Showing posts with label Genre Sci-Fi. Show all posts
Showing posts with label Genre Sci-Fi. Show all posts

Wednesday, 30 January 2013

Get Well Soon, Prof Snape (arvisha)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini

----------

Tokoh-tokoh dalam Harry Potter merupakan milik JK Rowling tercinta tentunya. Selain itu, terdapat beberapa orang Mr. Holmes dan dr. Watson saya ambil dari nama belakang tokoh ciptaan Sir Arthur Conan Doyle, sedangkan dr. Jekyll saya ambil dari nama belakang tokoh ciptaan Robert Louis Stevenson. Humaira Chehab adalah nama ciptaan saya sendiri. Ulima dan Mbak Retno Setyaningsih nama rekan saya yang berulang tahun sama dengan Prof. Snape (9 Januari), Ibu Retno Lestari merupakan nama dosen pembimbing skripsi saya yang berulang tahun 3 hari setelah Snape. jadi karya ini juga merupakan tribute untuk mereka. Ulima dan Ibu Retno Lestari memang mempelajari bidang genetika di Biologi UI, walaupun bukan secara langsung mempelajari terapi genetik untuk hemofilia. Mbak Retno Setyaningsih memang mendalami ilmu Psikologi, walau tidak secara langsung mempelajari The 5 stages of Griefing. Demikian penjelasan terkait dengan nama tokoh.


Severus Snape bertahan hidup dari serangan Nagini, namun lukanya sangat parah. Harry dan Hermione terus berupaya menyembuhkannya, walau St. Mungo dan pengobatan sihir sudah tidak sanggup.
"Harry, tampaknya St. Mungo sudah menyerah menyembuhkannya. Kita harus mengeluarkannya dari sini", ujar Hermione.
"Mengeluarkannya? Apa maksudmu? Kau juga mau menyerah dan meninggalkanku ya? Seperti Ron dan Ginny? Ya sudah, tinggalkan saja aku. Pergilah! Biar aku sendiri yang merawatnya", tukas Harry marah.
"Bukan begitu Harry, sabarlah dulu. Aku tak akan meninggalkanmu sendiri menghadapinya. Aku hanya berpikir, sudah saatnya kita mencari cara lain. Sudah 7 tahun dia hanya tergeletak diam seperti itu. Tidakkah kau kasihan padanya?"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Hermione? Madam Pomprey, Prof. Slughorn, dan Prof. Sprout sudah menyerah. Kita tidak mungkin membawanya kembali ke Hogwarts. Lagipula menurut Penyembuh Holmes, dia sudah ada sedikit kemajuan. Dia sudah mampu menunjukkan reaksi jika diajak bicara. Dia, mampu menggerakkan kelopak matanya."
"Ya, dia sudah mampu melakukan itu sejak 3 tahun yang lalu, sebelum Ginny dan Ron meninggalkan kita. Tapi baru sampai situ saja kan kemajuannya. Aku mau kita menggunakan cara muggle Harry. Dari buku-buku muggle yang aku baca, Prof. Snape menderita Hemofilia. Luka dia beda dari Mr. Weasley dulu, padahal samasama digigit Nagini. Pendarahan pada Mr. Weasley dapat disembuhkan, sementara luka Prof. Snape tidak, darahnya tak pernah berhenti keluar. Para healer hanya berusaha memberhentikan pendarahannya dan memberinya ramuan penambah darah."
"Cara muggle? Oh, Hermione, terlalu berisiko…"
"Tenanglah Harry, aku sudah mempelajari semuanya. Seminggu yang lalu aku berkenalan dengan gadis asing yang kukira dia muggle, ternyata dia penyihir. Penyihir dari Asia".
"Penyihir asing? Apa hubungannya dengan pengobatan muggle? Ah, kau membuatku bertambah bingung Hermione."
"Begini Harry, aku bertemu dengan Humaira Chehab, minggu lalu begitu aku keluar dari pintu St. Mungo. Penampilannya yang berkerudung dan berjubah panjang ala Timur Tengah membuatku memperhatikannya. Tiba-tiba ia menegurku dan bertanya apakah aku penyihir. Tentu saja aku kaget ditanya begitu, tahu dari mana dia, Kemudian dia tersenyum dan memperkenalkan diri sebagai penyihir dari Indonesia. Namun di sini ia sedang melanjutkan pendidikan S3-nya di bidang Biopsikologi.", cerita Hermione.
"Penyihir berpenampilan Timur Tengah dari Indonesia yang sedang melanjutkan pendidikan S3 di bidang apa itu tadi? Oh Hermione, ceritamu membuatku sangat pusing. Kita lanjutkan sambil makan siang saja di Cafetaria lantai 5.", ujar Harry.
"Ah, tentu saja, kau belum makan apapun dari tadi pagi Harry, baiklah kita lanjutkan sambil makan siang. Prof. Snape, kami tinggal sebentar ya", ucap Hermione kepada Severus Snape.
"Prof, kami akan segera kembali", ujar Harry mengelus tangannya.
Kelopak mata Snape sedikit berkedut sekali, menandakan bahwa ia mengucapkan "iya". Dua kali untuk kata "tidak". Hanya itu yang bisa dilakukannya sampai saat ini.
Sesampainya di Cafetaria St. Mungo dan setelah memesan makanan, Hermione kembali melanjutkan ceritanya. "Seperti ceritaku tadi, Miss Chehab merupakan penyihir yang juga mempelajari ilmu-ilmu muggle. Ilmu sihir dilarang keras di negaranya, sangat sulit mempraktikan bakatnya di sana. Maka dia mempelajari ilmu-ilmu muggle, kemudian dia mendapatkan kesempatan untuk belajar di London. Dia berusaha mencari tahu dunia sihir di Inggris, terutama dunia pengobatan sihir. Maka ketika dia mendapatkan informasi tentang St. Mungo, dia berusaha untuk masuk, namun ditolak sang manekin. Ia menunggu dan memperhatikan sampai ada orang yang keluar dari manekin itu".
"Lalu?"
"Aku adalah orang yang pertama kali dari manekin itu, dia pun menghampiriku. Setelah memastikan bahwa kami sama-sama penyihir, dia lalu bertanya padaku, tentang sesuatu yang tampaknya sangat aku khawatirkan"
"Dia bisa meramal?"
"Oh, Harry, kan tadi sudah kuberitahu bahwa dia belajar ilmu psikologi. Ilmu yang berusaha mempelajari perilaku, emosi, dan kognisi manusia. Dia melihat ekspresi wajahku yang sangat cemas. Aku pun menceritakan kondisi Prof. Snape".
"Kau menceritakan kondisi Prof. Snape pada orang yang baru kau kenal?"
"Ah, Harry, kau terus menerus memotongku. Aku hanya menjawab pertanyaanya. Lagipula dia sudah tahu. Dia dihubungi Kementrian Sihir untuk membantu menyembuhkan Snape. Menteri Sihir sendiri yang menghubunginya".
"Tapi mengapa manekin St. Mungo menolaknya?"
"Karena dia lupa dia harus menemui siapa. Terlalu banyak yang ia pikirkan, biasanya ia mencatat segala hal pada i-pad-nya, namun karena dia begitu bersemangat mengunjungi St, Mungo, ia pun terlupa membawanya. Sementara menunggu orang yang lewat, ia juga sedang memanggil burung hantunya, untuk mengirimkan surat ke Kementrian Sihir, tapi aku sudah terlebih dulu keluar", jelas Hermione.
"Ok, lanjutkan", ujar Harry.
"Yah dia menjelaskan padaku bahwa ia sudah mengetahui kondisi Prof. Snape, namun dia harus memastikannya dengan melihatnya langusng. Ia menduga bahwa Prof. Snape menderita Hemofilia. Hal itu hanya bisa disembuhkan dengan terapi gen". ujar Hermione.
"Hermione, kalau kau yakin dengan dia, bawa langsung dia melihat Prof. Snape, kita upayakan langsung memindahkannya ke Rumah Sakit di London. Aku mempercayaimu sepenuhnya untuk urusan ini".
"Ah, benarkah Harry? Baiklah, aku akan segera menghubunginya, mungkin besok ia bisa datang melihat langsung keadaan Prof. Snape".
Keesokan harinya Hermione Granger datang bersama seorang gadis berkerudung merah jambu dengan jubah berwarna senada. "Humaira Chehab", katanya memeperkenalkan diri kepada Harry Potter.
"Senang bertemu denganmu Miss Chehab, inilah Prof. Snape yang ingin kau lihat. Kata Hermione, kau bisa menyembuhkannya?, ujar Harry.
"Ah, Mr. Potter, bukan aku yang menyembuhkannya, kita hanya berusaha. Tuhanlah yang menentukan dia nakan sembuh atau tidak. Boleh aku cek kondisi Prof. Snape?", ujar Humaira meminta izin.
"Silakan Miss Chehab", ujar Hermione.
"Just call me Aira, ok?" ujarnya seraya mendekati Snape dan memeriksa kondisi sang Profesor serta peralatan pengobatan di sekitarnya.
Tak lama kemudian, Healer Holmes, yang bertanggung jawab atas pengobatan Severus Snape di St. Mungo bergegas masuk. "Apakah Anda Miss Chehab?" tanyanya.
"Ya, Anda, healer Holmes? Anda sudah menerima surat dari Menteri Sihir rupanya? Maaf mendahului Anda, seharusnya aku terlebih dulu menemui dan meminta izin padamu, tapi keadaannya sudah mendesak", ujar Humaira.
"Tidak apa, aku mengizinkannya. Kendaraannya untuk memindahkannya sudah kusiapkan. Kita pindahkan hari ini kalau The Wellington Hospital sudah siap", kata Holmes.
"Pindah hari ini juga? Tapi.. " potong Harry.
"Tenang Mr. Potter. Wellington Hospital sudah siap, ada beberapa rekanku di sana yang akan menyambutnya. Kita memakai ambulans saja. Dia akan langsung dimasukkan ke ruang ICU. Bisa kah kalian membantuku membawanya ke ambulans?", ujar Humaira.
Mereka pun membawa Snape ke ambulans. "Aku menitipkannya sepenuhnya di tanganmu Miss Chehab, ujar healer Holmes.
Harry dan Hermione menemani Snape di dalam ambulans bersama Humaira.
Sesampainya di Wellington Hospital, sudah banyak orang yang bersiap menyambut mereka. Snape pun segera dibawa ke ruang ICU. Humaira masuk ke dalam bersama orang-orang itu sementara Harry dan Hermione menunggu di ruang tunggu. Tiga jam kemudian Humaira keluar bersama beberapa orang, menemui Harry dan Hermione.
"Mr. Potter dan Miss Granger, perkenalkan, mereka adalah rekan-rekanku yang membantu menyembuhkan Mr. Snape. Ini dr. Jekyll,dan dr. Watson, ahli medis yang langsung menangani sistem transportasi dan koordinasi beliau. Sementara ini Prof. Retno Lestari dan Dr. Ulima yang menangani terapi gen untuk beliau."
Harry dan Hermione menyalami mereka satu persatu, Harry kemudian bertanya tentang kemajuan yang mereka peroleh. Dr. Watson menjelaskan, "Kami berupaya memperbaiki sistem sirkulasi darahnya. Sementara sistem saraf memang agak sulit diperbaiki, karena sel-sel saraf tidak dapat melakukan regenerasi. Namun kami akan terus berupaya untuk menyadarkannya. Selain itu, pendarahannya harus segera dihentikan. Untuk itulah para ahli dari Indonesia ini ada di sini, Silahkan Prof. Retno dan Dr. Ulima menjelaskan tentang terapi gen".
"Mr. Potter, ah, beruntung sekali kita bertemu, kami memang sedang mengupayakan terapi gen untuk mengobati Hemofilia. Apakah anda sudah pernah dengar teknik ini?"
"Maaf, Professor, saya tidak tahu, bahkan sebenarnya saya tidak tahu tentang gen maupun hemofilia", ujar Harry.
"Nanti saja kujelaskan tentang itu Harry. Saya sudah membaca tentang hemofilia dan gen, namun saya belum memahami tentang terapi gen", ujar Hermione.
"Ah tak apa. Miss Granger, sebaiknya saya jelaskan saja langsung semuanya. Gen merupakan bagian dari sel kita yang menentukan segala sifat kita dan bersifat diwariskan antar generasi. Salah satu yang dapat diwariskannya adalah penyakit Hemofilia ini. Penyakit yang berasal dari genetik hampir tidak bisa disembuhkan. Karena artinya seumur hidup penderita membawa gen abnormal itu. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya adalah teknik terapi gen", jelas Prof. Retno.
"Oh, baiklah, aku mulai memahami, lalu terapi gen itu apa?, tanya Harry.
"Terapi gen merupakan teknik mengganti gen yang rusak dengan gen yang masih baik, atau menambahkan gen normal untuk menekan penyakit yang disebabkan oleh gen abnormal itu. Hemofilia disebabkan oleh gen abnormal, yang membuat pembekuan darah sulit dilakukan, sehingga pasien kan terus mengeluarkan darah ketika dia terluka", jelas Dr. Ulima.
"Lalu, kapan dia bisa kembali pulih?", tanya Hermione.
"Pengobatan ini memakan waktu yang agak lama memang, paling cepat sekitar 6 bulan. Kami akan bekerja sama dan berupaya sebaik mungkin untuk kesembuhannya. Tetaplah berdoa untuknya", ujar Prof. Retno.
"Kami harus masuk kembali, Humaira akan menemani kalian, semoga dia bisa membantu menenangkan kalian", ujar dr. Jekyll.
"Mari kita beristirahat dulu, perjalanan tadi dan keadaan di dalam tai membuat kalian semakin . Snape berada pada penanganan terbaik. Percayalah. Aku pun tidak akan memberi tahu siapa dia sebenarnya", ujar Humaira menenangkan.
"Ah, aku sangat percaya padamu Aira, lega rasanya mengetahui dia ada kemungkinan bisa pulih kembali", ujar Hermione.
"Apakah mereka mengetahui bahwa kau juga seorang penyihir Aira?", tanya Harry.
"Haha.. tentu saja tidak, hmm.. mungkin mereka mencurigai beberapa perilaku anehku, tapi selebihnya tidak", jelas Humaira sembari tersenyum.
"Lalu, apa perananmu untuk penyembuhan Prof. Snape?", tanya Harry.
"Harry..", tegur Hermione.
"Ah, tak apa Miss Granger, wajar jika Mr. Potter penasaran", ujar Humaira. "Aku bertanggung jawab atas pemulihan Prof. Snape ketika dia sudah sadar nanti. Aku harus mempelajari denah kerusakan sarafnya. Masing-masing sel saraf di otak memiliki fungsi yang berbeda-beda, terkait juga dengan emosi, pikiran, perilaku, dan sikap individu. Seperti penjelasan dr. Watson tadi, sel saraf yang sudah rusak tidak dapat diperbaiki lagi. Sel saraf yang mati akan menyusut dan meninggalkan semacam lubang di antara sel-sel saraf yang masih hidup. Sehingga terjadi putusnya sambungan antar sel saraf itu, yang berakibat putus pula sambungan sinyal-sinyal pada sel saraf. Hmm.. seperti jika ada suatu kota yang terkena bencana, sehingga mematikan aktivitas pada kota tersebut dan jalur dari kota-kota lainnya yang melewati kota itu. Kalian mengerti?"
"Ok, tapi apa yang akan terjadi jika sel-sel saraf itu tidak bisa diperbaiki lagi?", tanya Hermione tidak sabar.
"Tenang, masih ada teknik yang dapat menyambungkan sel saraf itu, yaitu memperpanjang sinaps antar sel saraf. Semoga cara ini bisa menggantikan fungsi sel-sel saraf yang rusak itu. Tentu ada akibatnya, Kalaupun dia sadar nanti, dia mungkin akan mengalami beberapa gangguan, perlu waktu lagi untuk membantunya menghadapi kehidupannya yang baru. Emosinya akan sangat tidak stabil. Tapi tenanglah, aku sudah menyiapkan psikolog untuk menanganinya, the other Retno. Ayo, aku perkenalkan padanya", ujar Humaira sembari mengajak mereka mengunjungi suatu ruangan.
"Retno yang lain? Dia rekanmu juga? Dari Indonesia juga? Wah banyak sekali orang Indonesia di sini, bahkan aku tak tahu Indonesia itu di mana. Tapi kalian hebat-hebat!", puji Harry.
"Setiap orang dari setiap negara punya kelebihan masing-masing Mr. Potter. Sudah saatnya kita saling membantu sama lain di era globalisasi ini. Bahkan menurutku, para penyihir dan muggle sudah saatnya bekerja sama. Inilah yang aku cita-citakan", ujar Humaira.
"Kau hampir merealisasikannya kalau begitu, panggil aku Harry saja, Aira".
"Yah, panggil aku Hermione saja", tambah Hermione.
"Baiklah, Harry dan Hermione, kita sudah sampai di ruangan Dr. Retno Setyaningsih, M. Psy. Dia adalah ahli psikologi yang menangani orang-orang yang terbangun dari koma yang lama. Biar dia yang akan menjelaskan kemungkinan kondisi Prof. Snape nantinya", ujar Humaira.
"Selamat siang, Dr. Retno, anda sudah menerima pesanku?", tanya Humaira setelah dipersilakan masuk.
"Ah ya, Humaira, tentu saja. Inikah rekan-rekanmu? Maaf aku belum sempat mengunjungi pasien barumu. Tapi, tentunya dia sudah mendapatkan penanganan terbaik", ujar Dr. Retno.
"Ya, dia sudah berada di ruang ICU, semoga dia cepat sadar. Perkenalkan ini keluarganya, Harry Potter dan Hermione Granger", ujar Humaira.
"Senang bertemu kalian, kalau boleh tau hubungan kalian dengan Mr. Snape itu apa?", tanya Dr. Retno.
"Kami murid-muridnya, dia sudah tidak memiliki keluarga dekat, hanya kami yang terdekat dengannya", jelas Hermione.
"Oh baiklah, dia akan memerlukan orang-orang terdekatnya ketika dia sadar nanti. Dia akan mengalami trauma dan ketidakstabilan emosi, mungkin juga depresi yang cukup parah. Namun mereka bisa melewatinya, tugas psikolog dan orang-orang terdekatnya-lah untuk tetap mendampinginya pada kondisi apapun. Untuk menunjukkan dan meyakinkannya, bahwa masih ada orang-orang yang berharap akan kesembuhannya. Dia sangat memerlukan itu", jela Dr. Retno.
"Maksudnya, ada kemungkinan dia akan memilih kematian? Dia akan bunuh diri?", tanya Hermione cemas.
"Ya, ada kemungkinan ke sana, terutama jika individu-individu ini selamat dan terhindari dari kematian, namun orang yang mereka sayangi justru tewas. Mereka akan mengalami depresi, ingin menyusul kekasih mereka", ujar Dr. Retno.
"Oh tidak…, dia pasti ingin menyusul Lily", ujar Hermione.
"Lily? Siapa dia?", tanya Humaira.
"Ibuku, kekasihnya…", jawab Harry.
"Kau putranya?", tanya Humaira.
"Bukan, dia guruku, pelindungku sejak kematian ibu. Makanya aku sangat bertekad menyembuhkannya, untuk berterima kasih", jelas Harry.
"Hmm.. baiklah, Setidaknya ada alasan dia untuk tetap hidup. Kita bisa bersuaha menyembuhkannya, walaupun harus masuk ke Five Stages of Griefing. Kau siap?", tanya Dr. Retno.
"Apa itu?", tanya Hermione.
"Five Stages of Griefing merupakan tahapan-tahapan seseorang yang depresi karena kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintainya untuk kembali ke keadaan semula. Tahapan pertama adalah Denial, mereka akan menolak kenyataan tersebut. Mungkin, Prof. Snape akan meonolak kenyataan bahwa dia kembali sadar dan tidak bisa berjumpa kembali dengan kekasihnya. Tahapan kedua adalah Anger, sebagai efek dari kenyataan yang berbeda dari yang ditolaknya. Mereka akan marah karena kenyataan tidak sesuai dengan yang mereka pikirkan., mereka menyalahkan diri sendiri atas keadaan itu. Tahapan selanjutnya adalah Bargaining, mereka akan berusaha menerima kenyataan dan berhenti menyalahkan diri, namun mungkin menyalahkan orang lain atas peristiwa itu. Lalu masuk ke tahapan Depression, mereka menyadari kehilangan itu semakin dalam, dan larut dalam kesedihan. Setelah itu barulah masuk ke tahapan terakhir, Acceptance, kalau mereka berhasil melewati semua tahapan itu dengan baik, mereka akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa mereka telah kehilangan, namun mereka harus melanjutkan kehidupan mereka. Setelah itu mereka bisa kembali ke kehidupan normal mereka, walau terkadang masih teringat pada rasa kehilangan itu. Tahapan-tahapn itu sangat berat untuk dilewati, kalian siap membantunya?", tanya Dr. Retno setelah panjang lebar menjelaskan tentang The Five Stages of Griefing.
Hermione menatap Harry seraya menggenggam tangannya, "Aku siap Harry, aku akan selalu mendampingimu. Kau juga siap kan?".
"Terima kasih Hermione, Iya, aku siap. Kami siap menghadapi apapun. TErima kasih Dr, Retno, terima kasih Aira".
"Sama-sama, Harry. Hei, aku mendapat pesan dari dr. Watson, kita boleh menemuinya. Mau ikut kami Dr. Retno?", ujar Humaira.
"Baiklah kita ke sana sekarang", ujar Dr. Retno.
Mereka berempet kembali ke ruang ICU, setelah menggunakan pakaian higeinis, men-steril-kan tangan, melepas alas kaki, dan memakai masker, mereka diizinkan masuk ke ruang perawatan. Harry Potter mendekati gurunya di sisi kanan, sementara Hermione Granger di sebelah kirinya.
"Kami akan terus berupaya menyembuhkanmu, Profesor. Bertahanlah..", ujar Harry.
"Get well soon, Profesor", tambah Hermione.

Welcome Back, Professor (simplyneneng)

Fiksi Challenge. Link asli dan bab-bab sambungannya ada di sini

-----------

Disclaimer: All Harry Potter characters belong to Joanne Kathleen Rowling. I don't own them!
Timeline: setelah Perang Hogwarts. just enjoy the story :)

Tubuh itu melayang-layang tak berdaya didalam sebuah tabung besar berisi penuh cairan campuran antara air, oksigen, dan beberapa ramuan kimia dengan takaran sedemikian rupa disebuah ruangan yang didominasi peralatan yang mengatur segala sesuatu didalam tabung tersebut, dengan seseorang yang menungguinya didepan meja penuh perkamen dan tinta serta pena berserakan tidak tertata. Jelas sekali sudah berhari-hari orang itu tidak menikmati waktu tidur malamnya dengan baik, sehingga pada siang yang cerah ini ia harus mengambil jatah istirahatnya agak lebih panjang dan dini. Bahkan ketika seseorang menepuk pundaknya cukup keras dari belakang, ia tidak langsung bangun sebelum pukulan itu memasuki kali keempat dan dengan kekuatan yang meningkat tiap kalinya.
"Maaf," ucapnya cepat ketika membuka mata dan mendapati siapa yang sudah berada diruangan itu untuk membangunkannya, "Aku tidak sadar sudah tertidur disini."
"Santai saja." jawab orang yang satunya lalu tersenyum sambil berjalan menghampiri depan tabung seukuran 2 kali tubuh manusia disana, "Aku tahu kau sudah hampir satu minggu tidak tidur. Tak apa."
Orang pertama lalu mengangguk dan mengikuti menghampiri kedepan tabung. Keduanya diam agak terlalu lama mengamati seseorang yang sedang melayang-layang didalam sana dalam keadaan tegak berdiri dengan mata tertutup.
"Dia terlihat sangat nyata. Hanya saja aku berharap ia bisa memberikan tatapan matanya itu padaku." Ujar orang kedua dengan mata yang mulai berkaca-kaca dibalik kacamata bundarnya.
"Oh ya, matanya yang tajam dan... ah! Kau benar-benar bisa membawa suasana menjadi mellow, Potter."
Harry Potter yang terlihat gagah dengan jubah kerjanya lalu terkekeh pelan masih dengan air mata yang menggenang dimatanya, "Tapi tak ada yang bisa menandingi bagaimana kau berjaga disini hampir setiap detik untuknya dan juga semua perlatan serta ramuan yang kau racik sempurna, Malfoy."
Kini giliran Draco Malfoy yang terkekeh agak sinis. Masih dengan kemeja hijau mudan dan celana kain yang sudah lusuh ia menunjukkan wajah seriusnya, "Aku tidak pernah mau kehilangan dia, kau tahu. Bagaimanapun juga ia sudah banyak melakukan hal-hal penting untukku."
Harry mengangguk-angguk setuju karena ia pun merasakan hal yang sama, "Ramuan yang kau berikan pada dua hari yang lalu itu, bagaimana kinerjanya saat ini?"
Mata Draco kembali memancarkan keseriusan, "Ramuan itu kini sudah mulai memasuki pembuluh darahnya dan bakteri yang selama ini dikultur didalamnya akan menghidupkan lagi sel-sel darah yang awalnya telah mati dengan sinyal-sinyal. Sengaja kumasukkan bakteri pembentuk sinyal yang dapat bekerja dalam keterburu-buruan dengan memanggil puluhan mikropartikel lain untuk bekerja bersama begitu satu sel berhasil dihidupkan. Sejauh ini kinerjanya sangat baik dan aku memutuskan untuk menambahkan beberapa liter lagi kedalam sana."
"Apa benar-benar aman?"
Kentara sekali Draco tidak suka pertanyaan Harry yang cenderung meragukannya, "Kau tahu siapa yang seharusnya menjadi pemenang felix felicis ditahun tantangan Slughorn saat kelas 6 -selain Hermione tentu saja- ? Aku. Jadi kau diam saja karena kau menang saat itu karena bantuan dia yang berada didalam tabung sana yang memang sangat ahli dalam hal ramuan."
Harry kembali terkekeh keras, "Dan ramuan yang satu lagi?"
"Yang satu lagi akan membantu melemaskan lagi sendi-sendi serta menghilangkan semua asam laktat yang menempel banyak-banyak disendinya ketika ia mati dan selama pengawetan. Oleh karena itu ramuannya akan bekerja setelah ramuan pertama selesai bekerja."
"Dan itu berarti..."
"Sekitar satu minggu lagi menurut semua perkiraan yang sudah kuhitung disana," Draco menunjuk salah satu perkamen di ujung dekat pengendali masuknya ramuan, "dan ini." ia kemudian menunjuk satu perkamen lagi didepan kursi tempat ia ditemukan tertidur tadi. Dikedua perkamen tersebut terlihat jelas tulisan tangan Draco yang tidak karuan mengaplikasikan rumus algoritma dan segala macam yang lain dari pelajaran arithmancy waktu ia masih bersekolah di Hogwarts. Beruntung juga ia mengambil pelajaran tersebut.
Harry mengangguk dan lalu menepuk pundak Draco, "Senang sekali aku bisa melihat semua kecerdasan otakmu yang sering dibicarakan Hermione itu." Ia lalu tertawa.
Draco menggeleng-geleng tak jelas, "Tidak penting, Potter. Yang penting adalah bagaimana Professor bisa segera membuka matanya lagi, benar?"
"Benar."
.
Malam ini giliran Harry yang berjaga karena Draco tidak bisa kembali memforsir untuk begadang menunggui tubuh tak berdaya itu walaupun hanya satu hari tambahan lagi. Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan berdua. Tak lama setelah perang Hogwarts berakhir, ia mengajak Draco berbicara ketika tidak ada yang memperhatikan. Mereka segera menuju rumah didanau dan mengambil jasad Severus Snape yang sudah hampir membatu sebelum tubuh itu masuk kedalam lingkaran hitam tempat semua raga penyihir yang telah meninggal berkumpul, kemudian membawanya menuju sebuah rumah milik keluarga Malfoy yang sudah lagi tidak dipakai dan mengubahnya menjadi tempat bekerja. Harry tidak bisa mengajak Hermione meskipun ia tahu gadis itu bisa saja membuat ramuan yang lebih tepat dan kinerja lebih cepat dibanding Draco, tapi ia tahu Hermione tidak akan setuju karena itu melanggar hukum.
Draco yang harus membaca banyak buku ramuan serta peralatan kerja muggle -yang terpaksa harus ia lakukan karena tuntutan teknologi canggih akan memudahkan segalanya- dan menyiapkan bahan, baru mulai siap meracik sekitar satu bulan setelahnya. Harry tidak pernah melihat pembuatan ramuan serumit dan sekompleks itu. Apapun ia lakukan. Semua yang Draco butuhkan ia sediakan, semua yang Draco minta ia turuti dengan sangat cepat. Ia tidak mau lagi kehilangan seseorang yang berarti untuknya, dan entah bagaimana Draco pun juga masih tidak rela kehilangan Snape.
Ratusan hari hingga akhirnya seminggu yang lalu ramuan itu dimasukkan dalam larutan pengawet yang selama ini merendam Snape hingga rambutnya yang selalu tertata rapi harus rela basah dan seolah dangat ringan hingga dapat melayang didalam tabung yang juga buatan Draco. Kini tinggal mengamati bagaimana kinerja ramuan-ramuan itu terhadap tubuh Snape yang seharusnya sudah mati.
Didepan tabung itu Harry sudah berdiri hampir 150 menit dan tubuh itu tetap tidak menunjukkan apa-apa yang berbeda. Air dan ramuan serta oksigen yang bercampur disana sangat tenang, tidak ada pergolakan apapun. Harry memutuskan untuk duduk disatu-satunya kursi disana yang biasa ditempati Draco namun menggesernya sehingga ia dapat tetap mengamati apa yang terjadi didalam tabung. Tak lebih dari satu menit kemudian, ia berani sumpah ia mendengar sebuah gelembung udara yang keluar dan pecah didalam sana, entah dari mana. Seketika saja Harry bangkit berdiri dan membelalakkan matanya untuk memeriksa detail pergerakan didalam tabung dan hampir saja ia terloncat ketika jemari tangan kanan Snape bergerak bukan karena cairan yang juga bergerak, tapi benar-benar 'bergerak'. Dengan terburu-buru ia keluar dari ruangan menuju ruangan lain dimana ia akan menemukan Draco yang sedang terlelap disebuah sofa besar ditengah ruangan. Ia mengguncang tubuh Malfoy tersebut.
"Bangun, Malfoy! Kau harus melihat ini!"
Guncangan tersebut membuat Draco langsung bangun dengan kaget dan sontak memegang kepalanya yang berputar karena bangun mendadak, "Ada apa sih?!"
"Snape. Aku baru saja melihat tangannya bergerak!"
Mata Draco segera saja membelalak lebar dan mendahului Harry berlari menuju ruangan kerja. Didalam sana, tabung itu mengalami getaran kecil. Keduanya yang berhenti didepan pintu, tidak sanggup meneruskan perjalanan mereka kedalam dengan biasa. Mereka melangkah perlahan memasuki ruangan sambil sesekali saling memandang dengan kernyitan dahi karena mata mereka tak salah lagi bahwa tabung itu memang bergetar. Bisa mereka lihat juga cairan didalamnya mulai terpercik keluar dari bagian atas yang hanya ditutup dengan penutup berlubang menyerupai kasa raksasa.
"Apa tadi yang kaulihat?" tanya Draco dengan mata was-was pada Harry yang kini sama-sama berhenti didepan tabung yang bergetar kecil itu.
"Tangannya. Tangan kanannya bergerak. Tidak salah lagi."
Draco menghampiri sebuah layar dengan latar biru yang diletakkan terlentang sejajar dengan meja dan memeriksa suatu kode yang tertulis disana. Perubahan ekspresi wajah Draco yang seketika membuat Harry tahu memang ada yang sudah terjadi. Draco menoleh perlahan padanya dengan pandangan horor.
"Ramuannya sudah berhenti bekerja sejak satu jam yang lalu. Seharusnya saat ini ia sudah pulih sepenuhnya."
"Pulih? Hidup, maksudmu?"
Draco mengangkat bahunya ragu, "Mungkin saja."
Keduanya berdiri didepan tabung dan menunggu lagi apa yang akan terjadi setelah getaran kecil ini. Tapi bahkan setelah 60 menit berlalu, tidak ada lagi yang terjadi. Draco kemudian reflek mengacak rambutnya yang sudah menjadi pirang lusuh sejak ia sering begadang untuk Snape. Ia berjalan menuju kursinya yang sudah berada didepan meja lagi dan menundukkan kepalanya disana.
"Perhitunganku salah besar ternyata."
"Tidak. Malfoy, lihat ini." suara Harry yang samar-samar ia dengar membuatnya kembali mendongak dan langsung mendaraskan tatapan ke satu-satunya tabung kaca diruangan itu. Tepat kearah yang ditunjuk telunjuk tangan kanan Harry.
Ada gerakan diseluruh bagian tubuh Professor Snape sebelah kanan. Gerakan kecil tapi dapat tertangkap oleh pandangan mata normal. Jemarinya mulai membuka menutup, bahunya bergerak naik turun, pipi tirusnya berkedut. Namun hanya pada bagian tubuh sebelah kanan. Lagi-lagi Draco berlarian mengecek layar-layar yang bertelentangan dimeja.
"Gula darahnya meningkat... tekanan darahnya meningkat... sarafnya bekerja namun masih terputus-putus... otaknya, otaknya masih sangat minim..." Draco terus berceloteh membacakan kode-kode yang tertera dilayar, "... bakteri tidak bisa menembus membran disebelah kiri. Semua membran!" dengan gerakan cepat Draco mengetik disebuah bagian pada meja yang terlihat seperti keyboard namun dari pendaran cahaya laser berwarna merah. Agak lama.
"Bagaimana?" tanya Harry lamat-lamat sambil terus mengamati pergerakan didalam tabung didepannya dengan pandangan mata takjub.
"Apa ada perubahan?" Draco menoleh cepat meminta respon dari Harry. Harry hanya menggeleng.
"Tak ada yang terjadi disebelah kiri. Lakukan sesuatu lagi!"
"Tapi semua sudah kulakukan!"
"PRANG!"
Teriakan Draco yang agaknya terlalu keras, memecahkan sebagian kaca dibagian atas dan menyebabkan sejumlah cairan meluber keluar merambat di sepanjang tabung hingga sampai di kaki Harry yang sempat terloncat kaget karena suara pecahannya. Belum sempat Harry menghela napas lebih panjang, suara retakan tiba-tiba menggema memenuhi udara dan kemudian teriakan Draco lah yang menyadarkan Harry akan munculnya tanda-tanda tidak menyenangkan.
"Potter, minggir!"
Detik berikutnya jika saja Harry tidak mengikuti teriakan Draco, ia bisa saja sudah penuh luka goresan dan tusukan pecahan kaca dari tabung yang terjatuh ke lantai dan menjadi kepingan-kepingan. Sementara cairannya meluber ke segala arah dan tubuh Snape yang masih menimbulkan gerakan-gerakan pada daerah sebelah kanan, tertelungkup di lantai yang basah. Draco dengan lemas terduduk disamping guru ramuannya yang masih tertelungkup dan kemudian mengacak rambutnya yang sudah tidak karuan. Ketika Harry masuk lagi kedalam setelah menghindar dari jatuhnya tabung, tubuhnya juga seolah melemas drastis hingga tak ada kekuatan lagi untuk menopangnya tetap berdiri. Hancur sudah semua usaha mereka berdua.
Draco membalikkan tubuh Snape perlahan karena gerakan-gerakan tak terkendali itu beberapa kali mengagetkan usahanya tersebut. Setelah berhasil, ia menatap Harry dan meminta komando darinya. Harry sendiri tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan sementara semua bahan dan persiapan yang begitu panjang itu sudah menjadi berkeping-keping. Keduanya juga sudah lemas saat itu. Dan seperti memiliki pikiran yang sama, keduanya berdiri menuju ruangan lain untuk beristirahat.
.
Pagi-pagi sekali Draco sudah mewadahi lagi semua cairan yang semalaman menggenang di lantai kedalam sebuah tabung lain yang tidak sebesar sebelumnya. Susah payah ia memindahkan tubuh Snape ke atas meja agar dapat bekerja dengan leluasa. Ketika Harry muncul, ia masih dalam keadaan shock melihat ruangan kerja yang menjadi porak poranda hanya dalam beberapa menit semalam.
"Dia masih bergerak?" tanya Harry. Draco menoleh singkat memahami siapa yang dimaksud Harry dengan cepat lalu mengangguk.
"Beberapa kali saat kunaikkan keatas meja tadi dan sampai sekarang semakin sering. Hanya bagian tubuh sebelah kanan. Tidak berubah."
"Mungkin itu prosesnya. Tapi apa memang selama itu?"
"Aku tidak tahu. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, oke!"
Harry tidak membalas lagi. Sangat jelas jika Draco sedang kesal dengan dirinya sendiri karena tidak dapat mengerjakannya dengan baik. Tapi apa boleh buat.
"Lalu kita apakan dia?"
"Terserah kau saja, Potter. Kau bosnya." Jawab Draco malas.
"Kau masih punya pengawet?"
Draco menepuk-nepuk telapan tangannya dari debu dan mengantongi lagi tongkatnya, "Pengawet sangat mudah menguap. Sudah tidak ada lagi sekarang setelah menggenang kemarin."
Harry berpikir lagi, "Kau tahu apa yang bisa mempercepat kerja bakteri yang sudah bisa masuk kedalam sel darahnya? Sesuatu yang bukan ramuan dan dapat dibuat dengan cepat?"
"Selain ramuan aku tidak tahu lagi. Yang kutahu sel mereka akan dengan sendirinya saling berkomunikasi dan memperbanyak diri sehingga mekanisme yang kujelaskan sebelumnya dapat cepat terjadi."
Disaat genting seperti inilah Harry cukup menyesal ia tidak memiliki otak secemerlang Hermione atau mungkin Draco. Draco sudah tidak bisa lagi diminta berpikir terlalu banyak dalam keadaan seperti sekarang ini. Kemudian seperti ada yang menyalakan saklar lampu yang biasa digunakan untuk menerangi pikiran dalam otaknya, Harry ingat sebuah alat pada kedokteran muggle. Ia mengambil 2 buah logam besi dari ruangan sebelah dan kembali lagi lalu mencabut paksa dua kabel sekaligus, menggigiti plastik yang melindungi serabut kabel didalamnya kemudian melapisi tangannya dengan kain dari robekan bajunya dan mengikatkan serabutnya pada logam tersebut. Draco yang sedari tadi mengamati agaknya sedikit demi sedikit paham apa yang sedang dilakukan Harry. Ia mendekatkan kedua logam tadi dibagian dada Snape dan menyentuhkannya perlahan, tidak terjadi apa-apa. Perlahan lagi, mulai ada goncangan pelan. Sekali lagi agak lebih cepat, dada Snape bergoncang lebih keras. Harry menatap Draco meminta persetujuan. Draco mengangguk saja.
Maka Harry menyentuhkan kedua logam dengan cepat dan dada Snape bergoncang hebat hingga terlonjak keatas cukup tinggi dan kembali lagi seperti semula. Rangsang itu sepertinya cukup juga untuk mengaktifkan bakteri agar lebih cepat bekerja.
"Kau dengar sesuatu?" tanya Draco tiba-tiba. Keduanya masih berdiri disekitar meja tempat tubuh Snape terbaring.
Alis Harry mengernyit lalu berkonsentrasi mendengarkan sekitarnya. Ia membelalak, "Ya. Aku dengar."
Suara detakan jantung itu sangat jelas menggema di seisi ruangan. Kedua pasang mata mereka segera saja terpaku pada satu-satunya tubuh yang ditunggu-tunggu untuk mengeluarkan suara seperti itu disana. Gerakan-gerakan kecil lain muncul beriringan setelahnya pada semua bagian tubuh, tidak hanya sebelah kanan, tapi juga sebelah kiri, atas, dan bawah.
Ketika Harry bisa merasakan mulai ada napas yang keluar, ia tahu ia akan kembali menatap mata tajam guru ramuannya itu sesaat lagi. Sebentar lagi, "Professor? Professor Snape?"
Draco memegang pundak Snape dan hampir saja berteriak ketika gerakan tangan lain yang cukup cepat menangkap tangannya, "Draco?"
Dengan suara bergetar antara kaget dan takut dan bahagia, Draco menjawab, "Ya, Professor ini aku Draco Malfoy. Selamat datang kembali."
Mata Snape bertabrakan dengan mata hijau Lily Evans pada mata Harry, "Potter?"
"Panggil saja Harry, Professor. Kita bukan lagi guru dan murid, dan ini bukan Hogwarts." Jawab Harry tanpa bisa menahan senyum, "Selamat datang kembali."
Snape mengernyit sebentar kemudian mengangguk, "Kalian punya rencana bagaimana aku akan muncul tanpa harus membuat orang lain menjerit mengira mereka melihat hantu?"
Harry mengangguk cepat, "Anda bisa berubah bentuk?"
"Menjadi anjing atau rusa?"
"Terserah anda."
"Baiklah." Snape menyiapkan dirinya terlebih dahulu sebelum berubah bentuk. Harry tersenyum ketika Snape sudah selesai berubah bentuk. Rusa betina. Tentu saja.

THE END


Author's note:
DAMMMIIIITTTTT! I don't even know how to write a story like this! oh God. so it's cheesy I know -_- k bye
btw, you can write a review for me if you want to :)) but it's okay if you don't want to well this story don't deserve it I know...

Our Home (aicchan)

Multichapters. Fiksi Challenge. Link asli dan bab-bab sambungannya ada di sini

-----------

Ini adalah masa dimana antariksa telah menjadi halaman bermain bagi peradaban manusia. Planet demi planet dijelajahi, disinggahi, ditempati, kemudian ditinggalkan begitu tak ada lagi yang bisa diambil. Kemajuan teknologi menambah kerakusan manusia untuk terus mencari tempat tinggal baru di jagad raya nan luas. Galaksi demi galaksi dilewati bagai menyebrangi benua semasa Bumi masih menjadi satu-satunya tempat tinggal bagi manusia. Sekian ribu tahun telah berlalu sejak perjalanan pertama manusia menjelajah galaksi, entah berapa banyak koloni manusia yang tersebar di samudra bintang yang seolah tiada berujung ini.
Namun di masa dengan teknologi tinggi seperti itu, entah disebabkan oleh apa, muncullah satu kelompok yang memiliki kemampuan diatas rata-rata manusia biasa. Mereka memiliki kemampuan Extrasensory Perception, atau kemampuan supernatural seperti telepati, teleportasi dan memiliki masa hidup yang sangat panjang.
Mereka disebut sebagai bangsa 'Mu'.
Manusia yang merasa terancam oleh para Mu, kemudian mengembangkan sebuah teknologi yang memungkinkan mereka untuk mendeteksi potensi seseorang sebagai Mu. Jika terbukti, maka orang tersebut akan segera dibunuh, berikut seluruh keluarganya.
Sekelompok kecil Mu berhasil mencuri salah satu kapal antariksa dan mereka bersembunyi dari perburuan. Selain itu, selama perjalanan, mereka akan menolong anak-anak yang memiliki potensi sebagai Mu sebelum para manusia menyadarinya. Karena para Mu memiliki gelombang otak yang tak wajar, setiap Mu bisa saling megetahui posisi 'rekan' mereka meski terpisah jarak yang jauh.
Kini, kapal antariksa yang dulu hanya bisa ditempati sembilan sampai sepuluh orang, telah berkembang menjadi satu koloni bergerak yang memiliki jumlah penduduk lebih dari seratus orang. Kapal yang menjadi Sanctuary bagi para Mu itu dikenal dengan nama Hogwarts, yang juga merupakan target utama perburuan. Namun para Mu tak menyerah. Mereka memiliki satu tujuan utama karena lelah untuk terus menjadi target perburuan seolah mereka adalah binatang buas.
Mereka, akan kembali ke Terra… ke Bumi. Bintang pertama yang menjadi hunian manusia. Permata yang telah ribuan tahun terlupakan dibalik ketamakan manusia untuk menguasai antariksa. Mereka akan kembali pulang, ke rumah yang telah lama ditinggalkan…
oxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Harry Potter © JK Rowling
Our Home © aicchan
Sci-fi / Family / Adventure / Supernatural
Entry Infantrum Challenge
'Snape Day' © Ambudaff
-Drarry - OOCness-
(Terinspirasi dari 'Terra e…' © Takamiya Keiko)
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxo
"Severus."
Seorang pria berambut hitam sebahu menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak sedikt pucat, namun ekspresinya dingin, tak terbaca. Dia baru saja kembali dari salah satu koloni manusia yang dilewati oleh Hogwarts karena Draco merasa ada anak Mu di koloni itu. Severus diutus untuk menyelamatkan anak itu, namun semua tak berlangsung mulus.
Dia memandang pemuda berambut pirang platinum dan bermata kelabu. Pemuda itu bernama Draco. Dia adalah 'Soldier' bagi para Mu. Pimpinan yang akan membawa para Mu kembali ke Bumi. Draco dipilih sebagai pimpinan karena memang dia memiliki energi yang jauh lebih besar dari semua Mu yang ada di Hogwarts ini. Seperti para Mu yang lain, Draco selalu mengenakan jubah panjang, namun berwarna hijau. Hanya dia yang memakai warna itu diantara semua Mu yang memakai jubah berwarna hitam dan putih, menandakan kalau dia berada dalam posisi khusus.
"Bagaimana? Kau berhasil membawa mereka?" Tanya Draco.
Severus menyibak jubah hitamnya, dan ternyata dia menggendong seorang bayi berusia 18 bulan, "Maaf, hanya anak ini yang bisa aku selamatkan. Aku terlambat datang, kedua orang tuanya telah dibunuh."
Draco memandang bayi mungil berambut hitam berantakan itu. Tampak bekas luka di kening bayi itu, "Dia terluka…"
"Sudah kusembuhkan. Tapi ku rasa akan meninggalkan bekas luka."
"Bayi malang… harus kehilangan orang tuanya secepat ini." Draco menyentuh bekas luka berbentuk sambaran petir itu. Tak disangka, si bayi yang tadinya tertidur lelap, mendadak membuka matanya. Begitu Draco memandang sepasang bola mata berwarna hijau itu, segalanya seolah menghilang, meninggalkannya bersama bayi mungil yang tertawa senang.
"Draco?" Severus tak bisa mencegah saat Draco mengambil bayi mungil itu darinya.
"Siapa namanya?" tanya Draco dengan nada takjub dari suaranya.
"Harry… Harry Potter."
Draco tersenyum saat Harry menggenggam jari telunjuknya, "Harry… akhirnya aku menemukanmu."
Mendengar itu, Severus terkejut, meski tak ada perubahan di raut wajahnya, "Draco… Apa maksudmu?"
Mata kelabu Draco tampak melembut saat dia memandang Harry, "Severus… anak ini, adalah core untukku."
Severus tertegun. Dia tak menyangka anak yang baru saja dia selamatkan itu adalah core bagi sang soldier. Seperti arti harafiahnya, core adalah inti energi, jadi Harry adalah satu-satunya Mu yang bisa mengimbangi kekuatan energi Draco. Pasangan hidup Mu ditentukan oleh panjang gelombang energi mereka. Jika tak seirama, maka keduanya tak akan bisa berdampingan karena energi yang saling bertolak belakang. Namun jika seorang Mu telah bertemu dengan core yang memiliki gelombang energi yang selaras, maka mereka akan menjadi individu yang lebih stabil daripada Mu yang belum menemukan pasangan hidupnya. Karena itu bangsa Mu tak pernah mempermasalahkan tentang gender. Core adalah perwujudan hati, jika menolak kata hati, maka berarti mereka menolak keberadaan diri mereka sendiri.
Lalu Draco memandang Severus, "Aku minta bantuanmu untuk membimbingnya. Kau pun membimbingku saat aku masih kecil." Dia menyerahkan lagi Harry pada Severus, "Di bawah bimbinganmu, dia pasti akan menjadi Mu yang hebat."
Severus sama sekali tak keberatan dengan permintaan itu, bahkan sejujurnya, dia merasakan satu ikatan kuat dengan Harry seolah dia sudah lama menanti pertemuan ini, "Ya… dia pasti akan menjadi Mu yang hebat."
.
.
#
.
.
Delapan tahun berlalu, Hogwarts masih terus melakukan perjalanan mereka. Pesawat antariksa berbentuk oval dan berwarna putih menembus gelapnya jagad raya, melintasi bintang-bintang dan koloni manusia yang tak terawat lagi. Satu dua kali mereka bertemu dengan pesawat patroli manusia, namun sejauh ini semua bisa dihindari tanpa harus mengangkat senjata.
Harry telah tumbuh menjadi anak yang aktif, cerdas, dan segera saja menjadi sosok yang disayangi seisi Hogwarts. Pertumbuhan seorang Mu berlanjut normal hingga nanti berusia 17 tahun. Setelah memasuki tahapan sebagai orang dewasa, laju pertumbuhan Mu akan semakin melambat. Severus sendiri, meski sudah melewati masa hampir satu abad, penampilannya masih berkisar antara usia 35-40 tahun.
"Uncle Sev! Aku sudah selesai membaca buku ini."
Severus memandang Harry yang membawa sebuah buku tebal berisi riwayat hidup para Mu yang telah pergi mendahului mereka.
"Boleh aku pergi ke tempat Draco? Hari ini dia berjanji akan mengenalkanku pada sang peramal." Harry membenahi letak kacamatanya. Meski tak ada yang salah dengan penglihatan Harry, Severus merasa kacamata cocok dipakai oleh anak itu. Terlebih, saat dulu dia menyelamatkan Harry saat masih bayi, Severus sempat sekilas melihat sosok ayah Harry yang terbujur kaku tak bernyawa disamping istrinya. Dan wajah Harry bagai pinang dibelah dua dengan ayahnya, jadi Severus pikir, ada baiknya Harry memakai kacamata, sebagai pengingat akan sosok ayah kandungnya.
Severus memandang wajah Harry yang memasang wajah penuh harap, "Baiklah. Asal kau berjanji akan menjaga sikap."
"Pasti!" seru Harry seketika, "Sampai nanti, uncle Sev." Anak itu pun berlari meninggalkan perpustakaan.
Severus berdiri dan membereskan buku-buku di sana. Ya, meski teknologi terus berkembang dan segala hal tersedia melalui gadget, tapi bagi Mu, buku adalah salah satu harta berharga. Karenanya di Hogwarts tersedia satu ruangan khusus untuk menyimpan buku-buku untuk dipelajari oleh para kaum muda.
Setelah semua rapi kembali, Severus pun meninggalkan perpustakaan dan menuju ke bridge, tempat kendali utama Hogwarts. Di luar perpustakaan, Severus berjalan menyusuri koridor yang berdinding kaca di salah satu bagian, jadi siapapun yang ada disana bisa melihat indahnya kegelapan di angkasa yang seolah tak berujung ini.
Dia berjalan menuju pusat kendali yang terletak di bagian depan kapal antariksa ini. Severus melewati pintu yang terbuka otomatis dan tiba di sebuah ruangan berbentuk oval beratap kaca tebal.
"Oh, Severus. Dimana Harry?"
"Harry sedang bersama Draco, menemui peramal."
Severus menghampiri seorang wanita paruh baya, Minerva, salah satu Mu senior di Hogwarts ini. Mu tertua adalah Albus, yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mempelajari buku-buku kuno demi mencari letak pasti Terra. Albus jarang keluar dari kamarnya, namun ia adalah sosok yang sangat dihormati oleh seluruh isi Hogwarts ini.
"Ah…" Hanya komentar singkat yang dilontarkan Minerva.
Kemudian Severus duduk di salah satu kursi pengendali. Severus juga mengemban tugas sebagai salah satu ahli navigasi di kapal ini. Saat ini mereka tengah mencari satu tempat dimana mereka bisa singgah sementara. Meski kapal antariksa ini bisa beroperasi terus menerus sampai 50 tahun, tetap saja memerlukan perawatan secara berkala. Jadi setiap dua puluh tahun sekali, Hogwarts akan mencari planet atau koloni buatan yang tak berpenghuni untuk memeriksa kondisi pesawat yang menjadi rumah mereka ini.
Tak begitu lama, pintu bridge terbuka lagi. Yang masuk kali ini adalah Mu kembar yang terkenal sangat kompak, Fred dan George. Mereka juga adalah petugas bridge yang bertanggung jawab pada persenjataan dan pertahanan. Sambil mengobrol mereka berdua duduk di kursi pengendali dan mulai sibuk dengan tugas mereka.
Severus memandang layar di hadapannya. Dia mengatur fungsi kendali otomatis agar tetap berada dalam jalur yang telah ditentukan.
Merasa kalau semua beres, Severus kembali berdiri dan membenahi jubahnya, "Aku akan pergi ke ruang kesehatan."
"Baiklah. Biar aku yang mengawasi di sini." Ujar Minerva.
Selain tugas di bridge, Severus juga menjadi salah satu ahli pengobatan di Hogwarts ini. Terkadang dia membuat obat-obatan dari tanaman yang tumbuh di bagian belakang kapal yang memang difungsikan sebagai ladang dengan mengandalkan solar plate, yang berfungsi sebagai 'matahari' bagi para tanaman disana. Dengan mempelajari data-data milik Mu pendahulu, Severus mempelajari semua tentang obat-obat tradisional yang ternyata lebih berkhasiat daripada obat modern.
Ruang pengobatan di Hogwarts adalah sebuah ruangan persegi yang cukup besar. Menampung selusin tempat tidur dan juga ada ruangan khusus untuk perawatan darurat. Tapi kebanyakan alat-alat di sana tak begitu digunakan karena Mu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka-luka ringan dengan cepat. Namun meski begitu, Mu juga tetap bisa terkena penyakit ringan seperti flu dan demam, jadi obat-obatan juga harus tetap tersedia.
Disana, ada seorang wanita paruh baya yang merupakan penanggung jawab kesehatan, akrab dipanggil Madam Pomfrey oleh para Mu yang lain, "Severus, tumben mampir?"
"Hanya ingin mengecek persediaan obat."
"Oh, masih cukup untuk kira-kira sebulan lagi."
"Baiklah. Katakan saja kalau ada yang habis."
Madam Pomfery mengangguk dan membiarkan Severus pergi.
Belum lagi jauh dari ruang pengobatan, tiba-tiba saja terdengar suara sirine darurat diikuti pengumuman kalau ada dua kapal pemburu yang terdeteksi di dekat lokasi Hogwarts. Severus hendak melangkah kembali ke bridge, tapi segera batal begitu dalam kepalanya menggema suara Draco.
"Jangan panik! Aktifkan shield! Biar aku yang bereskan mereka."
Severus memandang ke luar dinding kaca, dari kehampaan, muncul sosok Draco yang diselimuti energi pelindung berwarna kehijauan tipis. Kemudian sosok Draco meluncur cepat seolah dia memakai jet pack di punggungnya.
"Wah! Draco memang hebat ya?!"
Severus terkejut saat Harry muncul di sebelahnya sambil melayang dan tertawa, "Harry! Sudah berapa kali kubilang? Jangan muncul mendadak seperti itu!"
Harry menyengir dan mendarat mulus di sebelah Severus, "Maaf… habisnya tadi Draco langsung pergi begitu saja." Bocah itu menempelkan wajahnya ke kaca, "Draco tidak kelihatan lagi… kapan ya aku bisa keluar tanpa harus memakai space suit?"
"Kau masih butuh banyak latihan. Jangan terburu-buru!"
"Iya aku tahu." Harry mengikuti Severus yang melangkah pergi, seperti kebiasaannya sejak dulu, Harry selalu berjalan sambil memegangi jubah Severus.
"Bagaimana pertemuanmu dengan sang Peramal?"
"Menyenangkan. Aku diizinkan memanggilnya Hermione. Dia baik, cantik lagi. Aku diberi permen coklat." Harry merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebatang coklat, "Aku tidak akan memakannya sebelum makan malam. Aku janji." Kata anak itu sebelum Severus sempat bicara.
"Lalu, apa kata Peramal?"
Harry memiringkan kepalanya dengan wajah bingung, "Aku tidak begitu mengerti, sih. Tapi katanya kita akan segera tiba di tanah merah. Disana kita bisa tinggal untuk membangun shelter sementara sebelum melanjutkan perjalanan."
"Jika itu yang dikatakan oleh Peramal, sebaiknya kita bersiap untuk pendaratan. Kau sudah beritahu yang lain?"
Harry menggeleng, "Draco bilang aku harus ke tempatmu. Makanya aku langsung ke sini."
"Baiklah. Ayo ke bridge, kita harus mengumumkan ke seluruh Hogwarts."
Mengikuti langkah Severus, Harry meraih jemari pria itu dan menggenggamnya. Severus sendiri tak keberatan dan membiarkan Harry menggandeng tangannya. Mereka berdua menuju ke pusat kendali Hogwarts dan menyampaikan kabar dari sang Peramal. Seisi bridge menyambut senang kabar itu. Minerva pun segera mengumumkan pada seisi Hogwarts agar mereka segera mempersiapkan semua yang dibutuhkan.
Hogwarts telah menjelajah galaksi lebih dari dua ratus tahun dan telah melewati dua puluh tiga sistem planet, namun tak satupun dari planet yang bisa dihuni itu adalah Terra. Tapi itu tak membuat semangat mereka menurun, mereka tak henti berharap agar suatu masa nanti, mereka akan tiba di tanah impian mereka.
Harry sendiri tampak sangat bersemangat karena ini adalah pendaratannya yang pertama dan dia terus bertanya ini itu pada Severus yang menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak kecil.
Harry memandang layar-layar proyeksi yang muncul di bridge yang menampilkan grafik-grafik yang pernah dia lihat di buku tapi tak pernah dia mengerti. Dia juga bisa merasakan gejolak semangat mengalir di seluruh bagian Hogwarts. Semua berharap agar pendaratan kali ini tak mengalami hambatan. Riak energi positif itu membuat Harry merasa sangat senang, dia duduk di kursi kosong dan membiarkan yang lain bekerja.
"Sepertinya sedang senang." Draco muncul dari kekosongan di belakang Harry.
"Draco! Kau sudah kembali. Kau luka?" seru si bocah berkacamata.
"Heh! Kau pikir aku siapa? Pesawat tempur rendahan seperti itu tak akan bisa melukaiku."
"Soldier, anda sudah kembali." Minerva mendekat pada Draco, "Bagaimana?"
"Bukan masalah besar. Kita bisa melanjutkan perjalanan seperti rencana semula."
Setelah urusan di bridge selesai, Harry ikut dengan Severus untuk 'kelas sore'nya, yaitu pelajaran tentang sejarah perjalanan manusia dan juga tentang Terra… tentang Bumi yang telah lama terlupakan. Mereka berdua menuju ke perpustakaan, di sana, Harry duduk di meja menghadap Severus. Di antara mereka ada sebuah meja yang berfungsi juga sebagai proyektor. Severus menekan sebuah tombol dan di atas meja itu muncullah gambar hologram sebuah planet biru yang sebagian besarnya merupakan air.
Berapa kali pun melihat, Harry tak pernah bosan, sama seperti pertanyaannya setiap kali mereka membahas permata angkasa itu, 'Kenapa manusia rela meninggalkan planet seindah ini?'
Pertanyaan itu tak pernah terjawab oleh Severus.
"Uncle Sev… sebenarnya berapa lama waktu yang harus kita tempuh hingga kita sampai ke Terra?" tanya Harry.
Severus memandang wajah lugu bocah kecil itu, "Entahlah, Harry. Manusia telah jauh berkelana ke galaksi di luar Bima Sakti, tempat Terra berada. Titik kordinasi Terra saat ini seolah bagaikan mitos belaka. Hal pertama yang kita lakukan, kita harus kembali ke galaksi terdekat dengan Bima Sakti, sesampainya di sana, kita akan lebih mudah mencari keberadaan Terra."
Harry bertopang dagu, "Apa Bima Sakti itu jauh?"
"Dengan tekhnologi kita saat ini, diperkirakan masih butuh lebih dari seratus tahun untuk sampai di sana."
"Tapi kan kita bisa melakukan warp."
"Tidak semudah itu," Severus menggeser hologram tadi dengan jarinya dan yang tampak sekarang adalah replika ruang angkasa dengan garis-garis hijau sebagai penanda titik koordinat, "Warp tak bisa sembarang dilakukan. Kita harus tahu pasti dimana posisi kita dan dimana posisi tujuan kita. Lagi pula warp memiliki batas maksimal. Kalau melebihi jarak yang ditentukan, kapal angkasa bisa hancur karena tak bisa menahan tekanan pembelokan dimensi yang terjadi."
Harry memiringkan kepalanya, tanda tak mengerti.
Severus lalu mencontohkan dengan menampilkan gambar pesawat angkasa pada hologram, "Jika pesawat ini melakukan warp dalam jarak yang ditentukan…" Severus menarik bagian depan pesawat itu hingga tercipta gambar seolah pesawat tersebut terbuat dari karet elastis. Dalam jarak satu telapak tangannya, dia melepaskan jarinya dari ujung gambar pesawat itu yang mana bagian belakangnya langsung melesat ke depan dan bersatu lagi dalam bentuk sempurna dengan bagian depannya.
"Pesawatnya utuh lagi!" seru Harry senang.
Kemudian Severus mengulangi proses yang sama, namun kali ini dia menarik ujung depan pesawat lebih jauh lagi, hingga gambaran 'karet elastis' antara bagian depan dan belakang pesawat terputus dan pesawat itu pun meledak.
Harry berjengit karena kaget.
"Itu yang akan terjadi jika pesawat angkasa melakukan warp lebih dari jarak yang seharusnya."
Masih tampak ngeri, Harry bertanya, "Lalu… berapa jarak aman untuk melakukan warp?"
Severus mengganti lagi gambar hologram itu dengan Terra, "Hogwarts mampu melakukan warp dalam jarak 3 tahun cahaya."
Kepala Harry miring lagi, kali ini ditambah kerutan di dahinya.
"Jarak di luar angkasa tidak diukur seperti jarak biasa, namun dengan memakai satuan Astronomical Unit, atau disingkat AU. 1 AU berjarak kurang lebih 150 juta kilometer, dan 1 tahun cahaya berjarak 63,421 AU. Jadi jarak aman untuk melakukan 'warp' adalah—"
Penjelasan Severus terputus saat pintu perpustakaan terbuka dan Draco pun masuk.
"Kau membuatnya bingung, Severus."
"Draco!" Harry tampak senang dengan kehadiran pemuda berambut pirang platinum itu.
"Bagaimana perkembanganmu, Harry?" Tanya Draco yang kini berdiri di belakang tempat Harry duduk.
"Aku bingung saat uncle Sev menjelaskan tentang warp dan Astronomical Unit."
Draco menepuk kepala Harry, "Belajarlah yang giat! Kalau kau bisa mengerti tentang AU, aku akan mengajakmu keluar."
Mendengar itu, mata Harry berbinar, "Sungguh? Kau serius? Tidak bohong?"
"Soldier tidak pernah berbohong. Nah! Selesaikan pelajaranmu, oke?!"
"OKE!" Harry menghadap lagi ke layar dengan penuh semangat.
Severus menghela napas dan memandang Draco, "Berapa lama sampai pendaratan nanti?"
"Sekitar dua bulan. Aku akan mengecek kondisi mesin, kalau masih mungkin untuk melakukan warp, kita bisa sampai dalam tiga minggu." Draco memandang Harry sekilas, "Setelah pelajaran selesai, aku akan menjemputnya." Dia pun meninggalkan perpustakaan setelah mengacak-acak rambut Harry yang memang berantakan alami.
.
Severus menyudahi pelajaran Harry saat melihat bocah itu mulai menguap lebar. Setelah membereskan seisi perpustakaan, Severus mengantarkan Harry ke kamar Draco yang terletak di bagian tengah Hogwarts. Sebuah kamar berbentuk bulat dan berdinding kaca berbentuk kubah. Bagian bawah hanya terisi sat set sofa dan tempat tidur terletak di bagian atas kamar, tepat di depan tangga melingkar yang tak begitu tinggi.
"Kau tunggu Draco disini dan jangan berkeliaran. Kerjakan tugasmu!"
"Baik! Selamat istirahat, uncle Sev."
Pria berambut hitam itu pun meninggalkan kamar sang Soldier dan kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat, namun sebelumnya dia masih sempat menghubungi bridge untuk mengecek kondisi di sekitar Hogwarts. Setelahnya, Severus melepas jubahnya dan membaringkan diri di kasur lalu memejamkan matanya. Namun belum lagi dia tertidur, tiba-tiba saja terasa guncangan yang hebat, membuat pria itu langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Sirine darurat berbunyi nyaring dan seluruh lampu di Hogwarts berubah merah, pertanda kalau ada bagian mesin yang rusak. Tak repot menyambar jubahnya, Severus keluar dari kamar dan melihat koridor penuh oleh penghuni Hogwarts yang tampak panik. Kemudian terdengar pengumuman dari bridge bahwa ada satu kapal induk manusia yang berada dekat dengan Hogwarts. Para teknisi diminta memeriksa mesin dan pilot tempur segera bersiaga di hanggar.
Severus tak menuju ke bridge melainkan segera ke ruangan tempat anak-anak Mu berada. Selain Harry, masih ada delapan Mu kecil yang belum sampai ke tahap dewasa. Mereka masih sangat rentan dan butuh pengawasan khusus, karena dalam serangan seperti ini, tanpa Mu dewasa yang mendampingi, energi mereka bisa menjadi tidak terkendali.
Sampai di ruangan itu, Severus bertemu dengan Madam Pomfrey yang menenangkan anak-anak disana. Severus menutup pintu dan mengaktifkan sistem keamanan dimana lapisan baja melapisi bagian dinding luar ruangan itu agar tak terkena dampak serangan.
"Uncle Sev!" Harry muncul di sebelah Severus.
"Harry! Dimana Draco?"
"Keluar. Aku disuruh ke sini." Harry memeluk lengan Severus, "Aku takut~"
Severus mengusap kepala Harry, "Tidak apa-apa. Draco dan yang lain pasti bisa mengatasi semua."
Lalu Harry duduk bersama lima anak Mu lain yang masih berusia 3-5 tahun. Berlaku selayaknya seorang kakak, Harry memangku seorang anak berambut hitam yang menangis kencang dan menepuk-nepuk punggung anak itu, "Cup cup… jangan menangis."
Ketegangan makin terasa karena guncangan masih juga belum berhenti. Severus pun memutuskan untuk menuju ke bridge setelah meminta agar Madam Pomfrey menjaga anak-anak. Dengan berteleportasi, Severus pun tiba di bridge dan segera duduk di salah satu kursi kendali. Dia melihat kapal induk manusia yang diserang oleh selusin unit pesawat tempur yang dimiliki Hogwarts. Sosok Draco pun tampak di sana. Seperti biasa, soldier mereka bergerak lincah di ruang hampa itu dan menyerang kapal induk raksasa itu dengan enerinya sendiri.
Satu dua kali Hogwarts terkena tembakan, namun berkat lapisan pelindung yang terdiri dari gabungan energi seluruh awak Hogwarts, pesawat itu masih bisa bertahan. Akan tetapi serangan dari kapal musuh seolah tiada henti, bahkan tiga pesawat tempur Hogwarts bisa dihancurkan. Meski begitu, pilotnya berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke Hogwarts.
Satu tembakan misil mengenai sayap kiri Hogwarts, membuat kapal itu sedikit oleng. Tembakan kedua nyaris saja mengenai kapal Mu lagi, tapi Draco berhasil menepis serangan itu seolah misil itu hanyalah bola mainan anak-anak.
"Soldier! Jangan memaksakan diri!"
Draco membuat shield tambahan di bagian depan Hogwarts, "Pertahankan keseimbangan!" seruan itu menggema di batin seluruh awak bridge.
Puluhan misil kembali mengarah pada Hogwarts. Draco sedikit kewalahan mengatasi semua itu hingga satu misil meledak dekat dengannya.
"SOLDIER!"
"Aku tidak apa-apa!" shield Draco yang sempat meredup kini bersinar cemerlang lagi.
Severus melihat darah mengalir dari pelipis Draco, namum pemuda itu malah menuju langsung ke kapal induk musuh. Draco bisa menghindari semua serangan yang diarahkan padanya tanpa kendala berarti, lalu akhirnya dia berpindah tempat dalam sekejap mata dan muncul di bagian depan kapal induk musuh.
Menyadari apa yang akan dilakukan Draco, Severus menyuruh seluruh awak bridge untuk memperkuat shield energi mereka di sekeliling Hogwarts. Benar saja, sedetik berikutnya, terjadi ledakan hebat yang menghancurkan kapal induk musuh yang hampir menyamai ukuran Hogwarts itu menjadi serpihan. Sorak sorai terdengar riuh di bridge melihat kemenangan mutlak itu, namun kegembiraan mereka tak berlangsung lama karena di antara puing-puing itu, tak tampak shield energi berwarna hijau yang biasa melindungi Draco, meninggalkan pemuda itu mengambang di angkasa.
"SOLDIER!"
Belum lagi ada yang bergerak, di samping Draco muncullah Harry yang diselimuti shield berwarna merah cemerlang. Itu membuat seisi Hogwarts terdiam karena takjub, tak ada Mu yang bisa keluar dari pewasat tanpa memakai space suit kecuali Draco. Fakta kalau Harry sanggup melakukan persis seperti Draco, seluruh Hogwarts jadi tahu bahwa kekuatan Harry memang sebanding dengan pimpinan mereka.
Setelah Harry membawa Draco kembali ke Hogwarts, Madam Pomfrey segera melakukan tindakan medis. Wanita itu tampak lega karena tak ada luka serius, namun karena pemakaian energi yang melebihi batas, tubuh Draco mengalami kelelahan luar biasa dan harus beristirahat total sampai tubuhnya pulih kembali.
Severus berdiri di sebelah Harry, menyetuh pundak kecil bocah itu yang bergetar menahan tangis. Sebenarnya dia tak tega meninggalkan Harry sendiri di kamar bersama Draco, tapi bocah itu menolak ikut dengannya, jadilah, Severus kembali ke bridge untuk menentukan langkah selanjutnya.
"Bagaimana kondisi, Draco?" Tanya Minerva begitu Severus masuk ke bridge, awak yang lain pun tampak cemas.
"Tak ada luka fatal, hanya butuh istirahat total sampai kondisi tubuhnya pulih lagi." Severus mengulangi apa yang dikatakan oleh Madam Pomfery.
Semua langsung merasa lega mendengarnya.
"Lalu bagaimana dengan rencana pendaratan kita?" tanya Fred.
Severus memandang Minerva, "Kurasa sebaiknya kita tetap pada rencana. Hogwarts butuh perbaikan dan kita bisa membangun shelter sementara di planet tujuan kita nanti."
Diskusi singkat mencapai kata sepakat bahwa mereka akan tetap mendarat. Severus memberi instruksi pada awak bridge agar tak melakukan warp karena kondisi pesawat yang cukup parah akibat serangan tadi. Selesai di bridge, Severus menuju ke hanggar untuk mengecek kerusakan apa saja yang terjadi. Dia juga sempat memeriksa kondisi belakang pesawat yang rusak paling parah, tapi dia diusir oleh para Mu muda yang bekerja di sana dengan dalih mereka bisa tidak konsentrasi memperbaiki kerusakan kalau ada mandornya.
Tak ambil pusing, Severus pun meninggalkan tempat itu dan berkeliling Hogwarts meski memakan waktu hampir empat jam untuk menjelajah pesawat luas itu. Tapi demi memastikan kalau semua terkendali, Severus tak pernah merasa lelah. Dia juga mampir ke ruang pengobatan dan melihat Madam Pomfrey mengobati mereka yang terluka dengan dibantu beberapa gadis Mu. Kemudian baru Severus kembali ke bridge untuk melanjutkan tugasnya sebagai salah satu navigator.
.
.
.
Pendaratan berjalan sesuai rencana. Mereka tiba di planet merah yang memiliki tiga satelit alami. Planet ini ada di salah satu galaksi yang memiliki sistem perbintangan yang mirip dengan Tata Surya di Bima Sakti, namun melalui penelitian para Mu yang ahli dalam bidang astronomi, 'matahari' yang menyinari planet itu berukuran lebih kecil dari matahari yang ada di Bima Sakti. Pun dengan planet yang berevolusi di sekelilingnya. Hanya ada tiga planet besar yang tampak dan planet merah ini adalah satu-satunya planet yang memiliki kandungan oksigen, meski tipis.
Tanpa masalah berarti, Hogwarts berhasil mendarat di tanah asing itu. Severus mengutus Fred dan George untuk memeriksa kondisi sekitar dengan menggunakan pesawat pengangkut. Dua Mu kembar itu kembali ke Hogwarts setelah berkeliling sekitar enam jam. Mereka memastikan tak ada habitat manusia di sekitar sana, meski terdapat banyak puing-puing bangunan dan ladang yang sudah sangat kuno. Mereka juga bilang kalau atmosfir di planet itu sedikit panas hingga sebaiknya yang mau keluar harus memakai helm oksigen atau memasang shield di sekeliling mereka agar bisa lebih mudah bernapas.
Meski telah ada data-data dari contoh tanah dan air yang didapat oleh si kembar, para Mu baru berani menginjakkan kaki di tanah merah itu di bulan ke tiga belas, Setelah mempelajari laju rotasi planet itu juga pergantian musim yang terjadi tiap enam bulan sekali.
Dipandu oleh para Mu senior, kaum muda membawa perlengkapan untuk membangun shelter sementara dan juga membawa bibit untuk menghidupkan kembali sisa ladang di planet itu.
Di tengah semangat untuk membangun 'rumah kecil' mereka di planet baru, para Mu masih mencemaskan kondisi Draco yang belum juga membuka mata meski dua bulan sudah berlalu. Sang Peramal juga belum memberikan kabar tentang soldier mereka. Berpegang pada keyakinan bahwa suatu saat nanti Draco akan kembali pada mereka, para Mu berkerja dengan giat.
Pasak pertama ditancapkan, bibit pertama pun telah ditanam, sedikit demi sedikit para Mu membangun shelter mereka untuk sejenak beristirahat dari perjalanan panjang melintasi galaksi. Perlahan tanah gersang yang kosong itu mulai diisi bangunan sederhana. Tempat untuk tidur, beberapa rumah kaca untuk bercocok tanam dan juga sebuah hanggar kecil untuk perbaikan pesawat.
Waktu berlalu tanpa terasa bagi usia para Mu yang panjang. Para anak Mu yang masih kecil kini telah tumbuh remaja dan beberapa telah masuk ke tahapan dewasa, termasuk Harry yang kini telah manjadi seorang pemuda 17 tahun yang mandiri dan mampu mengisi kekosongan posisi Draco yang belum juga membuka mata.
Severus mengawasi segala perkembangan Harry. Bocah yang selalu mengekornya itu kini menjadi sosok yang dihormati oleh para Mu yang lain. Si kecil yang selalu bertanya banyak hal pada Severus itu kini bisa memakai pengetahuannya untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik. Anak yang dulu biasa dia gendong kemana-mana, kini berjalan sejajar dengannya.
"Uncle Sev," Harry masuk ke dalam kamar Severus di Hogwarts, "aku bawakan hasil panen pertama musim ini." Dia meletakkan keranjang kecil di meja dekat tempat tidur, "Bagaimana keadaanmu? Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan diri!"
"Jangan memperlakukanku seperti orang yang sudah tua." Ujar Severus yang memang saat ini sedang sakit.
Harry malah tersenyum senang, "Habis… buatku uncle Sev itu sudah seperti ayah sendiri sih. Jadi… pasrah saja. Lagian dulu uncle Sev juga sering heboh kalau aku kena flu."
"Aku tidak heboh." Severus membalik halaman buku yang dia baca sambil duduk bersandar pada setumpuk bantal, "Bagaimana keadaan di Nazca?" tanyanya pada Harry tentang planet yang mereka beri nama Nazca sesuai petunjuk sang peramal.
"Semua lancar. Theo dan Blaise menciptakan senjata baru untuk dipasang di pesawat tempur."
Mendengar itu, Severus menutup bukunya, "Theo dan Blaise ya… Waktu kecil dulu, mereka juga akrab denganmu, kan? Kau bahkan pernah memangku Theo saat penyerangan sebelum kita sampai kemari."
Harry nyengir, "Sampai sekarang juga masih akrab kok. Theo itu seperti adik yang manis dan Blaise itu seperti saudara laki-laki yang kadang menjengkelkan." Pemuda yang masih mengenakan kacamata mata itu pun membenahi jubah merahnya yang menjadi bukti bahwa saat ini dia adalah pimpinan para Mu, "Aku ke tempat Draco dulu. Uncle Sev kalau sudah sehat datanglah ke shelter, yang lain sudah rindu omelanmu." Sambil terkekeh dia pun keluar dari kamar Severus.
Tak lagi berminat membaca, Severus meletakkan bukunya dan mengambil sebutir tomat dari keranjang yang tadi dibawa Harry. Hasil kebun di Nazca memang sangat memuaskan. Para kaum muda bisa mengolah tanah merah yang tampak gersang itu menjadi tanah subur yang cocok untuk bercocok tanam. Hasil dari kerja keras memang selalu membuat hati bahagia.
Setelah menghabiskan tomat itu, Severus turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Hogwarts sekarang lebih sering kosong karena para penghuninya lebih sering berada di Nazca. Dari kaca jendela, Severus bisa melihat kehidupan di shelter. Keceriaan tampak dimana-mana. Sebuah taman kecil ditumbuhi rumput hijau dan bunga berwarna putih yang menurut 'petugas botani', bibit bunga itu ditemukan di Nazca dan berhasil ditumbuhkan dengan sempurna. Di sana Severus juga melihat Albus berbaur di keramaian, satu hal yang tak biasa, terlebih Mu senior itu sekarang mendapat julukan baru, yaitu profesor, dari para Mu muda.
"Severus, kau mau kemana?"
Suara Madam Pomfrey membuat langkah Severus terhenti, "Aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Bosan di kamar terus."
"Jangan turun dulu ke Nazca. Kalau kau sampai meninggalkan Hogwarts, kau pasti mengerjakan ini itu di shelter." Madam Pomfrey menepuk lengan Severus, "Sesekali kita boleh kok mengandalkan generasi muda." Lalu wanita itu pun berlalu dari hadapan Severus.
Pria itu terus melangkah hingga dia sampai ke bagian tengah Hogwarts yang dibangun sebagai sarana rekreasi bagi mereka yang tinggal di sana. Ada taman luas dengan kolam air mancur di tengahnya. Bermekaran berbagai jenis bunga dan juga rerumputan yang menjadi alasnya. Severus sangat suka bersantai di sini jika dia sedang jenuh. Dia duduk di tepi kolam yang berisi air jernih, membuat suasana menjadi sejuk dan nyaman.
"Sedang bersantai, Severus?"
Tak jauh dari Severus, berdiri seorang gadis cantik berambut coklat berombak yang panjang hingga menyentuh ujung gaun birunya. Dialah Hermione, peramal yang menjadi tempat 'curhat' para Mu tentang berbagai masalah. Gadis ini diberi berkah kemampuan untuk sedikit mengintip masa depan dengan bantuan kartu tarot. Di belakang Hermione ada seorang Mu berambut merah yang merupakan pengawal sekaligus kekasih sang peramal, Ron.
"Boleh aku duduk di sebelahmu?" tanya Hermione.
"Silahkan."
Hermione pun duduk, begitu juga dengan Ron.
Sejenak yang terdengar hanya suara gemericik air di dalam kolam, sampai Hermione bicara juga.
"Beberapa hari terakhir ini, banyak yang datang padaku," Hermione menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga, "sebagian besar yang datang padaku adalah mereka yang telah bersumpah setia pada pasangannya… dan… mereka bertanya padaku apa ada kemungkinan bagi mereka untuk memiliki seorang anak…"
Severus tertegun.
"Kartu tarotku tak berkata apa-apa selain masa depan yang menggembirakan bagi mereka, namun tak memberiku pertanda apa dan bagaimana cara mencapai kebahagiaan itu."
Mereka terdiam. Tak tahu harus bicara apa. Sejak awal masa kehidupannya, Severus hanya tahu bahwa manusia bereproduksi melalui program bayi tabung. Karena itu sudah menjadi pengetahuan umum, Severus tak pernah bertanya. Dia ingat kali pertama dia tiba di Hogwarts dan membaca buku-buku di perpustakaan, dia terkejut mengetahui bahwa dahulu manusia bereproduksi melalui proses alamiah. Janin tumbuh dalam rahim sang ibu dan kemudian dilahirkan dengan proses normal maupun operasi. Akan tetapi entah sudah berapa abad berlalu sejak terakhir kali manusia melahirkan dengan cara normal. Pengetahuan itu dianggap sebagai budaya barbar di tengah kemajuan teknologi.
"Aku ingin mengabulkan harapan mereka, Severus." Ujar Hermione.
Anak…
Memang benar, selama ini anak kecil yang ada di Hogwarts adalah mereka yang berhasil diselamatkan dari aturan kejam yang dibuat para manusia. Tak pernah ada bayi di Hogwarts ini karena mereka memang tak mengembangkan teknologi bayi tabung sendiri.
"Aku akan mencoba mencari sesuatu di perpustakaan," ujar Severus seraya berdiri, "mungkin akan sulit, namun selama mereka masih memiliki keinginan yang kuat, aku akan bantu sebisanya."
Hermione terseyum mendengar itu, "Aku selalu tahu, Severus. Kau orang berhati hangat dibalik wajah dinginmu itu." Dia pun berdiri, "Aku berdoa supaya harapan ini akan terwujud dan Mu akan bisa melangkah ke masa depan baru."
"Ya… kita selalu berdoa akan hal itu."
Severus pun berpamitan dan kemudian menuju ke perpustakaan. Gagasan tentang keturunan para Mu ini membuat semangatnya naik. Dia tak pernah menyangka para pasangan mempunyai pikiran untuk memiliki keturunan sendiri. Tapi seperti apa yang dia katakan barusan, selama ada harapan, Severus akan mencoba mewujudkannya.
Entah kenapa, Severus tahu kalau ide ini akan disambut baik oleh para Mu yang lain.
oxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
To Be Continue
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxo

Matrix is Might (Psychochiatrist)

Multichapters. Fiksi Challenge. Crossover. Link asli  dan bab-bab sambungannya ada di sini

-----------

Disclaimer: Harry Potter adalah milik J. K. Rowling. Matrix adalah milik Warner Bros Pictures. Saya tidak mengambil keuntungan materiil apa pun dari fanfiksi ini.
Summary: Dua tahun setelah Perang Besar, Severus Snape harus dihadapkan pada fakta bahwa dirinya tidak hidup di tahun 1999, melainkan di dunia matriks yang penuh tipu daya artifisial, bersama Neo, Trinity, dan Morpheus.
Warning: AU, crossover HP dan Matrix, SSLE-SSHG, Snape tidak mati saat Perang Besar.
Dipersembahkan untuk SNAPE DAY CHALLENGE: SCI-FI. Selamat ulang tahun, Severus Snape!
.

Gelap.
Semuanya gelap. Dan bukan hanya sekadar gelap, namun gelap pekat yang membuat sesak.
Matanya tertutup, ia menyadarinya. Ia ingin membuka kelopak matanya, namun tak bisa. Kegelapan itu masih terus mencekiknya. Dan ia merasa segalanya begitu berat, menekannya jauh ke bawah, tenggelam jauh ke dalam kegelapan yang lebih pekat lagi.
Lalu ada suara-suara.
"Bagaimana dia?"
"Dia baik-baik saja, kurasa sebentar lagi dia akan sadar..."
"Beruntung sekali kita berhasil mengeluarkan bisanya sebelum sampai ke jantung."
"Tapi sayang sekali, otaknya—"
Matanya terbuka. Dan pembicaraan itu langsung terhenti. Mata itu mengedip, memandang ke atas, ke kisi-kisi jendela di sisi ruangan itu: sebuah bangsal di Rumah Sakit untuk Penyakit dan Luka-luka Sihir, St Mungo. Ia mengenal tempat itu karena pernah beberapa kali mengunjungi St Mungo. Sekali lagi mata itu mengedip.
Lalu... "Profesor Snape!"
Ia melihat sekelebat rambut cokelat tebal, sepintas rambut merah, dan sejumput rambut hitam.
"Miss Granger? Mr Weasley?" ia terdiam sejenak. "Mr Potter?"
"Panggil Profesor McGonagall! Profesor Snape sudah sadar! Dia bisa berbicara!"
Dia mencoba menggerakkan lehernya, tapi tak bisa. Ada semacam papan kaku yang menahan lehernya di sana. Seluruh tubuhnya juga tak bisa digerakkan. Mendadak ia kebingungan. "Apa...?"
"Selamat siang, Mr Severus Snape," kata seseorang yang mengenakan jubah hijau rapi, yang tiba-tiba muncul dengan gesit di sisi tempat tidurnya. "Kau sedang berada di rumah sakit. Aku adalah Penyembuh yang bertugas di bangsal ini. Kurasa kau ingat kejadian yang menimpamu sebelum kau berada di sini?"
"Ya, aku..." Severus terbata, "... ada ular besar..."
"Kau digigit ular, Sir. Tapi tenang saja, kami sudah menanganinya, dan masa-masa kritismu sudah berlalu." Si Penyembuh tersenyum kepadanya. "Murid-murid dan rekan-rekanmu ada di sini untuk menjenguk."
Dan akhirnya Severus bisa melihat mereka semua dengan jelas: Harry Potter, Hermione Granger, Ron Weasley, Minerva McGonagall, Filius Flitwick, bahkan Rubeus Hagrid, yang entah bagaimana muat masuk ke bangsal itu. Mereka semua berdiri berjajar di sisi ranjangnya. Namun ada yang berbeda. Satu hal yang berbeda...
Mereka semua tersenyum.
Severus tak pernah melihat orang tersenyum padanya sebelumnya.
"Anda kembali, Profesor," kata Hermione sambil tersedu-sedu. "Kami mengira Anda sudah... sudah..." dia menutup muka dengan kedua tangan.
"Severus," ucap Minerva dengan suara seperti terharu-biru. "Semua orang sudah diberitahu. Berita sudah disebar. Namamu sudah dibersihkan. Selamat datang kembali."
Dan teringatlah ia. Pada peristiwa di Shrieking Shack. Memorinya, yang diberikannya pada Harry Potter. Kebenaran. Kisah nyata. Saat itu ia tak pernah tahu bahwa, ternyata, dirinya masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup. Bahwa ia akan selamat dari bisa ular mematikan dari Nagini yang merayapi pembuluh-pembuluhnya. Dia pikir sudah tamatlah riwayatnya. Tapi rupanya, ia ada di sini sekarang, bernapas dan hidup.
"Aku... aku..." Severus tak tahu harus mengatakan apa.
"Kau akan disambut kembali di Hogwarts dengan sepenuh hati," kata Minerva lagi.
"Dunia sihir sangat berutang budi padamu, Profesor..."
"Menteri sudah menyiapkan Order of Merlin Kelas Pertama untuk diberikan setelah kau pulang nanti."
Tapi Severus tak lagi mendengarkan. Tiba-tiba, penglihatannya menjadi gelap kembali. Ada rasa tertusuk-tusuk yang menyakitkan di tengkuknya. Rasa sakit mencengkeram kepalanya yang terbaring di bantal hijau empuk, dan ia merasa segalanya berputar... terus berputar... lampu-lampu buyar, wajah-wajah pudar...
"Profesor!"
Dan ia tak mendengar apa-apa lagi.

.
Matrix is Might
A Harry Potter and Matrix crossover
For Snape Day Challenge: Sci-Fi
What separates reality from a dream is just a state of mind.
.

Dua tahun telah berlalu, lambat.
Tahun 1997, Perang Besar pecah di Hogwarts. Namun Lord Voldemort berhasil dikalahkan, dan masyarakat sihir kembali bangkit. Sekarang, tahun 1999, dua tahun setelah dimulainya era kebangkitan dunia sihir, Sekolah Sihir Hogwarts sudah beroperasi dengan normal seperti biasa. Beberapa bagian kastil yang rusak dalam perang sudah sebagian besar diperbaiki, termasuk ruang bawah tanahnya.
Severus Snape masih di Hogwarts, masih mengajar Ramuan, masih tinggal di ruang bawah tanah. Hidupnya telah berubah sangat drastis selama dua tahun terakhir, namun yang terpenting ia masih hidup. Betul-betul hidup, sepenuh-penuhnya, sejujur-jujurnya. Ia bukan lagi agen ganda yang harus berpura-pura sepanjang hari. Ia tidak lagi punya kewajiban untuk bersikap dingin dan tertutup. Dan yang paling penting, ia telah bebas, bebas untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terikat bayang-bayang Lord Voldemort.
Adalah sebuah keajaiban ketika itu, waktu ia akhirnya dinyatakan sembuh dari intoksikasi racun ular yang menggigitnya di Shrieking Shack. Semua orang mengira dirinya telah meninggal, tak bisa disembuhkan—tapi ternyata Severus masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan. Beberapa hari setelah Perang Besar, ia sudah diperbolehkan pulang dari St Mungo, dan sejak saat itu ia terus tinggal di Hogwarts.
Meskipun, ia tak betul-betul sembuh.
"Ada sedikit komplikasi yang agak mencemaskan," kata si Penyembuh waktu itu, sebelum ia pulang dari rumah sakit, "sesuatu yang tidak bisa kami cegah, karena kerja bisa ular tersebut sangat cepat dan kau sudah terkena komplikasi itu saat tiba di rumah sakit."
"Komplikasi apa?" tanya Severus, sementara ia berbicara sendiri dalam hati, apalah gunanya meributkan komplikasi kecil, bukankah sudah bagus dirinya masih bisa bertahan hidup?
"Racun tersebut sudah terlanjur masuk ke otakmu," jelas si Penyembuh dengan suara bersimpati. "Dan sudah membuat kerusakan di sana. Kerusakannya tidak fatal, tidak menyebabkan kematian, tapi punya dampak yang cukup serius. Kau mungkin akan mengalami gangguan persepsi. Kau tahu apa itu?"
"Halusinasi?" kata Severus lelah. "Ilusi?"
"Tepat, Mr Snape. Kami belum bisa memperkirakan seberapa besar kerusakan di otakmu, namun kau akan mengalami gejala-gejala itu, cepat atau lambat. Kau mungkin akan melihat hal-hal yang tak dilihat orang lain, mendengar suara-suara ganjil... tapi semua itu hanya ada dalam kepalamu. Kami menyebutnya, kehilangan pegangan pada realitas."
"Jadi, aku akan jadi gila?" tanya Severus, singkat, lugas dan pahit.
Si Penyembuh tampak berpikir-pikir sejenak, mempertimbangkan jawabannya. "Kita tak pernah bisa mendefinisikan 'gila'," katanya akhirnya, dengan terlalu diplomatis dan membuat Severus kesal.
"Apa yang harus kulakukan untuk mengatasinya?"
"Tidak ada," jawab Penyembuh itu. "Kau hanya bisa menunggu. Dan jika kau mulai mengalami hal-hal aneh yang tak masuk akal... kau bisa kembali ke sini, dan kami akan membantumu meringankan gejalanya, namun hal tersebut tidak bisa sembuh total. Aku takut kau harus hidup bersama penyakit itu dalam waktu yang sangat lama."
Jadi, dia sembuh, hidup, tapi gila. Severus pulang dari rumah sakit dengan kekesalan baru, namun karena ia tak bisa melakukan apa-apa, maka ia berusaha untuk tenang dan dengan berani menantikan kegilaan itu datang. Kata si Penyembuh, ia akan mendengar suara-suara yang tak didengar orang lain, atau ia akan melihat hal-hal ganjil, benda-benda berubah bentuk tak sewajarnya...
Tapi ia belum mengalaminya, sampai hari ini.
Dua tahun setelah Severus divonis 'akan jadi gila', dia belum jadi gila.
Meskipun begitu, Severus tak bisa bilang bahwa kondisi mentalnya prima seratus persen. Bahkan, sebetulnya, jiwanya sangat jauh dari prima.
"Selamat pagi, Profesor Snape." Seorang gadis berambut cokelat tebal berjalan menjajarinya di koridor, mengalihkan pikiran Severus yang sedang melamun jauh. "Kau bangun lebih pagi."
"Ya, Miss Granger," kata Severus singkat.
Hermione Granger, yang kini sedang menjabat sebagai guru magang di Hogwarts setelah ia lulus tahun lalu dari kelas tujuh—setelah mengulang pendidikan kelas tujuh selama setahun—terus berjalan menyebelahi Severus dengan bersemangat, meskipun pria itu tampak sangat dingin dan tak ingin diganggu seperti biasa. Tapi Hermione selalu ingin mengajaknya bicara, entah kenapa.
"Anda tidak mimpi buruk lagi kan?" tanya Hermione hati-hati. "Kusarankan Anda minum Ramuan Tidur Tanpa Mimpi agar—"
"Aku tahu, Miss Granger," kata Severus tajam. "Aku cuma lelah sehabis mengajar dan bermimpi buruk..."
"Anda tidak lelah," sela Hermione, nada suaranya terdengar agak memaksa. "Anda sudah mimpi buruk sejak aku mulai mengajar di sini setahun yang lalu. Secara fisik, Anda baik-baik saja. Mungkin, jiwa Anda yang lelah."
Severus berhenti berjalan, dan memutar badannya untuk menghadapi Hermione.
"Dengar, Miss Granger," desisnya, sementara Hermione tertunduk kaget. "Kau tak tahu apa-apa tentang aku. Berhentilah mengurusi hidupku dan memberi nasehat-nasehat dan perhatian; aku tak butuh semua itu. Kau mengerti?"
Severus meninggalkan Hermione berdiri mematung dan berjalan cepat menuju pintu Aula Besar, tapi Hermione masih nekat berbicara, suaranya bergaung di koridor batu luas itu: "Bagaimana dengan Lily?"
Pria itu berhenti berjalan. "Apa katamu?"
"Lily," kata Hermione jelas, meskipun suaranya mulai bergetar. "Aku tahu Anda masih terus memikirkannya, dan aku tahu Anda merindukan kehadiran Albus Dumbledore dan Anda merasa bersalah karena telah membunuhnya. Anda sudah menghabiskan hidup bertahun-tahun menjadi anak buah Lord Voldemort dan kini Anda berada dalam fase trauma setelah perang—"
"DIAM!"
Severus tampak seperti sudah akan meledak. "Jangan... bicara... tentang... hal-hal itu lagi... padaku!"
Kini Hermione betul-betul berhenti bicara. Ia memandangi Severus Snape, si Ahli Ramuan, yang sudah bertahun-tahun menjadi gurunya, dan sekarang telah menjadi rekan sejawatnya. Meskipun Severus selalu diam seribu bahasa, selalu menjaga jarak dengan semua orang, tapi Hermione memahaminya, mengetahui apa yang ia rasakan, dan ia merasakan empati terhadapnya.
Hermione ingin Severus tahu bahwa pria itu tidak sendirian, bahwa Hermione siap datang membantu kalau dibutuhkan. Tapi sayangnya, Severus begitu keras kepala.
Jujur saja, Hermione merasa sangat cemas tentang Severus. Sangat amat cemas.
.
.
.
Pada dimensi ruang yang berbeda, tiga orang duduk bersama di sebuah meja kayu ringan. Ketiganya mengenakan pakaian berwarna kelabu, ketiganya memiliki lubang yang disegel seperti disekrup di belakang kepala mereka, dan topik pembicaraan mereka tidak pernah mendekati topik sehari-hari yang dibicarakan orang normal.
Karena orang-orang tersebut, Neo, Trinity, dan Morpheus, bukan orang-orang normal. Setidaknya di dunia yang dianggap dunia normal.
"Apa itu gangguan persepsi?" Neo bertanya, kedua mata hitamnya terpancang pada Morpheus, yang sudah hidup lebih lama di Nebuchadnezzar dan lebih banyak tahu. "Apa yang sedang dialami orang ini?"
"Gangguan persepsi adalah perbedaan antara apa yang diterima indera dan apa yang diterjemahkan oleh otak," jelas Morpheus pelan. "Misalnya, matamu melihat sebatang pensil di atas meja, tapi otakmu berkata bahwa kau melihat sebilah pisau."
"Ilusi," sambung Trinity, si wanita kurus berambut pendek yang tangguh. "Hal-hal yang sebenarnya tidak nyata, dianggap nyata."
"Bagaimana dengan halusinasi?"
"Halusinasi adalah keadaan ketika otakmu merasa dirinya merasakan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Misalnya, kau sedang sendirian dalam sebuah ruangan kosong, tapi kemudian kau mendengar suara-suara yang mengajakmu bicara, padahal tak ada siapa-siapa di sana." Morpheus melipat tangannya di atas meja, kulitnya yang gelap tampak sangat kontras di atas warna kelabu. "Gangguan persepsi adalah tanda awal hilangnya pegangan terhadap realitas."
"Membuatmu jadi tak tahu lagi mana yang nyata, mana yang tidak," Neo menyimpulkan. "Apakah sebetulnya yang kita lihat dengan mata kita adalah nyata, atau hanya ilusi belaka?"
"Tepat," kata Trinity. "Dalam istilah biasa, sehari-hari orang menyebutnya gila. Tapi apalah artinya gila? Dan yang lebih penting lagi, apalah artinya menjadi gila di dunia matriks?"
Ketiga sahabat itu terdiam sesaat. Agak lama, lalu lebih lama. Sampai kemudian Morpheus memecahkan keheningan.
"Bukankah kita punya target baru?"
"Oh ya?" kata Neo. "Siapa?"
"Seorang pria bernama Severus Snape. Ia sekarang hidup di dunia matriks, tepatnya di Inggris. Tapi tak lama lagi ia akan mulai menghancurkan dunianya." Morpheus tersenyum bijak. "Kita akan menjemputnya dan mengantarkannya menuju realitas yang sesungguhnya."
"Bagus," kata Neo dan Trinity bersamaan.
.
.
.
Severus berjalan cepat menuju ruang bawah tanah. Kelas Ramuan terakhir tadi sore betul-betul menguras tenaganya, karena anak-anak kelas satu kebanyakan masih terlalu canggung mengurus ramuan dan, seperti biasa, terjadi banyak kecelakaan dalam kelas. Beberapa kuali meledak, beberapa anak ditumbuhi bisul dan taring tambahan di wajah. Setelah akhirnya kelas itu berakhir, Severus langsung kabur ke kantornya.
Kepalanya sakit.
Dia mendudukkan dirinya pada kursi berlengan empuk di balik meja kantornya, berusaha menenangkan diri, tapi di luar kendalinya, jantungnya berdebur keras seolah marah. Sesuatu yang dingin menjalari telapak tangannya, lalu ia mulai menggigil.
"Semua itu masih tersisa dalam kepalamu."
Dia mendengar suara Hermione Granger. Tidak, Hermione tidak sedang berada dalam ruangan itu bersamanya, yang ia dengar adalah memori. Sesuatu yang dikatakan Hermione kepadanya berbulan-bulan lalu, sejak wanita muda itu mulai menjadi guru magang di Hogwarts.
"Severus, orang tidak bisa dengan mudah sembuh dari luka-luka batin akibat perang," kata Hermione waktu itu, rambut cokelat lebatnya yang berantakan melambai-lambai sementara ia menggerak-gerakkan kepalanya tanda cemas. Sepasang mata cokelat itu menatap Severus dengan sungguh-sungguh. "Kau sudah menjalani hidup yang sulit selama belasan tahun. Semua tegangan dan tekanan yang kaualami, semua pertarungan, semua petualangan tragis—meskipun semua sudah berlalu, tapi akan terus membekas dan menghantui."
Dan memang betul: Severus masih bisa mengingat rasa pahit dan sakit yang menerjang dadanya ketika ia membunuh Albus Dumbledore, satu-satunya manusia di dunia yang mengetahui rahasianya dan dengan setulus hati peduli padanya. Ia masih bisa merasakan tebal dan baalnya dinding hati yang ia bangun ketika ia berhadapan dengan Lord Voldemort, yang menganggap kematian seorang Darah-Lumpur—Lily Evans—tak layak menjadi perhatian. Dan lebih-lebih, sampai sekarang, Severus masih merasakan nyeri hebat di jantungnya jikalau ia teringat pada Lily, wanita yang tak membalas cintanya sejak zaman dahulu kala.
Setelah semuanya berakhir, luka itu tidak ikut sembuh.
"Apakah aku gila?" dia bertanya saat itu, kepada wajah Hermione yang muram. Ia belum pernah berbicara sedekat dan sedalam itu dengan seseorang sebelumnya. Hermione adalah pengecualian. "Apakah aku gila, Miss Granger?"
Hermione masih saja tampak muram. "Sebisa mungkin, berpeganganlah pada realitas, Profesor Snape."
Dan hari ini, di kantornya, saat ini, Severus nyaris tak tahu lagi mana yang realitas, dan mana yang bukan.
Kegilaan yang dijanjikan telah datang...
Sosok kabut mendadak tumbuh dari benih tak kasatmata di sebuah kuali kosong di sudut ruangan. Kabut itu berpusar dan menebal, dan detik berikutnya satu sosok yang sangat familiar muncul, memanjat keluar dari kuali, melempar senyum sadis. "Severus Snape, abdiku yang setia..."
"Tuanku," bisik Severus. "Kau sudah mati. Kau tidak nyata."
Asap kabut berbentuk Lord Voldemort melayang-layang sambil melontarkan tawa jahat yang mendinginkan sumsum tulang. Kemudian, dari mulutnya yang terbuka lebar, keluarlah sosok ular besar yang mendesis garang—Nagini, ular yang hampir membunuh Severus, ular yang racunnya menyebabkan terjadinya semua ini.
Severus menjatuhkan kepalanya ke meja, sakit yang tak tertahankan melandanya. Segalanya mulai berputar, dan perutnya bergolak, isinya menuntut untuk dimuntahkan. Sementara itu, bayangan Voldemort masih terus terbahak tegang dan bayangan Nagini terus-menerus berdesis. Kemudian sosok lain muncul.
"Severus," bisik seorang wanita berambut merah. "Severus, apa yang sudah kaulakukan?"
"Lily, Lily..."
"Kau mengorbankan segalanya demi aku, bahkan setelah aku mati," desah Lily, rambut merahnya menyala semakin terang dan semakin terang, menyilaukan, membutakan. "Apa yang kaupikirkan, Sev?"
Apa yang dia pikirkan? Apa? Apa yang sedang dia pikirkan? Permainan macam apa ini yang tengah berpusar dalam otaknya?
"Ikutlah denganku, Sev," kata Lily, tersenyum kelu, tangannya terulur. Kakinya tak menjejak ke lantai, ia melayang-layang seperti putri duyung di dasar danau. "Kembalilah padaku, hidup bersamaku..."
Sepercik logika di sudut benak Severus berteriak. Lily sudah mati. Ikut dengannya berarti... aku mati...
"Kau tidak nyata," teriak Severus. "Kau tidak nyata..."
"Siapalah dirimu, yang berani menghakimi, mana yang nyata dan mana yang tidak?" Lily terbang berputar, berbisik di telinganya. "Cintamu kepadaku nyata, Sev."
"PERGI!" Severus menjerit. "PERGI! PERGI!" Lalu rasa sakit di kepalanya berubah menjadi sejuta kunang-kunang...
Aku tidak gila, aku tidak gila, aku tidak gila...
Benaknya memberontak, mencari pegangan. Ia tidak mau terperangkap dalam kegilaan. Ia tak ingin hidup terpenjara dalam ilusi. Seandainya ada satu hal, satu hal saja yang bisa membuatnya berdiri teguh dalam realitas—
—dan saat itulah dia melihat sesuatu, seseorang, yang sangat tidak familiar.
Di tengah kabut halusinasi ruang kantor itu, Severus menyipitkan mata untuk melihat ke arah pintu yang tidak tertutup. Di ambang pintu, tertutup kabut tebal, berdiri seorang pria yang tak dikenal Severus. Pria itu mengenakan pakaian seperti Muggle: setelan hitam resmi berupa kemeja putih, jas hitam, dan celana hitam sederhana. Rambutnya pendek rapi, wajahnya lonjong tidak ramah, dan ia mengenakan kacamata hitam. Satu-satunya tempat di mana Severus pernah melihat manusia berpenampilan seperti itu adalah di film-film tentang mata-mata Muggle...
Siapa pria itu? Apakah ia bagian dari halusinasi Severus?
"Siapa kau?" teriak Severus. "Apa yang kauinginkan? Dari mana kau datang?"
Tapi pria itu hanya berdiri diam di sana; dan sesuatu di dalam kepalanya memberitahu Severus bahwa pria itu nyata, bukan khayalannya. Maka ia berusaha bergerak untuk mendekati si pria.
Namun baru ia bergerak selangkah, rasa sakit di kepalanya melandanya lagi. Meledak mematikan. Mengerutkan seluruh tengkoraknya. Menyiksanya.
Severus terjatuh ke lantai, dan pada saat itu segalanya menjadi hitam.

.
to be continued

Friday, 13 January 2012

Punca by ambudaff

Punca by ambudaff

Link asli di sini

Punca

KBBI: n 1. ujung (tali, benang, obor, dsb); ujung atau sudut kain (selendang, sebai, dsb) yg lepas atau terjulai; [...] 3. pangkal (asal mula, lantaran); pokok (pembicaraan dsb): -perselisihan yg sukar diselesaikan

Sel punca adalah juga merupakan terjemahan dari stem cell. Stem cell adalah sel yang diambil dari tali ari-ari, sel induk, yang bisa dipergunakan apabila si individu memerlukan organ-organ tertentu: sumsum tulang belakang jika ia leukemia, misalnya, atau jika ia memerlukan cangkok ginjal, hati, bahkan jantung, sel ini bisa dikembangkan untuk membuat organ sintetis. Sumber kebanyakan dari wikipedia, mohon bimbingan dari yang lebih menguasainya

Severus Snape dan beberapa tokoh lain yang bisa kalian kenali adalah kepunyaan JK Rowling. Warren Blake, James Harrison, dan Angus Shacklebolt itu punya Ambu

Rate T, sci-fi/suspense, AU, future-fic

Severus Snape dianggap tidak mati, dan meneruskan mengajar di Hogwarts

-o0o-


"Tapetum Lucidum," dan patung gargoyle itu bergeser ke samping. Memberi jalan bagi Severus menuju pintu kantor Kepala Sekolah.

Diketuknya pintu perlahan. Suasana sepi, ketukan perlahan juga tentu terdengar. Lagipula, ia sedang ditunggu.

"Masuk!" suara Minerva tegas.

Severus membuka pintu dan masuk. Pemandangan yang nampak pertama kali adalah Minerva sedang membaca selembar kertas, dan di tangan yang satunya lagi ia memegang amplop. Sepertinya lebih dari satu.

"Ah, Severus! Ini ada surat untukmu—" Minerva menyorongkan salah satu amplop yang tadi dipegangnya.

Rupanya surat itu datang dengan selembar surat pengantar pada Kepala Sekolah. Surat yang ditujukan untuknya, masih dilem. Tak diapa-apakan oleh Minerva.

Severus membaca nama tujuan surat. Untuknya. Dibaliknya amplop, dibacanya nama pengirim.

Angus Shacklebolt


Shacklebolt?

Siapanya Kingsley?

Minerva memang tak punya keahlian membaca pikiran orang seperti Severus, tetapi dengan melihat raut wajah saja, ia sudah bisa menerka.

"Angus Shacklebolt itu cucunya Kingsley—"

Raut wajah Severus masih tak terbaca, tetapi Minerva cukup jeli untuk melihat sedikit perubahan pada matanya.

"Surat ini datang dari masa depan. Tak memakai burung hantu, tetapi tadi ada semacam portkey yang mengiringi, " Minerva menunjuk sebuah pemberat surat di atas mejanya. "Dan ada surat pengantarnya. Sepertinya, mereka membutuhkan bantuanmu—"

"Bantuanku?" Severus tak bisa menahan rasa heran keluar pada raut wajahnya.

"Baca saja suratnya. Di sini Angus tak mengatakan apa-apa, hanya mengatakan perlu bantuan—"

Perlahan Severus membuka amplopnya. Dibacanya hati-hati, tak melewatkan satu katapun.

Selesai. Severus mengangkat pandangannya dari surat itu, dan menatap Minerva.

"Angus ini rupanya penyihir yang juga berkarir di dunia Muggle. Jabatannya saat ia sedang menulis surat ini adalah Kepala Scotland Yard. Ia sedang menangani sebuah kasus—"

"Dan ia memerlukan keahlianmu?"

Severus mengangguk. "Aku tak tahu apakah di tahun 2060 sudah tak ada ahli Legilimens, ataukah—" ia mengulang membaca beberapa kalimat dari suratnya, "—ahli Legilimens dan ahli Ramuan atau Healer sekaligus?"

Minerva tersenyum. "Mungkin saja. Atau, ia tak tahu harus mencari di mana, dan pernah mendengar kakeknya bercerita tentangmu—"

"Memang," Severus mengakui, "dalam surat ini ia mengatakan 'almarhum kakekku yang merekomendasikanmu'. Dulu, di jamannya masih kecil—" ia memandang Minerva meminta persetujuan.

"Pergi saja. Toh, sekarang sekolah sedang libur," Minerva mendorong, "kumpulkan dulu barang apa yang akan kau bawa, dan menurut Angus, kau bisa pakai portkey waktu ini—"

Severus mengangguk. "Aku akan bersiap-siap dulu."

Ia berbalik dan membuka pintu.

-o0o-

Selalu ada rasa tak enak saat ia menggunakan portkey, portkey yang ini juga. Apalagi ia bukan saja berpindah tempat, tetapi juga berpindah waktu.

Dan ia muncul di sebuah ruang kerja. Seseorang sudah menunggunya di sana. Berkulit hitam, tinggi besar—wajahnya nyaris sama dengan Kingsley.

"Profesor Snape—" sahutnya sambil mengulurkan tangan, menyambutnya.

"Inspektur Shacklebolt—" balas Severus, sambil menyambut tangan Angus, menjabatnya.

"Aku senang kau bersedia membantu," Angus berputar ke arah kursinya, mempersilakan Severus duduk, sementara ia pun duduk di kursinya. "Aku sering mendengar kakek berbicara tentangmu di waktu kecil, dan saat mendapat kasus ini, aku tak tahu siapa yang bisa membantuku selain kau. Maka kugunakan teknologi portkey waktu ini—teknologi terbaru di dunia sihir."

Severus mengangguk. "Mudah-mudahan aku bisa membantu. Ada apakah gerangan?"

Angus menarik lacinya, mengeluarkan sebuah map, dan menyodorkan pada Severus. "Sepertinya kasus pencurian Muggle biasa, tetapi jika ditelusuri lebih jauh, aku curiga ini akan menjadi heboh, baik di dunia Muggle maupun di dunia penyihir—"

"Apakah pelakunya penyihir?" Severus mulai membuka map kasusnya.

Angus mengangguk. "Sudah biasa di saat ini, ada penyihir yang berkarir di dunia Muggle. Seperti aku. Tetapi, kami tidak boleh terang-terangan membuka identitas pada kaum Muggle. Kadang bahkan sesama penyihir juga tidak saling mengetahui, apakah orang di hadapannya adalah penyihir atau Muggle biasa."

"Tetapi kalian bisa saling mengetahui?"

"Bisa saja. Kalau kita pernah saling mengenal di dunia sihir, pernah ketemu di Diagon Alley misalnya. Atau jalan yang lebih resmi, membuat surat permohonan untuk mengetahui status si X pada Kementrian. Setiap orang bisa melakukannya. Jadi, untuk sesama penyihir, tak ada salahnya kalau ingin tahu apa si X itu penyihir atau tidak. Tapi, dia tak boleh mengungkap status itu pada Muggle. Ada perkecualian membuka identitas dirinya sebagai penyihir ialah jika ia bermaksud untuk menikah dengan seorang Muggle."

Severus mengangguk, dan mulai membaca lembar pertama.

"Sel Punca?" tanyanya saat membaca kata pertama.

"Atau Stem Cell. Bagian yang diambil saat seseorang baru dilahirkan, diambil dari tali ari-arinya. Disebut juga sel induk, karena di situlah segala sel yang ada dalam tubuh si orang itu bersumber." Angus menjelaskan. "Di masa ini, sudah wajar pengambilan sel punca dilakukan. Malah di negara-negara tertentu, pengambilan sel punca itu menjadi kewajiban. Karena jika ada penyakit-penyakit tertentu, pengobatannya menjadi jauh lebih mudah pada orang yang sel punca-nya disimpan, daripada yang dibuang begitu saja."

Severus paham, dan meneruskan membaca. "Jadi, di Inggris ada lembaga yang fungsinya adalah mengumpulkan sel punca—"

"—bayangkan saja seperti perpustakaan. Disimpan di county di mana kau dilahirkan. Jika kau pindah county, sel punca-mu juga akan dikirimkan pada Pusat Penyimpanan Sel Punca di county yang kau tuju," Angus membenarkan.

"Dan jika meninggal?"

"Ada dua pilihan. Jika kau meninggalkan surat wasiat, maka sel punca-mu bisa saja dimusnahkan, sesuai keinginanmu dalam surat wasiat. Jika tidak, maka sel punca itu bisa dimusnahkan, atau disumbangkan pada jurusan kedokteran universitas tertentu untuk penelitian."

"OK. Dan kasus ini—" Severus meneruskan pemindaian pada naskah di lembar-lembar di dalam map.

"Sel punca dari seseorang bernama Elizabeth Evans. Oh, bukan," Angus cepat-cepat menambahkan tatkala raut wajah Severus mendadak berubah, "tidak ada hubungan dengan Lily Evans dari jamanmu. Namanya kebetulan Elizabeth, dan kukira nama marga Evans cukup banyak, seperti juga nama marga Smith atau Thompson—"

Severus mengangguk. "Jadi dia meninggal—"

"Pada usia 30 tahun, karena kecelakaan. Sudah diusut polisi, dan faktor-faktor kecelakaannya wajar. Akan tetapi, yang menjadi kasus di sini adalah—" Angus mencondongkan badannya, mendekati berkas yang sedang dipegang Severus, membolak-balik beberapa lembar hingga sampai ke lembar yang ia maksud, "—sel punca-nya hilang."

Severus menyeksamai raut wajah Angus.

"Dalam surat wasiat Elizabeth, tidak disebutkan apa-apa tentang sel punca-nya. Karena itu keluarganya bermaksud akan menyumbang sel punca-nya pada universitas. Oya, ini juga didukung penuh oleh suaminya."

"Ia sudah bersuami?"

"James Harrison, jadi namanya sesudah menikah seharusnya Elizabeth Harrison. Evans itu nama gadisnya, yang tertera dalam data sel punca. Perlu diketahui, James adalah salah satu dokter yang bekerja di universitas itu."

"Jadi, ada kemungkinan James akan mengerjakan penelitian dengan menggunakan sel punca Elizabeth?"

Angus mengangguk. "Ada kemungkinan."

"Tapi sel punca itu hilang—"

Angus mengangguk lagi. "Seperti biasa, tiga hari setelah tanggal yang tertera dalam surat keterangan kematian, sel punca dikeluarkan dari lokernya, apakah dengan tujuan dimusnahkan atau dikirim ke universitas. Tapi ternyata, lokernya kosong—"

"Dan kau mencurigai—"

Angus menarik dua lembar foto dari map yang dipegang Severus. Keduanya laki-laki. Yang satu berkacamata, dengan rambut awut-awutan, difoto dalam keadaan nyengir, sedang satu lagi laki-laki berambut hitam lurus sebahu, dengan wajah dingin.

"Ini James," Angus menunjuk foto laki-laki berkacamata, "dan yang ini Warren Blake. Keduanya punya motif, dan keduanya punya kesempatan untuk mencuri sel itu."

Severus menyimak.

"James sangat mencintai istrinya. Kemungkinan ia ingin menyimpan sel punca Elizabeth untuknya sendiri—"

"Apakah itu melanggar hukum?"

Angus menggeleng. "Sepanjang hanya menyimpan, tidak. Tetapi dengan kapasitas James sebagai dokter, ia punya kesempatan untuk membuat sel punca ini sebagai organ tubuh yang mana saja. Membuat organ tubuh dengan sel punca orang yang sudah meninggal, melanggar hukum—"

"Sedang Warren?"

"Warren bukan dokter praktek, tetapi ia ilmuwan spesialis sel punca di universitas. Kapasitasnya sama dengan James, punya kesempatan untuk membuat organ tubuh dari sel punca itu."

"Dan kenapa Warren dicurigai?"

"Karena ia mantan pacar Elizabeth sebelum ia menikah dengan James—"

.

.

.

Ada rasa perih menyengat di dada Severus.

.

.

.

Tetapi ia berusaha mengusir rasa ini. Ia berusaha meneruskan menelusuri kasusnya secara rasional.

"Jadi, ada dua orang yang bisa dicurigai. Motif mencuri sel punca adalah karena mereka berdua bisa membuat organ tubuh ber-DNA Elizabeth. Kenapa mereka ingin membuat organ-organ tubuh Elizabeth? Toh, Elizabeth sudah meninggal, dan tak bisa dihidupkan lagi dengan mencangkokkan salah satu organnya?"

Angus menggelengkan kepala. "Membuat satu atau dua organ tubuh Elizabeth, takkan bisa membuatnya kembali hidup. Tapi bagaimana kalau kau membuat seluruh organ tubuh Elizabeth?"

"Seluruh tubuh? Tapi tetap saja tidak ada nyawa kan?"

"Muggle tidak bisa memberinya nyawa. Tetapi penyihir bisa. Paling tidak, bukan nyawa seperti manusia biasa, yang ditiupkan oleh Tuhan-nya, tetapi bisa hidup—"

"Kau akan mengatakan bahwa James dan Warren keduanya penyihir?"

Angus mengangguk.

"Dan keduanya berpotensi membuat—inferi? Zombi?"

Angus mengangguk lagi.

Severus menghela napas. "Cukup mengerikan—"

Lagi-lagi Angus mengangguk. "Orang yang bermaksud membuat zombi itu berarti jiwanya sudah tidak sehat. Jiwanya sakit. Baik James maupun Warren keduanya nampak sehat-sehat saja. Tapi jiwa yang sakit kan tidak selalu ditunjukkan dengan perilaku sekali atau dua kali bertemu. Itulah makanya aku ingin minta bantuanmu—"

"Dan bantuan apakah—"

"Aku akan memasukkanmu ke dalam tim kerja mereka. James sebagai dokter, Warren sebagai ilmuwan dengan dukungan teori segudang, plus ada tiga orang lagi—dua ilmuwan dan satu dokter. Kau akan masuk sebagai ahli farmasi, ahli obat-obatan—"

"Dan bekerja dari dalam, mencari siapakah sebenarnya yang mencuri sel itu?"

Angus kembali mengangguk, "Dan bukan hanya 'bekerja dari dalam tim'. Melainkan, bekerja dari dalam benak mereka—"

Severus mengangguk perlahan. "Jadi kau ingin aku me-Legilimens benak mereka dan mencari siapa pelakunya dengan diam-diam? Agar tidak ribut-ribut?"

"Ya. Kasus seperti ini baru sekali ini terjadi, dan kalau sampai ribut, penyihir tak bisa bersembunyi lagi. Kerahasiaannya akan hilang—"

Severus mengangguk. "Kapan aku bisa mulai bekerja?"

-o0o-

Setelah Severus dibekali dengan setumpuk pengetahuan Muggle mengenai farmasi—yang syukurnya ternyata sudah dikuasai Severus, maka masuklah ia ke tim. Dokter James, dan dokter Sophia Cornwalis, lalu empat ilmuwan, ia, Warren dan dua ilmuwan muda.

Sepertinya rata-rata adalah ilmuwan pendiam. Meskipun kelihatan James orangnya periang, tetapi baru saja kehilangan istri, membuat tim itu jadi tim yang pendiam.

Tapi biarlah. Dengan demikian, ia sendiri juga tidak harus membuka diri terlalu banyak. Jadi, hari pertama mereka bertemu, saling menyebut nama dan asal universitas—Severus dari Universitas Hogwarts—lalu James sebagai yang paling berpengalaman mulai menjelaskan apa tujuan tim penelitian ini, dan porsi kerja masing-masing.

Severus lega karena bagiannya mudah. Paling tidak, semuanya sudah pernah ia lakukan. Hanya saja ia tidak menggunakan penamaan Latin, hanya menggunakan nama sihir. Jadi, yang harus ia lakukan hanyalah menulis penelitian yang sudah pernah ia lakukan, dan mengubah nama-nama sihirnya menjadi istilah Latin.

Tapi, ia juga tetap harus terlihat masih sibuk meneliti. Karena itu akan meng-kamuflase apa yang sedang ia lakukan sebenarnya.

Oke, kedua ilmuwan muda itu paling mudah di-Legilimens. Sepertinya mereka tidak punya kapasitas sebagai penyihir. Tetapi ia tetap harus melakukannya dengan halus, agar mereka tidak merasa sedang dibaca pikirannya.

Selesai. Mereka berdua memang Muggle, dan tak ada yang mencurigakan. Yang satu malah ingin cepat-cepat selesai agar bisa cepat-cepat menikmati tidur di flatnya yang baru. Oho, Legilimens memang membuka rahasia banyak orang.

Juga tak banyak yang bisa di-Legilimens dari Dokter Sophia. Dokter cantik ini Muggle, dan di benaknya ternyata isinya ilmu kedokteran melulu. Teori dan hipotesa. Severus menggelengkan kepala. Berapa banyak pria yang patah hati ditolak olehnya?

Oke. Tinggal James dan Warren. Berdasarkan informasi dari Angus, keduanya penyihir. Berarti, ia harus lebih hati-hati me-Legilimens mereka. Selain itu, ia sama sekali belum tahu keduanya termasuk penyihir piawai atau sedang-sedang saja.

Warren, sulit ternyata memasuki benaknya. Severus sudah akan berkesimpulan bahwa Warren menggunakan Occlumency—kemungkinan besar untuk melindungi niat jahatnya—tapi ternyata bukan. Menelusuri jalur-jalur benaknya, Severus akhirnya berkesimpulan bahwa Warren ini orangnya sulit dimengerti. Cara berpikirnya aneh, dan selalu menyangka bahwa orang lain juga punya pikiran yang sama dengannya. Membuatnya banyak berselisih paham dengan banyak orang.

Masih sangat berhati-hati agar Warren tidak curiga bahwa benaknya sedang diobrak-abrik, Severus menelusuri lebih jauh lagi.

Dan ia tertegun.

Ia bagai bercermin, dan melihat bayangannya sendiri.

Warren sudah bersahabat dengan Elizabeth di Elementary. Bersama-sama berjalan sepulang sekolah. Berbagi makanan bekal di saat istirahat. Masuk sekolah menengah juga sama, hanya kali ini tidak sekelas. Tidak apa, toh tiap istirahat Elizabeth sering mencarinya ke kelas.

Kuliah di tempat yang berlainan membuat mereka jarang bertemu. Akan tetapi begitu lulus, ternyata mereka kemudian bekerja di tempat yang sama. Di lab rumah sakit milik universitas. Bertekad tak membiarkan Elizabeth jauh-jauh lagi, ia meminta Elizabeth menjadi kekasihnya. Mulanya Elizabeth bersedia.

Hari-hari indah menyertai kehidupan mereka. Sampai di titik di mana Elizabeth baru menyadari bahwa Warren sangatlah posesif. Elizabeth minta putus. Dan kemudian bertemu dengan Dokter James Harrison. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa keduanya sangat serasi. Tak butuh waktu lama untuk keduanya mulai mengedarkan undangan pernikahan.

Lab universitas cukup besar, sehingga Warren bisa menarik diri tanpa terlihat orang banyak. Tak membuat diri terkenal. Terus bekerja, tak banyak cingcong. Walau tak ada seorangpun yang melirik. Menyimpan semua emosi untuk dirinya sendiri, menata dendam dengan rapi. Untuk pencitraan ke luar, orang hanya akan melihat wajah dan sifatnya yang dingin. Nyaris tanpa emosi.

Severus menghela napas. Menarik kembali mantra Legilimensnya, ia bersandar dengan lelah. Lelah karena Legilimens memang membutuhkan banyak energi. Lelah karena ia merasa bisa melihat arah perjalanan Warren ke depan.

Jika saja ada organisasi semacam Death Eaters di Inggris tahun 2060 ini, Severus berani bertaruh bahwa Warren akan memasukinya—

Baiklah, Severus membuat catatan dalam hati. Warren tersangka yang ideal. Sifat posesif, pas untuk seseorang yang mencuri sel punca dan berniat membuat zombi Elizabeth, atau apapun itu. Menyimpan semua emosi, bisa mengarah ke arah psikopat. Dendam, juga bisa menuntun orang untuk berbuat di luar logika.

Hanya saja Severus belum menemukan kapan dan bagaimana Warren bisa mencuri sel punca itu. Seharusnya ada. Atau kalaupun ia meng-Occlumens-nya, Severus seharusnya bisa melihat ada sebuah celah yang tertembus Legilimens-nya.

OK, besok saja kita lihat lagi, batin Severus.

Plus me-Legilimens satu orang lagi, James, pikir Severus, tapi ia merasa sudah sangat lelah untuk melakukan Legilimens lagi. Jadi ia memutuskan untuk melakukannya besok.

Kalau saja ia tahu apa yang akan ia temui malam nanti.

-o0o-

Kebanyakan ilmuwan dan dokter yang sedang punya pekerjaan, punya kamar tidur sendiri di gedung lab universitas ini. Maksudnya agar mereka tidak perlu terlalu jauh untuk pulang, apalagi kalau pekerjaan sedang tanggung, dan hanya perlu tiga-empat jam tidur nyenyak saja.

Mendiami salah satu kamar di sana, Severus sudah tertidur beberapa jam sebenarnya. Tetapi ia terbangun karena haus. Bangkit, menuju dispenser dan mengisi gelas penuh-penuh, meminumnya, dan ia berjalan menuju jendela.

Jendelanya menghadap taman universitas. Dikelilingi jalur pejalan kaki dan jalur sepeda.

Tertutup tirai, ia tak bisa melihat jelas ke luar. Bayangan yang nampak hanya berupa siluet. Banyangan pohon-pohon bergerak-gerak tertiup angin, dan—bayangan orang. Dua orang.

Tapi ia yakin, orang yang ada di luar jendela itu ia kenal.

Perlahan ia mendekati jendela, dan menyingkap tirainya. Sedikit saja. Hanya agar jelas siapa orang yang sedang berjalan di taman.

James Harrison.

Dan seseorang yang Severus kenal sebagai Elizabeth Evans-Harrison, dari foto yang diberikan Angus—

.

.

.

.

Elizabeth berjalan di depan James, setapak-demi-setapak. James di belakangnya. Bagai seorang ayah sedang mengawasi anaknya yang berusia setahun untuk belajar berjalan. Dan Elizabeth memang jalannya limbung, tidak stabil.

Seperti anak kecil yang sedang belajar berjalan.

Atau seperti orang dewasa yang sudah lupa caranya berjalan.

Atau seperti tubuh orang dewasa tetapi belum pernah mengalami bagaimana caranya berjalan.

.

.

.

.

-o0o-

"Jadi, flat tempat James sudah digeledah, demikian juga lab. Sebagai dokter senior, ia punya tempat privat untuk melakukan serangkaian riset sendiri, dan ternyata disalahgunakan untuk membuat sebuah tubuh manusia sempurna. Melalui sel punca Elizabeth."

"Polisi-polisi yang bekerja dalam kasus ini, di-Obliviate oleh para Auror. James sendiri di muka para Muggle diminta mengundurkan diri akibat depresi karena kematian istrinya. Dalam lingkungan penyihir, ia akan diadili dan dihukum di Azkaban. Plus pendampingan psikiater."

Angus membacakan Daily Prophet terbitan pagi itu. Di hadapannya, duduk Severus, siap untuk kembali ke tahun 2000.

"Bagaimana dengan Warren?" tanya Severus sambil lalu. Sebenarnya ia sudah bisa menebak, tapi ia belum mendengar berita resminya.

"Ia dijadikan kepala tim. Kepandaiannya memang membuatnya layak memimpin tim. Disamping ia tidak emosian—"

Severus mengangguk. Mudah-mudahan saja tak terjadi apa-apa.

"Jadi," ia bangkit, mengulurkan tangannya pada Angus, "sampai bertemu lagi—"

Angus menyambut tangannya, menjabatnya erat. "Sampaikan salam hormatku pada Kepala Sekolah Minerva McGonagall, dan kalau bertemu, sampaikan salam rinduku pada kakek—"

"Pasti!"

Angus menyiapkan portkeynya, dan Severus menyentuhnya satu jari.

-o0o-

"Ayolah Severus, jangan menolak kali ini. Hanya makan malam biasa di The Burrow, sehabis itu, saat orang lain berdansa atau bergembira, kau boleh pulang kalau kau mau—"

Severus menggeleng.

"Tapi—"

"Minerva, aku tidak mengatakan tidak—"

Minerva keheranan.

"Maksudku, aku tidak akan langsung pulang sehabis makan malam. Mungkin bercakap dengan Arthur—"

Tak bisa menyembunyikan kegirangan, Minerva langsung memeluk erat Severus. "Benarkah? Benarkah? Molly akan sangat senang—"

"Minerva, lepas dulu pelukanmu. Peeves bisa menyebar gosip tak sedap—"

Minerva melepas pelukannya, tapi wajahnya jelas tak bisa menyembunyikan kegembiraan. "Kalau boleh tahu, kenapa kau kali ini tak menolak undangan makan malam?"

Severus menunduk. Dan berbisik pelan, "Aku tak ingin seperti Warren—"

FIN