Showing posts with label Genre Angst. Show all posts
Showing posts with label Genre Angst. Show all posts

Saturday, 8 February 2014

Monokrom (Sabaku no Ghee)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini

Monokrom
A Fanfiction By Sabaku no Ghee
Harry Potter by J.K. Rowling
Romance, Angst, Slice of Life
JPSS, mention of SSLE
WARNING : shonen ai. Maybe OOC. AU.
Dibuat untuk Challange 'SNAPE DAY – Challenge Profesi Lain' oleh Ambudaff
.
(xXx)
.
PRAK—!
Tumpukan kertas berisi deretan angka dihempaskan begitu saja ke permukaan meja kayu berharga puluhan ribu poundserling. Wajah dengan ekspresi berkerut tanda tak puas tanpa basa-basi diperlihatkan. Bola mata keabuan itu seakan ingin menelanjangi staf keuangan di hadapannya. Gadis bersurai pirang sepunggung yang sedang 'disidang' itu berusaha terlihat tenang sekalipun caranya menelan ludah merupakan bukti nyata kalau ia ingin cepat-cepat minggat. Namun tentu saja, direktur divisi finance berusia tiga puluhan awal ini tidak pernah kenal kompromi.
"Akhir tahun di depan mata. Kantor konsultan pajak dan akuntansi akan memeriksa semua aktivitas finansial kita. Anda pikir, hanya karena alasan 'saya ceroboh', maka laporan keuangan ini bisa lolos begitu saja dari auditor?" suara dengan nada muram itu terdengar menghakimi, "Saya tidak akan membuang waktumu." gumamnya tegas sambil menyodorkan tumpukan kertas tersebut, "Butuh berapa menit untuk memperbaikinya, miss White?"
"Segera..." jawabnya pelan dan kaku, "Se—setengah jam, mr. Snape."
Pria berambut hitam sebahu itu mengangguk. Alih-alih memberikan respon verbal pada sang bawahan, ia kembali berkutat dengan laptopnya. Memperhatikan pergerakan grafik indeks saham NASDAQ yang selalu berubah setiap detiknya, "Bawa pekerjaanmu keluar. Temui saya dua puluh menit lagi."
"Baiklah, mr. Snape." jemari lentik sang gadis menyambar puluhan lembar HVS berukuran legal tersebut. Langkahnya sengaja dipercepat, mempertontonkan senyum tak enak sebelum ia membuka pintu, "Saya mohon diri." dan menghilang tanpa mengharapkan balasan. Meninggalkan atasannya kembali larut dalam kesendirian.
Pria yang dipanggil 'Snape' barusan terlihat acuh.
Dan segalanya berjalan seperti hari-hari kerja biasanya.
Telepon dari distrik tetangga, perjanjian kerja sama dari perusahaan kerabat, fax-fax dari negara sebelah, nilai saham, harga tukar valuta asing, bundelan dokumen yang harus dibubuhkan tanda tangan—monoton.
Severus Snape, seorang pria jenius asal London, dengan embel-embel 'lulusan terbaik' Oxford. Ia berhasil tamat dengan gelar kehormatan summa cum laude, mengambil dua studi dari bidang perekonomian sekaligus, dan baru saja menyelesaikan master-nya di Princeton untuk cabang ilmu financial engineering. Kehidupan masa kecilnya tidak bisa dibilang menyenangkan. Ibunya masih keturunan duke namun ayahnya tak lebih dari pria brengsek yang melarikan diri ketika dirinya masih dalam kandungan. Kasih sayang ibunya juga tidak pernah tergolong spesial. Hari-harinya di sekolah dulu dijejali dengan materi pelajaran dan buku-buku tua. Pergaulannya minim. Kegiatan ekstrakulikuler selalu ia tinggalkan. Perpustakaan dan halaman belakang sekolah justru menjadi tempat favoritnya.
Semenjak kecil, tumbuh remaja, dan menjejak dewasa, pria dengan rambut hitam membosankan dan hidung bengkok itu tidak pernah menjadikan interaksi sosial sebagai hobi pribadinya.
Kecerdasan memberikannya beasiswa sana-sini. Ia bimbang ketika harus memilih Princeton atau Harvard. Sampai akhirnya ia lulus dari kampus pertama yang berlokasi di New Jersey, Amerika Serikat, ia kebingungan lagi untuk menjadi manajer keuangan di perusahaan real estate atau terjun di manajemen perhotelan. Ada satu titik di mana akhirnya Severus Snape memutuskan untuk tetap berkarir di bidangnya. Dan, di tempat inilah ia menghabiskan hari-hari sibuknya. Sebuah kubikel mewah di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit dengan interior kelas eksklusif. Sedan mewah disiapkan di tempat parkir khusus dengan supir siaga dua puluh empat jam. Harga yang cukup tinggi agar otak jeniusnya bisa dimanfaatkan oleh perusahaan yang omset per tahunnya menjapai angka jutaan dollar.
Severus Snape tidak bisa dianggap enteng. Jerih payahnya bertahun-tahun terbayar dengan seluruh fasilitas yang ia dapatkan. Ia masih serius menatap layar komputer pangkunya yang menayangkan garis-garis naik-turun. NASDAQ, indeks yang mewakili perusahaan-perusahaan di bidang teknologi melaju di jalur hijau lagi. Mungkin ia akan mempertimbangkan untuk membeli beberapa lot saham atau Dell. Tampak puas, Severus Snape membuat posisi duduknya menjadi lebih santai. Hal yang membuatnya tanpa sengaja menyenggol sebuah benda. Suara berdenting terdengar ketika benda berbahan logam tersebut bertemu dengan lantai granit hitam.
Astaga, bingkai foto yang dibelinya ketika studi banding ke Praha!
"Bloody hell." segera dipungutnya benda tersebut untuk menyingkirkan debu yang sedikit bertengger.
Dalam diam, Severus Snape menatap mata-mata yang ada di sana. Tanpa sadar sorot yang biasa menusuk itu menjadi redup. Ada dirinya di sana, bersama seorang wanita dan anak lelaki berumur lima tahun. Menara Eiffel yang terkenal sebagai lambang kota Paris menjulang gagah sebagai latar belakang. Senyuman perih pun tak pelak kembali terukir. Apa kabar mantan istri dan anaknya hari ini? Severus Snape menarikan ujung jemarinya pada pinggiran bingkai itu. Apa kabar wanita kuat bernama Lily Evans setelah perceraian mereka? Kali ini ia menghela napas berat sambil mengetuk pelan kaca bingkai tersebut. Apa kabar juga Harry setelah memutuskan ikut dengan ibunya?
Tidak tahu, dan mungkin Severus Snape, 37 tahun, duda beranak satu ini tidak ingin terlalu mencari tahu. Semenjak sidang keberapa, ia sendiri tidak begitu ingat, pengacaranyalah yang hadir di pengadilan karena jadwal padatnya berupa rapat penting dengan perusahaan tetangga. Mungkin sejak pertama kali ia dan Lily saling membentak, ketika itulah hidupnya yang warna-warni mulai monokrom.
Ah, bukan. Coba mundur sekian tahun. Apakah sejak Harry mulai masuk sekolah? Ketika mereka bertengkar karena Severus tidak bisa mengantar Lily untuk mengambil laporan pendidikan anak tunggalnya? Mundur, ataukah karena ia tak pernah menginginkan pernikahannya dengan wanita itu? Mundur, sejak pelarian dirinya dari sesuatu, yang mengirimkannya ke Princeton selama tiga tahun?
Rasanya tebak-tebakan ini tak pernah berujung.
Severus Snape melonggarkan dasinya. Ia biarkan leher dan dadanya yang berkulit putih terkena semprotan udara dingin dari arah pengondisi udara. Posisi tubuhnya sengaja ia rebahkan ke belakang. Kedua bola matanya terpejam untuk sejenak menikmati rehat singkatnya. Ketika itulah, dingin menggigit yang berasal dari benda berbahan metal serasa menembus kulit pucatnya. Severus tersentak, meraba apakah gerangan yang menempel di dadanya itu. Ah. Metal berbentuk bulat. Logam murni berupa emas putih. Tepatnya sebuah cincin yang sudah lama dijadikannya leontin. Pengganti rosario perak yang dahulu selalu ia kenakan yang kini—ada di mana ya? Otaknya yang biasa berputar keras kini membeku. Sebeku hatinya yang telah ia putuskan untuk kunci rapat-rapat setelah orang itu—
Oh.
Itu dia.
Kalau mundur lagi, satu hari, dua hari, tiga hari sebelum pertunangannya dengan Lily Evans. Dua hari sebelum ia menyelesaikan urusan passport dan visa pelajar. Satu hari sebelum ia bertolak dari Bandara Internasional Heathrow, London. Genggamannya di cincin platina itu mengerat, menolak untuk mengingat pernikahan ilegalnya dengan seseorang yang tak ingin ia ingat namanya. Hari di mana ia mulai kehilangan warna dan makna hidupnya.
Ah, siapa namamu, pemuda yang dahulu pernah dicintainya? Kenapa yang tersisa di ingatannya hanyalah rambut hitam berantakan dan bola mata hazel yang hangat? Sudah selama itukah waktu berlalu semenjak kepergian dirinya yang membuat hidupnya hitam dan putih? Tak ada rasa tersisa setiap kali cincin tersebut mengingatkannya pada malam pengantin itu. Ketika pemuda berkacamata itu mengucapkan janji sehidup semati di hadapan salib maha agung. Saat kekasihnya melingkarkan cincin platina di jari manisnya, dan Severus muda menyerahkan rosario perak yang selalu dikenakannya. Terakhir kalinya mereka saling menatap, memeluk, mencumbu—
bercinta.
Severus terdiam.
Dimanakah kekasih abadinya, yang sudah berhenti dicintainya? Bagaimana kabar ruang kecil yang terkunci rapat jauh di palung hatinya, yang khusus disediakan untuk dirinya? Apakah dia masih suka permainan tolol beregu yang melibatkan bola bodoh itu? Apakah dia masih sering melontarkan lelucon konyol lalu menertawakan guyonannya sendiri? Apakah dia kini menikmati kegiatan menjahili rekan kerjanya ataupun membuat onar di ruang pribadi atasannya? Apakah dia kini sedang duduk di sebuah restoran bersama kolega bisnisnya? Apakah dia kini telah membentuk sebuah keluarga, dengan seorang istri yang cantik dan dikelilingi anak-anak yang manis?
Apakah kenangan itu masih tersisa?
James Potter, masihkah kau mengingat seorang Severus Snape?
Knock-knock
Paras tirus itu kembali menampakkan ekspresi angkuh, "Masuk."
"Permisi mr. Snape, laporan keuangan proyek di sudah saya perbaiki. Bagian auditing dan administrasi keuangan telah merevisi bagian—" ocehan itulah yang setiap hari masuk ke gendang telinganya.
Baginya, kata-kata cinta telah kehabisan makna.
Hidupnya sedari awal tidak pernah diramaikan warna. Porsinya disediakan dalam palet monokrom yang tak jauh dari hitam dan putih. Sebuah episode hidupnya sempat berubah ketika pemuda agresif itu mengetuk pintu rumahnya. Kebersamaan singkat penuh kenaifan dan janji yang kini tak pernah bisa mereka wujudkan. Orang itu pernah menjamah hati dan pikirannya. Mewarnai kanvas kehidupan miliknya menjadi secerah pelangi. Namun sekarang tangan yang Severus punya hanya bisa menggerakkan perusahaan. Ia sudah kehabisan tenaga dan keinginan untuk menyentuh jiwa orang lain. Dunianya kembali meredup dan optimismenya hanya berlaku pada strategi bisnis.
Severus Snape adalah seorang direktur di bidang yang sangat ia kuasai. Ia bisa membuat kalang kabut investor Eropa Barat bila absen kerja satu hari. Ia adalah 'siapa-siapa'. Ia adalah orang penting di London dan memegang sejumput kekuasaan finansial di Inggris.
Tapi satu hal.
Severus Snape terperangkap dalam dunia kecilnya yang monokrom.
Dan khusus untuknya, menu sehari-hari berupa kehampaan disediakan di atas piring bernama dimensi waktu yang selalu berjalan terlalu lambat.
.
(xXx)
.

Never Alone (Zang)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini

Title : Never Alone
Rating : K+
Genre : Angst
Characters : Snape, Dumbledore
Summary : Snape realized he shouldn't consume a candy, especially made from lemon. But he didn't care. He was better, only felt slightly nauseous from the residue of the medicines he had previously taken. "Yes, please." For Yes To Lemon Drops challenge by RhiannanT in Potions and Snitches and for Snape Day 2014 in Infantrum.
Disclaimer : Harry Potter belongs to JK Rowling.
.-.-.
Snape hated medicines.
Well, he didn't resent those capsules or tablets. He only loathed them when he was sick and had to consume them. He could just throw them away, but then, how could he heal? Taking a bed rest sometimes wasn't enough.
When he had been young, bitter medicines had made him vomit. He couldn't just swallow them, with water or else. Being sick was annoying, but the real torture was when it's time for those capsules or tablets to go through his throat. He had ever asked for potions as the substitute but the healer he frequented said that potions for certain sickness had limitations. Snape had surrendered and braced himself every time he had to take the medicines. Until now, fighting dragons still looked more appealing than fighting medicines.
So, Snape tried his best not to get sick. He might be thin but he had some muscles. When he had a chance, he exercised. He did everything to stay healthy.
Unfortunately, right after the celebration of his birthday party, the twenty four year old man fell ill. Snape suffered dysentery. It must have been from something he had eaten. He had adamantly refused Dumbledore's offer to celebrate the special day, but the old man had been persistent. After having adjusted their robes into Muggle clothing, all the Hogwarts staff had gone to a Muggle restaurant and had eaten there. Everyone was fine the next day, except Snape.
Pomfrey panicked because her young patient kept vomiting the medicines. Snape even pitied her, and embarrassed too because she had to help him to go to the bathroom.
"You're getting worse," Dumbledore said. He quietly sat beside Snape's bed. The twinkle in his eyes was gone. The man's face was lined with worry, especially when he looked at a magical IV connected to Snape's hand.
Snape hoarsely answered, "I think so." Even talking exerted his energy. He felt totally drained.
"A trip to St. Mungo is in order if he still vomits and the bathroom visit is still this bad," Pomfrey told his employer.
Snape opened his eyes, shaking his head. The world was spinning worse than before. "No! Not St. Mungo." Although people knew he was not a Death Eater anymore, he was still treated badly, no matter where.
"You can barely speak, you can't stand and you're shaking," Pomfrey put her cool hand on Snape's forehead.
Snape was sure he had caught another illness. It's like a combination of dysentery, flu, fever, cold and other things Snape had difficulty to mention at the moment.
Dumbledore patted Snape's back softly when the Potions Master vomited again.
Pomfrey gave him another medicine when one of the pills couldn't make it past his throat.
"It's not a curse, isn't it?" Dumbledore whispered.
Pomfrey shook her head. "No, Sir. His immune is dropping. It's like he's been healthy for a long time and then caught many illness in a sudden."
When Snape opened his eyes again, the first thing he saw was a very long beard and the first sound in his ears was a soft snore. "Headmaster?"
Dumbledore didn't wake up. He stayed still in his conjured sofa.
It brought a smile to Snape. He knew it was already night, yet this annoying old man didn't leave his side. He felt like a small boy being waited by his father. Something his own father had never done.
Snape's scratching his pale hand that woke Dumbledore.
"Severus? Do you need something?" was the headmaster's first words.
"No, I don't need anything."
Dumbledore examined him and then smiled. "How are you, my boy?"
It's hard not to smile back to Dumbledore. "I feel better."
Dumbledore gave him a glass of water, which Snape was very thankful. After saying thank you, he noticed several wrappings next to Dumbledore's book.
The other wizard knew it. "Lemon Drop?"
Snape realized he shouldn't consume a candy, especially made from lemon. But he didn't care. He was better, only felt slightly nausea from the residue of the medicines he had previously taken. "Yes, please." He refused Dumbledore's offer to open the wrapping.
Miraculously the bitterness in his mouth was gone, replaced with sweet and sour taste.
"Why are you frowning?"
"It's good!"
Dumbledore chuckled. Trust Snape to have a nice facial expression, and you'd be mostly disappointed.
"Now I see why you like them so much."
"Ah. Lemon Drops are the best thing that could happen in Wizarding World," Dumbledore humbly said.
Snape believed that he recovered pretty quickly because Dumbledore and Pomfrey kept him company. It was bad to be bedridden, but not so miserable when he had regular visitors, even though one of them was a healer.
After being discharged from the infirmary, Snape ordered packs of Lemon Drops, all variants, for his kind employer.
.-.-.
The End

Wednesday, 30 January 2013

Warna (atacchan)

Link asli ada di sini

---------

Snape memandang pusara itu. Ada sesuatu yang menusuk-nusuk perasaannya dan itu menyakitkan. Rasanya seperti luka tetapi tidak terlihat. Snape tahu, tidak ada penawar untuk luka tidak terlihat miliknya. Sebab, penawarnya telah pergi.
Snape juga tahu, dia takkan mungkin melupakan orang itu. Si penawar luka.
.
.
Warna © atacchan
Harry Potter © J. K. Rowling
.
Saya tidak mengambil keuntungan materiil apapun dari fic ini.
.
Snape sudah melihat, bahkan memperhatikan anak itu. Anak Lily. Dia sudah mencoba sebisanya berinteraksi dengan baik. Tetapi anak itu selalu mengingatkannya pada James dan dia kembali kepada kebencian lamanya. Sulit memang. Dia tahu, anak itu tidak memiliki kesalahan sedikitpun padanya. Tetapi tetap saja semua yang dilakukannya mendadak salah di mata Snape.
Tapi, Snape sendiri pun tidak tahu. Apa dia memang tidak menyukai Harry atau dia ingin Harry melihatnya. Dia terakhir melihat Harry saat mereka berpapasan di koridor. Harry kelihatannya kembali ke rumah Dursley.
Snape akhir-akhir ini juga merasa bahwa bukan hanya dia yang memperhatikan, dia juga diperhatikan oleh objek perhatiannya. Harry kelihatannya juga memperhatikannya sembunyi-sembunyi.
Mungkin karena sikap misteriusnya.
Tidak mau ambil pusing dengan hal itu Snape kembali memandang pemandangan di depannya. Jika dulu dia memandang pemandangan Hutan Terlarang sebagai seorang murid, sekarang dia memandangnya sebagai seorang guru. Tidak ada yang berbeda, semuanya masih tampak sama.
Semilir angin berhembus. Sore yang tenang dan sepi. Dari tempatnya berdiri Snape dapat melihat bahwa malam sebentar lagi akan turun. Senja sudah merajai angkasa. Semburat kemerahannya tampak indah.
Snape merasa kerinduan seketika menguasai hatinya. Semburat itu masih disana. Semakin lama semakin memerah, tetapi sedikit bercampur oranye.
Merah, warna rambut Lily.
"Lily," bisiknya pelan.
.
.
.
Sejujurnya Snape lebih suka berada di dalam ruang bawah tanahnya daripada berkeliaran di Hogsmeade. Dia tidak suka berjalan-jalan dan dilirik orang-orang. Dalam hati dia berharap agar dia tidak berpapasan dengan siapapun. Dia ingin waktunya untuk membeli beberapa bahan ramuan dan pena bulu tidak terbuang lebih lama.
Beberapa toko sudah terlewati olehnya. Sebentar lagi dia akan segera sampai di toko pena bulu yang entah apa namanya. Papan nama toko itu kelihatannya tidak menarik bahkan untuk dilirik. Berdebu dan tulisan di papan nama toko itu seakan melebur, menyebabkan dia tidak bisa membacanya. Snape memasuki toko, membeli pena bulu secepat yang ia bisa dan ia beranjak keluar.
Hogsmeade memang desa yang tidak terlalu besar. Tetapi ada banyak toko disana. Sayangnya toko ramuan disana hanya ada satu dan terletak agak jauh dari toko pena bulu. Snape harus melewati lima toko dan mengambil jalan yang mengarah ke kanan tepat setelah toko kelima. Toko ramuan itu ada di ujung jalan itu. Meski toko ramuan itu kecil, tetapi itu lebih baik daripada dia harus berapparate ke Diagon Alley dan bertemu dengan muridnya yang sedang liburan. Lagipula, dia memang perlu sedikit berjalan-jalan.
Snape menghentikan langkahnya di sebuat toko bunga di sebelah toko ramuan. Terpaku pada keranjang bunga yang dipajang pemilik toko bunga itu. Keranjang bunga carnation, bunga matahari, bunga tulip kuning, dan bunga mawar tidak menarik atensinya. Keranjang bunga tulip putih yang mendapat perhatian Snape.
Putih, seputih bunga kesukaan Lily.
.
.
.
Gelap.
Terang bulan bahkan tidak membantu, tetapi Snape tidak menggunakan tongkat sihirnya untuk mengeluarkan cahaya. Dia membiarkan dirinya berjalan di kegelapan yang hampir segelap jubahnya. Beberapa kali terdengar gesekan jubahnya dengan semak saat dia berusaha menerobos semak-semak rapat yang menghalangi perjalanannya. Dan tidak jarang dia mengernyit tidak senang karena merasa tidak nyaman.
Mungkin saat dia masih murid tahun pertama dia merasa tidak nyaman karena takut, tetapi saat ini dia sudah menjadi seorang Profesor sekaligus Kepala Asrama; apa yang perlu di takutkannya?
Yang membuatnya mengernyit dan tidak nyaman adalah suara-suara yang bolak-balik mengusik pendengarannya. Suara Unicorn jika dia tidak salah. Snape mempercepat jalannya.
Sejujurnya alasan kenapa dia berada di Hutan Terlarang saat ini tidak lebih dari berjalan-jalan sekaligus mengecek keadaan hutan. Dumbledore memintanya untuk berkeliling bersama Hagrid, tapi tampaknya manusia setengah raksasa itu sudah melakukan perjalanan lebih dulu. Sesuai amanat yang diterimanya, Snape memasuki Hutan Terlarang; sendirian. Lagipula itu bukan masalah baginya, berdua bersama Hagrid dan hanya diam tidaklah menyenangkan. Memang lebih baik untuknya berpatroli sendirian.
Didekat jajaran pepohonan rapat yang menandakan perbatasan tengah hutan, Snape tidak menemukan apapun. Padahal dia yakin suara itu berasal dari tempat itu. Snape menajamkan pendengarannya. Tetapi suara itu sudah berhenti. Kali ini dia menyiapkan tongkat sihir.
"Nox,"
Pendar cahaya keluar dari tongkatnya dan dia mulai meneliti tanah di sekitar. Satu hal yang diyakininya sejak dulu; jika hewan berteriak ada dua kemungkinan terluka atau dibunuh. Baik terluka maupun dibunuh, jika hewannya tidak ditemukan pasti ada jejak yang tertinggal.
Kali ini keyakinannya benar. Pendaran sinar dari tongkatnya bertemu dengan cairan perak. Darah Unicorn. Darah itu tercecer hanya sampai lima meter dari tempat darah itu ditemukan Snape. Dia mengernyit, seingatnya Dark Lord sudah tidak membutuhkan darah Unicorn.
Diamatinya warna darah itu dengan intens. Warna peraknya membuat kenangan lama Snape tertarik keluar. Warna yang serupa dengan pendaran bintang. Benda angkasa yang lebih disukai Lily daripada bulan yang keemasan.
Snape mengalihkan pandangannya ke langit. Hari ini tampaknya bintang tidak muncul. Tetapi warna keperakan itu cukup.
Satu lagi kenangan lama.
.
.
.
Dia keluar dari kantor Kepala Sekolah setelah melaporkan apa yang terjadi pada malam saat dia berpatroli. Dumbledore tidak berkomentar banyak dan menanyakan jadwal mengajarnya hari ini. Kebetulan dia baru ada kelas setelah makan siang dan Dumbledore memintanya memanggil Hagrid.
Snape baru ingat. Semalam dia juga tidak berjumpa dengan Hagrid. Dia langsung kembali setelah kenangan lama yang memaksa untuk diingatnya lagi. Dia butuh tempat tenang untuk menjernihkan pikirannya saat itu dan dia memutuskan kembali ke ruang bawah tanah.
Dia tidak terlalu memperhatikan keadaan Aula Besar dan Aula Depan saat dia keluar dari kastil. Dia malas berlama-lama berada di luar, warna saja bisa membuatnya mengingat kenangan lama. Apalagi Aula Besar dan Aula Depan. Snape mendengus, dia tahu kenangan bisa muncul kapan saja tapi dia tidak suka akan perasaan yang menderanya setiap kali kenangan itu menghinggapi pikirannya.
Pondok Hagrid sudah kelihatan. Begitu juga dengan ladang labunya. Labu-labu besar berwarna kuning dan oranye tampak menyegarkan pemandangan di sekitar pondok tua itu. Salah satu hal yang mencerahkan mata mengingat tidak ada taman bunga warna-warni di Hogwarts. Paling juga tanaman aneh-aneh yang ada di Rumah Kaca.
Labu oranye di dekat pondok Hagrid tampak menyolok matanya. Warna oranyenya entah kenapa menarik atensi Snape. Kenangan lama yang bahkan dia tidak ingat kapan tepatnya kembali lagi.
Oranye, seperti sampul buku dongeng tentang Muggle yang dulu pernah Lily berikan kepadanya.
.
.
.
Musim gugur kali ini tampaknya tetap indah seperti sebelumnya, meskipun dia mengakui bahwa keindahan itu hanya menutupi bagian sedih hati setiap orang. Pergerakan Dark Lordnya tampak semakin nyata. Bahkan beberapa surat kabar memberitakan hal ini. Berbagai rencana telah disusun dan bermacam-macam tugas telah diemban oleh para Death Eater. Menikmati musim gugur tahun ini sepertinya bukanlah pilihan yang buruk. Sekalipun dia benci angin yang merusak tatanan rambutnya, dia tetap suka bagaimana semilir angin itu seakan berbisik. Menyampaikan keindahan musim gugur.
Snape sedang menatap jauh ke depan kala itu. Memikirkan berbagai hal. Mulai dari perubahan sikap Draco –putra baptisnya-, misinya sebagai agen ganda, perburuan Horcrux oleh Harry dan Dumbledore, dan masih banyak hal lain. Pikirannya tidak membiarkannya sendirian.
Dia juga memikirkan kehidupannya setelah semua yang sudah terjadi. Sedikit banyak dia juga memikirkan, apakah dia akan menikmati masa dimana dia tidak perlu mengabdi lagi kepada Dark Lordnya atau dia akan pergi sebelum masa itu datang.
Snape benci mengakuinya, tetapi ada kekhawatiran besar dalam dirinya. Apalagi semenjak Sirius terbunuh di Departemen Misteri. Siapa yang akan melindungi Harry? Baik, banyak orang dipihak orde. Tetapi siapa yang bisa dipercayainya? Belum lagi kabar tentang tugas dari Voldemort kepada Malfoy Junior yang didengarnya beberapa hari lalu. Kabar simpang siur yang mengatakan bahwa Malfoy Junior diberi tugas membunuh Dumbledore. Siapa lagi yang bisa menjaga Harry?
Angin bertiup lagi, kali ini membawa beberapa dedaunan bertebangan mengikuti semilirnya. Daun-daun oranye berjatuhan. Ke halaman kastil, ke atas atap Hogwarts, ke koridor sepi, ke ladang labu Hagrid, ke atas Danau Hitam sehingga menimbulkan riak kecil, dan ke berbagai tempat lainnya. Tapi ada satu daun yang jatuh tepat diatas kepala Snape. Dia meraihnya dan baru saja akan membuangnya saat dia menyadari hal ganjil itu.
Daun itu masih hijau..
Hijau, sewarna mata Lily.
Snape menatap daun itu lama. "Lihatlah Lils, bahkan warnapun mengingatkanku padamu,"
.
.
.
End
.
Thanks for reading
.

For The Rest of My Life (chandagates)

Link asli ada di sini

----------

Disclaimer : Severus Snape dan tokoh-tokoh bersangkutan hanya milik JK Rowling seorang.
Summary : Bagaimanakah kisah hidup seorang Potion Master Severus Snape? For SNAPE DAY 2013

-oooo00oooo-


Aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu, aku memandangimu dari kejauhan dari balik semak-semak sementara kau sedang bermain dengan kakakmu. Aku sadar jika anak aku tak pantas bermain denganmu. Kau cantik, anggun bagaikan bidadari yang turun dari surga, sedangkan aku anak kurus kering berpakaian lusuh dan kebesaran. Lebih mirip seorang peri rumah.
Tapi kau mengubah pandanganku terhadap diriku sendiri, kau berkata jika aku memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain, kau bilang padaku jika aku tak seburuk kelihatannya. Kau bahkan satu-satunya anak yang mau bersahabat dengan orang sepertiku. Kau tidak memandang perbedaan diantara kita. Kau tidak melihatku dari luar, tetapi dari hati. Saat itu juga aku mulai merasakan hidup yang lebih baik dibanding hari-hari ku sebelumnya. Aku masih ingat saat aku bercerita tentang dunia sihir kepadamu, kau mendengarkannya dengan sangat serius seolah kau juga ingin menjadi bagian dari mereka. Begitu pula dengan ku.
Surat panggilan dari Hogwart pun datang, aku senang sekali karena aku akan meninggalkan rumahku yang menyedihkan itu dan datang kedunia –sihir– yang sudah lama kunanti itu. Ah, hampir saja aku lupa, bagaimana dengannya? Pasti dia akan senang sekali melihatnya. Aku berlari menuju tempat seperti biasa. Tempat dimana kita bermain. Kau juga berlari saat itu sambil melambai-lambaikan surat –dari Albus Dumbledore– itu. Aku berhenti dan melihatmu berlari sambil tersenyum bahagia tiba-tiba kau sudah memelukku. Aku tak percaya dengan apa yang kualami ini.
Apa aku sedang bermimpi? Tidak, aku tidak bermimpi! Ini nyata! Dia memelukku sekarang! Aku membalas pelukan itu sambil tersenyum.

Aku senang kau mendapatkannya juga.

Aku berharap kau masuk asrama yang sama denganku, tapi itu tak sesuai harapanku. Kau masuk di Gryffindor dan aku di Slytherin. Tetapi kau tetap dan masih mau bersahabat dengan aku, walaupun tak sedekat dulu lagi. Aku tak percaya jika asrama bodoh itu memisahkan kita berdua, memperjauh jarak diantara kita. Apalagi kedekatanmu dengan James Arogan Potter sialan itu. Semakin lama kau semakin dekat dengannya dan semakin jauh dariku.
Aku benar-benar menyesal saat kata-kata keparat itu meluncur dari mulutku, aku sudah berulang kali minta maaf kepadamu, tetapi kau terus saja menolak mentah-mentah permintaan maafku. Aku tau jika perbuatan itu takkan pernah –dimaafkan- dan termaafkan. Aku sungguh menyesal. Aku rasanya ingin mengakhiri hidupku saat itu juga.
Hari kelulusan pun tiba, saat itu aku benar-benar nekat untuk mengungkapkan perasaan ini. Mengungkapkan perasaan yang bertahun-tahun menyiksaku. Aku berlari menuju asrama mu, tetapi apa yang kulihat?
Aku melihat James Arogan Potter sialan itu melamarmu. Dan kau meng-iyakannya, kau menerimanya. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kulihat saat itu. Aku terduduk –terjatuh- disana. Air mata ini seakan tak dapat ditahan lagi, bulir-bulir bening itu menetes dipipiku. Hatiku hancur sekali saat itu. Berkeping-keping dan takkan pernah bisa disatukan lagi.
Aku marah pada diriku sendiri, aku benci kepada diriku sendiri, jika aku tidak menyebut kata –mudblood- sialan itu, pasti kau sudah ada di dekapanku. Menikah denganku dan bahagia bersama. Tapi itu tidak akan pernah terjadi, semua itu murni kesalahanku. Karena saking emosinya, akupun membeberkan semua ramalan Trelawney tentang anak yang akan lahir akhir bulan Juli kepada Pangeran Kegelapan. Yaitu anakmu dengan Potter Sialan itu. Aku mendengar jika pangeran kegelapan akan membunuh anak itu dan keluargamu aku memohon agar Pangeran Kegelapan tidak membunuhmu, tetapi dia tidak mendengarkan aku.
Akhirnya datang ke Albus. aku meminta dan memohon kepada Albus, aku memohon dengan segenap hati agar Albus mau membantuku melindungimu. Aku tak perduli jika Potter itu mati aku tak perduli jika anakmu itu mati. Yang terpenting bagiku, kau selamat. Tetapi kau mempercayai orang yang salah, tikus Pettigrew keparat itu telah menghianatimu. Ia membocorkan smua nya kepada Pangeran Kegelapan.

Pangeran kegelapan membunuh mu.

Aku datang terlambat, aku tak sempat menyelamatkan hidupmu yang berharga itu. Saat aku tiba, kau sudah terbujur kaku disana, tak bergerak. Pangeran kegelapan telah meluncurkan mantra tak termaafkan itu.
Aku melihatmu sudah terbujur kaku, dan tak bernyawa lagi. Betapa aku hancur sehancur hancurnya, sakit sesakit-sakitnya. Aku kehilagan kekuatan ku untuk menyangga kaki aku kehilangan semua harapanku untuk melihatmu tersenyum. Aku memelukmu, pelukan yang terakhir. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukanmu, aku tak percaya jika ini akan terjadi. Aku benar-benar kehilangan wanita yang membuat hidupku begitu berarti. Aku sungguh menyesal dengan semua ini. Andai saja jika aku tidak membocorkan ramalan Trelawney kepada dark Lord kau pasti takkan bernasib buruk seperti ini. Jika saja aku datang lebih awal kau pasti bisa melarikan diri dan aku yang akan mati. Kau akan selamat jika aku datang lebih awal.

Aku benar-benar menyesal.

Aku pun berniat untuk mendatangi Albus dan aku memintanya untuk menghukumku, mengurungu di Azkaban. Aku menyerahkan tongkatku, dan aku memintanya untuk mematahkannya. Tetapi Albus malah memberiku kesempatan, ia memintaku untuk membantu –Albus- melindungi anakmu dan menjadikanku guru ramuan di Hogwart. Sebelumnya aku menolak. Karena kupikir Dark Lord telah musnah. Tetapi aku salah Dark Lord belum musnah untuk selamanya. Karena saat ia akan musnah, ia mencari satu-satunya 'tempat' atau makhluk hidup untuk jiwanya. Yaitu anakmu sendiri.
Aku takkan pernah mau melindungi anak dari Potter sialan itu. Tetapi, Albus mengingatkanku, dia juga anakmu. Dia juga memiliki mata sepertimu. Mata hijau indah yang pernah menghiasi hari-hariku dulu. Mata itu milik cinta pertama dan terakhirku yaitu kau.
Bertahun-tahun berlalu, aku masih tenggelam oleh rasa bersalah olehku. Aku masih belum bisa menghapus rasa cintaku pada mu. Pada saatnya tiba dimana anak itu tiba di Hogwart. Aku memandang anak itu dari kejauhan, tetapi apa yang dikatakan Albus benar, anakmu memiliki matamu.
Aku juga masih ingat betul saat Quirrell memantrai sapu anakmu, hingga dia akan terjatuh dari ketinggian. Aku berusaha mengucap mantra penangkal agar anakmu bisa selamat. Tetapi anakmu dan teman-temannya malah menganggap aku yang ingin mencelakai anakmu. Tetapi aku tak peduli dengan itu.
Ah, masih banyak sekali dan yang paling ku ingat. Saat itu aku sedang mengajarinya Occlumens agar pikirannya tidak dimasuki oleh Voldemort. Tetapi itu gagal total, karena ia mengira jika aku akan membuka pikirannya agar dimasuki Voldemort. Aku sangat marah ketika anakmu malah melihat masalalu ku yang kelam.
Ditahun ke enam, Narcissa dan Bellatrix mendatangi rumahku. Narcissa memintaku untuk melindungi Malfoy Jr, dan menggantikan tugasnya jika ia tak sanggup melakukan tugasnya dari Voldemort. Tetapi aku telah melakukan Sumpah-tak-terlanggar jika aku bersedia melakukan atau menggantikan tugas yang diberikan Voldemort kepada Malfoy Jr. Ah, ya aku akhirnya mendapatkan posisi yang selama ini aku idam-idamkan. Albus mempercayakan subjek –Pertahanan terhadap ilmu hitam- itu kepada ku. Aku melihat anakmu kecewa karena aku memegang subyek favoritnya.
Akhirnya tugas yang diberikan Albus –dan juga Voldemort- telah tiba. Aku mau tak mau harus membunuh Albus. Dia satu-satunya orang yang mempercayaiku luar dalam, dia satu-satunya orang mau mendengarkan keluh kesahku. Dan yang terpenting, dia yang mengerti bagaimana perasaanku kepadamu dan anakmu. Aku sungguh marah kepada diriku. Aku telah membunuh satu-satunya orang yang paling ku hormati dan yang sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. aku sedih, marah, dan aku ingin membunuh diriku sendiri saat itu. Bagaimanapun itu adalah tugas Albus untukku. Aku harus memenuhinya, karena aku telah berjanji kepada nya untuk melakukan apapun untuknya, sebagai balasan perlindungannya kepada anakmu dulu.
Hari itu pun tiba, hari dimana Voldemort akan menyerang dan membunuh anakmu. Aku pun tahu jika aku akan mati malam ini. Hanya satu tugas yang harus aku selesaikan sebelum aku mati, yaitu jika anak mu harus mati, dan Voldemort sendiri yang harus melakukannya. Albus memberitahu kan itu kepada ku –sebelum dia mati-.
Aku benar-benar tak menyangka, aku melindunginya susah payah hanya agar anak itu bisa mati disaat yang tepat. Aku marah pada Albus, ia membesarkan anak itu seperti seekor kambing yang akan disembelih.
Ya, aku sudah menyayangi anak mu itu. Rasa sayang itu telah muncul, karena rasa cintaku kepadamu. Dan aku sudah tak memperdulikan dia anak potter ataupun tidak.
Voldemort membunuhku. Dia menyuruh ular kesayangannya –Nagini- itu untuk membunuhku. Ular itu mematuk ku dileherku, hingga aku mengalami pendarahan. Anak itu datang membuka jubah ghaib nya dan menutup leherku yang sedang pendarahan itu.
Aku meminta anak itu untuk mengambil ingatan –air mata- ku. Aku meminta anakmu membawa ingatan itu ke pensieve. Untuk menyelesaikan tugasku yang terakhir.

Aku mati Lils. Aku sudah pergi menyusulmu.

Aku datang menyusulmu disana. Aku datang ketempat mu agar aku bisa melihatmu lagi. Melihat senyum yang sudah belasan tahun tak kulihat.
Lily? After all this time ?
"Always."



A/N : Haaaaaaaaaaaaaaaaa. Ini fanfic pertama saya buat Snape Day. Alurnya kecepatan ya? Terus ada yang OOC *mungkin*.
Jujur saya gak pede nge-post ff ini. #nangis# ini buruk banget sumpah. Typo, kepo(?) dan banyak lagi. Mohon bantuan dan sarannya ya dengan me-REVIEW fic ini. Mau nge-FLAME juga gak papa, asalkan membangun. mohon maaf banget kalo mengecewakan *sujud2
Satu lagi, HAPPY BIRTHDAY TO YOU SEEEVVVVVVV :** #HUG

Wednesday, 11 January 2012

Tempat Terakhir by ambudaff

Tempat Terakhir by ambudaff

Link asli di sini

Tempat Terakhir

Severus Snape, Lily Evans, dan beberapa tokoh lain adalah kepunyaan JK Rowling

Rate T, AU banget, romance/angst

Memenuhi permintaan songfic-nya [at]pinguin_oren, yang nggak akan ditulis semua liriknya, biar nggak menyalahi guidelines FFN. Lagunya adalah Tempat Terakhir by Padi. Sila diunduh sendiri ya!


-o0o-



"Aku minta maaf."

"Aku tak tertarik."

"Aku minta maaf!"

"Diam."

Saat itu malam hari. Lily, memakai gaun rumah, berdiri dengan tangan bersedekap di depan lukisan Nyonya Gemuk di depan jalan masuk ke Menara Gryffindor.

"Aku cuma keluar karena Mary bilang kau mengancam mau tidur di sini."

"Memang. Aku tadinya akan tidur di sini. Aku tak bermaksud mengataimu Darah-lumpur, kata itu—"

"Meluncur begitu saja?" Tak ada belas kasihan dalam suara Lily. "Sudah terlambat. Aku membelamu selama bertahun-tahun. Tak seorang pun temanku bisa mengerti kenapa aku sudi bicara kepadamu. Kau dan kawan-kawan Pelahap Maut kecilmu yang berharga—kaulihat, kau bahkan tidak menyangkalnya! Kau bahkan tidak menyangkal itulah yang menjadi tujuan kalian semua! Kalian sudah tak sabar ingin bergabung dengan Kau-Tahu-Siapa kan?"

"Aku tak bisa berpura-pura lagi. Kau sudah memilih jalanmu, aku sudah memilih jalanku."

"Tidak—dengar, aku tak bermaksud—"

"Menyebutku Darah-lumpur? Tapi kau menyebut semua orang lain yang seperti aku Darah-lumpur, Severus. Kenapa aku harus berbeda?"

Snape sudah berusaha akan berbicara, namun dengan pandangan merendahkan Lily berbalik dan memanjat masuk lagi lewat lubang lukisan...1)


Pandangannya kosong selama beberapa saat. Tak mungkin. Tak bisa begini. Severus mengutuk dirinya sendiri.

Tak ada yang bisa dilakukan lagi malam ini. Dengan lunglai Severus berbalik dan kembali ke asramanya.

Besok akan ia coba lagi—

-o0o-


Seperti biasa, cuaca Inggris selalu dihiasi awan, walau di musim panas. Beberapa kerumunan siswa di dekat danau, menghabiskan hari-hari selepas ujian sebelum pulang untuk libur musim panas.

Severus nekat juga menghampiri Lily—ya, ia tahu di sini ada banyak orang. Tapi, kalau tidak di sini, di mana lagi? Dengan keadaan seperti ini, mana mau Lily menerimanya di rumahnya?

"Lils—"

"Ada apa lagi? Bukannya tadi malam sudah selesai?" Lily berdiri, dan menarik tangan Mary agar beranjak dari situ.

"Lils, please—"

Dan Mary malah dengan sengaja memberi kesempatan agar Lily berduaan dengan Severus. Ia beranjak, mengajak teman-temannya yang lain, dan berbisik pada Lily, "—kalau sudah selesai, bergabung lagi dengan kami ya!—" melambai pada Lily dan pergi—

Ditinggal begitu saja, Lily cemberut kesal, "—apa lagi yang kau inginkan? Bicara cepat, aku sudah ditinggalkan teman-temanku—"

Belum juga Severus membuka mulut, situasi mendadak berubah—

.

.

.

.

.

—seperti mendadak ada gumpalan awan tebal dan besar menutupi, membuat suasana menjadi gelap bagai akan datang hujan deras. Rasa dingin juga menyertai, bedanya bukan dingin suhu yang bisa diukur dengan termometer, tetapi dingin yang menelusup sampai ke tulang-tulang. Dingin yang menggetarkan sampai ke jantung, sampai ke hati, sampai ke jiwa.

Dingin yang membuat orang-orang bagai membeku.

Bukan hanya suhu dan perubahan cuaca mendadak yang membuat orang terhenti sejenak, dan terheran-heran, akan tetapi karena kemudian beberapa orang kemudian menyadari bahwa di udara, di atas mereka, ada sebuah benda—

—benda yang amat besar.

Besar, lebar, dan sepertinya berat—atau kesan metal dari benda itu yang membawa kesan berat?

Terpana akan kehadiran benda itu membuat kebanyakan orang melongo dan membeku tak mampu berbuat apa-apa. Pun saat kemudian dari dalam benda itu meluncurlah seberkas sinar. Sinar putih susu berkilauan, membuat silau mereka yang memandangnya—bahkan mereka yang hanya memandang benda metal itupun bisa merasakan silaunya.

—kemudian sebelum ada yang sadar akan apa yang terjadi, sinar itu melesat ke bawah menuju seseorang yang kebetulan tepat berada di bawah benda metal itu—

—dan Severus terlambat untuk menyadarinya.

Orang yang tepat berada di bawah benda metal itu, tepat berada di pusat, tepat berada di tengah-tengah, adalah Lily.

Dan orang yang berada paling dekat dengan Lily adalah dia, Severus. Walau tidak terlalu dekat, masih ada beberapa langkah untuk bisa mencapainya, tetapi jika saja Severus langsung berlari mendekatinya, menariknya pergi saat benda itu mewujud, niscaya Lily masih akan bisa diselamatkan—

—tetapi ini tidak. Sama seperti yang lain, Severus juga terperangah saat melihat benda itu muncul, sama terperangah saat benda itu mengeluarkan sinar, sama terperangah saat sinar itu mengenai Lily, dan seolah menariknya ke atas dengan cepat. Sekilas saja, dan Lily sudah menghilang di tengah kilauan metal benda bulat itu.

Kala itu barulah Severus bergerak, menuju tempat tadi Lily berdiri, tapi sia-sia. Walaupun ia berusaha untuk mengejarnya, tetapi sudah terlambat. Lagipula, bagaimana ia bisa mengejarnya? Lily bagai dihisap naik oleh benda itu, dan Severus tak tahu bagaimana bisa mengejarnya ke atas kecuali terbang—dan Severus sama sekali tak tahu bagaimana ia bisa terbang—

Benda itu kemudian melesat pergi.

-o0o-


Tak terkirakan hebohnya saat sekian detik kemudian warga Hogwarts tersadar akan apa yang sedang terjadi.

Dumbledore yang sedang berada di kantor, langsung ke luar untuk mengecek apa yang terjadi. McGonagall dan beberapa orang guru lainnya berusaha mencari tahu, ke manakah benda aneh itu pergi. Hanya beberapa menit kemudian ada laporan bahwa benda aneh itu terhenti di atas Hogsmeade, melontarkan sesuatu, lalu melesat pergi dengan kecepatan tinggi.

McGonagall mengecek ke Hogsmeade, dan memang ternyata yang dilontarkan adalah sosok Lily. Dalam keadaan pingsan. Yang langsung dilarikan ke Hospital Wing.

Setelah pemeriksaan secara menyeluruh, Madam Pomfrey berkesimpulan, secara fisik tak ada kekurangan satupun. Tinggal ditunggu siumannya saja.

Tak ada yang mengira bahwa itu akan mengubah jalan hidupnya. Hidup Lily. Dan terlebih lagi, hidup Severus.

-o0o-


"Dia bangun—" bisik Madam Pomfrey, seakan takut suara keras akan membuat Lily kembali pingsan. Severus tak berani bergerak, membeku di sudut, agak jauh dari pandangan.

Lily membuka mata. Wajahnya heran, melihat ke sekeliling.

"Aku—di mana?"

"Di Hospital Wing, sayang."

"Hos—di mana?"

"Hospital Wing. Masih di Hogwarts."

"Hog—apa itu Hogwarts?"

Raut wajah Madam Pomfrey berubah. Begitu pula McGonagall, dan beberapa rekan Lily yang mendampingi. Apalagi Severus.

"Kau—benar-benar tak bisa mengingatnya?"

Perlahan Lily menggeleng.

"Baiklah. Santai saja. Kita akan bersama-sama mengingat kembali semuanya, ya kan Lily?"

"Li-Lily?"

"Ya. Namamu Lily—"

Wajah Lily nampak kebingungan.

Wajah Severus di sudut ruangan mengeras. Ia. Harus. Menemukan. Ramuan. Untuk. Mengobatinya!

Perlahan ia bergeser, membuka pintu tanpa suara, begitu pula menutupnya. Berjalan cepat menuju perpustakaan. Ia harus menemukan—bagaimana ia bisa menemukan obatnya kalau penyakitnya saja ia tak tahu namanya? Tapi ia pergi juga ke perpustakaan.

Mulanya ia mencari-cari di penangkal mantra Obliviate. Mungkin saja ada. Atau kalau tidak, yah, semacamnya lah. Dan ia terus mencari. Terus mencari.

Sesekali ia kembali ke Hospital Wing. Tetap tak menonjolkan diri, tapi menyerap apa saja yang dikatakan Madam Pomfrey. Profesor McGonagall. Guru-guru lain.

Kali ini, ada Dumbledore di Hospital Wing. Sesudah menjenguk dan berbincang sejenak dengan Lily, Dumbledore keluar.

Tidak langsung pergi, tetapi berbicara dengan suara halus pada Madam Pomfrey.

"Aku sudah melacak daerahnya, tak ada tanda-tanda jejak sihir. Kau tahu kan, setiap tindakan sihir selalu akan meninggalkan jejak. Siapa yang melakukan apa, di mana dan kapan. Ini sama sekali tak ada jejak. Hanya ada dua kemungkinan, ini dilakukan oleh bukan penyihir—"

"Muggle?" Madam Pomfrey meragukan.

Dumbledore menggeleng. "Aku tak yakin. Muggle sepertinya tidak punya teknologi speerti ini. Mungkin mereka bisa melakukan penghilangan memori, tetapi tidak dalam waktu secepat ini, dan kemungkinan tekniknya masih kasar—" Dumbledore menghela napas.

"Kemungkinan kedua?"

"Kemungkinan kedua, dilakukan oleh penyihir yang teramat piawai, sehingga bisa menghapus semua jejak-jejaknya—" Dumbledore kembali menghela napas.

"Tapi, untuk apa?" Madam Pomfrey seolah menanyakan hal yang tak perlu ditanyakan, karena Dumbledore tak menjawabnya. Tak bisa menjawabnya. Hanya menggelengkan kepalanya, perlahan.

Severus terperangah.

Penyihir yang sangat piawai?

Ia memberanikan diri bersuara, "Sir?"

Dumbledore menoleh padanya. Severus memperoleh kesan, bahwa Dumbledore berbicara pada Madam Pomfrey tadi itu, sengaja di dekatnya, agar ia bisa mendengarnya.

"Kalau—" suaranya terdengar gugup, "—ka-kalau boleh, saya ingin ikut men-mencari obatnya—"

Dumbledore menatapnya beberapa saat. Lalu mengangguk. "Boleh. Aku sedang berpikir untuk membuat tim. Dari Hogwarts kau akan bersama Madam Pomfrey. Lalu aku akan menulis surat ke St Mungo, untuk mengirimkan salah satu ahlinya. Mereka pasti bersedia, ini kasus baru, bahkan juga untuk mereka."

Severus mengangguk. "Saya akan berusaha sebisanya, Sir!"

Dumbledore menepuk bahunya, dan berjalan pergi. Madam Pomfrey memandangnya sejenak, kemudian menyuruhnya ikut ke kantornya.

Mengambil beberapa buah buku dan beberapa gulungan perkamen, Madam Pomfrey mulai menjelaskan hal-hal yang pokok.

Mulanya dengan membentangkan sebuah perkamen bergambar otak. Diberi warna-warni, diberi tulisan sana-sini. Secara cepat, Madam Pomfrey menunjukkan nama-nama bagian itu.

"Ini hipokampus, bagian dari otak besar. Ada dua hipokampus, di kiri dan di kanan. Hipokampus merupakan bagian dari sistem limbik dan berperan pada kegiatan mengingat dan navigasi ruangan—"

Severus berusaha mengingat-ingat dengan baik. Tidak seperti pelajaran yang biasa ia dapatkan—

"Tentu saja tidak sama dengan pelajaran yang kau dapat di Hogwarts, tetapi di sekolah Muggle, secara garis besarnya, mereka akan mempelajari hal semacam ini—" Madam Pomfrey seolah bisa membaca isi hatinya. "Oke, teruskan. Hipokampus memegang peranan penting dalam menghubungkan dan mengirimkan informasi ke hipotalamus dan sebaliknya, guna membantu mengatur informasi yang akan dipelajari. Jika hipokampus mengalami kerusakan, seseorang sulit menyimpan informasi baru—"

"Obliviate, secara garis besarnya, merusak fungsi hipokampus. Bisa sementara, bisa selamanya, tergantung. Apakah orang yang dikenai Obliviate itu sihirnya biasa-biasa saja, atau sihirnya kelas tinggi? Apakah orang yang mengirim Obliviate itu sihirnya jauh lebih tinggi dari orang yang dikenai, atau hampir sama, atau justru malah di bawahnya? Dan masih banyak lagi faktor."

"Untuk beberapa kasus, Obliviate bisa dipunahkan. Orang bisa dipulihkan. Bisa pulih hingga sama dengan keadaan semula, bisa hanya mendekati. Atau justru, sama sekali tidak bisa dipulihkan—"

"Jadi, kita akan mengerjakan kasus Obliviate?" tanya Severus hati-hati.

Madam Pomfrey menghela napas. "Sepertinya. Tetapi tadi Dumbledore mengatakan, ada kemungkinan keadaan Miss Evans ini bukan akibat dari perbuatan penyihir. Jika saja ini hanya perbuatan penyihir, sepiawai apapun dia, kita bisa melakukan pengobatan dengan cara biasa. Cara memulihkan korban Obliviate. Mungkin saja dosisnya harus ditambah, atau frekuensi pemberian obatnya dipersering."

Kembali Madam Pomfrey menghela napas, "Kalau kemungkinan yang satu lagi, bukan perbuatan penyihir, maka aku tak tahu bagaimana mengobatinya—"

Baru sekali ini Severus melihat raut wajah Madam Pomfrey yang begitu putus asa—

-o0o-


Dumbledore memiliki kenalan yang luar biasa banyaknya. Bahkan mereka yang bukan penyihir. Muggle. Dan bukan sembarang Muggle, tetapi Muggle dari berbagai kalangan, dengan berbagai keahlian.

Seorang dari mereka diundang Dumbledore untuk melihat keadaan Lily. Dengan pembicaraan terus menerus, berikut kunjungan ke tempat Lily dikembalikan oleh benda ajaib itu, plus pemeriksaan yang intens, Muggle itu berkesimpulan bahwa ini adalah perbuatan benda bernama UFO.

Unidentified Flying Object.

Benda Terbang Tak Dikenal.

Tak dikenal siapa. Tak dikenal dari mana. Tak dikenal ingin apa.

Tapi dalam catatan Muggle, sudah banyak kasus seperti Lily. Nyaris sama. Kehilangan memori.

Lemas Severus mendengarnya.

Jadi, Lily tidak bisa diobati dengan cara mengobati korban Obliviate. Dengan mantra-mantra tertentu dan ramuan tertentu. Tidak bisa. Ini adalah kasus yang sama sekali baru.

Dumbledore membahas kasus ini bersama si Muggle. Lalu bersama Muggle yang lain. Lama sekali baru mereka keluar dari kantor. Setelahnya, Dumbledore memanggil McGonagall, juga berbincang lama. Berikutnya, McGonagall juga mengumpulkan teman-teman Lily dari asrama Gryffindor.

Severus tak mendengar keseluruhan pembicaraan. Akan tetapi ia tahu kesimpulannya.

Dalam pengobatan kaum Muggle, yang perlu dilakukan adalah sering berkumpul dengan orang-orang yang biasa. Sering-sering membicarakan hal yang terlupa. Biasanya ingatan akan muncul satu demi satu.

Tentu saja Madam Pomfrey berpendapat, ramuan anti Obliviate dan mantra-mantra anti Obliviate juga harus terus digunakan. Kerja keras Severus—dengan bimbingan Madam Pomfrey dan seorang Healer dari St Mungo—ramuan anti Obliviate formula terbaru yang lebih fokus, harus dikonsumsi.

McGonagall setuju.

Jadi, pengobatan untuk Lily adalah minum ramuan tiap hari, dan banyak berkumpul bersama rekan-rekannya.

Kesalahan fatal.

Kesalahan fatal Severus.

Karena dengan hal itu, dia semakin sibuk bekerja di lab meramu. Di lain pihak, Lily sedang sibuk meronce potongan-potongan ingatan yang disodorkan teman-temannya.

Teman-teman satu asrama.

Dan James Potter adalah anak asrama Gryffindor.

-o0o-


Sepagi buta itu, Severus sudah berada di koridor. Dari asrama Slytherin, menuju ke lab, dekat Hospital Wing. Nyaris tak ada anak-anak Hogwarts sedang berkeliaran di koridor sepagi itu. Nyaris, karena dilihatnya ada seorang gadis beberapa langkah di depannya.

Lily Evans!

"Lily?"

"Eh... Hai!"

"Sedang apa kau di sini, pagi-pagi begini?"

Lily memiringkan kepalanya. "Apakah—aku mengenalmu?"

Severus mengutuk dirinya sendiri. Tentu saja, Lily tak mengenalnya. Sejak peristiwa itu, Severus menyibukkan diri membaca tentang gejala lupa yang diderita Lily, menyibukkan diri merancang formula, menyibukkan diri meramu—

"Aku—Se—"

Dan segerombolan makhluk-makhluk Gryffindor datang dengan terburu-buru, seolah-olah Lily berjalan sendirian di padang yang berbahaya, dan sedang bercakap dengan monster, jadi harus diselamatkan—

"Lily! Rupanya kau di sini!"

"Lily! Kukira kau ada di mana!"

"Lils! Kau bikin aku jantungan saja—"

Lily memandang Severus dengan pandangan memohon maaf. Sepertinya sudah akan mengucapkan sesuatu, tetapi Potter memotongnya. "Dia Snape. Anak Slytherin."

"Oh."

"Ayo kembali ke asrama, Lils—"

Gerombolan itu berjalan ke arah asrama Griffindor dengan ribut dan tertawa-tawa.

-o0o-


'Dia Snape. Anak Slytherin.'

'Oh.'


Hanya itu. Lily tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengenal Severus.

Hanya itukah? Lalu ke mana masa-masa indah di tempat bermain di dekat rumah mereka? Di dekat sungai? Di bawah pohon? Ketakutan Lily akan ditangkap Dementor karena ia sudah melakukan sihir ilegal? Dan seribu satu kenangan lainnya?

lama sudah kau menemani

langkah kaki di sepanjang perjalanan

hidup penuh cerita


'Dia Snape. Anak Slytherin.'

'Oh.'


-o0o-


Masa-masa berlalu. Ketegangan terus memuncak dengan munculnya Pangeran Kegelapan. Banyak penyihir menjadi pengikutnya, tetapi banyak pula yang menjadi lawannya. Lily yang kemudian menikah dengan James Potter berada di pihak lawan Pangeran Kegelapan. Demikian juga kemudian ketika anak mereka lahir. Anak yang ternyata diramalkan akan menjadi lawan sepadan Pangeran Kegelapan.

Tak ada yang tahu bahwa selain pihak pengikut dan pihak lawan Pangeran Kegelapan, ada juga orang-orang tertentu yang mempertaruhkan nyawa menjadi agen ganda. Jika kepergok pihak Pangeran Kegelapan, bisa dibunuh seketika, tetapi juga demikian jika kepergok pihak lawan. Pihak Orde Phoenix.

Dan Severus adalah satu di antara mereka.

Menjelang akhir Perang Besar, Pangeran Kegelapan sendiri yang memergokinya, dan membunuhnya melalui Nagini.

Harry Potter—anak Lily—menemukannya di akhir hidupnya.

"Po-Potter—"

Dari mata, telinga, dan mulutnya keluar sesuatu, bukan cairan bukan pula gas.

Harry nyaris tak mengerti.

Itu memori.

Hermione, salah satu rekannya, mengeluarkan sebuah tabung. Harry kemudian menampung memori yang dikeluarkan oleh gurunya itu.

"Tatap... lah... aku—"

Mata hitam itu bersirobok dengan sepasang mata hijau. Mencoba mengirimkan pesan, yang ia tak tahu akan sampai ataukah tidak.

aku ingin kau menjadi bidadariku di sana
tempat terakhir melabuhkan hidup di keabadian


FIN

Monday, 17 January 2011

The Real Hero by mela jasmine

The Real Hero by mela jasmine
Link Asli ada di sini

The Real Hero


A fanfiction by Mela

Disclaimer: Harry Potter © JKR

Kategori: Modifikasi Canon (karena di sini Snape tidak mati xp), Drama, Angst (?)

Rating: T

Karakter: Harry Potter, Severus Snape, Luna Lovegood

…..

Hati-hati Harry menekan tonjolan serupa tombol itu. Gerak mengayun dahan-dahan Dedalu Perkasa serentak berhenti. Harry masuk ke dalam terowongan. Perlahan ia maju, pasti tujuannya. Shrieking Shack.

Di sana ada jenazah seseorang yang sudah ia salah pahami. Yang tadi malam tergesa-gesa mereka—Harry, Ron, dan Hermione—tinggalkan. Sekarang akan ia bawa kembali ke Hogwarts. Akan disemayamkan di tempat sangat terhormat. Agar semua orang tahu, seperti apa jasa-jasanya—yang selama ini disembunyikannya.

Harry menghela napas. Dan terus maju. Shrieking Shack menunggu tepat di depan, jenazah itu menunggu tepat di depan—

Harry benar-benar lupa bernapas kini.

Jenazah Snape tak ada di sana.

….

Wednesday, 12 January 2011

Warm by Sun-T

Warm by Sun-T
Link aslinya ada di sini

WARM

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Severus. S & Harry P.

Rate : T

Genre : Angst / Hurt / Comfort

Warning : OOC, Modifiate Canon, 1st PoV

A/N.

Baru kali ini saya merasa takut mem-publish fic, saya ga tau ini fic bakal jadi gimana, saya ga ngerti banget tentang karakter Severus Snape. Sebenarnya pengen batal ikutan Snape day karena saya takut ngerusak imej dia, tapi dengan semangat Bonek / modal nekat saya jadi juga bikin fic ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau ceritanya aneh atau karakternya OOC *bungkuk2*

Selamat membaca…!

.

#

.


Mata hitamku memandang lepas ke luar jendela, salju masih menutupi sebagian rumput yang tumbuh liar di luar sana. Udara juga seharusnya masih terasa dingin, tapi entah kenapa aku tak merasakan itu, apakah ini karena aku tak pernah tahu bagaimana rasa kehangatan itu sendiri?

Aku duduk di kursi kayu yang tebal diselimuti debu, tapi aku tak peduli, aku ingin memejamkan mataku sejenak, mengingat semua yang terjadi di sepanjang hidupku.

Monday, 10 January 2011

My Devotion For You by second.hand.of.time

My Devotion For You by second.hand.of.time
Link asli ada di sini

Summary: Severus Snape adalah seorang pria dengan banyak keahlian dan kepribadian, tak ada yang tahu yang mana yang sesungguhnya benar-benar dia. Ia juga "diketahui" bermuka dua, mengabdi pada dua sisi, gelap dan terang, tak ada yang tahu pasti di mana ia berdiri. But really, Severus Snape is just someone who is devoted.

Warning: Angst, character death, Non-AU (I guess).

D.U. (Dengan Ucapan): Happy Birthday deaaar Sevvieeeeeee… *dilempar bezoar*. Di ffnet terpublishnya tanggal 8 Januari, tapi di Indonesia sudah tanggal 9 Januari (waktu ini di publish jam 6 pagi) jadi masuk yaa...

Disclaimer: Harry Potter © J.K.R.


My Devotion For You



Bila ada satu hal yang dibanggakan Severus Snape selain kemampuannya membuat ramuan, itu adalah pengabdiannya. Bila ia memusatkan perhatiannya pada suatu hal, maka ia akan melakukannya dan menyelesaikannya. Sifat inilah salah satu faktor yang menyebabkan ia mampu menyelesaikan berbagai macam ramuan—bahkan yang sulit sekalipun—dan menjadi seorang ahli. Bukan hanya karena ia teliti dan bisa menginterpretasikan kalimat-kalimat dalam buku-buku ramuan tua tebal dan berdebu itu, tapi juga karena determinasinya untuk meneruskan apa yang sudah ia mulai, tekadnya untuk menyelesaikan tugasnya.

Determinasinya kebanyakan membawa keberhasilan.

Karena itulah ia merangkul kebiasaan itu—sifat itu dekat-dekat. Dengan mengabdikan diri pada suatu hal yang dikerjakannya, ia tidak akan mudah digoyahkan untuk meninggalkannya tak terselesaikan. Ia mengekstensikannya ke aspek kehidupannya yang lain. Dalam pelajaran (untuk mengerjakan tugas yang kian menumpuk tak ada habisnya setiap malam, untuk menguasai mantra-mantra sulit), kehidupan asrama (untuk mengabaikan ejekan dari Potter tentang rambut berminyaknya—yang tidak bisa dihindari akibat uap ramuan-ramuan yang dibuatnya), politik (untuk menjaga ekspresi tetap kosong meskipun bosan setengah mati mendengarkan Lucius Malfoy berpidato soal Pangeran Kegelapan di Ruang Rekreasi Slytherin), bahkan kehidupan rumahnya (untuk menyembunyikan ekspresi kesakitan ketika ayahnya memukulinya, supaya ibunya tidak terlalu khawatir).

Termasuk cinta.

Seperti dalam banyak aspek, Severus Snape juga memiliki pengabdian yang kuat dalam cinta.

Sayangnya, pengabdian dan determinasinya dalam cinta tidak termasuk dalam kategori "kebanyakan berhasil".

I'm Sorry by Oxenstierna N.S

I'm Sorry by Oxenstierna N.S

Link asli ada di sini



I'm Sorry

Written by: Oxenstierna N.S (saya Chibiusa kalau pada masih ingat)

Disclaimer: JKR

Characters: Severus Snape, OC

Note: FF ini dulu pernah saya hapus beberapa bulan lalu karena suatu alasan dan banyak yang saya perbaiki lagi setelah saya baca ulang. Ini untuk Snape Day, maaf kalau kecepatan karena tanggal 9-15 belum tentu saya bisa OL karena tanggal segitu saya sibuk. Happy birthday, Snape biar kecepetan.

.

.

.

Severus Snape, begitulah dia dipanggil. Pria yang pendiam dan berbahaya bagi yang berurusan dengan pria ini karena dia adalah seorang Pelahap Maut kesayangan Pangeran Kegelapan sendiri yang tak lain dan tak bukan adalah Lord Voldemort. Membunuhi muggle-muggle merupakan pemandangan biasa bagi Pelahap Maut walaupun Snape merasa sakit setiap melihatnya. Apalagi jika korbannya adalah anak-anak di bawah umur. Memang Snape bukan pecinta anak-anak karena dia sangat membenci anak-anak, tetapi setiap melihat penyiksaan anak, hatinya bagai teiris-iris karena hal itu mengingatkan akan dirinya ketika dia masih kecil.

Dia tidak tahu lagi bagaimana harus menghentikan semua jenis penyiksaan yang ditujukan kepada anak kecil.

"Snape," perintah sang Pangeran Kegelapan. "Kau tahu apa yang kuinginkan?"

Snape membeku di tempatnya. "Apa maksudmu?"

"Kau tahu apa yang aku inginkan, bukan," Pangeran Kegelapan mendesis. Snape tersedak, tahu apa yang akan diperintahkan kepadanya.

Wednesday, 13 January 2010

Trust by Slyth Sevvy

Link asli ada di: http://www.fanfiction.net/s/5661661/1/Trust


SNAPEFIC for SNAPE'S DAY!

Prekuel dari I Will.

Pairing SeverusLily.

Rate M for Mature Contens.

Yup, apa lagi yang bisa diharapkan dari saya jika menginjak rate M? Smuty? Lemon? Not Children Under 17? Tentu saja saya mengeluarkan warning NC karena memang sedikit grafik.

Oke.. Don’t like, don’t read! Dan yang di bawah umur tekan tombol BACK!


.

-o-o0o-o-

TRUST

By Niero

Harry Potter © J.K. Rowling

-o-o0o-o-





Pertengkaran.

Dan pertengkaran lagi.

Tuesday, 12 January 2010

Affection by ambudaff

Link asli bisa ditemukan di: http://www.fanfiction.net/s/5657777/1/Affection



The Affection

Harry Potter kepunyaan JK Rowling

Setting setelah Voldemort mati, dengan mengabaikan Buku 6 dan 7, sehingga Severus Snape masih hidup dan masih menjadi guru Ramuan. Harry belum kelihatan naksir Ginny :P

-o0o-



Lord Voldemort telah mati.

Semua bersuka ria. Seperti adegan beberapa belas tahun yang lalu, semua penyihir bersuka ria. Malahan beberapa cukup berani untuk menampilkan identitasnya di dunia Muggles. Yah, namanya juga orang bersuka ria.

Tetapi, tidak. Ada beberapa gelintir penyihir yang masih menyimpan harapan bahwa Pangeran Kegelapan akan kembali. Mereka masih melancarkan serangan secara sporadis di mana-mana. Tentu saja para Auror sibuk menjaga keadaan.


-o0o-


Hogsmeade. Suasana sekarang ceria. Di mana-mana orang sibuk membicarakan Lord Vol … eh, maksud penulis … Voldemort. Fiuh. Susah juga menyebut namanya tanpa disertai ketakutan.

Yah, pokoknya sekarang Hogsmeade penuh dengan anak-anak Hogwarts yang baru saja bisa keluar setelah peristiwa itu. Suasana ceria. Semua tanpa kecuali membicarakan peristiwa itu. Seperti pengumuman Dumbledore, Harry telah membunuhnya.

“Sebetulnya kuharap Dumbledore tidak menyebutku sebagai pelakunya,” Harry berbisik pelan. Kali ini ia terpaksa menggunakan jubah gaibnya, kalau tidak tentu saja orang-orang akan mengerubutinya. Beda dengan Ron dan Hermione, meski dikenal sebagai ‘sahabat-sahabat Harry’ tapi orang tentu saja membiarkan mereka lewat setelah melihat bahwa Harry tidak ada bersama mereka.

Nisan Tanpa Nama by ambudaff

Link asli ada di: http://www.fanfiction.net/s/5657772/1/Nisan_Tanpa_Nama


Nisan Tanpa Nama

Harry Potter kepunyaan JK Rowling

-o0o-



Pemuda berambut hitam acak-acakan itu merapatkan jubahnya. Cuaca dingin sekali dengan tiupan angin yang menyiksa. Matahari sudah sedari pagi tadi cuti, dan membiarkan penghuni bumi—paling tidak penghuni Hogsmeade—tersiksa dengan suhu.

Pemuda tadi melangkah dengan pasti, meniti batu demi batu, menelusuri tanjakan. Ia ingat dulu membawa beban melangkah di sini, dan tali tasnya terasa mengiris-iris bahunya. Oh, ya… itu jaman dulu.. Membawa beban untuk seekor anjing animagi, bekal makanan..

Sekarang, ia sudah dewasa. Dan ia tak membawa beban apapun ke sini.

Kecuali beban hati.

Monday, 11 January 2010

Snivellus Sev by Lala^^

Link asli ada di sini: http://www.harrypotterindonesia.com/index.php/topic,7011.msg146339.html#msg146339

Judul: Snivellus Sev
Disclaimer: J.K. Rowling
Pairing: Snape x Lily
Rating: T
Genre: Romance, Angst, Tragedy
Author's Note: Ehem ehem. Sebaiknya saat anda membaca ini, dengarkanlah lagu Dewi Dee Lestari yang berjudul "Malaikat Juga Tahu" ya. Oke bro? Dan, apa nggak kepanjangan ya? Saya harap nggak. onfire sih, hehe. Okay, here we go!

***

Godric’s Hollow, Inggris 1980

Snape berjalan agak cepat mengikuti langkah lelaki berjubah hitam itu. Ia berusaha agar tidak ketahuan oleh lelaki itu, karena Snape sedang menguntitnya. Ia berjalan dan terus berjalan menyusuri pepohonan rimbun yang tenang dan damai. Laki-laki misterius itu terus berjalan setengah berlari, seakan-akan tak mempunyai tujuan jalan.

Sebenarnya untuk apa laki-laki itu berjalan disini? Bukankah seharusnya dia melakukan hal-hal yang lebih penting lagi untuk membangkitkan kejayaannya kembali? Beribu-ribu pertanyaan terlontar dari pikiran Snape yang masih terus berjalan cepat mengikuti laki-laki itu. Ini sama sekali tidak penting, berjalan-jalan menyusuri pepohonan tanpa tujuan yang belum terlihat juga. Untuk apa? Berlibur? Mungkin sebaiknya—

KRAKK!!

Tuney's Secret by Zen Xiao-Fang

Link asli ada di: http://www.fanfiction.net/s/5651669/1/Tuneys_Secret


A/N: This story may include things you can’t really accept *gaya, padahal cuma Severitus bukan slash* *ditampol*. GAK SUKA GAK USAH BACA. Okeee??

For Snape’s Day! Sev, met ulang tahun emas! Yaaay!


--------------------------------------------------------------------------------


.

Tuney’s Secret

.

Harry Potter © J. K. Rowling

Warning: Severitus, OOC

Petunia (Evans) Dursley’s pov.

.

--xXx--

.

I had rather be a toad, and live upon the vapor of a dungeon

than keep a corner in the thing I love for others uses.

(William Shakespeare)

.



1991

”Aku pernah mimpi tentang motor. Motornya terbang.”

“MOTOR TIDAK TERBANG!” kudengar suara Vernon Dursley, suamiku, membahana dalam mobil kecil itu.

“Aku tahu motor tidak terbang. Itu kan cuma mimpi,” kudengar pula Harry Potter menjawab pasrah dari kursi belakang.

Aku mendengus.

Laju mobil membuat tubuh kami semua berguncang-guncang pelan. Kami sedang menuju ke kebun binatang. Hari itu ulang tahun Dudley yang ke sebelas—anakku satu-satunya, yang amat sangat kusayangi, meskipun aku menyadari mungkin kami melakukan kekeliruan besar dalam merawatnya—yah, lupakan itu. Yang jelas, hari ini aku sedang berada semobil dengan Harry, sesuatu yang amat sangat jarang terjadi.

Ya, Harry Potter yang itu, anak adikku, yang sama anehnya dengannya...