya. Setelah memastikan semuanya rapi, ia mengambil mantel hitam yang tersampir di sudut ruangan dan memakainya. Sempurna, ia siap menuju jamuan malam di rumah keluarga Granger.
"Kalkun panggang, Severus?" tawar Mrs Granger kepadanya. Severus tersenyum tipis dan menerima potongan kalkun yang masih panas itu. "Jadi bagaimana keadaan ladangmu? Sudah mulai panen?" tanya Mr Granger di seberangnya.
"Oh, Wendell, biarkan dia makan dengan tenang dulu," sahut Mrs Granger. "Well, aku hanya bertanya, dear Monica," kata Mr Granger santai. Monica Granger hanya melirik gemas suaminya.
"Kami sudah mulai panen hari ini dan hasil panennya cukup baik. Kalau perkiraanku tepat, maka akan cukup sampai musim dingin ke depan," jawab Severus mantap.
"Senang mendengarnya, Severus. Dari awal aku sudah yakin kau akan menjadi orang sukses," imbuh Mr Granger. Lagi-lagi Severus hanya tersenyum tipis.
"Mungkin jika kita bisa mengembangkan alat-alat yang lebih modern, hasil panen akan lebih menguntungkan," timbrung Hermione dari kanan meja. "Well, sejauh ini peralatan pertanian sudah berkembang dengan baik, hanya saja metode penanaman dan perawatannya yang perlu diperbaiki, Miss Granger."
Severus menyeringai, akhirnya dia punya alasan untuk memandang Hermione. "Ya, bisa jadi sih. Sayangnya kita belum mempunyai metode khusus mengenai cara berladang yang benar," kata Hermione.
"Kau tidak berencana membuatnya kan, Nak?" kekeh Mr Granger. "Tidak juga, Dad. Dari buku yang kubaca, ada beberapa metode yang bisa dipakai untuk meningkatkan kualitas pertanian," jawab Hermione.
"Ya ampun, ini makan malam, bukan diskusi pertanian…" Mrs Granger menghela napas pasrah.
"Aku setuju dengan Mrs Granger. Tetapi kalau buku itu bisa kita perbanyak dan dijadikan pedoman pertanian, maka apa yang diusulkan Hermione bisa tercapai," kata Severus. Hermione tersenyum kepadanya karena usulnya didukung.
Makan malam itu terus berlanjut tanpa banyak bicara pertanian, karena Mr Granger mulai bercerita tentang petualangannya yang memancing tawa. Severus menikmati makan malam itu, merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama sekali tak dialaminya.
oxxxo
Siang ini Severus memacu kereta kudanya ke tempat penjualan gandum milik Minerva McGonagall. Tempat itu terletak di jajaran toko dekat pusat desa. Suasana di pertokoan itu pun sangat nyaman. Tidak seperti di tempat lainnya, di sana terdapat taman bunga yang indah dan terawat.
"Seminggu lebih cepat dari biasanya ya, Severus?" kata McGonagall. "Ya, begitulah, Minerva. Tahun ini memang cuacanya sedikit lain, tapi tak begitu masalah bagiku," sahut Severus. Ia dan Arthur Weasley sedang mengangkat beberapa karung gandum dari kereta kuda, kemudian memindahkannya ke dalam toko. Sementara McGonagall sedang melakukan penghitungan di meja. Arthur memang bekerja di toko ini.
"Dengar-dengar perayaan itu akan digelar hari Sabtu mendatang, rasanya waktu berjalan sangat cepat, bukan begitu?," tanya Mr Weasley. "Aku sudah dengar hal itu, tapi perayaan panen memang selalu dinantikan di sini. Sebagai acara tahunan yang menyenangkan tentu saja," komentar Severus.
Ah, benar. Pesta di pusat desa sebagai wujud syukur warga Hogwarts terhadap hasil panen mereka, sekaligus untuk mempererat kekeluargaan. Acara tahunan yang sangat meriah sebenarnya, mengingat betapa banyak makanan dan minuman yang dihabiskan. Acara puncaknya yaitu pertunjukan kembang api, setelah itu dilanjutkan menari masal.
Tak ada warga desa yang mau melewatkan perayaan tersebut, apalagi para pemuda yang berniat mencari jodoh. "Ada lagi yang bisa kubantu, Severus?" tanya Mr Weasley.
"Kurasa ini sudah cukup, Arthur. Terima kasih," ucap Severus sambil menerima sekantong galleon dari McGonagall.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada wanita paruh baya itu. Kemudian keluar dari toko dan memacu kudanya kembali menuju rumahnya. Namun di tengah jalan, ia berpapasan dengan Hermione. Tangannya memeluk beberapa buku.
"Hai Severus, mau ke mana?" sapa Hermione.
Severus menghentikan laju keretanya, "Dari toko Mrs McGonagall menjual gandum. Kau serius ingin menjalankan idemu itu?" dia menunjuk buku-buku yang dibawa Hermione.
"Oh, ini hanya buku bacaan biasa, bukan soal pertanian kok," kata Hermione cerah. Severus geleng-geleng kepala. Memang keterlaluan rasa ingin tahu Hermione. Sebenarnya Severus juga sih, tapi kan dia tidak begitu menunjukkannya.
"Kau mau pergi ke perayaan panen bersamaku?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Severus, yang segera menyadarinya. Sekarang ia mati-matian menyembunyikan rona merah di wajahnya. Mampus kalau sampai ketahuan, batinnya.
Hermione sempat diam beberapa saat, hingga akhirnya, "Err.. Tentu saja, Severus," setelah berkata begitu, ia langsung buru-buru pamit pulang ke rumah. Barangkali grogi menjawab...
Severus hanya bisa tersenyum kecut melihat punggung Hermione semakin menjauh. Tapi setidaknya ia sudah berusaha mengajak gadis itu keluar. Menyeringai samar, Severus kembali memacu kereta kudanya pulang ke rumah. Tentu kali ini tak akan tertunda lagi.
oxxxo
Suasana malam itu ramai sekali. Sebuah panggung telah didirikan di depan kantor kepala desa, beserta podiumnya. Beberapa orang memainkan bagpipe, biola, akordion, gitar klasik, dan alat musik ritmik. Puluhan meja dan kursi kayu tertata di segala penjuru, yang di atasnya ada berlusin-lusin minuman dan makanan.
Anak-anak berlarian, selebihnya bercengkrama seru atau menari mengikuti musik folk khas Skotlandia itu. Bahkan banyak pria yang menggunakan kilt―pakaian khas Skotlandia yang dikenakan di bagian pinggang, bentuknya mirip rok tapi bermotif tartan.
Severus duduk di salah satu kursi panjang sambil menyesap minumannya. Ia sedang menikmati suasana, sesekali mengamati Hermione. Namun pikirannya mengelana entah ke mana.
Tak ada sedih dan kesepian, semuanya larut dalam kesenangan ini. Ada yang menepuk pundaknya tiba-tiba. Saat ia menoleh ke belakang, wajah tersenyum Lucius ada di sana. Membuyarkan lamunannya.
"Hei, mate, apa kabar? Masih hobi juga kau melamun di tengah perayaan begini?"suara angkuh khas seorang Malfoy itu menyambutnya. "Seperti yang terlihat, Lucius. Tumben sekali kau pulang?" Severus menyeringai.
Sejak kecil ia dan Severus sudah berteman, akrab sekali. Lucius memang penduduk asli dari sini, tapi ia merantau bersama istri dan Draco kecilnya ke Inggris. Ia sudah menjadi orang sukses. Kabarnya ia tinggal di rumah mewah yang disebut Malfoy Manor. Mereka jarang mengunjungi Hogwarts.
"Kami baru saja tiba pagi ini. Narcissa ingin mengenalkan pada Draco kehidupan di sini. Siapa tahu ia nanti bisa menjadi penerusku. Karena itulah, kami akan tinggal selama sebulan di sini," jelas Lucius panjang lebar.
"Penerus bisnis keluarga, eh? Bagaimana dengan Pangeran Kegelapan, kau tidak bertemu dengannya, kan?" tanya Severus.
"Aku tidak mendapat kabar apa-apa. Seperti yang kita kira, ia sudah pergi jauh entah ke mana. Well, aku sendiri tidak berharap bertemu dengannya lagi. Itu lebih baik," jawabnya serius.
Severus masih ingat, dulu ia dan Lucius sempat berteman akrab dengan laki-laki pendatang bernama Tom Marvolo Riddle, atau yang lebih suka dipanggil Pangeran Kegelapan. Tidak banyak yang berteman dengan orang itu, walaupun banyak yang bersimpati karena sikapnya yang ramah dan cara bicaranya yang hati-hati. Tapi Pangeran Kegelapan terkesan menarik diri dari masyarakat, tenggelam dalam kehidupannya sendiri. Mereka tidak pernah berprasangka buruk kepada Pangeran Kegelapan.
Hingga suatu malam, Pangeran Kegelapan meninggalkan Hogwarts secara diam-diam. Keesokan harinya para penduduk baru menyadari bahwa ada banyak benda berharga mereka yang hilang, tak terkecuali Lucius dan Severus. Kuda hitam Lucius yang gagah hilang dari kandangnya.
Mereka berdualah yang paling menyesal karena telah memberi kepercayaan besar kepada Pangeran Kegelapan. Untungnya, dia tak pernah kembali ke Hogwarts. Peristiwa itu menyadarkan mereka agar lebih berhati-hati dalam memilih teman.
Mereka berdua masih mengobrol ketika Draco datang. Ia sudah tumbuh menjadi laki-laki berusia dua puluh empat tahun. Dengan rambut pirang khas Malfoy yang halus, sepasang mata abu-abu, dan wajah tirus. Ia adalah tiruan sempurna dari Lucius. Setiap ia melangkah, ada saja gadis yang meliriknya. Untung Hermione tidak begitu, Severus bersyukur karenanya.
"Mau butterbeer, Paman Severus? Aku baru saja mengambilnya," kata Draco ramah. "Tidak, terima kasih. Minumku sendiri masih belum habis," tolak Severus. Draco duduk di sebelah Lucius, namun tidak ikut dalam percakapan. Ia masih betah menikmati perayaan ini.
"Hei ayah, lihat yang di sana itu. Kasihan dia sendirian dari tadi," Draco menunjuk Hermione yang entah bagaimana malah membaca buku di tengah perayaan begini. "Well, mungkin perayaan tidak begitu menarik baginya, Nak. Kau mau mengajaknya menari mungkin?" tawar Lucius sambil tersenyum jahil.
Severus mengangkat sebelah alisnya, ia tak akan membiarkan anak muda ini mengambil Hermione darinya. "Kau tak akan bisa mengajaknya, Draco. Dia sudah ada yang punya, kecuali kau mau berurusan dengan pasangannya," nada suaranya berbahaya. Draco mendesah pelan, kemudian kembali mengamati orang-orang.
Severus tersenyum dalam hati. Tentu saja ia tak mau melihat Hermione berdansa dengan laki-laki lain, walaupun ia belum juga mengutarakan perasaannya kepada gadis itu. Tapi ia tak mau mengambil resiko kehilangan lagi.
Mereka berdua kembali mengobrol, sedangkan Draco pergi mengambil minuman dan belum kembali juga. Kemudian Lucius pamit ingin mengajak Narcissa berdansa. Sekarang Severus ditinggal sendirian lagi.
Tepat saat itu sebuah kembang api meledak di langit, kemudian disusul yang lain. Pertunjukan kembang api sedang dimulai, orang-orang memandang langit yang sekarang berwarna-warni.
Berbagai macam kembang api itu berubah bentuk. Ada yang menjadi naga, hujan cahaya, dan bermacam-macam lainnya. Hermione sampai menghentikan kegiatan membacanya. Mata coklat almond-nya mengamati dengan takjub ledakan cahaya di langit.
"Indah ya?" kata Severus tepat di sampingnya. Hermione terkesiap, namun ia tersenyum. "Sayangnya kembang api ini malah menutupi keindahan bintang-bintang. Padahal kalau malam cerah begini banyak bintang yang terlihat," lanjut Hermione.
"Kau suka bintang-bintang?" tanyanya lagi. "Tentu saja, tapi seperti yang kau bilang―mereka tertutupi," jawab Severus masam.
"Aku baru tahu kalau kau suka mengamati bintang, Severus," kata Hermione. "Tak banyak yang tahu, tentu saja. Tak begitu penting," sahut Severus enteng.
"Aku tahu tempat di dekat sini, tidak begitu jauh, tidak ada kembang api. Tapi kalau kau mau saja," tawar Severus secara tersirat.
"Oh, well, setelah pertunjukan kembang api ini selesai. Mungkin kau mau menunjukkannya," kata Hermione.
Mereka berdua kembali menonton pertunjukan kembang api. Setiap ada yang bagus, Hermione akan bertepuk tangan. Severus hanya meliriknya dengan tatapan geli.
oxxxo
Pertunjukan kembang api telah berakhir. Fred dan George diserbu anak-anak kecil yang meminta pertunjukan kembang apinya diulang. Mereka berdua sampai kewalahan. Tempat penyimpanannya saja sudah ludes, tapi mereka berjanji akan menampilkannya di saat yang lain. Membuat anak-anak itu sedikit kecewa, tapi tetap senang.
Orang-orang di panggung kembali memainkan alat musik mereka, sekarang keras sekali. Musik folk Skotlandia itu bergema sampai ke segala penjuru. Para orang dewasa dan remaja berbondong-bondong mengajak pasangan mereka menari. Melompat, menghentak, dan sesekali berlari kecil mengikuti alunan musik Lord of the Dance. Lincah sekali.
Namun Severus dan Hermione malah berjalan menjauh dari kerumunan itu. Mereka menuju sebuah bukit kecil di sebelah Selatan, dekat dengan Danau Hitam. Dari sini terlihat jelas jutaan bintang. Ada yang besar dan kecil, cahayanya terang atau sayup-sayup, dan ada yang berjajar membentuk rasi bintang.
Mereka berdua mengamati tanpa banyak bicara. Larut dalam keindahan yang ditawarkan penghuni langit kepada mereka. Beberapa menit kemudian, Severus mengajak Hermione berdansa di bukit kecil itu.
Hermione tadinya menolak, bukan karena ia tidak bisa berdansa. Melainkan ia takut kalau jatuh ke sisi bukit. Namun Severus meyakinkannya kalau ia aman. Malu-malu kucing, Hermione menyetujui ajakan Severus.
Mereka berdansa seperti orang-orang di perayaan. Lincah dan menyenangkan. Musik Lord of the Dance memang sesuai dimainkan saat perayaan begini.
Beberapa kali Hermione hampir terserimpet gaunnya, untung tidak sampai hilang keseimbangan. Bukannya menolong, Severus malah memberinya tatapan geli tertahan. Membuat Hermione tersipu malu.
Musik dansa berakhir, begitu juga dengan dansa mereka. Tapi Severus masih belum melepaskan Hermione dari posisi dansa. Dia menatap Hermione, seakan terpaku pada wajah cantik yang disinari cahaya bulan itu.
Detik demi detik berlalu tanpa satu pun kedipan mata. Namun ada yang lain, sesuatu yang lebih dari dari tatapan tajam satu sama lain.
Hermione merasakannya. Ada begitu banyak yang disampaikan oleh sepasang mata hitam itu. Sesuatu yang tidak bisa disampaikan lewat kata.
Kisah itu mengalun lewat tatapan Severus yang berganti rupa. Hermione bahkan sampai lupa berkedip.
Entah mengapa sudut hatinya mulai menghangat. Ia merasa nyaman di dekat Severus. Ia tak peduli, ia tak mau tahu. Terlalu banyak yang ia rasakan dari tatapan Severus kepadanya.
Dan malam itu berakhir dengan ciuman hangat Severus di bibirnya.
oxxxo
Sudah dua minggu sejak perayaan panen meriah itu. James Potter sedang menikmati secangkir kopi hangat di ruang keluarganya. Udara pagi yang dingin terhalang jendela yang tertutup rapat. Perapian kecil menyala di depan sofa empuknya. Sesekali derak api muncul, lidah apinya menjalar ke atas menuju cerobong. Meninggalkan bekas kehitaman.
Lily Potter masuk dari ruang tamu. Menuju ke sofa tempat James duduk. "Lihat James, pagi-pagi begini sudah ada surat yang datang. Bukalah," pinta Lily.
James menyeruput kopi dengan tangan kanan, sementara tangan satunya membuka surat itu. Dibaca urut dari atas, namun saat tiba di tengah surat, tiba-tiba ia menyemburkan kopinya.
"APA-APAAN INI? INI TIDAK MUNGKIN!" sontak Lily menutup telinganya, James berteriak kencang sekali. "Kau ini membuat telingaku sakit, James. Ada apa sih?" Lily bertanya kesal.
James memberikan surat itu, kemudian mengatur napasnya. Ia masih kaget bukan kepalang. Lily membaca surat itu dan tertawa kecil.
"Sudah selesai membacanya? Kau boleh mencubitku, aku masih tidak percaya," muka James konyol sekali. Campuran melongo tidak percaya.
Lily sekarang terbahak melihat James, sungguh suaminya ini konyol sekali. "Well, aku yakin ini nyata, James. Lagipula harusnya kita ikut senang kan," katanya masih tertawa.
"Tapi, Lils─bagaimana mungkin dia bisa─ini hanya mimpi kan?!" James masih ngotot tidak percaya.
Kemudian Lily pergi ke dapur, masih terbahak-bahak─meninggalkan James dengan sepucuk surat yang ternyata sebuah undangan pernikahan itu. Si Snivellus dan Granger? Tapi bagaimana bisa? Dunia sudah terbalik rupanya.
xoxoxoxoxo

Monokrom (Sabaku no Ghee)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini

Monokrom
A Fanfiction By Sabaku no Ghee
Harry Potter by J.K. Rowling
Romance, Angst, Slice of Life
JPSS, mention of SSLE
WARNING : shonen ai. Maybe OOC. AU.
Dibuat untuk Challange 'SNAPE DAY – Challenge Profesi Lain' oleh Ambudaff
.
(xXx)
.
PRAK—!
Tumpukan kertas berisi deretan angka dihempaskan begitu saja ke permukaan meja kayu berharga puluhan ribu poundserling. Wajah dengan ekspresi berkerut tanda tak puas tanpa basa-basi diperlihatkan. Bola mata keabuan itu seakan ingin menelanjangi staf keuangan di hadapannya. Gadis bersurai pirang sepunggung yang sedang 'disidang' itu berusaha terlihat tenang sekalipun caranya menelan ludah merupakan bukti nyata kalau ia ingin cepat-cepat minggat. Namun tentu saja, direktur divisi finance berusia tiga puluhan awal ini tidak pernah kenal kompromi.
"Akhir tahun di depan mata. Kantor konsultan pajak dan akuntansi akan memeriksa semua aktivitas finansial kita. Anda pikir, hanya karena alasan 'saya ceroboh', maka laporan keuangan ini bisa lolos begitu saja dari auditor?" suara dengan nada muram itu terdengar menghakimi, "Saya tidak akan membuang waktumu." gumamnya tegas sambil menyodorkan tumpukan kertas tersebut, "Butuh berapa menit untuk memperbaikinya, miss White?"
"Segera..." jawabnya pelan dan kaku, "Se—setengah jam, mr. Snape."
Pria berambut hitam sebahu itu mengangguk. Alih-alih memberikan respon verbal pada sang bawahan, ia kembali berkutat dengan laptopnya. Memperhatikan pergerakan grafik indeks saham NASDAQ yang selalu berubah setiap detiknya, "Bawa pekerjaanmu keluar. Temui saya dua puluh menit lagi."
"Baiklah, mr. Snape." jemari lentik sang gadis menyambar puluhan lembar HVS berukuran legal tersebut. Langkahnya sengaja dipercepat, mempertontonkan senyum tak enak sebelum ia membuka pintu, "Saya mohon diri." dan menghilang tanpa mengharapkan balasan. Meninggalkan atasannya kembali larut dalam kesendirian.
Pria yang dipanggil 'Snape' barusan terlihat acuh.
Dan segalanya berjalan seperti hari-hari kerja biasanya.
Telepon dari distrik tetangga, perjanjian kerja sama dari perusahaan kerabat, fax-fax dari negara sebelah, nilai saham, harga tukar valuta asing, bundelan dokumen yang harus dibubuhkan tanda tangan—monoton.
Severus Snape, seorang pria jenius asal London, dengan embel-embel 'lulusan terbaik' Oxford. Ia berhasil tamat dengan gelar kehormatan summa cum laude, mengambil dua studi dari bidang perekonomian sekaligus, dan baru saja menyelesaikan master-nya di Princeton untuk cabang ilmu financial engineering. Kehidupan masa kecilnya tidak bisa dibilang menyenangkan. Ibunya masih keturunan duke namun ayahnya tak lebih dari pria brengsek yang melarikan diri ketika dirinya masih dalam kandungan. Kasih sayang ibunya juga tidak pernah tergolong spesial. Hari-harinya di sekolah dulu dijejali dengan materi pelajaran dan buku-buku tua. Pergaulannya minim. Kegiatan ekstrakulikuler selalu ia tinggalkan. Perpustakaan dan halaman belakang sekolah justru menjadi tempat favoritnya.
Semenjak kecil, tumbuh remaja, dan menjejak dewasa, pria dengan rambut hitam membosankan dan hidung bengkok itu tidak pernah menjadikan interaksi sosial sebagai hobi pribadinya.
Kecerdasan memberikannya beasiswa sana-sini. Ia bimbang ketika harus memilih Princeton atau Harvard. Sampai akhirnya ia lulus dari kampus pertama yang berlokasi di New Jersey, Amerika Serikat, ia kebingungan lagi untuk menjadi manajer keuangan di perusahaan real estate atau terjun di manajemen perhotelan. Ada satu titik di mana akhirnya Severus Snape memutuskan untuk tetap berkarir di bidangnya. Dan, di tempat inilah ia menghabiskan hari-hari sibuknya. Sebuah kubikel mewah di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit dengan interior kelas eksklusif. Sedan mewah disiapkan di tempat parkir khusus dengan supir siaga dua puluh empat jam. Harga yang cukup tinggi agar otak jeniusnya bisa dimanfaatkan oleh perusahaan yang omset per tahunnya menjapai angka jutaan dollar.
Severus Snape tidak bisa dianggap enteng. Jerih payahnya bertahun-tahun terbayar dengan seluruh fasilitas yang ia dapatkan. Ia masih serius menatap layar komputer pangkunya yang menayangkan garis-garis naik-turun. NASDAQ, indeks yang mewakili perusahaan-perusahaan di bidang teknologi melaju di jalur hijau lagi. Mungkin ia akan mempertimbangkan untuk membeli beberapa lot saham atau Dell. Tampak puas, Severus Snape membuat posisi duduknya menjadi lebih santai. Hal yang membuatnya tanpa sengaja menyenggol sebuah benda. Suara berdenting terdengar ketika benda berbahan logam tersebut bertemu dengan lantai granit hitam.
Astaga, bingkai foto yang dibelinya ketika studi banding ke Praha!
"Bloody hell." segera dipungutnya benda tersebut untuk menyingkirkan debu yang sedikit bertengger.
Dalam diam, Severus Snape menatap mata-mata yang ada di sana. Tanpa sadar sorot yang biasa menusuk itu menjadi redup. Ada dirinya di sana, bersama seorang wanita dan anak lelaki berumur lima tahun. Menara Eiffel yang terkenal sebagai lambang kota Paris menjulang gagah sebagai latar belakang. Senyuman perih pun tak pelak kembali terukir. Apa kabar mantan istri dan anaknya hari ini? Severus Snape menarikan ujung jemarinya pada pinggiran bingkai itu. Apa kabar wanita kuat bernama Lily Evans setelah perceraian mereka? Kali ini ia menghela napas berat sambil mengetuk pelan kaca bingkai tersebut. Apa kabar juga Harry setelah memutuskan ikut dengan ibunya?
Tidak tahu, dan mungkin Severus Snape, 37 tahun, duda beranak satu ini tidak ingin terlalu mencari tahu. Semenjak sidang keberapa, ia sendiri tidak begitu ingat, pengacaranyalah yang hadir di pengadilan karena jadwal padatnya berupa rapat penting dengan perusahaan tetangga. Mungkin sejak pertama kali ia dan Lily saling membentak, ketika itulah hidupnya yang warna-warni mulai monokrom.
Ah, bukan. Coba mundur sekian tahun. Apakah sejak Harry mulai masuk sekolah? Ketika mereka bertengkar karena Severus tidak bisa mengantar Lily untuk mengambil laporan pendidikan anak tunggalnya? Mundur, ataukah karena ia tak pernah menginginkan pernikahannya dengan wanita itu? Mundur, sejak pelarian dirinya dari sesuatu, yang mengirimkannya ke Princeton selama tiga tahun?
Rasanya tebak-tebakan ini tak pernah berujung.
Severus Snape melonggarkan dasinya. Ia biarkan leher dan dadanya yang berkulit putih terkena semprotan udara dingin dari arah pengondisi udara. Posisi tubuhnya sengaja ia rebahkan ke belakang. Kedua bola matanya terpejam untuk sejenak menikmati rehat singkatnya. Ketika itulah, dingin menggigit yang berasal dari benda berbahan metal serasa menembus kulit pucatnya. Severus tersentak, meraba apakah gerangan yang menempel di dadanya itu. Ah. Metal berbentuk bulat. Logam murni berupa emas putih. Tepatnya sebuah cincin yang sudah lama dijadikannya leontin. Pengganti rosario perak yang dahulu selalu ia kenakan yang kini—ada di mana ya? Otaknya yang biasa berputar keras kini membeku. Sebeku hatinya yang telah ia putuskan untuk kunci rapat-rapat setelah orang itu—
Oh.
Itu dia.
Kalau mundur lagi, satu hari, dua hari, tiga hari sebelum pertunangannya dengan Lily Evans. Dua hari sebelum ia menyelesaikan urusan passport dan visa pelajar. Satu hari sebelum ia bertolak dari Bandara Internasional Heathrow, London. Genggamannya di cincin platina itu mengerat, menolak untuk mengingat pernikahan ilegalnya dengan seseorang yang tak ingin ia ingat namanya. Hari di mana ia mulai kehilangan warna dan makna hidupnya.
Ah, siapa namamu, pemuda yang dahulu pernah dicintainya? Kenapa yang tersisa di ingatannya hanyalah rambut hitam berantakan dan bola mata hazel yang hangat? Sudah selama itukah waktu berlalu semenjak kepergian dirinya yang membuat hidupnya hitam dan putih? Tak ada rasa tersisa setiap kali cincin tersebut mengingatkannya pada malam pengantin itu. Ketika pemuda berkacamata itu mengucapkan janji sehidup semati di hadapan salib maha agung. Saat kekasihnya melingkarkan cincin platina di jari manisnya, dan Severus muda menyerahkan rosario perak yang selalu dikenakannya. Terakhir kalinya mereka saling menatap, memeluk, mencumbu—
bercinta.
Severus terdiam.
Dimanakah kekasih abadinya, yang sudah berhenti dicintainya? Bagaimana kabar ruang kecil yang terkunci rapat jauh di palung hatinya, yang khusus disediakan untuk dirinya? Apakah dia masih suka permainan tolol beregu yang melibatkan bola bodoh itu? Apakah dia masih sering melontarkan lelucon konyol lalu menertawakan guyonannya sendiri? Apakah dia kini menikmati kegiatan menjahili rekan kerjanya ataupun membuat onar di ruang pribadi atasannya? Apakah dia kini sedang duduk di sebuah restoran bersama kolega bisnisnya? Apakah dia kini telah membentuk sebuah keluarga, dengan seorang istri yang cantik dan dikelilingi anak-anak yang manis?
Apakah kenangan itu masih tersisa?
James Potter, masihkah kau mengingat seorang Severus Snape?
Knock-knock
Paras tirus itu kembali menampakkan ekspresi angkuh, "Masuk."
"Permisi mr. Snape, laporan keuangan proyek di sudah saya perbaiki. Bagian auditing dan administrasi keuangan telah merevisi bagian—" ocehan itulah yang setiap hari masuk ke gendang telinganya.
Baginya, kata-kata cinta telah kehabisan makna.
Hidupnya sedari awal tidak pernah diramaikan warna. Porsinya disediakan dalam palet monokrom yang tak jauh dari hitam dan putih. Sebuah episode hidupnya sempat berubah ketika pemuda agresif itu mengetuk pintu rumahnya. Kebersamaan singkat penuh kenaifan dan janji yang kini tak pernah bisa mereka wujudkan. Orang itu pernah menjamah hati dan pikirannya. Mewarnai kanvas kehidupan miliknya menjadi secerah pelangi. Namun sekarang tangan yang Severus punya hanya bisa menggerakkan perusahaan. Ia sudah kehabisan tenaga dan keinginan untuk menyentuh jiwa orang lain. Dunianya kembali meredup dan optimismenya hanya berlaku pada strategi bisnis.
Severus Snape adalah seorang direktur di bidang yang sangat ia kuasai. Ia bisa membuat kalang kabut investor Eropa Barat bila absen kerja satu hari. Ia adalah 'siapa-siapa'. Ia adalah orang penting di London dan memegang sejumput kekuasaan finansial di Inggris.
Tapi satu hal.
Severus Snape terperangkap dalam dunia kecilnya yang monokrom.
Dan khusus untuknya, menu sehari-hari berupa kehampaan disediakan di atas piring bernama dimensi waktu yang selalu berjalan terlalu lambat.
.
(xXx)
.

Dendam (ashimie)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Summary:

For Snape Day! belated fic from me. Aku tak tahu bagaimana menyimpulkan kisah ini, yang bisa ku lihat hanyalah sebuah........dendam
Peter Pettigrew memang pantas mati!
Amat sangat pantas.
Dia yang telah menjual Lily pada Dark Lord. Dia yang mengoyak mantera Fidelius yang melindungi Lily dengan sempurna. Dia yang menjadi mata-mata Dark Lord dalam Orde. Orang yang sama yang juga membawa wanita yang dicintai Severus Snape ke ujung mautnya.
Ya, Pettigrew memang sudah sepantasnya mati.
Dan Severus Snape paham hal itu.
Tak ada keraguan lagi dalam dirinya. Severus telah melihat semuanya. Memori anak itu tidak akan berkata bohong. Kenangan itu sangat jelas terlihat, seperti sebuah adegan yang kembali terjadi. Di dalam gubuk reyot Shrieking Shack, Black dan Lupin membongkar semua kenyataan yang terjadi pada malam Halloween tahun 1981. Bahwa Peter ‘Tikus-Got’ Pettigrew bertanggung jawab atas penyerangan Dark Lord di Godrics Hollow malam itu.
Malam di mana Severus kehilangan segalanya.
Cintanya.
Kepercayaannya.
Hatinya.
Lily Evans telah tewas. Lily-nya tak akan pernah kembali lagi, bahkan sekalipun ia memohon pada Merlin.
Severus Snape tak pernah menyangka bahwa laporannya tentang ramalan yang ia curi dengar dari Trelawney akan berakibat seburuk ini. Bukan pujian yang ia dapatkan dari sang Dark Lord, malah penyesalan dan kesakitan yang ia rasakan. Ia tak siap kehilangan Lily seperti ini. Tak akan pernah siap.
Severus sempat menyalahkan semuanya pada Albus Dumbledore. Lelaki tua itu telah berjanji padanya untuk melindungi Lily dengan sebaik mungkin. Tetapi dia mengingkarinya. Dia tak berhasil melindungi Lily. Albus berkilah dengan mengatakan bahwa seseorang mengkhianati mereka. Dan sebagai gantinya, masih ada darah daging Lily yang selamat. Anak yang dilahirkan oleh Lily, yang memiliki mata hijau kesukaan Severus.
Tidak. Bukan anak bayi itu yang diinginkannya, tetapi Lily. Wanita yang memberi warna pada hidupnya yang kelabu.
Kepercayaannya telah goyah. Severus Snape tak bisa sepenuhnya kembali mempercayai Albus Dumbledore. Meskipun ia telah setuju untuk menyeberang pihak, bukan berarti Severus akan selalu setuju dengan apa yang dikatakan Albus. Ia hanya merasa perlu berhati-hati.
Dan anak itu.
Ah, persetan dengan segala cerita keajaiban yang dibicarakan orang-orang tentang anak itu dan Dark Lord. Severus tak peduli, seperti orang lain yang tak peduli dengan keadannya. Toh tak akan ada yang mengerti apa yang ia rasakan. Sekalipun itu Albus.
Severus tak ingin menganggap anak itu sebagai anak Lily. Anak yang telah membuat wanita yg ia cintai berkorban nyawa. Anak yang juga menyandang nama belakang yang sama dengan si sombong itu, James Potter. Severus menolak untuk mengakui bahwa dalam diri anak itu juga mengalir darah Lily.
Tidak. Severus yakin sepenuhnya bahwa anak itu tidak akan menjadi anak Lily. Anak itu akan tumbuh menjadi seperti duplikat dari ayahnya. Sombong, arogan, dan jahat. Seperti layaknya kepada James Potter, Severus menganggap dirinya tak akan pernah bisa menaruh simpatik pada anak itu.
Waktu demi waktu berlalu. Severus melihat anak itu tumbuh seperti perkiraannya, dan sekaligus di luar ekspektasinya. Anak itu mewarisi fisik ayahnya. Tetapi entah bagaimana, arogansi seorang Potter seakan tertelan jauh dalam dirinya. Anak itu tak suka ketenaran yang dia peroleh, bahkan sebelum dia tahu alasannya. Juga dia memilih untuk tidak menonjol dan lebih suka tidak menjadi pusat perhatian.
Tipikal Lily.
Severus menyadari itu. Tetapi ia bertahan dalam sikap acuhnya. Permusuhan dan kebencian yang Severus tanam mulai dari detik pertama pertemuannya dengan anak itu, membuatnya semakin mudah untuk memanipulasi apa yang dia rasakan. Severus merasa telah menemukan kembali Lily-nya pada diri anak itu.
Ya, Severus Snape konsisten dengan pemikirannya. Selama anak itu berada di sekitarnya, ia tak pernah menunjukkan rasa simpatiknya. Tidak secara gamblang.
Seperti yang diharapkan, anak itu juga dengan mudah membencinya. Bagus. Ini akan membuatnya semakin sempurna.
Ada sebuah kekhawatiran yang selalu membayanginya. Kenyataan bahwa anak itu ditakdirkan untuk menghancurkan Dark Lord.
Severus tak tahu bagaimana cara menjaga anak itu saat ia tak berada dalam jangkauannya. Ia tak bisa mempercayakan sepenuhnya keselamatan anak Lily pada Albus Dumbledore. Rasa kecewa pada lelaki tua itu tak pernah benar-benar hilang. Ia sudah mulai meragukan kompetensi Albus yang kini semakin tua itu. Severus lebih memilih melindungi anak itu dengan caranya sendiri. Mencoba untuk membuat Dark Lord tak lagi menyentuh atau melukai anak itu. Setidaknya kali ini kesempatannya untuk menebus kesalahannya. Hanya anak ini satu-satunya peninggalan Lily. Satu-satunya koneksinya dengan Lily.
Dan malam itu.
Di ruang kantornya. Ruang bawah tanah. Semua kenyataan itu terbongkar.
Severus tak penah berkekspektasi bahwa ia akan melihat memori itu dalam pikiran anak itu. Semua terjadi secara tidak sengaja. Pelajaran Occlumency yang diperintahkan oleh Albus membuatnya mengetahui yang sebenarnya terjadi pada malam saat ia tak sadarkan diri di Shrieking Shack. Black dan Lupin membuktikan kenyataan yang mengejutkannya.
Albus Dumbledore tidak bersalah. Bahkan bukan Black yang mengkhianati Potter dan Lily. Semua akibat ulah Peter Pettigrew. Dia menjual temannya sendiri. Memfitnah sahabatnya ke dalam Azkaban. Dia yang menyebabkan musnahnya kekuatan Dark Lord. Dan dia yang bertangung jawab atas kematian Lily.
Peter Pettigrew harus mati!
Hanya itu yang ada di pikiran Severus. Ya, mati secara mengenaskan adalah hal yang sangat layak didapatkan tikus tua itu.
Severus memang tak pernah menyukai orang itu. Bahkan sejak mereka masih bersama-sama sekolah di Hogwarts. Karena dia telah menjadi salah satu anggota kawanan Potter dan Black, kawanan yang menurut Severus sangat layak untuk dibenci. Ditambah dengan kesalahannya membunuh Lily, secara tidak langsung.
Severus pada akhirnya menemukan seseorang yang memang sangat pantas untuk meluapkan segala rasa penyesalan dan dendam yang ia miliki atas kematian Lily. Seseorang yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Seseorang yang harus menebusnya juga dengan nyawanya. Severus berharap untuk membunuh Pettigrew dengan tangannya sendiri.
Seperti sebuah keberuntungan, saat Severus telah menjadi tangan kanan Dark Lord, tikus tua Pettigrew diperintahkan untuk membantunya di Spinner’s End. Itu berarti kesempatan untuk membunuhnya semakin besar. Satu saja kesalahan kecil, Severus bisa merapalkan mantera pembunuh pada tikus itu.
Tetapi Severus memilih menahan ego untuk segera membunuhnya. Ia menikmati pembalasan dendam secara perlahan. Mengingat betapa tikus itu dan teman-teman kecilnya dahulu sering membuatnya menjadi target kejahatan mereka. Tak perlu menyiksanya, setidaknya membuatnya merasa disia-siakan seperti seorang budak tak berharga, rasanya sudah cukup. Sekalipun dia mengadu pada Dark Lord, Severus yakin tak sepatah kata pun yang didengarkan olehnya. Ia tahu Dark Lord lebih mempercayainya, tentu saja.
Karma does exist. Yeah.
Pada akhirnya Severus Snape melihat hal yang dia inginkan. Peter Pettigrew telah tewas.
Severus mendengus saat berdiri di samping tubuh tak bernyawa Pettigrew. Mayat itu tergeletak begitu saja di tangga depan ruangan tawanan Malfoy Manor. Tak dipedulikan. Menyeramkan, Pettigrew tewas dengan mata terbelalak lebar. Wajahnya putih dan menyiratkan kesakitan, juga ketakutan yang luar biasa. Mulutnya terbuka seakan ingin mengambil udara yang tak sampai ke tenggorokannya. Posisi tangannya janggal, salah satu tangan mayat itu terlihat mencengkeram lehernya. Sebuah tangan yang terbuat dari besi. Sedangkan tangan yang lainnya memegang lengan jubah yang sudah robek.
Ini bukanlah efek dari Avada Kedavra. Severus Snape tahu kalau tangan besi itu yang mencekiknya hingga mati.
Bagus. Pergilah ke neraka dan tebus dosamu, Tikus kotor!
Sedikit penyesalan dirasakan oleh Severus. Pettigrew tidak mati di tangannya. Tetapi ada penghiburan lain, setidaknya tikus itu mati dengan cara yang mengenaskan. Yaitu tercekik oleh tangan yang dia puja. Tangan yang diberikan oleh Masternya. Tanpa dia tahu bahwa tangan itu dapat merasakan ketidaksetiaannya pada Dark Lord.
Ya, Peter Pettigrew tewas selayaknya yang dia dapatkan.
Severus Snape kini merasa lebih lega. Hanya ada satu tugas lagi. Membantu anak Lily memusnahkan Dark Lord selama-lamanya.
Dan Severus bahkan akan mempertaruhkan nyawanya untuk membantu anak Lily, berharap itu bisa menebus kesalahannya.

Selesai

Homo roboticus (arvisha)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Homo roboticus
Severus Snape dan Lilly Evans adalah tokoh-tokoh kepunyaan J.K. Rowling. Sherlock Holmes dimiliki oleh Sir Arthur Conan Doyle. Tidak ada keuntungan komersil pada karya ini. Semata-mata hanya untuk hadiah ulang tahun Severus Snape ke-54. Happy Birthday Daddy Sev.. -Rosemary Snape-
Sepasang remaja sedang duduk di bangku taman dalam diam. Keduanya asyik membaca buku masing-masing. Sang remaja lelaki berambut hitam berminyak membaca buku berjudul "The Advance Potion", sedangkan teman perempuannya membaca buku berjudul "Sherlock Holmes: A Study in Scarlet".
Di tengah-tengah keheningan dan kesibukan membaca itu, tiba-tiba gadis berambut merah ikal itu tertawa geli, "Hahahahahahahahaha….".
Remaja lelaki itu pun menengok, agak terganggu dengan perilaku temannya yang tiba-tiba tertawa seperti itu. Ia juga heran, tak biasanya Lily Evans tertawa sangat geli ketika sedang membaca buku. Lagipula buku yang dibaca Lily, setahunya adalah kisah detektif yang cukup serius. Di mana letak kelucuannya?
"Apa yang kau tertawakan Lils? "
"Hahahaha… haduh lucu sekali!", ujar Lily sembari memegang perutnya yang sakit karena tertawa terlalu banyak.
"Apanya yang lucu sih? Bukannya kau membaca buku kisah detektif, muggle yang bekerja menyelidiki kejahatan? Itu kan buku misteri, di mana letak kelucuannya?"
"Haduh Severus, buku ini memang seharusnya tidak lucu, tapi karena aku tampaknya mengenal karakter seperti yang disebutkan pada buku ini, maka buku ini menjadi sangat lucu bagiku", jawab Lily.
"Kau mengenal karakter pada buku itu? Siapa orang yang suka mencampuri urusan orang lain seperti tokoh di buku itu?"
"Ah, Severus, bukan begitu. Sherlock Holmes tidak seburuk itu. Malah dia sangat mengesankan. Dan aku tambah kagum padanya, karena aku mengenal seseorang dengan karakter yang sama seperti Holmes", ujar Lily tersenyum.
"Aku masih tidak mengerti di mana letak kelucuannya", ujar Severus Snape.
Lily membalik badannya sampai ia benar-benar berhadapan dengan Severus, jarak mereka dekat sekali, sampai wajah Severus memerah.
"Hmm.. Kau pasti mengenal orang ini, Coba tebak, siapakah orang dengan karakter berikut: sangat cerdas, sangat teliti dan detail memperhatikan keadaan sekitar, suka mengkritik orang dengan pedas, kaku, susah bergaul, hampir tidak punya teman, pemikir, suka merenung, tanpa ekspresi, sangat menyukai eksprimen kimia, tertarik pada peristiwa kriminal dan berusaha menyelidikinya, serta lebih sering menggunakan akal pikiran dibandingkan hari jika mengambil keputusan?",
Severus Snape termenung dan tampak berpikir keras setelah mendengar ucapan Lily, "Hmm.. sepertinya aku tidak kenal muggle yang kau sebutkan, Lils..".
"Muggle? Oh No!, He is a wizard, Sev! Haduh masa sih kau tidak menyadarinya?"
"Menyadari apa?"
Lily sudah tampak sangat gemas, menahan kesal dan geli sekaligus, "Sev, semua hal yang kusebutkan itu adalah karaktermu. Kau mirip dengan Sherlock Holmes! Oh ya satu lagi, kalian sama-sama suka warna gelap", ujar Lily sembari beranjak pergi meninggalkan Snape.
"Hei, Lily, kau mau kemana? Aku masih belum paham maksudmu!"
"Pikirkan saja sendiri, kau kan secerdas Holmes, jadi hal ini harusnya mudah", ujar Lily menengok sebentar ke arah Snape, lalu kembali meneruskan perjalanannya.
Severus Snape masih terpekur sendiri di bangku taman itu.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu di bangku taman tersebut. Mereka memang sering bertemu di taman terdekat dari rumah mereka. Severus Snape dan Lily Evans bukan sepasang remaja biasa, mereka adalah penyihir remaja berusia 13 tahun yang sedang menikmati liburan musim panas. Mereka berdua bersekolah di sekolah khusus penyihir, Hogwarts.
Severus dan Lily sudah saling mengenal sejak mereka belum berada di sekolah itu. Hampir tiga tahun yang lalu, Severus yang sering menyendiri di taman itu, melihat Lily sedang mempertunjukkan bakat sihirnya kepada sang kakak. Lily tidak mengerti bahwa yang ia lakukan adalah sihir (membuka dan menutup mahkota bunga Lily). Severus-lah yang menjelaskan kepada Lily mengenai bakatnya itu, Severus juga yang memperkenalkannya dengan dunia sihir. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi sahabat akrab, baik di sekolah, maupun di rumah.
Severus Snape tidak hanya sekedar menganggap Lily sebagai sahabat, diam-diam dia tertarik dan menyukai Lily, namun ia tak pernah berani untuk mengutarakannya. Dia hanya menikmati saat-saat berdua dengan Lily. Apalagi saat liburan sekolah seperti ini, tidak ada teman-teman yang mengganggu kebersamaannya dengan Lily. Petunia Evans, kakak Lily pun enggan mengganggu mereka, walau sering memarahi Lily, jika ia bertemu dengan mereka berdua. Severus Snape tidak ambil pusing terhadap Petunia, "Dia iri dengan kemampuan menyihir yang kita miliki, Lils", ujar Snape setiap Lily menceritakan perilaku menyebalkan sang kakak.
"Sev, tahu tidak? Ternyata Sherlock Holmes juga bisa jatuh cinta lho", ujar Lily memecah keheningan.
"Jatuh cinta? Bukannya kau bilang, detektif itu lebih sering menggunakan pikiran dibanding hati? Bagaimana cara ia bisa jatuh cinta?"
"Hahaha.. tapi kan dia juga manusia, Sev. Dia jatuh cinta kepada wanita yang berhasil mengelabuinya. Nama wanita ini Irene Adler. Miss Adler merupakan wanita yang sangat cerdas, sehingga pria sejenius Holmes pun tertarik kepadanya".
"Hmm.. kali ini,.. kurasa ada persamaannya denganku. Aku juga menyukai gadis yang cerdas…", ujar Snape dengan wajah sangat merah, seperti telah melakukan suatu hal yang sangat memalukan. Wajahnya pun tertunduk.
Lily menatapnya dengan wajah keheranan, "Oh ternyata, kau bisa jatuh cinta juga Sev? Siapa gadis yang kau sukai Sev? Ayolah katakan padaku! Aku bisa jaga rahasia", desaknya.
"Ah, sudahlah. Lupakan! Anggap aku tak pernah mengatakan ini".
"Lho, kenapa?"
"Karena gadis itu tak mungkin tertarik padaku. Sudahlah, aku tak ingin membahas ini".
"Hmm… Gadis Slytherin mana ya yang beruntung itu? Akan kuselidiki…"
"Eh, Slytherin? Aku tak pernah bilang apa-apa tentang gadis itu. Dia bukan Slytherin koq!"
"Oh ya, kalau begitu dari asrama mana dia? Tak mungkin muggle kan? Kau sepertinya tak menyukai muggle".
"Sudahlah Lily, aku tak mau membicarakannya. Ceritakan saja padaku tentang detektifmu itu".
"Huuu… menyebalkan! Kau tak mau membagi kisah cintamu padaku! Aku pulang saja!", ujar Lily seraya pergi meninggalkan Snape lagi.
"Hei Lily! Tunggu, jangan pergi dulu!"
"Apa? Kau mau menceritakannya padaku?", tanya Lily.
"Ti.. tidak. Tentu saja tidak. Tapi kan kita bisa membicarakan hal lain".
"Ya sudah, aku pergi saja. Aku bosan diam di taman begini terus!"
Severus hanya terdiam dan membiarkan Lily pergi. Tak mungkin ia mengatakan bahwa gadis itu adalah Lily sendiri. Terlalu malu dan takut untuk mengakuinya. Kalau Lily menolak cintanya, lalu tak ingin bersahabat dengannya lagi, lalu bagaimana? Severus tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Lily.
Untungnya, kemarahan Lily kepada Snape cepat meluap. Mereka pun kembali bertemu di taman. Namun, ketika Severus mulai mengeluarkan bukunya, Lily menepis tangan itu. "Sev, aku bosan kalau bertemu denganmu hanya membaca buku, dan kita sibuk dengan bacaan masing-masing".
"Apa maksudmu? Bukankah kau senang membaca?"
"Yah, tapi ada hal yang lebih menarik. Yuks kita ke rumahku. Tuney sedang pergi bersama Daddy ke London. Mum mengizinkanku untuk mengajakmu ke rumah. Ia sedang membuatkan kita pancake blueberry yang lezat".
"Ke.. ke.. ru.. rumahmu, Lils?"
"Iya, ayolah, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu".
"Hmm.. Baiklah", Ujar Snape sembari memasukkan kembali bukunya. Mereka pun berjalan beriringan ke rumah keluarga Evans. Sesampainya di sana, ternyata Mrs. Evans telah menunggu mereka.
"Hallo Severus, apa kabarmu? Menyenangkan kah liburan kali ini?", sapa Mrs. Evans seraya memberikan kecupan singkat pada kening Snape dan memeluknya hangat. Severus Snape pun merasa kikuk. Sangat jarang ia diperlakukan demikian, walaupun oleh orangtuanya sendiri.
"Hallo Mrs. Evans, Aku baik-baik saja. Yah musim panas kali ini cukup baik. Terima kasih telah mengundangku".
"Never mind, Severus. Aku senang, jika Lily senang. Nah tampaknya ia sudah tidak sabar ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu", ujar Mrs. Evans.
"Yuks masuk Sev. Tunggu sebentar ya, Aku ambil dulu barangnya di kamar".
Lily pun segera kembali dengan membawa suatu barang muggle yang aneh dan belum pernah dilihat Severus.
"Apa itu Lils?", tanya Severus sambil memperhatikan benda yang dibawa Lily. Benda itu berbentuk seperti piring berwarna hitam dan berlubang di bagian tengah.
"Ini namanya piringan hitam, Sev. Benda ini untuk menyimpan film, lalu dengan alat itu, piringan ini diputar, sehingga kita bisa menonton film melalui kotak yang bernama televisi. Ini semacam sihir yang dilakukan muggle. Mereka menyebutnya teknologi", jelas Lily tersenyum.
"Hmm.. sepertinya menarik, walau aku tidak begitu suka barang-barang muggle. Di rumahku sangat sedikit barang muggle, apalagi yang mahal-mahal seperti ini".
"Kau pasti akan sangat tertarik Sev, ayolah kita tonton", ujar Lily sambil memasang piringan hitam ke alat pemutarnya dan menyalakan televisi.
Begitu film dimulai, Severus langsung berseru, "The Adventures of Sherlock Holmes? Lho, ini seperti buku yang kau baca kan Lils?"
"Yupz. Dan film ini berseri. Kita akan menontonnya beberapa kali. Ini film lama, sudah agak susah ditemukan. Aku senang sekali ketika Daddy berhasil mendapatkannya. Nah, sekarang kita diam ya, nikmati filmnya. Dan kau akan menyadari banyaknya kesamaan kau dengan sang detektif", ujar Lily.
Mereka berdua asyik menonton. Begitu film habis, Severus tampak merasa kecewa. Lily tersenyum melihatnya, "Nah Severus, sepertinya kau mulai menyukai Mr. Holmes. Besok kita tonton lagi ya episode selanjutnya".
Mereka pun hampir tiap hari menonton bersama di rumah Lily, mencuri waktu jika Petunia sedang keluar rumah. Setiap selesai menonton, mereka mendiskusikan film tersebut. Ah, kegiatan ini lebih mengasyikkan dibanding hanya membaca buku dalam diam.
"Lils, emm… Kau bilang, Mr. Holmes mirip denganku. Aku masih belum menyadari di mana kemiripan kami. Dia kan muggle, tentu saja berbeda denganku. Namun, aku dan dia sepertinya sama dalam satu hal. Eeer… Ka.. Kami tak berani mengungkapkan isi hati kami pada gadis yang kami sukai", ujar Snape pelan.
"Hmm.. kau harus mengungkapkannya Sev! Kalau tidak gadis itu akan meninggalkanmu dan memilih bersama pria lain".
"Aku tidak bisa. Aku.. aku.."
"Kau kan manusia Sev, bukan robot! Sherlock Holmes juga. Tapi kalian seperti robot! Manusia yang seperti robot, Homo roboticus!"
"Eh apa itu? Aku baru mendengarnya".
"Yah, tentu saja kau baru mendengarnya. Aku kan menyebutnya asal. Yah tidak asal juga sih. Itu kan bahasa latin untuk manusia robot seperti kau dan Holmes".
"Aku penyihir, bukan mesin yang mirip manusia!"
"Iya, tapi kau sangat jarang menggunakan perasaanmu, jadi kau seperti robot yang tidak punya perasaan".
"Aku punya perasaan!"
"Kalau begitu, ungkapkan perasaanmu pada gadis yang kau sukai itu. Kalau tidak, kau kan menyesal seumur hidupmu begitu melihat gadismu itu bersama pria lain".
"Ta.. tapi.."
"Tidak ada kata tapi, Sev. Cinta itu harus dikatakan, jangan hanya dipendam. Bahkan cinta harus diperjuangkan. Mungkin kau menganggap gadis itu tidak tertarik kepadamu, tapi kalau kau mau berjuang untuknya, maka ia akan mulai melirikmu dan juga jatuh cinta kepadamu", jelas Lily.
"Lily, bagaimana kau tahu banyak tentang cinta? Kau kan baru berusia 13 tahun".
"Mum yang sering bilang begitu padaku. 'Tuney dan Lily, Mum akan mengizinkan kalian menikah dengan pria manapun, asal pria itu sangat mencintai kalian dan mau berjuang untuk kalian. Cinta harus diperjuangkan!' ", ujar Lily seraya menirukan suara ibunya.
"Hmm.. baiklah, akan kucoba. Walau sepertinya itu sangat susah. Jauh lebih susah dari OWL maupun NEWT!', ujar Severus Snape.
Namun, sampai bertahun-tahun kemudian, Severus Snape tidak pernah mengungkapkan cintanya kepada Lily Evans. Sampai akhirnya hubungan mereka memburuk karena kesalahan Snape. Persahabatan mereka terputus, dan Lily menikah dengan James Potter -saingan dan musuh besar Snape.-.
Lily dan James dulunya tidak akur, James sering mengganggu Severus, jika ia sednag bersama Lily. Lily pun membenci James. Namun, James selalu berjuang untuk mendapatkan cinta Lily. Sampai akhirnya Lily mau menerima pria itu dan bersedia menikah dengannya.
Di hari pernikahan Lily, Severus Snape hanya termenung sendirian di kamarnya. Berusaha menahan tangis. Ia tidak boleh menangis! Namun rasa sakit begitu menyesak di dadanya. Snape berbaring di tempat tidurnya sambil berusaha memejamkan mata.
Tak lama, ada suara ketukan di jendela kamarnya. Seekor burung hantu berwarna putih seperti bunga Lily, sesuai dengan sang pemilik, mengetuk jendelanya.
"Holmes, burung hantu milik Lily? Lily mengirimkanku surat?", ujar Severus keheranan.
Ia pun membuka jendelanya, lalu mengambil suratnya, sang burung hantu segera melesat terbang.
Sehelai perkamen beraroma bunga Lily, ia buka dengan rasa sakit yang semakin menyesakkan dada, air mata tak tahan lagi ia simpan. Sejumput kalimat tertera di surat itu:
"Kini kau menyesal bukan, Homo roboticus?"
- Tamat-