Showing posts with label Genre Family. Show all posts
Showing posts with label Genre Family. Show all posts

Saturday, 8 February 2014

Kalimaya (ambudaff)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


KALIMAYA
Severus Snape dan Harry Potter adalah kepunyaan JK Rowling
AU, Rate T, friendship/family
Linimasa dimulai dari bab terakhir sebelum epilog buku 7
Untuk Snape Day
-o0o-
Berjalan bertiga keluar dari kantor kepala sekolah, Harry tiba-tiba terhenti.
"Ada sesuatu yang kulupa!"
Hermione dan Ron saling berpandangan.
"Snape. Ia masih ada di Shrieking Shack—"
"Tapi dia sudah mati, Harry. Biarkan saja seseorang mengambilnya nanti, sekarang kau harus beristirahat dulu—" Ron mencoba menyela.
Harry menggeleng, dan berbalik arah, "Kalian istirahatlah, aku akan melihatnya dulu—"
Tapi Hermione sudah keburu menarik tangan Ron, menyusul langkah Harry, "Sebaiknya kita bertiga melihatnya lagi. Ada sesuatu yang kucurigai—"
"Mencurigai apa?" Harry menghentikan langkahnya.
Hermione menggeleng, dan menarik juga lengan Harry pergi. Ketiga bergegas menuju Dedalu Perkasa, yang otomatis bergerak-gerak marah begitu melihat mereka bertiga datang.
Harry menunjuk satu titik di daerah akar dengan tongkatnya, tanpa mengucap mantra keras-keras. Gerakan dahan-dahan Dedalu Perkasa terhenti, dan ketiganya mendekati lubang di tanah. Tak membuang waktu, ketiganya masuk. Sambil menunduk-nunduk menghindari langit-langit terowongan yang rendah, ketiganya sampai ke Shrieking Shack.
—kecurigaan Hermione sepertinya benar!
Posisi tubuhnya berbeda dari saat tadi ditinggalkan. Hermione menyimpulkan setelah melihat jejak darah. Seperti yang mencoba bangun tapi tak kuasa.
Hermione meletakkan jari telunjuk dan jari tengahnya di leher Snape, mencoba mencari denyut pembuluh darah.
Ada.
Terdeteksi, walau sangat-sangat-sangat lemah!
"Harry," sahutnya tertahan, "—ia memang masih hidup. Sepertinya, sepertinya ia memakai Stopper of Death, atau semacamnya—"
Setengah tak percaya, Harry mendekati tubuh Snape, mengamati, dan bergegas mengambil keputusan, "Kita bawa pada Madam Pomfrey!"
-o0o-
Harry membawa tubuh Snape ke Hospital Wing dan segera memberitahu Madam Pomfrey. Madam Pomfrey segera mengambil tindakan. Ia tahu tata laksana yang harus dikenakan pada pengguna Stopper of Death. Ada satu kendala sebenarnya, yaitu ia tak tahu bisa ular apa yang digunakan pada Snape, dan bagaimana mengobatinya!
Untung Hermione ingat bahwa Arthur Weasley dulu juga pernah digigit ular yang—dicurigai Nagini—sama ! Mereka memberitahu Madam Pomfrey, dan Madam Pomfrey bergegas menghubungi St Mungo untuk mencari Hippocrates Smethwyck, Healer yang dahulu mengobati Arthur.
Smethwyck tak butuh waktu lama untuk meramu obatnya. Dalam waktu dua minggu, berangsur-angsur fungsi segala organ tubuh Snape mulai beranjak normal. Tinggal menunggu waktu saja untuk siuman.
Hermione dan Ron memang kadang turut menunggui, tapi Harry-lah yang terus menerus menunggui. Harap-harap cemas, semoga tak terjadi sesuatu yang tak diharapkan.
-o0o-
Mata hitam itu membuka. Perlahan. Mengerjap-ngerjap. Mencoba fokus ke satu arah. Memperlihatkan tanda-tanda kesadaran.
"Sir—" Harry bergegas menghampiri.
Snape mencoba bangun, berusaha untuk duduk. Harry membantunya dengan canggung, kalau-kalau ia tak sudi dibantu.
Menghela napas dengan susah payah, mulutnya mencoba mengeluarkan suara, "—sudah selesai?"
Harry mengangguk, "Kita menang, Sir—" ia menekankan pada 'kita', menekankan bahwa mereka berada pada pihak yang sama. Tanpa bicara lebih banyak lagi, ia menuangkan air putih dari kendi pada sebuah piala, dan memberikannya.
Snape menerimanya tanpa protes. Mencoba meminumnya, walau dengan gerakan terpatah-patah. Tak ada suara lagi. Hening.
Merasa tak tahu harus berbuat apa lagi, Harry akhirnya berkata, "Saya panggilkan Madam Pomfrey dulu, Sir—"
Snape mengangguk pelan. Herannya, tak berbicara banyak, tak protes.
Tak melepaskan pandangan dari Snape, Harry berjalan menuju kantor Madam Pomfrey. Memberitahunya kalau Snape sudah siuman.
Madam Pomfrey bergegas menuju Snape. Harry sudah akan mengikuti, ketika Hermione dan Ron muncul.
"Dia sudah sadar?" tanya Ron.
Harry mengangguk.
"Ada apa, Harry?" Hermione ternyata melihat kecemasan di raut wajah Harry.
"Aku tak tahu. Sikapnya seperti—seperti berbeda. Tapi kita lihat saja dulu, mungkin saja ini karena beliau baru saja siuman."
Mata Harry terus menatap arah Snape saat berucap itu. Ia terus memperhatikan, walau ia tak bisa mendengarkan suara mereka dari kejauhan. Madam Pomfrey nampak sedang nyerocos tentang sesuatu, sementara Snape hanya mengangguk atau menggeleng, dan sesekali berucap sepatah-dua patah kata.
Mudah-mudahan kecemasannya tak terbukti.
-o0o-
Mulanya Harry agak segan juga untuk kembali menjenguk Snape. Teringat tiap saat di masa lalu, ucapan-ucapan Snape padanya—
Tapi ia punya utang yang harus ditunaikan.
Maka pagi-pagi, sehabis maju-mundur beberapa kali, ia beranikan diri juga untuk menjenguk.
Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ia dan Snape. Saja.
Harry mengetuk kusen pintu yang tak ditutup, sekedar untuk memberitahu bahwa ia ada di situ.
Snape mengangkat wajah, dan berucap singkat, pelan, "Masuklah."
Harry masuk—ragu—tapi terus masuk. Ia mengeluarkan tabung berisi memori Snape yang selama ini dibawanya.
"Kepunyaan Anda," sahutnya sambil mengangsurkan tabung itu, "—dan saya—saya juga minta maaf—"
Raut wajah Snape seakan bertanya.
"—atas semuanya. Terutama karena menyebut Anda—pengecut—"
Snape menarik napas panjang. Diangsurkannya kembali tabung itu pada Harry. "Simpanlah. Dan tak ada yang perlu dimaafkan—"
"Sir—"
Snape mengangguk meyakinkan.
Harry memberanikan diri menatap mata Snape, dan ia kini yakin sudah.
Snape kini bukan Snape yang dulu lagi.
Ke mana mata hitam yang tegas dan tajam menusuk tiap mata yang berani menatapnya? Mengapa sekarang seolah kedua mata itu hampa? Kosong?
Kedatangan Madam Pomfrey menjadi penyelamat atas keheningan yang terjadi. Memeriksa keseluruhan, memberikan pernyataan, menanyakan sesuatu, plus sedikit-sedikit mengomel karena perintahnya tidak dituruti.
Harry—mundur beberapa langkah memberikan tempat bagi Madam Pomfrey—jadi leluasa mengamati.
Seperti—yang sudah tak punya gairah hidup lagi. Seperti yang kecewa karena hidup kembali.
Snape kini bukan Snape yang dulu lagi.
-o0o-
Guru-guru bergantian menjenguk. Beberapa siswa juga menjenguk, terutama setelah mendengar dari Harry bahwa Snape sekarang tak seperti dulu lagi. Hermione dan Ron—walau Ron harus ditarik-tarik dulu—Neville, Ginny dan Luna. Draco.
Walau singkat, Snape mendengar juga cerita tentang Neville menebas Nagini, dan mengucapkan terimakasih padanya. Wajah Neville berubah menjadi ungu mendengarnya. Snape mengucapkan terimakasih padanya?
Raut wajah Snape mengeras mendengar nama-nama yang gugur. Fred Weasley. Remus Lupin. Nymphadora Tonks.
Dan ia terdiam mendengar permintaan Profesor McGonagall untuk kembali mengajar di Hogwarts. Perlahan ia menggeleng. Walau Profesor McGonagall memintanya agar tak usah menjawab buru-buru, pikirkanlah dulu baik-baik, tapi ia tetap menggeleng.
Harry cemas.
Ada sesuatu yang hilang. Ia benar-benar bukan Snape yang dulu.
-o0o-
Kini Harry selalu menyempatkan diri menjenguk Snape, walau hanya sebentar. Kadang bahkan ia hanya melihat dari luar—saat ada guru lain yang sedang menjenguk—kadang juga hanya melihat dari pintu—saat Snape sedang tertidur.
Kali ini sepertinya Snape sedang tercenung pada sesuatu. Benda kecil di telapak tangannya, berkilat. Mungkin perhiasan? Cincin kah?
Harry tak berani maju lebih jauh lagi untuk memastikan, ia takut mengganggu. Dan sepertinya juga Snape sedang memusatkan perhatian pada benda itu.
Tapi terlambat. Snape sudah keburu tahu ia ada di sini. Dan memberi isyarat untuk masuk.
Ragu Harry melangkah masuk.
"Madam Pomfrey mengatakan, dalam satu-dua hari ini Anda sudah bisa keluar—" sahutnya. Pelan, takut salah mengatakan sesuatu.
Tapi Snape seperti tak mempedulikan. Ia masih menatap benda di tangannya—benar cincin ternyata. Kecil, putih. Cincin siapakah itu?
Seolah mendengar pertanyaan Harry, Snape mengangkat wajahnya. "Seharusnya Lily mengenakan ini—" sahutnya lirih.
Harry terperangah.
Sebegitu dalamnya kah rasa itu?
Tapi ia tak sempat mengatakan apa yang ada dalam hatinya, pun Snape tak sempat berkata lebih jauh lagi, karena Madam Pomfrey masuk, dan memulai pemeriksaan seperti biasa. Pertanyaan-pertanyaan. Pernyataan-pernyataan. Juga pernyataan bahwa Snape bisa keluar besok atau lusa, tergantung hasil pemeriksaan besok.
Harry kembali cemas.
-o0o-
Kecemasannya terbukti.
Pagi-pagi ia mengunjungi Hospital Wing, yang ada hanya Madam Pomfrey dan Profesor McGonagall. Dan selembar kertas bertuliskan namanya, plus sebuah cincin.
Cincin yang kemarin.
Surat pendek itu hanya berisi sebuah kalimat: 'Tidak usah mencariku.'
Harry memandang Madam Pomfrey dan Profesor McGonagall bergantian, berharap bisa menemukan jawaban, tapi sia-sia. Mereka juga tak tahu, ke mana gerangan Snape. Lebih parahnya lagi, tongkat sihirnya bahkan tak dibawa.
Sebegitu parahnya kah Snape berubah?
Harry menatap cincin di tangannya. Kecil, khas cincin untuk wanita. Bentuknya seperti seekor ular melingkar. Di tempat kepala dan ekor bertautan, ada sebuah batu permata kecil. Warnanya macam-macam, dan tak tetap. Kadang biru, kadang ungu, merahpun kadang terlintas.
-o0o-
"Opal," sahut Hermione segera, begitu melihat cincin di tangan Harry. "Permatanya batuan Opal. Jenis yang ini agak jarang dilihat—coba kucari dulu—" dan ia sudah melesat ke perpustakaan.
Harry dan Ron masih termenung-menung memikirkan kalimat Hermione, ketika ia datang dari perpustakaan dengan sebuah buku kecil, tapi halaman-halamannya penuh dengan gambar berwarna-warni.
"Sudah kuduga," sahutnya berseri-seri, "ini bukan sembarang batu permata. Opal, jenis Kalimaya, tepatnya Kalimaya sihir—"
"Kali—apa?"
"Kalimaya. Batuan yang dihasilkan pertambangan permata di Kalimantan, Indonesia—"
"Indonesia?" Ron masih belum menangkap di mana daerah itu.
"Asia. Asia Tenggara—"
"Dan—sihir apa gerangan yang ada dalam batu ini?"
Hermione menggeleng. "Aku tak tahu. Malah, mungkin saja tak mengandung sihir. Mungkin saja Snape hanya tertarik pada keindahan batunya saja—"
Harry tak menjawab, dan memasukkan kembali cincinnya ke dalam saku. Ron dan Hermione saling berpandangan.
-o0o-
Hogwarts masih libur. Masih direnovasi setelah Perang Besar. Guru-guru plus murid-murid bahu membahu membangun kembali, dengan sihir maupun tidak. Jangan ditanya lagi bantuan para peri rumah dan hantu-hantu.
Begitu ada waktu luang, Hermione mengajak rekan-rekannya ke Diagon Alley.
"Memangnya sudah ada daftar buku yang harus dibeli?" Ron bertanya tak mengerti. Mereka memang sudah bersepakat untuk mengulang lagi tahun ketujuh—yang sebenarnya tak pernah mereka ikuti. Tapi Hermione tak menjawab. Terus melangkah dengan kecepatan tinggi. Terpaksa kedua rekannya mengikuti.
Di sebuah belokan, ada sebuah toko kecil ternyata. Kecil tak menarik pandangan, apalagi letaknya pas di lekukan. Tanpa papan nama, tanpa jendela etalase.
Hermione mengajak masuk.
Di dalam baru terlihat sejajaran etalase. Toko perhiasan ternyata, atau sejenisnya, karena yang terpampang di etalase adalah berbagai batuan permata dalam segala bentuk. Cincin, kalung, pasangan anting, sampai permata dalam ukuran besar.
Tak ada yang menjaga!
Hermione menekan bel di etalase. Tak terdengar apapun, tapi tak berapa lama muncullah seorang penyihir. Wajahnya Eropa tapi matanya agak-agak sipit.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dingin.
Hermione menoleh pada Harry, yang otomatis mengeluarkan cincin dari sakunya.
"Bisakah menentukan apakah ini mengandung sihir atau tidak?" tanya Harry, ragu.
Tanpa banyak bicara, penyihir itu mengambil cincin dari tangan Harry. Diamatinya sejenak, dan raut wajahnya langsung berubah, siaga.
"Dari mana kalian mendapat ini?" sergahnya curiga.
"Seseorang memberikannya padaku—" belum Harry menjawab sepenuhnya, orang itu langsung memotong—
"Severus tak akan memberikannya begitu saja pada orang lain—"
Bertiga saling berpandangan. Jadi, Snape medapatkan cincin itu dari sini!
Harry menghela napas. "Justru itu. Profesor Snape memberikannya padaku, dan ia pergi entah ke mana—"
Lama penyihir itu menatap tajam Harry, yang kini balas menatap. Akhirnya luluh, dan ia berbicara lirih, nyaris berbisik, "Ikut denganku—"
Ia masuk ke ruangan dalam. Harry, Hermione, dan Ron mengikuti, penasaran.
Setelah masuk ke ruangan dalam, penyihir itu kemudian menuju sudut. Ada pegangan tingkap di sana. Dibukanya.
Sepertinya ada tangga, jalan masuk ke ruangan di bawah tanah. Dengan isyarat, ia menyuruh Harry, Hermione dan Ron mengikutinya masuk.
"Kalian panggil saja aku Chin—ya, aku setengah Cina. Ibuku dari Taiwan. Tapi aku lebih mirip ayahku, kata orang—"
Mereka menuruni tangga, mengikuti koridor sempit dan gelap, sampai ke ruangan besar. Chin menekan saklar, dan ruangan menjadi terang.
Sebuah meja besar tanpa kursi di tengah-tengah ruangan. Beberapa lemari di sisi. Chin membuka salah satu lemari, yang terisi gulungan-gulungan, besar dan kecil.
Chin memilih satu, lalu meletakkannya di atas meja, menggelarnya. Peta ternyata, tepatnya peta Inggris Raya.
Kemudian diletakkannya cincin itu tepat di tengah.
Tak ada yang terjadi.
Chin menggeleng. "Kalimaya sihir bisa menunjukkan pada kita, berada di mana si pemilik kini." Diambilnya cincin, diserahkannya pada Harry, sementara ia menggulung peta Inggris itu, meletakkannya lagi di lemari. Memilih gulungan lain lagi. Menggelarnya di atas meja.
Kali ini peta Eropa.
Harry kemudian meniru gerakan Chin tadi, menyimpan cincin di tengah peta.
Masih tak ada gerakan.
Menghela napas, Chin kembali menggulung peta. Kali ini mengambil peta dunia, menggelarnya di meja.
Begitu Harry meletakkan cincin di atas peta, cincin langsung bergulir ke satu tempat. Warnanya berubah, menjadi biru muda berpendar-pendar.
Empat pasang mata langsung menyeksamai tempat cincin itu bergulir.
"Cina?" Hermione keheranan.
"Untuk apa dia ke Cina?" Ron tak habis pikir.
"Mungkinkah mencari ramuan?" Harry menebak-nebak.
"Bukan," Chin menggeleng. Tiga pasang mata kini memandangnya. "Ini provinsi Henan," sahutnya menunjuk, "dan di sana ada sebuah kuil besar yang namanya terdengar di seluruh dunia—Shaolin—"
"Shaolin?" tiga pasang mata menatap blasteran Cina-Inggris itu penuh tanya.
Chin mengangguk. "Dan warnanya berubah menjadi biru muda. Menandakan suasana hati si pemilik: dia dalam keadaan damai."
Ketiga pasang mata sekarang saling berpandangan.
-o0o-
Harry bersyukur Chin mau menemani dalam perjalanannya. Begitu mendengar nama daerah yang entah di mana lokasinya, ada dorongan kuat untuk segera ke sana. Tapi Cina itu jauh, dan sampai sekarang hanya penyihir-penyihir tertentu yang bisa melakukan Apparate/Dissaparate antar benua. Selebihnya biasanya menggunakan transportasi Muggle untuk sebagian besar perjalanannya.
Maka paspor harus diurus, visa harus diminta, tiket pesawat dipesan, kebiasaan-kebiasaan lokal dihapalkan. Dan Chin benar-benar membantu. Karena sebagai pedagang batu permata yang harus berhubungan dengan penyihir maupun Muggle, harus bepergian ke berbagai tempat di berbagai penjuru dunia, segala tetek bengek itu sudah biasa diurusnya.
Chin menghentikan langkahnya. Harry mengikuti.
Sudah sampai di provinsi Henan. Dan sudah ada di depan gerbang perguruan Shaolin.
Perguruan Shaolin sedikit banyak berkembang mengikuti jaman. Sebagian lokasinya terbuka untuk turis. Ada jadwal pertunjukkannya. Turis bisa melihat-lihat berbagai tempat di dalamnya, bisa melihat murid-murid sedang berlatih pernapasan maupun jurus-jurus kungfu. Ada juga toko suvenir.
Tapi Chin tidak mengajak Harry masuk ke bagian itu.
Ia malah mengisyaratkan agar Harry mengikutinya, ke jalan kecil di sisi Perguruan. Semakin jauh, jalannya semakin kecil dan sepi. Jauh dari keramaian turis-turis di depan.
"Kalau kau terus, kita akan sampai ke hutan Pagoda. Di sana juga biasanya banyak turis, walau jalannya tidak mengambil jalan kita ini," sahut Chin sambil menunjukkan tempatnya. "Tapi kita tidak akan ke sana."
Chin berbelok.
Ternyata dari jalan setapak itu ada beberapa pintu samping untuk masuk ke Perguruan. Salah satu pintu samping itu ada di depan mereka sekarang. Kecil, dan tertutup.
Chin mengetuk pintu dengan irama tertentu.
Terdengar suara bertanya dengan bahasa yang tidak dimengerti Harry. Chin menjawab dengan bahasa serupa.
Pintu terbuka.
Chin dan Harry masuk. Ada beberapa biksu di sana, sebagian dengan jubah abu sebagian dengan jubah jingga. Kepala mereka gundul semuanya.
Seorang biksu berjubah abu yang membukakan pintu, lalu menyilakan Chin dan Harry masuk dan menunjukkan satu arah, sambil mengucapkan kalimat-kalimat.
"Menurut sahabatku ini, biksu-biksu yang baru masuk sekarang sedang berlatih di halaman aula selatan. Aulanya kecil. Dan ia menunjukkan jalannya—" terjemah Chin.
Harry mengangguk berterimakasih pada biksu itu. Biksu itu meletakkan telapak tangan kanannya serupa posisi sembah di dada dengan posisi vertikal, lalu menundukkan kepala seanggukan. Harry mengartikan bahwa biksu itu membalas ucapan terimakasihnya.
Chin dan Harry menelusuri jalan kecil, kemudian berbelok menyusuri koridor. Ada sebuah genta raksasa di sebuah bangunan kecil terbuka. Setelah itu barulah sebuah bangunan yang mungkin disebut aula.
Halamannya cukup luas. Dan ada beberapa belas biksu berjubah abu-abu sedang berlatih pernapasan di sana.
Mulanya Harry mencari seseorang dengan rambut hitam membingkai, ketika disadarinya bahwa semua biksu di situ berkepala gundul. Jadi, ia mencari biksu yang berperawakan cukup tinggi dengan kulit lebih pucat.
Ada satu yang jangkung di belakang barisan. Sedang khidmat mengikuti gerakan demi gerakan, perlahan seirama rekannya yang lain. Harry mudah mengenalinya kini: hidungnya yang bengkok. Agak aneh melihatnya tanpa rambut hitamnya—
Harry dan Chin menunggu hingga mereka selesai, baru mendekat untuk menyapa.
"Profesor Snape—"
Tapi biksu jangkung berkulit pucat itu hanya melipat tangan kanannya di dada dalam posisi sembah serupa biksu yang tadi membukakan pintu, sambil menundukkan kepala. Ia juga mengucapkan serangkaian kalimat yang aneh.
Mungkin saja itu bahasa Cina seperti biksu-biksu lainnya, akan tetapi karena si penutur bukan penutur bahasa Cina asli, kalimatnya jadi terdengar aneh.
"Ia berkata, tidak ada yang namanya Profesor Snape di sini," terjemah Chin.
Selagi Chin berucap, biksu 'Snape' itu malahan sudah pergi.
"Tetapi, dia memang Profesor Snape kan?" Harry penasaran.
Chin mengangguk. "Jangan lupa, jika seseorang masuk menjadi biksu di sini, ia menjadi individu yang lain."
"Jadi, bagaimana sekarang?" Harry kebingungan.
"Panggil saja dia saudara Mù," sebuah suara di belakang mereka, berat dan berwibawa.
Mendadak semua biksu yang masih berada di sekitaran mereka, melipat tangan kanan di dada serupa posisi sembah dan menundukkan kepala. Bahkan Chin-pun memperlihatkan sikap hormat pada orang yang baru datang itu.
"Dia Shi Yongxin, mahaguru di sini, Kepala Shaolin angkatan sekarang," Chin berbisik tergesa.
Kikuk, Harry menunduk hormat juga seperti yang lain.
"Tak usah sungkan," Mahaguru tersenyum melihat kekikukkan Harry. "Dia memang biksu baru di sini. Namanya Shi Yongmù. Shi adalah nama untuk semua biksu di sini. Kami semua saudara, dan punya nama keluarga yang sama."
"Yong adalah nama angkatan. Semua dengan nama tengah Yong, adalah saudara seangkatan. Dan Mù adalah namanya."
Pantas ia menjadi Mahaguru, bahasa Inggrisnya fasih!
"Mù berarti damai," Mahaguru meneruskan. "Pertama kali ia datang ke mari, aura damai-nya menarik perhatianku. Dan, sepertinya memang ia menemukan kedamaian di sini. Mempelajari ajaran-ajaran kami, mengikuti latihan Chi. Sepertinya ia juga berbakat dalam meramu. Di masa datang mungkin aku akan menempatkannya di bagian Ramuan. Sekarang, biarlah ia mempelajari semua bagian dahulu."
Harry mengangguk maklum. "Boleh—bolehkah kami menemuinya?"
"Sebagai Shi Yongmù, boleh."
Harry memandang Chin. Chin mengangguk.
"Terimakasih, Mahaguru!" Harry menunduk memberi hormat. Mahaguru tersenyum, dan berjalan kembali menuju tujuannya tadi.
Seorang biksu kemudian memberi tahu agar Harry dan Chin menunggu. Ada sebuah bangunan terbuka di taman, seperti sebuah gazebo. Mereka menunggu di sana.
Belum lama menunggu, Harry bisa melihat Profesornya datang.
"Saudara Mù," sapa Chin.
"Saudara Chin, saudara Harry," balas Snape tenang.
"Saya lihat, Anda betah di sini, Pro—maksudku saudara Mù," canggung Harry membuka percakapan.
Snape tak menjawab, hanya melipat tangan kanan di dada serupa posisi sembah, dan menundukkan kepala.
Agak ganjil memang. Di sini, semuanya serba tenang, serba damai. Harry nyaris tak bisa membayangkan orang di depannya ini seorang guru, seorang Profesor, yang kejam dan dingin.
"Ba-bagaimana saya bisa melaporkan ini pada Profesor McGonagall?" Harry bertanya setengah putus asa.
"Amitabha," Snape kembali menundukkan kepalanya, "sampaikan saja pada saudari Minerva bahwa Severus Snape sudah tak ada. Ia akan mengerti."
"Dan," Harry mengeluarkan cincin opal yang selalu dibawanya, "bagaimana—"
"Semua keinginan dunia berawal dari tiada, dan kepada tiada kita juga kembali."
Harry memandang Chin. Chin memandang Harry.
Sudah jelas sekarang. Mereka tak akan bisa mendapatkan Severus kembali.
Harry menundukkan kepala memberi hormat. "Baiklah. Semoga Anda bahagia di sini," sahutnya.
Berat ia berbalik, bersama Chin berjalan menuju pintu keluar yang tadi. Sekali lagi ia menoleh, dan menemukan sosok gurunya dulu itu, tersenyum tipis; menundukkan kepala dengan sebelah tangan di dada.
Harry tahu, ia bisa tenang meninggalkan gurunya—Shi YongMù—di sini. Tapi ia juga tahu, bahwa sepotong jiwanya tertinggal di sini.
Ia juga merindukan kedamaian seperti di sini.
FIN

It's Alright (Zang)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Title : It's Alright
Rating : K+
Genre : Family
Summary : For Snape Day 2014. Raising a kid is not easy. Perhaps it's time to accept others' help.
Disclaimer : Harry Potter doesn't belong to me.
.-.-.
Snape panicked. He frantically thought about his son's possible whereabouts. The man tugged his hair again and again until it frizzled and his fingers got stuck in it.
"Where are you, Harry?" he whispered mournfully.
Harry had been giving him constant headache. The boy was very active and liked moving here and there. He didn't mind it when Harry explored their quarters or wandered around Hogwarts if he was with Harry.
Unfortunately, Harry also gave troubles to his school.
Harry's school was located in the busiest street in Hogsmeade. There were magical markets and shops around the school. Harry liked to go out of school during recess and explored them. Snape was fond of Harry's curiosity but loathed the problems that followed.
The small boy had visited food courts, vegetable sections and husbandry market. When break time came, Harry darted to the markets. His teachers searched him frantically and even desperately firecalled him. That had already happened twice. Snape had to apologize repeatedly and promised that he'd have a talk with his son about his constant disappearance.
This time Harry was lost again.
Albus entered when he was pacing back and forth in front of the fireplace, considering where to floo in the first place. "Severus? Something's wrong?"
"I'm afraid so, Albus," Snape answered quickly.
"Tell me, my boy."
"I don't know if it's the right time. I should hurry—"
"Please spare me a minute. Tell me briefly about what's bothering you. Perhaps I can help."
Snape inhaled and exhaled loudly. He stared at his headmaster. Somehow Albus's calm aura made his worry subside.
"I lost Harry. The school and I, I mean," Snape told Dumbledore.
"So why are you here now?" Dumbledore asked curiously.
"I just came from Harry's school. I intended to pick him up but when I got there, Harry was already gone. I searched for him in the markets, ice cream parlor, pet shops, and anywhere but I didn't find him." Now Snape was shaking. He spoke faster. "Then I thought maybe Harry was already in the castle, somehow managed to be here I don't know how. But no, Harry is nowhere. Not inside Hogwarts or Hagrid's Hut."
Dumbledore was alert. "But I believe Harry is not in danger. He's a smart boy."
The word 'kidnapped' hung in the air, unspoken. Although Snape was sure that Harry was safe now somewhere, he couldn't erase the uneasy feelings about his son.
"Didn't you put a tracker in Harry?" Dumbledore queried.
Snape staggered. "No, I didn't," he answered weakly. "I thought he wouldn't need it. I thought I could keep him safe, Albus."
Dumbledore reassured his employee. "Try to remember, maybe Harry said something about going somewhere."
Snape clutched his robes. He rummaged his memories, carefully sorting the conversations between him and Harry. "I remember Harry saying about going home by himself this morning." Snape closed his eyes. "But I didn't think he would do it today."
Dumbledore was ready. "Let's comb every way to Hogwarts. Maybe we will cross path with him."
"Thanks, Albus." Snape couldn't refuse the headmaster's offer. Whatever would help him find his wayward son, he would gladly accept them.
The floo flared just when the two men almost reached the fireplace. They were startled.
Sirius Black's head appeared. His handsome face looked angry. "Snape!" he growled.
"Black. What do you need?" Snape nearly jumped.
"I need to punch you and hex you to the next year!" Sirius spat.
"The feeling is mutual, Black, but now is not the appropriate time for childish bickering."
"Harry's at my place."
Sirius's cold tone successfully silenced Snape. "What?"
"You heard me, unless you've lost your hearing."
Snape sank to a cushion in relief. "Thanks, Merlin."
"We'll come and get Harry," Dumbledore interrupted. "Please let us in, Sirius." He grabbed Snape's arm and a handful of floo powder.
The moment Snape saw Harry, he hugged his six year old son tightly. "Merlin, Harry. You frightened me."
Harry patted his father's back, surprised. "Why should you, Daddy? I'm alright."
"I'm not alright when I don't know where you are." Snape tenderly looked at his adoptive son. He was relieved when he saw Harry was smiling cheerfully, not knowing how Snape nearly dropped to his knees crying.
"I told you I would go home by myself," Harry defiantly stated. His little face looked determined.
"You should be glad I strolled around my land this afternoon. I thought he was lost," Sirius growled. He stood menacingly before Snape.
"Oh, I met Uncle Sirius, Daddy," Harry cheerfully said. "He asked me to come to this cottage. I was thirsty so I followed him."
Unconsciously Snape tightened his hold on his son. It took some time from Harry's school to Sirius's small cottage there, so it's no wonder if Harry felt tired and thirsty.
"Don't do that again, Harry," Snape whispered. He ignored Sirius's glare. The most important thing at that moment was his son.
"But I want to be a big boy, Daddy," Harry replied quietly. He wiggled in his father's arms. "Besides, sometimes I went home alone when I was at my old school."
Snape was enraged. How could the Dursleys let a young boy like Harry wandered on the street alone? He was glad that he had taken Harry from that horrible family three months ago.
The young Potions Master knew Harry's intention to be independent. The boy had used to be, but Snape didn't want Harry to grow up so fast, or too mature for his age. "I'm worried, Son."
"I'm sorry."
Snape still hugged Harry. He got up and reluctantly faced Sirius. "Thank you, for taking Harry in." If it's not for Harry, Snape would never stoop so low as to thank his former nemesis.
Sirius narrowed his eyes. "You do know that James appointed me as Harry's godfather, don't you?"
Snape nodded his head. He didn't like where Sirius led this conversation.
"Suppose something happens to Harry, because of your recklessness, I have the right to take him away from you and protect him under my wings," Sirius continued heatedly.
"I won't let you take him away," Snape hissed. He rubbed circle on Harry's back. The boy had fallen asleep, probably because of exhaustion.
Dumbledore chose that moment to interfere. "Let us understand that Harry's at the stage where he has much curiosity. It's normal for him to act on impulse. Running away from school, wanting to make his father proud," he shot a look in Snape's direction. "Quarrelling will not solve problems."
"I can't just keep Harry at Hogwarts while I am working." Snape let out a breath. His frustration started to show. He hadn't thought that having a child would be so taxing, exhausting and sometimes he's worried sick about Harry. But he didn't regret it. He had come to love the boy. He was certain that Lily would have been happy that her beloved son now was in the right hand, unlike he had been before.
Dumbledore nodded in understanding.
"How about this?" Sirius impatiently gave his opinion. "When you can't pick up Harry at school, I will do that. That way Harry is taken care of. No one will be worried."
Snape contemplated. He didn't like the idea but knew Sirius was right. "But he will always be my son," he stated firmly.
Sirius, despite his age, rolled his eyes. He couldn't have done much for Harry when he had been imprisoned in Azkaban. Now that his name was clean and he was free, he'd do anything for his late best friends' son.
Dumbledore smiled. "You don't have to do this alone, Severus," he said softly. "Harry loves you very much. It's obvious so you shouldn't get worried somebody will steal his affection away."
"I know," Snape said quickly. He was embarrassed that Dumbledore revealed his trouble in front of Sirius.
"Raising a kid is not easy. It's okay for others to help you," the bearded man continued.
"Especially when others are sincere," Sirius grunted.
Maybe it's alright. Inwardly Snape agreed. Perhaps it's time to accept others' help.
.-.-.
The End

 
 


 

Troublesome Nightmares (Zang)

Fanfiksi Reguler. Link asli ada di sini


Title : Troublesome Nightmares
Rating : K+
Genres : Humor, Family
Summary : "It's scary, Dad! The zombies chased me, the vampires wanted to bite me, the giant Basilisk asked me to hatch her eggs," Harry stammered. He agreed to return the last vial of Dreamless Sleep Potions after he had bargained with Snape. The young father should accompany Harry while the boy was watching movies. When Harry got nightmares, Snape should be willing to be woken up and wouldn't sleep until Harry was asleep. A response to Dreamless Sleep Addiction challenge by Jan_AQ in Potions and Snitches and for Snape Day 2014 in Infantrum.
Disclaimer : Harry Potter isn't mine. It belongs to JK Rowling.
.-.-.
Snape could never think of being away from potions, or brewing, even for a day. When he wasn't brewing potions, the black haired man read potions journals. He knew people called him potions obsessed, but why should he care? When they needed medicine to cure their flu, to heal their cuts or wounds, who did they go to? Him! Well, it's not like Snape complained. Even when he did, people still pestered him for potions. But in return, Snape got many things from them: fruit, chocolate, food, fabric.
That summer holiday, he decided to spend the first few weeks in Spinner's End. Harry was okay with them not going anywhere. The fourteen year old boy told his adoptive father that he'd like to get to know his new laptop, so staying at home was also his best option.
That night Snape was arranging the vials in the cabinet when a shriek came from the sitting room. He hastily ran as fast as his long legs could, afraid that something happened to Harry. He stopped short when he saw his son was safe and sound, although at that time Harry was covering his face with his hands, his posture was stiff. He looked like he wanted to get away from something.
"What happened?" Snape asked.
Harry looked up. "Dad?"
Snape immediately checked for injury or curse on Harry.
"It's scary," Harry whispered.
"What's scary?"
A finger pointed at a film playing on the laptop.
Snape was annoyed. "You shrieked because of a horror movie?"
"I didn't shriek! Sheesh, Dad, only girls do." After assuring his father that he was more than fine, Harry went back to watch the movie.
So every day Harry and Snape did their own routine. Snape brewed potions and Harry did his homework. The green eyed boy felt the pressure of being the son of one of Hogwarts teachers. People expected him to get good grades and smart. He wanted to live up to those expectations and make his father proud of him.
At night, both of them took a break: Snape read and Harry watched some movies. Sometimes the father admonished Harry because of his fascination in horror movies. The-not-manly-scream and Harry's nightmares nearly gave Snape heart attack every day. The threat to incendio the laptop tamed the shriek and the nightmares stopped.
However, while counting the vials which would be delivered to Molly Weasley, Snape noticed that the ten vials of Dreamless Sleep potions were empty. They had been full before. The Potions Master frowned. It's impossible if there were animals or trespassers barged into his house and only consumed that kind of potions.
The thirty six year old man rechecked his wards but found nothing. It's still perfectly intact. He went out to check the gate, the garden, the lamps and everything he could think of. He began to get worried until he saw Harry calmly opened his laptop, with a small vial next to a cushion.
Snape gasped.
Harry turned his head when he heard the sharp intake of breath. "What's wrong, Dad?"
And Snape's head was flooded with realization.
…Harry's new hobby of watching horror movies, the boy's constant nightmares almost every night...
It had stopped since days ago.
Snape slowly approached Harry, who squirmed uneasily. He sensed confusion and anger coming from his father.
"Have you been consuming Dreamless Sleep for ten days in a row?" Snape queried.
"Yes," Harry answered, suddenly scared.
Snape eyed him sharply. Snape's eyes were famous for their look which could make youngsters want to pee their pants. "Why?" he demanded answers even though he already knew why.
Harry toyed with the sleeve of his T-shirt. "I kept having nightmares," he answered truthfully.
"After watching movies?"
"Yes."
"Harry!"
"It's scary, Dad! The zombies chased me, the vampires wanted to bite me, the giant Basilisk asked me to hatch her eggs," Harry stammered.
It was getting more ridiculous. Snape almost snorted. There were no giant Basilisks, they're already gigantic.
He kept listening to Harry's incredulous stories.
"But Dreamless Sleep isn't a solution," Snape sternly warned.
"I know," Harry replied weakly.
"Stop watching the trash, then."
Harry looked at him, scared at the idea than the possibilities of having nightmares again. "But- -but…"
That night Snape lectured him about the danger of being addicted to the potions. If Harry was asked to recite what his father had told him, he was sure he could write the ingredients of Dreamless Sleep Potions, where to get them, how to brew it, when to give it and when to stop having it. In a two-meter-long parchment, in handwriting as big as Hermione's.
Harry agreed to return the last vial of the potions after he had bargained with Snape. The young father should accompany Harry while the boy was watching movies. When Harry got nightmares, Snape should be willing to be woken up and wouldn't sleep until Harry was asleep.
Snape groaned when that night Harry shook him, waking him from his peaceful slumber. Again, in five nights in a row.
.-.-.
The End

Wednesday, 30 January 2013

Our Home (aicchan)

Multichapters. Fiksi Challenge. Link asli dan bab-bab sambungannya ada di sini

-----------

Ini adalah masa dimana antariksa telah menjadi halaman bermain bagi peradaban manusia. Planet demi planet dijelajahi, disinggahi, ditempati, kemudian ditinggalkan begitu tak ada lagi yang bisa diambil. Kemajuan teknologi menambah kerakusan manusia untuk terus mencari tempat tinggal baru di jagad raya nan luas. Galaksi demi galaksi dilewati bagai menyebrangi benua semasa Bumi masih menjadi satu-satunya tempat tinggal bagi manusia. Sekian ribu tahun telah berlalu sejak perjalanan pertama manusia menjelajah galaksi, entah berapa banyak koloni manusia yang tersebar di samudra bintang yang seolah tiada berujung ini.
Namun di masa dengan teknologi tinggi seperti itu, entah disebabkan oleh apa, muncullah satu kelompok yang memiliki kemampuan diatas rata-rata manusia biasa. Mereka memiliki kemampuan Extrasensory Perception, atau kemampuan supernatural seperti telepati, teleportasi dan memiliki masa hidup yang sangat panjang.
Mereka disebut sebagai bangsa 'Mu'.
Manusia yang merasa terancam oleh para Mu, kemudian mengembangkan sebuah teknologi yang memungkinkan mereka untuk mendeteksi potensi seseorang sebagai Mu. Jika terbukti, maka orang tersebut akan segera dibunuh, berikut seluruh keluarganya.
Sekelompok kecil Mu berhasil mencuri salah satu kapal antariksa dan mereka bersembunyi dari perburuan. Selain itu, selama perjalanan, mereka akan menolong anak-anak yang memiliki potensi sebagai Mu sebelum para manusia menyadarinya. Karena para Mu memiliki gelombang otak yang tak wajar, setiap Mu bisa saling megetahui posisi 'rekan' mereka meski terpisah jarak yang jauh.
Kini, kapal antariksa yang dulu hanya bisa ditempati sembilan sampai sepuluh orang, telah berkembang menjadi satu koloni bergerak yang memiliki jumlah penduduk lebih dari seratus orang. Kapal yang menjadi Sanctuary bagi para Mu itu dikenal dengan nama Hogwarts, yang juga merupakan target utama perburuan. Namun para Mu tak menyerah. Mereka memiliki satu tujuan utama karena lelah untuk terus menjadi target perburuan seolah mereka adalah binatang buas.
Mereka, akan kembali ke Terra… ke Bumi. Bintang pertama yang menjadi hunian manusia. Permata yang telah ribuan tahun terlupakan dibalik ketamakan manusia untuk menguasai antariksa. Mereka akan kembali pulang, ke rumah yang telah lama ditinggalkan…
oxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Harry Potter © JK Rowling
Our Home © aicchan
Sci-fi / Family / Adventure / Supernatural
Entry Infantrum Challenge
'Snape Day' © Ambudaff
-Drarry - OOCness-
(Terinspirasi dari 'Terra e…' © Takamiya Keiko)
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxo
"Severus."
Seorang pria berambut hitam sebahu menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak sedikt pucat, namun ekspresinya dingin, tak terbaca. Dia baru saja kembali dari salah satu koloni manusia yang dilewati oleh Hogwarts karena Draco merasa ada anak Mu di koloni itu. Severus diutus untuk menyelamatkan anak itu, namun semua tak berlangsung mulus.
Dia memandang pemuda berambut pirang platinum dan bermata kelabu. Pemuda itu bernama Draco. Dia adalah 'Soldier' bagi para Mu. Pimpinan yang akan membawa para Mu kembali ke Bumi. Draco dipilih sebagai pimpinan karena memang dia memiliki energi yang jauh lebih besar dari semua Mu yang ada di Hogwarts ini. Seperti para Mu yang lain, Draco selalu mengenakan jubah panjang, namun berwarna hijau. Hanya dia yang memakai warna itu diantara semua Mu yang memakai jubah berwarna hitam dan putih, menandakan kalau dia berada dalam posisi khusus.
"Bagaimana? Kau berhasil membawa mereka?" Tanya Draco.
Severus menyibak jubah hitamnya, dan ternyata dia menggendong seorang bayi berusia 18 bulan, "Maaf, hanya anak ini yang bisa aku selamatkan. Aku terlambat datang, kedua orang tuanya telah dibunuh."
Draco memandang bayi mungil berambut hitam berantakan itu. Tampak bekas luka di kening bayi itu, "Dia terluka…"
"Sudah kusembuhkan. Tapi ku rasa akan meninggalkan bekas luka."
"Bayi malang… harus kehilangan orang tuanya secepat ini." Draco menyentuh bekas luka berbentuk sambaran petir itu. Tak disangka, si bayi yang tadinya tertidur lelap, mendadak membuka matanya. Begitu Draco memandang sepasang bola mata berwarna hijau itu, segalanya seolah menghilang, meninggalkannya bersama bayi mungil yang tertawa senang.
"Draco?" Severus tak bisa mencegah saat Draco mengambil bayi mungil itu darinya.
"Siapa namanya?" tanya Draco dengan nada takjub dari suaranya.
"Harry… Harry Potter."
Draco tersenyum saat Harry menggenggam jari telunjuknya, "Harry… akhirnya aku menemukanmu."
Mendengar itu, Severus terkejut, meski tak ada perubahan di raut wajahnya, "Draco… Apa maksudmu?"
Mata kelabu Draco tampak melembut saat dia memandang Harry, "Severus… anak ini, adalah core untukku."
Severus tertegun. Dia tak menyangka anak yang baru saja dia selamatkan itu adalah core bagi sang soldier. Seperti arti harafiahnya, core adalah inti energi, jadi Harry adalah satu-satunya Mu yang bisa mengimbangi kekuatan energi Draco. Pasangan hidup Mu ditentukan oleh panjang gelombang energi mereka. Jika tak seirama, maka keduanya tak akan bisa berdampingan karena energi yang saling bertolak belakang. Namun jika seorang Mu telah bertemu dengan core yang memiliki gelombang energi yang selaras, maka mereka akan menjadi individu yang lebih stabil daripada Mu yang belum menemukan pasangan hidupnya. Karena itu bangsa Mu tak pernah mempermasalahkan tentang gender. Core adalah perwujudan hati, jika menolak kata hati, maka berarti mereka menolak keberadaan diri mereka sendiri.
Lalu Draco memandang Severus, "Aku minta bantuanmu untuk membimbingnya. Kau pun membimbingku saat aku masih kecil." Dia menyerahkan lagi Harry pada Severus, "Di bawah bimbinganmu, dia pasti akan menjadi Mu yang hebat."
Severus sama sekali tak keberatan dengan permintaan itu, bahkan sejujurnya, dia merasakan satu ikatan kuat dengan Harry seolah dia sudah lama menanti pertemuan ini, "Ya… dia pasti akan menjadi Mu yang hebat."
.
.
#
.
.
Delapan tahun berlalu, Hogwarts masih terus melakukan perjalanan mereka. Pesawat antariksa berbentuk oval dan berwarna putih menembus gelapnya jagad raya, melintasi bintang-bintang dan koloni manusia yang tak terawat lagi. Satu dua kali mereka bertemu dengan pesawat patroli manusia, namun sejauh ini semua bisa dihindari tanpa harus mengangkat senjata.
Harry telah tumbuh menjadi anak yang aktif, cerdas, dan segera saja menjadi sosok yang disayangi seisi Hogwarts. Pertumbuhan seorang Mu berlanjut normal hingga nanti berusia 17 tahun. Setelah memasuki tahapan sebagai orang dewasa, laju pertumbuhan Mu akan semakin melambat. Severus sendiri, meski sudah melewati masa hampir satu abad, penampilannya masih berkisar antara usia 35-40 tahun.
"Uncle Sev! Aku sudah selesai membaca buku ini."
Severus memandang Harry yang membawa sebuah buku tebal berisi riwayat hidup para Mu yang telah pergi mendahului mereka.
"Boleh aku pergi ke tempat Draco? Hari ini dia berjanji akan mengenalkanku pada sang peramal." Harry membenahi letak kacamatanya. Meski tak ada yang salah dengan penglihatan Harry, Severus merasa kacamata cocok dipakai oleh anak itu. Terlebih, saat dulu dia menyelamatkan Harry saat masih bayi, Severus sempat sekilas melihat sosok ayah Harry yang terbujur kaku tak bernyawa disamping istrinya. Dan wajah Harry bagai pinang dibelah dua dengan ayahnya, jadi Severus pikir, ada baiknya Harry memakai kacamata, sebagai pengingat akan sosok ayah kandungnya.
Severus memandang wajah Harry yang memasang wajah penuh harap, "Baiklah. Asal kau berjanji akan menjaga sikap."
"Pasti!" seru Harry seketika, "Sampai nanti, uncle Sev." Anak itu pun berlari meninggalkan perpustakaan.
Severus berdiri dan membereskan buku-buku di sana. Ya, meski teknologi terus berkembang dan segala hal tersedia melalui gadget, tapi bagi Mu, buku adalah salah satu harta berharga. Karenanya di Hogwarts tersedia satu ruangan khusus untuk menyimpan buku-buku untuk dipelajari oleh para kaum muda.
Setelah semua rapi kembali, Severus pun meninggalkan perpustakaan dan menuju ke bridge, tempat kendali utama Hogwarts. Di luar perpustakaan, Severus berjalan menyusuri koridor yang berdinding kaca di salah satu bagian, jadi siapapun yang ada disana bisa melihat indahnya kegelapan di angkasa yang seolah tak berujung ini.
Dia berjalan menuju pusat kendali yang terletak di bagian depan kapal antariksa ini. Severus melewati pintu yang terbuka otomatis dan tiba di sebuah ruangan berbentuk oval beratap kaca tebal.
"Oh, Severus. Dimana Harry?"
"Harry sedang bersama Draco, menemui peramal."
Severus menghampiri seorang wanita paruh baya, Minerva, salah satu Mu senior di Hogwarts ini. Mu tertua adalah Albus, yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mempelajari buku-buku kuno demi mencari letak pasti Terra. Albus jarang keluar dari kamarnya, namun ia adalah sosok yang sangat dihormati oleh seluruh isi Hogwarts ini.
"Ah…" Hanya komentar singkat yang dilontarkan Minerva.
Kemudian Severus duduk di salah satu kursi pengendali. Severus juga mengemban tugas sebagai salah satu ahli navigasi di kapal ini. Saat ini mereka tengah mencari satu tempat dimana mereka bisa singgah sementara. Meski kapal antariksa ini bisa beroperasi terus menerus sampai 50 tahun, tetap saja memerlukan perawatan secara berkala. Jadi setiap dua puluh tahun sekali, Hogwarts akan mencari planet atau koloni buatan yang tak berpenghuni untuk memeriksa kondisi pesawat yang menjadi rumah mereka ini.
Tak begitu lama, pintu bridge terbuka lagi. Yang masuk kali ini adalah Mu kembar yang terkenal sangat kompak, Fred dan George. Mereka juga adalah petugas bridge yang bertanggung jawab pada persenjataan dan pertahanan. Sambil mengobrol mereka berdua duduk di kursi pengendali dan mulai sibuk dengan tugas mereka.
Severus memandang layar di hadapannya. Dia mengatur fungsi kendali otomatis agar tetap berada dalam jalur yang telah ditentukan.
Merasa kalau semua beres, Severus kembali berdiri dan membenahi jubahnya, "Aku akan pergi ke ruang kesehatan."
"Baiklah. Biar aku yang mengawasi di sini." Ujar Minerva.
Selain tugas di bridge, Severus juga menjadi salah satu ahli pengobatan di Hogwarts ini. Terkadang dia membuat obat-obatan dari tanaman yang tumbuh di bagian belakang kapal yang memang difungsikan sebagai ladang dengan mengandalkan solar plate, yang berfungsi sebagai 'matahari' bagi para tanaman disana. Dengan mempelajari data-data milik Mu pendahulu, Severus mempelajari semua tentang obat-obat tradisional yang ternyata lebih berkhasiat daripada obat modern.
Ruang pengobatan di Hogwarts adalah sebuah ruangan persegi yang cukup besar. Menampung selusin tempat tidur dan juga ada ruangan khusus untuk perawatan darurat. Tapi kebanyakan alat-alat di sana tak begitu digunakan karena Mu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka-luka ringan dengan cepat. Namun meski begitu, Mu juga tetap bisa terkena penyakit ringan seperti flu dan demam, jadi obat-obatan juga harus tetap tersedia.
Disana, ada seorang wanita paruh baya yang merupakan penanggung jawab kesehatan, akrab dipanggil Madam Pomfrey oleh para Mu yang lain, "Severus, tumben mampir?"
"Hanya ingin mengecek persediaan obat."
"Oh, masih cukup untuk kira-kira sebulan lagi."
"Baiklah. Katakan saja kalau ada yang habis."
Madam Pomfery mengangguk dan membiarkan Severus pergi.
Belum lagi jauh dari ruang pengobatan, tiba-tiba saja terdengar suara sirine darurat diikuti pengumuman kalau ada dua kapal pemburu yang terdeteksi di dekat lokasi Hogwarts. Severus hendak melangkah kembali ke bridge, tapi segera batal begitu dalam kepalanya menggema suara Draco.
"Jangan panik! Aktifkan shield! Biar aku yang bereskan mereka."
Severus memandang ke luar dinding kaca, dari kehampaan, muncul sosok Draco yang diselimuti energi pelindung berwarna kehijauan tipis. Kemudian sosok Draco meluncur cepat seolah dia memakai jet pack di punggungnya.
"Wah! Draco memang hebat ya?!"
Severus terkejut saat Harry muncul di sebelahnya sambil melayang dan tertawa, "Harry! Sudah berapa kali kubilang? Jangan muncul mendadak seperti itu!"
Harry menyengir dan mendarat mulus di sebelah Severus, "Maaf… habisnya tadi Draco langsung pergi begitu saja." Bocah itu menempelkan wajahnya ke kaca, "Draco tidak kelihatan lagi… kapan ya aku bisa keluar tanpa harus memakai space suit?"
"Kau masih butuh banyak latihan. Jangan terburu-buru!"
"Iya aku tahu." Harry mengikuti Severus yang melangkah pergi, seperti kebiasaannya sejak dulu, Harry selalu berjalan sambil memegangi jubah Severus.
"Bagaimana pertemuanmu dengan sang Peramal?"
"Menyenangkan. Aku diizinkan memanggilnya Hermione. Dia baik, cantik lagi. Aku diberi permen coklat." Harry merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebatang coklat, "Aku tidak akan memakannya sebelum makan malam. Aku janji." Kata anak itu sebelum Severus sempat bicara.
"Lalu, apa kata Peramal?"
Harry memiringkan kepalanya dengan wajah bingung, "Aku tidak begitu mengerti, sih. Tapi katanya kita akan segera tiba di tanah merah. Disana kita bisa tinggal untuk membangun shelter sementara sebelum melanjutkan perjalanan."
"Jika itu yang dikatakan oleh Peramal, sebaiknya kita bersiap untuk pendaratan. Kau sudah beritahu yang lain?"
Harry menggeleng, "Draco bilang aku harus ke tempatmu. Makanya aku langsung ke sini."
"Baiklah. Ayo ke bridge, kita harus mengumumkan ke seluruh Hogwarts."
Mengikuti langkah Severus, Harry meraih jemari pria itu dan menggenggamnya. Severus sendiri tak keberatan dan membiarkan Harry menggandeng tangannya. Mereka berdua menuju ke pusat kendali Hogwarts dan menyampaikan kabar dari sang Peramal. Seisi bridge menyambut senang kabar itu. Minerva pun segera mengumumkan pada seisi Hogwarts agar mereka segera mempersiapkan semua yang dibutuhkan.
Hogwarts telah menjelajah galaksi lebih dari dua ratus tahun dan telah melewati dua puluh tiga sistem planet, namun tak satupun dari planet yang bisa dihuni itu adalah Terra. Tapi itu tak membuat semangat mereka menurun, mereka tak henti berharap agar suatu masa nanti, mereka akan tiba di tanah impian mereka.
Harry sendiri tampak sangat bersemangat karena ini adalah pendaratannya yang pertama dan dia terus bertanya ini itu pada Severus yang menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami anak kecil.
Harry memandang layar-layar proyeksi yang muncul di bridge yang menampilkan grafik-grafik yang pernah dia lihat di buku tapi tak pernah dia mengerti. Dia juga bisa merasakan gejolak semangat mengalir di seluruh bagian Hogwarts. Semua berharap agar pendaratan kali ini tak mengalami hambatan. Riak energi positif itu membuat Harry merasa sangat senang, dia duduk di kursi kosong dan membiarkan yang lain bekerja.
"Sepertinya sedang senang." Draco muncul dari kekosongan di belakang Harry.
"Draco! Kau sudah kembali. Kau luka?" seru si bocah berkacamata.
"Heh! Kau pikir aku siapa? Pesawat tempur rendahan seperti itu tak akan bisa melukaiku."
"Soldier, anda sudah kembali." Minerva mendekat pada Draco, "Bagaimana?"
"Bukan masalah besar. Kita bisa melanjutkan perjalanan seperti rencana semula."
Setelah urusan di bridge selesai, Harry ikut dengan Severus untuk 'kelas sore'nya, yaitu pelajaran tentang sejarah perjalanan manusia dan juga tentang Terra… tentang Bumi yang telah lama terlupakan. Mereka berdua menuju ke perpustakaan, di sana, Harry duduk di meja menghadap Severus. Di antara mereka ada sebuah meja yang berfungsi juga sebagai proyektor. Severus menekan sebuah tombol dan di atas meja itu muncullah gambar hologram sebuah planet biru yang sebagian besarnya merupakan air.
Berapa kali pun melihat, Harry tak pernah bosan, sama seperti pertanyaannya setiap kali mereka membahas permata angkasa itu, 'Kenapa manusia rela meninggalkan planet seindah ini?'
Pertanyaan itu tak pernah terjawab oleh Severus.
"Uncle Sev… sebenarnya berapa lama waktu yang harus kita tempuh hingga kita sampai ke Terra?" tanya Harry.
Severus memandang wajah lugu bocah kecil itu, "Entahlah, Harry. Manusia telah jauh berkelana ke galaksi di luar Bima Sakti, tempat Terra berada. Titik kordinasi Terra saat ini seolah bagaikan mitos belaka. Hal pertama yang kita lakukan, kita harus kembali ke galaksi terdekat dengan Bima Sakti, sesampainya di sana, kita akan lebih mudah mencari keberadaan Terra."
Harry bertopang dagu, "Apa Bima Sakti itu jauh?"
"Dengan tekhnologi kita saat ini, diperkirakan masih butuh lebih dari seratus tahun untuk sampai di sana."
"Tapi kan kita bisa melakukan warp."
"Tidak semudah itu," Severus menggeser hologram tadi dengan jarinya dan yang tampak sekarang adalah replika ruang angkasa dengan garis-garis hijau sebagai penanda titik koordinat, "Warp tak bisa sembarang dilakukan. Kita harus tahu pasti dimana posisi kita dan dimana posisi tujuan kita. Lagi pula warp memiliki batas maksimal. Kalau melebihi jarak yang ditentukan, kapal angkasa bisa hancur karena tak bisa menahan tekanan pembelokan dimensi yang terjadi."
Harry memiringkan kepalanya, tanda tak mengerti.
Severus lalu mencontohkan dengan menampilkan gambar pesawat angkasa pada hologram, "Jika pesawat ini melakukan warp dalam jarak yang ditentukan…" Severus menarik bagian depan pesawat itu hingga tercipta gambar seolah pesawat tersebut terbuat dari karet elastis. Dalam jarak satu telapak tangannya, dia melepaskan jarinya dari ujung gambar pesawat itu yang mana bagian belakangnya langsung melesat ke depan dan bersatu lagi dalam bentuk sempurna dengan bagian depannya.
"Pesawatnya utuh lagi!" seru Harry senang.
Kemudian Severus mengulangi proses yang sama, namun kali ini dia menarik ujung depan pesawat lebih jauh lagi, hingga gambaran 'karet elastis' antara bagian depan dan belakang pesawat terputus dan pesawat itu pun meledak.
Harry berjengit karena kaget.
"Itu yang akan terjadi jika pesawat angkasa melakukan warp lebih dari jarak yang seharusnya."
Masih tampak ngeri, Harry bertanya, "Lalu… berapa jarak aman untuk melakukan warp?"
Severus mengganti lagi gambar hologram itu dengan Terra, "Hogwarts mampu melakukan warp dalam jarak 3 tahun cahaya."
Kepala Harry miring lagi, kali ini ditambah kerutan di dahinya.
"Jarak di luar angkasa tidak diukur seperti jarak biasa, namun dengan memakai satuan Astronomical Unit, atau disingkat AU. 1 AU berjarak kurang lebih 150 juta kilometer, dan 1 tahun cahaya berjarak 63,421 AU. Jadi jarak aman untuk melakukan 'warp' adalah—"
Penjelasan Severus terputus saat pintu perpustakaan terbuka dan Draco pun masuk.
"Kau membuatnya bingung, Severus."
"Draco!" Harry tampak senang dengan kehadiran pemuda berambut pirang platinum itu.
"Bagaimana perkembanganmu, Harry?" Tanya Draco yang kini berdiri di belakang tempat Harry duduk.
"Aku bingung saat uncle Sev menjelaskan tentang warp dan Astronomical Unit."
Draco menepuk kepala Harry, "Belajarlah yang giat! Kalau kau bisa mengerti tentang AU, aku akan mengajakmu keluar."
Mendengar itu, mata Harry berbinar, "Sungguh? Kau serius? Tidak bohong?"
"Soldier tidak pernah berbohong. Nah! Selesaikan pelajaranmu, oke?!"
"OKE!" Harry menghadap lagi ke layar dengan penuh semangat.
Severus menghela napas dan memandang Draco, "Berapa lama sampai pendaratan nanti?"
"Sekitar dua bulan. Aku akan mengecek kondisi mesin, kalau masih mungkin untuk melakukan warp, kita bisa sampai dalam tiga minggu." Draco memandang Harry sekilas, "Setelah pelajaran selesai, aku akan menjemputnya." Dia pun meninggalkan perpustakaan setelah mengacak-acak rambut Harry yang memang berantakan alami.
.
Severus menyudahi pelajaran Harry saat melihat bocah itu mulai menguap lebar. Setelah membereskan seisi perpustakaan, Severus mengantarkan Harry ke kamar Draco yang terletak di bagian tengah Hogwarts. Sebuah kamar berbentuk bulat dan berdinding kaca berbentuk kubah. Bagian bawah hanya terisi sat set sofa dan tempat tidur terletak di bagian atas kamar, tepat di depan tangga melingkar yang tak begitu tinggi.
"Kau tunggu Draco disini dan jangan berkeliaran. Kerjakan tugasmu!"
"Baik! Selamat istirahat, uncle Sev."
Pria berambut hitam itu pun meninggalkan kamar sang Soldier dan kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat, namun sebelumnya dia masih sempat menghubungi bridge untuk mengecek kondisi di sekitar Hogwarts. Setelahnya, Severus melepas jubahnya dan membaringkan diri di kasur lalu memejamkan matanya. Namun belum lagi dia tertidur, tiba-tiba saja terasa guncangan yang hebat, membuat pria itu langsung bangkit dari tempat tidurnya.
Sirine darurat berbunyi nyaring dan seluruh lampu di Hogwarts berubah merah, pertanda kalau ada bagian mesin yang rusak. Tak repot menyambar jubahnya, Severus keluar dari kamar dan melihat koridor penuh oleh penghuni Hogwarts yang tampak panik. Kemudian terdengar pengumuman dari bridge bahwa ada satu kapal induk manusia yang berada dekat dengan Hogwarts. Para teknisi diminta memeriksa mesin dan pilot tempur segera bersiaga di hanggar.
Severus tak menuju ke bridge melainkan segera ke ruangan tempat anak-anak Mu berada. Selain Harry, masih ada delapan Mu kecil yang belum sampai ke tahap dewasa. Mereka masih sangat rentan dan butuh pengawasan khusus, karena dalam serangan seperti ini, tanpa Mu dewasa yang mendampingi, energi mereka bisa menjadi tidak terkendali.
Sampai di ruangan itu, Severus bertemu dengan Madam Pomfrey yang menenangkan anak-anak disana. Severus menutup pintu dan mengaktifkan sistem keamanan dimana lapisan baja melapisi bagian dinding luar ruangan itu agar tak terkena dampak serangan.
"Uncle Sev!" Harry muncul di sebelah Severus.
"Harry! Dimana Draco?"
"Keluar. Aku disuruh ke sini." Harry memeluk lengan Severus, "Aku takut~"
Severus mengusap kepala Harry, "Tidak apa-apa. Draco dan yang lain pasti bisa mengatasi semua."
Lalu Harry duduk bersama lima anak Mu lain yang masih berusia 3-5 tahun. Berlaku selayaknya seorang kakak, Harry memangku seorang anak berambut hitam yang menangis kencang dan menepuk-nepuk punggung anak itu, "Cup cup… jangan menangis."
Ketegangan makin terasa karena guncangan masih juga belum berhenti. Severus pun memutuskan untuk menuju ke bridge setelah meminta agar Madam Pomfrey menjaga anak-anak. Dengan berteleportasi, Severus pun tiba di bridge dan segera duduk di salah satu kursi kendali. Dia melihat kapal induk manusia yang diserang oleh selusin unit pesawat tempur yang dimiliki Hogwarts. Sosok Draco pun tampak di sana. Seperti biasa, soldier mereka bergerak lincah di ruang hampa itu dan menyerang kapal induk raksasa itu dengan enerinya sendiri.
Satu dua kali Hogwarts terkena tembakan, namun berkat lapisan pelindung yang terdiri dari gabungan energi seluruh awak Hogwarts, pesawat itu masih bisa bertahan. Akan tetapi serangan dari kapal musuh seolah tiada henti, bahkan tiga pesawat tempur Hogwarts bisa dihancurkan. Meski begitu, pilotnya berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke Hogwarts.
Satu tembakan misil mengenai sayap kiri Hogwarts, membuat kapal itu sedikit oleng. Tembakan kedua nyaris saja mengenai kapal Mu lagi, tapi Draco berhasil menepis serangan itu seolah misil itu hanyalah bola mainan anak-anak.
"Soldier! Jangan memaksakan diri!"
Draco membuat shield tambahan di bagian depan Hogwarts, "Pertahankan keseimbangan!" seruan itu menggema di batin seluruh awak bridge.
Puluhan misil kembali mengarah pada Hogwarts. Draco sedikit kewalahan mengatasi semua itu hingga satu misil meledak dekat dengannya.
"SOLDIER!"
"Aku tidak apa-apa!" shield Draco yang sempat meredup kini bersinar cemerlang lagi.
Severus melihat darah mengalir dari pelipis Draco, namum pemuda itu malah menuju langsung ke kapal induk musuh. Draco bisa menghindari semua serangan yang diarahkan padanya tanpa kendala berarti, lalu akhirnya dia berpindah tempat dalam sekejap mata dan muncul di bagian depan kapal induk musuh.
Menyadari apa yang akan dilakukan Draco, Severus menyuruh seluruh awak bridge untuk memperkuat shield energi mereka di sekeliling Hogwarts. Benar saja, sedetik berikutnya, terjadi ledakan hebat yang menghancurkan kapal induk musuh yang hampir menyamai ukuran Hogwarts itu menjadi serpihan. Sorak sorai terdengar riuh di bridge melihat kemenangan mutlak itu, namun kegembiraan mereka tak berlangsung lama karena di antara puing-puing itu, tak tampak shield energi berwarna hijau yang biasa melindungi Draco, meninggalkan pemuda itu mengambang di angkasa.
"SOLDIER!"
Belum lagi ada yang bergerak, di samping Draco muncullah Harry yang diselimuti shield berwarna merah cemerlang. Itu membuat seisi Hogwarts terdiam karena takjub, tak ada Mu yang bisa keluar dari pewasat tanpa memakai space suit kecuali Draco. Fakta kalau Harry sanggup melakukan persis seperti Draco, seluruh Hogwarts jadi tahu bahwa kekuatan Harry memang sebanding dengan pimpinan mereka.
Setelah Harry membawa Draco kembali ke Hogwarts, Madam Pomfrey segera melakukan tindakan medis. Wanita itu tampak lega karena tak ada luka serius, namun karena pemakaian energi yang melebihi batas, tubuh Draco mengalami kelelahan luar biasa dan harus beristirahat total sampai tubuhnya pulih kembali.
Severus berdiri di sebelah Harry, menyetuh pundak kecil bocah itu yang bergetar menahan tangis. Sebenarnya dia tak tega meninggalkan Harry sendiri di kamar bersama Draco, tapi bocah itu menolak ikut dengannya, jadilah, Severus kembali ke bridge untuk menentukan langkah selanjutnya.
"Bagaimana kondisi, Draco?" Tanya Minerva begitu Severus masuk ke bridge, awak yang lain pun tampak cemas.
"Tak ada luka fatal, hanya butuh istirahat total sampai kondisi tubuhnya pulih lagi." Severus mengulangi apa yang dikatakan oleh Madam Pomfery.
Semua langsung merasa lega mendengarnya.
"Lalu bagaimana dengan rencana pendaratan kita?" tanya Fred.
Severus memandang Minerva, "Kurasa sebaiknya kita tetap pada rencana. Hogwarts butuh perbaikan dan kita bisa membangun shelter sementara di planet tujuan kita nanti."
Diskusi singkat mencapai kata sepakat bahwa mereka akan tetap mendarat. Severus memberi instruksi pada awak bridge agar tak melakukan warp karena kondisi pesawat yang cukup parah akibat serangan tadi. Selesai di bridge, Severus menuju ke hanggar untuk mengecek kerusakan apa saja yang terjadi. Dia juga sempat memeriksa kondisi belakang pesawat yang rusak paling parah, tapi dia diusir oleh para Mu muda yang bekerja di sana dengan dalih mereka bisa tidak konsentrasi memperbaiki kerusakan kalau ada mandornya.
Tak ambil pusing, Severus pun meninggalkan tempat itu dan berkeliling Hogwarts meski memakan waktu hampir empat jam untuk menjelajah pesawat luas itu. Tapi demi memastikan kalau semua terkendali, Severus tak pernah merasa lelah. Dia juga mampir ke ruang pengobatan dan melihat Madam Pomfrey mengobati mereka yang terluka dengan dibantu beberapa gadis Mu. Kemudian baru Severus kembali ke bridge untuk melanjutkan tugasnya sebagai salah satu navigator.
.
.
.
Pendaratan berjalan sesuai rencana. Mereka tiba di planet merah yang memiliki tiga satelit alami. Planet ini ada di salah satu galaksi yang memiliki sistem perbintangan yang mirip dengan Tata Surya di Bima Sakti, namun melalui penelitian para Mu yang ahli dalam bidang astronomi, 'matahari' yang menyinari planet itu berukuran lebih kecil dari matahari yang ada di Bima Sakti. Pun dengan planet yang berevolusi di sekelilingnya. Hanya ada tiga planet besar yang tampak dan planet merah ini adalah satu-satunya planet yang memiliki kandungan oksigen, meski tipis.
Tanpa masalah berarti, Hogwarts berhasil mendarat di tanah asing itu. Severus mengutus Fred dan George untuk memeriksa kondisi sekitar dengan menggunakan pesawat pengangkut. Dua Mu kembar itu kembali ke Hogwarts setelah berkeliling sekitar enam jam. Mereka memastikan tak ada habitat manusia di sekitar sana, meski terdapat banyak puing-puing bangunan dan ladang yang sudah sangat kuno. Mereka juga bilang kalau atmosfir di planet itu sedikit panas hingga sebaiknya yang mau keluar harus memakai helm oksigen atau memasang shield di sekeliling mereka agar bisa lebih mudah bernapas.
Meski telah ada data-data dari contoh tanah dan air yang didapat oleh si kembar, para Mu baru berani menginjakkan kaki di tanah merah itu di bulan ke tiga belas, Setelah mempelajari laju rotasi planet itu juga pergantian musim yang terjadi tiap enam bulan sekali.
Dipandu oleh para Mu senior, kaum muda membawa perlengkapan untuk membangun shelter sementara dan juga membawa bibit untuk menghidupkan kembali sisa ladang di planet itu.
Di tengah semangat untuk membangun 'rumah kecil' mereka di planet baru, para Mu masih mencemaskan kondisi Draco yang belum juga membuka mata meski dua bulan sudah berlalu. Sang Peramal juga belum memberikan kabar tentang soldier mereka. Berpegang pada keyakinan bahwa suatu saat nanti Draco akan kembali pada mereka, para Mu berkerja dengan giat.
Pasak pertama ditancapkan, bibit pertama pun telah ditanam, sedikit demi sedikit para Mu membangun shelter mereka untuk sejenak beristirahat dari perjalanan panjang melintasi galaksi. Perlahan tanah gersang yang kosong itu mulai diisi bangunan sederhana. Tempat untuk tidur, beberapa rumah kaca untuk bercocok tanam dan juga sebuah hanggar kecil untuk perbaikan pesawat.
Waktu berlalu tanpa terasa bagi usia para Mu yang panjang. Para anak Mu yang masih kecil kini telah tumbuh remaja dan beberapa telah masuk ke tahapan dewasa, termasuk Harry yang kini telah manjadi seorang pemuda 17 tahun yang mandiri dan mampu mengisi kekosongan posisi Draco yang belum juga membuka mata.
Severus mengawasi segala perkembangan Harry. Bocah yang selalu mengekornya itu kini menjadi sosok yang dihormati oleh para Mu yang lain. Si kecil yang selalu bertanya banyak hal pada Severus itu kini bisa memakai pengetahuannya untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik. Anak yang dulu biasa dia gendong kemana-mana, kini berjalan sejajar dengannya.
"Uncle Sev," Harry masuk ke dalam kamar Severus di Hogwarts, "aku bawakan hasil panen pertama musim ini." Dia meletakkan keranjang kecil di meja dekat tempat tidur, "Bagaimana keadaanmu? Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan diri!"
"Jangan memperlakukanku seperti orang yang sudah tua." Ujar Severus yang memang saat ini sedang sakit.
Harry malah tersenyum senang, "Habis… buatku uncle Sev itu sudah seperti ayah sendiri sih. Jadi… pasrah saja. Lagian dulu uncle Sev juga sering heboh kalau aku kena flu."
"Aku tidak heboh." Severus membalik halaman buku yang dia baca sambil duduk bersandar pada setumpuk bantal, "Bagaimana keadaan di Nazca?" tanyanya pada Harry tentang planet yang mereka beri nama Nazca sesuai petunjuk sang peramal.
"Semua lancar. Theo dan Blaise menciptakan senjata baru untuk dipasang di pesawat tempur."
Mendengar itu, Severus menutup bukunya, "Theo dan Blaise ya… Waktu kecil dulu, mereka juga akrab denganmu, kan? Kau bahkan pernah memangku Theo saat penyerangan sebelum kita sampai kemari."
Harry nyengir, "Sampai sekarang juga masih akrab kok. Theo itu seperti adik yang manis dan Blaise itu seperti saudara laki-laki yang kadang menjengkelkan." Pemuda yang masih mengenakan kacamata mata itu pun membenahi jubah merahnya yang menjadi bukti bahwa saat ini dia adalah pimpinan para Mu, "Aku ke tempat Draco dulu. Uncle Sev kalau sudah sehat datanglah ke shelter, yang lain sudah rindu omelanmu." Sambil terkekeh dia pun keluar dari kamar Severus.
Tak lagi berminat membaca, Severus meletakkan bukunya dan mengambil sebutir tomat dari keranjang yang tadi dibawa Harry. Hasil kebun di Nazca memang sangat memuaskan. Para kaum muda bisa mengolah tanah merah yang tampak gersang itu menjadi tanah subur yang cocok untuk bercocok tanam. Hasil dari kerja keras memang selalu membuat hati bahagia.
Setelah menghabiskan tomat itu, Severus turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Hogwarts sekarang lebih sering kosong karena para penghuninya lebih sering berada di Nazca. Dari kaca jendela, Severus bisa melihat kehidupan di shelter. Keceriaan tampak dimana-mana. Sebuah taman kecil ditumbuhi rumput hijau dan bunga berwarna putih yang menurut 'petugas botani', bibit bunga itu ditemukan di Nazca dan berhasil ditumbuhkan dengan sempurna. Di sana Severus juga melihat Albus berbaur di keramaian, satu hal yang tak biasa, terlebih Mu senior itu sekarang mendapat julukan baru, yaitu profesor, dari para Mu muda.
"Severus, kau mau kemana?"
Suara Madam Pomfrey membuat langkah Severus terhenti, "Aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Bosan di kamar terus."
"Jangan turun dulu ke Nazca. Kalau kau sampai meninggalkan Hogwarts, kau pasti mengerjakan ini itu di shelter." Madam Pomfrey menepuk lengan Severus, "Sesekali kita boleh kok mengandalkan generasi muda." Lalu wanita itu pun berlalu dari hadapan Severus.
Pria itu terus melangkah hingga dia sampai ke bagian tengah Hogwarts yang dibangun sebagai sarana rekreasi bagi mereka yang tinggal di sana. Ada taman luas dengan kolam air mancur di tengahnya. Bermekaran berbagai jenis bunga dan juga rerumputan yang menjadi alasnya. Severus sangat suka bersantai di sini jika dia sedang jenuh. Dia duduk di tepi kolam yang berisi air jernih, membuat suasana menjadi sejuk dan nyaman.
"Sedang bersantai, Severus?"
Tak jauh dari Severus, berdiri seorang gadis cantik berambut coklat berombak yang panjang hingga menyentuh ujung gaun birunya. Dialah Hermione, peramal yang menjadi tempat 'curhat' para Mu tentang berbagai masalah. Gadis ini diberi berkah kemampuan untuk sedikit mengintip masa depan dengan bantuan kartu tarot. Di belakang Hermione ada seorang Mu berambut merah yang merupakan pengawal sekaligus kekasih sang peramal, Ron.
"Boleh aku duduk di sebelahmu?" tanya Hermione.
"Silahkan."
Hermione pun duduk, begitu juga dengan Ron.
Sejenak yang terdengar hanya suara gemericik air di dalam kolam, sampai Hermione bicara juga.
"Beberapa hari terakhir ini, banyak yang datang padaku," Hermione menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga, "sebagian besar yang datang padaku adalah mereka yang telah bersumpah setia pada pasangannya… dan… mereka bertanya padaku apa ada kemungkinan bagi mereka untuk memiliki seorang anak…"
Severus tertegun.
"Kartu tarotku tak berkata apa-apa selain masa depan yang menggembirakan bagi mereka, namun tak memberiku pertanda apa dan bagaimana cara mencapai kebahagiaan itu."
Mereka terdiam. Tak tahu harus bicara apa. Sejak awal masa kehidupannya, Severus hanya tahu bahwa manusia bereproduksi melalui program bayi tabung. Karena itu sudah menjadi pengetahuan umum, Severus tak pernah bertanya. Dia ingat kali pertama dia tiba di Hogwarts dan membaca buku-buku di perpustakaan, dia terkejut mengetahui bahwa dahulu manusia bereproduksi melalui proses alamiah. Janin tumbuh dalam rahim sang ibu dan kemudian dilahirkan dengan proses normal maupun operasi. Akan tetapi entah sudah berapa abad berlalu sejak terakhir kali manusia melahirkan dengan cara normal. Pengetahuan itu dianggap sebagai budaya barbar di tengah kemajuan teknologi.
"Aku ingin mengabulkan harapan mereka, Severus." Ujar Hermione.
Anak…
Memang benar, selama ini anak kecil yang ada di Hogwarts adalah mereka yang berhasil diselamatkan dari aturan kejam yang dibuat para manusia. Tak pernah ada bayi di Hogwarts ini karena mereka memang tak mengembangkan teknologi bayi tabung sendiri.
"Aku akan mencoba mencari sesuatu di perpustakaan," ujar Severus seraya berdiri, "mungkin akan sulit, namun selama mereka masih memiliki keinginan yang kuat, aku akan bantu sebisanya."
Hermione terseyum mendengar itu, "Aku selalu tahu, Severus. Kau orang berhati hangat dibalik wajah dinginmu itu." Dia pun berdiri, "Aku berdoa supaya harapan ini akan terwujud dan Mu akan bisa melangkah ke masa depan baru."
"Ya… kita selalu berdoa akan hal itu."
Severus pun berpamitan dan kemudian menuju ke perpustakaan. Gagasan tentang keturunan para Mu ini membuat semangatnya naik. Dia tak pernah menyangka para pasangan mempunyai pikiran untuk memiliki keturunan sendiri. Tapi seperti apa yang dia katakan barusan, selama ada harapan, Severus akan mencoba mewujudkannya.
Entah kenapa, Severus tahu kalau ide ini akan disambut baik oleh para Mu yang lain.
oxoxoxo
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
To Be Continue
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
oxoxoxo

Bayangan (Pohon Cerita)

Link asli ada di sini

-----------

Disclaimer: Semua karakter dalam Harry Potter adalah milik JK Rowling. Bukan untuk kepentingan komersial. Fanfic ini hanya hiburan semata.
Rated: K-T - B.Indonesia - Drama atau Family
Awal cerita oleh: Anne
Partisipan : Ambu, Anne, Aisyah, Rury, Astrin, Winda

Penulis yang melanjutkan, harus melanjutkan dari tanda [ :: nama penulis :: ] yang ditinggalkan penulis sebelumnya.

Spinner's End, 8 Januari 2006

Debu-debu tebal masih menyelimuti perabotan di rumah Severus Snape. Sofa, lemari, meja tulis, semua ditutupi kain putih, kontras dengan kegelapan di sekelilingnya.

Cahaya bulan masuk ke dalam ruangan tidur Snape. Tidak ada tirai menutupi jendela. Hanya debu tebal keperakan yang merayakan terangnya malam. Barisan botol ramuan masih berjejer rapi di kabinet dekat perapian kamar. Hampir semuanya kosong, tidak seperti waktu ia masih bekerja di Hogwarts.

Pemandangan sendu ini sudah bosan ia lihat setiap malam. Kadang ia melihat Mr.Filch datang membersihkan tempat ini, tapi sudah seminggu ini pak tua itu sudah tidak pernah lagi. Mungkin sakit? Entahlah.

Lagipula ia hanya hantu sekarang. Hantu kesepian. Tanpa bayangan.

[ :: Anne :: ]
Sudah 1 windu ia meninggalkan jasadnya di dunia, namun tak pula ia bisa menuju kehidupan selanjutnya. Menumpuk rindu untuk bertemu dengan wanita yang ia yang sangat ingin ia jumpai. Satu-satunya wanita di hatinya baik dalam kehidupan, maupun kematian. Namun, belum juga ia bisa temui, karena ada satu hal yang belum ia tuntaskan.

[ :: Aisyah :: ]

Entah hal apa yang membuatnya tertahan tidak bisa segera bersatu dengan pujaan hatinya, bunga Lilynya. Ia sendiri pun tak tau apa gerangan. Sungguh ia penat menjadi sosok tak berjasad seperti ini.

Ditatapnya pemandangan di luar, sepertinya hari ini, hari kedelapan setelah para muggle itu merayakan tahun baru. Hei, itu berarti besok adalah hari ulang tahunnya. Tapi yang keberapa? Entahlah telah lama ia tak lagi menghitung berapa umurnya. Sejak Lily pergi meninggalkannya, ia sudah tak peduli lagi akan hal-hal remeh seperti itu. Apa lagi kini saat ia hanyalah sesosok tanpa bayangan yang kesepian.

[ :: Rury :: ]

Snape termenung dalam kegelapan , seluruh pikirannya sekarang terpusat pada lily sang pujaan hatinya , ia selalu berharap bahwa kematiannya akan bisa membawannya pada Lily, namun Sekarang apa ? Hanya dia yang terperangkap kejamnya kehidupan sihir . Snape tak ingin berlama-lama terperangkap oleh pikiran itu,Ia mulai bangkit dan dari pikiran itu dan memutuskan untuk memulai menjalankan misinya .

[ :: Winda ::]

9 Januari 2006

(di lokasi lain) Seorang pria muda bergegas memasuki lift telepon umum. Lift itu akhirnya membawanya ke atas. Untunglah tidak ada Muggle terlihat. Harry tidak pernah merasakan kalang kabut seperti ini. Pikirannya pun kalut dan sulit berkonsentrasi. Ron barusan mengirimkan perkamen, "Harry, aku dan Hermione mengantar Ginny ke St.Mungo. It's time. Mom menjaga anak-anak. Nyusul ya."

Ginny mau melahirkan! Harry bahagia tapi juga khawatir. Mudah-mudahan ia masih bisa tiba di rumah sakit tepat waktu.

--

Sudah lama ia tidak meninggalkan Spinner's End sejak kematiannya. Ia seolah terkurung di rumah itu, padahal sebenarnya ia bisa bebas bepergian. Setiap keluar dari Spinner's End membuatnya selalu takut kehilangan rumah itu dan tak bisa kembali. Karena ia tahu banyak hantu lain yang datang ke rumahnya mencari kesempatan untuk menempati rumah peninggalan orangtuanya ini.

Pagi ini ia merasa berbeda. Ini hari ulang tahunnya. Ia merasakan rindu yang amat sangat. Rindu pada Lily, rindu kehangatan keluarga. Tiba-tiba ia teringat, meski ia tidak pernah bisa lagi bertemu Lily (setidaknya belum), mungkin salah satu cara bisa dekat dengan Lily adalah mengunjungi rumah Harry Potter.

[ :: Anne ::]

Dalam sekejap ia sudah berada di depan salah satu rumah di Godric Hollow. Rumah yang dari dulu selalu ia hindari, rumah yang selalu membawa trauma, kenangan buruk.

...sepi.

Apakah keluarga Potter tinggal di sini? Apakah mereka tidak tinggal di Grimmauld Place, peninggalan keluarga Black?

Tapi ia bisa merasakan, ada jejak rasa, ada jejak tindakan sihir yang melingkupi. Keluarga Potter belum lama meninggalkan rumah ini. Mungkin dalam hitungan beberapa puluh menit.

Melayang ia memasuki rumah, melewati tembok depan. Semakin terasa jejak rasa keluarga Potter: Potter muda, gadis Weasley, dan ada jejak rasa anak kecil.

Ia berhenti di depan perapian.

Ada jejak rasa beberapa orang lain, sepertinya salah satu Weasley bersama nona Granger. Ah, tentu saja, saat ini sudah tak ada gadis Weasley atau nona Granger. Semua sudah berstatus nyonya.

Dan sepertinya--dari jejak rasa yang mereka tinggalkan, mereka pergi dalam ketergesaan!

Sepotong perkamen nampaknya terjatuh di depan perapian. Sepertinya kartu nama.



Magi-mid-wife Helen Whiteheart - St Mungo.

Bidan?

[ :: ambu :: ]

St.Mungo.

Ron dan Hermione menyambut Harry setibanya di rumah sakit. Ditemani sahabat-sahabatnya di saat genting, membuatnya merasa beruntung. Ginny sudah dipindahkan ke ruangan lain. Tangis bayi terdengar dari ruang operasi. Jantung Harry berdegup kencang.

Seorang magi-mid-wife (bidan) tampak mendekat. "Mr.Potter, istri Anda sudah menunggu, silakan ikuti saya."

Harry lega. Ternyata tadi suara bayi penyihir lainnya. Ia bergegas menuju ruang persiapan operasi. Helen Whiteheart menjelaskan proses operasi dengan cepat. Wanita keturunan Goblin ini terlihat gesit, dan cekatan. Tak lupa ia mengingatkan Harry untuk memakai jubah steril dan mencuci tangan. Ginny sudah menunggunya. Ada beberapa asisten bidan lain membantu Mrs.Whiteheart terihat sibuk mempersiapkan kelahiran bayinya.

"Harry!! (mengatur napas) James ada di The Burrow. (mengatur napas). Kau sudah makan?! (mengatur napas) . Bayi ini sepertinya sudah tidak sabar! (mengatur napas)." Ginny terlihat bersemangat. Dan cantik. Harry mengecup keningnya.

"Sabar cantik. Semua baik-baik saja. Ayo atur napasmu lagi. Kita sambut anak ini bersama-sama. "

[ :: Anne :: ]

------

Sementara itu di Godric Hollow, Severus Snape mencoba mengartikan kartu nama yang ia temukan barusan. Siapa yang melahirkan?

Severus melayang lagi, pergi menuju suatu tempat. Satu rumah lagi untuk memastikan tentang kecurigaannya. Ia melayang menuju The Burrow.

Severus masuk menembus tembok, ia melihat Molly Weasley sedang bermain bersama dua anak kecil di dekat perapian. Tanpa pikir panjang, Severus menghampirinya.

"Molly, katakan siapa yang melahirkan?"



Molly Weasley sejenak bergidik, sehembus angin dingin melewati tengkuknya. Ia merasa seperti dipanggil seseorang. Tetapi hanya ada dia dan cucu-cucunya kan dirumah ini?

Molly mengecek perapian, mungkin Arthur baru saja datang. Tetapi perapian kosong, tak ada jejak api hijau yang tersisa.

"Tetap di sini, anak-anak. Grandma akan ke sana sebentar."

Molly beranjak untuk melihat ke depan rumah, mungkin saja ada seseorang yang memanggilnya dari luar.Halaman rumah pun kosong. Tak ada siapa-siapa. Molly merinding memikirkan kemungkinan yang terjadi. Ia cepat-cepat kembali bersama cucu-cucunya. Semoga Ginny baik-baik saja, harap Molly dalam hati.

Merasa tidak dapat jawaban, hantu Severus Snape mencoba mencari keberadaan Potter lain di lantai dua. Tak ada siapa-siapa. Benar-benar hanya Molly dan anak-anak itu saja di rumah ini.

Severus Snape kembali mengingat nama yang tertera pada kartu nama yang tadi ditemukannya di Godric Hollow. Ia berpikir untuk mencari matron itu di St. Mungo. Ia melewati Molly dan anak-anak itu, melayang menuju rumah sakit. Sayup-sayup, ia mendengar kedua anak kecil itu menangis histeris.

[ :: astrin :: ]

(tarik napas) (buang) (tarik napas) (buang)

“Sedikit lagi, nyonya! Sekarang sudah bukaan 9. Janganmengedan saat belum mulas. Ingat, buang napas lewat mulut, pelan-pelan. Sekalilagi—“

(tarik napas) (buang)

“Bukaan 10—“

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Bersamaan dengan jeritan tertahan Ginny, pecah pula tangisan bocah mungil yang baru saja meluncur keluar dari rahim yang gelap ke dunia yangtera ng benderang.

Bidan sudah bersiap menerima bayi itu, kemudian menelungkupkannya di atas tubuh Ginny.

“Ti-tidak dibersihkan dulu, Madam?”

Bidan Helen menggeleng. Dia bertindak cepat, mengambil gunting tajam steril, menggunting tali ari-ari.

“Sekarang plasenta-nya, nyonya—“

Tepat saat Ginny merasa mulas lagi. Tapi kali ini tidak sehebat mulas yang tadi. Sekali mengedan juga, keluar semua plasentanya.

Syukurlah,” bidan Helen menerima luncuran plasenta, dan menyimpannya dalam baskom alumunium.

Sementara itu, bayi yang ditelungkupkan di atas badan Ginny, refleks maju merangkak mencari sesuatu. Mulutnya mengecap-ngecap. Dengan mata yang masih setengah tertutup, merangkak refleks, akhirnya bibir mungilnya berhasil meraih yang ia inginkan. Otomatis gerakan menyedot dilakukan.

“Ia—ia menyusu!” sahut Harry kagum.

“Harry, dulu James juga kan begini—“ sahut Ginny, sambil masih terengah.

Bidan Helen tersenyum. “Itu Inisiasi Menyusu Dini. Gerakannya refleks kan?”

Ginny mengangguk.

Bidan Helen membersihkan bekas-bekas melahirkan di tubuh Ginny dengan cepat, dan dalam satu gerakan juga membersihkan tubuh mungil bayi yang masih tetap menyusu, sekaligus membungkusnya dengan kain flanel. Bayi mungil itu menyelesaikan menyusunya yang pertama, dan tertidur di pelukan tangan kiri Ginny. Tapi tidak, ia terbangun sesaat, membuka matanya yang kecil, dan--

“Ginny—“ bisik Harry perlahan, “—matanya—“

Ginny mengangguk pelan. “Matanya persis Lily—“

Di sudut kamar bersalin, sesosok gelap yang baru saja masuk, menyusup lewat tembok, tertegun mendengar bisikan Ginny.

[ :: ambu :: ]

Snape tertegun. Ingatannya kembali ke masa lalu, ketika ia dan Lily remaja sedang rebahan di rumput, melihat awan-awan saling berkejaran di siang hari yang cerah.

"Sev, lihat awan itu, bentuknya seperti rusa kecil! Dan itu! Itu! Yang di kanan itu mirip bayi!" Lily menunjuk ke atas langit. Snape mengikuti arah telunjuk Lily yang mungil, masih terdiam.

"Hmm..kalau aku nanti punya anak, mirip siapa ya Sev, kira-kira?"

Snape menjawab, Mirip Lily pastinya. Tapi tentu saja itu hanya jawaban di dalam hati. Lagipula, siapa dia, ikut jawab pertanyaan seperti itu? Mereka tidak pacaran. Setidaknya, meski sudah sering jalan bareng, Lily tidak pernah bilang suka padanya.

"Kayaknya aku ngomong ama patung ya. Sev, jawab dong."

Snape mendengus kecil. Selalu seperti ini. Lily melempar pertanyaan yang membuat ia salah tingkah. Jawab salah, tidak dijawab salah. Membayangkan bisa pacaran dengan Lily aja sudah hampir tidak mungkin, apalagi berkhayal tentang anak Lily?

Tiba-tiba ia mendengar suara bayi. Pusaran kenangan tadi terhenti.

Suara cucu Lily. Dan kalau saja semua terjadi pada waktu dan kejadian berbeda, bisa saja itu cucunya juga. Snape menghela napas dengan sedih, lalu mendekat melihat bayi mungil yang kini sedang didekap oleh Harry.

[:: Anne ::]

Severus Snape melayang mendekati Harry yang sedang menggendong seorang bayi. Ia berusaha melihat wajah bayi mungil itu dari balik punggung Harry.

Tampan. Dan memiliki mata Lily.

Severus terus menatap bayi laki-laki itu. Ada perasaan haru di hatinya saat memperhatikan wajah lugu bayi itu. Bagi Severus, bayi itu mirip Lily, tetapi juga sekaligus mirip Harry.

"Kau akan seperti ayahmu, nak. Kau akan menjadi orang besar seperti ayahmu, Harry Potter." Ucap Severus.

"Profesor Snape?" Harry terkejut mendengar namanya dipanggil dengan lembut oleh seseorang. Ia membalikkan tubuhnya dan mencari asal suara. Tetapi nihil, tak ada sosok yang ia bayangkan. Ia yakin ia mengenali suara itu. Tidak mungkin ia salah.

Severus melayang mundur menjauhi Harry Potter. Ia takut kalau-kalau Harry mengetahui bahwa ia di sini untuk mencarinya.

Ginny yang melihat suaminya kebingungan, bertanya, "Ada apa, Harry?"

"Aku mendengar suara Profesor Snape barusan. Aku yakin ia memanggil namaku."

Potter kecil dalam dekapan Harry menangis, terusik oleh gerakan tiba-tiba ayahnya. Harry akhirnya memberikan putra kecilnya kepada healer. Ia menghampiri Ginny dengan masih setengah berharap dapat menemukan sosok Profesor Snape.

"Sudahlah sayang, kau hanya terlalu memikirkannya. Berhentilah untuk terus merasa bersalah padanya. Kau sudah berbuat banyak untuknya, Harry."

"Yah, mungkin kau benar, sayang. Aku hanya terlalu memikirkannya."

[ :: astrin :: ]

"Harry.. bukankah ini tanggal 9 Januari? Hari ulang tahunnya! Mungkin karena itu, tiba-tiba kau memikirkannya", ujar Ginny.

"Ah, tentu saja! Ini hari ulang tahunnya yang ke-46. Putra kedua kita lahir pada hari yang sama dengannya...", ucap Harry tertahan.

"Dan matanya, seperti mata Lily, wanita yang selalu di hatinya", sambung Ginny.

"Severus", mereka berseru bersama, memikirkan hal yang sama.

"Tapi, kita sudah sepakat akan memberinya nama Albus, sayang", ujar Harry ragu.

"Tambahkan Severus kalau begitu. Albus Severus Potter", lanjut Ginny.

Bayi dalam gendongan Ginny membuka matanya kembali seakan merasa dipanggil, kemudian menatap ke arah Severus Snape, seakan bisa melihatnya, lalu tersenyum. Severus Snape tertegun, Mata hijau kembali bertemu dengan mata hitam. Kemudian dua Severus saling tersenyum, hangat rasanya.

"Wow, ia tersenyum, tampaknya setuju, Harry", kata Ginny.

Harry berbisik lembut pada putranya, "Selamat datang, Albus Severus Potter. Namamu sama seperti kedua idolaku, para pelindungku. Salah satunya adalah pria yang paling berani yang pernah kutemui. Semoga kau sehebat mereka".

[:: Aisyah ::]

Ingin rasanya Snape menangis, tapi ternyata menangis sudah tidak bisa dilakukannya lagi sekarang.

Tak lama, Ginny dipindahkan ke ruang perawatan. Harry, Ron dan Hermione ada di kamar itu. Hermione membantu Ginny supaya bisa nyaman tiduran, sementara Harry dan Ron berbincang pelan.

Sebelum sempat mundur ke belakang, Harry berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan dari menara St.Mungo. Masih tetap aneh rasanya membiarkan seseorang melewati tubuhnya tanpa terasa apa-apa. Seperti ini rasanya menjadi hantu, pikir Snape.

Harry berdiri menghadap jendela.

"Andai Lily ada di sini, Harry," ucapnya pada Harry. Ia berharap Harry bisa mendengarnya.

Harry terkesiap saat melihat pantulan bayangan. Ia yakin betul sempat melihat sosok Snape sekilas, tapi lalu sadar itu bayangan Ron yang malam itu memakai kemeja biru tua. Ia menutup tirai jendela, dan ngga tahu kenapa, ia berbisik, "Ya, wish she was here too."

[:: Anne ::]

Melihat gelagat Harry, Snape berusaha kembali memanggilnya dengann suara yang lebih keras, "Harry!!!"

Snape pun, berkonsentrasi, berusaha mengeluarkan semua energinya, agar ia dapat menampakkan diri. Ah, rasanya sungguh panas, dan ia hampir terjatuh ketika akhirnya Harry tampak menyadari kehadirannya, "Profesor Snape?"

"Ha.. Harry, kau bisa mendengarku? Kau bisa melihatku?", tanya Snape.

"Ya, aku bisa. Ini benar-benar Anda, Profesor? Tapi mengapa? Bukankah seharusnya Anda jalan terus"

"Aku tidak bisa melanjutkan perjalananku, Harry. Jiwaku tertinggal di bumi selama delapan tahun ini. Bahkan untuk menjadi hantu pun aku sulit. Baru kali ini aku benar-benar bisa menampakkan diriku".

"Oh, maaf Profesor. Aku tidak tahu.. Aku.. aku menyesal Profesor, aku tidak tahu apa pun tentang Anda, kebaikan Anda, usaha Anda melindungiku, dan cinta Anda pada ibuku...", Harry tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya, ia terisak.

[:: Aisyah ::]

Snape terdiam. Ia baru sadar hanya Harry yang bisa melihatnya. Ron dan Hermione melihat ke arah Harry dengan heran. Ginny tampak terlalu lelah untuk menyadari peristiwa ini, sepertinya ia sudah tertidur.

"Ada apa? Ada apa Harry? Kau bicara dengan siapa?" Hermione mendekati Harry dengan khawatir.

Harry buru-buru menghapus airmatanya. "Hermione, Ron, kapan-kapan aku jelaskan. Bisakah kau jaga Ginny dulu? Sepertinya Snape barusan.." Harry kesulitan mencari kata yang tepat.. ".. menghubungiku."

"Snape? Di sini? Sekarang? " Ron pucat pasi. Hermione menyikutnya dengan halus.

"Take your time, Harry. Tapi, kau akan pergi ke mana?"

"Aku tidak akan kemana-mana." Harry melihat ke arah Snape yang terlihat lelah. "Tapi mungkin aku perlu waktu di kamar ini sendiri. Maksudku, sementara Ginny tertidur, aku harus bicara dengan Snape."

"Baiklah. Kami..ada di luar kamar, Harry. " Hermione bergegas menggandeng Ron yang terlihat masih bingung dan penasaran.

Snape bersyukur, kini ada waktu untuk bicara langsung pada Harry. "Terima kasih Harry. Saya juga ingin minta maaf atas perlakuanku padamu dulu. Kini aku sadar, itu hanya merugikanku sendiri, dan Lily pasti sedih..dan aku pasti mengecewakannya, karena aku dulu tidak mau berteman denganmu."

Harry hanya bisa melihat Snape dengan mata berkaca-kaca.

Snape merasa energinya mulai melemah.

"Harry, aku harus pergi. Aku tidak tahu apa bisa bertemu denganmu lagi. Kuharap hidupmu bahagia,.. salam untuk Ginny, dan bayi Albus..Terima kasih sudah mengingatku dengan menamakan anakmu dengan namaku."

"Professor.." Harry tercekat. Bayangan Snape lama-lama memudar. Menghilang. Harry merasa begitu sedih, tapi juga sangat lega. Seolah beban pikiran yang terberat terangkat karena ia dan Snape sudah saling memaafkan.

9 January 2013

"Hati-hati James, jangan kau dorong adikmu!" seru Ginny. Lilly Luna digendong di atas kepala Harry.

"Kemana kita Papa?" Lilly kecil bertanya.

Harry dan Ginny berpandangan dan tersenyum.

"Mari kita pulang." kata Harry. James dan Albus berlarian di belakang mereka. Keluarga Harry beranjak pulang.

Di belakang mereka ada nisan batu pualam besar. Tertulis di sana,

RIP. Severus Snape. 9 Januari 1960- 1 Mei 1998. A friend, a hero, a potion master.

Sekumpulan bunga Stargazer Lily tumbuh subur di dekatnya. Ginny dan Harry selalu datang untuk merawat tumbuhan itu, agar selalu menemani Snape selamanya.

-- Fin/ End ---