Showing posts with label Crossover. Show all posts
Showing posts with label Crossover. Show all posts

Saturday, 8 February 2014

Rahasia (bananaprincess)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini


Severus Snape, Lily Evans – Harry Potter – J.K. Rowling.
Sherlock – Steven Moffat, Mark Gattis, & BBC. Sherlock Holmes – Arthur Conan Doyle.

Akibat dari Sherlock hangover, akhirnya iseng nulis fanfik ini untuk Snape Day (challenge profesi lain) yang diadakan Ambudaff. Aku menukar Molly Hooper dengan Lily Evans dan Anderson Phillip dengan Severus Snape.
Enjoy!

Beberapa orang berharap bisa mengingat lebih banyak. Yang lain berharap tidak pernah lupa segala sesuatu. Ada juga yang ingin tahu apa yang terjadi pada kehidupan yang lalu.
Akan tetapi, bagaimana jika kamu benar-benar bisa menyimpan semua memori dalam kepalamu? Hidup demi hidup yang dijalani. Kenangan-kenangan.
Saat kamu bisa mengingat segalanya, tanpa bisa melupakan.
Severus sering berdoa agar dapat menghapus memori tentang sepasang mata hijau cemerlang.
-o-
"Lily, kamu harus lihat ini!"
Severus menyamai langkah Lily di koridor rumah sakit St. Bart's. Jas dokter yang dipakai perempuan berambut merah gelap berkelepak setiap kali ia melangkah. Permintaan lelaki tinggi dengan pakaian hitam-hitam itu seakan sengaja diabaikan. Laki-laki itu bisa saja menarik lengan Lily agak berhenti, tetapi ia tidak melakukannya.
"Lily!" panggilnya sekali lagi dengan suara agak keras, meski mereka berjalan bersisian.
"Apa lagi, Sev?" Lily berhenti tepat di depan pintu kamar mayat.
"Kamu harus lihat video ini!"
Lily mengambil ponsel Severus yang sejak tadi ditawarkan. "Video lain tentang Sherlock Holmes?" tanyanya memandangi layar ponsel.
"Greg yang mengambilnya ketika kami memeriksa flatnya untuk mencari narkotika."
"Aku tahu teorimu, Sev."
"Dia memakai kokain, Lily!"
"Mana buktinya?" Lily menyerahkan kembali ponsel itu dengan tidak sabar.
Muka Severus merah padam. Namun dia tidak bergerak sedikit pun dari hadapan Lily. "Kami memang nggak menemukannya kemarin. Lain kali, aku akan mendapatkan bukti," katanya dengan nada rendah.
Lily mendengus dan berpaling. Severus tahu ia sudah membuat Lily terganggu dengan pernyataannya. Akan tetapi, ia tidak akan membiatkan kalau sampai Lily terluka karena pria itu.
"Sev," Lily mendorong pintu kamar mayat, "Kenapa sih kamu selalu mengurusi urusannya? Kalian seharusnya bekerja sama. Kamu—petugas forensik dari kepolisian dan dia—detektif, sorry, konsultan detektif. Bagus untuk kalian kalau bisa akur, kan?"
"Aku nggak bisa!" Severus menahan pintu dengan tangannya agar tidak tertutup.
Mulut Lily terbuka sedikit, menunjukkan kekagetan oleh seruan Severus barusan. Ia mundur, merapat ke pintu. Memasukkan tangan ke saku jas. "Yah, dia memang agak menyebalkan," sahutnya pelan. Lily tertawa kecil dan hampa. Ia sendiri tidak mengerti mengapa tertawa.
Sangat menyebalkan.
Sesaat tak ada yang bicara antara mereka berdua. Severus masih berdiri mengawasi Lily. Bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah punya nyali untuk mengatakan apa yang sebenarnya. Rahasia yang lama disimpan. Rahasia yang berdebu di sudut kepalanya. Selalu seperti ini, setiap kali kesempatan datang Severus akan mundur. Ia tahu apa yang akan terjadi. Hidup yang ini hanya ulangan hidup yang lain.
Severus menelan ludah. Menurunkan tangannya dari pintu. Ia mengusap rambutnya yang hitam gelap dan berminyak. Pada setiap kehidupan yang dijalaninya, ia selalu mencoba untuk memperbaiki penampilan. Tetapi itu tidak pernah cukup untuk membuat Lily melihatnya.
"Kukira kita punya janji makan siang bersama," Severus merapikan jaket kulit yang dipakainya.
Lily menunduk. "Aku harus mencatat bentuk memar yang muncul pada mayat di dalam... Sherlock memintaku."
"Apa?!" potong Severus terkejut.
"Ada yang harus aku lakukan, Sev. Pergilah ke kantin, aku akan menyusul."
Pintu kamar mayat itu tertutup tanpa memberi kesempatan Severus untuk menjawab.
-o-
Lily tidak pernah datang.
Pun sampai hari ini.
Severus merindukannya.
Severus berjongkok di samping seorang perempuan muda yang berlumuran darah. Rambutnya merah terurai. Beberapa kotoran yang tampaknya cat-cat terkelupas mengotori helaiannya. Tubuhnya telungkup, wajahnya tertutupi oleh rambut. Severus bersyukur karena itu.
Dia beruntung dulu tidak melihat darah. Bukan Severus benci dengan darah—ini adalah pekerjaan sehari-hari yang harus ia lakoni. Hanya saja, ia sulit membendung memori yang datang bertubi-tubi. Semua kenangan itu sejelas siang hari. Mata itu—hijau yang menghantui.
Tangan Severus gemetar ketika hendak mengambil sidik jari dari korban pembunuhan itu. Ia takut untuk melihat paras korban. Ia tak bisa.
Pintu kamar di rumah kosong itu menjeblak terbuka. Greg Lestrade, Detektif Inspektur dari satuan Scotland Yard datang bersama Sherlock Holmes. Severus menghela napas. Matanya melirik sinis kepada pria itu.
Arogan. Mengapa sejak dulu ia selalu berkompetisi dengan orang-orang seperti dia?
"Ah Severus, kita bertemu lagi," kata pria itu menyebrangi ruangan, lalu berlutut di sisi mayat tersebut.
Dari sudut mata, Severus mengenali kode dari Greg yang memintanya untuk keluar dari ruangan. Tangannya masih bergetar ketika menjauh dari mayat itu. Kali ini, dia tidak ingin membantah bahkan berdebat dengan Sherlock. Ia membencinya. Tetapi, untuk kali ini Severus merasa terselamatkan.
"Ini TKP. Aku tidak ingin terkontaminasi. Jelas?" ujar Severus tegas.
Keduanya saling tatap.
"Cukup jelas, Severus," balas Sherlock, menegaskan nama lawan bicaranya. Matanya tertuju kepada tremor di tangan Severus. "Keluar sekarang. Aku tidak ingin melihatmu."
Severus tersinggung. Ia tahu Sherlock membaca sesuatu dari matanya. Sebelum pria itu mengeluarkan semuanya lewat mulut ularnya, lebih baik Severus menyingkir. Severus buru-buru berpaling, sementara Sherlock meneruskan investigasinya atas mayat perempuan itu.
Saat Severus menyingkir ke arah pintu. Ia mengerling sekali lagi kepada Sherlock. Pria itu menyibak rambut korban. Lampu-lampu yang dipasang di sekitar TKP, membuat Severus bisa melihat warna matanya.
Dia bukan Lily. Bukan Lily.
-o-
Severus tahu itu bukan mimpi. Ia tahu itu adalah memori. Sepasang mata hijau cemerlang. Milik Lily. Milik seorang anak laki-laki yang ia benci. Severus tahu segala sesuatu. Ia tak pernah bisa melupakan apa-apa. Tetapi, memaksa untuk mengingat tak pernah mudah.
Bertahun-tahun ia mencoba untuk melupakan. Apapun. Kian keras ia mencoba, justru ingatan satu persatu mengapung dalam kepalanya.
Kenangan-kenangan tentang Lily Evans. Cintanya kepada Lily yang selalu membuat Severus kembali kepada perempuan itu. Pada setiap kehidupan. Ia tak pernah bisa melupakan. Dan, pada akhirnya, Severus selalu mencari. Selalu menemukan kembali.
Ia mencari tahu apakah ada orang lain yang seperti dirinya. Punya ingatan-ingatan dari berbagai kehidupan. Akan tetapi, hingga kini ia tak pernah menemukan seorang pun yang mengalami layaknya yang terjadi kepadanya.
Bahkan Lily, yang ia tahu merupakan sosok yang sama dengan yang dicintainya dulu. Lily, dokter forensik di St. Bart's yang membuat Severus matian-matian menjadi bagian forensik dari Scotland Yard. Mereka punya rambut sewarna. Mata yang sama terangnya. Semua. namun, tak satupun ingatan bahwa mereka pernah saling mengenal di kehidupan yang lalu tertinggal pada Lily. Severus mengingat semua sendiri. Perasaan-perasaannya yang tak pernah berpindah dari dalam hati.
Tetapi, Severus nyaris selalu luput untuk mengatakan apa yang selama ini dibendung dalam hatinya.
-o-
Janji untuk makan siang bersama itu tak kunjung terpenuhi. Hingga teror mulai datang lagi. Satu demi satu ancaman bom itu datang. Dimulai dari Baker Street dan hari ini, Severus berada di sebuah pabrik gula-gula di Addlestone.
Sepasang anak hilang dari asramanya. Sherlock dengan kemampuannya yang luar biasa, dengan cepat memperkirakan di mana kedua anak itu berada. Severus berjalan di antara lorong mesing yang tidak lagi digunakan. Senter tergenggam erat di tangannya. Langkahnya terhenti saat salah seorang staf berseru sudah menemukan kedua anak tersebut.
Severus melirik Sherlock ketika kedua anak tersebut dievakuasi ke dalam ambulans. Ekspresi pria itu cerah tak tertahankan. Jauh berbeda dengan seluruh orang di dalam sini yang tampak prihatin. Apa dia tak punya hati?
Severus seharusnya bisa lebih cemerlang dibanding Sherlock, tetapi bagaimana bisa ia sama sekali tidak punya daya untuk menguak jejak sepatu anak-anak itu yang tertinggal di asrama mereka?
Karena ia berpikir tentang Lily. Selalu dan setiap saat.
-o-
"Lily, dengarkan aku."
Harus ada korban yang jatuh terlebih dulu, agar akhirnya mereka berdua bisa duduk di kantin St. Bart's siang ini.
"Sev?" sahut Lily kesal. "Itu tidak mungkin."
"Dia bisa menemukan anak-anak itu hanya dengan jejak sepatu. Dan kamu tahu si anak perempuan, Claudette, yang langsung berteriak ketika melihat Sherlock. Bagaimana bisa seorang anak bereaksi seperti itu ketika pertama kali melihat pria itu. Dia memang mengerikan, kecuali..."
"Aku bisa menebak teorimu, Sev. Sherlock Holmes memang berengsek, tetapi dia nggak mungkin melakukan itu," potong Lily, menyuap kentang ke dalam mulutnya. Cerita Severus barusan jelas mengusik Lily, ekspresi menampakkan itu dengan jelas.
"Dia seorang sosiopat, Lily. Dia bukan manusia. Suatu saat kalau dia bosan. Dia akan melakukan itu. Aku sudah menebaknya sejak dulu," ujar Severus dengan suara tertahan.
"Sev!" hardik Lily. Sepasang mata hijau cerlang itu menatap Severus tajam.
Benak Severus memanas karena perdebatan ini. Sejak Sherlock Holmes muncul, Lily selalu menganggap pria itu seperti emas. Lebih brilian. Lebih cakap dalam hal apapun dibanding Severus. Padahal, jelas orang-orang menganggap pria itu hanya bajingan yang terobsesi dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.
Ia menenggak cola dingin yang dikirinya bisa memadamkan perasaan terbakar dalam hatinya. Perempuan manis di depannya ini, selalu punya pembelaan untuk Sherlock. Semua orang bahkan jelas tahu kalau Lily menyukai pria itu. Tak ada orang lain yang bahkan berniat untuk melakukan itu kepada Sherlock, pria tidak berhati dan tak pernah bisa berkata-kata dengan benar itu. Tak ada, kecuali Lily.
"Mengapa tidak sekali saja kamu mempercayaiku, Lily." Tangan Severus tergenggam di atas meja. Bola matanya yang gelap membesar ketika mencondongkan tubuh dekat Lily.
"Sekali?!" balas Lily membentak. Gerakannya yang tiba-tiba mengguncang meja mereka dan nyaris menumpahkan jus jeruk. "Sejak sekolah tak ada yang mau berteman denganmu kecuali aku. Kapan aku nggak pernah mempercayaimu. Jangan bersikap seperti anak kecil, Severus."
"Jadi, siapa yang lebih kamu percayai? Aku atau Sherlock Holmes?"
Lily berdiri tiba-tiba, nyaris membuat kursinya terjungkal. Severus ternganga. Sekejap ia menyesali apa yang tadi keluar dari mulutnya. Belum pernah ia melihat Lily semarah itu. seluruh wajahnya bersemburat merah. Kedua mata hijau terang yang biasa lembut itu kini memandang seperti tersulut api.
Severus segera bangkit. Mengambil barang Lily yang tertinggal di atas meja. "Lily! Dengarkan aku," seru Severus yang begitu keras hingga semua orang menoleh kepada mereka.
"Apa lagi?" katanya tanpa memandang Severus. Kakinya bergerak cepat menapaki koridor.
"Kamu harus percaya kepadaku," jelas Severus.
"Kenapa?" tanya Lily. Marahnya tak lagi disembunyikan.
Severus menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang. Dalam udara sejuk St. Bart's, ia bisa merasakan gerah dalam tubuhnya. Panas yang entah datang dari mana dan membuat peluh mulai keluar lewat pori-pori punggung dan tangannya.
Ia mengingat mata hijau cerah. Anak perempuan di balik pohon. Lorong-lorong sekolah tua yang penuh keajaiban.
Ia ingat pertama kali berkenalan dengan Lily karena rumah mereka berdekatan. Berangkat ke sekolah menengah bersama dan memiliki loker bersama. 2010.
Ia belum lupa ketika mereka berdua menjadi pelayan seorang restoran cepat saji. 1970.
Ia tidak pernah lupa bagaimana dulu mereka menaiki kereta bersama. 1890.
Semua berakhir di sebuah gereja kecil. Lily dengan gaun putih. Severus mengawasinya.
Ia mengingat perasaan itu.
"Karena aku tahu. Semua tentangmu," ucapnya, saat mereka tiba di depan pintu laboratorium forensik.
"Omong kosong!" bantah Lily.
Ia tak pernah mengingat apapun. Sedikit pun. Hati Severus mencelus. Perih mendera dadanya.
"Dia bukan seseorang yang pantas untukmu, Lily," ujar Severus, mengikuti Lily masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa kamu mulai mengatur-atur hidupku?! Kamu nggak berhak, Sev!"
Severus membisu dan mematung. "Aku hanya khawatir kepadamu, Lily. Aku nggak mau kamu menjadi korban yang jatuh untuk lain kali."
Lily menggeleng. "Aku bisa menjaga diri."
"Lily, kamu bisa mengandalkanku."
"Sebaiknya kamu menjaga dirimu sendiri."
"Dia tidak mencintaimu. Kamu tahu?" Severus menatap Lily lurus-lurus. "Dia tidak pernah mencintaimu. Karena..."
Kalimat Severus terhenti ketika sebuah tamparan mengenai pipinya. Perih yang merambati wajahnya, tidak sebanding dengan luka yang tertoreh dalam hati.
"Aku melihatmu menikah. Tetapi, bukan bersamanya." Severus berdiri tegak. "Aku melihat bayi dalam pelukanmu."
"Oh, Severus! Kamu kembali dengan khayalan dan teori-teorimu lagi!"
Lily berbalik, namun Severus mencengkeram lengan Lily. "Aku nggak berteori, Lily. Aku mengatakan yang sebenarnya."
"Lepaskan aku, Sev!" Lily menarik tangannya dari Severus. Wajahnya mengernyit menahan sakit.
"Ma-maafkan aku, Lily." Severus melepaskan tangannya.
Suara pintu yang terbuka mendiamkan keduanya.
"Oh, Severus, kamu ada di sini? Apa aku menginterupsi kalian—pertengkaran domestik?" katanya, di depan pintu yang tertutup.
Severus meliriknya mangkel. Selalu saja orang itu muncul di saat yang tidak tepat.
Sherlock melepas mantel dan syalnya, menggantungnya di belakang pintu. Severus bahkan jelas merasa penampilannya jauh lebih baik daripada pria yang menata rambutnya seperti wanita tahun 1950-an itu. Dia hanya memiliki hidung yang lebih baik, mulus, tidak bengkok seperti milik Severus.
Severus berdecak. Melipat tangan di dada.
"Apa kamu sudah selesai dengan Lily, Snivellus? Aku membutuhkannya."
"Jangan panggil aku seperti itu, Holmes," sahutnya keras.
Severus dan Sherlock bersemuka. Tatapan keduanya sama-sama menyorot tajam, hingga Sherlock berpaling. Melengos, tak mau peduli dengan perdebatan itu.
"Panggilan kecilmu. Bagus untuk nostalgia, bukan?" Sherlock berjalan melewati Lily dan Severus, menuju mikroskop di ujung meja.
"Tutup mulutmu, Holmes," hardiknya. Severus mengepalkan tangan di sisi tubuh.
"Nope. Panggilan itu pantas untukmu," katanya, membuka lemari penyimpanan. Mencari sampel yang dia tinggalkan beberapa hari lalu. "Kamu jelas datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu. Kamu mengurungkannya karena Lily tidak mau mendengarmu. Dan kalian bertengkar, sampai ia menamparmu. Apa aku benar?" Sherlock melambaikan tangan, kembali mengamati preparatnya di bawah mikroskop.
Rahang Severus mengeras. Wajahnya memanas.
"Abaikan saja aku. Kalian bisa meneruskan bertengkar. Lily, jika kamu pergi ke bawah, bawakan aku kopi. Hitam. Dua sendok gula."
Severus menoleh kepada Lily yang berlalu. Ia ingin melarangnya, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian, terdengar pintu yang dibanting.
"Tidak bisakah kamu sedikit saja sopan kepadanya?" tegur Severus.
"Siapa?" sahut Sherlock cuek.
"Lily."
"Aku selalu sopan kepadanya, Snivellus."
Severus bergegas menuju ke dekat Sherlock.
"Apa? Kamu ingin bicara kepadaku?" Sherlock mengangkat wajah, menatap Severus sesaat.
"Jangan sampai aku mengungkapkan siapa dirimu dulu," desis Severus.
Alis Sherlock terangkat. "Oh, menarik. Kamu jelas tahu apa yang tidak aku tahu. Kamu penuh teori dan imajinasi, Snivellus."
"Kamu adalah penjahat besar," tuding Severus. Deru napasnya yang pendek-pendek terdengar jelas saat mereka berdua sama-sama diam. Seperti ada yang meledak dalam pikirannya. Keping-keping kenangan berhamburan. Ia teringat pada janji-janji. Pada kabar yang tak disangkanya datang dulu. Kematian Lily. Ia masih merasakan kepedihan dan penderitaan yang merayap dalam hidupnya mulai detik itu.
Selalu dan setiap saat. Hingga kini. Meski ia dan Lily dipertemukan lagi dan lagi. Rasa bersalah itu seperti batu besar yang tak pernah bisa terungkit dari permukaan hati Snape. Di sana. Diam dan beku. Memberat hari demi hari.
Dia yang mengingkari janji.
Sepasang mata biru di hadapannya itu berkedip. Seluruh pikiran dalam kepala Snape mendadak lenyap.
"Aku?" Sherlock menunjuk dirinya sendiri. "Lanjutkan."
"Kamu membunuh semua orang," Suara Severus perlahan bergetar. "Dan Lily."
Severus terkesiap ketika mengucapkan itu. Semua itu meluncur dari mulutnya begitu saja. Ia tidak pernah mengira. Ia tidak pernah berpikir sampai ke sana. Ia kelihatan begitu terpukul saat mengucapkan itu. Tremor kembali menyerang tangannya.
Ini semua tidak mungkin. Severus bisa mengenali Lily. Mengapa orang ini luput darinya?
"Aku membunuh banyak orang," ujar Sherlock menanggapi dengan santai. "Mengapa aku harus melakukan itu? Dan mengapa aku harus membunuh Lily?" Matanya menyipit, mengamati Severus yang mundur pelan-pelan.
Severus tak pernah lupa, mengapa Lord Voldemort datang malam itu ke Godric's Hollow.
"Aku asumsikan jika kita berada di dalam cerita yang sama, Snivellus. Aku datang membunuhnya karena kamu memberitahuku sebuah rahasia. Tentang kekuatan. Sesuatu yang aku inginkan."
Severus menjauh dari Sherlock, namun langkahnya terhenti saat tubuhnya menabrak pinggiran berisi tabung-tabung reaksi. Satu tabung menggelinding dari rak, tetapi ditangkap dengan cepat oleh Sherlock.
"Dan setelah itu, kamu melarikan diri. Membocorkan semuanya kepada pihak lawan." Sherlock meletakkan tabung kecil itu kembali ke rak. "Itu apa yang selalu dilakukan pecundang ya, Snivellus?"
Severus mendorong tubuh Sherlock. Tubuh pria itu bergeser, hampir terhuyung jatuh, tetapi Sherlock menyeimbangkan dirinya dengan cepat dan kembali berdiri tegap. Ia sama sekali tidak terpancing dengan sikap Severus yang berapi-api.
"Itulah mengapa kamu tidak pernah berani mengungkapkan semuanya kepada Lily. Karena kamu pecundang, Severus." Ia mengatakan itu seakan kejadian barusan tak pernah terjadi.
Kemarahan mengisi benak Severus. Tetapi, ia memilih pergi. Ia melihat memori itu lagi dalam kepalanya. Ketakutan dan kesedihan.
"Kamu tidak ingin tahu apa yang dikatakannya terakhir kali, Severus Snape?"
Langkah Severus terhenti. Ia memandang Sherlock dengan tatapan horor. Sekarang, ia menemukan orang lain seperti dirinya. Orang yang bisa mengingat apapun dan tak bisa melupakan apa-apa. Sama sepertinya.
"... Not Harry. Please — I'll do anything."

Pertemuan Ular dan Naga (ambudaff)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


PERTEMUAN ULAR DAN NAGA
Severus Snape adalah kepunyaan JK Rowling, Orma adalah kepunyaan Rachel Hartman (Seraphina), dan dunia Lyrian adalah kepunyaan Brandon Mull (Beyonders)
Rate K+, friendship
Mulanya ditulis untuk challenge crossover di grup FB Penggemar Novel Fantasi Indonesia bulan Desember lalu.
-o0o-
Ia tersadar saat sinar matahari menyapa wajahnya. Menyapa matanya yang tak terlindungi.
Mengejap-ngejapkan mata, ia berusaha untuk mengenali lingkungan sekitar. Rasanya—tadi tak begini.
Seingatnya, terakhir ia bisa menyimpan data ke dalam memorinya, ia sedang berhadapan dengan Pangeran Kegelapan. Yang kemudian menyuruh ularnya—Nagini—mematuknya.
Meninggalkannya terpuruk di lantai Shrieking Shack. Kemudian ditemukan oleh Potter bersama kedua temannya. Memberikan memorinya. Dan meminta Potter menatap matanya—
—itu yang terakhir ia ingat.
Ia tak tahu bahwa ia bisa berada di tempat ini sekarang. Dan, tempat apakah ini?
"Orang menyebut tempat ini Lyrian."
Kaget, Severus berusaha bangkit.
Seorang laki-laki, tinggi, berjanggut. Sedang asyik membaca buku.
Begitu melihat Severus bangkit, ia menutup bukunya setelah terlebih dahulu menyelipkan pembatas bukunya. Berdiri berjalan mendekati, mengulurkan tangan.
Severus menerima uluran tangannya. Jabatan tangan orang itu erat.
"Namaku Orma. Aku seorang naga."
"Severus. Se-seorang naga?"
Bukan seorang manusia, dan bukan seekor naga?
Orma tersenyum tipis, "Aku seekor naga yang bisa berubah wujud menjadi manusia. Atau sebaliknya. Tapi aku sedang dalam wujud manusia, saarantras, ketika aku masuk ke dalam gua di pegunungan. Entah bagaimana aku bisa masuk ke dunia Lyrian ini—"
'Dan aku pun tak tahu kenapa aku bisa masuk ke sini,' pikir Severus, tetapi kemudian ia berdiri. Memindai sepintas sekelilingnya.
"Perpustakaan?" Severus tak percaya. Tadi ia terbaring di sebuah sofa, di dekat jendela.
Orma mengangguk. "Aku sedang mencari jalan untuk kembali ke dunia asalku. Aku masih punya kewajiban yang harus aku penuhi."
Severus tak berkata-kata. Kembali matanya memindai sekelilingnya.
Rak-rak di dinding penuh dengan buku, akan tetapi masih banyak buku yang tertumpuk di lantai. Bahkan Orma duduk di atas setumpukan buku.
Seorang naga, duduk di atas tumpukan buku.
Tak terasa Severus menyeringai, tipis. Yang terbayang adalah seekor naga sedang mendekam di atas tumpukan emas dan permata. Naga dan harta. Naga mendekam di atas buku?
Orma bagai membaca pikirannya. "Yap, memang begitu. Naga tidak lagi menimbun harta; undang-undang baru Comonot—negaraku—melarang tindakan itu. Sekarang bagiku, ilmu pengetahuan adalah harta," ia menatap buku-buku yang didudukinya. Mengambil lagi buku yang tadi sedang dibacanya, ia bertanya sambil lalu, "Kau sendiri, berasal dari mana?"
"Hogwarts," Severus menarik napas panjang, meneruskan, "Inggris. Kita sekarang berada di mana? Maksudku, negara apa?"
Orma menarik napas juga, "Sudah kubilang tadi, Lyrian. Aku tak tahu negara mana. Mungkin—dimensi yang berbeda?"
Ia membuka buku yang tadi sedang dibacanya, "—dan aku sudah sekian lama mencari bagaimana kita bisa keluar dari Lyrian, kembali ke negara kita. Belum kutemui—"
Severus berjalan perlahan sambil mengamati rak-rak buku, sesekali mengamati tumpukan buku di lantai, membaca judul-judul bukunya. "Selama kau tinggal di—eh, Lyrian ini, bagaimana sikap orang-orang di sini?"
Orma mengangkat bahu, "Kebanyaka orang-orang yang berada di sini juga berasal dari negeri-negeri lain. From 'beyond', menurut mereka. Sudah sekian lama. Kebanyakan menetap di sini, dan membentuk keluarga—"
"Belum ada yang kembali ke negerinya?"
Orma menggeleng, "Setahuku belum. Entah kalau ada yang luput dari buku-buku bacaanku selama ini. Tetapi aku akan terus berusaha untuk keluar—"
"Kau punya kewajiban yang harus kau penuhi," Severus mengulang perkataan Orma tadi.
Orma mengangguk. "Aku punya seorang keponakan yang harus aku lindungi. Mudah-mudahan saja aku tak terlambat keluar dari Lyrian. Mudah-mudahan saja aku masih bisa melindunginya—" ia menunduk. Tapi kemudian menengadah lagi, "Kau sendiri? Tak punyakah kewajiban yang harus kau penuhi?"
Severus terdiam.
Lalu menggeleng perlahan. Menjawab lirih. "Tak ada. Semua sudah selesai. Anak yang harus kulindungi sudah menyelesaikan kewajibannya, dan ia tetap hidup. Selesai sudah. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi, dan tak akan ada siapapun yang masih akan mengingatku di Hogwarts. Jadi, jika kehidupan di Lyrian seperti ini, bisa membaca banyak dan tak perlu bergaul dengan banyak orang—kukira lebih baik aku tetap di Lyrian—"
Orma mengangkat bahu lagi. "Setiap orang berbeda-beda tujuan hidupnya, tentu saja." Matanya ditujukan lagi pada kalimat-kalimat di bukunya. "Ada makanan di lemari di belakangmu. Dan, tentu saja, silakan membaca buku yang mana saja. Oh, ya, kau penyihir kan?"
Severus mengangguk. "Kenapa memangnya?"
Masih tetap menunduk untuk membaca kalimat-kalimat di bukunya, setengah menyeringai, Orma menyahut, "Kuharap hidupmu tenang dan tentram di Lyrian, Severus."
FIN

Wednesday, 30 January 2013

Matrix is Might (Psychochiatrist)

Multichapters. Fiksi Challenge. Crossover. Link asli  dan bab-bab sambungannya ada di sini

-----------

Disclaimer: Harry Potter adalah milik J. K. Rowling. Matrix adalah milik Warner Bros Pictures. Saya tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dari fanfiksi ini.
Summary: Dua tahun setelah Perang Besar, Severus Snape harus dihadapkan pada fakta bahwa dirinya tidak hidup di tahun 1999, melainkan di dunia matriks yang penuh tipu daya artifisial, bersama Neo, Trinity, dan Morpheus.
Warning: AU, crossover HP dan Matrix, SSLE-SSHG, Snape tidak mati saat Perang Besar.
Dipersembahkan untuk SNAPE DAY CHALLENGE: SCI-FI. Selamat ulang tahun, Severus Snape!
.

Gelap.
Semuanya gelap. Dan bukan hanya sekadar gelap, namun gelap pekat yang membuat sesak.
Matanya tertutup, ia menyadarinya. Ia ingin membuka kelopak matanya, namun tak bisa. Kegelapan itu masih terus mencekiknya. Dan ia merasa segalanya begitu berat, menekannya jauh ke bawah, tenggelam jauh ke dalam kegelapan yang lebih pekat lagi.
Lalu ada suara-suara.
"Bagaimana dia?"
"Dia baik-baik saja, kurasa sebentar lagi dia akan sadar..."
"Beruntung sekali kita berhasil mengeluarkan bisanya sebelum sampai ke jantung."
"Tapi sayang sekali, otaknya—"
Matanya terbuka. Dan pembicaraan itu langsung terhenti. Mata itu mengedip, memandang ke atas, ke kisi-kisi jendela di sisi ruangan itu: sebuah bangsal di Rumah Sakit untuk Penyakit dan Luka-luka Sihir, St Mungo. Ia mengenal tempat itu karena pernah beberapa kali mengunjungi St Mungo. Sekali lagi mata itu mengedip.
Lalu... "Profesor Snape!"
Ia melihat sekelebat rambut cokelat tebal, sepintas rambut merah, dan sejumput rambut hitam.
"Miss Granger? Mr Weasley?" ia terdiam sejenak. "Mr Potter?"
"Panggil Profesor McGonagall! Profesor Snape sudah sadar! Dia bisa berbicara!"
Dia mencoba menggerakkan lehernya, tapi tak bisa. Ada semacam papan kaku yang menahan lehernya di sana. Seluruh tubuhnya juga tak bisa digerakkan. Mendadak ia kebingungan. "Apa...?"
"Selamat siang, Mr Severus Snape," kata seseorang yang mengenakan jubah hijau rapi, yang tiba-tiba muncul dengan gesit di sisi tempat tidurnya. "Kau sedang berada di rumah sakit. Aku adalah Penyembuh yang bertugas di bangsal ini. Kurasa kau ingat kejadian yang menimpamu sebelum kau berada di sini?"
"Ya, aku..." Severus terbata, "... ada ular besar..."
"Kau digigit ular, Sir. Tapi tenang saja, kami sudah menanganinya, dan masa-masa kritismu sudah berlalu." Si Penyembuh tersenyum kepadanya. "Murid-murid dan rekan-rekanmu ada di sini untuk menjenguk."
Dan akhirnya Severus bisa melihat mereka semua dengan jelas: Harry Potter, Hermione Granger, Ron Weasley, Minerva McGonagall, Filius Flitwick, bahkan Rubeus Hagrid, yang entah bagaimana muat masuk ke bangsal itu. Mereka semua berdiri berjajar di sisi ranjangnya. Namun ada yang berbeda. Satu hal yang berbeda...
Mereka semua tersenyum.
Severus tak pernah melihat orang tersenyum padanya sebelumnya.
"Anda kembali, Profesor," kata Hermione sambil tersedu-sedu. "Kami mengira Anda sudah... sudah..." dia menutup muka dengan kedua tangan.
"Severus," ucap Minerva dengan suara seperti terharu-biru. "Semua orang sudah diberitahu. Berita sudah disebar. Namamu sudah dibersihkan. Selamat datang kembali."
Dan teringatlah ia. Pada peristiwa di Shrieking Shack. Memorinya, yang diberikannya pada Harry Potter. Kebenaran. Kisah nyata. Saat itu ia tak pernah tahu bahwa, ternyata, dirinya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup. Bahwa ia akan selamat dari bisa ular mematikan dari Nagini yang merayapi pembuluh-pembuluhnya. Dia pikir sudah tamatlah riwayatnya. Tapi rupanya, ia ada di sini sekarang, bernapas dan hidup.
"Aku... aku..." Severus tak tahu harus mengatakan apa.
"Kau akan disambut kembali di Hogwarts dengan sepenuh hati," kata Minerva lagi.
"Dunia sihir sangat berutang budi padamu, Profesor..."
"Menteri sudah menyiapkan Order of Merlin Kelas Pertama untuk diberikan setelah kau pulang nanti."
Tapi Severus tak lagi mendengarkan. Tiba-tiba, penglihatannya menjadi gelap kembali. Ada rasa tertusuk-tusuk yang menyakitkan di tengkuknya. Rasa sakit mencengkeram kepalanya yang terbaring di bantal hijau empuk, dan ia merasa segalanya berputar... terus berputar... lampu-lampu buyar, wajah-wajah pudar...
"Profesor!"
Dan ia tak mendengar apa-apa lagi.

.
Matrix is Might
A Harry Potter and Matrix crossover
For Snape Day Challenge: Sci-Fi
What separates reality from a dream is just a state of mind.
.

Dua tahun telah berlalu, lambat.
Tahun 1997, Perang Besar pecah di Hogwarts. Namun Lord Voldemort berhasil dikalahkan, dan masyarakat sihir kembali bangkit. Sekarang, tahun 1999, dua tahun setelah dimulainya era kebangkitan dunia sihir, Sekolah Sihir Hogwarts sudah beroperasi dengan normal seperti biasa. Beberapa bagian kastil yang rusak dalam perang sudah sebagian besar diperbaiki, termasuk ruang bawah tanahnya.
Severus Snape masih di Hogwarts, masih mengajar Ramuan, masih tinggal di ruang bawah tanah. Hidupnya telah berubah sangat drastis selama dua tahun terakhir, namun yang terpenting ia masih hidup. Betul-betul hidup, sepenuh-penuhnya, sejujur-jujurnya. Ia bukan lagi agen ganda yang harus berpura-pura sepanjang hari. Ia tidak lagi punya kewajiban untuk bersikap dingin dan tertutup. Dan yang paling penting, ia telah bebas, bebas untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terikat bayang-bayang Lord Voldemort.
Adalah sebuah keajaiban ketika itu, waktu ia akhirnya dinyatakan sembuh dari intoksikasi racun ular yang menggigitnya di Shrieking Shack. Semua orang mengira dirinya telah meninggal, tak bisa disembuhkan—tapi ternyata Severus masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan. Beberapa hari setelah Perang Besar, ia sudah diperbolehkan pulang dari St Mungo, dan sejak saat itu ia terus tinggal di Hogwarts.
Meskipun, ia tak betul-betul sembuh.
"Ada sedikit komplikasi yang agak mencemaskan," kata si Penyembuh waktu itu, sebelum ia pulang dari rumah sakit, "sesuatu yang tidak bisa kami cegah, karena kerja bisa ular tersebut sangat cepat dan kau sudah terkena komplikasi itu saat tiba di rumah sakit."
"Komplikasi apa?" tanya Severus, sementara ia berbicara sendiri dalam hati, apalah gunanya meributkan komplikasi kecil, bukankah sudah bagus dirinya masih bisa bertahan hidup?
"Racun tersebut sudah terlanjur masuk ke otakmu," jelas si Penyembuh dengan suara bersimpati. "Dan sudah membuat kerusakan di sana. Kerusakannya tidak fatal, tidak menyebabkan kematian, tapi punya dampak yang cukup serius. Kau mungkin akan mengalami gangguan persepsi. Kau tahu apa itu?"
"Halusinasi?" kata Severus lelah. "Ilusi?"
"Tepat, Mr Snape. Kami belum bisa memperkirakan seberapa besar kerusakan di otakmu, namun kau akan mengalami gejala-gejala itu, cepat atau lambat. Kau mungkin akan melihat hal-hal yang tak dilihat orang lain, mendengar suara-suara ganjil... tapi semua itu hanya ada dalam kepalamu. Kami menyebutnya, kehilangan pegangan pada realitas."
"Jadi, aku akan jadi gila?" tanya Severus, singkat, lugas dan pahit.
Si Penyembuh tampak berpikir-pikir sejenak, mempertimbangkan jawabannya. "Kita tak pernah bisa mendefinisikan 'gila'," katanya akhirnya, dengan terlalu diplomatis dan membuat Severus kesal.
"Apa yang harus kulakukan untuk mengatasinya?"
"Tidak ada," jawab Penyembuh itu. "Kau hanya bisa menunggu. Dan jika kau mulai mengalami hal-hal aneh yang tak masuk akal... kau bisa kembali ke sini, dan kami akan membantumu meringankan gejalanya, namun hal tersebut tidak bisa sembuh total. Aku takut kau harus hidup bersama penyakit itu dalam waktu yang sangat lama."
Jadi, dia sembuh, hidup, tapi gila. Severus pulang dari rumah sakit dengan kekesalan baru, namun karena ia tak bisa melakukan apa-apa, maka ia berusaha untuk tenang dan dengan berani menantikan kegilaan itu datang. Kata si Penyembuh, ia akan mendengar suara-suara yang tak didengar orang lain, atau ia akan melihat hal-hal ganjil, benda-benda berubah bentuk tak sewajarnya...
Tapi ia belum mengalaminya, sampai hari ini.
Dua tahun setelah Severus divonis 'akan jadi gila', dia belum jadi gila.
Meskipun begitu, Severus tak bisa bilang bahwa kondisi mentalnya prima seratus persen. Bahkan, sebetulnya, jiwanya sangat jauh dari prima.
"Selamat pagi, Profesor Snape." Seorang gadis berambut cokelat tebal berjalan menjajarinya di koridor, mengalihkan pikiran Severus yang sedang melamun jauh. "Kau bangun lebih pagi."
"Ya, Miss Granger," kata Severus singkat.
Hermione Granger, yang kini sedang menjabat sebagai guru magang di Hogwarts setelah ia lulus tahun lalu dari kelas tujuh—setelah mengulang pendidikan kelas tujuh selama setahun—terus berjalan menyebelahi Severus dengan bersemangat, meskipun pria itu tampak sangat dingin dan tak ingin diganggu seperti biasa. Tapi Hermione selalu ingin mengajaknya bicara, entah kenapa.
"Anda tidak mimpi buruk lagi kan?" tanya Hermione hati-hati. "Kusarankan Anda minum Ramuan Tidur Tanpa Mimpi agar—"
"Aku tahu, Miss Granger," kata Severus tajam. "Aku cuma lelah sehabis mengajar dan bermimpi buruk..."
"Anda tidak lelah," sela Hermione, nada suaranya terdengar agak memaksa. "Anda sudah mimpi buruk sejak aku mulai mengajar di sini setahun yang lalu. Secara fisik, Anda baik-baik saja. Mungkin, jiwa Anda yang lelah."
Severus berhenti berjalan, dan memutar badannya untuk menghadapi Hermione.
"Dengar, Miss Granger," desisnya, sementara Hermione tertunduk kaget. "Kau tak tahu apa-apa tentang aku. Berhentilah mengurusi hidupku dan memberi nasehat-nasehat dan perhatian; aku tak butuh semua itu. Kau mengerti?"
Severus meninggalkan Hermione berdiri mematung dan berjalan cepat menuju pintu Aula Besar, tapi Hermione masih nekat berbicara, suaranya bergaung di koridor batu luas itu: "Bagaimana dengan Lily?"
Pria itu berhenti berjalan. "Apa katamu?"
"Lily," kata Hermione jelas, meskipun suaranya mulai bergetar. "Aku tahu Anda masih terus memikirkannya, dan aku tahu Anda merindukan kehadiran Albus Dumbledore dan Anda merasa bersalah karena telah membunuhnya. Anda sudah menghabiskan hidup bertahun-tahun menjadi anak buah Lord Voldemort dan kini Anda berada dalam fase trauma setelah perang—"
"DIAM!"
Severus tampak seperti sudah akan meledak. "Jangan... bicara... tentang... hal-hal itu lagi... padaku!"
Kini Hermione betul-betul berhenti bicara. Ia memandangi Severus Snape, si Ahli Ramuan, yang sudah bertahun-tahun menjadi gurunya, dan sekarang telah menjadi rekan sejawatnya. Meskipun Severus selalu diam seribu bahasa, selalu menjaga jarak dengan semua orang, tapi Hermione memahaminya, mengetahui apa yang ia rasakan, dan ia merasakan empati terhadapnya.
Hermione ingin Severus tahu bahwa pria itu tidak sendirian, bahwa Hermione siap datang membantu kalau dibutuhkan. Tapi sayangnya, Severus begitu keras kepala.
Jujur saja, Hermione merasa sangat cemas tentang Severus. Sangat amat cemas.
.
.
.
Pada dimensi ruang yang berbeda, tiga orang duduk bersama di sebuah meja kayu ringan. Ketiganya mengenakan pakaian berwarna kelabu, ketiganya memiliki lubang yang disegel seperti disekrup di belakang kepala mereka, dan topik pembicaraan mereka tidak pernah mendekati topik sehari-hari yang dibicarakan orang normal.
Karena orang-orang tersebut, Neo, Trinity, dan Morpheus, bukan orang-orang normal. Setidaknya di dunia yang dianggap dunia normal.
"Apa itu gangguan persepsi?" Neo bertanya, kedua mata hitamnya terpancang pada Morpheus, yang sudah hidup lebih lama di Nebuchadnezzar dan lebih banyak tahu. "Apa yang sedang dialami orang ini?"
"Gangguan persepsi adalah perbedaan antara apa yang diterima indera dan apa yang diterjemahkan oleh otak," jelas Morpheus pelan. "Misalnya, matamu melihat sebatang pensil di atas meja, tapi otakmu berkata bahwa kau melihat sebilah pisau."
"Ilusi," sambung Trinity, si wanita kurus berambut pendek yang tangguh. "Hal-hal yang sebenarnya tidak nyata, dianggap nyata."
"Bagaimana dengan halusinasi?"
"Halusinasi adalah keadaan ketika otakmu merasa dirinya merasakan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Misalnya, kau sedang sendirian dalam sebuah ruangan kosong, tapi kemudian kau mendengar suara-suara yang mengajakmu bicara, padahal tak ada siapa-siapa di sana." Morpheus melipat tangannya di atas meja, kulitnya yang gelap tampak sangat kontras di atas warna kelabu. "Gangguan persepsi adalah tanda awal hilangnya pegangan terhadap realitas."
"Membuatmu jadi tak tahu lagi mana yang nyata, mana yang tidak," Neo menyimpulkan. "Apakah sebetulnya yang kita lihat dengan mata kita adalah nyata, atau hanya ilusi belaka?"
"Tepat," kata Trinity. "Dalam istilah biasa, sehari-hari orang menyebutnya gila. Tapi apalah artinya gila? Dan yang lebih penting lagi, apalah artinya menjadi gila di dunia matriks?"
Ketiga sahabat itu terdiam sesaat. Agak lama, lalu lebih lama. Sampai kemudian Morpheus memecahkan keheningan.
"Bukankah kita punya target baru?"
"Oh ya?" kata Neo. "Siapa?"
"Seorang pria bernama Severus Snape. Ia sekarang hidup di dunia matriks, tepatnya di Inggris. Tapi tak lama lagi ia akan mulai menghancurkan dunianya." Morpheus tersenyum bijak. "Kita akan menjemputnya dan mengantarkannya menuju realitas yang sesungguhnya."
"Bagus," kata Neo dan Trinity bersamaan.
.
.
.
Severus berjalan cepat menuju ruang bawah tanah. Kelas Ramuan terakhir tadi sore betul-betul menguras tenaganya, karena anak-anak kelas satu kebanyakan masih terlalu canggung mengurus ramuan dan, seperti biasa, terjadi banyak kecelakaan dalam kelas. Beberapa kuali meledak, beberapa anak ditumbuhi bisul dan taring tambahan di wajah. Setelah akhirnya kelas itu berakhir, Severus langsung kabur ke kantornya.
Kepalanya sakit.
Dia mendudukkan dirinya pada kursi berlengan empuk di balik meja kantornya, berusaha menenangkan diri, tapi di luar kendalinya, jantungnya berdebur keras seolah marah. Sesuatu yang dingin menjalari telapak tangannya, lalu ia mulai menggigil.
"Semua itu masih tersisa dalam kepalamu."
Dia mendengar suara Hermione Granger. Tidak, Hermione tidak sedang berada dalam ruangan itu bersamanya, yang ia dengar adalah memori. Sesuatu yang dikatakan Hermione kepadanya berbulan-bulan lalu, sejak wanita muda itu mulai menjadi guru magang di Hogwarts.
"Severus, orang tidak bisa dengan mudah sembuh dari luka-luka batin akibat perang," kata Hermione waktu itu, rambut cokelat lebatnya yang berantakan melambai-lambai sementara ia menggerak-gerakkan kepalanya tanda cemas. Sepasang mata cokelat itu menatap Severus dengan sungguh-sungguh. "Kau sudah menjalani hidup yang sulit selama belasan tahun. Semua tegangan dan tekanan yang kaualami, semua pertarungan, semua petualangan tragis—meskipun semua sudah berlalu, tapi akan terus membekas dan menghantui."
Dan memang betul: Severus masih bisa mengingat rasa pahit dan sakit yang menerjang dadanya ketika ia membunuh Albus Dumbledore, satu-satunya manusia di dunia yang mengetahui rahasianya dan dengan setulus hati peduli padanya. Ia masih bisa merasakan tebal dan baalnya dinding hati yang ia bangun ketika ia berhadapan dengan Lord Voldemort, yang menganggap kematian seorang Darah-Lumpur—Lily Evans—tak layak menjadi perhatian. Dan lebih-lebih, sampai sekarang, Severus masih merasakan nyeri hebat di jantungnya jikalau ia teringat pada Lily, wanita yang tak membalas cintanya sejak zaman dahulu kala.
Setelah semuanya berakhir, luka itu tidak ikut sembuh.
"Apakah aku gila?" dia bertanya saat itu, kepada wajah Hermione yang muram. Ia belum pernah berbicara sedekat dan sedalam itu dengan seseorang sebelumnya. Hermione adalah pengecualian. "Apakah aku gila, Miss Granger?"
Hermione masih saja tampak muram. "Sebisa mungkin, berpeganganlah pada realitas, Profesor Snape."
Dan hari ini, di kantornya, saat ini, Severus nyaris tak tahu lagi mana yang realitas, dan mana yang bukan.
Kegilaan yang dijanjikan telah datang...
Sosok kabut mendadak tumbuh dari benih tak kasatmata di sebuah kuali kosong di sudut ruangan. Kabut itu berpusar dan menebal, dan detik berikutnya satu sosok yang sangat familiar muncul, memanjat keluar dari kuali, melempar senyum sadis. "Severus Snape, abdiku yang setia..."
"Tuanku," bisik Severus. "Kau sudah mati. Kau tidak nyata."
Asap kabut berbentuk Lord Voldemort melayang-layang sambil melontarkan tawa jahat yang mendinginkan sumsum tulang. Kemudian, dari mulutnya yang terbuka lebar, keluarlah sosok ular besar yang mendesis garang—Nagini, ular yang hampir membunuh Severus, ular yang racunnya menyebabkan terjadinya semua ini.
Severus menjatuhkan kepalanya ke meja, sakit yang tak tertahankan melandanya. Segalanya mulai berputar, dan perutnya bergolak, isinya menuntut untuk dimuntahkan. Sementara itu, bayangan Voldemort masih terus terbahak tegang dan bayangan Nagini terus-menerus berdesis. Kemudian sosok lain muncul.
"Severus," bisik seorang wanita berambut merah. "Severus, apa yang sudah kaulakukan?"
"Lily, Lily..."
"Kau mengorbankan segalanya demi aku, bahkan setelah aku mati," desah Lily, rambut merahnya menyala semakin terang dan semakin terang, menyilaukan, membutakan. "Apa yang kaupikirkan, Sev?"
Apa yang dia pikirkan? Apa? Apa yang sedang dia pikirkan? Permainan macam apa ini yang tengah berpusar dalam otaknya?
"Ikutlah denganku, Sev," kata Lily, tersenyum kelu, tangannya terulur. Kakinya tak menjejak ke lantai, ia melayang-layang seperti putri duyung di dasar danau. "Kembalilah padaku, hidup bersamaku..."
Sepercik logika di sudut benak Severus berteriak. Lily sudah mati. Ikut dengannya berarti... aku mati...
"Kau tidak nyata," teriak Severus. "Kau tidak nyata..."
"Siapalah dirimu, yang berani menghakimi, mana yang nyata dan mana yang tidak?" Lily terbang berputar, berbisik di telinganya. "Cintamu kepadaku nyata, Sev."
"PERGI!" Severus menjerit. "PERGI! PERGI!" Lalu rasa sakit di kepalanya berubah menjadi sejuta kunang-kunang...
Aku tidak gila, aku tidak gila, aku tidak gila...
Benaknya memberontak, mencari pegangan. Ia tidak mau terperangkap dalam kegilaan. Ia tak ingin hidup terpenjara dalam ilusi. Seandainya ada satu hal, satu hal saja yang bisa membuatnya berdiri teguh dalam realitas—
—dan saat itulah dia melihat sesuatu, seseorang, yang sangat tidak familiar.
Di tengah kabut halusinasi ruang kantor itu, Severus menyipitkan mata untuk melihat ke arah pintu yang tidak tertutup. Di ambang pintu, tertutup kabut tebal, berdiri seorang pria yang tak dikenal Severus. Pria itu mengenakan pakaian seperti Muggle: setelan hitam resmi berupa kemeja putih, jas hitam, dan celana hitam sederhana. Rambutnya pendek rapi, wajahnya lonjong tidak ramah, dan ia mengenakan kacamata hitam. Satu-satunya tempat di mana Severus pernah melihat manusia berpenampilan seperti itu adalah di film-film tentang mata-mata Muggle...
Siapa pria itu? Apakah ia bagian dari halusinasi Severus?
"Siapa kau?" teriak Severus. "Apa yang kauinginkan? Dari mana kau datang?"
Tapi pria itu hanya berdiri diam di sana; dan sesuatu di dalam kepalanya memberitahu Severus bahwa pria itu nyata, bukan khayalannya. Maka ia berusaha bergerak untuk mendekati si pria.
Namun baru ia bergerak selangkah, rasa sakit di kepalanya melandanya lagi. Meledak mematikan. Mengerutkan seluruh tengkoraknya. Menyiksanya.
Severus terjatuh ke lantai, dan pada saat itu segalanya menjadi hitam.

.
to be continued

Monday, 17 January 2011

Less Than A Day in Purgatory by WriterNightpen

Less Than A Day in Purgatory by WriterNightpen
Link asli di sini

=DISCLAIMER=

Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing (Disney untuk Pirates of The Caribbean, JKR untuk HarPot), kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.



--------------------------------------------------------------------------------

Less Than A Day in Purgatory
A Harry Potter x Pirates of The Caribbean one-shot crossover


--------------------------------------------------------------------------------


Severus Snape terbangun mendadak dalam keringat dingin imajiner. Ia ingat sinar hijau terkutuk dari (bekas) atasannya menebas putus tali kehidupannya. Ia masih ingat betul, kutukan favorit sang Dark Lord itu meluncur dari tongkat milik sang majikan, merampas hangat kehidupan dari…

"Came to, land-lubber?"

Belum habis kekagetan sang ahli ramuan, ia sudah dikagetkan oleh sebuah suara yang mengingatkannya pada beberapa Death-Eater yang berasal dari daerah Cockney. Aksen itu tebal sekali, mungkin sang guru harus memotongnya dengan pisau yang biasa ia pakai memeras sari biji-bijian bahan ramuannya.

"Oy, plan-plan! Kau s'dah mati, mate. Tak prlu buru-buru, kita punyak s'lamanya," ujar sang suara sekali lagi. "Grog?"

"Di mana aku…?" tanya sang ahli ramuan sambil menghadap ke lawan bicaranya, seorang lelaki muda berpakaian… aneh.

Monday, 10 January 2011

A Little Love by aicchan

A Little Love by aicchan
SnapeDay Challenge
Link aslinya ada di sini


A Little Love



Hati-hati Harry menekan tonjolan serupa tombol itu. Gerak mengayun dahan-dahan Dedalu Perkasa serentak berhenti. Harry masuk ke dalam terowongan. Perlahan ia maju, pasti tujuannya. Shrieking Shack.

Di sana ada jenazah seseorang yang sudah ia salah pahami. Yang tadi malam tergesa-gesa mereka— Harry, Ron, dan Hermione— tinggalkan. Sekarang akan ia bawa kembali ke Hogwarts. Akan disemayamkan di tempat sangat terhormat. Agar semua orang tahu, seperti apa jasa-jasanya— yang selama ini disembunyikannya.

Harry menghela napas. Dan terus maju. Shrieking Shack menunggu tepat di depan, jenazah itu menunggu tepat di depan—

Harry benar-benar lupa bernapas kini.

Jenazah Snape tak ada di sana.



xoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxoxoxo

Harry Potter © JK ROWLING

NARUTO © Kishimoto Masashi

A Little Love © aicchan

Special for Infantrum Challenge Snape Day by Ambudaff

Denial Fic Challenge / Crossover

Family – Friendship

oxoxoxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxox


Arus waktu membawa Harry satu bulan usai Perang Besar yang menelan banyak korban jiwa. Orang-orang yang dicintai Harry gugur dalam kekejaman perang yang sampai sekarang masih menghantui malam harinya. Namun dalam tiga puluh hari itu pula Harry disibukkan dengan pertanyaan yang masih belum terjawab.

Pertanyaan tentang di manakah gerangan tubuh Snape? Jasad yang seharusnya terbujur kaku di Shrieking Shack sama sekali tak bisa ditemukan meski para Auror sudah mencoba berbagai macam mantra untuk mencari sosok Potion Master itu. Harry sudah putus asa, dia benar-benar tidak habis pikir, bagaimana jasad Snape bisa menghilang tanpa jejak seperti itu? Apa dia masih hidup? Tapi itu mustahil, dia digigit Nagini, dan Harry sendiri yang menyaksikan saat-saat terakhir pria berambut hitam berminyak itu.

Termenung di ambang jendela menara Astronomi, Harry memandang jingga yang terbias di ufuk barat, terpantul indah dalam kilau yang mengesankan di Danau Hitam. Matanya tak lepas dari lukisan alam itu hingga malam meraja dan bintang mulai bersinar mendampingi purnama yang bulat sempurna.

Namun berlalunya waktu tak membuat Harry ingin beranjak dari tempatnya...

Saturday, 16 January 2010

Pandanglah Dari Sudut Yang Berbeda by ambudaff

Link Asli ada di:http://www.fanfiction.net/s/5668874/1/

Pandanglah Dari Sudut yang Berbeda

Disclaimer: Harry Potter © JK Rowling

Naruto © Masashi Kishimoto

A/N:

Timeline-nya saat Hogwarts di tahun keempat Harry (Harry 14 tahun—tapi Harry nya nggak ada dalam cerita), dan saat Sakura dan Ino juga berusia 14 tahun, nggak peduli kalau tahunnya nggak matching :P Dengan demikian, Severus 35 tahun, dan Shizune 29 tahun

Dikisahkan, Voldemort memang sedang berkuasa, bukan baru kembali di akhir tahun keempat Harry, dengan demikian Severus memang sedang menjadi agen ganda

‘Darah Naga’ kebanyakan diambil dari Wikipedia dan majalah Bobo :D

Untuk Iputz!

-o0o-



Ketukan pelan disusul dengan suara pintu terbuka. Tanpa menunggu jawaban. Sudah biasa.

Sosok tinggi berjubah hitam berambut hitam itu masuk. Raut wajah yang dingin dan keras.

“Kepala Sekolah,” sapanya kaku.

Yang disapa sedang asyik menekuni selembar kertas, surat rupanya. ”Ah, Severus,” sahutnya ramah, ”duduklah.”

Pria itu duduk. Wajahnya tetap sama seperti semula.

Kepala Sekolah berambut dan berjanggut keperakan itu membetulkan kacamata bulan separuhnya. ”Aku baru saja menerima surat ini,” ia melambaikan kertas tadi. Nampaknya asing, bertuliskan huruf yang asing, dan di-cap dengan lambang yang asing juga. “Dari sahabat lamaku. Sekarang sudah menjadi Godaime Hokage, Kage kelima dari desa ninja tersembunyi Konoha. Tsunade-chan dulu aku memanggilnya, meski mungkin sekarang harus Tsunade-sama,” ia berhenti sejenak.

Lawan bicaranya tak bersuara, tak juga memperlihatkan bahwa ia bereaksi pada apa yang sedang dibicarakan.

“Ia seorang … medic-nin. Healer, kalau kita di sini. Ia ingin murid-muridnya belajar di sini.”

”Tapi ... tahun pelajaran sudah mulai, Albus. Mana mungkin ...” pria itu bereaksi.