Showing posts with label Genre Romance. Show all posts
Showing posts with label Genre Romance. Show all posts

Saturday, 8 February 2014

I Think I'm In Love (Again)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini


I THINK I'M IN LOVE (AGAIN)
Severus Snape dan kawan-kawan merupakan milik JK Rowling
AU, Romance/Friendship, rate T
Tadinya untuk Giveaway Novel ITILA-nya Night dan Suu Foxie, tapi karena terlalu lama nyeleseinnya, jadi aja XD Lagipula, bukan fluff. Juga lebih dari 2K. Sekarang jadinya untuk Snape Day: Challenge Profesi Lain
-o0o-
"Sev, itu rambut merah!" bisik Filius sambil menahan tawa.
Sontak kelompok dosen yang sedang menuju kelas masing-masing itu menoleh ke arah yang dituju Filius Flitwick. Seorang pemuda tinggi kurus sedang berjalan memintas arah mereka, dengan ransel, jaket, setumpukan buku di pelukan, dan earphone di telinga. Rambutnya memang merah, dan gondrong, hingga mencolok mata.
Dosen biasanya menjaga image di depan mahasiswanya, demikian pula kawanan dosen yang ini, menahan tawa hingga melampaui kawanan mahasiswa, baru melepasnya terbahak-bahak.
"Filius! Kau ini!" sambil tersenyum lebar Minerva mendorong bahu Filius—yang lebih pendek dari rata-rata dosen yang ada di situ—main-main, sementara yang didorong bahunya terbahak. "Itu kan cowok! Lagipula, tampangnya seperti itu—"
Severus yang sedang dijadikan bahan tertawaan, hanya menyeringai. Sudah biasa.
Dosen-dosen Hogwarts University kebanyakan masih berusia muda, dan kebanyakan juga kompak satu sama lain. Kalau tidak sedang di depan mahasiswa, becandanya sama saja bagai mahasiswa. Eh, padahal ada beberapa dosen yang usianya bisa dibilang tidak muda lagi, tapi tetap saja...
Salah satu topik yang sering jadi bahan candaan adalah buat mereka yang masih jomblo. Bahkan, sesama jomblo juga sering saling meledek. Tak ada dendam, yang penting senang-senang.
Salah satu sasaran adalah Severus Snape. Tidak bisa dibilang muda lagi, usianya sudah menjelang 40. Dan masih single. Beberapa dosen mengetahui bahwa kekasih terakhirnya, Lily, berambut merah. Panjang.
Karena sampai sekarang masih saja melajang, beberapa dosen meledeknya, mungkin saja Severus mencari yang berpenampilan seperti Lily. Terutama, berambut merah.
Ya, seperti Filius tadi. Mahasiswa berambut merah juga diajukan. Hihi.
Tiba di persimpangan empat gedung, Severus melambaikan tangan. Mereka berpisah gedung, ia akan mengajar di gedung A, rekan-rekan lainnya juga berpencar, akan mengajar di gedung yang lain.
Masuk ke kelas, suasana mendadak hening. Severus memasang wajah dinginnya, menyimpan mapnya di meja, dan berdiri di depan kelas.
"Buka halaman 394," sahutnya.
Serentak mahasiswanya membuka apa yang mereka punya. Sebagian membuka textbook, sebagian lagi membuka laptop-nya menuju ebook-nya, sebagian lagi bahkan via tablet.
"Ada yang sudah membaca ramuan yang akan dibicarakan? Ada yang tahu konsekuensinya?"
Satu tangan teracung dengan antusias. Beberapa detik kemudian menyusul beberapa tangan lain, dengan ragu-ragu.
Severus menghela napas nyaris tak terlihat. Pasti dia lagi. Nona-Tahu-Segala sekaligus Nona-Pasti-Sudah-Membaca-Apa-Yang-Akan-Ditanyakan.
"Miss Granger, beri kesempatan pada orang lain—"
Tangan antusias itu turun dengan lesu.
Tetapi jawaban-jawaban lain tak memuaskannya, sehingga terpaksa ia kembali pada pilihan pertamanya.
"Bagaimana menurutmu, Miss Granger?"
Ia hampir bisa mengeja satu-demi-satu jawaban yang diucapkan Nona-Tahu-Segala ini.
Menghela napas, ia berdiri di depan kelas tinggi-tinggi, tegak-tegak. "Jawaban yang disampaikan oleh Miss Granger itu persis sama apa yang ditulis dalam buku teks. Bukan salah, akan tetapi kalian harus ingat bahwa kalian ini mahasiswa, bukan anak SMA. Bukan penghapal buku teks, tetapi harus menemukan hal baru—"
Kenapa ia harus selalu menyampaikan hal ini di depan para mahasiswa, tahun demi tahun? Kapan mereka akan sadar sendiri?
"Sekarang," ia mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, "coba kalian buat Ramuan pada halaman itu dengan mengurangi satu unsur, lalu tulis apa yang terjadi. Setelah itu, bereksperimenlah untuk menggantikan bahan yang dikurangi itu dengan bahan lain. Analisis kemungkinan apa yang akan terjadi. Kumpulkan minggu depan, tak ada kecuali. Oya, ini tugas perorangan," Severus kembali ke mejanya. Meraih map yang tadi diletakkan di sana, dan bersiap untuk keluar kelas, sebelum ia mengeluarkan perintahnya yang terakhir: "Jangan lupa buat daftar nama, unsur apa yang akan dikurangi, dan unsur apa yang akan dimasukkan sebagai pengganti. Nanti siang daftar itu sudah harus ada di mejaku di ruang dosen—"
Ia memang hanya beberapa menit masuk kelas, tapi efek tugas yang ia berikan membuat mahasiswa baru keluar dari kelas setelah didesak oleh mahasiswa lain yang punya giliran memakai kelas itu kemudian—
-o0o-
"Profesor Snape—"
Severus mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dibacanya.
Nona-Tahu-Segala itu lagi.
"Ya?"
"Daftar nama beserta unsur yang dikurangi dan unsur pengganti—" sahut gadis itu, menyerahkan selembar kertas. Rapi tersusun. Persis seperti permintaannya tadi pagi.
Diterimanya. Disimpannya di atas tablet di atas meja.
"Kau boleh keluar—"
"Terimakasih, Profesor."
Dan gadis itu keluar dari ruang dosen. Severus kembali membaca kalimat demi kalimat yang barusan ditinggalkan.
Tapi kenapa ia tidak bisa memusatkan perhatian?
-o0o-
"Coba jangan berisik kenapa sih," Hermione bersungut-sungut. Kalau bisa, sepertinya ia mending masuk ke dalam buku yang sedang dibacanya, supaya tidak terimbas keberisikan ruang belajar bersama ini.
"Yah, kalau ingin tenang sih mending belajar di Perpus, Hermione! Tapi di Perpus kan enggak bisa bikin ramuan dan menyaksikan apa yang akan terjadi pada ramuan coba-coba-mu—" belum juga Harry selesai berucap, kuali Ron sudah meledak lagi—ketiga atau keempat kalinya.
"Ron!" Hermione khawatir dan langsung mendekatinya.
"Enggak apa-apa, beneran!" Ron mengusap wajahnya yang legam terkena asap percobaannya, dengan lengan bajunya. Jelas saja kemeja putihnya berubah menjadi hitam di bagian lengan.
Ron langsung menuju meja tempat di mana laptopnya diletakkan, dan mulai mengetik. "Dari... empat... percobaan... keempatnya... berakhir... dengan... meledaknya..." dan Hermione semakin tak sabar.
"Baiklah. Kalau ada yang mencari, aku ada di Perpus ya!" sahutnya, menumpukkan bukunya, dan membawanya pergi.
"Hermione! Percobaanmu bagaimana?"
Hermione hanya melambaikan tangan, tanda percobaannya sudah selesai dari tadi, dan ia hanya menginginkan ketenangan untuk membaca.
-o0o-
Deretan buku sudah ditelusuri, sudah ada beberapa tumpuk buku untuk dibuka diletakkannya di meja. Rasanya sudah cukup, Hermione membatin.
Ia kembali ke mejanya, dan mulai membuka satu demi satu bukunya. Membuat catatan di laptopnya. Membandingkan dengan file-file yang sudah ia buat. Mencari tautan rujukan baru di internet.
Ada satu item yang sulit sekali ia temukan. Rasanya ia pernah membacanya di buku. Coba ia cari dulu di internet.
Tapi tak diketemukan. Mungkin kata kunci pencarinya bukan itu?
Hermione mencari lebih lanjut.
Masih belum ia temukan.
Baiklah.
Mungkin bisa ia cari manual di buku. Kalau tidak salah bukunya—
—Hermione baru ingat bahwa tadi ia tidak mengambil buku itu. Terpaksalah ia berdiri untuk kembali menelusuri rak-rak, mencari bukunya. Kalau tidak salah bukunya ada di—
—terlambat!
Kenapa Hogwarts sebegini besarnya, buku di perpustakaannya selalu masih terasa kurang? Buktinya ini! Buku yang ia cari, sudah ada yang duluan mengambil.
Hermione melihat berkeliling. Siapa tahu orang yang mengambil duluan masih ada di perpustakaan. Siapa tahu orang yang sudah duluan mengambil bukunya, bisa mengijnkannya melihat barang sehalaman-dua halaman. Ia tidak membutuhkan buku itu seutuhnya, hanya halaman tertentu saja.
Matanya terhenti di meja Madam Pince. Pustakawati itu sedang melayani—tidak lain dan tidak bukan, Profesor Snape. Dan buku yang ada di tangannya, yang akan dipinjamnya, adalah buku yang ia cari-cari sedari tadi.
Lemas.
Ya sudah. Hermione kembali duduk di kursinya. Ya sudah. Mungkin itu bisa dilakukan besok atau lusa, sekarang mending mencari data tentang hal lain lagi.
Tapi, Hermione sama sekali tidak bisa memusatkan perhatian.
Kenapa buku yang ia cari justru sudah dipinjam, dan peminjamnya kenapa justru Profesor Snape?
Huuuuuh!
Rasanya ingin menjambak-jambak rambut, batin Hermione. Tapi cepat-cepat diralatnya sendiri, karena ia tahu seperti apa sulitnya menyisir rambut bergelombang seperti rambutnya kalau sudah dijambak-jambak begitu.
Ya sudah!
Hermione berdiri. Mengembalikan buku-buku yang sudah diambilnya ke rak-rak (sst, seharusnya pustakawati yang mengembalikan buku ke rak, karena mereka tahu kode-kode buku. Akan tetapi Madam Pince biasanya membiarkannya mengembalikan buku itu sendiri karena ia tahu Hermione hapal kodenya seperti pustakawati)
Ada beberapa buku yang akan ia pinjam bawa pulang, jadi ia mematikan laptopnya, memasukkannya ke dalam ranselnya, lalu berjalan menuju meja pinjaman, dan mendaftarkannya pada Madam Pince.
Iseng-iseng ia bertanya, buku yang dipinjam Profesor Snape tadi, dipinjam untuk berapa lama? Kalau peminjaman biasa, dua minggu, ia bisa minta tolong Madam Pince menyimpankan untuknya nanti kalau dikembalikan.
Peminjaman semester?
Dosen dan mahasiswa tingkat akhir punya hak istimewa untuk meminjam buku dalam jangka waktu lama. Biasanya kalau mahasiswa hendak membuat skripsi, atau dosen untuk bahan pemberian kuliah.
Huweeee! Masak ia harus menunggu satu semester?
Ruang Belajar Bersama sudah tidak begitu ramai seperti saat tadi ditinggalkan. Hermione meletakkan ranselnya di sebelah laptop Ron.
Harry dan Ron memandangnya heran.
"Cepat amat, kau sudah kembali dari perpus?" Ron penasaran.
"Buku yang aku cari enggak ada. Ada yang sedang pinjam. Jadi, yah, kupikir aku kembali saja lagi ke sini, dan menulis lagi di sini," sahutnya. Mengeluarkan laptopnya dengan segan, menghidupkannya malas-malasan. Setelah hidup, ia tidak langsung berselancar seperti yang biasa ia lakukan.
"Hermione, ada apa?" Harry khawatir.
Bukannya menjawab, Hermione malah balik bertanya, "Ada nggak ya, orang yang selaluuuu bikin kesel orang lain? Apakah disengaja, atau tanpa ia sengaja, bahkan mungkin ia tak sadar, tapi tingkahlakunya bikin selalu bikin kesel orang lain?
Harry memandang Ron. Ron memandang Harry.
"Kau."
"Aku?"
"Ya," sahut Ron tanpa tedeng aling-aling. "Kau itu selalu bikin kesel orang lain dengan tingkahmu yang bossy dan selalu lebih tahu dari orang lain. Tapi jangan khawatir, kau akan tetap jadi teman kami semua—"
Hermione menunduk. "Jadi, aku bikin kesel ya?"
Harry memandang Ron. Ron memandang Harry. Lagi.
Kali ini Harry menggeser duduknya hingga mendekat. "Ada apa sih? Ini bukan tentang buku yang sudah lebih dahulu dipinjam orang lain, kan?"
"Semacam itulah," keluh Hermione.
"Memang siapa yang meminjamnya?"
Hermione menghela napas panjang. "Profesor Snape."
Kedua rekannya juga menghela napas panjang.
"Tapi, kau kan tinggal menunggu dua minggu—"
"Peminjaman semester—"
Baik Ron maupun Harry merasa perlu untuk mem-pukpuk rekan mereka itu.
Kemudian bahkan Harry dan Ron juga merasa perlu untuk menutup buku dan laptop mereka, demi solidaritas pada rekan (yang kemudian diprotes Hermione 'kalian kan belum selesai mengerjakan tugas, kenapa mesti berhenti, dasar kalian saja yang malas!') dan mulai mengutuk Profesor mereka yang satu ini.
"...dan memang ia tak punya hati—"
"Sebentar. Apa katamu, ia tak punya hati?" Hermione tiba-tiba merasa seperti diingatkan akan sesuatu.
"Kenapa memangnya?"
"Kalian tahu, ada orang yang tega menjual nyawanya pada iblis?"
"Hermione, itu bukannya cuma mitos?" Harry tak percaya.
"Bukan. Aku pernah membaca literaturnya, memang ada. Hanya tak bisa diungkapkan secara ilmiah. Nah, ada tingkat yang lebih rendah dari menjual nyawa, seperti menjual hati ini lah—" Hermione bangkit bergegas, tetapi kemudian ia duduk lagi.
Harry dan Ron memandangnya tak mengerti.
"Aku bisa mencarinya di perpus. Tapi kalau ketahuan Madam Pince, bakal cerewet ia bertanya. Sebaiknya kutunggu sampai jam perpus tutup, lalu aku masuk dari tempat biasa—"
"Hermione—"
Mata Hermione berkilat-kilat membayangkan masuk perpus 'dari tempat yang biasa'. Tak banyak yang tahu tentang sebuah jendela yang bisa dibuka dari luar, dan tempatnya strategis karena berada di Restriction Section. Bukan tempat patroli yang biasa. Di angkatan tahun ini, hanya Hermione yang tahu, plus dua orang 'partners in crime'-nya, Harry dan Ron.
"Hermione—"
Tapi kalau sudah bulat tekad, mana bisa ditegur? Yang ada Harry dan Ron tiba-tiba merasa lemas.
"Kalian tidak usah ikut kalau tak mau. Biar aku saja—"
"Kau pikir, bagaimana kau bisa masuk dari jendela itu tanpa bantuan kami? Kau pikir kau bisa masuk menyisip tembus tembok seperti hantu?"
-o0o-
Maka tersusunlah rencana: Harry dan Ron akan membantu Hermione masuk lewat jendela itu, tapi tak usah ikut masuk. Menunggu saja sampai Hermione memberi tanda, dan mereka akan membantu Hermione keluar lagi.
Jadi, malam itu, berusaha tak membuat suara sedikitpun, ketiganya mengendap-endap menuju jendela itu.
Hermione menggunakan sepatu yang tak berbunyi saat dipakai. Ron dan Harry berfungsi menjadi tumpuan. Hermione naik, membuka jendela dari luar, lalu masuk. Soal di dalam, beres, Hermione punya kartu untuk melewati Restricted Section. Sedikit utak-utik oleh Ron, data yang akan tercatat oleh Restricted Section adalah bahwa Hermione melewati pintu Section itu tadi siang, bukan malam ini.
Singkat kata, Hermione sudah di dalam. Menelusuri rak-rak buku dengan bantuan cahaya senter.
Tak ada di rak-rak buku Restricted Section yang biasa.
Mungkin di lemari khusus.
Hermione perlu waktu lebih lama di bagian ini, karena judul buku-bukunya kebanyakan berhuruf asing. Walau akhirnya ketemu juga. Justru bukan buku tentang penjual nyawa pada umumnya, melainkan daftar pelaku penjualan nyawa. Di sini. Di Hogwarts. Dengan pelaku perantaranya—tak lain dan tak bukan—Madam Pince.
Gemetar Hermione melembari buku itu. Selembar demi selembar. Bagian awal buku itu kebanyakan berisi nama-nama yang tidak ia kenal, dan tahunnya pun jadul.
Halaman menjelang akhir, barulah Hermione menemukan apa yang ia cari. Makin gemetar ia membaca hati-hati, kata demi kata.
Nama: Severus Tobias Snape
Tanggal lahir: 9 Januari 1960
Tanggal transaksi: 1 November 1981
Jenis transaksi: Hati, ditukar dengan kepiawaian sebagai mata-mata ganda
Tak cukup Hermione membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali.
Jadi, Profesor Snape sama sekali tidak menukar nyawanya pada iblis seperti yang diduga semula. Lebih menyakitkan justru.
Profesor Snape justru menukarkan hati.
Dan itu untuk mendapatkan sesuatu demi kepentingan negerinya, bukan demi dirinya sendiri.
Hermione sendiri merasakan saat-saat pahit masa-masa Perang Besar. Sekarang, beberapa tahun kemudian, orang bisa bebas menuntut ilmu, tak pandang warna kulit atau gender.
Lemas, nyaris saja ia terjatuh. Tapi ia mendadak sadar, ia harus secepatnya keluar dari sini.
Jadi, Hermione menyimpan buku itu kembali di tempatnya, hati-hati agar seperti semula. Ia berusaha tak bersuara, kembali ke jendela tadi. Memanjatnya, lalu turun di sebelah luar, disambut Ron dan Harry dengan wajah penasaran.
Hermione memberi isyarat agar mereka cepat-cepat kembali ke Ruang Belajar Bersama dulu, baru nanti di sana ia akan menceritakannya.
Tak ada yang tahu, di kegelapan ada sepasang mata menyaksikan semuanya.
Dahulu kala saat ia masih mempunyai hati untuk mencinta, pernah ia berusaha menitipkan hatinya pada seorang wanita berambut merah. Tapi wanita berambut merah itu malah mencintai yang lain.
Itu sebabnya ia berani menukarkan hatinya.
Dengan demikian, ia tak akan pernah merasakan sakit hati lagi. Karena ia sudah tak punya hati lagi.
Tapi, kali ini lain terasa.
Ada rasa sakit, tatkala ia merasa ingin memulai lagi. Padahal, ia percaya ia sudah tak punya hati lagi.
Apakah orang yang sudah tak punya hati lagi, masih bisa merasakan sakit hati?
-o0o-
"Semua tugas dikumpulkan. Bersihkan meja, kecuali alat tulis. Semua peralatan elektronik: ponsel, iPad, dan sebagainya, dikumpulkan. Kuis akan dimulai dalam lima menit—"
Gerutuan di sana-sini, akan tetapi perintah tetap dilaksanakan. Kelas hening saat kuis dimulai.
Mulai lagi gaduh saat kuis selesai. Pengumpulan kuis, mencari-cari lagi alat elektronik yang tadi dikumpulkan, dan sebagainya, dan sebagainya.
Seperti biasa, Miss Granger mengumpulkan semua hasil kuis, dan menumpukkannya di meja depan. Ia menunggu hingga mahasiswa terakhir memberikan hasil kuisnya, baru ia sendiri hendak beranjak pergi.
"Miss Granger—"
Gadis itu berhenti.
Tapi Severus tak kuasa mengeluarkan apa yang ada di hatinya—tidak, bukankah ia sudah tak punya hati?
"—terima kasih."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Tapi gadis itu tersenyum. "Sama-sama, Profesor," sahutnya.
Matanya menyampaikan lebih dari apa yang ia ucapkan.
Sepertinya ia juga bisa menangkap apa yang ia ingin sampaikan.
Filius, Minerva, dan kolega-koleganya yang lain bisa ia bungkam kini. Bukan gadis berambut merah yang ia perhatikan, tetapi rambut coklat.
Dan mungkin tidak pada saat ini. Ia harus menyelesaikan dulu kuliahnya, sehingga mereka tak terbatas status.
Tipis bibirnya membentuk senyum.
FIN

Folk Love Story (Haruki Ichiisi)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini

Mwahahahaha akhirnya saya kembali lagi setelah berabad-abad kena writer's block. Saya nulis ini sambil bayangin Hogwarts versi Shire─dengan atmosfernya yang menyenangkan, cerah, dan sangat mendukung kegiatan masyarakat /eh lu ngocol apaan/
Oya, mereka di sini bukan penyihir, melainkan Muggle tradisional.
oxxxo
FOLK LOVE STORY
Kisah seorang petani gandum dan putri pemilik kantor pos yang terbawa angin sepoi-sepoi di pedesaan kecil Skotlandia.
Dipersembahkan untuk challenge SNAPE DAY 2014. Sugeng tanggap warsa, Severus!
.
.
Harry Potter adalah milik © J.K. Rowling
Saya hanya menculik beberapa tokoh untuk dibuat sisi kehidupan yang berbeda.
.
.
.
Bagaimanapun juga, Hogwarts adalah wilayah yang aman dan tenteram. Berpetak-petak ladang menjulur sepanjang lembah itu. Suara gelombang air dari Danau Hitam mengalun merdu di sisi Selatan, sedangkan hutan pinus dan cemara berjajar di sisi Baratnya.
Udara pagi yang segar mengawali hari penduduk setempat. Para ternak sibuk berlarian dan merumput. Di sebelah Selatan rerimbunan tanaman gandum yang bernama latin T. aestivum itu, ada sebuah rumah bertingkat dua beserta cerobong asap mungilnya. Pintu dan kusen-kusen jendelanya terbuat dari kayu mahoni coklat. Spinner's End, begitulah orang-orang menyebut rumah yang berada di ujung Utara Hogwarts itu.
Severus dan para pegawainya sedang memanen gandum. Oh yeah, dia adalah salah satu petani gandum di Hogwarts. Jenis gandumnya sendiri adalah yang berprotein tinggi.
Ciri-cirinya yaitu berbiji keras, kulit luarnya berwarna coklat, dan daya serap airnya tinggi. Jenis inilah yang paling umum digunakan untuk bahan roti. Dan tentu saja gandum yang dihasilkan di rumah industri ini berkualitas tinggi.
Namun tiba-tiba beberapa ekor domba berlarian masuk. "Potter! Apa yang domba-dombamu lakukan di ladangku?!" gelegarnya kepada seseorang yang menunggang sapi beberapa meter di depannya.
"Well, kukira domba-dombaku sedang mencari rumput, Snape," jawab laki-laki berkacamata bernama James Potter itu.
"Singkirkan sebelum kujadikan mereka pakaian wol, Potter. Bahkan domba-domba ini sama bodohnya dengan pemiliknya, rumput saja tak bisa membedakan," kata Severus sinis.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Snivellus, atau kubabat habis gandummu ini!"
"Memangnya kau berani, heh?" Sekarang jarak Severus dan James hanya lima meter. "Kau mau melihat tanaman gandummu ini diserbu hewan ternakku yang lain?" tanya James mengancam.
Severus mendengus sebal, "Tak akan kubiarkan itu terjadi, Potter. Lagipula urusanku masih banyak daripada mengurusi hewan-hewanmu," cemooh Severus.
"Masih belum berhasil mendapatkan buruanmu ya, Snape. Kasihan, seharusnya kau belajar banyak dariku. Aku memiliki tips berguna untuk orang sepertimu," ekspresi James sekarang berubah total, seakan menggoda Severus.
"Jangan mencampuri urusanku, Potter," sejurus kemudian Severus berlalu ke dalam rumahnya sambil menggerutu. Berani-beraninya James Potter menggurui dirinya. Lihat saja nanti, akan kubuat kau tersedak di pesta pernikahanku, batin Severus. Dia yakin akan berhasil mendapatkan hati perempuan yang sudah lama mencuri perhatiannya.
oxxxo
Memang perlu waktu lama melepas Lily untuk si Potter arogan itu. Tapi takdir berkata lain, hatinya kini tertambat pada perempuan berambut cokelat yang mengembang seperti surai singa, putri pemilik kantor pos yang baik hati. Hermione Granger, nama perempuan itu. Desas-desus mengatakan mereka memang sedang dekat, atau lebih tepatnya Severus yang mencoba mendekat.
Mereka saling mengenal sejak Severus bekerja di perkebunan bunga milik Albus Dumbledore. Usianya saat itu masih dua puluh tahun, sedangkan Hermione masih kanak-kanak. Orang tua berjenggot putih itu sering memintanya mengantar pesanan buket bunga ke sana, sehingga Severus sudah kenal baik dengan keluarga Granger.
Semakin dewasa, Hermione semakin terlihat matang. Kini ia bukan sekedar anak-anak lagi, ia perempuan yang cerdas dan berwawasan luas. Di usianya yang kedua puluh lima ini, ia bagaikan bunga yang mekar di musim semi. Mengundang lebah manapun untuk mengambil nektarnya.
Lima tahun lalu, Severus memutuskan untuk mengolah tanahnya sendiri. Tapi Severus senang karena Hermione masih belum menentukan pasangan hidupnya―yang berarti, kesempatan emas masih terbuka lebar bagi Severus.
"Hei, Severus, ada undangan untukmu," ucap Peter Pettigrew dari lumbung penyimpanan, sontak membuyarkan lamunannya. Laki-laki berperawakan kecil itu mengulurkan sepucuk amplop coklat muda bergaris-garis.
Severus membuka dan membaca isinya, kini sebuah seringai menghiasi wajahnya. Tentu saja Severus senang sekali, ia diundang makam malam di rumah keluarga Granger!
Tapi jangan keburu senang dulu, masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan, kata sebuah suara di kepala Severus. Dengan gontai, ia mendorong kereta kecil yang berisi gandum utuh menuju tempat pembersihan.
Pembersihan ini dilakukan menggunakan ayakan kasar untuk menghilangkan debu, kulit gandum, batang gandum, batuan, kerikil, dan logam. Kemudian gandum utuh yang sudah bersih itu mengalami proses pelembapan, yaitu penambahan air agar campuran gandum memiliki kadar air.
Setelah itu, gandum akan mengalami proses pengondisian dengan menambahkan air pada gandum. Kemudian didiamkan selama waktu tertentu agar meresap, tahap ini bertujuan agar kulit gandum menjadi liat. Sehingga tidak mudah hancur saat digiling dan mencapai kadar air. Tujuan lainnya yaitu untuk memudahkan endosperma atau intisari gandum terlepas dari kulit dan menjadi lunak.
Tahap selanjutnya yaitu reduction. Dimana intisari gandum yang sudah dihancurkan diperkecil lagi menjadi terigu. Selanjutnya diayak dan dipisahkan dari bran dan pollard (yaitu hasil sampingan dari terigu ini). Tujuannya untuk memperoleh hasil ekstrasi yang tinggi dengan kualitas tepung yang baik. Tugas ini biasanya dilakukan oleh Argus Filch dan pegawai lainnya.
oxxxo
Severus menatap pantulan dirinya di cermin malam itu. Merapikan kemeja abu-abu bergaris dan celana hitam panjangnya. Setelah memastikan semuanya rapi, ia mengambil mantel hitam yang tersampir di sudut ruangan dan memakainya. Sempurna, ia siap menuju jamuan malam di rumah keluarga Granger.
"Kalkun panggang, Severus?" tawar Mrs Granger kepadanya. Severus tersenyum tipis dan menerima potongan kalkun yang masih panas itu. "Jadi bagaimana keadaan ladangmu? Sudah mulai panen?" tanya Mr Granger di seberangnya.
"Oh, Wendell, biarkan dia makan dengan tenang dulu," sahut Mrs Granger. "Well, aku hanya bertanya, dear Monica," kata Mr Granger santai. Monica Granger hanya melirik gemas suaminya.
"Kami sudah mulai panen hari ini dan hasil panennya cukup baik. Kalau perkiraanku tepat, maka akan cukup sampai musim dingin ke depan," jawab Severus mantap.
"Senang mendengarnya, Severus. Dari awal aku sudah yakin kau akan menjadi orang sukses," imbuh Mr Granger. Lagi-lagi Severus hanya tersenyum tipis.
"Mungkin jika kita bisa mengembangkan alat-alat yang lebih modern, hasil panen akan lebih menguntungkan," timbrung Hermione dari kanan meja. "Well, sejauh ini peralatan pertanian sudah berkembang dengan baik, hanya saja metode penanaman dan perawatannya yang perlu diperbaiki, Miss Granger."
Severus menyeringai, akhirnya dia punya alasan untuk memandang Hermione. "Ya, bisa jadi sih. Sayangnya kita belum mempunyai metode khusus mengenai cara berladang yang benar," kata Hermione.
"Kau tidak berencana membuatnya kan, Nak?" kekeh Mr Granger. "Tidak juga, Dad. Dari buku yang kubaca, ada beberapa metode yang bisa dipakai untuk meningkatkan kualitas pertanian," jawab Hermione.
"Ya ampun, ini makan malam, bukan diskusi pertanian…" Mrs Granger menghela napas pasrah.
"Aku setuju dengan Mrs Granger. Tetapi kalau buku itu bisa kita perbanyak dan dijadikan pedoman pertanian, maka apa yang diusulkan Hermione bisa tercapai," kata Severus. Hermione tersenyum kepadanya karena usulnya didukung.
Makan malam itu terus berlanjut tanpa banyak bicara pertanian, karena Mr Granger mulai bercerita tentang petualangannya yang memancing tawa. Severus menikmati makan malam itu, merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama sekali tak dialaminya.
oxxxo
Siang ini Severus memacu kereta kudanya ke tempat penjualan gandum milik Minerva McGonagall. Tempat itu terletak di jajaran toko dekat pusat desa. Suasana di pertokoan itu pun sangat nyaman. Tidak seperti di tempat lainnya, di sana terdapat taman bunga yang indah dan terawat.
"Seminggu lebih cepat dari biasanya ya, Severus?" kata McGonagall. "Ya, begitulah, Minerva. Tahun ini memang cuacanya sedikit lain, tapi tak begitu masalah bagiku," sahut Severus. Ia dan Arthur Weasley sedang mengangkat beberapa karung gandum dari kereta kuda, kemudian memindahkannya ke dalam toko. Sementara McGonagall sedang melakukan penghitungan di meja. Arthur memang bekerja di toko ini.
"Dengar-dengar perayaan itu akan digelar hari Sabtu mendatang, rasanya waktu berjalan sangat cepat, bukan begitu?," tanya Mr Weasley. "Aku sudah dengar hal itu, tapi perayaan panen memang selalu dinantikan di sini. Sebagai acara tahunan yang menyenangkan tentu saja," komentar Severus.
Ah, benar. Pesta di pusat desa sebagai wujud syukur warga Hogwarts terhadap hasil panen mereka, sekaligus untuk mempererat kekeluargaan. Acara tahunan yang sangat meriah sebenarnya, mengingat betapa banyak makanan dan minuman yang dihabiskan. Acara puncaknya yaitu pertunjukan kembang api, setelah itu dilanjutkan menari masal.
Tak ada warga desa yang mau melewatkan perayaan tersebut, apalagi para pemuda yang berniat mencari jodoh. "Ada lagi yang bisa kubantu, Severus?" tanya Mr Weasley.
"Kurasa ini sudah cukup, Arthur. Terima kasih," ucap Severus sambil menerima sekantong galleon dari McGonagall.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada wanita paruh baya itu. Kemudian keluar dari toko dan memacu kudanya kembali menuju rumahnya. Namun di tengah jalan, ia berpapasan dengan Hermione. Tangannya memeluk beberapa buku.
"Hai Severus, mau ke mana?" sapa Hermione.
Severus menghentikan laju keretanya, "Dari toko Mrs McGonagall menjual gandum. Kau serius ingin menjalankan idemu itu?" dia menunjuk buku-buku yang dibawa Hermione.
"Oh, ini hanya buku bacaan biasa, bukan soal pertanian kok," kata Hermione cerah. Severus geleng-geleng kepala. Memang keterlaluan rasa ingin tahu Hermione. Sebenarnya Severus juga sih, tapi kan dia tidak begitu menunjukkannya.
"Kau mau pergi ke perayaan panen bersamaku?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Severus, yang segera menyadarinya. Sekarang ia mati-matian menyembunyikan rona merah di wajahnya. Mampus kalau sampai ketahuan, batinnya.
Hermione sempat diam beberapa saat, hingga akhirnya, "Err.. Tentu saja, Severus," setelah berkata begitu, ia langsung buru-buru pamit pulang ke rumah. Barangkali grogi menjawab...
Severus hanya bisa tersenyum kecut melihat punggung Hermione semakin menjauh. Tapi setidaknya ia sudah berusaha mengajak gadis itu keluar. Menyeringai samar, Severus kembali memacu kereta kudanya pulang ke rumah. Tentu kali ini tak akan tertunda lagi.
oxxxo
Suasana malam itu ramai sekali. Sebuah panggung telah didirikan di depan kantor kepala desa, beserta podiumnya. Beberapa orang memainkan bagpipe, biola, akordion, gitar klasik, dan alat musik ritmik. Puluhan meja dan kursi kayu tertata di segala penjuru, yang di atasnya ada berlusin-lusin minuman dan makanan.
Anak-anak berlarian, selebihnya bercengkrama seru atau menari mengikuti musik folk khas Skotlandia itu. Bahkan banyak pria yang menggunakan kilt―pakaian khas Skotlandia yang dikenakan di bagian pinggang, bentuknya mirip rok tapi bermotif tartan.
Severus duduk di salah satu kursi panjang sambil menyesap minumannya. Ia sedang menikmati suasana, sesekali mengamati Hermione. Namun pikirannya mengelana entah ke mana.
Tak ada sedih dan kesepian, semuanya larut dalam kesenangan ini. Ada yang menepuk pundaknya tiba-tiba. Saat ia menoleh ke belakang, wajah tersenyum Lucius ada di sana. Membuyarkan lamunannya.
"Hei, mate, apa kabar? Masih hobi juga kau melamun di tengah perayaan begini?"suara angkuh khas seorang Malfoy itu menyambutnya. "Seperti yang terlihat, Lucius. Tumben sekali kau pulang?" Severus menyeringai.
Sejak kecil ia dan Severus sudah berteman, akrab sekali. Lucius memang penduduk asli dari sini, tapi ia merantau bersama istri dan Draco kecilnya ke Inggris. Ia sudah menjadi orang sukses. Kabarnya ia tinggal di rumah mewah yang disebut Malfoy Manor. Mereka jarang mengunjungi Hogwarts.
"Kami baru saja tiba pagi ini. Narcissa ingin mengenalkan pada Draco kehidupan di sini. Siapa tahu ia nanti bisa menjadi penerusku. Karena itulah, kami akan tinggal selama sebulan di sini," jelas Lucius panjang lebar.
"Penerus bisnis keluarga, eh? Bagaimana dengan Pangeran Kegelapan, kau tidak bertemu dengannya, kan?" tanya Severus.
"Aku tidak mendapat kabar apa-apa. Seperti yang kita kira, ia sudah pergi jauh entah ke mana. Well, aku sendiri tidak berharap bertemu dengannya lagi. Itu lebih baik," jawabnya serius.
Severus masih ingat, dulu ia dan Lucius sempat berteman akrab dengan laki-laki pendatang bernama Tom Marvolo Riddle, atau yang lebih suka dipanggil Pangeran Kegelapan. Tidak banyak yang berteman dengan orang itu, walaupun banyak yang bersimpati karena sikapnya yang ramah dan cara bicaranya yang hati-hati. Tapi Pangeran Kegelapan terkesan menarik diri dari masyarakat, tenggelam dalam kehidupannya sendiri. Mereka tidak pernah berprasangka buruk kepada Pangeran Kegelapan.
Hingga suatu malam, Pangeran Kegelapan meninggalkan Hogwarts secara diam-diam. Keesokan harinya para penduduk baru menyadari bahwa ada banyak benda berharga mereka yang hilang, tak terkecuali Lucius dan Severus. Kuda hitam Lucius yang gagah hilang dari kandangnya.
Mereka berdualah yang paling menyesal karena telah memberi kepercayaan besar kepada Pangeran Kegelapan. Untungnya, dia tak pernah kembali ke Hogwarts. Peristiwa itu menyadarkan mereka agar lebih berhati-hati dalam memilih teman.
Mereka berdua masih mengobrol ketika Draco datang. Ia sudah tumbuh menjadi laki-laki berusia dua puluh empat tahun. Dengan rambut pirang khas Malfoy yang halus, sepasang mata abu-abu, dan wajah tirus. Ia adalah tiruan sempurna dari Lucius. Setiap ia melangkah, ada saja gadis yang meliriknya. Untung Hermione tidak begitu, Severus bersyukur karenanya.
"Mau butterbeer, Paman Severus? Aku baru saja mengambilnya," kata Draco ramah. "Tidak, terima kasih. Minumku sendiri masih belum habis," tolak Severus. Draco duduk di sebelah Lucius, namun tidak ikut dalam percakapan. Ia masih betah menikmati perayaan ini.
"Hei ayah, lihat yang di sana itu. Kasihan dia sendirian dari tadi," Draco menunjuk Hermione yang entah bagaimana malah membaca buku di tengah perayaan begini. "Well, mungkin perayaan tidak begitu menarik baginya, Nak. Kau mau mengajaknya menari mungkin?" tawar Lucius sambil tersenyum jahil.
Severus mengangkat sebelah alisnya, ia tak akan membiarkan anak muda ini mengambil Hermione darinya. "Kau tak akan bisa mengajaknya, Draco. Dia sudah ada yang punya, kecuali kau mau berurusan dengan pasangannya," nada suaranya berbahaya. Draco mendesah pelan, kemudian kembali mengamati orang-orang.
Severus tersenyum dalam hati. Tentu saja ia tak mau melihat Hermione berdansa dengan laki-laki lain, walaupun ia belum juga mengutarakan perasaannya kepada gadis itu. Tapi ia tak mau mengambil resiko kehilangan lagi.
Mereka berdua kembali mengobrol, sedangkan Draco pergi mengambil minuman dan belum kembali juga. Kemudian Lucius pamit ingin mengajak Narcissa berdansa. Sekarang Severus ditinggal sendirian lagi.
Tepat saat itu sebuah kembang api meledak di langit, kemudian disusul yang lain. Pertunjukan kembang api sedang dimulai, orang-orang memandang langit yang sekarang berwarna-warni.
Berbagai macam kembang api itu berubah bentuk. Ada yang menjadi naga, hujan cahaya, dan bermacam-macam lainnya. Hermione sampai menghentikan kegiatan membacanya. Mata coklat almond-nya mengamati dengan takjub ledakan cahaya di langit.
"Indah ya?" kata Severus tepat di sampingnya. Hermione terkesiap, namun ia tersenyum. "Sayangnya kembang api ini malah menutupi keindahan bintang-bintang. Padahal kalau malam cerah begini banyak bintang yang terlihat," lanjut Hermione.
"Kau suka bintang-bintang?" tanyanya lagi. "Tentu saja, tapi seperti yang kau bilang―mereka tertutupi," jawab Severus masam.
"Aku baru tahu kalau kau suka mengamati bintang, Severus," kata Hermione. "Tak banyak yang tahu, tentu saja. Tak begitu penting," sahut Severus enteng.
"Aku tahu tempat di dekat sini, tidak begitu jauh, tidak ada kembang api. Tapi kalau kau mau saja," tawar Severus secara tersirat.
"Oh, well, setelah pertunjukan kembang api ini selesai. Mungkin kau mau menunjukkannya," kata Hermione.
Mereka berdua kembali menonton pertunjukan kembang api. Setiap ada yang bagus, Hermione akan bertepuk tangan. Severus hanya meliriknya dengan tatapan geli.
oxxxo
Pertunjukan kembang api telah berakhir. Fred dan George diserbu anak-anak kecil yang meminta pertunjukan kembang apinya diulang. Mereka berdua sampai kewalahan. Tempat penyimpanannya saja sudah ludes, tapi mereka berjanji akan menampilkannya di saat yang lain. Membuat anak-anak itu sedikit kecewa, tapi tetap senang.
Orang-orang di panggung kembali memainkan alat musik mereka, sekarang keras sekali. Musik folk Skotlandia itu bergema sampai ke segala penjuru. Para orang dewasa dan remaja berbondong-bondong mengajak pasangan mereka menari. Melompat, menghentak, dan sesekali berlari kecil mengikuti alunan musik Lord of the Dance. Lincah sekali.
Namun Severus dan Hermione malah berjalan menjauh dari kerumunan itu. Mereka menuju sebuah bukit kecil di sebelah Selatan, dekat dengan Danau Hitam. Dari sini terlihat jelas jutaan bintang. Ada yang besar dan kecil, cahayanya terang atau sayup-sayup, dan ada yang berjajar membentuk rasi bintang.
Mereka berdua mengamati tanpa banyak bicara. Larut dalam keindahan yang ditawarkan penghuni langit kepada mereka. Beberapa menit kemudian, Severus mengajak Hermione berdansa di bukit kecil itu.
Hermione tadinya menolak, bukan karena ia tidak bisa berdansa. Melainkan ia takut kalau jatuh ke sisi bukit. Namun Severus meyakinkannya kalau ia aman. Malu-malu kucing, Hermione menyetujui ajakan Severus.
Mereka berdansa seperti orang-orang di perayaan. Lincah dan menyenangkan. Musik Lord of the Dance memang sesuai dimainkan saat perayaan begini.
Beberapa kali Hermione hampir terserimpet gaunnya, untung tidak sampai hilang keseimbangan. Bukannya menolong, Severus malah memberinya tatapan geli tertahan. Membuat Hermione tersipu malu.
Musik dansa berakhir, begitu juga dengan dansa mereka. Tapi Severus masih belum melepaskan Hermione dari posisi dansa. Dia menatap Hermione, seakan terpaku pada wajah cantik yang disinari cahaya bulan itu.
Detik demi detik berlalu tanpa satu pun kedipan mata. Namun ada yang lain, sesuatu yang lebih dari dari tatapan tajam satu sama lain.
Hermione merasakannya. Ada begitu banyak yang disampaikan oleh sepasang mata hitam itu. Sesuatu yang tidak bisa disampaikan lewat kata.
Kisah itu mengalun lewat tatapan Severus yang berganti rupa. Hermione bahkan sampai lupa berkedip.
Entah mengapa sudut hatinya mulai menghangat. Ia merasa nyaman di dekat Severus. Ia tak peduli, ia tak mau tahu. Terlalu banyak yang ia rasakan dari tatapan Severus kepadanya.
Dan malam itu berakhir dengan ciuman hangat Severus di bibirnya.
oxxxo
Sudah dua minggu sejak perayaan panen meriah itu. James Potter sedang menikmati secangkir kopi hangat di ruang keluarganya. Udara pagi yang dingin terhalang jendela yang tertutup rapat. Perapian kecil menyala di depan sofa empuknya. Sesekali derak api muncul, lidah apinya menjalar ke atas menuju cerobong. Meninggalkan bekas kehitaman.
Lily Potter masuk dari ruang tamu. Menuju ke sofa tempat James duduk. "Lihat James, pagi-pagi begini sudah ada surat yang datang. Bukalah," pinta Lily.
James menyeruput kopi dengan tangan kanan, sementara tangan satunya membuka surat itu. Dibaca urut dari atas, namun saat tiba di tengah surat, tiba-tiba ia menyemburkan kopinya.
"APA-APAAN INI? INI TIDAK MUNGKIN!" sontak Lily menutup telinganya, James berteriak kencang sekali. "Kau ini membuat telingaku sakit, James. Ada apa sih?" Lily bertanya kesal.
James memberikan surat itu, kemudian mengatur napasnya. Ia masih kaget bukan kepalang. Lily membaca surat itu dan tertawa kecil.
"Sudah selesai membacanya? Kau boleh mencubitku, aku masih tidak percaya," muka James konyol sekali. Campuran melongo tidak percaya.
Lily sekarang terbahak melihat James, sungguh suaminya ini konyol sekali. "Well, aku yakin ini nyata, James. Lagipula harusnya kita ikut senang kan," katanya masih tertawa.
"Tapi, Lils─bagaimana mungkin dia bisa─ini hanya mimpi kan?!" James masih ngotot tidak percaya.
Kemudian Lily pergi ke dapur, masih terbahak-bahak─meninggalkan James dengan sepucuk surat yang ternyata sebuah undangan pernikahan itu. Si Snivellus dan Granger? Tapi bagaimana bisa? Dunia sudah terbalik rupanya.
xoxoxoxoxo

Monokrom (Sabaku no Ghee)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini

Monokrom
A Fanfiction By Sabaku no Ghee
Harry Potter by J.K. Rowling
Romance, Angst, Slice of Life
JPSS, mention of SSLE
WARNING : shonen ai. Maybe OOC. AU.
Dibuat untuk Challange 'SNAPE DAY – Challenge Profesi Lain' oleh Ambudaff
.
(xXx)
.
PRAK—!
Tumpukan kertas berisi deretan angka dihempaskan begitu saja ke permukaan meja kayu berharga puluhan ribu poundserling. Wajah dengan ekspresi berkerut tanda tak puas tanpa basa-basi diperlihatkan. Bola mata keabuan itu seakan ingin menelanjangi staf keuangan di hadapannya. Gadis bersurai pirang sepunggung yang sedang 'disidang' itu berusaha terlihat tenang sekalipun caranya menelan ludah merupakan bukti nyata kalau ia ingin cepat-cepat minggat. Namun tentu saja, direktur divisi finance berusia tiga puluhan awal ini tidak pernah kenal kompromi.
"Akhir tahun di depan mata. Kantor konsultan pajak dan akuntansi akan memeriksa semua aktivitas finansial kita. Anda pikir, hanya karena alasan 'saya ceroboh', maka laporan keuangan ini bisa lolos begitu saja dari auditor?" suara dengan nada muram itu terdengar menghakimi, "Saya tidak akan membuang waktumu." gumamnya tegas sambil menyodorkan tumpukan kertas tersebut, "Butuh berapa menit untuk memperbaikinya, miss White?"
"Segera..." jawabnya pelan dan kaku, "Se—setengah jam, mr. Snape."
Pria berambut hitam sebahu itu mengangguk. Alih-alih memberikan respon verbal pada sang bawahan, ia kembali berkutat dengan laptopnya. Memperhatikan pergerakan grafik indeks saham NASDAQ yang selalu berubah setiap detiknya, "Bawa pekerjaanmu keluar. Temui saya dua puluh menit lagi."
"Baiklah, mr. Snape." jemari lentik sang gadis menyambar puluhan lembar HVS berukuran legal tersebut. Langkahnya sengaja dipercepat, mempertontonkan senyum tak enak sebelum ia membuka pintu, "Saya mohon diri." dan menghilang tanpa mengharapkan balasan. Meninggalkan atasannya kembali larut dalam kesendirian.
Pria yang dipanggil 'Snape' barusan terlihat acuh.
Dan segalanya berjalan seperti hari-hari kerja biasanya.
Telepon dari distrik tetangga, perjanjian kerja sama dari perusahaan kerabat, fax-fax dari negara sebelah, nilai saham, harga tukar valuta asing, bundelan dokumen yang harus dibubuhkan tanda tangan—monoton.
Severus Snape, seorang pria jenius asal London, dengan embel-embel 'lulusan terbaik' Oxford. Ia berhasil tamat dengan gelar kehormatan summa cum laude, mengambil dua studi dari bidang perekonomian sekaligus, dan baru saja menyelesaikan master-nya di Princeton untuk cabang ilmu financial engineering. Kehidupan masa kecilnya tidak bisa dibilang menyenangkan. Ibunya masih keturunan duke namun ayahnya tak lebih dari pria brengsek yang melarikan diri ketika dirinya masih dalam kandungan. Kasih sayang ibunya juga tidak pernah tergolong spesial. Hari-harinya di sekolah dulu dijejali dengan materi pelajaran dan buku-buku tua. Pergaulannya minim. Kegiatan ekstrakulikuler selalu ia tinggalkan. Perpustakaan dan halaman belakang sekolah justru menjadi tempat favoritnya.
Semenjak kecil, tumbuh remaja, dan menjejak dewasa, pria dengan rambut hitam membosankan dan hidung bengkok itu tidak pernah menjadikan interaksi sosial sebagai hobi pribadinya.
Kecerdasan memberikannya beasiswa sana-sini. Ia bimbang ketika harus memilih Princeton atau Harvard. Sampai akhirnya ia lulus dari kampus pertama yang berlokasi di New Jersey, Amerika Serikat, ia kebingungan lagi untuk menjadi manajer keuangan di perusahaan real estate atau terjun di manajemen perhotelan. Ada satu titik di mana akhirnya Severus Snape memutuskan untuk tetap berkarir di bidangnya. Dan, di tempat inilah ia menghabiskan hari-hari sibuknya. Sebuah kubikel mewah di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit dengan interior kelas eksklusif. Sedan mewah disiapkan di tempat parkir khusus dengan supir siaga dua puluh empat jam. Harga yang cukup tinggi agar otak jeniusnya bisa dimanfaatkan oleh perusahaan yang omset per tahunnya menjapai angka jutaan dollar.
Severus Snape tidak bisa dianggap enteng. Jerih payahnya bertahun-tahun terbayar dengan seluruh fasilitas yang ia dapatkan. Ia masih serius menatap layar komputer pangkunya yang menayangkan garis-garis naik-turun. NASDAQ, indeks yang mewakili perusahaan-perusahaan di bidang teknologi melaju di jalur hijau lagi. Mungkin ia akan mempertimbangkan untuk membeli beberapa lot saham atau Dell. Tampak puas, Severus Snape membuat posisi duduknya menjadi lebih santai. Hal yang membuatnya tanpa sengaja menyenggol sebuah benda. Suara berdenting terdengar ketika benda berbahan logam tersebut bertemu dengan lantai granit hitam.
Astaga, bingkai foto yang dibelinya ketika studi banding ke Praha!
"Bloody hell." segera dipungutnya benda tersebut untuk menyingkirkan debu yang sedikit bertengger.
Dalam diam, Severus Snape menatap mata-mata yang ada di sana. Tanpa sadar sorot yang biasa menusuk itu menjadi redup. Ada dirinya di sana, bersama seorang wanita dan anak lelaki berumur lima tahun. Menara Eiffel yang terkenal sebagai lambang kota Paris menjulang gagah sebagai latar belakang. Senyuman perih pun tak pelak kembali terukir. Apa kabar mantan istri dan anaknya hari ini? Severus Snape menarikan ujung jemarinya pada pinggiran bingkai itu. Apa kabar wanita kuat bernama Lily Evans setelah perceraian mereka? Kali ini ia menghela napas berat sambil mengetuk pelan kaca bingkai tersebut. Apa kabar juga Harry setelah memutuskan ikut dengan ibunya?
Tidak tahu, dan mungkin Severus Snape, 37 tahun, duda beranak satu ini tidak ingin terlalu mencari tahu. Semenjak sidang keberapa, ia sendiri tidak begitu ingat, pengacaranyalah yang hadir di pengadilan karena jadwal padatnya berupa rapat penting dengan perusahaan tetangga. Mungkin sejak pertama kali ia dan Lily saling membentak, ketika itulah hidupnya yang warna-warni mulai monokrom.
Ah, bukan. Coba mundur sekian tahun. Apakah sejak Harry mulai masuk sekolah? Ketika mereka bertengkar karena Severus tidak bisa mengantar Lily untuk mengambil laporan pendidikan anak tunggalnya? Mundur, ataukah karena ia tak pernah menginginkan pernikahannya dengan wanita itu? Mundur, sejak pelarian dirinya dari sesuatu, yang mengirimkannya ke Princeton selama tiga tahun?
Rasanya tebak-tebakan ini tak pernah berujung.
Severus Snape melonggarkan dasinya. Ia biarkan leher dan dadanya yang berkulit putih terkena semprotan udara dingin dari arah pengondisi udara. Posisi tubuhnya sengaja ia rebahkan ke belakang. Kedua bola matanya terpejam untuk sejenak menikmati rehat singkatnya. Ketika itulah, dingin menggigit yang berasal dari benda berbahan metal serasa menembus kulit pucatnya. Severus tersentak, meraba apakah gerangan yang menempel di dadanya itu. Ah. Metal berbentuk bulat. Logam murni berupa emas putih. Tepatnya sebuah cincin yang sudah lama dijadikannya leontin. Pengganti rosario perak yang dahulu selalu ia kenakan yang kini—ada di mana ya? Otaknya yang biasa berputar keras kini membeku. Sebeku hatinya yang telah ia putuskan untuk kunci rapat-rapat setelah orang itu—
Oh.
Itu dia.
Kalau mundur lagi, satu hari, dua hari, tiga hari sebelum pertunangannya dengan Lily Evans. Dua hari sebelum ia menyelesaikan urusan passport dan visa pelajar. Satu hari sebelum ia bertolak dari Bandara Internasional Heathrow, London. Genggamannya di cincin platina itu mengerat, menolak untuk mengingat pernikahan ilegalnya dengan seseorang yang tak ingin ia ingat namanya. Hari di mana ia mulai kehilangan warna dan makna hidupnya.
Ah, siapa namamu, pemuda yang dahulu pernah dicintainya? Kenapa yang tersisa di ingatannya hanyalah rambut hitam berantakan dan bola mata hazel yang hangat? Sudah selama itukah waktu berlalu semenjak kepergian dirinya yang membuat hidupnya hitam dan putih? Tak ada rasa tersisa setiap kali cincin tersebut mengingatkannya pada malam pengantin itu. Ketika pemuda berkacamata itu mengucapkan janji sehidup semati di hadapan salib maha agung. Saat kekasihnya melingkarkan cincin platina di jari manisnya, dan Severus muda menyerahkan rosario perak yang selalu dikenakannya. Terakhir kalinya mereka saling menatap, memeluk, mencumbu—
bercinta.
Severus terdiam.
Dimanakah kekasih abadinya, yang sudah berhenti dicintainya? Bagaimana kabar ruang kecil yang terkunci rapat jauh di palung hatinya, yang khusus disediakan untuk dirinya? Apakah dia masih suka permainan tolol beregu yang melibatkan bola bodoh itu? Apakah dia masih sering melontarkan lelucon konyol lalu menertawakan guyonannya sendiri? Apakah dia kini menikmati kegiatan menjahili rekan kerjanya ataupun membuat onar di ruang pribadi atasannya? Apakah dia kini sedang duduk di sebuah restoran bersama kolega bisnisnya? Apakah dia kini telah membentuk sebuah keluarga, dengan seorang istri yang cantik dan dikelilingi anak-anak yang manis?
Apakah kenangan itu masih tersisa?
James Potter, masihkah kau mengingat seorang Severus Snape?
Knock-knock
Paras tirus itu kembali menampakkan ekspresi angkuh, "Masuk."
"Permisi mr. Snape, laporan keuangan proyek di sudah saya perbaiki. Bagian auditing dan administrasi keuangan telah merevisi bagian—" ocehan itulah yang setiap hari masuk ke gendang telinganya.
Baginya, kata-kata cinta telah kehabisan makna.
Hidupnya sedari awal tidak pernah diramaikan warna. Porsinya disediakan dalam palet monokrom yang tak jauh dari hitam dan putih. Sebuah episode hidupnya sempat berubah ketika pemuda agresif itu mengetuk pintu rumahnya. Kebersamaan singkat penuh kenaifan dan janji yang kini tak pernah bisa mereka wujudkan. Orang itu pernah menjamah hati dan pikirannya. Mewarnai kanvas kehidupan miliknya menjadi secerah pelangi. Namun sekarang tangan yang Severus punya hanya bisa menggerakkan perusahaan. Ia sudah kehabisan tenaga dan keinginan untuk menyentuh jiwa orang lain. Dunianya kembali meredup dan optimismenya hanya berlaku pada strategi bisnis.
Severus Snape adalah seorang direktur di bidang yang sangat ia kuasai. Ia bisa membuat kalang kabut investor Eropa Barat bila absen kerja satu hari. Ia adalah 'siapa-siapa'. Ia adalah orang penting di London dan memegang sejumput kekuasaan finansial di Inggris.
Tapi satu hal.
Severus Snape terperangkap dalam dunia kecilnya yang monokrom.
Dan khusus untuknya, menu sehari-hari berupa kehampaan disediakan di atas piring bernama dimensi waktu yang selalu berjalan terlalu lambat.
.
(xXx)
.

Homo roboticus (arvisha)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Homo roboticus
Severus Snape dan Lilly Evans adalah tokoh-tokoh kepunyaan J.K. Rowling. Sherlock Holmes dimiliki oleh Sir Arthur Conan Doyle. Tidak ada keuntungan komersil pada karya ini. Semata-mata hanya untuk hadiah ulang tahun Severus Snape ke-54. Happy Birthday Daddy Sev.. -Rosemary Snape-
Sepasang remaja sedang duduk di bangku taman dalam diam. Keduanya asyik membaca buku masing-masing. Sang remaja lelaki berambut hitam berminyak membaca buku berjudul "The Advance Potion", sedangkan teman perempuannya membaca buku berjudul "Sherlock Holmes: A Study in Scarlet".
Di tengah-tengah keheningan dan kesibukan membaca itu, tiba-tiba gadis berambut merah ikal itu tertawa geli, "Hahahahahahahahaha….".
Remaja lelaki itu pun menengok, agak terganggu dengan perilaku temannya yang tiba-tiba tertawa seperti itu. Ia juga heran, tak biasanya Lily Evans tertawa sangat geli ketika sedang membaca buku. Lagipula buku yang dibaca Lily, setahunya adalah kisah detektif yang cukup serius. Di mana letak kelucuannya?
"Apa yang kau tertawakan Lils? "
"Hahahaha… haduh lucu sekali!", ujar Lily sembari memegang perutnya yang sakit karena tertawa terlalu banyak.
"Apanya yang lucu sih? Bukannya kau membaca buku kisah detektif, muggle yang bekerja menyelidiki kejahatan? Itu kan buku misteri, di mana letak kelucuannya?"
"Haduh Severus, buku ini memang seharusnya tidak lucu, tapi karena aku tampaknya mengenal karakter seperti yang disebutkan pada buku ini, maka buku ini menjadi sangat lucu bagiku", jawab Lily.
"Kau mengenal karakter pada buku itu? Siapa orang yang suka mencampuri urusan orang lain seperti tokoh di buku itu?"
"Ah, Severus, bukan begitu. Sherlock Holmes tidak seburuk itu. Malah dia sangat mengesankan. Dan aku tambah kagum padanya, karena aku mengenal seseorang dengan karakter yang sama seperti Holmes", ujar Lily tersenyum.
"Aku masih tidak mengerti di mana letak kelucuannya", ujar Severus Snape.
Lily membalik badannya sampai ia benar-benar berhadapan dengan Severus, jarak mereka dekat sekali, sampai wajah Severus memerah.
"Hmm.. Kau pasti mengenal orang ini, Coba tebak, siapakah orang dengan karakter berikut: sangat cerdas, sangat teliti dan detail memperhatikan keadaan sekitar, suka mengkritik orang dengan pedas, kaku, susah bergaul, hampir tidak punya teman, pemikir, suka merenung, tanpa ekspresi, sangat menyukai eksprimen kimia, tertarik pada peristiwa kriminal dan berusaha menyelidikinya, serta lebih sering menggunakan akal pikiran dibandingkan hari jika mengambil keputusan?",
Severus Snape termenung dan tampak berpikir keras setelah mendengar ucapan Lily, "Hmm.. sepertinya aku tidak kenal muggle yang kau sebutkan, Lils..".
"Muggle? Oh No!, He is a wizard, Sev! Haduh masa sih kau tidak menyadarinya?"
"Menyadari apa?"
Lily sudah tampak sangat gemas, menahan kesal dan geli sekaligus, "Sev, semua hal yang kusebutkan itu adalah karaktermu. Kau mirip dengan Sherlock Holmes! Oh ya satu lagi, kalian sama-sama suka warna gelap", ujar Lily sembari beranjak pergi meninggalkan Snape.
"Hei, Lily, kau mau kemana? Aku masih belum paham maksudmu!"
"Pikirkan saja sendiri, kau kan secerdas Holmes, jadi hal ini harusnya mudah", ujar Lily menengok sebentar ke arah Snape, lalu kembali meneruskan perjalanannya.
Severus Snape masih terpekur sendiri di bangku taman itu.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu di bangku taman tersebut. Mereka memang sering bertemu di taman terdekat dari rumah mereka. Severus Snape dan Lily Evans bukan sepasang remaja biasa, mereka adalah penyihir remaja berusia 13 tahun yang sedang menikmati liburan musim panas. Mereka berdua bersekolah di sekolah khusus penyihir, Hogwarts.
Severus dan Lily sudah saling mengenal sejak mereka belum berada di sekolah itu. Hampir tiga tahun yang lalu, Severus yang sering menyendiri di taman itu, melihat Lily sedang mempertunjukkan bakat sihirnya kepada sang kakak. Lily tidak mengerti bahwa yang ia lakukan adalah sihir (membuka dan menutup mahkota bunga Lily). Severus-lah yang menjelaskan kepada Lily mengenai bakatnya itu, Severus juga yang memperkenalkannya dengan dunia sihir. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi sahabat akrab, baik di sekolah, maupun di rumah.
Severus Snape tidak hanya sekedar menganggap Lily sebagai sahabat, diam-diam dia tertarik dan menyukai Lily, namun ia tak pernah berani untuk mengutarakannya. Dia hanya menikmati saat-saat berdua dengan Lily. Apalagi saat liburan sekolah seperti ini, tidak ada teman-teman yang mengganggu kebersamaannya dengan Lily. Petunia Evans, kakak Lily pun enggan mengganggu mereka, walau sering memarahi Lily, jika ia bertemu dengan mereka berdua. Severus Snape tidak ambil pusing terhadap Petunia, "Dia iri dengan kemampuan menyihir yang kita miliki, Lils", ujar Snape setiap Lily menceritakan perilaku menyebalkan sang kakak.
"Sev, tahu tidak? Ternyata Sherlock Holmes juga bisa jatuh cinta lho", ujar Lily memecah keheningan.
"Jatuh cinta? Bukannya kau bilang, detektif itu lebih sering menggunakan pikiran dibanding hati? Bagaimana cara ia bisa jatuh cinta?"
"Hahaha.. tapi kan dia juga manusia, Sev. Dia jatuh cinta kepada wanita yang berhasil mengelabuinya. Nama wanita ini Irene Adler. Miss Adler merupakan wanita yang sangat cerdas, sehingga pria sejenius Holmes pun tertarik kepadanya".
"Hmm.. kali ini,.. kurasa ada persamaannya denganku. Aku juga menyukai gadis yang cerdas…", ujar Snape dengan wajah sangat merah, seperti telah melakukan suatu hal yang sangat memalukan. Wajahnya pun tertunduk.
Lily menatapnya dengan wajah keheranan, "Oh ternyata, kau bisa jatuh cinta juga Sev? Siapa gadis yang kau sukai Sev? Ayolah katakan padaku! Aku bisa jaga rahasia", desaknya.
"Ah, sudahlah. Lupakan! Anggap aku tak pernah mengatakan ini".
"Lho, kenapa?"
"Karena gadis itu tak mungkin tertarik padaku. Sudahlah, aku tak ingin membahas ini".
"Hmm… Gadis Slytherin mana ya yang beruntung itu? Akan kuselidiki…"
"Eh, Slytherin? Aku tak pernah bilang apa-apa tentang gadis itu. Dia bukan Slytherin koq!"
"Oh ya, kalau begitu dari asrama mana dia? Tak mungkin muggle kan? Kau sepertinya tak menyukai muggle".
"Sudahlah Lily, aku tak mau membicarakannya. Ceritakan saja padaku tentang detektifmu itu".
"Huuu… menyebalkan! Kau tak mau membagi kisah cintamu padaku! Aku pulang saja!", ujar Lily seraya pergi meninggalkan Snape lagi.
"Hei Lily! Tunggu, jangan pergi dulu!"
"Apa? Kau mau menceritakannya padaku?", tanya Lily.
"Ti.. tidak. Tentu saja tidak. Tapi kan kita bisa membicarakan hal lain".
"Ya sudah, aku pergi saja. Aku bosan diam di taman begini terus!"
Severus hanya terdiam dan membiarkan Lily pergi. Tak mungkin ia mengatakan bahwa gadis itu adalah Lily sendiri. Terlalu malu dan takut untuk mengakuinya. Kalau Lily menolak cintanya, lalu tak ingin bersahabat dengannya lagi, lalu bagaimana? Severus tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Lily.
Untungnya, kemarahan Lily kepada Snape cepat meluap. Mereka pun kembali bertemu di taman. Namun, ketika Severus mulai mengeluarkan bukunya, Lily menepis tangan itu. "Sev, aku bosan kalau bertemu denganmu hanya membaca buku, dan kita sibuk dengan bacaan masing-masing".
"Apa maksudmu? Bukankah kau senang membaca?"
"Yah, tapi ada hal yang lebih menarik. Yuks kita ke rumahku. Tuney sedang pergi bersama Daddy ke London. Mum mengizinkanku untuk mengajakmu ke rumah. Ia sedang membuatkan kita pancake blueberry yang lezat".
"Ke.. ke.. ru.. rumahmu, Lils?"
"Iya, ayolah, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu".
"Hmm.. Baiklah", Ujar Snape sembari memasukkan kembali bukunya. Mereka pun berjalan beriringan ke rumah keluarga Evans. Sesampainya di sana, ternyata Mrs. Evans telah menunggu mereka.
"Hallo Severus, apa kabarmu? Menyenangkan kah liburan kali ini?", sapa Mrs. Evans seraya memberikan kecupan singkat pada kening Snape dan memeluknya hangat. Severus Snape pun merasa kikuk. Sangat jarang ia diperlakukan demikian, walaupun oleh orangtuanya sendiri.
"Hallo Mrs. Evans, Aku baik-baik saja. Yah musim panas kali ini cukup baik. Terima kasih telah mengundangku".
"Never mind, Severus. Aku senang, jika Lily senang. Nah tampaknya ia sudah tidak sabar ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu", ujar Mrs. Evans.
"Yuks masuk Sev. Tunggu sebentar ya, Aku ambil dulu barangnya di kamar".
Lily pun segera kembali dengan membawa suatu barang muggle yang aneh dan belum pernah dilihat Severus.
"Apa itu Lils?", tanya Severus sambil memperhatikan benda yang dibawa Lily. Benda itu berbentuk seperti piring berwarna hitam dan berlubang di bagian tengah.
"Ini namanya piringan hitam, Sev. Benda ini untuk menyimpan film, lalu dengan alat itu, piringan ini diputar, sehingga kita bisa menonton film melalui kotak yang bernama televisi. Ini semacam sihir yang dilakukan muggle. Mereka menyebutnya teknologi", jelas Lily tersenyum.
"Hmm.. sepertinya menarik, walau aku tidak begitu suka barang-barang muggle. Di rumahku sangat sedikit barang muggle, apalagi yang mahal-mahal seperti ini".
"Kau pasti akan sangat tertarik Sev, ayolah kita tonton", ujar Lily sambil memasang piringan hitam ke alat pemutarnya dan menyalakan televisi.
Begitu film dimulai, Severus langsung berseru, "The Adventures of Sherlock Holmes? Lho, ini seperti buku yang kau baca kan Lils?"
"Yupz. Dan film ini berseri. Kita akan menontonnya beberapa kali. Ini film lama, sudah agak susah ditemukan. Aku senang sekali ketika Daddy berhasil mendapatkannya. Nah, sekarang kita diam ya, nikmati filmnya. Dan kau akan menyadari banyaknya kesamaan kau dengan sang detektif", ujar Lily.
Mereka berdua asyik menonton. Begitu film habis, Severus tampak merasa kecewa. Lily tersenyum melihatnya, "Nah Severus, sepertinya kau mulai menyukai Mr. Holmes. Besok kita tonton lagi ya episode selanjutnya".
Mereka pun hampir tiap hari menonton bersama di rumah Lily, mencuri waktu jika Petunia sedang keluar rumah. Setiap selesai menonton, mereka mendiskusikan film tersebut. Ah, kegiatan ini lebih mengasyikkan dibanding hanya membaca buku dalam diam.
"Lils, emm… Kau bilang, Mr. Holmes mirip denganku. Aku masih belum menyadari di mana kemiripan kami. Dia kan muggle, tentu saja berbeda denganku. Namun, aku dan dia sepertinya sama dalam satu hal. Eeer… Ka.. Kami tak berani mengungkapkan isi hati kami pada gadis yang kami sukai", ujar Snape pelan.
"Hmm.. kau harus mengungkapkannya Sev! Kalau tidak gadis itu akan meninggalkanmu dan memilih bersama pria lain".
"Aku tidak bisa. Aku.. aku.."
"Kau kan manusia Sev, bukan robot! Sherlock Holmes juga. Tapi kalian seperti robot! Manusia yang seperti robot, Homo roboticus!"
"Eh apa itu? Aku baru mendengarnya".
"Yah, tentu saja kau baru mendengarnya. Aku kan menyebutnya asal. Yah tidak asal juga sih. Itu kan bahasa latin untuk manusia robot seperti kau dan Holmes".
"Aku penyihir, bukan mesin yang mirip manusia!"
"Iya, tapi kau sangat jarang menggunakan perasaanmu, jadi kau seperti robot yang tidak punya perasaan".
"Aku punya perasaan!"
"Kalau begitu, ungkapkan perasaanmu pada gadis yang kau sukai itu. Kalau tidak, kau kan menyesal seumur hidupmu begitu melihat gadismu itu bersama pria lain".
"Ta.. tapi.."
"Tidak ada kata tapi, Sev. Cinta itu harus dikatakan, jangan hanya dipendam. Bahkan cinta harus diperjuangkan. Mungkin kau menganggap gadis itu tidak tertarik kepadamu, tapi kalau kau mau berjuang untuknya, maka ia akan mulai melirikmu dan juga jatuh cinta kepadamu", jelas Lily.
"Lily, bagaimana kau tahu banyak tentang cinta? Kau kan baru berusia 13 tahun".
"Mum yang sering bilang begitu padaku. 'Tuney dan Lily, Mum akan mengizinkan kalian menikah dengan pria manapun, asal pria itu sangat mencintai kalian dan mau berjuang untuk kalian. Cinta harus diperjuangkan!' ", ujar Lily seraya menirukan suara ibunya.
"Hmm.. baiklah, akan kucoba. Walau sepertinya itu sangat susah. Jauh lebih susah dari OWL maupun NEWT!', ujar Severus Snape.
Namun, sampai bertahun-tahun kemudian, Severus Snape tidak pernah mengungkapkan cintanya kepada Lily Evans. Sampai akhirnya hubungan mereka memburuk karena kesalahan Snape. Persahabatan mereka terputus, dan Lily menikah dengan James Potter -saingan dan musuh besar Snape.-.
Lily dan James dulunya tidak akur, James sering mengganggu Severus, jika ia sednag bersama Lily. Lily pun membenci James. Namun, James selalu berjuang untuk mendapatkan cinta Lily. Sampai akhirnya Lily mau menerima pria itu dan bersedia menikah dengannya.
Di hari pernikahan Lily, Severus Snape hanya termenung sendirian di kamarnya. Berusaha menahan tangis. Ia tidak boleh menangis! Namun rasa sakit begitu menyesak di dadanya. Snape berbaring di tempat tidurnya sambil berusaha memejamkan mata.
Tak lama, ada suara ketukan di jendela kamarnya. Seekor burung hantu berwarna putih seperti bunga Lily, sesuai dengan sang pemilik, mengetuk jendelanya.
"Holmes, burung hantu milik Lily? Lily mengirimkanku surat?", ujar Severus keheranan.
Ia pun membuka jendelanya, lalu mengambil suratnya, sang burung hantu segera melesat terbang.
Sehelai perkamen beraroma bunga Lily, ia buka dengan rasa sakit yang semakin menyesakkan dada, air mata tak tahan lagi ia simpan. Sejumput kalimat tertera di surat itu:
"Kini kau menyesal bukan, Homo roboticus?"
- Tamat-

Wednesday, 5 February 2014

Alasan (Zang)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Title : Alasan
Rating : T
Genre : Friendship, Romance
Characters : Severus/Sirius
Summary : For Snape Day 2014. Slash. "Kalau bersama Sirius, kau bisa dapat 'beasiswa' melanjutkan ke Program Master mana pun, dengan syarat ikatan dinas seumur hidup." / "Bagaimana kalau alasan itu tidak ada lagi?"/ "Akan ada alasan yang lain."
Disclaimer : Harry Potter bukan milik saya.
.-.-.
Snape tidak pernah membayangkan dia akan berpacaran dengan salah satu anggota Marauders. Terlebih, si member yang dimaksud adalah seseorang yang paling semangat mem-bully-nya. Dulu.
Laki-laki itu ingat dengan kalimat populer yang mengatakan bahwa beda antara benci dan cinta itu tipis, bahkan saking tipisnya sampai sulit diketahui itu cinta atau benci. Mungkin dulu Sirius Black benci sekali padanya, sampai-sampai akhirnya tanpa disadari dia jatuh cinta pada Snape.
Tentu saja Snape tidak langsung percaya bahwa Sirius benar-benar jatuh cinta padanya. Pria cakep itulah yang membuat masa-masa sekolahnya penuh penderitaan: Snape sudah kenyang diusili, dijahili, dijahati. Snape sebal sekali.
Snape akhirnya percaya bahwa yang namanya karma memang ada. Kini Sirius tergila-gila padanya. Well, sebenarnya Snape malah curiga kalau Sirius memang beneran gila. Mana ada orang waras yang mengejar-ngejar Snape tanpa henti, dengan paksaan pula. Sirius menyusulnya ketika Snape sedang berlibur ke danau terpencil di ujung Inggris, membetulkan sandal jepitnya yang putus gara-gara terbenam lumpur bandel (Saat masih sekolah dulu kebalikannya. Sirius sering menyihir tali sepatunya supaya lepas dan membuat Snape terjerembab) dan tiba-tiba mencetuskan ide, "Kau jadi pacarku saja, oke?"
Rupanya tak perlu Amortentia untuk membuat Sirius berbalik menyukainya. Semuanya berawal ketika Sirius demam. Dengan acuh Snape memberinya Ramuan-Penurun-Panas. Tak dinyana Sirius meminumnya dan sembuh, dan sejak saat itu dia jadi sering menemuinya, firecall Snape dan gemar memberinya sesuatu.
Snape heran dan bolak-balik memastikan apakah Ramuan yang diberikannya pada Sirius tidak tercampur dengan ramuan lain. Kalau dipikir-pikir, masa sih Sirius Black yang terkenal sebagai bad boy, trouble maker, digandrungi para cewek, kaya dan ganteng itu mau padanya? Snape sadar dirinya biasa saja, tubuhnya kurus, tidak gagah, hidungnya bengkok dan wajahnya selalu masam. Sama sekali tidak menarik.
Pemuda sembilan belas tahun itu jadi sering kedatangan tamu. Rumahnya yang biasanya sepi jadi ramai, selalu ada orang dan suara bersahut-sahutan. Seringnya James, Lily dan Lupin yang mengunjunginya, selain Sirius tentunya.
"Aku lebih setuju kau pacaran dengan Sirius daripada dengan Lucius Malfoy," celetuk Lily.
Snape menggerutu. "Aku tidak minta opinimu, Lils," balasnya datar.
Sirius ikut-ikutan menimpali. Dia mengalungkan lengannya pada Snape. "Trims, Lils. Omong-omong, jangan sebut-sebut nama si sengak Malfoy itu. Dia sudah jadi sejarah, benar kan, Sev?"
Snape sebenarnya kesal dan malu kalau Sirius menyentuhnya di depan orang banyak. Terlebih ketika James meliriknya dan senyum-senyum pada Sirius, seolah menggoda mereka berdua.
"Sev?" ulang Sirius. Ketika Snape tidak bereaksi, dia menarik wajah kurus Snape dan mencium pipinya keras-keras. Bibir pemuda yang seumuran dengan Snape itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan lepas dari pipi kusut Snape.
"Iya, iya! Kami sudah putus dan Lucius sudah jadi sejarah," sergah Snape cepat-cepat. Dia yakin wajahnya lebih merah dari Ramuan Amortentia sekarang. Snape mendorong Sirius sampai wajahnya tidak lagi menempel pada pipinya.
Sirius nyengir lebar. Dia tidak mempedulikan protes James.
"Hei! Menerima Snape sebagai pacarmu tidak sama dengan melihatmu menunjukkan kemesraan di depanku. Ugh, Padfoot, ingat batas dong."
"Lho, ini masuk kategori batas aman, kok. Kau belum pernah melihatku mencium bibir Severus, kan? Atau melihat kami melakukan—"
"Sirius Black!" potong Snape cepat-cepat. Meski suaranya menggelegar, mengingatkan Sirius supaya tidak berkata macam-macam, Sirius tidak tampak takut.
Lily terkikik sedang James pucat. "Sudah, sudah! Jangan cerita lagi. Aku tak bisa membayangkan kalian seperti itu."
"Seperti apa, Prongs?"
"Black! Aku akan menendangmu keluar dari rumahku kalau kau cerita yang tidak-tidak lagi."
Snape berpikir bahwa rumahnya gaduh sekali. Suara kikikan Lily bersahut-sahutan dengan suara cempreng James dan Sirius. Cuma Lupin yang tenang. Werewolf muda itu duduk tenang sambil membaca buku di sudut, seperti biasanya.
Calon Potions Master muda itu menghela napas. "Bisa tidak kalian tenang seperti Lupin? Jujur saja, aku heran bagaimana dia bisa tahan dengan kalian."
Lupin mendongak dan tersenyum lemah. Wajahnya pucat. Tidak heran, batin Snape. Beberapa hari lagi bulan purnama dan dia akan bertransformasi. Pasti menyakitkan.
"Moony sih lain," timpal James.
"Ya, ya. Lupin memang lain," kata Snape setuju.
Sirius menyipitkan mata. Snape jadi bergidik ditatap oleh mata abu-abu itu. "Kau tidak naksir Remus, kan? Jangan-jangan kau membuatkannya Wolfsbane karena kau punya perasaan khusus padanya."
Snape marah sekaligus malu. "A-aku tidak suka Lupin seperti itu!" bentaknya. "Harusnya kau senang aku bisa menemukan ramuan itu dan mengurangi rasa sakitnya saat dia berubah."
Lupin berusaha melerai sang sahabat dan pacarnya itu. Dia merasa tidak enak sendiri. "Aku yakin Severus hanya menyukaimu. Stop, Sirius," ujarnya keras.
Sirius menarik napas dan membenamkan wajahnya pada tengkuk Snape. Lengannya yang melingkar pada perut ramping Snape menyiratkan rasa posesifnya.
Berbeda dengan Lupin yang masih takut-takut dan Sirius yang masih cemburu dan tegang, James terlihat cukup kalem. "Aku juga setuju kalau kau dengan Sirius," katanya. Dia menengok ke belakang, meminta persetujuan pacar cantiknya.
"Kalian serasi," sahut Lily. "Omong-omong, katamu kau ingin meneruskan ke Program Master, kan?"
Snape mengangguk pelan. "Inginku begitu. Tapi tidak langsung setelah aku lulus, Lils. Setelah aku meraih program sarjanaku, aku ingin kerja dulu."
Lily mengangguk, maklum. "Program Master memang mahal," desahnya.
"Hei, kau punya Sirius. Kalau bersama dia, kau akan dapat 'beasiswa' ke Program Master atau program apapun yang kau pilih. Dengan syarat ikatan dinas seumur hidup," cetus James.
Bahkan Lupin ikut tertawa bersama Lily.
Snape tidak miskin, tapi dia juga tidak kaya. Meneruskan pendidikan ke jenjang setelah sarjana memang tidak murah. Kalau dia memaksa melanjutkan dengan dana pribadi, Snape bakal harus hidup serba hemat dan irit. Dia tahu itu, karenanya keputusan untuk melanjutkan Master ke Ramuan ditunda dulu. Ramuan adalah gairahnya, namun Snape juga tahu kekurangan yang dimilikinya.
"Aku juga bisa dapat beasiswa dengan cara reguler dan jauh lebih terhormat, Potter," balas Snape getir. Punya pacar kaya bukan berarti dia akan minta uangnya untuk membiayainya.
Sirius menggumamkan sesuatu.
Snape tertegun. Ketika lengan Sirius di tubuhnya mengendur, Snape yakin bahwa Sirius akan memutuskannya saat itu juga. Well, siapa sih yang tidak tersinggung jika merasa dimanfaatkan? Meski Snape tidak pernah memanfaatkan Sirius. Dia tidak pernah meminta Galleon, waktu atau perhatian kakak Regulus itu. Sejujurnya Snape juga tidak yakin apakah Sirius tulus padanya. Sejarah di antara mereka begitu panjang dan Snape tidak bisa lupa begitu saja. Pemuda itu setuju bersama Sirius karena Sirius memang tidak menerima penolakan. Snape ingin melihat sejauh mana mereka akan bertahan. Baginya lima bulan masih terlalu singkat untuk mengambil kesimpulan apapun. Snape mulai nyaman dengan Sirius, tapi bukan berarti dia mencintai Auror muda itu.
"Kalau begitu, Galleon yang memenuhi akunku di Gringotts itu akan sangat bermanfaat," kata Sirius kalem.
Snape ternganga. Mulutnya masih terbuka ketika Sirius tersenyum padanya. Kata 'putus' break up, done, yang dinantinya tak kunjung keluar dari mulut pacarnya. Atau mantan pacar dalam beberapa detik ke depan, pikir Snape, mendadak sedih.
"Kau tidak mengira aku mengincar uangmu?" tanya Snape.
Sirius menggeser tubuhnya supaya bisa berhadapan dengan Snape. "Sama sekali tidak," jawab Sirius tegas. "Selama lima bulan, kau bahkan tak pernah minta satu Knut pun dariku. Seandainya aku merasa uangku yang diincar atau namaku disalahgunakan, aku sudah menghentikannya dari dulu."
Snape masih belum bisa menemukan suaranya. Dia tidak menyadari James yang menarik Lily dan Lupin yang sudah bangkit, bertiga menuju dapur dan memberi mereka ruang untuk berdua saja.
"Sebenarnya, Sirius, kenapa kau bersamaku?" cecar Snape. Dia sudah menyiapkan diri menerima jawaban paling menyakitkan sekali pun. Dia sudah terbiasa menelan kekecewaan. Walau berusaha memungkirinya, Snape tahu dia akan kecewa ketika Sirius mengatakan alasan yang sebenarnya. Tidak cinta bukan berarti tidak menyukainya. Kau tidak bisa bersama dengan seseorang selama beberapa bulan tanpa tidak merasakan apa-apa.
Snape bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dia siap mendengarnya dari Sirius, dengan kalimat bagaimana pun yang intinya sama.
Sirius memandangnya lekat-lekat. "Banyak sekali alasannya, Severus." Suaranya lunak dan jernih. "Meski kau tidak suka para Marauders, kau tetap membuatkan Wolfsbane untuk Remus. Kita semua tahu bahan-bahan ramuan itu mahal dan sulit didapat, tapi kau tetap meramunya. Kau tidak keberatan menerima teman-temanku di rumahmu. Saat aku sakit, kau menyembuhkanku. Walau aku tahu kau lebih mencintai Potions daripada aku, aku tetap tak bisa untuk marah dan berbalik darimu."
Calon Potions Master itu benar-benar tercengang. "Bagaimana kalau alasan-alasan itu sudah tidak ada lagi?"
"Selalu akan ada alasan lain."
Kini Snape bisa lebih lega untuk belajar mencintai Sirius.
Nyatanya, Sirius Black sama menariknya dengan Potions.
.-.-.
The End

A Surprise Visit (Sabaku no Ghee)

Fiksi Reguler. Link aslinya ada di sini



"Hei, tidak ada yang mencoba menangkap golden snitch kecuali Seeker!"
"Oh, ayolah, Capt, kukira sesi latihan sudah selesai."
"Kalau begitu, aku mau semua Quaffle terkumpul. "
"Itu tugas Chaser, dan kau salah satunya."
"Ingatlah kalau badge 'Kapten' juga milikku, jadi kau yang bergerak, mate. Bawakan juga aku Bludger tolol yang—astaga, serius, Quaffle-poking itu pelanggaran. Hei, kita tidak akan menang dengan cobbing. Hentikan perkelahian tolol kalian, juniors. Lebih baik kalian semua kembali ke asrama, mandi, makan malam, dan beristirahat. Aku ingin kita semua dalam kondisi prima. Lawan kita dalam pertandingan ini tidak sembarangan—dan camkan kemungkinan mereka berbuat curang. Jangan lengah."
"Siap, Captain."
"Cukup untuk hari ini."
.
(xXx)
.
A Surprise Visit
A Fanfiction – A Side Story from Under My Skin By Sabaku no Ghee
Harry Potter by J.K. Rowling
Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life
James Potter x Severus Snape
WARNING : shonen ai. Maybe OOC. Marauders era. Sebuah fanfiksi singkat yang terinspirasi oleh salah satu post di 9gag, bahwa hidup adalah sebuah puzzle. Sangat terinspirasi dari doujinshi The World dan Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh.
Dibuat untuk Challange 'SNAPE DAY' oleh Ambudaff
.
(xXx)
.
Severus Snape yang sedari tadi termangu di salah satu bangku penonton, kini tersenyum kecil.
Ya—tidak biasanya pemuda berambut hitam itu mau repot-repot singgah ke tempat semacam ini. Slytherin mendapat giliran pertama untuk berlatih Quidditch namun Severus tetap tinggal ketika Gryffindor memanfaatkan kesempatan latihan mereka. Rekan-rekan satu panjinya jelas sudah bubar duluan, meninggalkan si pemilik manik obsidian itu duduk sendirian di daerah kekuasaan para ular. Tribun dengan bendera hijau-perak itu tepat berseberangan dengan area Singa Merah—dan demi Merlin, Severus ingin sekali merapal mantra ke arah gadis-gadis berisik penggemar James Potter.
Turnamen Quidditch tahunan sedang berlangsung. Hufflepuff kalah telak melawan Gryffindor dan Ravenclaw habis ditindas oleh Slytherin. Babak final yang akan diselenggarakan kurang dari seminggu sudah jelas membuat persaingan antara kedua asrama tersebut semakin meruncing. Severus dapat melihat wajah-wajah tegang dari para pemain Gryffindor di bawah sana—mungkin masih kesal karena cidera yang didapatkan pemain Ravenclaw tempo hari—sebelum mereka membubarkan diri dan berjalan ke arah Kastil. Para penggemar wanita mengekor. Menyisakan James Potter sendirian.
Tentu saja Severus sudah tidak kaget kalau James menghampirinya… Dengan sapu terbang.
"Tanggal berapa sekarang?" tanya James sambil melayang rendah di hadapan Severus.
Pertanyaan itu membuat Severus menghela napas, "Entahlah. Bukan aku yang sedang dikejar deadline untuk menentukan strategi mumpuni."
"Oh, sayang sekali. Padahal aku harus menandai kalenderku karena hari ini kau menemaniku berlatih sampai selesai." balasan James terdengar seperti biasa. Santai dan bersahabat. Pemuda jangkung dengan rambut awut-awutan itu turun dari sapunya dan duduk di sebelah Severus, "Have a good time watching?" James bertanya sambil melonggarkan jaket kebangsaan Quidditch-nya dan melemparkannya begitu saja ke samping tubuhnya. Ia juga melemparkan sapu terbangnya asal-asalan.
"Sort of." jawab Severus dingin seperti biasa, "Aku mendapatkan cukup banyak bahan untuk dibocorkan kepada tim Quidditch asramaku."
"Sneaky." James mencibir.
"You are welcome." Severus menyeringai.
James tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut sebahu Severus. Pemuda berhidung bengkok itu hanya mendengus namun membiarkan tangan besar itu berbuat iseng.
Severus membiarkan dirinya menikmati suasana barang sejenak. Lapangan berbentuk oval dengan panjang 500 kaki dan lebar 180 kaki di hadapannya. Hamparan rumput berwarna hijau cerah dengan gawang-gawang berbagai tinggi menjulang rapi. Hembusan angin sore yang belum terlalu menggigit. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya Severus benar-benar duduk lama di tribun lapangan Quidditch. Ia pernah beberapa kali menonton turnamen, tetapi hanya karena ia merasa harus datang demi solidaritas asramanya. Namun untuk melihat pemuda dari asrama tetangga sedang berlatih separuh sore?
Well, lain kasus—
"Kau tahu, kau bisa kembali bersama teman-teman asramamu, Sev." suara James yang tiba-tiba memecah hening berhasil membuat Severus menoleh, "Kau… Tidak harus menungguku."
"Kau tidak suka aku berada di sini?" tanya Severus dengan kening berkerut.
Buru-buru James menggeleng, "Tidak, tentu saja aku menyukainya. Akan lebih betah kalau kau membawa bekal dan handuk—oke, mungkin bukan ide bagus." si surai coklat gelap memberikan cengiran ketika ia lihat Severus melotot, "Tetapi, maksudku, aku tahu kau tidak terlalu menikmati hal-hal seperti ini. Aku hanya takut kau bosan."
"Bosan atau tidak, resiko itu akan kuambil sebagai konsekuensi keputusanku sendiri, Potter." jawab Severus, "Aku, entahlah. Aku hanya merasa aku harus… Ada di dekatmu."
James bersumpah, walaupun Severus sedang mendongak dengan keangkuhan khas Slytherin, ia melihat ada rona kemerahan yang sangat samar di pipi pucat itu. Efek sinar matahari atau…
"Well, I'm yours. Anyway—"
Ah…
James tak dapat menahan senyumnya.
Kalimat tersebut Severus ucapkan dengan intonasi datar dan nada dingin. Sama sekali tidak berbeda dengan kalimat-kalimatnya yang lain. Namun bukan James namanya kalau tidak merasakan ketulusan di balik ekspresi keras seorang Severus Snape. Memang benar, mereka memutuskan untuk berjalan di setapak yang sama beberapa minggu terakhir. Hanya saja menemukan Severus yang, akhirnya, bisa mengatakan hal-hal jujur (dan manis, menurut James) adalah hal yang sangat istimewa bagi pemilik bola mata hazel itu. James selalu, dan selalu dikejutkan oleh pemuda yang dicintainya setengah mampus itu.
"Kuakui aku tersanjung. Terima kasih." perlahan, James menautkan jemari mereka.
Severus terlihat terkejut dan sempat mengawasi sekitar. James yang paham kekhawatiran Severus langsung mengeratkan genggamannya untuk meyakinkan kalau mereka benar-benar berdua di area tersebut.
"Tetapi kurasa konsep kepemilikan hanya berlaku pada 'ikatan'." sambung James, kali ini sambil menatap sepasang mata Severus dalam-dalam, "Sementara kita sepakat kalau 'hubungan' tidak bekerja dengan mekanisme seperti itu."
Severus tidak lekas menjawab.
"Love should set us free, shouldn't it?" tanya James.
"Mutlak." jawab Severus setuju.
"Karena itu, kau bukan propertiku." ucap James dengan nada menenangkan dan kembali mengeratkan genggamannya, "Dan kumohon hentikan pemikiran seperti itu."
Mendengarnya, Severus mencelos.
Benar juga—tidakkah mereka, memang tidak pernah menjanjikan apa-apa? Mendadak, Severus merasa sangat tolol karena bicara yang tidak-tidak. Ia menggigit bibir bagian bawahnya sebagai jawaban.
"Tetapi—" lagi-lagi James membuat Severus menoleh, "—kau tetap memiliki hak preogratif untuk merasa cemburu, kok." tambah James dengan nada jahil.
"Like hell I will." sergah Severus, "Untuk apa aku—"
"Sev, kalau benar tatapan bisa membunuh, kurasa gadis-gadis Gryffindor—bahkan Lily—sudah menjadi gelimpangan mayat." potong James.
Severus melotot, "Kau—"
"Jadi. Aku katakan sekali lagi." lagi, James tidak membiarkan Severus menyelesaikan ucapannya, "Aku mencintaimu, Severus Snape."
Detak asing itu muncul sekali lagi. Membuat perut Severus seolah disinggahi rombongan kupu-kupu. James tersenyum dengan cara yang sama ketika mereka pertama kali saling jujur akan apa yang mereka rasakan. Pagi itu, pondok Hagrid, pepper-up potion, dan dua cangkir teh jahe panas. Severus tidak akan melupakan rasa mual aneh yang mustahil bisa dijelaskannya.
"Aku mencintaimu tanpa ada keinginan untuk menjadikanmu milikku." lanjut James, tak melepaskan genggamannya, "Kau harus tahu betapa bahagianya aku karena kaulah yang memilih untuk tinggal tanpa kuminta."
Severus masih geming.
"Dengan menjadi milikku, cepat atau lambat kau akan mematahkan sayapmu." James menggumam sambil memberikan usapan lembut pada jemari pucat itu, "Aku tak ingin kau menjadi menyedihkan karena terkurung di sangkar imajiner yang kau buat sendiri."
James memberikan kecupan ringan di atas jemari itu.
Membuat Severus kembali merasakan 'mual aneh' yang entah bagaimana semakin familiar.
"Kebebasan, kecerdasan, dan keingintahuan." mantap, James mengatakannya, "Itulah kau."
"Hmph—" akhirnya, Severus mampu bereaksi, "—kurasa aku telah mendeklarasikan sesuatu yang sangat dangkal. Shame on me."
"Kau adalah apa yang kau pikir, Sev." tolak James, "Karena itu, berhentilah memikirkan hal-hal negatif sementara banyak hal positif yang kau sembunyikan—dan aku beruntung karena aku dapat melihatnya."
"Kuanggap itu sebagai pujian." agak geli, Severus menanggapinya. Perlahan ia menurunkan tangannya dan membiarkannya beristirahat di atas kayu tribun yang ia duduki, "Mungkin aku harus lebih sering melihat matamu."
James terlihat heran, "Mataku?"
"Entahlah…" Severus menghela napas sambil membuang arah pandangannya ke hamparan rumput lapangan Quidditch, "Kadang aku merasa—keberanianku tertinggal di sana."
"Ha-ha-ha, what a sweet of you, Sev! Aku jadi ingin menciummu!" tanpa tending aling-aling, James memeluk Severus.
Sudah jelas mendapat hadiah dorongan—makna leksikal—dari Severus. Kuat-kuat.
"Hentikan, bodoh! Ini lapangan!" Severus berteriak tertahan. Ia bahkan sempat memberikan bonus tonjokan untuk lengan James.
"Ouch! Sakit! Kau harus bertanggung jawab kalau aku sampai masuk Hospital Wings dan piala Quidditch yang seharusnya ada di asramaku malah nyasar ke asramamu!" James meringis sambil mengusap-usap lengannya.
"Kurasa aku akan memantrai seluruh pemain asrama Singa Tolol-mu supaya kalian semua kacau saat pertandingan!" omel Severus sambil mengambil jarak satu bokong dari tempat James duduk.
Melihatnya, ekspresi jahil kembali menghiasi wajah James. Ia pun beringsut dan menyandarkan kepalanya ke bahu Severus, "No need to, Sev, Kau sudah mengacaukan kaptennya, kok—OUCH!, " teriak James ketika Severus mencubit perutnya, "Kau ini benar-benar tidak memiliki belas kasihan, ya?"
"Ketahuilah, Potter, membunuhmu adalah rencana terakhir dalam hidupku—but still on the list." balas Severus sambil memberikan seringaian—dan lagi-lagi ambil jarak satu bokong, "Aku bahkan akan dengan senang hati memasukkannya ke dalam daftar kegiatan tahunanku!"
"Well, aku rela kok mati di tanganmu—"
Kali ini Severus mengeluarkan tongkat sihir dari balik jubah hitamnya.
"—oke, aku diam. Hentikan aksi brutalmu itu."
James angkat tangan. Posisi menyerah. Tidak mau macam-macam dengan 'sarjana muda Sihir Hitam' yang sempat mengidap sociopath ringan. Severus menghela napas malas dan geleng-geleng kepala.
"Entah kemana ekspresi serius ketika kau memimpin anak buahmu itu."
"Hm?" James menggaruk kepalanya yang tidak begitu gatal, sebenarnya, "Yah. Aku juga terkadang berpikir kalau James Potter di lapangan Quidditch dan James Potter di kastil Hogwarts itu dua orang yang berbeda." ujarnya dengan air muka yang tidak dibuat-buat bingungnya.
"Hmph—ya. Aku juga berpikir demikian." akhirnya perhatian Severus yang sedari tadi dikuasai gawang-gawang bulat bertiang kini kembali ke muka James, "Kau, ketika bermain Quidditch, adalah pahlawan Gryffindor, aku lihat kau menikmati itu."
"Betulkah?" tanya James penasaran.
Severus mengangguk, "Ya, kau terlihat—nyaman, santai, dan menjadi dirimu sendiri. Walaupun ekspresimu buruk sekali saat latihan terkahir kalian tadi."
Kali ini, giliran James yang menghela napas lelah. Ia menunduk dan mengatupkan kedua telapak tangannya. Membuat Severus pasang telinga sebagai pendengar yang baik.
"Harus kuakui, Sev, aku tidak terlalu menyukai sesi latihan." dan pemuda pembuat ulah ini memulai curahan hatinya sebagai kapten, "Kami tertekan dan gugup. Pemain Quidditch Slytherin tidak bisa dianggap enteng, dan kau tahu, mereka licik. Kami tak ingin memikirkan hal semengerikan apa yang bisa mereka lakukan di pertandingan nanti." hening sebentar, yang James gunakan untuk kembali bertemu pandang dengan Severus dan tersenyum, "Tetapi aku berpikir, sepahit inilah memang harga yang harus ditukarkan dengan manisnya titel 'juara'. Iya kan?"
"Entahlah, Potter, aku tidak terlalu familiar dengan kompetisi." Severus angkat bahu, "Tetapi—kurasa, untuk menjadi seorang juara, kau harus berpikir kalau kau memang seorang juara." kali ini, nada suara Severus terdengar menyemangati, "Setidaknya berpura-puralah untuk itu."
"Dan satu langkah lebih dekat untuk menjadi juara yang sebenarnya, itu maksudmu?" tanya James.
"Slytherin memiliki ambisi dan harga diri selangit, Potter." Severus secara tidak langsung menjawab pertanyaan James, "Kedua hal itulah yang membuat kami—aku—berjuang."
"Well, dan aku memiliki keberanian untuk balik menghajar balik mereka di pertandingan nanti." tandas James sambil mengacungkan tinju.
Severus tersenyum tipis ketika menyadari kemuraman itu sudah digantikan dengan semangat baru, "Tidak hanya itu. Kulihat kau memiliki sesuatu yang berbeda, jauh dari dalam dirimu, Potter." pemuda Slytherin itu mendengus pelan, "Aku tidak meragukan keberanianmu, though."
"Begitu? Lalu apa yang kau lihat dengan matamu, Sev?" tanya James, lamat-lamat tersenyum tulus.
"Aku melihat… Semangat." gumam Severus.
James mengangguk, "Apa lagi?"
"Gairah dan mimpi." Severus menarik napas panjang, "Kau ingin bertarung tidak semata-mata karena piala tolol itu, tetapi juga untuk kebangaan asramamu." ia mengambil jeda untuk menghembuskan napasnya perlahan, "Di atas semua itu, kau bertarung untuk alasan yang lebih abstrak."
"Kau membaca pikiranku bagai buku yang terbuka." nada kagum terdengar dari bibir James, "Ingatkan aku untuk selalu mengagumi kemampuanmu yang satu ini."
"Kau tidak lupa kalau aku menguasai Legilimency, 'kan?" tanya Severus dengan nada misterius.
James terkesiap, "Jangan bilang barusan—"
"Bercanda, Potter." potong Severus, menahan tawa akan ekspresi kaget James barusan, "Tetapi aku serius perihal isi kepalamu. Kau tidak hanya memiliki keyakinan akan kemampuan fisik dan kecerdasanmu." Severus terlihat berpikir, "Kau juga… Memiliki hati yang percaya akan dirimu sendiri."
Lagi-lagi mereka larut dalam dimensi waktu.
James yang berantakan. Severus yang serba tertata. James yang ekstrovert. Severus yang introvert. James yang meledak-ledak dan melihat semua hal dari sisi positif. Severus yang berhati-hati dan selalu mencoba realistis. Pribadi yang bertolak belakang bagaikan dua sisi mata uang. Mungkin benar kalau hidup adalah sebuah puzzle. Mereka tidak sempurna, memiliki celah dan kelebihan, berbagi sudut pandang, mencoba memahami, dan pada akhirnya, mereka saling menyempurnakan.
Severus tidak menolak ketika James menggenggam tangannya lagi.
"Terima kasih, Sev." bisik James, "Kau mengajariku untuk mengenal diriku sendiri lebih jauh."
"KIta sama-sama bercermin, Potter." jawaban Severus terdengar tegas, "Kau juga mengajariku bagaimana caranya untuk berani mengutarakan isi kepalaku."
"Aku senang mendengarnya." James mengangguk mantap dengan intonasi penuh semangat baru, "Tunggu saja, aku akan membawakan piala Quidditch itu untukmu."
"Sebentar. Apa yang barusan itu pernyataan perang?" Severus terdengar tidak terima, "Tak akan kubiarkan asramaku kalah melawan asramamu."
Tak pelak, James memberikan cengiran bandel, "Itu tidak lagi berarti bagimu, 'kan?"
"Ha. Buat aku tercengang." cemooh Severus. Mimiknya kembali angkuh.
"Kau ini benar-benar susah untuk dibuat terkesan." keluh James.
Severus terlihat menikmati kemenangannya, "Make me, Potter."
Namun tentu saja, melihat Severus yang seperti ini membuat James tertawa geli, "Ha-ha-ha. Kau tahu? Sisi inilah yang membuatmu selalu menjadi favoritku, Sev." ujarnya sambil mengacak kembali rambut Severus dengan tangannya yang bebas, "Kau selalu membuatku memiliki alasan untuk berjuang."
"Calon juara kita." tantang Severus.
"Aku berjanji padamu untuk menjadi juara sebenarnya." James mengatakannya dengan keyakinan dan anggukan sungguh-sungguh, "Untukmu."
Severus kembali memberikan sunggingan tipis, "So, now, which James Potter am I talking to?" tanyanya dengan nada pura-pura penasaran, "Sang Juara Quidditch atau Si Pembuat Onar dari Gryffindor?"
"Tidak keduanya." balas James sambil menggelengkan kepalanya penuh penghayatan. Lakon dramatis yang membuat Severus lagi-lagi hampir membuncahkan tawa geli, "Aku James. Hanya James, tanpa nama belakang ataupun embel-embel, yang jatuh cinta padamu sekali lagi."
Kalimat itu sangat efektif untuk membuat Severus memasang air muka jijik.
"Uh, bisakah kau hentikan gombalanmu—" tandas Severus sambil memandang rendah kekasihnya itu, "—James-yang-manapun-kau-Potter?"
James tergelak karena respon Severus, "Kau yang memilih James-mu, kalau begitu."
"Aku tidak peduli topeng mana yang kau pakai, karena di mataku, kau tetap sosok yang sama—" lagi-lagi Severus tanpa sadar meninggikan frekuensi suaranya, "Seorang… Pahlawan idiot yang serampangan!"
James kembali menertawakan dirinya sendiri. Kalimat-kalimat dari Severus ternyata secara ampuh mengobati rasa resahnya akan pertandingan yang akan ia hadapi.
"Kau benar-benar memiliki kekuatan yang besar untuk menghancurkanku, kau tahu?" tanya James, dengan nada serius namun kehangatan tetap terpancar dari wajahnya.
Severus terdiam sejenak. Lalu ikut tersenyum samar sebelum memberikan jawaban, "Tetapi kau percaya kalau aku tidak akan melakukan itu."
Puas, James mengangguk.
"Itulah cinta yang kumaksud."
Jawaban dengan nada sangat yakin itu jelas membuat Severus ingin meralat ucapannya, "Belum—kalau begitu." ia mengoreksi sambil ikut-ikutan tersenyum iseng. Pelajaran ekspresi yang ia dapatkan eksklusif dengan cara autodidak memperhatikan air muka James.
James ikut tertawa kecil, "Itu saja sudah cukup."
Severus merasakan genggaman tangan itu mengerat dan terasa begitu hangat.
Dan, tidak biasanya pemuda berambut hitam itu mau repot-repot singgah ke tempat semacam ini.
.
(xXx)
.
~ Selesai ~
.
(xXx)
.

Wednesday, 30 January 2013

You are My Inspiration (arvisha)

Link asli ada di sini

----------

Para tokoh di bawah ini bukan milik saya. Milik JK Rowling tercinta tentunya.


Lily Evans berkencan dengan Severus Snape di Hogsmeade?

Lily Evans membenarkan lilitan syalnya, sepasang mata hijaunya tak henti menatap keluar jendela Hog's Head yang berdebu tebal. Gelas kedua berisi Butterbeer sudah hampir kosong lagi. Sudah 3 jam ia menanti kedatangan seseorang di bar yang kumuh ini. Beberapa orang yang berpenampilan aneh berulang kali melirik ke arahnya. Tempat ini bukan tempat terlarang untuk siswa Hogwarts, tapi memang jarang dikunjungi para siswa itu. Masih banyak bar yang lebih layak untuk dikunjungi, seperti Three Broomsticks atau Madam Puddifoot's, namun orang yang dinantinya itu tidak mau ke sana. Dia tidak mau pertemuan ini diketahui banyak orang. Maka dipilihlah bar kumuh yang sangat jarang dikunjungi siswa Hogwarts ini.
Lily sudah hampir kehilangan kesabarannya. Tidak biasanya Severus telat, apalagi sampai 3 jam! Lily sudah berdiri dari kursinya, ketika dari jauh tampak seorang remaja laki-laki berjubah hitam menghampiri bar tersebut. Laki-laki itu berjalan dengan cepat dan sering menoleh ke belakang, tampak khawatir ada yang mengikuti. Tak lama kemudian laki-laki itu masuk ke Hog's Head dan langsung menemukan Lily yang sudah tampak sangat kecewa.
"Maafkan aku Lils.. aku dikerjai James dan teman-temannya… aku berusaha menghindar dan menunggu sampai mereka masuk kembali ke aula Gryffindor..", kata Severus Snape sembari mengatur napasnya.
"Huuuh.. gara-gara mereka lagi! Aku hampir saja pergi, jika tidak melihamu bergegas kemari. Bayangkan Sev, aku sudah menunggu selama 3 jam! Sudah menghabiskan 2 gelas Butterbeer. Butterbeer milikmu yang sudah kupesan pun sekarang sudah dingin. Selain itu, tempat ini menyeramkan, penuh orang asing berpakaian aneh. Pria bertudung itu tak hentinya menatapku! Kalau bukan demi kau, aku tak mau ke sini!", omel Lily.
"Lily, maaf.. aku benar-benar minta maaf. Aku sudah berupaya sembunyi dari mereka, entah mengapa mereka selalu menemukanku. Aku dikerjai sampai akhirnya mereka lelah sendiri. Mereka curiga aku akan menemuimu di luar sekolah, Mereka sangat marah karena kau tak ada di sekolah maupun di Hogsmeade. Yah, karena mereka mengira aku akan menemuimu, mereka mengikutiku terus menerus dan mengerjaiku, Aku baru saja membersihkan bom kotoran terakhir yang mereka lemparkan", jelas Snape.
"Ok, kali ini kau kumaafkan. Alasanmu dapat kuterima. Yah mereka memang memiliki sesuatu yang dapat menemukanmu", ujar Lily seraya duduk kembali.
"Apa? Mereka memiliki sesuatu yang terus menerus bisa menemukanku? Semacam alat pencari jejak? Benda buatan muggle yang berupa lempengan besi yang ditempelkan ke tubuh itu?" ujar Snape panik dan mencari-cari sesuatu yang menempel di tubuhnya.
"Hahaha.. tak usah panik begitu Sev, duduklah dulu, pesan lagi Butterbeer-mu, nanti kujelaskan"
Severus Snape menatap sebal Lily yang masih menertawainya, tapi kemudian dia tersenyum. Lily tertawa, artinya marahnya sudah hilang dan tak ada lagi yang perlu dicemaskan. "Aku habiskan yang ini dulu, pesananmu", ujarnya.
"Tapi kan itu sudah dingin..", tukas Lily.
"Never mind, lagi pula di sini jauh lebih hangat dari pada di luar", ujar Snape malu-malu. "Jelaskan padaku tentang alat penyadap itu", sambungnya.
"Aah.. kita kan ke sini bukan mau membahas James dan gerombolannya", ujar Lily. "Ok, ok, aku jelaskan, jangan menatapku seperti itu Sev..", sambuung Lily begitu menatap mata hitam Snape yang mulai menghujam.
"Mereka memiliki semacam peta yang dapat mendeteksi siapapun orang yang mereka cari. Nama orang yang mereka cari terpampang di peta itu, lengkap dengan lokasinya", jelas Lily.
"PETA? Ah pantas.. mereka selalu menemukanku. Jadi mereka tau kalau aku ada di sini?" tanya Severus Snape kembali panik.
"Hmm.. sepertinya tidak, peta itu hanya berlaku ketika kita berada di Hogwarts. Aku sudah mengeceknya".
"Bagaimana kau tahu?
"Ah tentu saja aku tahu. Aku kan juga korban penguntitan mereka. Ke manapun aku pergi mereka tahu. Awalnya aku pikir mereka mencoba menghafalkan jadwalku. Jadi aku coba mengubahnya, ternyata mereka pun tahu. Sampai akhirnya aku menemukan Pettigrew sendirian di lantai tujuh, di seberang permadani hias Barnabas The Barmy."
"Sedang apa kau di sana?" potong Snape.
"Ah, aku hanya kebetulan lewat saja, tak sengaja menemukan Pettigrew sendirian dan tampak ketakutan. Aku pun mendekatinya, dia tambah ketakutan. Saking takutnya, dia berlari menjauhiku dan menjatuhkan perkamen yang dipegangnya. Aku melihat peta Hogwarts dan menemukan namaku tepat pada lokasi itu".
"Hmm.. begitu caranya, lalu kau apakan perkamen itu?"
"Aku letakkan kembali dan kupanggil dia untuk memberitahunya bahwa perkamennya terjatuh. Sepertinya dia tidak tahu bahwa aku sudah melihat perkamennya itu. Aku pun mencoba membuktikan cara kerja peta itu. Aku pergi ke tempat-tempat tertentu untuk memancing James mencariku, dan ternyata benar.. dia selalu berhasil menemukanku. Tapi kalau di luar Hogwarts, dia tidak bisa menemukanku. Makanya, aku berangkat paling pertama ke Hogsmeade, sebelum mereka turun ke aula besar, jadi mereka tak bisa menemukanku".
"Ah, jadi kau sudah sangat lama berada di sini, aku benar-benar merasa bersalah".
"Ya, aku sudah lama sendirian di sini, sendirian lagi, Huu… untungnya kau datang juga, kalau tidak aku akan masuk menerobos ke asramamu sampai menemukanmu kemudian melemparimu sekantong bom kotoran", ujar Lily.
"Percayakah, jika itu kau lakukan, aku takkan membersihkannya, akan kusimpan sebagai kenangan", ujar Snape menggoda.
"Haha... kau jorok", ujar Lily tertawa geli
"Itu kan karena perbuatanmu, jadi kau yang membuatku jorok", Snape menimpali.
"Ok, ok, kita bicarakan hal lain ya".
"Hmm.. kita harus menghentikan mereka Lils, tak enak rasanya terus menerus diikuti seperti ini".
"Menghentikannya? Bagaimana caranya? Aku tak mau ah kalau berbuat curang, sama saja seperti mereka dong. Sudahlah, jangan terlalu dicemaskan. Kita kan ke sini untuk membicarakan hal lain. Aku butuh bantuanmu untuk tugas Telaah Muggle-ku, Sev".
"Aku? Telaah Muggle? Aku kan tidak pernah mengambil pelajaran itu. Aku tidak tahu apa-apa tentang pelajaran itu. Lagipula kau kan sudah mengetahui banyak tentang muggle, untuk apa kau mengambilnya?"
"Kau kan banyak membaca Sev. Kau sering ke perpustakaan muggle. Wawasanmu tentang muggle cukup luas. Ayolah..".
"Hupft.. baiklah, apa yang bisa kubantu?"
"Huaaa… kau baik sekali Sev..", ujar Lily mencium pipi Snape.
"Upz.. wajahmu jadi merah, yah setidaknya jadi tidak terlalu pucat ya Sev", goda Lily.
"Sudahlah Lils, jangan menggodaku terus, aku batalkan nih niat membantumu", ancam Snape dengan muka masih memerah.
"Hahaha.. kau ini… Ok, ok, kita serius nih. Aku mau kau membagi wawasanmu mengenai sejarah berdirinya kerajaan Inggris Raya. Kau kan selain ahli ramuan, juga ahli sejarah", puji Lily.
"Sejarah berdirinya Inggris Raya? Ah, kau kan juga sudah tahu Lils, kau belajar tentang itu di sekolahmu yang dulu kan? Guru Telaah Muggle-mu tidak menjelaskan? Di buku-buku sejarah sihir, hal itu juga sedikit disinggung, aku pernah mendengar penjelasan Prof. Binss di kelas mengenai Merlin dan King Arthur.."
"Aku lebih suka mendengar penjelasanmu, Sev.. " potong Lily.
"Hmm.. Baiklah, mana perkamen dan penamu?"
"Upz, aku lupa membawanya, sorry.."
"Lily, kau mau belajar, tapi kau tak membawa apapun untuk menulis?", tegur Snape.
"Oh, jangan marah lagi Sev, tunggu sebentar ya, aku keluar untuk membeli.."
"Tidak usah, tetaplah duduk. Accio perkamen dan pena!" seru Snape.
"Accio?" Mantra panggil? Kau sudah menguasainya? Itu kan baru dipelajari tahun depan.. Ah, kau memang hebat Sev, tak salah aku memilihmu", rayu Lily.
"Sudahlah Lils, kau juga pintar, walau kadang ceroboh. Ok, kau mau mulai dari mana?".
"Huuh… memujiku kemudian menjatuhkanku. Dari awal tentunya. Aku bingung dengan berbagai macam versi yang aku dapatkan, bingung juga dengan daerah-daerah kekuasaan, berbagai dinasti, perang, perluasan daerah, perpecahan, serta semua raja dan ratunya".
"Lily, itu kan sejak abad ke-5 M, akan memerlukan waktu berhari-hari untuk menjelaskannya".
"Ah, aku betah mendengar penjelasanmu, Sev. Cepatlah dimulai,"
"Ok, perhatikan ya, agar lebih mudah aku akan menunjukkanmu perbandingan daerah kekuasaan dulu, Ini gambar Inggris raya yang sekarang", ujar Severus Snape seraya menggambar peta Inggris.
"Ah, dengan cara ini lebih mudah dimengerti Sev. Kau menginspirasiku untuk mengerjakan tugas lebih baik. Sejarah itu tidak harus menyangkut tanggal dan nama-nama yang memusingkan saja. Ada cara lain agar lebih menarik dan mudah diingat! Dengan gambar-gambar. Thanks Sev".
Mereka berbincang sampai pelayan bar mengusir mereka pulang, "Kalian murid Hogwarts kan? Cepat pulang sebelum aku mengabarkan pada kepala sekolah, bahwa ada 2 murid bandel yang belum pulang sampai begitu larut!", hardiknya.
"Oops.. jam berapa ini? Jam 10 malam Sev, Gerbang sudah dikunci ya, haduh, bagaimana kita masuk?"
"Kirim kabar saja Aberforth, kurasa kakakmu memang perlu mengetahui bahwa ia kehilangan 2 muridnya. Toh, kami juga sudah tidak bisa masuk kan. Gerbang sudah dikunci", ujar Severus.
"Aberforth? Dia…" Lily kebingungan.
"Lily, perkenalkan, ini adalah Aberforth Dumbledore, adik kepala sekolah kita. Sebaiknya kita langsung menghadap kepala sekolah saja, kita memang sudah melanggar peraturan, sudah seharusnya diberi detensi.
"Huuuh.. Severus Snape. Diam-diam, kau selalu mengetahui hal-hal yang orang tidak tahu. Baiklah, kali ini aku tidak mengadu. Asal kalian berjanji tidak membocorkan rahasiaku pada siswa lainnya. Akan kuhubungi Hagrid agar dia membukakan pintu untuk kalian, namun, tetap siap menerima hukuman jika kalian bertemu salah seorang guru. Jaga Evans baik-baik Snape", ujar Aberforth.
"Terima kasih Abe, tentu saja akan kujaga Lily, selalu!", kata Severus.
"Thanks Mr. Dumbledore", ujar Lily.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan sampai depan gerbang Hogwarts, dan Hagrid sudah menanti mereka di gerbang, "Lily! Severus! Ke mana saja kalian sampai larut malam begini? Ah, untung saja ada yang memberikanku kabar. Kalian tidak ke…"
"Ssstt.. Hagrid, jangan beritahu siapa-siapa ya, please… aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku dan Sev ya membuatmu susah..", potong Lily.
"Ah baiklah, cepatlah kalian masuk, sudah sangat dingin di sini".
"Thanks Hagrid", ujar Lily manja.
"Terima kasih", ujar Severus dengan kaku.
Lily dan Severus pun berjalan memasuki halaman kastil dengan bergegas, udara bertambah dingin. Severus mengantar Lily sampai di depan lukisan Fat Lady. "Sampai jumpa Lils".
"Sampai jumpa, Sev. Terima kasih untuk hari ini. Kau memberitahuku banyak hal, kau memang inspirasiku", ujar Lily.
Severus Snape tersenyum, "Kaulah yang merupakan inspirasiku Lily. Aku banyak membaca dan belajar untuk dirimu. Agar bisa berbincang banyak denganmu. Agar selalu bisa membantumu, Selalu", ucapnya dalam hati.