Showing posts with label Rating K+. Show all posts
Showing posts with label Rating K+. Show all posts

Saturday, 8 February 2014

Homo roboticus (arvisha)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Homo roboticus
Severus Snape dan Lilly Evans adalah tokoh-tokoh kepunyaan J.K. Rowling. Sherlock Holmes dimiliki oleh Sir Arthur Conan Doyle. Tidak ada keuntungan komersil pada karya ini. Semata-mata hanya untuk hadiah ulang tahun Severus Snape ke-54. Happy Birthday Daddy Sev.. -Rosemary Snape-
Sepasang remaja sedang duduk di bangku taman dalam diam. Keduanya asyik membaca buku masing-masing. Sang remaja lelaki berambut hitam berminyak membaca buku berjudul "The Advance Potion", sedangkan teman perempuannya membaca buku berjudul "Sherlock Holmes: A Study in Scarlet".
Di tengah-tengah keheningan dan kesibukan membaca itu, tiba-tiba gadis berambut merah ikal itu tertawa geli, "Hahahahahahahahaha….".
Remaja lelaki itu pun menengok, agak terganggu dengan perilaku temannya yang tiba-tiba tertawa seperti itu. Ia juga heran, tak biasanya Lily Evans tertawa sangat geli ketika sedang membaca buku. Lagipula buku yang dibaca Lily, setahunya adalah kisah detektif yang cukup serius. Di mana letak kelucuannya?
"Apa yang kau tertawakan Lils? "
"Hahahaha… haduh lucu sekali!", ujar Lily sembari memegang perutnya yang sakit karena tertawa terlalu banyak.
"Apanya yang lucu sih? Bukannya kau membaca buku kisah detektif, muggle yang bekerja menyelidiki kejahatan? Itu kan buku misteri, di mana letak kelucuannya?"
"Haduh Severus, buku ini memang seharusnya tidak lucu, tapi karena aku tampaknya mengenal karakter seperti yang disebutkan pada buku ini, maka buku ini menjadi sangat lucu bagiku", jawab Lily.
"Kau mengenal karakter pada buku itu? Siapa orang yang suka mencampuri urusan orang lain seperti tokoh di buku itu?"
"Ah, Severus, bukan begitu. Sherlock Holmes tidak seburuk itu. Malah dia sangat mengesankan. Dan aku tambah kagum padanya, karena aku mengenal seseorang dengan karakter yang sama seperti Holmes", ujar Lily tersenyum.
"Aku masih tidak mengerti di mana letak kelucuannya", ujar Severus Snape.
Lily membalik badannya sampai ia benar-benar berhadapan dengan Severus, jarak mereka dekat sekali, sampai wajah Severus memerah.
"Hmm.. Kau pasti mengenal orang ini, Coba tebak, siapakah orang dengan karakter berikut: sangat cerdas, sangat teliti dan detail memperhatikan keadaan sekitar, suka mengkritik orang dengan pedas, kaku, susah bergaul, hampir tidak punya teman, pemikir, suka merenung, tanpa ekspresi, sangat menyukai eksprimen kimia, tertarik pada peristiwa kriminal dan berusaha menyelidikinya, serta lebih sering menggunakan akal pikiran dibandingkan hari jika mengambil keputusan?",
Severus Snape termenung dan tampak berpikir keras setelah mendengar ucapan Lily, "Hmm.. sepertinya aku tidak kenal muggle yang kau sebutkan, Lils..".
"Muggle? Oh No!, He is a wizard, Sev! Haduh masa sih kau tidak menyadarinya?"
"Menyadari apa?"
Lily sudah tampak sangat gemas, menahan kesal dan geli sekaligus, "Sev, semua hal yang kusebutkan itu adalah karaktermu. Kau mirip dengan Sherlock Holmes! Oh ya satu lagi, kalian sama-sama suka warna gelap", ujar Lily sembari beranjak pergi meninggalkan Snape.
"Hei, Lily, kau mau kemana? Aku masih belum paham maksudmu!"
"Pikirkan saja sendiri, kau kan secerdas Holmes, jadi hal ini harusnya mudah", ujar Lily menengok sebentar ke arah Snape, lalu kembali meneruskan perjalanannya.
Severus Snape masih terpekur sendiri di bangku taman itu.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu di bangku taman tersebut. Mereka memang sering bertemu di taman terdekat dari rumah mereka. Severus Snape dan Lily Evans bukan sepasang remaja biasa, mereka adalah penyihir remaja berusia 13 tahun yang sedang menikmati liburan musim panas. Mereka berdua bersekolah di sekolah khusus penyihir, Hogwarts.
Severus dan Lily sudah saling mengenal sejak mereka belum berada di sekolah itu. Hampir tiga tahun yang lalu, Severus yang sering menyendiri di taman itu, melihat Lily sedang mempertunjukkan bakat sihirnya kepada sang kakak. Lily tidak mengerti bahwa yang ia lakukan adalah sihir (membuka dan menutup mahkota bunga Lily). Severus-lah yang menjelaskan kepada Lily mengenai bakatnya itu, Severus juga yang memperkenalkannya dengan dunia sihir. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi sahabat akrab, baik di sekolah, maupun di rumah.
Severus Snape tidak hanya sekedar menganggap Lily sebagai sahabat, diam-diam dia tertarik dan menyukai Lily, namun ia tak pernah berani untuk mengutarakannya. Dia hanya menikmati saat-saat berdua dengan Lily. Apalagi saat liburan sekolah seperti ini, tidak ada teman-teman yang mengganggu kebersamaannya dengan Lily. Petunia Evans, kakak Lily pun enggan mengganggu mereka, walau sering memarahi Lily, jika ia bertemu dengan mereka berdua. Severus Snape tidak ambil pusing terhadap Petunia, "Dia iri dengan kemampuan menyihir yang kita miliki, Lils", ujar Snape setiap Lily menceritakan perilaku menyebalkan sang kakak.
"Sev, tahu tidak? Ternyata Sherlock Holmes juga bisa jatuh cinta lho", ujar Lily memecah keheningan.
"Jatuh cinta? Bukannya kau bilang, detektif itu lebih sering menggunakan pikiran dibanding hati? Bagaimana cara ia bisa jatuh cinta?"
"Hahaha.. tapi kan dia juga manusia, Sev. Dia jatuh cinta kepada wanita yang berhasil mengelabuinya. Nama wanita ini Irene Adler. Miss Adler merupakan wanita yang sangat cerdas, sehingga pria sejenius Holmes pun tertarik kepadanya".
"Hmm.. kali ini,.. kurasa ada persamaannya denganku. Aku juga menyukai gadis yang cerdas…", ujar Snape dengan wajah sangat merah, seperti telah melakukan suatu hal yang sangat memalukan. Wajahnya pun tertunduk.
Lily menatapnya dengan wajah keheranan, "Oh ternyata, kau bisa jatuh cinta juga Sev? Siapa gadis yang kau sukai Sev? Ayolah katakan padaku! Aku bisa jaga rahasia", desaknya.
"Ah, sudahlah. Lupakan! Anggap aku tak pernah mengatakan ini".
"Lho, kenapa?"
"Karena gadis itu tak mungkin tertarik padaku. Sudahlah, aku tak ingin membahas ini".
"Hmm… Gadis Slytherin mana ya yang beruntung itu? Akan kuselidiki…"
"Eh, Slytherin? Aku tak pernah bilang apa-apa tentang gadis itu. Dia bukan Slytherin koq!"
"Oh ya, kalau begitu dari asrama mana dia? Tak mungkin muggle kan? Kau sepertinya tak menyukai muggle".
"Sudahlah Lily, aku tak mau membicarakannya. Ceritakan saja padaku tentang detektifmu itu".
"Huuu… menyebalkan! Kau tak mau membagi kisah cintamu padaku! Aku pulang saja!", ujar Lily seraya pergi meninggalkan Snape lagi.
"Hei Lily! Tunggu, jangan pergi dulu!"
"Apa? Kau mau menceritakannya padaku?", tanya Lily.
"Ti.. tidak. Tentu saja tidak. Tapi kan kita bisa membicarakan hal lain".
"Ya sudah, aku pergi saja. Aku bosan diam di taman begini terus!"
Severus hanya terdiam dan membiarkan Lily pergi. Tak mungkin ia mengatakan bahwa gadis itu adalah Lily sendiri. Terlalu malu dan takut untuk mengakuinya. Kalau Lily menolak cintanya, lalu tak ingin bersahabat dengannya lagi, lalu bagaimana? Severus tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Lily.
Untungnya, kemarahan Lily kepada Snape cepat meluap. Mereka pun kembali bertemu di taman. Namun, ketika Severus mulai mengeluarkan bukunya, Lily menepis tangan itu. "Sev, aku bosan kalau bertemu denganmu hanya membaca buku, dan kita sibuk dengan bacaan masing-masing".
"Apa maksudmu? Bukankah kau senang membaca?"
"Yah, tapi ada hal yang lebih menarik. Yuks kita ke rumahku. Tuney sedang pergi bersama Daddy ke London. Mum mengizinkanku untuk mengajakmu ke rumah. Ia sedang membuatkan kita pancake blueberry yang lezat".
"Ke.. ke.. ru.. rumahmu, Lils?"
"Iya, ayolah, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu".
"Hmm.. Baiklah", Ujar Snape sembari memasukkan kembali bukunya. Mereka pun berjalan beriringan ke rumah keluarga Evans. Sesampainya di sana, ternyata Mrs. Evans telah menunggu mereka.
"Hallo Severus, apa kabarmu? Menyenangkan kah liburan kali ini?", sapa Mrs. Evans seraya memberikan kecupan singkat pada kening Snape dan memeluknya hangat. Severus Snape pun merasa kikuk. Sangat jarang ia diperlakukan demikian, walaupun oleh orangtuanya sendiri.
"Hallo Mrs. Evans, Aku baik-baik saja. Yah musim panas kali ini cukup baik. Terima kasih telah mengundangku".
"Never mind, Severus. Aku senang, jika Lily senang. Nah tampaknya ia sudah tidak sabar ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu", ujar Mrs. Evans.
"Yuks masuk Sev. Tunggu sebentar ya, Aku ambil dulu barangnya di kamar".
Lily pun segera kembali dengan membawa suatu barang muggle yang aneh dan belum pernah dilihat Severus.
"Apa itu Lils?", tanya Severus sambil memperhatikan benda yang dibawa Lily. Benda itu berbentuk seperti piring berwarna hitam dan berlubang di bagian tengah.
"Ini namanya piringan hitam, Sev. Benda ini untuk menyimpan film, lalu dengan alat itu, piringan ini diputar, sehingga kita bisa menonton film melalui kotak yang bernama televisi. Ini semacam sihir yang dilakukan muggle. Mereka menyebutnya teknologi", jelas Lily tersenyum.
"Hmm.. sepertinya menarik, walau aku tidak begitu suka barang-barang muggle. Di rumahku sangat sedikit barang muggle, apalagi yang mahal-mahal seperti ini".
"Kau pasti akan sangat tertarik Sev, ayolah kita tonton", ujar Lily sambil memasang piringan hitam ke alat pemutarnya dan menyalakan televisi.
Begitu film dimulai, Severus langsung berseru, "The Adventures of Sherlock Holmes? Lho, ini seperti buku yang kau baca kan Lils?"
"Yupz. Dan film ini berseri. Kita akan menontonnya beberapa kali. Ini film lama, sudah agak susah ditemukan. Aku senang sekali ketika Daddy berhasil mendapatkannya. Nah, sekarang kita diam ya, nikmati filmnya. Dan kau akan menyadari banyaknya kesamaan kau dengan sang detektif", ujar Lily.
Mereka berdua asyik menonton. Begitu film habis, Severus tampak merasa kecewa. Lily tersenyum melihatnya, "Nah Severus, sepertinya kau mulai menyukai Mr. Holmes. Besok kita tonton lagi ya episode selanjutnya".
Mereka pun hampir tiap hari menonton bersama di rumah Lily, mencuri waktu jika Petunia sedang keluar rumah. Setiap selesai menonton, mereka mendiskusikan film tersebut. Ah, kegiatan ini lebih mengasyikkan dibanding hanya membaca buku dalam diam.
"Lils, emm… Kau bilang, Mr. Holmes mirip denganku. Aku masih belum menyadari di mana kemiripan kami. Dia kan muggle, tentu saja berbeda denganku. Namun, aku dan dia sepertinya sama dalam satu hal. Eeer… Ka.. Kami tak berani mengungkapkan isi hati kami pada gadis yang kami sukai", ujar Snape pelan.
"Hmm.. kau harus mengungkapkannya Sev! Kalau tidak gadis itu akan meninggalkanmu dan memilih bersama pria lain".
"Aku tidak bisa. Aku.. aku.."
"Kau kan manusia Sev, bukan robot! Sherlock Holmes juga. Tapi kalian seperti robot! Manusia yang seperti robot, Homo roboticus!"
"Eh apa itu? Aku baru mendengarnya".
"Yah, tentu saja kau baru mendengarnya. Aku kan menyebutnya asal. Yah tidak asal juga sih. Itu kan bahasa latin untuk manusia robot seperti kau dan Holmes".
"Aku penyihir, bukan mesin yang mirip manusia!"
"Iya, tapi kau sangat jarang menggunakan perasaanmu, jadi kau seperti robot yang tidak punya perasaan".
"Aku punya perasaan!"
"Kalau begitu, ungkapkan perasaanmu pada gadis yang kau sukai itu. Kalau tidak, kau kan menyesal seumur hidupmu begitu melihat gadismu itu bersama pria lain".
"Ta.. tapi.."
"Tidak ada kata tapi, Sev. Cinta itu harus dikatakan, jangan hanya dipendam. Bahkan cinta harus diperjuangkan. Mungkin kau menganggap gadis itu tidak tertarik kepadamu, tapi kalau kau mau berjuang untuknya, maka ia akan mulai melirikmu dan juga jatuh cinta kepadamu", jelas Lily.
"Lily, bagaimana kau tahu banyak tentang cinta? Kau kan baru berusia 13 tahun".
"Mum yang sering bilang begitu padaku. 'Tuney dan Lily, Mum akan mengizinkan kalian menikah dengan pria manapun, asal pria itu sangat mencintai kalian dan mau berjuang untuk kalian. Cinta harus diperjuangkan!' ", ujar Lily seraya menirukan suara ibunya.
"Hmm.. baiklah, akan kucoba. Walau sepertinya itu sangat susah. Jauh lebih susah dari OWL maupun NEWT!', ujar Severus Snape.
Namun, sampai bertahun-tahun kemudian, Severus Snape tidak pernah mengungkapkan cintanya kepada Lily Evans. Sampai akhirnya hubungan mereka memburuk karena kesalahan Snape. Persahabatan mereka terputus, dan Lily menikah dengan James Potter -saingan dan musuh besar Snape.-.
Lily dan James dulunya tidak akur, James sering mengganggu Severus, jika ia sednag bersama Lily. Lily pun membenci James. Namun, James selalu berjuang untuk mendapatkan cinta Lily. Sampai akhirnya Lily mau menerima pria itu dan bersedia menikah dengannya.
Di hari pernikahan Lily, Severus Snape hanya termenung sendirian di kamarnya. Berusaha menahan tangis. Ia tidak boleh menangis! Namun rasa sakit begitu menyesak di dadanya. Snape berbaring di tempat tidurnya sambil berusaha memejamkan mata.
Tak lama, ada suara ketukan di jendela kamarnya. Seekor burung hantu berwarna putih seperti bunga Lily, sesuai dengan sang pemilik, mengetuk jendelanya.
"Holmes, burung hantu milik Lily? Lily mengirimkanku surat?", ujar Severus keheranan.
Ia pun membuka jendelanya, lalu mengambil suratnya, sang burung hantu segera melesat terbang.
Sehelai perkamen beraroma bunga Lily, ia buka dengan rasa sakit yang semakin menyesakkan dada, air mata tak tahan lagi ia simpan. Sejumput kalimat tertera di surat itu:
"Kini kau menyesal bukan, Homo roboticus?"
- Tamat-

Wednesday, 30 January 2013

Realita Kelabu (Dark Realities)

Link asli ada di sini 
 
Realita Kelabu
 
Summary : Ehem.. Fic yang terlambat untuk SNAPE DAY. Perasaan seorang Severus Snape pada detik - detik kematiannya kepada Harry Potter selama ini di balik ekspresi wajahnya yang terkesan datar. Mind to RnR?
Warning : First fan poem, typo (maybe), Severus Snape POV
Disclaimer : Harry Potter termasuk Severus Snape adalah milik JK Rowling!



Harry, berbanggalah..
Rasakanlah bulir - bulir kebahagiaan
Kau diantara mereka
Yang selalu menyayangimu, para sahabat
Harry, apa kau bisa melihatnya?
Dunia ini kejam..
Dunia ini penuh ketidak keadilan..
Kenapa kau yang harus menjadi bidikannya..
Adakah penyihir di seantero bimasakti ini yang dapat menjelaskan, kenapa?
Harry, apa kau bisa menangkap secuil lantunan kata - kataku?
Kala kegelapan yang tengah berkerumun
Dia berseru mengundangku untuk bertemu
Aku hadir, dan dia berucap sesuatu
Strategi dan kemungkinan - kemungkinan semu
Aku dipercaya untuk membunuh..
Aku akan melakukan apa yang ia perintahkan
Apa kau tahu mengapa?
Karena aku rela
Karena setiap kita bertemu
Setiap mata kita beradu
Kau membuatku,..
.
.
Dapat kembali memandang mata itu
Mata ibumu..
Di tempat bertabur debu,..
Setelah aku melancarkan kutukan "Avada Kedavra" kepada profesor itu..
Kau merubah cara pandangmu terhadapku
Kau mencoba tuk berlari, mengejarku
Namun kau gagal, kau tak mampu
Dan satu hal yang pasti, kau makin membenciku
Harry,.. Tolong mengertilah..
Ini adalah rencananya,..
Aku seorang agen ganda
Agar dia tak mendapatkan apa yang ia inginkan,..
Yaitu kau, Harry
Sayangnya kau tak paham..
Dan belum saatnya bagimu untuk mengerti ini semua..
Harry, aku mohon bersabarlah..
Saat api peperangan mulai membara
Kau mencoba masuk ke dalam fikirannya
Dan kau temukan dimana dia berada
Yang nyatanya sedang bersamaku jua
Harry,.. Ternyata dia sadar
Ternyata dia tak sebodoh yang ku kira
Ia mengetahuinya
Tentang tongkat elder adalah milik penyihir yang membunuh pemilik terakhirnya
Ia mengira akulah pemiliknya..
Dia harus menghabisi nyawa yang ku punya
Nyatanya Draco-lah, pemilik elder itu sebenarnya
Harry,.. Segelintir air ini ambil-lah!
Ini bukan tetesan air mata
Ini yang akan menunjukkan padamu tentang kebenaran
Apa sekarang kau mengerti?
Mengapa aku melakukan ini?
Semua demi orang yang ku cintai
Sekarang kamu tahu semuanya, Harry..
Maafkan aku..
Ingatlah selalu..
Akulah si Abu-Abu

A/N :
Huwaa... Bagaimana? saudara-saudara sekalian.. Apakah corat coret yang terpampang di layar anda saat ini termasuk kategori poetry? Gaje kah? Jika iya, gomen.. '-' ini pertama kalinya Rea nulis poetry.. Silahkan review kritik/saran/komen ditunggu..

Monday, 16 January 2012

Cinta Itu by Selena de'Lune

Cinta Itu by Selena de'Lune Link asli di sini
Cinta Itu...
Cinta itu, saat pertama aku melihat kilauan rambut kemerahanmu

Cinta itu, ketika aku mendengar merdunya tawamu

Cinta itu, rahasia yang kita bagi bersama

Cinta itu, ketika aku terpisah asrama darimu

Cinta itu haru saat kudengar pembelaanmu atasku

Cinta itu rasa bersalah saat kata 'itu' terselip di bibirku

Cinta itu malu, ketika kau menjauh

Cinta itu, ketika kurelakan kau 'tuk orang lain

Cinta itu, ketika aku melihatmu tertawa walau bukan aku di sampingmu

Cinta itu, senyum melihat kau bahagia

Cinta itu rela diri hancur saat kau tiada

Cinta itu ketika aku gantikanmu menjaga 'dia'

Hingga ketika nanti kujumpamu lagi

Aku

Kau

Kembali ke hari saat kita pertama berjumpa

Cinta itu...

Yang selalu mencintaimu

16 Jan 2012 Jakarta

Dibuat untuk merayakan Snape Day.

Tuesday, 12 January 2010

Dalam Kesendirian by Shireishou

Link asli ada di: http://www.fanfiction.net/s/5658370/1/Dalam_Kesendirian

DALAM KESENDIRIAN

Base : Merantau Movie (SPOILER ALERT)
POV (Point Of View): POV 3
Central Character : Severus Snape (Alan Rickman)
Time Line : Buku ke 6

Sesosok pria paruh baya tengah menumpuk buku-buku yang ada di perpustakaan yang temaram dan sepi. Ia berada di lorong bagian potion book yang jarang terjamah dan agak berantakan. Jam besar di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi ia masih berdiri di sana. Dipilah-pilahnya buku yang ada di hadapannya dengan cepat. Memisahkan antara buku-buku yang sekiranya masih dibutuhkan atau yang akan dibuang. Buku-buku itu adalah koleksi miliknya yang tadi dipindahkannya dari ruangan pribadinya ke tempat ini.

Rambut hitam lurus berminyaknya sesekali melambai seiring gerak kepala yang meneliti buku-buku itu satu demi satu. Mata hitamnya menelusuri judul demi judul yang tertera. Ia tiba di buku terakhir yang harus diperiksanya. Tiba-tiba gerakannya terhenti.

Little Kitten by ambudaff

Link asli ada di: http://www.fanfiction.net/s/5657767/1/Little_Kitten


LITTLE KITTEN

Harry Potter punya JK Rowling

Anak kucingnya punya Ambu

Timeline sekitar tahun pertama masa sekolah Severus Snape

-o0o-




Malam semakin dingin, semakin pekat, semakin sunyi. Dengan langkah-langkah tak bersuara Madam Pomfrey keluar dari Hospital Wing. Ditutupnya pintu.

Ia menghela napas lega. Tadi pagi terjadi insiden yang menyebabkan rumah sakit penuh. Untungnya tak ada dari anak-anak itu yang harus bermalam di rumah sakit. Insiden biasa, pertengkaran antara anak-anak dari asrama yang berlainan. Kali ini Gryffindor dan Slytherin. Atau tepatnya, seorang Slytherin dikeroyok oleh beberapa anak Gryffindor.

Madam Pomfrey menyelesaikan mengunci pintu. Kalau malam ini ada sesuatu terjadi pada anak-anak, misalnya ada yang haus dan dalam kantuk meminum sesuatu yang salah, ia bisa dicari saja di kamarnya. Sekarang ia mengantuk.

Masih dalam langkah-langkah tak bersuara ia berjalan meninggalkan rumah sakit menuju kamarnya. Tak jauh dari situ.

Tapi ia mendadak berhenti.

It's About Him Live by Natalina

Link asli ada di: http://www.harrypotterindonesia.com/index.php?topic=7011.msg146390#msg146390

It’s About Him Life


Harry Potter kepunyaan JK Rowling
Genre: drama
Rating: K




Prang!!
Pecahan cangkir melayang ke ujung ruangan. Ruangan yang tertata rapi, dimana sebagian besar interiornya menunjukkan kepribadian sang empunya ruangan. Seorang Kepala Sekolah di sekolah Hogwarts. Pigura-pigura dimana tergambar sosok para kepala sekolah Hogwarts sebelumnya terpasang mengitari sisi-sisi dinding. Sesosok pria berwajah pucat dan tirus, dengan rambut berbelah tengah dan tampak lepek berdiri di tengah ruangan. Jubah panjang tergerai dari bahunya. Salah satu tangannya tampak mengucurkan darah, sementara tangan kirinya memegang meja –satu-satunya meja didalam ruangan tersebut—dengan kuat. Tangannya menggenggam erat pecahan cangkir yang pecah. Tak dipedulikannya darah yang semakin lama semakin banyak mengucur dari luka yang ia derita.

Bagaimana mungkin seorang Severus Snape tampak lemah? Ia tidak mungkin berbelas kasihan kepada orang lain. Terlebih apabila orang lain tersebut adalah seorang Potter! Seseorang yang seumur hidup Snape tak akan pernah bisa ia maafkan, bagaimanapun upaya yang diberikan oleh Potter –anak ataupun ayahnya-- untuk meminta maaf kepada dirinya. Musuh abadi Snape.

Monday, 11 January 2010

Tuney's Secret by Zen Xiao-Fang

Link asli ada di: http://www.fanfiction.net/s/5651669/1/Tuneys_Secret


A/N: This story may include things you can’t really accept *gaya, padahal cuma Severitus bukan slash* *ditampol*. GAK SUKA GAK USAH BACA. Okeee??

For Snape’s Day! Sev, met ulang tahun emas! Yaaay!


--------------------------------------------------------------------------------


.

Tuney’s Secret

.

Harry Potter © J. K. Rowling

Warning: Severitus, OOC

Petunia (Evans) Dursley’s pov.

.

--xXx--

.

I had rather be a toad, and live upon the vapor of a dungeon

than keep a corner in the thing I love for others uses.

(William Shakespeare)

.



1991

”Aku pernah mimpi tentang motor. Motornya terbang.”

“MOTOR TIDAK TERBANG!” kudengar suara Vernon Dursley, suamiku, membahana dalam mobil kecil itu.

“Aku tahu motor tidak terbang. Itu kan cuma mimpi,” kudengar pula Harry Potter menjawab pasrah dari kursi belakang.

Aku mendengus.

Laju mobil membuat tubuh kami semua berguncang-guncang pelan. Kami sedang menuju ke kebun binatang. Hari itu ulang tahun Dudley yang ke sebelas—anakku satu-satunya, yang amat sangat kusayangi, meskipun aku menyadari mungkin kami melakukan kekeliruan besar dalam merawatnya—yah, lupakan itu. Yang jelas, hari ini aku sedang berada semobil dengan Harry, sesuatu yang amat sangat jarang terjadi.

Ya, Harry Potter yang itu, anak adikku, yang sama anehnya dengannya...

Veritaserum: Ramuan Kejujuran(?) by Hulk-mione Granger

Link asli: http://www.harrypotterindonesia.com/index.php/topic,7011.msg146335.html#msg146335

Judul : Veritaserum: Ramuan Kejujuran(?)
Genre: RomCom
Rating: Umum
Setting: Tahun kelima Harry dkk
Disclaimer: Belong to JK Rowling

NB: Fanfic di bawah ini adalah fanfic teraneh, jadi kayak bukan gw yang buatnya.. wakaka..

Ok, dah silakan dinikmati.


--------------------------------------------------------------------------------



Veritaserum: Ramuan Kejujuran (?)




Perkenalkan namaku Snape, Severus Snape. Ah, tapi kuyakin semua sudah mengenalku. Siapa yang tak kenal dengan guru ramuan terseksi yang pernah ada di Hogwarts? Jujur saja, sebenarnya aku pun tak menyangka akan se-terkenal ini setelah mengajar di sekolah sihir itu. Makanya tak usah heran juga kalau banyak yang merasa iri padaku dan membenciku, padahal aku tak pernah sekalipun menyiksa mereka. Ng, tapi menyiksa batin mereka mungkin sering. Contohnya saja, si kecil Potter itu yang sering menjadi korban siksaan batinku. Entah kenapa kami sangat tidak akur. Dia sangat membenciku dari pertama kali kita bertemu. Apa dia iri melihat rambutku yang rapi ini ya? Tak usah diragukan lagi sih, ramuan untuk rambut hasil buatanku ini memang bisa membuat rambut lepek menjadi berminyak rapi a la agen-agen ganda di dunia muggle.

Oh iya, aku belum menceritakan bahwa aku itu seorang agen ganda juga ya? Ini semua gara-gara Dumbledore, gaji untuk mengajar di Hogwarts kecil sekali. Jadilah selain mengajar di Hogwarts, sekalian saja aku berjualan ramuan rambut buatanku ini yang kuberi nama ‘Snap-poo’ atau singkatan dari ‘Snape Shampoo’. Hasilnya lumayan lha, sudah ada pelanggan tetap, seperti murid kesayanganku Draco Malfoy. Lihat saja, rambutnya bisa rapi diklimis ke belakang gara-gara memakai ramuanku, pastinya.