Showing posts with label Genre Hurt/Comfort. Show all posts
Showing posts with label Genre Hurt/Comfort. Show all posts

Wednesday, 5 February 2014

A Surprise Visit (Sabaku no Ghee)

Fiksi Reguler. Link aslinya ada di sini



"Hei, tidak ada yang mencoba menangkap golden snitch kecuali Seeker!"
"Oh, ayolah, Capt, kukira sesi latihan sudah selesai."
"Kalau begitu, aku mau semua Quaffle terkumpul. "
"Itu tugas Chaser, dan kau salah satunya."
"Ingatlah kalau badge 'Kapten' juga milikku, jadi kau yang bergerak, mate. Bawakan juga aku Bludger tolol yang—astaga, serius, Quaffle-poking itu pelanggaran. Hei, kita tidak akan menang dengan cobbing. Hentikan perkelahian tolol kalian, juniors. Lebih baik kalian semua kembali ke asrama, mandi, makan malam, dan beristirahat. Aku ingin kita semua dalam kondisi prima. Lawan kita dalam pertandingan ini tidak sembarangan—dan camkan kemungkinan mereka berbuat curang. Jangan lengah."
"Siap, Captain."
"Cukup untuk hari ini."
.
(xXx)
.
A Surprise Visit
A Fanfiction – A Side Story from Under My Skin By Sabaku no Ghee
Harry Potter by J.K. Rowling
Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life
James Potter x Severus Snape
WARNING : shonen ai. Maybe OOC. Marauders era. Sebuah fanfiksi singkat yang terinspirasi oleh salah satu post di 9gag, bahwa hidup adalah sebuah puzzle. Sangat terinspirasi dari doujinshi The World dan Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh.
Dibuat untuk Challange 'SNAPE DAY' oleh Ambudaff
.
(xXx)
.
Severus Snape yang sedari tadi termangu di salah satu bangku penonton, kini tersenyum kecil.
Ya—tidak biasanya pemuda berambut hitam itu mau repot-repot singgah ke tempat semacam ini. Slytherin mendapat giliran pertama untuk berlatih Quidditch namun Severus tetap tinggal ketika Gryffindor memanfaatkan kesempatan latihan mereka. Rekan-rekan satu panjinya jelas sudah bubar duluan, meninggalkan si pemilik manik obsidian itu duduk sendirian di daerah kekuasaan para ular. Tribun dengan bendera hijau-perak itu tepat berseberangan dengan area Singa Merah—dan demi Merlin, Severus ingin sekali merapal mantra ke arah gadis-gadis berisik penggemar James Potter.
Turnamen Quidditch tahunan sedang berlangsung. Hufflepuff kalah telak melawan Gryffindor dan Ravenclaw habis ditindas oleh Slytherin. Babak final yang akan diselenggarakan kurang dari seminggu sudah jelas membuat persaingan antara kedua asrama tersebut semakin meruncing. Severus dapat melihat wajah-wajah tegang dari para pemain Gryffindor di bawah sana—mungkin masih kesal karena cidera yang didapatkan pemain Ravenclaw tempo hari—sebelum mereka membubarkan diri dan berjalan ke arah Kastil. Para penggemar wanita mengekor. Menyisakan James Potter sendirian.
Tentu saja Severus sudah tidak kaget kalau James menghampirinya… Dengan sapu terbang.
"Tanggal berapa sekarang?" tanya James sambil melayang rendah di hadapan Severus.
Pertanyaan itu membuat Severus menghela napas, "Entahlah. Bukan aku yang sedang dikejar deadline untuk menentukan strategi mumpuni."
"Oh, sayang sekali. Padahal aku harus menandai kalenderku karena hari ini kau menemaniku berlatih sampai selesai." balasan James terdengar seperti biasa. Santai dan bersahabat. Pemuda jangkung dengan rambut awut-awutan itu turun dari sapunya dan duduk di sebelah Severus, "Have a good time watching?" James bertanya sambil melonggarkan jaket kebangsaan Quidditch-nya dan melemparkannya begitu saja ke samping tubuhnya. Ia juga melemparkan sapu terbangnya asal-asalan.
"Sort of." jawab Severus dingin seperti biasa, "Aku mendapatkan cukup banyak bahan untuk dibocorkan kepada tim Quidditch asramaku."
"Sneaky." James mencibir.
"You are welcome." Severus menyeringai.
James tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut sebahu Severus. Pemuda berhidung bengkok itu hanya mendengus namun membiarkan tangan besar itu berbuat iseng.
Severus membiarkan dirinya menikmati suasana barang sejenak. Lapangan berbentuk oval dengan panjang 500 kaki dan lebar 180 kaki di hadapannya. Hamparan rumput berwarna hijau cerah dengan gawang-gawang berbagai tinggi menjulang rapi. Hembusan angin sore yang belum terlalu menggigit. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya Severus benar-benar duduk lama di tribun lapangan Quidditch. Ia pernah beberapa kali menonton turnamen, tetapi hanya karena ia merasa harus datang demi solidaritas asramanya. Namun untuk melihat pemuda dari asrama tetangga sedang berlatih separuh sore?
Well, lain kasus—
"Kau tahu, kau bisa kembali bersama teman-teman asramamu, Sev." suara James yang tiba-tiba memecah hening berhasil membuat Severus menoleh, "Kau… Tidak harus menungguku."
"Kau tidak suka aku berada di sini?" tanya Severus dengan kening berkerut.
Buru-buru James menggeleng, "Tidak, tentu saja aku menyukainya. Akan lebih betah kalau kau membawa bekal dan handuk—oke, mungkin bukan ide bagus." si surai coklat gelap memberikan cengiran ketika ia lihat Severus melotot, "Tetapi, maksudku, aku tahu kau tidak terlalu menikmati hal-hal seperti ini. Aku hanya takut kau bosan."
"Bosan atau tidak, resiko itu akan kuambil sebagai konsekuensi keputusanku sendiri, Potter." jawab Severus, "Aku, entahlah. Aku hanya merasa aku harus… Ada di dekatmu."
James bersumpah, walaupun Severus sedang mendongak dengan keangkuhan khas Slytherin, ia melihat ada rona kemerahan yang sangat samar di pipi pucat itu. Efek sinar matahari atau…
"Well, I'm yours. Anyway—"
Ah…
James tak dapat menahan senyumnya.
Kalimat tersebut Severus ucapkan dengan intonasi datar dan nada dingin. Sama sekali tidak berbeda dengan kalimat-kalimatnya yang lain. Namun bukan James namanya kalau tidak merasakan ketulusan di balik ekspresi keras seorang Severus Snape. Memang benar, mereka memutuskan untuk berjalan di setapak yang sama beberapa minggu terakhir. Hanya saja menemukan Severus yang, akhirnya, bisa mengatakan hal-hal jujur (dan manis, menurut James) adalah hal yang sangat istimewa bagi pemilik bola mata hazel itu. James selalu, dan selalu dikejutkan oleh pemuda yang dicintainya setengah mampus itu.
"Kuakui aku tersanjung. Terima kasih." perlahan, James menautkan jemari mereka.
Severus terlihat terkejut dan sempat mengawasi sekitar. James yang paham kekhawatiran Severus langsung mengeratkan genggamannya untuk meyakinkan kalau mereka benar-benar berdua di area tersebut.
"Tetapi kurasa konsep kepemilikan hanya berlaku pada 'ikatan'." sambung James, kali ini sambil menatap sepasang mata Severus dalam-dalam, "Sementara kita sepakat kalau 'hubungan' tidak bekerja dengan mekanisme seperti itu."
Severus tidak lekas menjawab.
"Love should set us free, shouldn't it?" tanya James.
"Mutlak." jawab Severus setuju.
"Karena itu, kau bukan propertiku." ucap James dengan nada menenangkan dan kembali mengeratkan genggamannya, "Dan kumohon hentikan pemikiran seperti itu."
Mendengarnya, Severus mencelos.
Benar juga—tidakkah mereka, memang tidak pernah menjanjikan apa-apa? Mendadak, Severus merasa sangat tolol karena bicara yang tidak-tidak. Ia menggigit bibir bagian bawahnya sebagai jawaban.
"Tetapi—" lagi-lagi James membuat Severus menoleh, "—kau tetap memiliki hak preogratif untuk merasa cemburu, kok." tambah James dengan nada jahil.
"Like hell I will." sergah Severus, "Untuk apa aku—"
"Sev, kalau benar tatapan bisa membunuh, kurasa gadis-gadis Gryffindor—bahkan Lily—sudah menjadi gelimpangan mayat." potong James.
Severus melotot, "Kau—"
"Jadi. Aku katakan sekali lagi." lagi, James tidak membiarkan Severus menyelesaikan ucapannya, "Aku mencintaimu, Severus Snape."
Detak asing itu muncul sekali lagi. Membuat perut Severus seolah disinggahi rombongan kupu-kupu. James tersenyum dengan cara yang sama ketika mereka pertama kali saling jujur akan apa yang mereka rasakan. Pagi itu, pondok Hagrid, pepper-up potion, dan dua cangkir teh jahe panas. Severus tidak akan melupakan rasa mual aneh yang mustahil bisa dijelaskannya.
"Aku mencintaimu tanpa ada keinginan untuk menjadikanmu milikku." lanjut James, tak melepaskan genggamannya, "Kau harus tahu betapa bahagianya aku karena kaulah yang memilih untuk tinggal tanpa kuminta."
Severus masih geming.
"Dengan menjadi milikku, cepat atau lambat kau akan mematahkan sayapmu." James menggumam sambil memberikan usapan lembut pada jemari pucat itu, "Aku tak ingin kau menjadi menyedihkan karena terkurung di sangkar imajiner yang kau buat sendiri."
James memberikan kecupan ringan di atas jemari itu.
Membuat Severus kembali merasakan 'mual aneh' yang entah bagaimana semakin familiar.
"Kebebasan, kecerdasan, dan keingintahuan." mantap, James mengatakannya, "Itulah kau."
"Hmph—" akhirnya, Severus mampu bereaksi, "—kurasa aku telah mendeklarasikan sesuatu yang sangat dangkal. Shame on me."
"Kau adalah apa yang kau pikir, Sev." tolak James, "Karena itu, berhentilah memikirkan hal-hal negatif sementara banyak hal positif yang kau sembunyikan—dan aku beruntung karena aku dapat melihatnya."
"Kuanggap itu sebagai pujian." agak geli, Severus menanggapinya. Perlahan ia menurunkan tangannya dan membiarkannya beristirahat di atas kayu tribun yang ia duduki, "Mungkin aku harus lebih sering melihat matamu."
James terlihat heran, "Mataku?"
"Entahlah…" Severus menghela napas sambil membuang arah pandangannya ke hamparan rumput lapangan Quidditch, "Kadang aku merasa—keberanianku tertinggal di sana."
"Ha-ha-ha, what a sweet of you, Sev! Aku jadi ingin menciummu!" tanpa tending aling-aling, James memeluk Severus.
Sudah jelas mendapat hadiah dorongan—makna leksikal—dari Severus. Kuat-kuat.
"Hentikan, bodoh! Ini lapangan!" Severus berteriak tertahan. Ia bahkan sempat memberikan bonus tonjokan untuk lengan James.
"Ouch! Sakit! Kau harus bertanggung jawab kalau aku sampai masuk Hospital Wings dan piala Quidditch yang seharusnya ada di asramaku malah nyasar ke asramamu!" James meringis sambil mengusap-usap lengannya.
"Kurasa aku akan memantrai seluruh pemain asrama Singa Tolol-mu supaya kalian semua kacau saat pertandingan!" omel Severus sambil mengambil jarak satu bokong dari tempat James duduk.
Melihatnya, ekspresi jahil kembali menghiasi wajah James. Ia pun beringsut dan menyandarkan kepalanya ke bahu Severus, "No need to, Sev, Kau sudah mengacaukan kaptennya, kok—OUCH!, " teriak James ketika Severus mencubit perutnya, "Kau ini benar-benar tidak memiliki belas kasihan, ya?"
"Ketahuilah, Potter, membunuhmu adalah rencana terakhir dalam hidupku—but still on the list." balas Severus sambil memberikan seringaian—dan lagi-lagi ambil jarak satu bokong, "Aku bahkan akan dengan senang hati memasukkannya ke dalam daftar kegiatan tahunanku!"
"Well, aku rela kok mati di tanganmu—"
Kali ini Severus mengeluarkan tongkat sihir dari balik jubah hitamnya.
"—oke, aku diam. Hentikan aksi brutalmu itu."
James angkat tangan. Posisi menyerah. Tidak mau macam-macam dengan 'sarjana muda Sihir Hitam' yang sempat mengidap sociopath ringan. Severus menghela napas malas dan geleng-geleng kepala.
"Entah kemana ekspresi serius ketika kau memimpin anak buahmu itu."
"Hm?" James menggaruk kepalanya yang tidak begitu gatal, sebenarnya, "Yah. Aku juga terkadang berpikir kalau James Potter di lapangan Quidditch dan James Potter di kastil Hogwarts itu dua orang yang berbeda." ujarnya dengan air muka yang tidak dibuat-buat bingungnya.
"Hmph—ya. Aku juga berpikir demikian." akhirnya perhatian Severus yang sedari tadi dikuasai gawang-gawang bulat bertiang kini kembali ke muka James, "Kau, ketika bermain Quidditch, adalah pahlawan Gryffindor, aku lihat kau menikmati itu."
"Betulkah?" tanya James penasaran.
Severus mengangguk, "Ya, kau terlihat—nyaman, santai, dan menjadi dirimu sendiri. Walaupun ekspresimu buruk sekali saat latihan terkahir kalian tadi."
Kali ini, giliran James yang menghela napas lelah. Ia menunduk dan mengatupkan kedua telapak tangannya. Membuat Severus pasang telinga sebagai pendengar yang baik.
"Harus kuakui, Sev, aku tidak terlalu menyukai sesi latihan." dan pemuda pembuat ulah ini memulai curahan hatinya sebagai kapten, "Kami tertekan dan gugup. Pemain Quidditch Slytherin tidak bisa dianggap enteng, dan kau tahu, mereka licik. Kami tak ingin memikirkan hal semengerikan apa yang bisa mereka lakukan di pertandingan nanti." hening sebentar, yang James gunakan untuk kembali bertemu pandang dengan Severus dan tersenyum, "Tetapi aku berpikir, sepahit inilah memang harga yang harus ditukarkan dengan manisnya titel 'juara'. Iya kan?"
"Entahlah, Potter, aku tidak terlalu familiar dengan kompetisi." Severus angkat bahu, "Tetapi—kurasa, untuk menjadi seorang juara, kau harus berpikir kalau kau memang seorang juara." kali ini, nada suara Severus terdengar menyemangati, "Setidaknya berpura-puralah untuk itu."
"Dan satu langkah lebih dekat untuk menjadi juara yang sebenarnya, itu maksudmu?" tanya James.
"Slytherin memiliki ambisi dan harga diri selangit, Potter." Severus secara tidak langsung menjawab pertanyaan James, "Kedua hal itulah yang membuat kami—aku—berjuang."
"Well, dan aku memiliki keberanian untuk balik menghajar balik mereka di pertandingan nanti." tandas James sambil mengacungkan tinju.
Severus tersenyum tipis ketika menyadari kemuraman itu sudah digantikan dengan semangat baru, "Tidak hanya itu. Kulihat kau memiliki sesuatu yang berbeda, jauh dari dalam dirimu, Potter." pemuda Slytherin itu mendengus pelan, "Aku tidak meragukan keberanianmu, though."
"Begitu? Lalu apa yang kau lihat dengan matamu, Sev?" tanya James, lamat-lamat tersenyum tulus.
"Aku melihat… Semangat." gumam Severus.
James mengangguk, "Apa lagi?"
"Gairah dan mimpi." Severus menarik napas panjang, "Kau ingin bertarung tidak semata-mata karena piala tolol itu, tetapi juga untuk kebangaan asramamu." ia mengambil jeda untuk menghembuskan napasnya perlahan, "Di atas semua itu, kau bertarung untuk alasan yang lebih abstrak."
"Kau membaca pikiranku bagai buku yang terbuka." nada kagum terdengar dari bibir James, "Ingatkan aku untuk selalu mengagumi kemampuanmu yang satu ini."
"Kau tidak lupa kalau aku menguasai Legilimency, 'kan?" tanya Severus dengan nada misterius.
James terkesiap, "Jangan bilang barusan—"
"Bercanda, Potter." potong Severus, menahan tawa akan ekspresi kaget James barusan, "Tetapi aku serius perihal isi kepalamu. Kau tidak hanya memiliki keyakinan akan kemampuan fisik dan kecerdasanmu." Severus terlihat berpikir, "Kau juga… Memiliki hati yang percaya akan dirimu sendiri."
Lagi-lagi mereka larut dalam dimensi waktu.
James yang berantakan. Severus yang serba tertata. James yang ekstrovert. Severus yang introvert. James yang meledak-ledak dan melihat semua hal dari sisi positif. Severus yang berhati-hati dan selalu mencoba realistis. Pribadi yang bertolak belakang bagaikan dua sisi mata uang. Mungkin benar kalau hidup adalah sebuah puzzle. Mereka tidak sempurna, memiliki celah dan kelebihan, berbagi sudut pandang, mencoba memahami, dan pada akhirnya, mereka saling menyempurnakan.
Severus tidak menolak ketika James menggenggam tangannya lagi.
"Terima kasih, Sev." bisik James, "Kau mengajariku untuk mengenal diriku sendiri lebih jauh."
"KIta sama-sama bercermin, Potter." jawaban Severus terdengar tegas, "Kau juga mengajariku bagaimana caranya untuk berani mengutarakan isi kepalaku."
"Aku senang mendengarnya." James mengangguk mantap dengan intonasi penuh semangat baru, "Tunggu saja, aku akan membawakan piala Quidditch itu untukmu."
"Sebentar. Apa yang barusan itu pernyataan perang?" Severus terdengar tidak terima, "Tak akan kubiarkan asramaku kalah melawan asramamu."
Tak pelak, James memberikan cengiran bandel, "Itu tidak lagi berarti bagimu, 'kan?"
"Ha. Buat aku tercengang." cemooh Severus. Mimiknya kembali angkuh.
"Kau ini benar-benar susah untuk dibuat terkesan." keluh James.
Severus terlihat menikmati kemenangannya, "Make me, Potter."
Namun tentu saja, melihat Severus yang seperti ini membuat James tertawa geli, "Ha-ha-ha. Kau tahu? Sisi inilah yang membuatmu selalu menjadi favoritku, Sev." ujarnya sambil mengacak kembali rambut Severus dengan tangannya yang bebas, "Kau selalu membuatku memiliki alasan untuk berjuang."
"Calon juara kita." tantang Severus.
"Aku berjanji padamu untuk menjadi juara sebenarnya." James mengatakannya dengan keyakinan dan anggukan sungguh-sungguh, "Untukmu."
Severus kembali memberikan sunggingan tipis, "So, now, which James Potter am I talking to?" tanyanya dengan nada pura-pura penasaran, "Sang Juara Quidditch atau Si Pembuat Onar dari Gryffindor?"
"Tidak keduanya." balas James sambil menggelengkan kepalanya penuh penghayatan. Lakon dramatis yang membuat Severus lagi-lagi hampir membuncahkan tawa geli, "Aku James. Hanya James, tanpa nama belakang ataupun embel-embel, yang jatuh cinta padamu sekali lagi."
Kalimat itu sangat efektif untuk membuat Severus memasang air muka jijik.
"Uh, bisakah kau hentikan gombalanmu—" tandas Severus sambil memandang rendah kekasihnya itu, "—James-yang-manapun-kau-Potter?"
James tergelak karena respon Severus, "Kau yang memilih James-mu, kalau begitu."
"Aku tidak peduli topeng mana yang kau pakai, karena di mataku, kau tetap sosok yang sama—" lagi-lagi Severus tanpa sadar meninggikan frekuensi suaranya, "Seorang… Pahlawan idiot yang serampangan!"
James kembali menertawakan dirinya sendiri. Kalimat-kalimat dari Severus ternyata secara ampuh mengobati rasa resahnya akan pertandingan yang akan ia hadapi.
"Kau benar-benar memiliki kekuatan yang besar untuk menghancurkanku, kau tahu?" tanya James, dengan nada serius namun kehangatan tetap terpancar dari wajahnya.
Severus terdiam sejenak. Lalu ikut tersenyum samar sebelum memberikan jawaban, "Tetapi kau percaya kalau aku tidak akan melakukan itu."
Puas, James mengangguk.
"Itulah cinta yang kumaksud."
Jawaban dengan nada sangat yakin itu jelas membuat Severus ingin meralat ucapannya, "Belum—kalau begitu." ia mengoreksi sambil ikut-ikutan tersenyum iseng. Pelajaran ekspresi yang ia dapatkan eksklusif dengan cara autodidak memperhatikan air muka James.
James ikut tertawa kecil, "Itu saja sudah cukup."
Severus merasakan genggaman tangan itu mengerat dan terasa begitu hangat.
Dan, tidak biasanya pemuda berambut hitam itu mau repot-repot singgah ke tempat semacam ini.
.
(xXx)
.
~ Selesai ~
.
(xXx)
.

Wednesday, 30 January 2013

For The Rest of My Life (chandagates)

Link asli ada di sini

----------

Disclaimer : Severus Snape dan tokoh-tokoh bersangkutan hanya milik JK Rowling seorang.
Summary : Bagaimanakah kisah hidup seorang Potion Master Severus Snape? For SNAPE DAY 2013

-oooo00oooo-


Aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu, aku memandangimu dari kejauhan dari balik semak-semak sementara kau sedang bermain dengan kakakmu. Aku sadar jika anak aku tak pantas bermain denganmu. Kau cantik, anggun bagaikan bidadari yang turun dari surga, sedangkan aku anak kurus kering berpakaian lusuh dan kebesaran. Lebih mirip seorang peri rumah.
Tapi kau mengubah pandanganku terhadap diriku sendiri, kau berkata jika aku memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, kau bilang padaku jika aku tak seburuk kelihatannya. Kau bahkan satu-satunya anak yang mau bersahabat dengan orang sepertiku. Kau tidak memandang perbedaan diantara kita. Kau tidak melihatku dari luar, tetapi dari hati. Saat itu juga aku mulai merasakan hidup yang lebih baik dibanding hari-hari ku sebelumnya. Aku masih ingat saat aku bercerita tentang dunia sihir kepadamu, kau mendengarkannya dengan sangat serius seolah kau juga ingin menjadi bagian dari mereka. Begitu pula dengan ku.
Surat panggilan dari Hogwart pun datang, aku senang sekali karena aku akan meninggalkan rumahku yang menyedihkan itu dan datang kedunia –sihir– yang sudah lama kunanti itu. Ah, hampir saja aku lupa, bagaimana dengannya? Pasti dia akan senang sekali melihatnya. Aku berlari menuju tempat seperti biasa. Tempat dimana kita bermain. Kau juga berlari saat itu sambil melambai-lambaikan surat –dari Albus Dumbledore– itu. Aku berhenti dan melihatmu berlari sambil tersenyum bahagia tiba-tiba kau sudah memelukku. Aku tak percaya dengan apa yang kualami ini.
Apa aku sedang bermimpi? Tidak, aku tidak bermimpi! Ini nyata! Dia memelukku sekarang! Aku membalas pelukan itu sambil tersenyum.

Aku senang kau mendapatkannya juga.

Aku berharap kau masuk asrama yang sama denganku, tapi itu tak sesuai harapanku. Kau masuk di Gryffindor dan aku di Slytherin. Tetapi kau tetap dan masih mau bersahabat dengan aku, walaupun tak sedekat dulu lagi. Aku tak percaya jika asrama bodoh itu memisahkan kita berdua, memperjauh jarak diantara kita. Apalagi kedekatanmu dengan James Arogan Potter sialan itu. Semakin lama kau semakin dekat dengannya dan semakin jauh dariku.
Aku benar-benar menyesal saat kata-kata keparat itu meluncur dari mulutku, aku sudah berulang kali minta maaf kepadamu, tetapi kau terus saja menolak mentah-mentah permintaan maafku. Aku tau jika perbuatan itu takkan pernah –dimaafkan- dan termaafkan. Aku sungguh menyesal. Aku rasanya ingin mengakhiri hidupku saat itu juga.
Hari kelulusan pun tiba, saat itu aku benar-benar nekat untuk mengungkapkan perasaan ini. Mengungkapkan perasaan yang bertahun-tahun menyiksaku. Aku berlari menuju asrama mu, tetapi apa yang kulihat?
Aku melihat James Arogan Potter sialan itu melamarmu. Dan kau meng-iyakannya, kau menerimanya. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kulihat saat itu. Aku terduduk –terjatuh- disana. Air mata ini seakan tak dapat ditahan lagi, bulir-bulir bening itu menetes dipipiku. Hatiku hancur sekali saat itu. Berkeping-keping dan takkan pernah bisa disatukan lagi.
Aku marah pada diriku sendiri, aku benci kepada diriku sendiri, jika aku tidak menyebut kata –mudblood- sialan itu, pasti kau sudah ada di dekapanku. Menikah denganku dan bahagia bersama. Tapi itu tidak akan pernah terjadi, semua itu murni kesalahanku. Karena saking emosinya, akupun membeberkan semua ramalan Trelawney tentang anak yang akan lahir akhir bulan Juli kepada Pangeran Kegelapan. Yaitu anakmu dengan Potter Sialan itu. Aku mendengar jika pangeran kegelapan akan membunuh anak itu dan keluargamu aku memohon agar Pangeran Kegelapan tidak membunuhmu, tetapi dia tidak mendengarkan aku.
Akhirnya datang ke Albus. aku meminta dan memohon kepada Albus, aku memohon dengan segenap hati agar Albus mau membantuku melindungimu. Aku tak perduli jika Potter itu mati aku tak perduli jika anakmu itu mati. Yang terpenting bagiku, kau selamat. Tetapi kau mempercayai orang yang salah, tikus Pettigrew keparat itu telah menghianatimu. Ia membocorkan smua nya kepada Pangeran Kegelapan.

Pangeran kegelapan membunuh mu.

Aku datang terlambat, aku tak sempat menyelamatkan hidupmu yang berharga itu. Saat aku tiba, kau sudah terbujur kaku disana, tak bergerak. Pangeran kegelapan telah meluncurkan mantra tak termaafkan itu.
Aku melihatmu sudah terbujur kaku, dan tak bernyawa lagi. Betapa aku hancur sehancur hancurnya, sakit sesakit-sakitnya. Aku kehilagan kekuatan ku untuk menyangga kaki aku kehilangan semua harapanku untuk melihatmu tersenyum. Aku memelukmu, pelukan yang terakhir. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukanmu, aku tak percaya jika ini akan terjadi. Aku benar-benar kehilangan wanita yang membuat hidupku begitu berarti. Aku sungguh menyesal dengan semua ini. Andai saja jika aku tidak membocorkan ramalan Trelawney kepada dark Lord kau pasti takkan bernasib buruk seperti ini. Jika saja aku datang lebih awal kau pasti bisa melarikan diri dan aku yang akan mati. Kau akan selamat jika aku datang lebih awal.

Aku benar-benar menyesal.

Aku pun berniat untuk mendatangi Albus dan aku memintanya untuk menghukumku, mengurungu di Azkaban. Aku menyerahkan tongkatku, dan aku memintanya untuk mematahkannya. Tetapi Albus malah memberiku kesempatan, ia memintaku untuk membantu –Albus- melindungi anakmu dan menjadikanku guru ramuan di Hogwart. Sebelumnya aku menolak. Karena kupikir Dark Lord telah musnah. Tetapi aku salah Dark Lord belum musnah untuk selamanya. Karena saat ia akan musnah, ia mencari satu-satunya 'tempat' atau makhluk hidup untuk jiwanya. Yaitu anakmu sendiri.
Aku takkan pernah mau melindungi anak dari Potter sialan itu. Tetapi, Albus mengingatkanku, dia juga anakmu. Dia juga memiliki mata sepertimu. Mata hijau indah yang pernah menghiasi hari-hariku dulu. Mata itu milik cinta pertama dan terakhirku yaitu kau.
Bertahun-tahun berlalu, aku masih tenggelam oleh rasa bersalah olehku. Aku masih belum bisa menghapus rasa cintaku pada mu. Pada saatnya tiba dimana anak itu tiba di Hogwart. Aku memandang anak itu dari kejauhan, tetapi apa yang dikatakan Albus benar, anakmu memiliki matamu.
Aku juga masih ingat betul saat Quirrell memantrai sapu anakmu, hingga dia akan terjatuh dari ketinggian. Aku berusaha mengucap mantra penangkal agar anakmu bisa selamat. Tetapi anakmu dan teman-temannya malah menganggap aku yang ingin mencelakai anakmu. Tetapi aku tak peduli dengan itu.
Ah, masih banyak sekali dan yang paling ku ingat. Saat itu aku sedang mengajarinya Occlumens agar pikirannya tidak dimasuki oleh Voldemort. Tetapi itu gagal total, karena ia mengira jika aku akan membuka pikirannya agar dimasuki Voldemort. Aku sangat marah ketika anakmu malah melihat masalalu ku yang kelam.
Ditahun ke enam, Narcissa dan Bellatrix mendatangi rumahku. Narcissa memintaku untuk melindungi Malfoy Jr, dan menggantikan tugasnya jika ia tak sanggup melakukan tugasnya dari Voldemort. Tetapi aku telah melakukan Sumpah-tak-terlanggar jika aku bersedia melakukan atau menggantikan tugas yang diberikan Voldemort kepada Malfoy Jr. Ah, ya aku akhirnya mendapatkan posisi yang selama ini aku idam-idamkan. Albus mempercayakan subjek –Pertahanan terhadap ilmu hitam- itu kepada ku. Aku melihat anakmu kecewa karena aku memegang subyek favoritnya.
Akhirnya tugas yang diberikan Albus –dan juga Voldemort- telah tiba. Aku mau tak mau harus membunuh Albus. Dia satu-satunya orang yang mempercayaiku luar dalam, dia satu-satunya orang mau mendengarkan keluh kesahku. Dan yang terpenting, dia yang mengerti bagaimana perasaanku kepadamu dan anakmu. Aku sungguh marah kepada diriku. Aku telah membunuh satu-satunya orang yang paling ku hormati dan yang sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. aku sedih, marah, dan aku ingin membunuh diriku sendiri saat itu. Bagaimanapun itu adalah tugas Albus untukku. Aku harus memenuhinya, karena aku telah berjanji kepada nya untuk melakukan apapun untuknya, sebagai balasan perlindungannya kepada anakmu dulu.
Hari itu pun tiba, hari dimana Voldemort akan menyerang dan membunuh anakmu. Aku pun tahu jika aku akan mati malam ini. Hanya satu tugas yang harus aku selesaikan sebelum aku mati, yaitu jika anak mu harus mati, dan Voldemort sendiri yang harus melakukannya. Albus memberitahu kan itu kepada ku –sebelum dia mati-.
Aku benar-benar tak menyangka, aku melindunginya susah payah hanya agar anak itu bisa mati disaat yang tepat. Aku marah pada Albus, ia membesarkan anak itu seperti seekor kambing yang akan disembelih.
Ya, aku sudah menyayangi anak mu itu. Rasa sayang itu telah muncul, karena rasa cintaku kepadamu. Dan aku sudah tak memperdulikan dia anak potter ataupun tidak.
Voldemort membunuhku. Dia menyuruh ular kesayangannya –Nagini- itu untuk membunuhku. Ular itu mematuk ku dileherku, hingga aku mengalami pendarahan. Anak itu datang membuka jubah ghaib nya dan menutup leherku yang sedang pendarahan itu.
Aku meminta anak itu untuk mengambil ingatan –air mata- ku. Aku meminta anakmu membawa ingatan itu ke pensieve. Untuk menyelesaikan tugasku yang terakhir.

Aku mati Lils. Aku sudah pergi menyusulmu.

Aku datang menyusulmu disana. Aku datang ketempat mu agar aku bisa melihatmu lagi. Melihat senyum yang sudah belasan tahun tak kulihat.
Lily? After all this time ?
"Always."



A/N : Haaaaaaaaaaaaaaaaa. Ini fanfic pertama saya buat Snape Day. Alurnya kecepatan ya? Terus ada yang OOC *mungkin*.
Jujur saya gak pede nge-post ff ini. #nangis# ini buruk banget sumpah. Typo, kepo(?) dan banyak lagi. Mohon bantuan dan sarannya ya dengan me-REVIEW fic ini. Mau nge-FLAME juga gak papa, asalkan membangun. mohon maaf banget kalo mengecewakan *sujud2
Satu lagi, HAPPY BIRTHDAY TO YOU SEEEVVVVVVV :** #HUG

Tuesday, 29 January 2013

Terimakasih, Lily (ashimie)

Link asli ada di sini

----------

DISCLAIMER : I own nothing, but the plot. Semua tokoh dan mantra di dalam fanfic ini adalah resmi kepunyaan Mrs. JK Rowling. Ilustrasi gambar resmi kepunyaan findmymind (findmymind{dot}deviantart{dot}com[slash]art[slash]Severus-Snape-133080216). Di sini saya hanya meminjam semuanya untuk mengapresiasikan ide semata.
Membaca fanfic ini tidak dipungut biaya apapun, alias gratis. Tidak ada niatan komersil untuk fic ini. Hanya sebagai media bersenang-senang saja.
Warning: cerita ini mungkin cukup klise. agak aneh. typo. daaaan, OOC. diharapkan untuk berhati-hati. Don't like don't read.
A/N : fanfic ini dibuat dalam rangka meramaikan SNAPE DAY! yang jatuh tiap tanggal 9 januari.
Anggap Profesor Snape tidak meninggal setelah digigit nagini.
Summary : Severus Snape tidak menyangka akan bertemu dengan Lily di hari ulang tahunnya kali ini. Mereka mengobrol dan mengenang masa kecil mereka di taman bermain dekat Spinner's End, tempat mereka pertama kali bertemu. Kado termanis yang pernah Severus terima.

TERIMAKASIH, LILY.
 
9 Januari.
Tak ada yang spesial dengan hari ini.
Seperti hari-hari biasa, Severus Snape kembali bergelut di dalam perpustakaan mini di rumahnya yang terletak pada salah satu sudut Spinner's End. Ia duduk di belakang meja santainya dan melanjutkan kegiatannya menggoreskan sebuah pena bulu yang digenggamnya ke atas sebuah buku, yang beberapa minggu yang lalu hanyalah sebuah buku kosong, tetapi kini hampir seluruhnya berisi tulisan tangannya.
Ya, Severus Snape sedang mencoba mengisi hari-harinya dengan menumpahkan seluruh ilmu yang ia miliki ke dalam beberapa buku kosong di hadapannya.
Bertahun-tahun telah berlalu semenjak perang besar di Hogwarts. Beberapa kejadian menyenangkan maupun menyedihkan telah menghiasi hidupnya. Merubah dunianya. Tetapi ia meninggalkan semuanya dan memilih untuk berada di sini, mencoba mengasingkan diri dari dunia sihir, berada di tempat ia dibesarkan dalam kekalutan sebuah keluarga kecil, rumah orang tuanya, tempat ia akan menikmati kesendiriannya, lagi.
Entah sudah berapa buku yang ia tulis, dan sudah tak dapat lagi dihitung berapa tetes tinta yang ia goreskan. Namun ia tetap menikmatinya, menuliskan sesuatu yang sudah ada dalam benaknya cukup lama.
Seperti menulis sebuah diari panjang, Severus menikmati tiap momen ia mengisi lembar-lembar kosong tersebut. Cukup banyak penemuannya yang sama sekali tak pernah ia beritahu siapapun. Kondisinya sebagai agen ganda dalam misi belasan tahun itu memaksanya untuk tidak menguraikan penemuannya ke atas kertas. Terlalu riskan, dan sensitif. Semua itu ia lakukan hanya demi sebuah peran yang ia jaga dengan sebuah alasan, Lily.
Severus Snape tahu bahwa saat ia menerima misi itu hanya berdasarkan egonya yang terlalu tinggi, buta karena sebuah rasa yang menyesakkan relung hatinya. Hanya karena sebuah kesalahan, ia harus membayarnya mahal.
Tetapi itu tidak sebanding dengan apa yang telah ia dapatkan. Melihat anak Lily tumbuh besar bersama mata hijau favoritnya begitu menyenangkan, walaupun harus terbungkus fisik yang sangat mirip musuh bebuyutannya. Terkadang ada rasa benci setiap kali melihat penampilan fisik anak itu. Rasa benci yang membakarnya karena teringat James Potter, orang yang merenggut Lily darinya. Tetapi mata hijau terang itu mampu menghapus segala rasa bencinya. Mata itu selalu dapat membuatnya merasa tenang.
Mata Lily, itu yang selalu ia ucapkan.
Dan setiap kali ia harus berhadapan dengan anak Lily, ia merasa sama saja seperti menghadapi egonya sendiri. Ada rasa rindu, bersalah, menyesal, benci, bahagia, damai, dan sedih. Semua perasaan itu bergejolak dan meluap-luap. Tetapi ia harus selalu sadar dengan posisinya saat itu, serta peran yang harus ia jaga. Ia tidak boleh menunjukkan sisi baiknya di hadapan anak itu. Tak ayal, salah tingkahnya selalu malah membuat anak tersebut semakin membencinya.
Sedih? Tentu saja.
Tetapi itu jauh lebih baik baginya ketimbang anak tersebut tau apa yang telah diperbuatnya hingga ia harus menjalani nasib mengerikan. Selalu ada rasa bersalah kepada anak itu. Tetapi juga selalu karena anak itu adalah anak Lily.
Ya, Lily selalu dapat memberikannya motivasi untuk tetap bertahan.
Namun kini semua berubah. Anak Lily tersebut telah menjadi seorang pahlawan dunia sihir. The Choosen One. Ia telah mengalahkan The Dark Lord, seseorang yang sempat menguasai dunia sihir dalam masa kegelapan. Dari membencinya, kini anak itu sangat baik kepadanya. Ia mengatakan bahwa Severus turut memerankan andil besar untuk kemenangan pihak baik. Ia merawat Severus, memulihkan nama baiknya, dan memperjuangkan Orde of Merlin, First Class untuknya. Anak itu kini mengaguminya. Dan tak jarang mengatakan bahwa Severus-lah yang lebih pantas disebut pahlawan dunia sihir. Tapi tidak bagi Severus.
Setelah segala kesalahannya selama ini?
Setelah ia merenggut kebahagiaan dan memberikan nasib buruk kepada anak itu?
Setelah semua perbuatan menyebalkannya kepada anak itu?
Tidak.
Tentu saja tidak.
Anak itu terlalu tinggi menilainya. Ia tidak pantas untuk mendapatkan itu semua. Seorang Severus Snape tidak lebih dari seorang egois yang telah menjadi Pelahap Maut. Seorang yang seharusnya mati karena gigitan ular nagini.
Sungguh, di dalam hatinya, Severus terharu dengan apa yang anak itu lakukan untuknya. Apalagi setelah semua apa yang ia perbuat kepada anak itu selama ini. Dan sekali lagi, Severus tidak ingin itu semua. Cukup baginya bahwa anak itu telah menyelamatkan nyawanya.
Dunia sihir kini terlalu bising bagi Severus. Semuanya terlalu cepat berubah. Terlalu banyak perhatian yang kini diarahkan kepadanya. Severus merasa canggung dengan itu semua. Ia sudah terbiasa dalam kesendirian. Ia tidak menyukai keadaan barunya. Dan pada akhirnya Severus memilih menghindari hiruk pikuk dunia sihir. Menyendiri di rumahnya yang berada dalam lingkungan Spinner's End.
Maka, di sinilah ia sekarang. Duduk di kursi berlengan dekat perapian. Berkutat dengan buku-buku di hadapannya, menulis dan membaca lagi koleksi perpustakannya. Berada dalam lingkungan muggle yang tak pernah mengenalnya. Ya, Severus menikmati ketenangan ini.
Tak terasa cuaca di luar jendela mulai mendingin seiring matahari yang mulai bergeser mengarah ke ufuk barat. Di permulaan tahun ini hampir seluruh jalan Spinner's End tertutup salju kelabu, efek dari polusi asap hitam perindustrian yang berada tak jauh dari sana.
Severus Snape sudah sejak pagi tadi sibuk menulis sebuah buku ramuan tingkat lanjut yang lainnya. Entah sudah jilid keberapa yang kini ia tulis. Saat ini jarum jam menunjukkan pukul 3 sore. Rasa lelah dan kantuk mulai menghampirinya. Severus meletakkan pena bulunya dan menutup buku di hadapannya. Menyenderkan punggung dan kepalanya ke dalam pelukan kursi besar berlengan yang sedang ia duduki. Severus mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan lelahnya.
Seketika ia kembali terbangun karena suara bising sirine pabrik tanda para buruh selesai bekerja untuk hari ini. Severus teringat akan sesuatu yang harus ia beli. Segera saja ia bangkit dari kursinya dan keluar dari perpustakaan mini miliknya, menyambar mantel tebal di dekat pintu, dan keluar rumah memasuki dinginnya cuaca. Untung saja ada minimarket Muggle tak jauh dari rumahnya. Jadi ia tak perlu jauh-jauh berjalan.
Severus memasukkan kedua tangannya ke kantung samping jubahnya untuk menahan rasa dingin yang menusuk. Awal tahun ini begitu dingin, dan kelam. Ia semakin merapatkan kedua tangannya untuk mempertahankan kehangatan tubuhnya.
Di ujung perempatan, Severus tertegun melihat sesosok wanita yang baru saja menyeberang jalan di hadapannya. Sesosok wanita dengan rambut terurai berwarna merah gelap, memakai sebuah topi hangat dan mantel tebal berwarna coklat, berjalan dengan tergesa-gesa menuju jalanan di depannya.
Lily?
Severus refleks membisikkan nama itu. Ia pun melambatkan langkahnya dan menoleh, memperhatikan wanita yang baru saja lewat di depannya. Tetapi kemudian ia memejamkan mata sejenak, menenangkan gejolak hatinya.
Wanita itu hanya mirip Lily.
Severus mencoba mengacuhkan wanita tadi dan melanjutkan perjalanannya, memasuki minimarket muggle, lalu mengambil barang yang akan ia beli, membawanya mengantri di kasir. Sore ini cukup sepi, tak banyak pelanggan minimarket yang mengantri membayar. Saat gilirannya tiba, Severus memperhatikan apa yang kasir Muggle itu lakukan. Ia selalu sedikit canggung setiap kali berada di lingkungan Muggle, tetapi ia harus terus membiasakannya.
"Total belanjaan Anda 3 dolar 7 sen, Sir." Ucap kasir Muggle tersebut.
Severus Snape merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang Muggle-nya. Lalu ia sodorkan selembar lembar uang tersebut kepada si kasir.
"Ini, Sir, belanjaan Anda, dan ini kembaliannya." Kasir Muggle itu menyodorkan sebuah kantong plastik dan uang kembalian kepada Severus.
"Terimakasih." Ucap Severus.
Ia pun segera keluar dari minimarket itu seraya memasukkan belanjaannya ke kantong bagian dalam mantelnya.
Severus kembali melangkah menyusuri jalan yang sama saat ia berangkat tadi. Angin bertiup semakin kencang, dan udara mulai bertambah dingin. Severus pun semakin mengetatkan lipatan tangannya memeluk tubuhnya.
Sesampainya di ujung blok rumahnya, ia kembali melihat wanita bermantel coklat yang tadi dilihatnya. Kini wanita itu berada di seberang jalan. Melihat berulang kali ke kanan dan kiri karena kebingungan. Severus berhenti dan memperhatikannya. Wanita itu masih kebingungan mencari jalan, ia hanya menengok ke kanan dan kiri seolah memastikan sesuatu.
Tak lama wanita itu mengambil langkah ke arah sungai dekat Spinner's End. Severus pun bergegas mengikutinya.
Hijau. Itu Lily. Iris matanya hijau, kepunyaan Lily.
Severus memang tak sengaja melihat mata wanita di seberang jalan itu tadi saat wanita tersebut masih kebingungan menemukan jalan. Tetapi kali ini Severus yakin itu Lily. Mata hijau terang yang sangat ia kenal. Ia tak ragu melangkahkan kakinya mengikuti jalan yang dilalui wanita itu. Jantungnya berdegub kencang, tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia sangat ingin menemui Lily, wanita yang sangat dicintainya.
Rambut panjangnya berwarna merah, mata hijaunya jernih, dan postur tubuhnya mirip Lily.
Tidak! Pasti itu Lily.
Severus pun berhati-hati mengikuti wanita itu dari belakang, ia mencoba untuk tetap menjaga jarak cukup jauh agar tak dicurigai menguntit. Severus bersembunyi saat wanita itu berhenti untuk membeli setangkai bunga di ujung blok lainnya. Ia hanya bisa menduga-duga kemana wanita yang diyakininya sebagai Lily ini akan pergi.
oo000oo0000oo000oo
Lily melanjutkan langkahnya setelah memebeli bunga menuju pinggir sungai. Lalu menyenderkan tubuhnya ke tembok pembatas. Ia sudah berkeliling Spinner's End untuk mencari sungai ini. Karena sungai inilah indikatornya untuk mencapai taman bermainnya dulu.
Sungai ini sekarang sangat kotor akibat limbah pabrik tak jauh dari sana. Ia melihat sekitar, mencoba mengorek memorinya tentang sungai ini. Dahulu sungai ini cukup bersih, ia bahkan bisa duduk dengan santai di bawah pohon rindang dipinggirnya. Tetapi pohon itu kini tidak ada, digantikan oleh tembok pembatas dan jalan setapak yang terbentang di sisi-sisi sungai.
Lily sengaja mendatangi Spinner's End. Ia ingin kembali mendatangi taman bermainnya dulu dengan Tuney, kakaknya. Lily memang memilih hari ini untuk datang, karena hari ini adalah hari ulang tahun Severus, teman terbaiknya, sahabatnya. Lily ingin bernostalgia dengan mendatangi taman bermain itu. Tempat pertama kali ia bertemu dengan Severus. Walaupun ia tahu bahwa tidak mungkin hari ini ia bisa bertemu dengan Severus disana.
Lily berdiam diri sejenak memandangi beberapa hal yang berubah dari tempat ini. Suasananya berubah. Sekeliling sungai kini begitu rapi, tak ada lagi pohon-pohon rindang dan semak-semak belukar yang berlomba untuk menutupi tepian sungai. Limbah pabrik memang telah mencemari sungai, tetapi suasana bersih masih terasa disana. Tak ada lagi tanah-tanah merah berceceran di dekat sungai, semuanya sudah rapi dan bersih. Terlihat lebih indah, tapi juga lebih menyedihkan bagi Lily. Masa kecilnya seakan hilang tanpa bekas berarti. Pohon-pohon di pinggir sungai digantikan oleh jalan setapak beralaskan bata yang kini sebagian tertutup salju kelabu.
Lily melihat sebuah jembatan yang menghubungkannya dengan daratan seberang. Ia melangkah lagi melanjutkan perjalanannya. Dulu memang ada jembatan disini, tetapi bukan jembatan seindah ini yang terbuat dari bata merah dan semen. Yah, mungkin orang-orang di sini yang telah membangunnya kembali dan memperbaikinya. Kini sungai itu cukup ramai. Padahal dulu orang-orang tak suka berada di dekat sungai itu.
Sesampainya di ujung jembatan, Lily menemukan taman bermain yang ia cari. Ia melanjutkan langkahnya ke arah taman bermain itu dengan lebih bersemangat. Ia dapat melihat bahwa taman bermain itu pun sudah berubah. Tetapi melihat taman itu berubah membuat hatinya bahagia. Pasalnya taman bermain itu kini telah diperbaiki, tidak seperti dulu saat ia masih kecil, taman bermain itu hampir ditinggalkan karena banyak mainannya yang rusak. Taman bermain itu sekarang lebih bagus dan ramai. Tetapi kali ini hanya ada beberapa anak berumur sekitar 8 sampai 12 tahun yang sedang asik bermain. Mungkin karena hari ini salju turun cukup tebal, jadi tidak banyak anak-anak yang bermain, apalagi dengan suhu udara yang semakin dingin. Terlihat beberapa jejak kaki-kaki kecil yang banyak melintasi taman itu, tanda bahwa beberapa anak lainnya telah meninggalkan taman ini beberapa saat yang lalu.
Lily menghampiri salah satu sudut taman yang dahulu adalah semak belukar. Kini sudut itu menjadi sudut tempat beberapa tanaman kecil tumbuh, dan ada pancuran air minum serta bangku taman didekatnya. Lily pun berhenti dan memejamkan mata. Mengenang semua kejadian yang pernah ia alami di sana. Sebuah cerita bersama Severus dan Tuney.
Lily membuka matanya melihat sudut itu. Semuanya begitu berbeda sekarang. Dulu di sudut itu ia pertama kali melihat Severus yang tiba-tiba muncul dari semak-semak dan menyebutnya 'Penyihir'. Dulu ia cukup tersinggung saat Severus berkata seperti itu kepadanya. Ditambah Tuney yang malah menertawakannya.
Semua memori itu berkelebat di dalam otaknya. Persahabatannya dengan Severus, betapa baiknya Severus kepadanya, dan betapa Severus begitu berarti untuknya.
Hari ini, ia sengaja mendatangi taman ini hanya untuk mengenang masa kecilnya dulu. Dan untuk merayakan ulang tahun Severus, seorang diri.
"Happy Birthday, Sev." Ucap Lily.
Tak terasa senyum telah berkembang di wajahnya.
oo000oo0000oo000oo
Severus sangat terkejut mendengar suara itu.
Ia telah berdiri tepat di belakang wanita berambut merah itu. Tak jauh.
Itu benar-benar suara Lily.
Benar-benar suara wanita yang selama ini menjadi alasannya untuk bertahan. Wanita yang selalu menghiasi angannya sepanjang waktu. Wanita yang ia cintai setulus hati. Wanita yang selama ini selalu ia rindukan. Wanita yang ingin sekali ia temui.
Kini wanita itu sedang berada di hadapannya. Bahkan tak melupakan hari ulang tahunnya.
Lily.
Severus bingung harus berkata apa. Hatinya berdegup semakin kencang, ia tahu ini benar-benar Lily yang ia rindukan.
Severus mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan keterkejutannya. Ia berusaha mengucapkan sesuatu. Severus ingin memastikan wanita di hadapannya ini.
"Terimakasih, Lily."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Tetapi kalimat itu cukup membuat wanita di hadapannya terkejut dan membalikkan badan.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Terkejut akan pertemuan aneh ini.
Severus terkejut karena dapat bertemu dengan wanita yang dirindukannya pada hari yang ia sendiri nyaris lupa. Tak ia sangka, Lily tetap mengingat hari ulang tahunnya.
Sedangkan Lily pun terkejut karena tak disangka ia dapat bertemu dengan Severus Snape, sahabat terbaiknya. Pipinya terasa memanas karena ketahuan berada di sini. Lalu ia buru-buru menyunggingkan senyuman yang terasa kikuk.
"S..severus!"
Suasana sore itu terasa canggung. Setelah sekian lama tak pernah bertemu, pada akhirnya Severus dan Lily kini berhadapan satu sama lain.
"Selamat Ulang Tahun, Sev."
"Kau tidak melupakan hari ulangtahunku?"
"Ya. Aku tidak ingin melupakan hari ulang tahunmu."
Severus terharu mendengarnya. Ia pun tersenyum. Entah kapan terakhir kali ia tersenyum seperti ini, sudah begitu lama rasanya. Severus terlihat agak kikuk untuk menyunggingkan senyum itu.
"Terimakasih, Lils."
Lily tersenyum mendengar ucapan Severus. Ia memajukan langkahnya mendekati Severus.
"Apa kabar, Sev?"
"Aku..aku merindukanmu, Lils."
Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Severus. Lily melangkah lagi sampai kehadapan Severus. Lalu memeluknya.
"Aku juga merindukanmu."
Suara Lily bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Dari kedua mata hijaunya, menetes air mata yang membasahi bahu mantel Severus.
Severus pun membalas pelukan Lily. Air mata membasahi pipinya.
Pertemuan yang aneh, tetapi sangat membahagiakan bagi Severus. Akhirnya ia dapat bertemu dengan Lily, menatap mata hijau favoritnya, memeluknya, dan mendengar suaranya. Sungguh betapa Severus telah lama menantikan momen seperti ini. Dapat bertemu kembali dengan pujaan hatinya, cinta sejatinya.
Severus pun melepas pelukan Lily dan mengajaknya duduk di bangku taman. Kecanggungan di antara keduanya pun mulai mencair. Severus dan Lily mengobrol banyak hal. Semua berkisar tentang mereka dan masa kecil mereka. Mengenang masa lalu yang indah bersama Lily. Tertawa dan tersenyum mengingat kekonyolan yang mereka lakukan waktu kecil. Seolah itu adalah cerita kemarin sore.
Ya, hanya dengan Lily, Severus bisa tertawa lagi, tersenyum tanpa beban. Severus tak perlu bersandiwara ataupun menjaga imejnya di depan Lily, karena hanya di hadapan wanita ini ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Betapa bahagianya ia dapat duduk lagi bersama Lily di hari ulang tahunnya kali ini. Kesempatan yang amat langka sejak bertahun-tahun silam. Di sini tak ada James Potter yang mengganggu, tak ada Sirius Black yang memusuhinya, hanya ia dan Lily, di taman bermain ini, ditemani salju awal tahun Spinner's End. Ia ingin terus seperti ini.
Matahari semakin condong ke ufuk barat, warna merah merona mulai menghiasi langit. Entah sudah berapa lama Severus mengobrol dengan Lily, ia ingin mengobati kerinduannya pada wanita yang satu ini.
Terdengar tak jauh dari tempat mereka duduk, di bawah sebuah pohon kenari, seorang anak perempuan kini sedang menangis, ditemani kakak laki-lakinya yang berusaha meredakan tangis adiknya. Tetapi kelihatannya tidak berhasil. Anak perempuan itu menangis semakin menjadi-jadi.
Lily pun bangkit dari duduknya dan mengajak Severus untuk menghampiri kedua anak tersebut.
"Hallo. Kenapa kau menangis, manis?" Tanya Lily seraya merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan anak itu, sedangkan Severus berdiri di belakangnya.
Anak itu tak menggubrisnya. Ia tetap saja menangis.
Lily kini menatap anak laki-laki di sebelahnya.
"Apa kau tahu kenapa adikmu menangis?"
Anak itu mengangkat bahunya, "Aku tidak tahu. Dari tadi kami hanya sedang mencoba membuat boneka salju, tapi tidak berhasil. Lalu dia menangis." Jawab si kakak.
Lily tersenyum mendengar jawaban anak itu. Ia mengerti. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia memandang kedua anak itu, lalu menolehkan wajahnya ke arah Severus, menatapnya penuh arti. Lily pun mengembalikan pandangannya kepada kedua kakak adik tersebut.
"Baiklah, kami akan membantu kalian membuat boneka salju lagi. Tapi kali ini kau harus berjanji tidak boleh menangis." Ucap Lily seraya mengusap pipi si adik. Anak itu pun mulai berhenti menangis.
"Sungguh, kalian akan membantu kami?" Tanya si kakak.
"Mm..hmm.." jawab Lily dengan anggukan.
"Horeeee!"
"Ayo kita mulai kumpulkan saljunya." Ajak Lily.
"Ayo, Mandy." Ajak si kakak kepada adiknya.
"Ayo, Sev!" Teriak Lily pada Severus.
Severus hanya terdiam melihat ide yang baru saja dilontarkan Lily. Ini gila. Ia tak habis pikir dengan ide Lily ini. Ia sudah tua, mana mungkin ia bermain permainan anak kecil seperti ini. Lagipula ia tidak pernah membuat boneka salju. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya. Ingin rasanya ia menolak ide ini. Tetapi Severus seakan tidak punya kuasa, egonya mengalahkannya, ia lebih tidak ingin kehilangan waktunya bersama Lily. Maka dengan enggan ia pun mulai menggerakkan kakinya dan turut membantu Lily dan kakak beradik itu mengumpulkan salju.
Mereka bertiga kini sibuk mengumpulkan salju untuk dibentuk menjadi 3 bola salju. Kemudian bola-bola itu mereka tumpuk dari yang ukurannya paling besar ke yang ukurannya paling kecil. Severus mempunyai tugas lain, ia memilih membantu mereka dengan mencari ranting pohon untuk dijadikan tangan, dan beberapa biji kenari yang sudah jatuh untuk mata dan hidung si boneka. Dengan begini ia memiliki kesempatan untuk memperhatikan Lily dari jauh.
Lily masih secantik dulu, pikir Severus.
Sebuah boneka salju telah terbentuk. Mereka berempat puas dengan hasil kerja masing-masing. Dan kedua kakak beradik itu terlihat gembira karena berhasil membuat sebuah boneka salju.
Butiran-butiran salju mulai turun dari langit. Hujan salju pertama di awal tahun ini. Mereka masih terus menghias boneka salju buatan mereka. Tetapi kemudian boneka itu ambruk terkena tumpukan salju dari atas dahan pohon kenari yang mereka teduhi. Bukannya sedih, kedua kakak beradik itu malah tertawa melihat boneka mereka hancur berantakan. Lily dan Severus pun ikut tertawa melihat mereka.
Tak lama, seorang ibu muda berteriak memanggil nama kedua anak tersebut. Hari sudah semakin sore. Matahari sudah mencondongkan cahayanya di ufuk barat. Warna merah merona dan kelabu semakin luas menyinari langit. Ditambah hujan salju yang kali ini turun, menyemarakkan suasana sore itu.
Kedua anak itu berpamitan kepada Lily dan Severus untuk pergi pulang bersama ibu mereka. Kini hanya ada mereka berdua di taman bermain itu. Semua anak telah pergi mmenuju rumah masing-masing.
Severus melihat Lily membungkuk di bawah pohon kenari tadi dan menghampirinya. Ia melihat Lily membentuk bongkahan salju kecil didepannya.
"Aku rindu bermain disini, Sev." Ucap Lily saat Severus terlihat bingung dengan apa yang ia ucapkan. "Maukah kau membantuku membuat boneka salju yang lebih kecil?"
Severus tersenyum.
"Oke."
Severus dengan sukarela membantu Lily membentuk bongkahan lainnya untuk dijadikan boneka salju mini. Di bawah hujan salju yang masih mengguyur, mereka bersama-sama membuat boneka salju.
"Nah, sudah." Ucap Lily seraya berdiri dan menatap boneka itu.
Boneka salju itu kini berada tepat di bawah pohon kenari, terlihat bersender di samping batang pohon besarnya. Severus yakin kali ini boneka tersebut tidak akan hancur tertimpa tumpukan salju dari atas, meskipun hujan salju.
Hari sudah semakin larut. Matahari sudah setengah menenggelamkan diri di penghujung horizon.
Lily melirik jam tangannya. Sudah pukul 7, waktunya ia berpamitan kepada Severus.
Lily merogoh kantong mantelnya dan mengeluarkan tongkat sihirnya. Ia teringat bahwa ia belum memberikan kado apapun kepada Severus. Ia menarik tangan Severus dan menengadahkan telapak tangannya. Dengan lambaian tongkatnya, ia menyihir sebuah gantungan kunci berbentuk rusa betina. Lalu menaruhnya diatas telapak tangan Severus.
"Ini untukmu, Sev. Maaf hanya ini yang bisa aku berikan."
Terimakasih, Lily.
Didalam hati, Severus terharu dengan apa yang baru saja Lily berikan kepadanya. Ia menatap hadiah dari Lily ini. Sebuah gantungan kunci bermaterialkan kaca. Mengingatkannya akan patronus kepunyaannya, patronus yang sama dengan kepunyaan Lily. Bukti bahwa ia sangat mencintail Lily.
"Terimakasih."
Lily tersenyum melihat Severus yang sepertinya menyukai hadiah darinya. Ia memasukkan kembali tongkat sihirnya kedalam mantel.
"Sama-sama, Sev."
Lalu Lily menarik tangan Severus dan mengajaknya meninggalkan taman bemain itu. Severus menyimpan hadiah itu di dalam kantong mantelnya, agar ia tetap terus memegangnya selama perjalanan pulang. Mereka berjalan menyusuri sungai dan melewati jembatan sambil mengobrol mengenang masa kecil mereka di tepian sungai itu. Hujan salju belum juga mereda, tetapi mereka tidak peduli dan terlihat tengah menikmati obrolan mereka.
Sepanjang jalan menuju rumah Severus, mereka malah terdiam, seperti suasana sepi jalanan Spinner's End yang kini mereka lewati. Entah bagaimana, suasana ini begitu canggung bagi seorang Severus. Tetapi ia tetap menikmatinya, karena ia melihat Lily juga menikmati kesunyian ini.
"Hujan salju itu selalu indah. Lembut, sunyi, rapuh, dan damai." Ucap Lily tidak kepada siapapun. Severus tak menggubrisnya, ia membiarkan Lily menikmati kata-katanya tersebut.
"Lily, maukah kau mampir sebentar kerumahku?" Tanya Severus saat mereka berada di depan pintu rumahnya.
"Oh, mungkin lain kali, Sev." Jawab Lily, lembut. "Maaf, kali ini aku tidak bisa. Sudah terlalu larut. Aku takut terlalu malam nanti aku pulang."
Ada sebersit rasa kecewa di dalam hati Severus.
"Baiklah. Kalau begitu akan ku antar kau sampai halte bus."
"Terimakasih, Sev. Itu tidak perlu. Lagipula haltenya dekat kok dari sini. Kau istirahatlah di dalam." Ucap Lily. "Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja." Sambung Lily cepat saat ia melihat Severus akan mengajukan protes.
"Baiklah kalau itu maumu." Ucap Severus, pasrah. "Terimakasih untuk hari ini, Lily. Terimakasih banyak."
"Sama-sama, Sev. Aku juga berterimakasih untuk hari ini. Bertemu denganmu dan mengobrol banyak." Ucap Lily. "Selamat tinggal, Sev."
"Selamat tinggal."
Dan sekali lagi sebelum meninggalkan Severus, Lily mengucapkan, "Happy Birthday, Severus."
Severus melihat Lily berjalan menjauhi rumahnya dalam alunan hujan salju. Ia pun memegang kenop pintu rumahnya sambil masih melihat kepergian Lily.
"Terimakasih, Lily."
Lalu Severus pun masuk ke dalam rumahnya yang hangat. Menggantungkan mantelnya dan melepas sepatu bootnya yang basah. Menggantinya dengan sepatu yang baru. Rumah ini sepi. Terkadang ada peri rumah yang bernama Kreacher yang membantunya merapikan rumahnya setiap dua kali sepekan. Seharusnya hari ini peri rumah itu datang, tetapi dari pagi hingga menjelang malam seperti ini belum terlihat sosoknya di manapun di dalam rumahnya. Sepertinya ia tidak akan datang kali ini.
Severus Snape tidak peduli. Ia melanjutkan langkahnya menuju perpustakaannya kembali. Ia ingin meneruskan menulis bukunya yang tadi sempat tertunda. Masih dengan hatinya yang bahagia karena bertemu Lily dan merayakan ulang tahunnya kali ini bersama wanita itu.
Severus kembali duduk di belakang mejanya dan menyenderkan tubuhnya ke atas kursi berlengannya. Betapa lelahnya ia hari ini. Mengejar Lily, bermain membuat boneka salju, dan mengobrol dengan Lily. Tak terasa semua itu menguras tenaganya. Sayup-sayup Severus memejamkan matanya.
oo000oo0000oo000oo
Suara bising yang terdengar dari luar jendela perpustakaannya membangunkan Severus dari tidur nyenyaknya. Suara bising itu ternyata berasal dari suara ramai para buruh yang baru saja selesai bekerja dan melewati depan rumahnya.
Severus bangkit dari kursi lengannya dan—
'PRANG!'
Seseorang telah menjatuhkan sesuatu di sebelah Severus Snape. Sangat berisik. Severus kontan menoleh ke arah sumber suara.
"M..mm..mmaaf Master. Kreacher salah. Kreacher sudah datang terlambat. Kreacher mengagetkan Master-nya. Kreacher menumpahkan makanan Master-nya. Kreacher bodoh. Kreacher masuk perpustakaan tanpa izin Master-nya. Kreacher—"
"Berhenti, Kreacher!"
Kreacher si peri rumah yang ketakutan dan terkejut akan gerakan mendadak Tuannya akhirnya langsung terdiam setelah Severus memberikan perintah.
Severus mencoba mengumpulkan nyawanya yang masih terawang-awang setelah tertidur tadi.
"Jam berapa sekarang, Kreacher?"
"J..jjam 4, Sir." Jawab Kreacher masih ketakutan.
Jam 4?
Severus berfikir sejenak.
Jadi, tadi itu hanya mimpi?
oo000oo0000oo000oo
Di salah satu sudut gang kecil yang berseberangan dengan rumah Severus Snape, seorang pemuda berusia sekitar akhir 20, menjentikkan tongkat holly-nya, memutuskan mantra Imperius dari tubuh Severus Snape. Ia baru saja selesai mengawasi Severus Snape melalui salah satu jendela perpustakaannya.
"Happy Birthday, Profesor."
Harry Potter membalikkan tubuhnya dan tersenyum kepada sesosok wanita yang kini berada dihadapannya. Sosok itu telah menunggunya sedari tadi. Sesosok tubuh ibunya yang berwujud lebih padat dari hantu, tetapi lebih transparan dari manusia. Harry masih terus menggenggam batu kebangkitan di tangan satunya.
"Terimakasih, Harry."
Sosok itu tersenyum lembut kepada Harry.
"Mum, apakah tidak apa-apa kita melakukan ini semua kepadanya?"
"Lebih baik seperti ini ketimbang kita tidak memberikan apa-apa kepadanya, Harry. Aku cukup mengenal Sev. Ia tidak suka mengingat-ingat hari ulang tahunnya, apalagi dengan perayaan. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya tanpa membuatnya tersinggung."
"Tetapi, sepertinya dia sangat menikmatinya. Aku jadi merasa sedikit bersalah. Dia terlihat benar-benar merindukanmu, mum." Ucap Harry. "Mum, apa kau tahu kalau dia sangat mencintaimu?"
"Ya, aku tahu. Tetapi aku telah memilih ayahmu. Dan aku tidak akan memilih siapapun lagi. Severus hanya kuanggap sahabatku, Harry. Yang aku cintai hanyalah ayahmu."
Harry tersenyum mendengar jawaban ibunya.
"Terimakasih, Mum."
"Aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu, nak." Ucap Lily. "Terimakasih atas bantuanmu ini. Aku tahu ini permintaan yang sulit, dan pastinya merepotkanmu. Tetapi kau mewujudkannya dengan sangat baik. Terimakasih banyak, anakku."
Harry mendengus sambil tersenyum. "Tidak, Mum. Ini tidak serepot yang kau bayangkan. Lihat, surat izin resmi penggunaan mantra Imperius ini datang dari Perdana Menteri Shacklebolt sendiri. Dia yang menjamin bahwa aku tidak melanggar hukum." Harry mengeluarkan sepucuk surat berstempel resmi Kementrian Sihir dari dalam jubahnya.
"Aku senang bisa membantumu. Aku senang bisa membuat Profesor Snape bahagia. Dia memang memerlukan itu."
"Aku bangga padamu, Harry." Ucap Lily dengan senyumnya.
Harry pun ikut tersenyum mendengar perkataan ibunya.
"Well, sepertinya tugasku sudah selesai. Aku akan kembali ke kantor Auror sebentar, lalu pulang ke rumah. Kurasa, Ginny telah menungguku dengan masakannya. Dan nanti kalau aku bertemu Kreacher, aku perlu berterimakasih padanya."
Lily tersenyum geli mendengar perkataan anaknya. "Berhati-hatilah untuk tidak membebaskannya, nak. Kau tahu peraturannya." Ucap Lily. Harry hanya meringis mendengarnya. "Kalau begitu, selamat tinggal, Harry."
"Selamat tinggal, Mum. I love you."
"I love you, son."
Harry melepaskan genggamannya pada Batu Kebangkitan, lalu sosok bayangan ibunya pun ikut lenyap seiring terlepasnya batu itu dari genggamannya. Ia menaruh kembali batu itu ke dalam saku jubahnya. Tugasnya memberikan ilusi mimpi berupa sosok ibunya kepada Severus Snape melalui mantra Imperius telah selesai. Kalau bukan ibunya yang memintanya di dalam mimpinya, dan kalau bukan untuk Profesor yang ia banggakan ini, mungkin Harry akan menolaknya. Tapi Harry tahu, setelah bertahun-tahun dalam kesendirian, Severus Snape jarang memperhatikan kebahagiaannya. Harry berfikir ia butuh tertawa dan tersenyum sesekali, karena itu ia mau menjalankan ini semua.
Untung saja Perdana Menteri Shacklebolt mengerti situasinya dan memberikannya surat izin resmi penggunaan kutukan Imperius secara legal. Kalau tidak, entah bagaimana lagi caranya ia dapat mewujudkannya. Suatu ide bodoh kan kalau ia membentuk inferius yang serupa ibunya dan menjalankannya senatural mungkin? Hal gila. Profesor Snape pasti akan dengan mudahnya membongkar rencana itu. Lagipula, Harry tidak pernah punya pengalaman menciptakan inferius, apalagi mengendalikannya.
Maka, jalan satu-satunya adalah menggunakan salah satu kutukan berbahaya itu. Ia pernah menggunakannya sekali pada seorang goblin, karena itu ia yakin kali ini ia bisa berhasil melakukannya pada Profesor Snape.
Harry Potter melihat jalan sekitar Spinner's End. Begitu ramai dengan orang-orang yang baru saja pulang dari pabrik. Harry melihat lagi sepintas jendela perpustakaan rumah Severus Snape. Ia melihat Severus sedang berada di balik jendela itu, memperhatikan sesuatu ke arah yang berlawanan dengan posisinya sekarang.
"Selamat Ulang Tahun, Profesor Snape."
Lalu ia pun ber-disapparate meninggalkan Spinner's End dengan bunyi 'pop' pelan.
oo000oo0000oo000oo
Severus sedang berdiri di depan jendela perpustakaannya yang mengarah ke jalan. Kreacher baru saja keluar dari ruangan ini setelah membersihkan makanan yang ia tumpahkan tadi. Dan Severus memintanya untuk tidak mengganggunya dulu di dalam ruangan ini. Ia sedang merenungi kejadian yang baru saja dialaminya.
Itu benar-benar mimpi.
Ya, hanya mimpi.
Lily tidak mungkin hidup kembali. Tidak mungkin dia berada disini. Dia sudah bahagia dengan James Potter disana.
Ya, pasti mereka bahagia disana. Aku hanya terlalu merindukannya.
Lily memang sudah meninggal.
Severus masih menatap kosong ke arah jalanan. Pikirannya entah pergi melayang kemana. Mimpi itu terlalu membahagiakan untuknya. Bertemu dengan Lily, benbincang, dan bermain dengannya, semua terlalu membekas di hati Severus setelah sekian lama ia tak pernah bertemu dengan Lily. Perayaan hari ulang tahunnya yang sangat sederhana namun sangat berkesan.
Ada rasa kecewa saat ia menyadari bahwa itu semua hanyalah mimpi. Severus ingin sekali berharap bahwa itu adalah kenyataan. Tetapi, seperti yang disadarinya, Lily sudah meninggal, ia tak mungkin bisa bertemu dengan Lily di Spinner's End ini. Lebih baik ia cukupkan keinginannya pada sebuah mimpi itu saja. Hanya karena dalam mimpi semua hal bisa menjadi mungkin. Dan itu harus cukup membuatnya bahagia.
Severus membawa kembali kesadarannya ke dalam tubuhnya. Cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela, kini menyilaukan matanya. Ia pun beranjak dari posisinya, berjalan menuju sofa di dekat perapian dan mendudukkan tubuhnya di sana.
Severus menangkup wajahnya dengan kedua tangnnya. Ia memejamkan matanya, kembali merenungi mimpinya tadi. Mengingat-ingat kembali setiap kejadian yang ia alami di dalam mimpi itu. Mengenang tiap momen ia bersama dengan Lily. Rasanya sungguh menyenangkan. Seperti nyata.
Severus Snape bangkit meninggalkan perpustakaannya. Ia merasa butuh udara segar saat ini. Pikirannya terlalu berkecamuk. Ia tidak dapat meneruskan bukunya dulu. Ia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Maka, ia pun menyambar mantel dan syalnya dari gantungan dan keluar memasuki udara dingin.
Jalanan Spinner's End saat ini sudah tidak terlalu ramai, mungkin para buruh sudah sebagian besar pulang. Severus mencoba berjalan ke tempat yang lebih ramai. Ia terhenti sejenak saat melihat sebuah toko bunga tempat Lily membeli bunga di dalam mimpinya.
Tiba-tiba saja Severus merasa rindu dengan taman bermainnya dulu.
Mungkin berada sebentar di sana tidak apa-apa, pikir Severus.
Ia memutuskan untuk menyusuri jalan yang tadi ia lewati dalam mimpinya saat membuntuti Lily.
Taman bermain itu kini telah sepi, beberapa anak terlihat baru saja meninggalkan taman setelah dipanggil oleh orangtuanya. Tetapi Severus melihat sesosok wanita bermantel kotak-kotak berdiri membelakanginya, sendiri.
Severus merasa cukup familiar dengan wanita itu. Ia mendekatinya.
"Petunia?"
Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap ke sumber suara.
"Oh, Severus!" Terlihat oleh Severus air mata menggenangi pelupuk mata wanita itu. "Maaf.. Maaf.. Aku.."
Wanita itu buru-buru mengusap air matanya dengan sarung tangan yang ia kenakan.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Severus.
"Aku..aku hanya sedang melihat-lihat taman bermain ini. Yah, sekarang sudah diperbaiki. Tampak jauh lebih baik. Begitu... rapi dan ramai. Tadi banyak anak kecil yang bermain di sini."
Severus mendengarnya seolah tak percaya dengan ucapan wanita ini barusan. Tak perlu menangis kan hanya untuk sekedar melihat-lihat?
Petunia menangkap raut ketidakpercayaan di wajah Severus. Ia memang berbohong barusan. Ia ke sini bukan sekedar untuk melihat-lihat. Ia merindukan adiknya, Lily. Karena itu ia memilih tempat ini untuk mengenang adiknya, mengobati rasa rindunya.
Mereka saling diam beberapa saat. Mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Aku merindukan Lily." Ucap Petunia.
Severus tertegun dengan ucapan wanita itu barusan. Ia refleks menatap Petunia. Ia tahu betul bahwa Petunia membenci adiknya selama ini.
Petunia menoleh ke arah Severus.
"Aku memang merindukan adikku. Karena itu aku kebsini. Aku tak pernah membencinya, hanya saja aku sangat iri padanya karena mempunyai kemampuan sihir. Sedangkan aku hanya seorang Mug..mug—"
"—Muggle." ucap Severus.
"Ya, Muggle. Manusia biasa tanpa kemampuan sihir." Ucap Petunia. "Seandainya aku dapat bertemu dengannya lagi, aku ingin meminta maaf padanya. Dia saudara perempuanku satu-satunya."
'PIIIM PIIIIIIIM'
Suara sebuah klakson mobil yang di parkir di luar taman bermain cukup memekakkan telinga. Mengalihkan perhatian Severus dan Petunia ke arah mobil tersebut. Seorang lelaki gemuk beruban terlihat berada di belakang kendali mobil, menatap kearah mereka.
"Aku harus pergi, Severus. Selamat tinggal." Ucap Petunia.
Severus hanya menganggukkan kepala. Kemudian ia melihat Petunia melangkah ke arah mobil tersebut, memasukinya, dan pergi bersama mobil itu meninggalkan taman bermain.
Kini hanya tinggal Severus seorang diri di taman bermain itu. Hari sudah mulai gelap, matahari sudah tinggal sedikit menyembul di ujung horizon. Severus melangkahkan kakinya menuju bangku taman di dekatnya. Ia duduk termenung menatap taman bermain yang kosong itu.
Hujan salju turun seolah menemaninya dalam kesendirian ini. Severus menatap sebuah gundukan salju di bawah pohon kenari di kejauhan, sebuah rasa penasaran mengusiknya untuk menghampiri pohon itu.
Severus menemukan sebuah boneka salju mini di bawah pohon kenari itu. Ia ingat betul bentuk boneka ini, boneka yang sama yang ia buat bersama Lily saat di mimpinya tadi.
Severus merendahkan diri untuk memperhatikan dengan seksama boneka itu. Semua hiasannya, posisinya, bentuk bola saljunya, sama persis seperti yang ada dalam mimpinya.
Perasaan hatinya kembali membuncah. Ia berlutut.
Lily?
Severus menengok memperhatikan sekitar, mencari-cari kemungkinan bahwa benar-benar pernah ada Lily di sini. Tapi tidak ada siapa-siapa. Taman itu sepi. Bahkan jalanan pun sepi. Semua orang memilih berada di dalam rumah saat hujan salju turun seperti sekarang ini. Tidak mungkin ada Lily. Tumpukan salju bekas boneka salju yang lebih besar seperti di mimpinya pun tidak ada di manapun dalam taman itu. Mungkin hanya kebetulan saja boneka ini sama persis dengan yang ada di dalam mimpinya.
Severus kembali merenung menatap boneka salju itu. Mengingat kembali semua kejadian bersama Lily. Ada rasa sedih di hatinya saat mengingat ini semua hanya mimpi, hanya sebuah kebetulan.
Severus mencoba merogoh kantong mantelnya, berharap menemukan sesuatu di sana, sesuatu yang ia ingin yakini bahwa ia benar-benar memilikinya.
Dan ia menemukannya. Di genggamnya benda itu dan dikeluarkannya tangannya dari dalam kantong.
Jantungnya berdegub kencang. Ada perasaan was-was di hati Severus kalau saja benda ini bukan seperti yang ia harapkan. Ia menatap genggaman tangannya dan perlahan membukanya.
Persis seperti yang ia duga. Sebuah gantungan kunci berbentuk rusa betina yang terbuat dari kaca.
Lily.
Severus tersenyum, ia tak kuasa menahan air matanya yang menetes. Kado ulang tahun dari Lily benar-benar nyata ada di tangannya. Betapa bahagianya Severus.
Terlepas dari apakah ia bermimpi atau tidak, Severus benar-benar bahagia dapat bertemu kembali dengan Lily. Inilah perayaan ulang tahunnya yang paling berkesan.
Lily mengenalnya, Lily tahu bagaimana merayakan ulang tahunnya tanpa terlihat berlebihan. Karena itu pula ia mencintai Lily.
"Terimakasih, Lily." Ucap Severus. "Terimakasih."
SELESAI
catatan author : mohon maaf kalo logika tentang Ressurection Stone dan Unforgivable Curse : Imperius -nya keliru. Apalagi tentang bapak-bapak dan ibu-ibu umur 40-an masih mainan sama anak kecil untuk bikin boneka salju, dirasa janggal dan nggak masuk akal. Sungguh saya masih butuh banyak belajar untuk membuat fic yang semua aspeknya berkesinambungan satu sama lain. Khusus untuk fic ini, semata-mata hanya ide dari otak saya yg memang rada-rada :D

Monday, 16 January 2012

Severus Snape Memang Abu-Abu by Hikari Tenshiro

Severus Snape Memang Abu-Abu by Hikari Tenshiro

Link asli di sini

"You are here to learn the subtle science and exact art of potion-making. As there is little foolish wand-waving here, many of you will hardly believe this is magic. I don't expect you will really understand the beauty of the softly simmering cauldron with its shimmering fumes, the delicate power of liquids that creep through human veins, bewitching the mind, ensnaring the senses... I can teach you how to bottle fame, brew glory, even put a stopper on death — if you aren't as big a bunch of dunderheads as I usually have to teach." —Snape teaching Potions. (source: Harry Potter Wiki)

--------------------------------------------------------------------------------

Severus Snape Memang Abu-abu

Warning and Disclaimer:

Harry Potter © J.K. Rowling

All the words flow – all my OCs – and nearly the whole idea © Hikari Tenshiro

OOC, one-shot, drabblish, canon, Indonesian, jumped timeline, full description, gaje, lebay, Friendship/Drama/Romance/Family/Hurt/Comfort/Fantasy RnR, also DON'T LIKE DON'T READ

A fic from Hikari Tenshiro for Harry Potter in Snape Day

--------------------------------------------------------------------------------


.

.

Severus Snape memang abu-abu.

Pertama kalinya calon-calon anggota Marauders melirik Severus di kompartemen Hogwarts Express, mereka langsung tahu bahwa bocah berambut klimis ini adalah tipikal kutu buku yang sangat seru untuk dipermainkan, yang takkan menyerang balik jika James berani menyihir rambutnya menjadi tegak landak, takkan berani merengek pada guru, dan takkan bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkan teman perempuan-nya membelanya ("Namanya Lily?" James berbisik pada Sirius. "Oke juga tuh.") habis-habisan. Sangat, sangat cocok menjadi bahan tertawaan.

Namun Marauders tidak pernah tahu kenyataan di balik sikap pasrahnya itu, bahwa sebenarnya Snivelly selalu menggumam setiap malam, berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan mengalahkan mereka dalam pelajaran apapun (agar bisa menangkal sihir mereka) maupun berusaha agar dia terkenal, lalu lebih banyak orang yang menentang kelakuan James, Sirius, Remus, dan Peter. Suatu hari nanti, dia bisa.

--------------------------------------------------------------------------------

.

.

Severus Snape memang abu-abu.

Pertama kalinya frase penuh penghinaan berbunyi 'darah lumpur' terlontar dari bibirnya, Severus langsung menyesal. Frase itu tepat menusuk perasaan Lily Evans yang sangat dia sukai, membuatnya langsung berbalik badan dan menangis. Teman-teman berdasi hijaunya boleh saja menepuk punggungnya dan tertawa bangga, menganggapnya pantas untuk meneruskan nama baik Salazar Slytherin, tapi tetap saja itu bukan Sev yang sebenarnya.

Yang dia tahu, asrama Slytherin adalah tempat bagi mereka yang sangat bersemangat untuk meraih ambisinya, dan sayang sekali banyak orang yang meraihnya dengan cara yang salah. Laki-laki bermata hitam itu mungkin ambisius, tapi untuk dan dengan cara yang benar. Ambisinya adalah menjadikan Lily sebagai kekasih yang mencintainya apa adanya, dengan cara merebut hatinya tanpa perlu memaksa.

--------------------------------------------------------------------------------

.

.

Severus Snape memang abu-abu.

Banyak penyihir di Inggris yang tahu bahwa Snape akhirnya bekerja sebagai guru Ramuan di Hogwarts. Banyak penyihir yang tahu bahwa sebagai alumni asrama Slytherin, Snape akan menjadi Pelahap Maut bersama dengan Kau-Tahu-Siapa. Banyak juga penyihir yang tahu bahwa Snape selalu berambisi menjadi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Dan setelah mengetahui fakta-fakta itu, banyak penyihir dewasa yang sudah memiliki anak nyaris 11 tahun langsung mengirim surat pertanyaan (atau protes?) kepada Albus Dumbledore atas keputusannya mempekerjakan Snape, karena takut dia justru akan mengajarkan Ilmu Hitam itu sendiri kepada anak-anak mereka.

Namun Dumbledore sanggup mematahkan isu tersebut, karena dia sendiri percaya pada Snape. Dia akan selalu percaya bahwa alumninya itu bisa menjadi mata-mata yang bagus dalam misi menghancurkan Lord Voldemort, dan jati dirinya sebagai domba berbulu serigala. Kepala sekolah baik hati itu yakin 100% mengenainya.

--------------------------------------------------------------------------------

.

.

Severus Snape memang abu-abu.

Bagi murid-murid Gryffindor, Ravenclaw, maupun Hufflepuff, sosok guru berambut klimis ini adalah bencana. Yang dia ajarkan adalah Ramuan, setengah berbahaya dan sama saja dengan memasak makanan untuk raja agung pemarah – enak atau dipancung. Belum lagi kalau mereka berbuat kesalahan, sekecil apapun itu, poin mereka akan langsung dipotong dengan mengenaskan. Kejam, sungguh kejam. Profesor McGonagall yang pelit itu pun masih lebih dermawan dari Profesor Snape.

Namun bagi anak-anak Slytherin, inilah penyelamat Piala Asrama mereka. Tanpa kehadiran Profesor Snape, butiran batu emerald hijau dalam jam pasir raksasa milik mereka akan selalu bertambah, sementara yang lain menghilang dan tertinggal jauh dari mereka.

--------------------------------------------------------------------------------

.

.

Severus Snape memang abu-abu.

Sejak awal, pengajar Ron dan Harry ini sudah menunjukkan kebenciannya tanpa alasan. Dan sejak awal saat pertama kalinya dia memotong poin Gryffindor atas hal sepele, mereka berdua sudah membencinya. Tidak mengerti mengapa Profesor Dumbledore mau memasukkan Pelahap Maut yang model seperti ini, kedua sahabat selalu mengucapkan makian saat dia kesulitan dalam pelajaran Ramuan.

Namun Ron juga tidak bisa berkata apa-apa, saat dia tahu kalau Snape-lah yang menyelamatkan Harry dari kutukan Profesor Quirrel di kelas 1. Tanpa rapalan mantranya, mungkin bocah itu sudah terjatuh dengan mengenaskan dari sapu terbangnya menuju lapangan Quidditch sebelum bisa menangkap Snatch pertamanya.

--------------------------------------------------------------------------------

.

.

Severus Snape memang abu-abu.

Sebagai mantan anggota Marauders yang satu angkatan dengan Snape, si werewolf Remus Lupin kadang tidak yakin dengan ramuan yang diberikan ahli ramuan itu setiap menjelang bulan purnama. Dia sering takut kalau Snape dendam padanya, lalu meracuni ramuan yang bisa mencegahnya mengamuk selama masa perubahannya menjadi serigala. Kalau efeknya sama saja, bisa-bisa dia harus kehilangan pekerjaan sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.

Dan Snape selalu dengan serius (apa dia tidak punya ekspresi lain?) menanggapi, "Minum saja, tak usah banyak protes."

Benar saja, dia bisa tertidur dengan nyenyak malam itu, ditemani oleh sinar rembulan bulat penuh. Menyenangkan, seperti setiap bulan purnama ditambah ramuan Snape adalah mimpi terindah baginya.

--------------------------------------------------------------------------------

.

.

Severus Snape memang abu-abu.

Kadang Harry tidak mengerti, apa maksud perlakuan Profesor Snape terhadapnya, dan mengapa Profesor Dumbledore memilih guru Ramuan termenyebalkan satu itu untuk mengajarnya – bahkan mengapa orang seperti itu boleh masuk Order of the Phoenix? Lihat saja waktu dia kelas 5, Occlumency yang diajarkan Snape padanya tidak pernah berhasil. Lalu menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam di kelas 6. Membunuh atasannya sendiri. Dan menggantikannya sebagai kepala sekolah. Membiarkan Ilmu Hitam diajarkan di Hogwarts. Guru macam apa itu?

Namun Harry tahu, Snape masih memiliki persediaan kebaikan untuknya. Saat di kelas 5, Snape-lah yang mengantarkan pesan untuk anggota Orde. Dan setelah melihat isi pikiran Snape sebelum dia meninggal di Pertempuran Hogwarts, Harry perlahan mengerti. Mereka mencintai orang yang sama, Lily Potter – yang satu dengan cinta eros dan yang satu lagi kasih storge – dan itulah alasan utama Severus Snape untuk menolongnya selama ini.

Dasar laki-laki abu-abu.

Dan setelah semua kebencian yang tergantikan oleh perasaan menyesal ini, Harry ingin sekali memberi penghormatan pada guru Ramuannya. Nama untuk satu-satunya anak kandungnya yang memiliki mata seperti mata Lily, adalah Albus Severus Potter.

Selamat tidur panjang yang nyenyak, Severus Snape...

--------------------------------------------------------------------------------

Dedicated to the grey fiction hero, Severus Snape (aged 38)

Spinner's End, Cokesworth, January 9th 1960 - Shrieking Shack, Hogsmeade, May 2nd 1998

Wednesday, 12 January 2011

Father of Mine by aicchan

Father of Mine by aicchan
Link asli ada di sini

"Dia memilihmu, Severus."

Dua permata hitam itu memandang sosok kecil yang tertidur pulas dalam gendongan Albus Dumbledore, kepala sekolah dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry. Penyihir yang disebut sebagai orang paling sakti di seluruh Inggris.

"Lily dan James mempercayakan putra semata wayang mereka padamu."

Luka dan duka yang belum sembuh sepenuhnya sekali lagi terasa perih mengiris hatinya. Namun perih itu perlahan memudar begitu Severus melihat bayi berumur 18 bulan itu perlahan terbangun dan membuka kelopak matanya, menampakkan dua kilau emerald sempurna. Kilau yang dulu hingga saat ini mengikat hati Severus pada satu cinta, kilau yang telah menyelamatkannya dari kegelapan.

Anak ini adalah putra dari wanita yang senantiasa dicintai oleh Severus, sepenuh hatinya. Meski anak ini bukan miliknya...

"Severus..."

Suara tua Dumbledore membuyarkan lamunan Severus, "Jika itu keinginan Lily, aku tidak akan menolaknya." Kedua tangannya terulur, mengambil bocah berambut hitam itu dari tangan Albus. Saat berat tubuh bayi itu menyentuh tubuhnya, ada getar hangat yang tak pernah Severus rasakan.

"Harry Potter... bukan... tapi Harry Snape..."

Si bayi tersenyum lebar, menggapai wajah Severus dan tertawa-tawa.


xoxoxoxoxoxoxox

oxoxoxoxoxo

Harry Potter © JK ROWLING

Father of Mine © aicchan

Special for Infantrum Challenge Snape DAY 2011 by Ambudaff

Regular Challenge – Modified Canon

No war - Family fic/ Oneshot

oxoxoxoxoxo

xoxoxoxoxoxoxox


Warm by Sun-T

Warm by Sun-T
Link aslinya ada di sini

WARM

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Severus. S & Harry P.

Rate : T

Genre : Angst / Hurt / Comfort

Warning : OOC, Modifiate Canon, 1st PoV

A/N.

Baru kali ini saya merasa takut mem-publish fic, saya ga tau ini fic bakal jadi gimana, saya ga ngerti banget tentang karakter Severus Snape. Sebenarnya pengen batal ikutan Snape day karena saya takut ngerusak imej dia, tapi dengan semangat Bonek / modal nekat saya jadi juga bikin fic ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau ceritanya aneh atau karakternya OOC *bungkuk2*

Selamat membaca…!

.

#

.


Mata hitamku memandang lepas ke luar jendela, salju masih menutupi sebagian rumput yang tumbuh liar di luar sana. Udara juga seharusnya masih terasa dingin, tapi entah kenapa aku tak merasakan itu, apakah ini karena aku tak pernah tahu bagaimana rasa kehangatan itu sendiri?

Aku duduk di kursi kayu yang tebal diselimuti debu, tapi aku tak peduli, aku ingin memejamkan mataku sejenak, mengingat semua yang terjadi di sepanjang hidupku.

Tuesday, 12 January 2010

I Will by Slyth Sevvy

Link Asli ada di: http://www.fanfiction.net/s/5654667/1/I_Will

HAPPY SNAPEDAY...

Severitus! Fic yang menyatakan Severus Snape adalah ayah kandung Harry Potter. Don’t like Don’t read!

AU,untuk banyak hal yang diselewengkan dan plot yang tidak urut, lupakan kalau ada yang namanya Dolores Umbridge.

Spesial thanks untuk mahaguru yang sangat saya hormati dan sayangi.. Ambudaff-sama.

.

-o-o0o-o-

I Will

By Niero

Harry Potter © J.K. Rowling

-o-o0o-o-



Desember, 1979

Badai salju menderu kencang, membekukan sungai kumuh yang terbentang di sepanjang Spinner’s End, hanya suit angin yang terdengar meramaikan suasana, gelap, seakan tidak ada tanda-tanda kehidupan di lingkungan itu. Tidak ada seekor binatangpun yang menampakkan diri untuk berburu, tidak juga melantunkan suara-suara yang biasanya melengkapi iringan malam.

Tapi ada kaki yang manapak hati-hati, mungkin takut terpelesat gundukan salju. Sesosok dengan jubah dan tudung yang dinaikkan. Syal merah dengan warna senada dengan rambut panjangnya yang sedikit tersembul mengidentifikasi kalau sosok itu adalah seorang perempuan. Ia terus melangkah ke sebuah rumah, tidak perlu mengetuk ia mengancungkan tongkatnya ke lubang kunci, sesaat pintu terbuka, dan langsung masuk tanpa ragu.

“Kau sudah berjanji, Sev,” pelan suara perempuan tadi mulai terdengar di sebuah rumah sederhana yang tadi dimasukinya. “Kau tidak tahu sakitnya perasaanku melihatmu bersama para Death Eater itu, kau hanya diperbudak Voldemort! Aku hanya ingin kau keluar, Sev! Bahkan saat itu aku sudah memaafkanmu, dan kau berjanji akan keluar, tapi sekarang apa?!”