Showing posts with label Genre Friendship. Show all posts
Showing posts with label Genre Friendship. Show all posts

Saturday, 8 February 2014

I Think I'm In Love (Again)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini


I THINK I'M IN LOVE (AGAIN)
Severus Snape dan kawan-kawan merupakan milik JK Rowling
AU, Romance/Friendship, rate T
Tadinya untuk Giveaway Novel ITILA-nya Night dan Suu Foxie, tapi karena terlalu lama nyeleseinnya, jadi aja XD Lagipula, bukan fluff. Juga lebih dari 2K. Sekarang jadinya untuk Snape Day: Challenge Profesi Lain
-o0o-
"Sev, itu rambut merah!" bisik Filius sambil menahan tawa.
Sontak kelompok dosen yang sedang menuju kelas masing-masing itu menoleh ke arah yang dituju Filius Flitwick. Seorang pemuda tinggi kurus sedang berjalan memintas arah mereka, dengan ransel, jaket, setumpukan buku di pelukan, dan earphone di telinga. Rambutnya memang merah, dan gondrong, hingga mencolok mata.
Dosen biasanya menjaga image di depan mahasiswanya, demikian pula kawanan dosen yang ini, menahan tawa hingga melampaui kawanan mahasiswa, baru melepasnya terbahak-bahak.
"Filius! Kau ini!" sambil tersenyum lebar Minerva mendorong bahu Filius—yang lebih pendek dari rata-rata dosen yang ada di situ—main-main, sementara yang didorong bahunya terbahak. "Itu kan cowok! Lagipula, tampangnya seperti itu—"
Severus yang sedang dijadikan bahan tertawaan, hanya menyeringai. Sudah biasa.
Dosen-dosen Hogwarts University kebanyakan masih berusia muda, dan kebanyakan juga kompak satu sama lain. Kalau tidak sedang di depan mahasiswa, becandanya sama saja bagai mahasiswa. Eh, padahal ada beberapa dosen yang usianya bisa dibilang tidak muda lagi, tapi tetap saja...
Salah satu topik yang sering jadi bahan candaan adalah buat mereka yang masih jomblo. Bahkan, sesama jomblo juga sering saling meledek. Tak ada dendam, yang penting senang-senang.
Salah satu sasaran adalah Severus Snape. Tidak bisa dibilang muda lagi, usianya sudah menjelang 40. Dan masih single. Beberapa dosen mengetahui bahwa kekasih terakhirnya, Lily, berambut merah. Panjang.
Karena sampai sekarang masih saja melajang, beberapa dosen meledeknya, mungkin saja Severus mencari yang berpenampilan seperti Lily. Terutama, berambut merah.
Ya, seperti Filius tadi. Mahasiswa berambut merah juga diajukan. Hihi.
Tiba di persimpangan empat gedung, Severus melambaikan tangan. Mereka berpisah gedung, ia akan mengajar di gedung A, rekan-rekan lainnya juga berpencar, akan mengajar di gedung yang lain.
Masuk ke kelas, suasana mendadak hening. Severus memasang wajah dinginnya, menyimpan mapnya di meja, dan berdiri di depan kelas.
"Buka halaman 394," sahutnya.
Serentak mahasiswanya membuka apa yang mereka punya. Sebagian membuka textbook, sebagian lagi membuka laptop-nya menuju ebook-nya, sebagian lagi bahkan via tablet.
"Ada yang sudah membaca ramuan yang akan dibicarakan? Ada yang tahu konsekuensinya?"
Satu tangan teracung dengan antusias. Beberapa detik kemudian menyusul beberapa tangan lain, dengan ragu-ragu.
Severus menghela napas nyaris tak terlihat. Pasti dia lagi. Nona-Tahu-Segala sekaligus Nona-Pasti-Sudah-Membaca-Apa-Yang-Akan-Ditanyakan.
"Miss Granger, beri kesempatan pada orang lain—"
Tangan antusias itu turun dengan lesu.
Tetapi jawaban-jawaban lain tak memuaskannya, sehingga terpaksa ia kembali pada pilihan pertamanya.
"Bagaimana menurutmu, Miss Granger?"
Ia hampir bisa mengeja satu-demi-satu jawaban yang diucapkan Nona-Tahu-Segala ini.
Menghela napas, ia berdiri di depan kelas tinggi-tinggi, tegak-tegak. "Jawaban yang disampaikan oleh Miss Granger itu persis sama apa yang ditulis dalam buku teks. Bukan salah, akan tetapi kalian harus ingat bahwa kalian ini mahasiswa, bukan anak SMA. Bukan penghapal buku teks, tetapi harus menemukan hal baru—"
Kenapa ia harus selalu menyampaikan hal ini di depan para mahasiswa, tahun demi tahun? Kapan mereka akan sadar sendiri?
"Sekarang," ia mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, "coba kalian buat Ramuan pada halaman itu dengan mengurangi satu unsur, lalu tulis apa yang terjadi. Setelah itu, bereksperimenlah untuk menggantikan bahan yang dikurangi itu dengan bahan lain. Analisis kemungkinan apa yang akan terjadi. Kumpulkan minggu depan, tak ada kecuali. Oya, ini tugas perorangan," Severus kembali ke mejanya. Meraih map yang tadi diletakkan di sana, dan bersiap untuk keluar kelas, sebelum ia mengeluarkan perintahnya yang terakhir: "Jangan lupa buat daftar nama, unsur apa yang akan dikurangi, dan unsur apa yang akan dimasukkan sebagai pengganti. Nanti siang daftar itu sudah harus ada di mejaku di ruang dosen—"
Ia memang hanya beberapa menit masuk kelas, tapi efek tugas yang ia berikan membuat mahasiswa baru keluar dari kelas setelah didesak oleh mahasiswa lain yang punya giliran memakai kelas itu kemudian—
-o0o-
"Profesor Snape—"
Severus mengangkat wajahnya dari buku yang sedang dibacanya.
Nona-Tahu-Segala itu lagi.
"Ya?"
"Daftar nama beserta unsur yang dikurangi dan unsur pengganti—" sahut gadis itu, menyerahkan selembar kertas. Rapi tersusun. Persis seperti permintaannya tadi pagi.
Diterimanya. Disimpannya di atas tablet di atas meja.
"Kau boleh keluar—"
"Terimakasih, Profesor."
Dan gadis itu keluar dari ruang dosen. Severus kembali membaca kalimat demi kalimat yang barusan ditinggalkan.
Tapi kenapa ia tidak bisa memusatkan perhatian?
-o0o-
"Coba jangan berisik kenapa sih," Hermione bersungut-sungut. Kalau bisa, sepertinya ia mending masuk ke dalam buku yang sedang dibacanya, supaya tidak terimbas keberisikan ruang belajar bersama ini.
"Yah, kalau ingin tenang sih mending belajar di Perpus, Hermione! Tapi di Perpus kan enggak bisa bikin ramuan dan menyaksikan apa yang akan terjadi pada ramuan coba-coba-mu—" belum juga Harry selesai berucap, kuali Ron sudah meledak lagi—ketiga atau keempat kalinya.
"Ron!" Hermione khawatir dan langsung mendekatinya.
"Enggak apa-apa, beneran!" Ron mengusap wajahnya yang legam terkena asap percobaannya, dengan lengan bajunya. Jelas saja kemeja putihnya berubah menjadi hitam di bagian lengan.
Ron langsung menuju meja tempat di mana laptopnya diletakkan, dan mulai mengetik. "Dari... empat... percobaan... keempatnya... berakhir... dengan... meledaknya..." dan Hermione semakin tak sabar.
"Baiklah. Kalau ada yang mencari, aku ada di Perpus ya!" sahutnya, menumpukkan bukunya, dan membawanya pergi.
"Hermione! Percobaanmu bagaimana?"
Hermione hanya melambaikan tangan, tanda percobaannya sudah selesai dari tadi, dan ia hanya menginginkan ketenangan untuk membaca.
-o0o-
Deretan buku sudah ditelusuri, sudah ada beberapa tumpuk buku untuk dibuka diletakkannya di meja. Rasanya sudah cukup, Hermione membatin.
Ia kembali ke mejanya, dan mulai membuka satu demi satu bukunya. Membuat catatan di laptopnya. Membandingkan dengan file-file yang sudah ia buat. Mencari tautan rujukan baru di internet.
Ada satu item yang sulit sekali ia temukan. Rasanya ia pernah membacanya di buku. Coba ia cari dulu di internet.
Tapi tak diketemukan. Mungkin kata kunci pencarinya bukan itu?
Hermione mencari lebih lanjut.
Masih belum ia temukan.
Baiklah.
Mungkin bisa ia cari manual di buku. Kalau tidak salah bukunya—
—Hermione baru ingat bahwa tadi ia tidak mengambil buku itu. Terpaksalah ia berdiri untuk kembali menelusuri rak-rak, mencari bukunya. Kalau tidak salah bukunya ada di—
—terlambat!
Kenapa Hogwarts sebegini besarnya, buku di perpustakaannya selalu masih terasa kurang? Buktinya ini! Buku yang ia cari, sudah ada yang duluan mengambil.
Hermione melihat berkeliling. Siapa tahu orang yang mengambil duluan masih ada di perpustakaan. Siapa tahu orang yang sudah duluan mengambil bukunya, bisa mengijnkannya melihat barang sehalaman-dua halaman. Ia tidak membutuhkan buku itu seutuhnya, hanya halaman tertentu saja.
Matanya terhenti di meja Madam Pince. Pustakawati itu sedang melayani—tidak lain dan tidak bukan, Profesor Snape. Dan buku yang ada di tangannya, yang akan dipinjamnya, adalah buku yang ia cari-cari sedari tadi.
Lemas.
Ya sudah. Hermione kembali duduk di kursinya. Ya sudah. Mungkin itu bisa dilakukan besok atau lusa, sekarang mending mencari data tentang hal lain lagi.
Tapi, Hermione sama sekali tidak bisa memusatkan perhatian.
Kenapa buku yang ia cari justru sudah dipinjam, dan peminjamnya kenapa justru Profesor Snape?
Huuuuuh!
Rasanya ingin menjambak-jambak rambut, batin Hermione. Tapi cepat-cepat diralatnya sendiri, karena ia tahu seperti apa sulitnya menyisir rambut bergelombang seperti rambutnya kalau sudah dijambak-jambak begitu.
Ya sudah!
Hermione berdiri. Mengembalikan buku-buku yang sudah diambilnya ke rak-rak (sst, seharusnya pustakawati yang mengembalikan buku ke rak, karena mereka tahu kode-kode buku. Akan tetapi Madam Pince biasanya membiarkannya mengembalikan buku itu sendiri karena ia tahu Hermione hapal kodenya seperti pustakawati)
Ada beberapa buku yang akan ia pinjam bawa pulang, jadi ia mematikan laptopnya, memasukkannya ke dalam ranselnya, lalu berjalan menuju meja pinjaman, dan mendaftarkannya pada Madam Pince.
Iseng-iseng ia bertanya, buku yang dipinjam Profesor Snape tadi, dipinjam untuk berapa lama? Kalau peminjaman biasa, dua minggu, ia bisa minta tolong Madam Pince menyimpankan untuknya nanti kalau dikembalikan.
Peminjaman semester?
Dosen dan mahasiswa tingkat akhir punya hak istimewa untuk meminjam buku dalam jangka waktu lama. Biasanya kalau mahasiswa hendak membuat skripsi, atau dosen untuk bahan pemberian kuliah.
Huweeee! Masak ia harus menunggu satu semester?
Ruang Belajar Bersama sudah tidak begitu ramai seperti saat tadi ditinggalkan. Hermione meletakkan ranselnya di sebelah laptop Ron.
Harry dan Ron memandangnya heran.
"Cepat amat, kau sudah kembali dari perpus?" Ron penasaran.
"Buku yang aku cari enggak ada. Ada yang sedang pinjam. Jadi, yah, kupikir aku kembali saja lagi ke sini, dan menulis lagi di sini," sahutnya. Mengeluarkan laptopnya dengan segan, menghidupkannya malas-malasan. Setelah hidup, ia tidak langsung berselancar seperti yang biasa ia lakukan.
"Hermione, ada apa?" Harry khawatir.
Bukannya menjawab, Hermione malah balik bertanya, "Ada nggak ya, orang yang selaluuuu bikin kesel orang lain? Apakah disengaja, atau tanpa ia sengaja, bahkan mungkin ia tak sadar, tapi tingkahlakunya bikin selalu bikin kesel orang lain?
Harry memandang Ron. Ron memandang Harry.
"Kau."
"Aku?"
"Ya," sahut Ron tanpa tedeng aling-aling. "Kau itu selalu bikin kesel orang lain dengan tingkahmu yang bossy dan selalu lebih tahu dari orang lain. Tapi jangan khawatir, kau akan tetap jadi teman kami semua—"
Hermione menunduk. "Jadi, aku bikin kesel ya?"
Harry memandang Ron. Ron memandang Harry. Lagi.
Kali ini Harry menggeser duduknya hingga mendekat. "Ada apa sih? Ini bukan tentang buku yang sudah lebih dahulu dipinjam orang lain, kan?"
"Semacam itulah," keluh Hermione.
"Memang siapa yang meminjamnya?"
Hermione menghela napas panjang. "Profesor Snape."
Kedua rekannya juga menghela napas panjang.
"Tapi, kau kan tinggal menunggu dua minggu—"
"Peminjaman semester—"
Baik Ron maupun Harry merasa perlu untuk mem-pukpuk rekan mereka itu.
Kemudian bahkan Harry dan Ron juga merasa perlu untuk menutup buku dan laptop mereka, demi solidaritas pada rekan (yang kemudian diprotes Hermione 'kalian kan belum selesai mengerjakan tugas, kenapa mesti berhenti, dasar kalian saja yang malas!') dan mulai mengutuk Profesor mereka yang satu ini.
"...dan memang ia tak punya hati—"
"Sebentar. Apa katamu, ia tak punya hati?" Hermione tiba-tiba merasa seperti diingatkan akan sesuatu.
"Kenapa memangnya?"
"Kalian tahu, ada orang yang tega menjual nyawanya pada iblis?"
"Hermione, itu bukannya cuma mitos?" Harry tak percaya.
"Bukan. Aku pernah membaca literaturnya, memang ada. Hanya tak bisa diungkapkan secara ilmiah. Nah, ada tingkat yang lebih rendah dari menjual nyawa, seperti menjual hati ini lah—" Hermione bangkit bergegas, tetapi kemudian ia duduk lagi.
Harry dan Ron memandangnya tak mengerti.
"Aku bisa mencarinya di perpus. Tapi kalau ketahuan Madam Pince, bakal cerewet ia bertanya. Sebaiknya kutunggu sampai jam perpus tutup, lalu aku masuk dari tempat biasa—"
"Hermione—"
Mata Hermione berkilat-kilat membayangkan masuk perpus 'dari tempat yang biasa'. Tak banyak yang tahu tentang sebuah jendela yang bisa dibuka dari luar, dan tempatnya strategis karena berada di Restriction Section. Bukan tempat patroli yang biasa. Di angkatan tahun ini, hanya Hermione yang tahu, plus dua orang 'partners in crime'-nya, Harry dan Ron.
"Hermione—"
Tapi kalau sudah bulat tekad, mana bisa ditegur? Yang ada Harry dan Ron tiba-tiba merasa lemas.
"Kalian tidak usah ikut kalau tak mau. Biar aku saja—"
"Kau pikir, bagaimana kau bisa masuk dari jendela itu tanpa bantuan kami? Kau pikir kau bisa masuk menyisip tembus tembok seperti hantu?"
-o0o-
Maka tersusunlah rencana: Harry dan Ron akan membantu Hermione masuk lewat jendela itu, tapi tak usah ikut masuk. Menunggu saja sampai Hermione memberi tanda, dan mereka akan membantu Hermione keluar lagi.
Jadi, malam itu, berusaha tak membuat suara sedikitpun, ketiganya mengendap-endap menuju jendela itu.
Hermione menggunakan sepatu yang tak berbunyi saat dipakai. Ron dan Harry berfungsi menjadi tumpuan. Hermione naik, membuka jendela dari luar, lalu masuk. Soal di dalam, beres, Hermione punya kartu untuk melewati Restricted Section. Sedikit utak-utik oleh Ron, data yang akan tercatat oleh Restricted Section adalah bahwa Hermione melewati pintu Section itu tadi siang, bukan malam ini.
Singkat kata, Hermione sudah di dalam. Menelusuri rak-rak buku dengan bantuan cahaya senter.
Tak ada di rak-rak buku Restricted Section yang biasa.
Mungkin di lemari khusus.
Hermione perlu waktu lebih lama di bagian ini, karena judul buku-bukunya kebanyakan berhuruf asing. Walau akhirnya ketemu juga. Justru bukan buku tentang penjual nyawa pada umumnya, melainkan daftar pelaku penjualan nyawa. Di sini. Di Hogwarts. Dengan pelaku perantaranya—tak lain dan tak bukan—Madam Pince.
Gemetar Hermione melembari buku itu. Selembar demi selembar. Bagian awal buku itu kebanyakan berisi nama-nama yang tidak ia kenal, dan tahunnya pun jadul.
Halaman menjelang akhir, barulah Hermione menemukan apa yang ia cari. Makin gemetar ia membaca hati-hati, kata demi kata.
Nama: Severus Tobias Snape
Tanggal lahir: 9 Januari 1960
Tanggal transaksi: 1 November 1981
Jenis transaksi: Hati, ditukar dengan kepiawaian sebagai mata-mata ganda
Tak cukup Hermione membacanya sekali. Dua kali. Tiga kali.
Jadi, Profesor Snape sama sekali tidak menukar nyawanya pada iblis seperti yang diduga semula. Lebih menyakitkan justru.
Profesor Snape justru menukarkan hati.
Dan itu untuk mendapatkan sesuatu demi kepentingan negerinya, bukan demi dirinya sendiri.
Hermione sendiri merasakan saat-saat pahit masa-masa Perang Besar. Sekarang, beberapa tahun kemudian, orang bisa bebas menuntut ilmu, tak pandang warna kulit atau gender.
Lemas, nyaris saja ia terjatuh. Tapi ia mendadak sadar, ia harus secepatnya keluar dari sini.
Jadi, Hermione menyimpan buku itu kembali di tempatnya, hati-hati agar seperti semula. Ia berusaha tak bersuara, kembali ke jendela tadi. Memanjatnya, lalu turun di sebelah luar, disambut Ron dan Harry dengan wajah penasaran.
Hermione memberi isyarat agar mereka cepat-cepat kembali ke Ruang Belajar Bersama dulu, baru nanti di sana ia akan menceritakannya.
Tak ada yang tahu, di kegelapan ada sepasang mata menyaksikan semuanya.
Dahulu kala saat ia masih mempunyai hati untuk mencinta, pernah ia berusaha menitipkan hatinya pada seorang wanita berambut merah. Tapi wanita berambut merah itu malah mencintai yang lain.
Itu sebabnya ia berani menukarkan hatinya.
Dengan demikian, ia tak akan pernah merasakan sakit hati lagi. Karena ia sudah tak punya hati lagi.
Tapi, kali ini lain terasa.
Ada rasa sakit, tatkala ia merasa ingin memulai lagi. Padahal, ia percaya ia sudah tak punya hati lagi.
Apakah orang yang sudah tak punya hati lagi, masih bisa merasakan sakit hati?
-o0o-
"Semua tugas dikumpulkan. Bersihkan meja, kecuali alat tulis. Semua peralatan elektronik: ponsel, iPad, dan sebagainya, dikumpulkan. Kuis akan dimulai dalam lima menit—"
Gerutuan di sana-sini, akan tetapi perintah tetap dilaksanakan. Kelas hening saat kuis dimulai.
Mulai lagi gaduh saat kuis selesai. Pengumpulan kuis, mencari-cari lagi alat elektronik yang tadi dikumpulkan, dan sebagainya, dan sebagainya.
Seperti biasa, Miss Granger mengumpulkan semua hasil kuis, dan menumpukkannya di meja depan. Ia menunggu hingga mahasiswa terakhir memberikan hasil kuisnya, baru ia sendiri hendak beranjak pergi.
"Miss Granger—"
Gadis itu berhenti.
Tapi Severus tak kuasa mengeluarkan apa yang ada di hatinya—tidak, bukankah ia sudah tak punya hati?
"—terima kasih."
Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Tapi gadis itu tersenyum. "Sama-sama, Profesor," sahutnya.
Matanya menyampaikan lebih dari apa yang ia ucapkan.
Sepertinya ia juga bisa menangkap apa yang ia ingin sampaikan.
Filius, Minerva, dan kolega-koleganya yang lain bisa ia bungkam kini. Bukan gadis berambut merah yang ia perhatikan, tetapi rambut coklat.
Dan mungkin tidak pada saat ini. Ia harus menyelesaikan dulu kuliahnya, sehingga mereka tak terbatas status.
Tipis bibirnya membentuk senyum.
FIN

Homo roboticus (arvisha)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Homo roboticus
Severus Snape dan Lilly Evans adalah tokoh-tokoh kepunyaan J.K. Rowling. Sherlock Holmes dimiliki oleh Sir Arthur Conan Doyle. Tidak ada keuntungan komersil pada karya ini. Semata-mata hanya untuk hadiah ulang tahun Severus Snape ke-54. Happy Birthday Daddy Sev.. -Rosemary Snape-
Sepasang remaja sedang duduk di bangku taman dalam diam. Keduanya asyik membaca buku masing-masing. Sang remaja lelaki berambut hitam berminyak membaca buku berjudul "The Advance Potion", sedangkan teman perempuannya membaca buku berjudul "Sherlock Holmes: A Study in Scarlet".
Di tengah-tengah keheningan dan kesibukan membaca itu, tiba-tiba gadis berambut merah ikal itu tertawa geli, "Hahahahahahahahaha….".
Remaja lelaki itu pun menengok, agak terganggu dengan perilaku temannya yang tiba-tiba tertawa seperti itu. Ia juga heran, tak biasanya Lily Evans tertawa sangat geli ketika sedang membaca buku. Lagipula buku yang dibaca Lily, setahunya adalah kisah detektif yang cukup serius. Di mana letak kelucuannya?
"Apa yang kau tertawakan Lils? "
"Hahahaha… haduh lucu sekali!", ujar Lily sembari memegang perutnya yang sakit karena tertawa terlalu banyak.
"Apanya yang lucu sih? Bukannya kau membaca buku kisah detektif, muggle yang bekerja menyelidiki kejahatan? Itu kan buku misteri, di mana letak kelucuannya?"
"Haduh Severus, buku ini memang seharusnya tidak lucu, tapi karena aku tampaknya mengenal karakter seperti yang disebutkan pada buku ini, maka buku ini menjadi sangat lucu bagiku", jawab Lily.
"Kau mengenal karakter pada buku itu? Siapa orang yang suka mencampuri urusan orang lain seperti tokoh di buku itu?"
"Ah, Severus, bukan begitu. Sherlock Holmes tidak seburuk itu. Malah dia sangat mengesankan. Dan aku tambah kagum padanya, karena aku mengenal seseorang dengan karakter yang sama seperti Holmes", ujar Lily tersenyum.
"Aku masih tidak mengerti di mana letak kelucuannya", ujar Severus Snape.
Lily membalik badannya sampai ia benar-benar berhadapan dengan Severus, jarak mereka dekat sekali, sampai wajah Severus memerah.
"Hmm.. Kau pasti mengenal orang ini, Coba tebak, siapakah orang dengan karakter berikut: sangat cerdas, sangat teliti dan detail memperhatikan keadaan sekitar, suka mengkritik orang dengan pedas, kaku, susah bergaul, hampir tidak punya teman, pemikir, suka merenung, tanpa ekspresi, sangat menyukai eksprimen kimia, tertarik pada peristiwa kriminal dan berusaha menyelidikinya, serta lebih sering menggunakan akal pikiran dibandingkan hari jika mengambil keputusan?",
Severus Snape termenung dan tampak berpikir keras setelah mendengar ucapan Lily, "Hmm.. sepertinya aku tidak kenal muggle yang kau sebutkan, Lils..".
"Muggle? Oh No!, He is a wizard, Sev! Haduh masa sih kau tidak menyadarinya?"
"Menyadari apa?"
Lily sudah tampak sangat gemas, menahan kesal dan geli sekaligus, "Sev, semua hal yang kusebutkan itu adalah karaktermu. Kau mirip dengan Sherlock Holmes! Oh ya satu lagi, kalian sama-sama suka warna gelap", ujar Lily sembari beranjak pergi meninggalkan Snape.
"Hei, Lily, kau mau kemana? Aku masih belum paham maksudmu!"
"Pikirkan saja sendiri, kau kan secerdas Holmes, jadi hal ini harusnya mudah", ujar Lily menengok sebentar ke arah Snape, lalu kembali meneruskan perjalanannya.
Severus Snape masih terpekur sendiri di bangku taman itu.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali bertemu di bangku taman tersebut. Mereka memang sering bertemu di taman terdekat dari rumah mereka. Severus Snape dan Lily Evans bukan sepasang remaja biasa, mereka adalah penyihir remaja berusia 13 tahun yang sedang menikmati liburan musim panas. Mereka berdua bersekolah di sekolah khusus penyihir, Hogwarts.
Severus dan Lily sudah saling mengenal sejak mereka belum berada di sekolah itu. Hampir tiga tahun yang lalu, Severus yang sering menyendiri di taman itu, melihat Lily sedang mempertunjukkan bakat sihirnya kepada sang kakak. Lily tidak mengerti bahwa yang ia lakukan adalah sihir (membuka dan menutup mahkota bunga Lily). Severus-lah yang menjelaskan kepada Lily mengenai bakatnya itu, Severus juga yang memperkenalkannya dengan dunia sihir. Sejak saat itu, mereka berdua menjadi sahabat akrab, baik di sekolah, maupun di rumah.
Severus Snape tidak hanya sekedar menganggap Lily sebagai sahabat, diam-diam dia tertarik dan menyukai Lily, namun ia tak pernah berani untuk mengutarakannya. Dia hanya menikmati saat-saat berdua dengan Lily. Apalagi saat liburan sekolah seperti ini, tidak ada teman-teman yang mengganggu kebersamaannya dengan Lily. Petunia Evans, kakak Lily pun enggan mengganggu mereka, walau sering memarahi Lily, jika ia bertemu dengan mereka berdua. Severus Snape tidak ambil pusing terhadap Petunia, "Dia iri dengan kemampuan menyihir yang kita miliki, Lils", ujar Snape setiap Lily menceritakan perilaku menyebalkan sang kakak.
"Sev, tahu tidak? Ternyata Sherlock Holmes juga bisa jatuh cinta lho", ujar Lily memecah keheningan.
"Jatuh cinta? Bukannya kau bilang, detektif itu lebih sering menggunakan pikiran dibanding hati? Bagaimana cara ia bisa jatuh cinta?"
"Hahaha.. tapi kan dia juga manusia, Sev. Dia jatuh cinta kepada wanita yang berhasil mengelabuinya. Nama wanita ini Irene Adler. Miss Adler merupakan wanita yang sangat cerdas, sehingga pria sejenius Holmes pun tertarik kepadanya".
"Hmm.. kali ini,.. kurasa ada persamaannya denganku. Aku juga menyukai gadis yang cerdas…", ujar Snape dengan wajah sangat merah, seperti telah melakukan suatu hal yang sangat memalukan. Wajahnya pun tertunduk.
Lily menatapnya dengan wajah keheranan, "Oh ternyata, kau bisa jatuh cinta juga Sev? Siapa gadis yang kau sukai Sev? Ayolah katakan padaku! Aku bisa jaga rahasia", desaknya.
"Ah, sudahlah. Lupakan! Anggap aku tak pernah mengatakan ini".
"Lho, kenapa?"
"Karena gadis itu tak mungkin tertarik padaku. Sudahlah, aku tak ingin membahas ini".
"Hmm… Gadis Slytherin mana ya yang beruntung itu? Akan kuselidiki…"
"Eh, Slytherin? Aku tak pernah bilang apa-apa tentang gadis itu. Dia bukan Slytherin koq!"
"Oh ya, kalau begitu dari asrama mana dia? Tak mungkin muggle kan? Kau sepertinya tak menyukai muggle".
"Sudahlah Lily, aku tak mau membicarakannya. Ceritakan saja padaku tentang detektifmu itu".
"Huuu… menyebalkan! Kau tak mau membagi kisah cintamu padaku! Aku pulang saja!", ujar Lily seraya pergi meninggalkan Snape lagi.
"Hei Lily! Tunggu, jangan pergi dulu!"
"Apa? Kau mau menceritakannya padaku?", tanya Lily.
"Ti.. tidak. Tentu saja tidak. Tapi kan kita bisa membicarakan hal lain".
"Ya sudah, aku pergi saja. Aku bosan diam di taman begini terus!"
Severus hanya terdiam dan membiarkan Lily pergi. Tak mungkin ia mengatakan bahwa gadis itu adalah Lily sendiri. Terlalu malu dan takut untuk mengakuinya. Kalau Lily menolak cintanya, lalu tak ingin bersahabat dengannya lagi, lalu bagaimana? Severus tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Lily.
Untungnya, kemarahan Lily kepada Snape cepat meluap. Mereka pun kembali bertemu di taman. Namun, ketika Severus mulai mengeluarkan bukunya, Lily menepis tangan itu. "Sev, aku bosan kalau bertemu denganmu hanya membaca buku, dan kita sibuk dengan bacaan masing-masing".
"Apa maksudmu? Bukankah kau senang membaca?"
"Yah, tapi ada hal yang lebih menarik. Yuks kita ke rumahku. Tuney sedang pergi bersama Daddy ke London. Mum mengizinkanku untuk mengajakmu ke rumah. Ia sedang membuatkan kita pancake blueberry yang lezat".
"Ke.. ke.. ru.. rumahmu, Lils?"
"Iya, ayolah, ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu".
"Hmm.. Baiklah", Ujar Snape sembari memasukkan kembali bukunya. Mereka pun berjalan beriringan ke rumah keluarga Evans. Sesampainya di sana, ternyata Mrs. Evans telah menunggu mereka.
"Hallo Severus, apa kabarmu? Menyenangkan kah liburan kali ini?", sapa Mrs. Evans seraya memberikan kecupan singkat pada kening Snape dan memeluknya hangat. Severus Snape pun merasa kikuk. Sangat jarang ia diperlakukan demikian, walaupun oleh orangtuanya sendiri.
"Hallo Mrs. Evans, Aku baik-baik saja. Yah musim panas kali ini cukup baik. Terima kasih telah mengundangku".
"Never mind, Severus. Aku senang, jika Lily senang. Nah tampaknya ia sudah tidak sabar ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu", ujar Mrs. Evans.
"Yuks masuk Sev. Tunggu sebentar ya, Aku ambil dulu barangnya di kamar".
Lily pun segera kembali dengan membawa suatu barang muggle yang aneh dan belum pernah dilihat Severus.
"Apa itu Lils?", tanya Severus sambil memperhatikan benda yang dibawa Lily. Benda itu berbentuk seperti piring berwarna hitam dan berlubang di bagian tengah.
"Ini namanya piringan hitam, Sev. Benda ini untuk menyimpan film, lalu dengan alat itu, piringan ini diputar, sehingga kita bisa menonton film melalui kotak yang bernama televisi. Ini semacam sihir yang dilakukan muggle. Mereka menyebutnya teknologi", jelas Lily tersenyum.
"Hmm.. sepertinya menarik, walau aku tidak begitu suka barang-barang muggle. Di rumahku sangat sedikit barang muggle, apalagi yang mahal-mahal seperti ini".
"Kau pasti akan sangat tertarik Sev, ayolah kita tonton", ujar Lily sambil memasang piringan hitam ke alat pemutarnya dan menyalakan televisi.
Begitu film dimulai, Severus langsung berseru, "The Adventures of Sherlock Holmes? Lho, ini seperti buku yang kau baca kan Lils?"
"Yupz. Dan film ini berseri. Kita akan menontonnya beberapa kali. Ini film lama, sudah agak susah ditemukan. Aku senang sekali ketika Daddy berhasil mendapatkannya. Nah, sekarang kita diam ya, nikmati filmnya. Dan kau akan menyadari banyaknya kesamaan kau dengan sang detektif", ujar Lily.
Mereka berdua asyik menonton. Begitu film habis, Severus tampak merasa kecewa. Lily tersenyum melihatnya, "Nah Severus, sepertinya kau mulai menyukai Mr. Holmes. Besok kita tonton lagi ya episode selanjutnya".
Mereka pun hampir tiap hari menonton bersama di rumah Lily, mencuri waktu jika Petunia sedang keluar rumah. Setiap selesai menonton, mereka mendiskusikan film tersebut. Ah, kegiatan ini lebih mengasyikkan dibanding hanya membaca buku dalam diam.
"Lils, emm… Kau bilang, Mr. Holmes mirip denganku. Aku masih belum menyadari di mana kemiripan kami. Dia kan muggle, tentu saja berbeda denganku. Namun, aku dan dia sepertinya sama dalam satu hal. Eeer… Ka.. Kami tak berani mengungkapkan isi hati kami pada gadis yang kami sukai", ujar Snape pelan.
"Hmm.. kau harus mengungkapkannya Sev! Kalau tidak gadis itu akan meninggalkanmu dan memilih bersama pria lain".
"Aku tidak bisa. Aku.. aku.."
"Kau kan manusia Sev, bukan robot! Sherlock Holmes juga. Tapi kalian seperti robot! Manusia yang seperti robot, Homo roboticus!"
"Eh apa itu? Aku baru mendengarnya".
"Yah, tentu saja kau baru mendengarnya. Aku kan menyebutnya asal. Yah tidak asal juga sih. Itu kan bahasa latin untuk manusia robot seperti kau dan Holmes".
"Aku penyihir, bukan mesin yang mirip manusia!"
"Iya, tapi kau sangat jarang menggunakan perasaanmu, jadi kau seperti robot yang tidak punya perasaan".
"Aku punya perasaan!"
"Kalau begitu, ungkapkan perasaanmu pada gadis yang kau sukai itu. Kalau tidak, kau kan menyesal seumur hidupmu begitu melihat gadismu itu bersama pria lain".
"Ta.. tapi.."
"Tidak ada kata tapi, Sev. Cinta itu harus dikatakan, jangan hanya dipendam. Bahkan cinta harus diperjuangkan. Mungkin kau menganggap gadis itu tidak tertarik kepadamu, tapi kalau kau mau berjuang untuknya, maka ia akan mulai melirikmu dan juga jatuh cinta kepadamu", jelas Lily.
"Lily, bagaimana kau tahu banyak tentang cinta? Kau kan baru berusia 13 tahun".
"Mum yang sering bilang begitu padaku. 'Tuney dan Lily, Mum akan mengizinkan kalian menikah dengan pria manapun, asal pria itu sangat mencintai kalian dan mau berjuang untuk kalian. Cinta harus diperjuangkan!' ", ujar Lily seraya menirukan suara ibunya.
"Hmm.. baiklah, akan kucoba. Walau sepertinya itu sangat susah. Jauh lebih susah dari OWL maupun NEWT!', ujar Severus Snape.
Namun, sampai bertahun-tahun kemudian, Severus Snape tidak pernah mengungkapkan cintanya kepada Lily Evans. Sampai akhirnya hubungan mereka memburuk karena kesalahan Snape. Persahabatan mereka terputus, dan Lily menikah dengan James Potter -saingan dan musuh besar Snape.-.
Lily dan James dulunya tidak akur, James sering mengganggu Severus, jika ia sednag bersama Lily. Lily pun membenci James. Namun, James selalu berjuang untuk mendapatkan cinta Lily. Sampai akhirnya Lily mau menerima pria itu dan bersedia menikah dengannya.
Di hari pernikahan Lily, Severus Snape hanya termenung sendirian di kamarnya. Berusaha menahan tangis. Ia tidak boleh menangis! Namun rasa sakit begitu menyesak di dadanya. Snape berbaring di tempat tidurnya sambil berusaha memejamkan mata.
Tak lama, ada suara ketukan di jendela kamarnya. Seekor burung hantu berwarna putih seperti bunga Lily, sesuai dengan sang pemilik, mengetuk jendelanya.
"Holmes, burung hantu milik Lily? Lily mengirimkanku surat?", ujar Severus keheranan.
Ia pun membuka jendelanya, lalu mengambil suratnya, sang burung hantu segera melesat terbang.
Sehelai perkamen beraroma bunga Lily, ia buka dengan rasa sakit yang semakin menyesakkan dada, air mata tak tahan lagi ia simpan. Sejumput kalimat tertera di surat itu:
"Kini kau menyesal bukan, Homo roboticus?"
- Tamat-

Kalimaya (ambudaff)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


KALIMAYA
Severus Snape dan Harry Potter adalah kepunyaan JK Rowling
AU, Rate T, friendship/family
Linimasa dimulai dari bab terakhir sebelum epilog buku 7
Untuk Snape Day
-o0o-
Berjalan bertiga keluar dari kantor kepala sekolah, Harry tiba-tiba terhenti.
"Ada sesuatu yang kulupa!"
Hermione dan Ron saling berpandangan.
"Snape. Ia masih ada di Shrieking Shack—"
"Tapi dia sudah mati, Harry. Biarkan saja seseorang mengambilnya nanti, sekarang kau harus beristirahat dulu—" Ron mencoba menyela.
Harry menggeleng, dan berbalik arah, "Kalian istirahatlah, aku akan melihatnya dulu—"
Tapi Hermione sudah keburu menarik tangan Ron, menyusul langkah Harry, "Sebaiknya kita bertiga melihatnya lagi. Ada sesuatu yang kucurigai—"
"Mencurigai apa?" Harry menghentikan langkahnya.
Hermione menggeleng, dan menarik juga lengan Harry pergi. Ketiga bergegas menuju Dedalu Perkasa, yang otomatis bergerak-gerak marah begitu melihat mereka bertiga datang.
Harry menunjuk satu titik di daerah akar dengan tongkatnya, tanpa mengucap mantra keras-keras. Gerakan dahan-dahan Dedalu Perkasa terhenti, dan ketiganya mendekati lubang di tanah. Tak membuang waktu, ketiganya masuk. Sambil menunduk-nunduk menghindari langit-langit terowongan yang rendah, ketiganya sampai ke Shrieking Shack.
—kecurigaan Hermione sepertinya benar!
Posisi tubuhnya berbeda dari saat tadi ditinggalkan. Hermione menyimpulkan setelah melihat jejak darah. Seperti yang mencoba bangun tapi tak kuasa.
Hermione meletakkan jari telunjuk dan jari tengahnya di leher Snape, mencoba mencari denyut pembuluh darah.
Ada.
Terdeteksi, walau sangat-sangat-sangat lemah!
"Harry," sahutnya tertahan, "—ia memang masih hidup. Sepertinya, sepertinya ia memakai Stopper of Death, atau semacamnya—"
Setengah tak percaya, Harry mendekati tubuh Snape, mengamati, dan bergegas mengambil keputusan, "Kita bawa pada Madam Pomfrey!"
-o0o-
Harry membawa tubuh Snape ke Hospital Wing dan segera memberitahu Madam Pomfrey. Madam Pomfrey segera mengambil tindakan. Ia tahu tata laksana yang harus dikenakan pada pengguna Stopper of Death. Ada satu kendala sebenarnya, yaitu ia tak tahu bisa ular apa yang digunakan pada Snape, dan bagaimana mengobatinya!
Untung Hermione ingat bahwa Arthur Weasley dulu juga pernah digigit ular yang—dicurigai Nagini—sama ! Mereka memberitahu Madam Pomfrey, dan Madam Pomfrey bergegas menghubungi St Mungo untuk mencari Hippocrates Smethwyck, Healer yang dahulu mengobati Arthur.
Smethwyck tak butuh waktu lama untuk meramu obatnya. Dalam waktu dua minggu, berangsur-angsur fungsi segala organ tubuh Snape mulai beranjak normal. Tinggal menunggu waktu saja untuk siuman.
Hermione dan Ron memang kadang turut menunggui, tapi Harry-lah yang terus menerus menunggui. Harap-harap cemas, semoga tak terjadi sesuatu yang tak diharapkan.
-o0o-
Mata hitam itu membuka. Perlahan. Mengerjap-ngerjap. Mencoba fokus ke satu arah. Memperlihatkan tanda-tanda kesadaran.
"Sir—" Harry bergegas menghampiri.
Snape mencoba bangun, berusaha untuk duduk. Harry membantunya dengan canggung, kalau-kalau ia tak sudi dibantu.
Menghela napas dengan susah payah, mulutnya mencoba mengeluarkan suara, "—sudah selesai?"
Harry mengangguk, "Kita menang, Sir—" ia menekankan pada 'kita', menekankan bahwa mereka berada pada pihak yang sama. Tanpa bicara lebih banyak lagi, ia menuangkan air putih dari kendi pada sebuah piala, dan memberikannya.
Snape menerimanya tanpa protes. Mencoba meminumnya, walau dengan gerakan terpatah-patah. Tak ada suara lagi. Hening.
Merasa tak tahu harus berbuat apa lagi, Harry akhirnya berkata, "Saya panggilkan Madam Pomfrey dulu, Sir—"
Snape mengangguk pelan. Herannya, tak berbicara banyak, tak protes.
Tak melepaskan pandangan dari Snape, Harry berjalan menuju kantor Madam Pomfrey. Memberitahunya kalau Snape sudah siuman.
Madam Pomfrey bergegas menuju Snape. Harry sudah akan mengikuti, ketika Hermione dan Ron muncul.
"Dia sudah sadar?" tanya Ron.
Harry mengangguk.
"Ada apa, Harry?" Hermione ternyata melihat kecemasan di raut wajah Harry.
"Aku tak tahu. Sikapnya seperti—seperti berbeda. Tapi kita lihat saja dulu, mungkin saja ini karena beliau baru saja siuman."
Mata Harry terus menatap arah Snape saat berucap itu. Ia terus memperhatikan, walau ia tak bisa mendengarkan suara mereka dari kejauhan. Madam Pomfrey nampak sedang nyerocos tentang sesuatu, sementara Snape hanya mengangguk atau menggeleng, dan sesekali berucap sepatah-dua patah kata.
Mudah-mudahan kecemasannya tak terbukti.
-o0o-
Mulanya Harry agak segan juga untuk kembali menjenguk Snape. Teringat tiap saat di masa lalu, ucapan-ucapan Snape padanya—
Tapi ia punya utang yang harus ditunaikan.
Maka pagi-pagi, sehabis maju-mundur beberapa kali, ia beranikan diri juga untuk menjenguk.
Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ia dan Snape. Saja.
Harry mengetuk kusen pintu yang tak ditutup, sekedar untuk memberitahu bahwa ia ada di situ.
Snape mengangkat wajah, dan berucap singkat, pelan, "Masuklah."
Harry masuk—ragu—tapi terus masuk. Ia mengeluarkan tabung berisi memori Snape yang selama ini dibawanya.
"Kepunyaan Anda," sahutnya sambil mengangsurkan tabung itu, "—dan saya—saya juga minta maaf—"
Raut wajah Snape seakan bertanya.
"—atas semuanya. Terutama karena menyebut Anda—pengecut—"
Snape menarik napas panjang. Diangsurkannya kembali tabung itu pada Harry. "Simpanlah. Dan tak ada yang perlu dimaafkan—"
"Sir—"
Snape mengangguk meyakinkan.
Harry memberanikan diri menatap mata Snape, dan ia kini yakin sudah.
Snape kini bukan Snape yang dulu lagi.
Ke mana mata hitam yang tegas dan tajam menusuk tiap mata yang berani menatapnya? Mengapa sekarang seolah kedua mata itu hampa? Kosong?
Kedatangan Madam Pomfrey menjadi penyelamat atas keheningan yang terjadi. Memeriksa keseluruhan, memberikan pernyataan, menanyakan sesuatu, plus sedikit-sedikit mengomel karena perintahnya tidak dituruti.
Harry—mundur beberapa langkah memberikan tempat bagi Madam Pomfrey—jadi leluasa mengamati.
Seperti—yang sudah tak punya gairah hidup lagi. Seperti yang kecewa karena hidup kembali.
Snape kini bukan Snape yang dulu lagi.
-o0o-
Guru-guru bergantian menjenguk. Beberapa siswa juga menjenguk, terutama setelah mendengar dari Harry bahwa Snape sekarang tak seperti dulu lagi. Hermione dan Ron—walau Ron harus ditarik-tarik dulu—Neville, Ginny dan Luna. Draco.
Walau singkat, Snape mendengar juga cerita tentang Neville menebas Nagini, dan mengucapkan terimakasih padanya. Wajah Neville berubah menjadi ungu mendengarnya. Snape mengucapkan terimakasih padanya?
Raut wajah Snape mengeras mendengar nama-nama yang gugur. Fred Weasley. Remus Lupin. Nymphadora Tonks.
Dan ia terdiam mendengar permintaan Profesor McGonagall untuk kembali mengajar di Hogwarts. Perlahan ia menggeleng. Walau Profesor McGonagall memintanya agar tak usah menjawab buru-buru, pikirkanlah dulu baik-baik, tapi ia tetap menggeleng.
Harry cemas.
Ada sesuatu yang hilang. Ia benar-benar bukan Snape yang dulu.
-o0o-
Kini Harry selalu menyempatkan diri menjenguk Snape, walau hanya sebentar. Kadang bahkan ia hanya melihat dari luar—saat ada guru lain yang sedang menjenguk—kadang juga hanya melihat dari pintu—saat Snape sedang tertidur.
Kali ini sepertinya Snape sedang tercenung pada sesuatu. Benda kecil di telapak tangannya, berkilat. Mungkin perhiasan? Cincin kah?
Harry tak berani maju lebih jauh lagi untuk memastikan, ia takut mengganggu. Dan sepertinya juga Snape sedang memusatkan perhatian pada benda itu.
Tapi terlambat. Snape sudah keburu tahu ia ada di sini. Dan memberi isyarat untuk masuk.
Ragu Harry melangkah masuk.
"Madam Pomfrey mengatakan, dalam satu-dua hari ini Anda sudah bisa keluar—" sahutnya. Pelan, takut salah mengatakan sesuatu.
Tapi Snape seperti tak mempedulikan. Ia masih menatap benda di tangannya—benar cincin ternyata. Kecil, putih. Cincin siapakah itu?
Seolah mendengar pertanyaan Harry, Snape mengangkat wajahnya. "Seharusnya Lily mengenakan ini—" sahutnya lirih.
Harry terperangah.
Sebegitu dalamnya kah rasa itu?
Tapi ia tak sempat mengatakan apa yang ada dalam hatinya, pun Snape tak sempat berkata lebih jauh lagi, karena Madam Pomfrey masuk, dan memulai pemeriksaan seperti biasa. Pertanyaan-pertanyaan. Pernyataan-pernyataan. Juga pernyataan bahwa Snape bisa keluar besok atau lusa, tergantung hasil pemeriksaan besok.
Harry kembali cemas.
-o0o-
Kecemasannya terbukti.
Pagi-pagi ia mengunjungi Hospital Wing, yang ada hanya Madam Pomfrey dan Profesor McGonagall. Dan selembar kertas bertuliskan namanya, plus sebuah cincin.
Cincin yang kemarin.
Surat pendek itu hanya berisi sebuah kalimat: 'Tidak usah mencariku.'
Harry memandang Madam Pomfrey dan Profesor McGonagall bergantian, berharap bisa menemukan jawaban, tapi sia-sia. Mereka juga tak tahu, ke mana gerangan Snape. Lebih parahnya lagi, tongkat sihirnya bahkan tak dibawa.
Sebegitu parahnya kah Snape berubah?
Harry menatap cincin di tangannya. Kecil, khas cincin untuk wanita. Bentuknya seperti seekor ular melingkar. Di tempat kepala dan ekor bertautan, ada sebuah batu permata kecil. Warnanya macam-macam, dan tak tetap. Kadang biru, kadang ungu, merahpun kadang terlintas.
-o0o-
"Opal," sahut Hermione segera, begitu melihat cincin di tangan Harry. "Permatanya batuan Opal. Jenis yang ini agak jarang dilihat—coba kucari dulu—" dan ia sudah melesat ke perpustakaan.
Harry dan Ron masih termenung-menung memikirkan kalimat Hermione, ketika ia datang dari perpustakaan dengan sebuah buku kecil, tapi halaman-halamannya penuh dengan gambar berwarna-warni.
"Sudah kuduga," sahutnya berseri-seri, "ini bukan sembarang batu permata. Opal, jenis Kalimaya, tepatnya Kalimaya sihir—"
"Kali—apa?"
"Kalimaya. Batuan yang dihasilkan pertambangan permata di Kalimantan, Indonesia—"
"Indonesia?" Ron masih belum menangkap di mana daerah itu.
"Asia. Asia Tenggara—"
"Dan—sihir apa gerangan yang ada dalam batu ini?"
Hermione menggeleng. "Aku tak tahu. Malah, mungkin saja tak mengandung sihir. Mungkin saja Snape hanya tertarik pada keindahan batunya saja—"
Harry tak menjawab, dan memasukkan kembali cincinnya ke dalam saku. Ron dan Hermione saling berpandangan.
-o0o-
Hogwarts masih libur. Masih direnovasi setelah Perang Besar. Guru-guru plus murid-murid bahu membahu membangun kembali, dengan sihir maupun tidak. Jangan ditanya lagi bantuan para peri rumah dan hantu-hantu.
Begitu ada waktu luang, Hermione mengajak rekan-rekannya ke Diagon Alley.
"Memangnya sudah ada daftar buku yang harus dibeli?" Ron bertanya tak mengerti. Mereka memang sudah bersepakat untuk mengulang lagi tahun ketujuh—yang sebenarnya tak pernah mereka ikuti. Tapi Hermione tak menjawab. Terus melangkah dengan kecepatan tinggi. Terpaksa kedua rekannya mengikuti.
Di sebuah belokan, ada sebuah toko kecil ternyata. Kecil tak menarik pandangan, apalagi letaknya pas di lekukan. Tanpa papan nama, tanpa jendela etalase.
Hermione mengajak masuk.
Di dalam baru terlihat sejajaran etalase. Toko perhiasan ternyata, atau sejenisnya, karena yang terpampang di etalase adalah berbagai batuan permata dalam segala bentuk. Cincin, kalung, pasangan anting, sampai permata dalam ukuran besar.
Tak ada yang menjaga!
Hermione menekan bel di etalase. Tak terdengar apapun, tapi tak berapa lama muncullah seorang penyihir. Wajahnya Eropa tapi matanya agak-agak sipit.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dingin.
Hermione menoleh pada Harry, yang otomatis mengeluarkan cincin dari sakunya.
"Bisakah menentukan apakah ini mengandung sihir atau tidak?" tanya Harry, ragu.
Tanpa banyak bicara, penyihir itu mengambil cincin dari tangan Harry. Diamatinya sejenak, dan raut wajahnya langsung berubah, siaga.
"Dari mana kalian mendapat ini?" sergahnya curiga.
"Seseorang memberikannya padaku—" belum Harry menjawab sepenuhnya, orang itu langsung memotong—
"Severus tak akan memberikannya begitu saja pada orang lain—"
Bertiga saling berpandangan. Jadi, Snape medapatkan cincin itu dari sini!
Harry menghela napas. "Justru itu. Profesor Snape memberikannya padaku, dan ia pergi entah ke mana—"
Lama penyihir itu menatap tajam Harry, yang kini balas menatap. Akhirnya luluh, dan ia berbicara lirih, nyaris berbisik, "Ikut denganku—"
Ia masuk ke ruangan dalam. Harry, Hermione, dan Ron mengikuti, penasaran.
Setelah masuk ke ruangan dalam, penyihir itu kemudian menuju sudut. Ada pegangan tingkap di sana. Dibukanya.
Sepertinya ada tangga, jalan masuk ke ruangan di bawah tanah. Dengan isyarat, ia menyuruh Harry, Hermione dan Ron mengikutinya masuk.
"Kalian panggil saja aku Chin—ya, aku setengah Cina. Ibuku dari Taiwan. Tapi aku lebih mirip ayahku, kata orang—"
Mereka menuruni tangga, mengikuti koridor sempit dan gelap, sampai ke ruangan besar. Chin menekan saklar, dan ruangan menjadi terang.
Sebuah meja besar tanpa kursi di tengah-tengah ruangan. Beberapa lemari di sisi. Chin membuka salah satu lemari, yang terisi gulungan-gulungan, besar dan kecil.
Chin memilih satu, lalu meletakkannya di atas meja, menggelarnya. Peta ternyata, tepatnya peta Inggris Raya.
Kemudian diletakkannya cincin itu tepat di tengah.
Tak ada yang terjadi.
Chin menggeleng. "Kalimaya sihir bisa menunjukkan pada kita, berada di mana si pemilik kini." Diambilnya cincin, diserahkannya pada Harry, sementara ia menggulung peta Inggris itu, meletakkannya lagi di lemari. Memilih gulungan lain lagi. Menggelarnya di atas meja.
Kali ini peta Eropa.
Harry kemudian meniru gerakan Chin tadi, menyimpan cincin di tengah peta.
Masih tak ada gerakan.
Menghela napas, Chin kembali menggulung peta. Kali ini mengambil peta dunia, menggelarnya di meja.
Begitu Harry meletakkan cincin di atas peta, cincin langsung bergulir ke satu tempat. Warnanya berubah, menjadi biru muda berpendar-pendar.
Empat pasang mata langsung menyeksamai tempat cincin itu bergulir.
"Cina?" Hermione keheranan.
"Untuk apa dia ke Cina?" Ron tak habis pikir.
"Mungkinkah mencari ramuan?" Harry menebak-nebak.
"Bukan," Chin menggeleng. Tiga pasang mata kini memandangnya. "Ini provinsi Henan," sahutnya menunjuk, "dan di sana ada sebuah kuil besar yang namanya terdengar di seluruh dunia—Shaolin—"
"Shaolin?" tiga pasang mata menatap blasteran Cina-Inggris itu penuh tanya.
Chin mengangguk. "Dan warnanya berubah menjadi biru muda. Menandakan suasana hati si pemilik: dia dalam keadaan damai."
Ketiga pasang mata sekarang saling berpandangan.
-o0o-
Harry bersyukur Chin mau menemani dalam perjalanannya. Begitu mendengar nama daerah yang entah di mana lokasinya, ada dorongan kuat untuk segera ke sana. Tapi Cina itu jauh, dan sampai sekarang hanya penyihir-penyihir tertentu yang bisa melakukan Apparate/Dissaparate antar benua. Selebihnya biasanya menggunakan transportasi Muggle untuk sebagian besar perjalanannya.
Maka paspor harus diurus, visa harus diminta, tiket pesawat dipesan, kebiasaan-kebiasaan lokal dihapalkan. Dan Chin benar-benar membantu. Karena sebagai pedagang batu permata yang harus berhubungan dengan penyihir maupun Muggle, harus bepergian ke berbagai tempat di berbagai penjuru dunia, segala tetek bengek itu sudah biasa diurusnya.
Chin menghentikan langkahnya. Harry mengikuti.
Sudah sampai di provinsi Henan. Dan sudah ada di depan gerbang perguruan Shaolin.
Perguruan Shaolin sedikit banyak berkembang mengikuti jaman. Sebagian lokasinya terbuka untuk turis. Ada jadwal pertunjukkannya. Turis bisa melihat-lihat berbagai tempat di dalamnya, bisa melihat murid-murid sedang berlatih pernapasan maupun jurus-jurus kungfu. Ada juga toko suvenir.
Tapi Chin tidak mengajak Harry masuk ke bagian itu.
Ia malah mengisyaratkan agar Harry mengikutinya, ke jalan kecil di sisi Perguruan. Semakin jauh, jalannya semakin kecil dan sepi. Jauh dari keramaian turis-turis di depan.
"Kalau kau terus, kita akan sampai ke hutan Pagoda. Di sana juga biasanya banyak turis, walau jalannya tidak mengambil jalan kita ini," sahut Chin sambil menunjukkan tempatnya. "Tapi kita tidak akan ke sana."
Chin berbelok.
Ternyata dari jalan setapak itu ada beberapa pintu samping untuk masuk ke Perguruan. Salah satu pintu samping itu ada di depan mereka sekarang. Kecil, dan tertutup.
Chin mengetuk pintu dengan irama tertentu.
Terdengar suara bertanya dengan bahasa yang tidak dimengerti Harry. Chin menjawab dengan bahasa serupa.
Pintu terbuka.
Chin dan Harry masuk. Ada beberapa biksu di sana, sebagian dengan jubah abu sebagian dengan jubah jingga. Kepala mereka gundul semuanya.
Seorang biksu berjubah abu yang membukakan pintu, lalu menyilakan Chin dan Harry masuk dan menunjukkan satu arah, sambil mengucapkan kalimat-kalimat.
"Menurut sahabatku ini, biksu-biksu yang baru masuk sekarang sedang berlatih di halaman aula selatan. Aulanya kecil. Dan ia menunjukkan jalannya—" terjemah Chin.
Harry mengangguk berterimakasih pada biksu itu. Biksu itu meletakkan telapak tangan kanannya serupa posisi sembah di dada dengan posisi vertikal, lalu menundukkan kepala seanggukan. Harry mengartikan bahwa biksu itu membalas ucapan terimakasihnya.
Chin dan Harry menelusuri jalan kecil, kemudian berbelok menyusuri koridor. Ada sebuah genta raksasa di sebuah bangunan kecil terbuka. Setelah itu barulah sebuah bangunan yang mungkin disebut aula.
Halamannya cukup luas. Dan ada beberapa belas biksu berjubah abu-abu sedang berlatih pernapasan di sana.
Mulanya Harry mencari seseorang dengan rambut hitam membingkai, ketika disadarinya bahwa semua biksu di situ berkepala gundul. Jadi, ia mencari biksu yang berperawakan cukup tinggi dengan kulit lebih pucat.
Ada satu yang jangkung di belakang barisan. Sedang khidmat mengikuti gerakan demi gerakan, perlahan seirama rekannya yang lain. Harry mudah mengenalinya kini: hidungnya yang bengkok. Agak aneh melihatnya tanpa rambut hitamnya—
Harry dan Chin menunggu hingga mereka selesai, baru mendekat untuk menyapa.
"Profesor Snape—"
Tapi biksu jangkung berkulit pucat itu hanya melipat tangan kanannya di dada dalam posisi sembah serupa biksu yang tadi membukakan pintu, sambil menundukkan kepala. Ia juga mengucapkan serangkaian kalimat yang aneh.
Mungkin saja itu bahasa Cina seperti biksu-biksu lainnya, akan tetapi karena si penutur bukan penutur bahasa Cina asli, kalimatnya jadi terdengar aneh.
"Ia berkata, tidak ada yang namanya Profesor Snape di sini," terjemah Chin.
Selagi Chin berucap, biksu 'Snape' itu malahan sudah pergi.
"Tetapi, dia memang Profesor Snape kan?" Harry penasaran.
Chin mengangguk. "Jangan lupa, jika seseorang masuk menjadi biksu di sini, ia menjadi individu yang lain."
"Jadi, bagaimana sekarang?" Harry kebingungan.
"Panggil saja dia saudara Mù," sebuah suara di belakang mereka, berat dan berwibawa.
Mendadak semua biksu yang masih berada di sekitaran mereka, melipat tangan kanan di dada serupa posisi sembah dan menundukkan kepala. Bahkan Chin-pun memperlihatkan sikap hormat pada orang yang baru datang itu.
"Dia Shi Yongxin, mahaguru di sini, Kepala Shaolin angkatan sekarang," Chin berbisik tergesa.
Kikuk, Harry menunduk hormat juga seperti yang lain.
"Tak usah sungkan," Mahaguru tersenyum melihat kekikukkan Harry. "Dia memang biksu baru di sini. Namanya Shi Yongmù. Shi adalah nama untuk semua biksu di sini. Kami semua saudara, dan punya nama keluarga yang sama."
"Yong adalah nama angkatan. Semua dengan nama tengah Yong, adalah saudara seangkatan. Dan Mù adalah namanya."
Pantas ia menjadi Mahaguru, bahasa Inggrisnya fasih!
"Mù berarti damai," Mahaguru meneruskan. "Pertama kali ia datang ke mari, aura damai-nya menarik perhatianku. Dan, sepertinya memang ia menemukan kedamaian di sini. Mempelajari ajaran-ajaran kami, mengikuti latihan Chi. Sepertinya ia juga berbakat dalam meramu. Di masa datang mungkin aku akan menempatkannya di bagian Ramuan. Sekarang, biarlah ia mempelajari semua bagian dahulu."
Harry mengangguk maklum. "Boleh—bolehkah kami menemuinya?"
"Sebagai Shi Yongmù, boleh."
Harry memandang Chin. Chin mengangguk.
"Terimakasih, Mahaguru!" Harry menunduk memberi hormat. Mahaguru tersenyum, dan berjalan kembali menuju tujuannya tadi.
Seorang biksu kemudian memberi tahu agar Harry dan Chin menunggu. Ada sebuah bangunan terbuka di taman, seperti sebuah gazebo. Mereka menunggu di sana.
Belum lama menunggu, Harry bisa melihat Profesornya datang.
"Saudara Mù," sapa Chin.
"Saudara Chin, saudara Harry," balas Snape tenang.
"Saya lihat, Anda betah di sini, Pro—maksudku saudara Mù," canggung Harry membuka percakapan.
Snape tak menjawab, hanya melipat tangan kanan di dada serupa posisi sembah, dan menundukkan kepala.
Agak ganjil memang. Di sini, semuanya serba tenang, serba damai. Harry nyaris tak bisa membayangkan orang di depannya ini seorang guru, seorang Profesor, yang kejam dan dingin.
"Ba-bagaimana saya bisa melaporkan ini pada Profesor McGonagall?" Harry bertanya setengah putus asa.
"Amitabha," Snape kembali menundukkan kepalanya, "sampaikan saja pada saudari Minerva bahwa Severus Snape sudah tak ada. Ia akan mengerti."
"Dan," Harry mengeluarkan cincin opal yang selalu dibawanya, "bagaimana—"
"Semua keinginan dunia berawal dari tiada, dan kepada tiada kita juga kembali."
Harry memandang Chin. Chin memandang Harry.
Sudah jelas sekarang. Mereka tak akan bisa mendapatkan Severus kembali.
Harry menundukkan kepala memberi hormat. "Baiklah. Semoga Anda bahagia di sini," sahutnya.
Berat ia berbalik, bersama Chin berjalan menuju pintu keluar yang tadi. Sekali lagi ia menoleh, dan menemukan sosok gurunya dulu itu, tersenyum tipis; menundukkan kepala dengan sebelah tangan di dada.
Harry tahu, ia bisa tenang meninggalkan gurunya—Shi YongMù—di sini. Tapi ia juga tahu, bahwa sepotong jiwanya tertinggal di sini.
Ia juga merindukan kedamaian seperti di sini.
FIN

Pertemuan Ular dan Naga (ambudaff)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


PERTEMUAN ULAR DAN NAGA
Severus Snape adalah kepunyaan JK Rowling, Orma adalah kepunyaan Rachel Hartman (Seraphina), dan dunia Lyrian adalah kepunyaan Brandon Mull (Beyonders)
Rate K+, friendship
Mulanya ditulis untuk challenge crossover di grup FB Penggemar Novel Fantasi Indonesia bulan Desember lalu.
-o0o-
Ia tersadar saat sinar matahari menyapa wajahnya. Menyapa matanya yang tak terlindungi.
Mengejap-ngejapkan mata, ia berusaha untuk mengenali lingkungan sekitar. Rasanya—tadi tak begini.
Seingatnya, terakhir ia bisa menyimpan data ke dalam memorinya, ia sedang berhadapan dengan Pangeran Kegelapan. Yang kemudian menyuruh ularnya—Nagini—mematuknya.
Meninggalkannya terpuruk di lantai Shrieking Shack. Kemudian ditemukan oleh Potter bersama kedua temannya. Memberikan memorinya. Dan meminta Potter menatap matanya—
—itu yang terakhir ia ingat.
Ia tak tahu bahwa ia bisa berada di tempat ini sekarang. Dan, tempat apakah ini?
"Orang menyebut tempat ini Lyrian."
Kaget, Severus berusaha bangkit.
Seorang laki-laki, tinggi, berjanggut. Sedang asyik membaca buku.
Begitu melihat Severus bangkit, ia menutup bukunya setelah terlebih dahulu menyelipkan pembatas bukunya. Berdiri berjalan mendekati, mengulurkan tangan.
Severus menerima uluran tangannya. Jabatan tangan orang itu erat.
"Namaku Orma. Aku seorang naga."
"Severus. Se-seorang naga?"
Bukan seorang manusia, dan bukan seekor naga?
Orma tersenyum tipis, "Aku seekor naga yang bisa berubah wujud menjadi manusia. Atau sebaliknya. Tapi aku sedang dalam wujud manusia, saarantras, ketika aku masuk ke dalam gua di pegunungan. Entah bagaimana aku bisa masuk ke dunia Lyrian ini—"
'Dan aku pun tak tahu kenapa aku bisa masuk ke sini,' pikir Severus, tetapi kemudian ia berdiri. Memindai sepintas sekelilingnya.
"Perpustakaan?" Severus tak percaya. Tadi ia terbaring di sebuah sofa, di dekat jendela.
Orma mengangguk. "Aku sedang mencari jalan untuk kembali ke dunia asalku. Aku masih punya kewajiban yang harus aku penuhi."
Severus tak berkata-kata. Kembali matanya memindai sekelilingnya.
Rak-rak di dinding penuh dengan buku, akan tetapi masih banyak buku yang tertumpuk di lantai. Bahkan Orma duduk di atas setumpukan buku.
Seorang naga, duduk di atas tumpukan buku.
Tak terasa Severus menyeringai, tipis. Yang terbayang adalah seekor naga sedang mendekam di atas tumpukan emas dan permata. Naga dan harta. Naga mendekam di atas buku?
Orma bagai membaca pikirannya. "Yap, memang begitu. Naga tidak lagi menimbun harta; undang-undang baru Comonot—negaraku—melarang tindakan itu. Sekarang bagiku, ilmu pengetahuan adalah harta," ia menatap buku-buku yang didudukinya. Mengambil lagi buku yang tadi sedang dibacanya, ia bertanya sambil lalu, "Kau sendiri, berasal dari mana?"
"Hogwarts," Severus menarik napas panjang, meneruskan, "Inggris. Kita sekarang berada di mana? Maksudku, negara apa?"
Orma menarik napas juga, "Sudah kubilang tadi, Lyrian. Aku tak tahu negara mana. Mungkin—dimensi yang berbeda?"
Ia membuka buku yang tadi sedang dibacanya, "—dan aku sudah sekian lama mencari bagaimana kita bisa keluar dari Lyrian, kembali ke negara kita. Belum kutemui—"
Severus berjalan perlahan sambil mengamati rak-rak buku, sesekali mengamati tumpukan buku di lantai, membaca judul-judul bukunya. "Selama kau tinggal di—eh, Lyrian ini, bagaimana sikap orang-orang di sini?"
Orma mengangkat bahu, "Kebanyaka orang-orang yang berada di sini juga berasal dari negeri-negeri lain. From 'beyond', menurut mereka. Sudah sekian lama. Kebanyakan menetap di sini, dan membentuk keluarga—"
"Belum ada yang kembali ke negerinya?"
Orma menggeleng, "Setahuku belum. Entah kalau ada yang luput dari buku-buku bacaanku selama ini. Tetapi aku akan terus berusaha untuk keluar—"
"Kau punya kewajiban yang harus kau penuhi," Severus mengulang perkataan Orma tadi.
Orma mengangguk. "Aku punya seorang keponakan yang harus aku lindungi. Mudah-mudahan saja aku tak terlambat keluar dari Lyrian. Mudah-mudahan saja aku masih bisa melindunginya—" ia menunduk. Tapi kemudian menengadah lagi, "Kau sendiri? Tak punyakah kewajiban yang harus kau penuhi?"
Severus terdiam.
Lalu menggeleng perlahan. Menjawab lirih. "Tak ada. Semua sudah selesai. Anak yang harus kulindungi sudah menyelesaikan kewajibannya, dan ia tetap hidup. Selesai sudah. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi, dan tak akan ada siapapun yang masih akan mengingatku di Hogwarts. Jadi, jika kehidupan di Lyrian seperti ini, bisa membaca banyak dan tak perlu bergaul dengan banyak orang—kukira lebih baik aku tetap di Lyrian—"
Orma mengangkat bahu lagi. "Setiap orang berbeda-beda tujuan hidupnya, tentu saja." Matanya ditujukan lagi pada kalimat-kalimat di bukunya. "Ada makanan di lemari di belakangmu. Dan, tentu saja, silakan membaca buku yang mana saja. Oh, ya, kau penyihir kan?"
Severus mengangguk. "Kenapa memangnya?"
Masih tetap menunduk untuk membaca kalimat-kalimat di bukunya, setengah menyeringai, Orma menyahut, "Kuharap hidupmu tenang dan tentram di Lyrian, Severus."
FIN

Wednesday, 5 February 2014

Alasan (Zang)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Title : Alasan
Rating : T
Genre : Friendship, Romance
Characters : Severus/Sirius
Summary : For Snape Day 2014. Slash. "Kalau bersama Sirius, kau bisa dapat 'beasiswa' melanjutkan ke Program Master mana pun, dengan syarat ikatan dinas seumur hidup." / "Bagaimana kalau alasan itu tidak ada lagi?"/ "Akan ada alasan yang lain."
Disclaimer : Harry Potter bukan milik saya.
.-.-.
Snape tidak pernah membayangkan dia akan berpacaran dengan salah satu anggota Marauders. Terlebih, si member yang dimaksud adalah seseorang yang paling semangat mem-bully-nya. Dulu.
Laki-laki itu ingat dengan kalimat populer yang mengatakan bahwa beda antara benci dan cinta itu tipis, bahkan saking tipisnya sampai sulit diketahui itu cinta atau benci. Mungkin dulu Sirius Black benci sekali padanya, sampai-sampai akhirnya tanpa disadari dia jatuh cinta pada Snape.
Tentu saja Snape tidak langsung percaya bahwa Sirius benar-benar jatuh cinta padanya. Pria cakep itulah yang membuat masa-masa sekolahnya penuh penderitaan: Snape sudah kenyang diusili, dijahili, dijahati. Snape sebal sekali.
Snape akhirnya percaya bahwa yang namanya karma memang ada. Kini Sirius tergila-gila padanya. Well, sebenarnya Snape malah curiga kalau Sirius memang beneran gila. Mana ada orang waras yang mengejar-ngejar Snape tanpa henti, dengan paksaan pula. Sirius menyusulnya ketika Snape sedang berlibur ke danau terpencil di ujung Inggris, membetulkan sandal jepitnya yang putus gara-gara terbenam lumpur bandel (Saat masih sekolah dulu kebalikannya. Sirius sering menyihir tali sepatunya supaya lepas dan membuat Snape terjerembab) dan tiba-tiba mencetuskan ide, "Kau jadi pacarku saja, oke?"
Rupanya tak perlu Amortentia untuk membuat Sirius berbalik menyukainya. Semuanya berawal ketika Sirius demam. Dengan acuh Snape memberinya Ramuan-Penurun-Panas. Tak dinyana Sirius meminumnya dan sembuh, dan sejak saat itu dia jadi sering menemuinya, firecall Snape dan gemar memberinya sesuatu.
Snape heran dan bolak-balik memastikan apakah Ramuan yang diberikannya pada Sirius tidak tercampur dengan ramuan lain. Kalau dipikir-pikir, masa sih Sirius Black yang terkenal sebagai bad boy, trouble maker, digandrungi para cewek, kaya dan ganteng itu mau padanya? Snape sadar dirinya biasa saja, tubuhnya kurus, tidak gagah, hidungnya bengkok dan wajahnya selalu masam. Sama sekali tidak menarik.
Pemuda sembilan belas tahun itu jadi sering kedatangan tamu. Rumahnya yang biasanya sepi jadi ramai, selalu ada orang dan suara bersahut-sahutan. Seringnya James, Lily dan Lupin yang mengunjunginya, selain Sirius tentunya.
"Aku lebih setuju kau pacaran dengan Sirius daripada dengan Lucius Malfoy," celetuk Lily.
Snape menggerutu. "Aku tidak minta opinimu, Lils," balasnya datar.
Sirius ikut-ikutan menimpali. Dia mengalungkan lengannya pada Snape. "Trims, Lils. Omong-omong, jangan sebut-sebut nama si sengak Malfoy itu. Dia sudah jadi sejarah, benar kan, Sev?"
Snape sebenarnya kesal dan malu kalau Sirius menyentuhnya di depan orang banyak. Terlebih ketika James meliriknya dan senyum-senyum pada Sirius, seolah menggoda mereka berdua.
"Sev?" ulang Sirius. Ketika Snape tidak bereaksi, dia menarik wajah kurus Snape dan mencium pipinya keras-keras. Bibir pemuda yang seumuran dengan Snape itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan lepas dari pipi kusut Snape.
"Iya, iya! Kami sudah putus dan Lucius sudah jadi sejarah," sergah Snape cepat-cepat. Dia yakin wajahnya lebih merah dari Ramuan Amortentia sekarang. Snape mendorong Sirius sampai wajahnya tidak lagi menempel pada pipinya.
Sirius nyengir lebar. Dia tidak mempedulikan protes James.
"Hei! Menerima Snape sebagai pacarmu tidak sama dengan melihatmu menunjukkan kemesraan di depanku. Ugh, Padfoot, ingat batas dong."
"Lho, ini masuk kategori batas aman, kok. Kau belum pernah melihatku mencium bibir Severus, kan? Atau melihat kami melakukan—"
"Sirius Black!" potong Snape cepat-cepat. Meski suaranya menggelegar, mengingatkan Sirius supaya tidak berkata macam-macam, Sirius tidak tampak takut.
Lily terkikik sedang James pucat. "Sudah, sudah! Jangan cerita lagi. Aku tak bisa membayangkan kalian seperti itu."
"Seperti apa, Prongs?"
"Black! Aku akan menendangmu keluar dari rumahku kalau kau cerita yang tidak-tidak lagi."
Snape berpikir bahwa rumahnya gaduh sekali. Suara kikikan Lily bersahut-sahutan dengan suara cempreng James dan Sirius. Cuma Lupin yang tenang. Werewolf muda itu duduk tenang sambil membaca buku di sudut, seperti biasanya.
Calon Potions Master muda itu menghela napas. "Bisa tidak kalian tenang seperti Lupin? Jujur saja, aku heran bagaimana dia bisa tahan dengan kalian."
Lupin mendongak dan tersenyum lemah. Wajahnya pucat. Tidak heran, batin Snape. Beberapa hari lagi bulan purnama dan dia akan bertransformasi. Pasti menyakitkan.
"Moony sih lain," timpal James.
"Ya, ya. Lupin memang lain," kata Snape setuju.
Sirius menyipitkan mata. Snape jadi bergidik ditatap oleh mata abu-abu itu. "Kau tidak naksir Remus, kan? Jangan-jangan kau membuatkannya Wolfsbane karena kau punya perasaan khusus padanya."
Snape marah sekaligus malu. "A-aku tidak suka Lupin seperti itu!" bentaknya. "Harusnya kau senang aku bisa menemukan ramuan itu dan mengurangi rasa sakitnya saat dia berubah."
Lupin berusaha melerai sang sahabat dan pacarnya itu. Dia merasa tidak enak sendiri. "Aku yakin Severus hanya menyukaimu. Stop, Sirius," ujarnya keras.
Sirius menarik napas dan membenamkan wajahnya pada tengkuk Snape. Lengannya yang melingkar pada perut ramping Snape menyiratkan rasa posesifnya.
Berbeda dengan Lupin yang masih takut-takut dan Sirius yang masih cemburu dan tegang, James terlihat cukup kalem. "Aku juga setuju kalau kau dengan Sirius," katanya. Dia menengok ke belakang, meminta persetujuan pacar cantiknya.
"Kalian serasi," sahut Lily. "Omong-omong, katamu kau ingin meneruskan ke Program Master, kan?"
Snape mengangguk pelan. "Inginku begitu. Tapi tidak langsung setelah aku lulus, Lils. Setelah aku meraih program sarjanaku, aku ingin kerja dulu."
Lily mengangguk, maklum. "Program Master memang mahal," desahnya.
"Hei, kau punya Sirius. Kalau bersama dia, kau akan dapat 'beasiswa' ke Program Master atau program apapun yang kau pilih. Dengan syarat ikatan dinas seumur hidup," cetus James.
Bahkan Lupin ikut tertawa bersama Lily.
Snape tidak miskin, tapi dia juga tidak kaya. Meneruskan pendidikan ke jenjang setelah sarjana memang tidak murah. Kalau dia memaksa melanjutkan dengan dana pribadi, Snape bakal harus hidup serba hemat dan irit. Dia tahu itu, karenanya keputusan untuk melanjutkan Master ke Ramuan ditunda dulu. Ramuan adalah gairahnya, namun Snape juga tahu kekurangan yang dimilikinya.
"Aku juga bisa dapat beasiswa dengan cara reguler dan jauh lebih terhormat, Potter," balas Snape getir. Punya pacar kaya bukan berarti dia akan minta uangnya untuk membiayainya.
Sirius menggumamkan sesuatu.
Snape tertegun. Ketika lengan Sirius di tubuhnya mengendur, Snape yakin bahwa Sirius akan memutuskannya saat itu juga. Well, siapa sih yang tidak tersinggung jika merasa dimanfaatkan? Meski Snape tidak pernah memanfaatkan Sirius. Dia tidak pernah meminta Galleon, waktu atau perhatian kakak Regulus itu. Sejujurnya Snape juga tidak yakin apakah Sirius tulus padanya. Sejarah di antara mereka begitu panjang dan Snape tidak bisa lupa begitu saja. Pemuda itu setuju bersama Sirius karena Sirius memang tidak menerima penolakan. Snape ingin melihat sejauh mana mereka akan bertahan. Baginya lima bulan masih terlalu singkat untuk mengambil kesimpulan apapun. Snape mulai nyaman dengan Sirius, tapi bukan berarti dia mencintai Auror muda itu.
"Kalau begitu, Galleon yang memenuhi akunku di Gringotts itu akan sangat bermanfaat," kata Sirius kalem.
Snape ternganga. Mulutnya masih terbuka ketika Sirius tersenyum padanya. Kata 'putus' break up, done, yang dinantinya tak kunjung keluar dari mulut pacarnya. Atau mantan pacar dalam beberapa detik ke depan, pikir Snape, mendadak sedih.
"Kau tidak mengira aku mengincar uangmu?" tanya Snape.
Sirius menggeser tubuhnya supaya bisa berhadapan dengan Snape. "Sama sekali tidak," jawab Sirius tegas. "Selama lima bulan, kau bahkan tak pernah minta satu Knut pun dariku. Seandainya aku merasa uangku yang diincar atau namaku disalahgunakan, aku sudah menghentikannya dari dulu."
Snape masih belum bisa menemukan suaranya. Dia tidak menyadari James yang menarik Lily dan Lupin yang sudah bangkit, bertiga menuju dapur dan memberi mereka ruang untuk berdua saja.
"Sebenarnya, Sirius, kenapa kau bersamaku?" cecar Snape. Dia sudah menyiapkan diri menerima jawaban paling menyakitkan sekali pun. Dia sudah terbiasa menelan kekecewaan. Walau berusaha memungkirinya, Snape tahu dia akan kecewa ketika Sirius mengatakan alasan yang sebenarnya. Tidak cinta bukan berarti tidak menyukainya. Kau tidak bisa bersama dengan seseorang selama beberapa bulan tanpa tidak merasakan apa-apa.
Snape bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dia siap mendengarnya dari Sirius, dengan kalimat bagaimana pun yang intinya sama.
Sirius memandangnya lekat-lekat. "Banyak sekali alasannya, Severus." Suaranya lunak dan jernih. "Meski kau tidak suka para Marauders, kau tetap membuatkan Wolfsbane untuk Remus. Kita semua tahu bahan-bahan ramuan itu mahal dan sulit didapat, tapi kau tetap meramunya. Kau tidak keberatan menerima teman-temanku di rumahmu. Saat aku sakit, kau menyembuhkanku. Walau aku tahu kau lebih mencintai Potions daripada aku, aku tetap tak bisa untuk marah dan berbalik darimu."
Calon Potions Master itu benar-benar tercengang. "Bagaimana kalau alasan-alasan itu sudah tidak ada lagi?"
"Selalu akan ada alasan lain."
Kini Snape bisa lebih lega untuk belajar mencintai Sirius.
Nyatanya, Sirius Black sama menariknya dengan Potions.
.-.-.
The End

Wednesday, 30 January 2013

Welcome Back, Professor (simplyneneng)

Fiksi Challenge. Link asli dan bab-bab sambungannya ada di sini

-----------

Disclaimer: All Harry Potter characters belong to Joanne Kathleen Rowling. I don't own them!
Timeline: setelah Perang Hogwarts. just enjoy the story :)

Tubuh itu melayang-layang tak berdaya didalam sebuah tabung besar berisi penuh cairan campuran antara air, oksigen, dan beberapa ramuan kimia dengan takaran sedemikian rupa disebuah ruangan yang didominasi peralatan yang mengatur segala sesuatu didalam tabung tersebut, dengan seseorang yang menungguinya didepan meja penuh perkamen dan tinta serta pena berserakan tidak tertata. Jelas sekali sudah berhari-hari orang itu tidak menikmati waktu tidur malamnya dengan baik, sehingga pada siang yang cerah ini ia harus mengambil jatah istirahatnya agak lebih panjang dan dini. Bahkan ketika seseorang menepuk pundaknya cukup keras dari belakang, ia tidak langsung bangun sebelum pukulan itu memasuki kali keempat dan dengan kekuatan yang meningkat tiap kalinya.
"Maaf," ucapnya cepat ketika membuka mata dan mendapati siapa yang sudah berada diruangan itu untuk membangunkannya, "Aku tidak sadar sudah tertidur disini."
"Santai saja." jawab orang yang satunya lalu tersenyum sambil berjalan menghampiri depan tabung seukuran 2 kali tubuh manusia disana, "Aku tahu kau sudah hampir satu minggu tidak tidur. Tak apa."
Orang pertama lalu mengangguk dan mengikuti menghampiri kedepan tabung. Keduanya diam agak terlalu lama mengamati seseorang yang sedang melayang-layang didalam sana dalam keadaan tegak berdiri dengan mata tertutup.
"Dia terlihat sangat nyata. Hanya saja aku berharap ia bisa memberikan tatapan matanya itu padaku." Ujar orang kedua dengan mata yang mulai berkaca-kaca dibalik kacamata bundarnya.
"Oh ya, matanya yang tajam dan... ah! Kau benar-benar bisa membawa suasana menjadi mellow, Potter."
Harry Potter yang terlihat gagah dengan jubah kerjanya lalu terkekeh pelan masih dengan air mata yang menggenang dimatanya, "Tapi tak ada yang bisa menandingi bagaimana kau berjaga disini hampir setiap detik untuknya dan juga semua perlatan serta ramuan yang kau racik sempurna, Malfoy."
Kini giliran Draco Malfoy yang terkekeh agak sinis. Masih dengan kemeja hijau mudan dan celana kain yang sudah lusuh ia menunjukkan wajah seriusnya, "Aku tidak pernah mau kehilangan dia, kau tahu. Bagaimanapun juga ia sudah banyak melakukan hal-hal penting untukku."
Harry mengangguk-angguk setuju karena ia pun merasakan hal yang sama, "Ramuan yang kau berikan pada dua hari yang lalu itu, bagaimana kinerjanya saat ini?"
Mata Draco kembali memancarkan keseriusan, "Ramuan itu kini sudah mulai memasuki pembuluh darahnya dan bakteri yang selama ini dikultur didalamnya akan menghidupkan lagi sel-sel darah yang awalnya telah mati dengan sinyal-sinyal. Sengaja kumasukkan bakteri pembentuk sinyal yang dapat bekerja dalam keterburu-buruan dengan memanggil puluhan mikropartikel lain untuk bekerja bersama begitu satu sel berhasil dihidupkan. Sejauh ini kinerjanya sangat baik dan aku memutuskan untuk menambahkan beberapa liter lagi kedalam sana."
"Apa benar-benar aman?"
Kentara sekali Draco tidak suka pertanyaan Harry yang cenderung meragukannya, "Kau tahu siapa yang seharusnya menjadi pemenang felix felicis ditahun tantangan Slughorn saat kelas 6 -selain Hermione tentu saja- ? Aku. Jadi kau diam saja karena kau menang saat itu karena bantuan dia yang berada didalam tabung sana yang memang sangat ahli dalam hal ramuan."
Harry kembali terkekeh keras, "Dan ramuan yang satu lagi?"
"Yang satu lagi akan membantu melemaskan lagi sendi-sendi serta menghilangkan semua asam laktat yang menempel banyak-banyak disendinya ketika ia mati dan selama pengawetan. Oleh karena itu ramuannya akan bekerja setelah ramuan pertama selesai bekerja."
"Dan itu berarti..."
"Sekitar satu minggu lagi menurut semua perkiraan yang sudah kuhitung disana," Draco menunjuk salah satu perkamen di ujung dekat pengendali masuknya ramuan, "dan ini." ia kemudian menunjuk satu perkamen lagi didepan kursi tempat ia ditemukan tertidur tadi. Dikedua perkamen tersebut terlihat jelas tulisan tangan Draco yang tidak karuan mengaplikasikan rumus algoritma dan segala macam yang lain dari pelajaran arithmancy waktu ia masih bersekolah di Hogwarts. Beruntung juga ia mengambil pelajaran tersebut.
Harry mengangguk dan lalu menepuk pundak Draco, "Senang sekali aku bisa melihat semua kecerdasan otakmu yang sering dibicarakan Hermione itu." Ia lalu tertawa.
Draco menggeleng-geleng tak jelas, "Tidak penting, Potter. Yang penting adalah bagaimana Professor bisa segera membuka matanya lagi, benar?"
"Benar."
.
Malam ini giliran Harry yang berjaga karena Draco tidak bisa kembali memforsir untuk begadang menunggui tubuh tak berdaya itu walaupun hanya satu hari tambahan lagi. Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan berdua. Tak lama setelah perang Hogwarts berakhir, ia mengajak Draco berbicara ketika tidak ada yang memperhatikan. Mereka segera menuju rumah didanau dan mengambil jasad Severus Snape yang sudah hampir membatu sebelum tubuh itu masuk kedalam lingkaran hitam tempat semua raga penyihir yang telah meninggal berkumpul, kemudian membawanya menuju sebuah rumah milik keluarga Malfoy yang sudah lagi tidak dipakai dan mengubahnya menjadi tempat bekerja. Harry tidak bisa mengajak Hermione meskipun ia tahu gadis itu bisa saja membuat ramuan yang lebih tepat dan kinerja lebih cepat dibanding Draco, tapi ia tahu Hermione tidak akan setuju karena itu melanggar hukum.
Draco yang harus membaca banyak buku ramuan serta peralatan kerja muggle -yang terpaksa harus ia lakukan karena tuntutan teknologi canggih akan memudahkan segalanya- dan menyiapkan bahan, baru mulai siap meracik sekitar satu bulan setelahnya. Harry tidak pernah melihat pembuatan ramuan serumit dan sekompleks itu. Apapun ia lakukan. Semua yang Draco butuhkan ia sediakan, semua yang Draco minta ia turuti dengan sangat cepat. Ia tidak mau lagi kehilangan seseorang yang berarti untuknya, dan entah bagaimana Draco pun juga masih tidak rela kehilangan Snape.
Ratusan hari hingga akhirnya seminggu yang lalu ramuan itu dimasukkan dalam larutan pengawet yang selama ini merendam Snape hingga rambutnya yang selalu tertata rapi harus rela basah dan seolah dangat ringan hingga dapat melayang didalam tabung yang juga buatan Draco. Kini tinggal mengamati bagaimana kinerja ramuan-ramuan itu terhadap tubuh Snape yang seharusnya sudah mati.
Didepan tabung itu Harry sudah berdiri hampir 150 menit dan tubuh itu tetap tidak menunjukkan apa-apa yang berbeda. Air dan ramuan serta oksigen yang bercampur disana sangat tenang, tidak ada pergolakan apapun. Harry memutuskan untuk duduk disatu-satunya kursi disana yang biasa ditempati Draco namun menggesernya sehingga ia dapat tetap mengamati apa yang terjadi didalam tabung. Tak lebih dari satu menit kemudian, ia berani sumpah ia mendengar sebuah gelembung udara yang keluar dan pecah didalam sana, entah dari mana. Seketika saja Harry bangkit berdiri dan membelalakkan matanya untuk memeriksa detail pergerakan didalam tabung dan hampir saja ia terloncat ketika jemari tangan kanan Snape bergerak bukan karena cairan yang juga bergerak, tapi benar-benar 'bergerak'. Dengan terburu-buru ia keluar dari ruangan menuju ruangan lain dimana ia akan menemukan Draco yang sedang terlelap disebuah sofa besar ditengah ruangan. Ia mengguncang tubuh Malfoy tersebut.
"Bangun, Malfoy! Kau harus melihat ini!"
Guncangan tersebut membuat Draco langsung bangun dengan kaget dan sontak memegang kepalanya yang berputar karena bangun mendadak, "Ada apa sih?!"
"Snape. Aku baru saja melihat tangannya bergerak!"
Mata Draco segera saja membelalak lebar dan mendahului Harry berlari menuju ruangan kerja. Didalam sana, tabung itu mengalami getaran kecil. Keduanya yang berhenti didepan pintu, tidak sanggup meneruskan perjalanan mereka kedalam dengan biasa. Mereka melangkah perlahan memasuki ruangan sambil sesekali saling memandang dengan kernyitan dahi karena mata mereka tak salah lagi bahwa tabung itu memang bergetar. Bisa mereka lihat juga cairan didalamnya mulai terpercik keluar dari bagian atas yang hanya ditutup dengan penutup berlubang menyerupai kasa raksasa.
"Apa tadi yang kaulihat?" tanya Draco dengan mata was-was pada Harry yang kini sama-sama berhenti didepan tabung yang bergetar kecil itu.
"Tangannya. Tangan kanannya bergerak. Tidak salah lagi."
Draco menghampiri sebuah layar dengan latar biru yang diletakkan terlentang sejajar dengan meja dan memeriksa suatu kode yang tertulis disana. Perubahan ekspresi wajah Draco yang seketika membuat Harry tahu memang ada yang sudah terjadi. Draco menoleh perlahan padanya dengan pandangan horor.
"Ramuannya sudah berhenti bekerja sejak satu jam yang lalu. Seharusnya saat ini ia sudah pulih sepenuhnya."
"Pulih? Hidup, maksudmu?"
Draco mengangkat bahunya ragu, "Mungkin saja."
Keduanya berdiri didepan tabung dan menunggu lagi apa yang akan terjadi setelah getaran kecil ini. Tapi bahkan setelah 60 menit berlalu, tidak ada lagi yang terjadi. Draco kemudian reflek mengacak rambutnya yang sudah menjadi pirang lusuh sejak ia sering begadang untuk Snape. Ia berjalan menuju kursinya yang sudah berada didepan meja lagi dan menundukkan kepalanya disana.
"Perhitunganku salah besar ternyata."
"Tidak. Malfoy, lihat ini." suara Harry yang samar-samar ia dengar membuatnya kembali mendongak dan langsung mendaraskan tatapan ke satu-satunya tabung kaca diruangan itu. Tepat kearah yang ditunjuk telunjuk tangan kanan Harry.
Ada gerakan diseluruh bagian tubuh Professor Snape sebelah kanan. Gerakan kecil tapi dapat tertangkap oleh pandangan mata normal. Jemarinya mulai membuka menutup, bahunya bergerak naik turun, pipi tirusnya berkedut. Namun hanya pada bagian tubuh sebelah kanan. Lagi-lagi Draco berlarian mengecek layar-layar yang bertelentangan dimeja.
"Gula darahnya meningkat... tekanan darahnya meningkat... sarafnya bekerja namun masih terputus-putus... otaknya, otaknya masih sangat minim..." Draco terus berceloteh membacakan kode-kode yang tertera dilayar, "... bakteri tidak bisa menembus membran disebelah kiri. Semua membran!" dengan gerakan cepat Draco mengetik disebuah bagian pada meja yang terlihat seperti keyboard namun dari pendaran cahaya laser berwarna merah. Agak lama.
"Bagaimana?" tanya Harry lamat-lamat sambil terus mengamati pergerakan didalam tabung didepannya dengan pandangan mata takjub.
"Apa ada perubahan?" Draco menoleh cepat meminta respon dari Harry. Harry hanya menggeleng.
"Tak ada yang terjadi disebelah kiri. Lakukan sesuatu lagi!"
"Tapi semua sudah kulakukan!"
"PRANG!"
Teriakan Draco yang agaknya terlalu keras, memecahkan sebagian kaca dibagian atas dan menyebabkan sejumlah cairan meluber keluar merambat di sepanjang tabung hingga sampai di kaki Harry yang sempat terloncat kaget karena suara pecahannya. Belum sempat Harry menghela napas lebih panjang, suara retakan tiba-tiba menggema memenuhi udara dan kemudian teriakan Draco lah yang menyadarkan Harry akan munculnya tanda-tanda tidak menyenangkan.
"Potter, minggir!"
Detik berikutnya jika saja Harry tidak mengikuti teriakan Draco, ia bisa saja sudah penuh luka goresan dan tusukan pecahan kaca dari tabung yang terjatuh ke lantai dan menjadi kepingan-kepingan. Sementara cairannya meluber ke segala arah dan tubuh Snape yang masih menimbulkan gerakan-gerakan pada daerah sebelah kanan, tertelungkup di lantai yang basah. Draco dengan lemas terduduk disamping guru ramuannya yang masih tertelungkup dan kemudian mengacak rambutnya yang sudah tidak karuan. Ketika Harry masuk lagi kedalam setelah menghindar dari jatuhnya tabung, tubuhnya juga seolah melemas drastis hingga tak ada kekuatan lagi untuk menopangnya tetap berdiri. Hancur sudah semua usaha mereka berdua.
Draco membalikkan tubuh Snape perlahan karena gerakan-gerakan tak terkendali itu beberapa kali mengagetkan usahanya tersebut. Setelah berhasil, ia menatap Harry dan meminta komando darinya. Harry sendiri tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan sementara semua bahan dan persiapan yang begitu panjang itu sudah menjadi berkeping-keping. Keduanya juga sudah lemas saat itu. Dan seperti memiliki pikiran yang sama, keduanya berdiri menuju ruangan lain untuk beristirahat.
.
Pagi-pagi sekali Draco sudah mewadahi lagi semua cairan yang semalaman menggenang di lantai kedalam sebuah tabung lain yang tidak sebesar sebelumnya. Susah payah ia memindahkan tubuh Snape ke atas meja agar dapat bekerja dengan leluasa. Ketika Harry muncul, ia masih dalam keadaan shock melihat ruangan kerja yang menjadi porak poranda hanya dalam beberapa menit semalam.
"Dia masih bergerak?" tanya Harry. Draco menoleh singkat memahami siapa yang dimaksud Harry dengan cepat lalu mengangguk.
"Beberapa kali saat kunaikkan keatas meja tadi dan sampai sekarang semakin sering. Hanya bagian tubuh sebelah kanan. Tidak berubah."
"Mungkin itu prosesnya. Tapi apa memang selama itu?"
"Aku tidak tahu. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, oke!"
Harry tidak membalas lagi. Sangat jelas jika Draco sedang kesal dengan dirinya sendiri karena tidak dapat mengerjakannya dengan baik. Tapi apa boleh buat.
"Lalu kita apakan dia?"
"Terserah kau saja, Potter. Kau bosnya." Jawab Draco malas.
"Kau masih punya pengawet?"
Draco menepuk-nepuk telapan tangannya dari debu dan mengantongi lagi tongkatnya, "Pengawet sangat mudah menguap. Sudah tidak ada lagi sekarang setelah menggenang kemarin."
Harry berpikir lagi, "Kau tahu apa yang bisa mempercepat kerja bakteri yang sudah bisa masuk kedalam sel darahnya? Sesuatu yang bukan ramuan dan dapat dibuat dengan cepat?"
"Selain ramuan aku tidak tahu lagi. Yang kutahu sel mereka akan dengan sendirinya saling berkomunikasi dan memperbanyak diri sehingga mekanisme yang kujelaskan sebelumnya dapat cepat terjadi."
Disaat genting seperti inilah Harry cukup menyesal ia tidak memiliki otak secemerlang Hermione atau mungkin Draco. Draco sudah tidak bisa lagi diminta berpikir terlalu banyak dalam keadaan seperti sekarang ini. Kemudian seperti ada yang menyalakan saklar lampu yang biasa digunakan untuk menerangi pikiran dalam otaknya, Harry ingat sebuah alat pada kedokteran muggle. Ia mengambil 2 buah logam besi dari ruangan sebelah dan kembali lagi lalu mencabut paksa dua kabel sekaligus, menggigiti plastik yang melindungi serabut kabel didalamnya kemudian melapisi tangannya dengan kain dari robekan bajunya dan mengikatkan serabutnya pada logam tersebut. Draco yang sedari tadi mengamati agaknya sedikit demi sedikit paham apa yang sedang dilakukan Harry. Ia mendekatkan kedua logam tadi dibagian dada Snape dan menyentuhkannya perlahan, tidak terjadi apa-apa. Perlahan lagi, mulai ada goncangan pelan. Sekali lagi agak lebih cepat, dada Snape bergoncang lebih keras. Harry menatap Draco meminta persetujuan. Draco mengangguk saja.
Maka Harry menyentuhkan kedua logam dengan cepat dan dada Snape bergoncang hebat hingga terlonjak keatas cukup tinggi dan kembali lagi seperti semula. Rangsang itu sepertinya cukup juga untuk mengaktifkan bakteri agar lebih cepat bekerja.
"Kau dengar sesuatu?" tanya Draco tiba-tiba. Keduanya masih berdiri disekitar meja tempat tubuh Snape terbaring.
Alis Harry mengernyit lalu berkonsentrasi mendengarkan sekitarnya. Ia membelalak, "Ya. Aku dengar."
Suara detakan jantung itu sangat jelas menggema di seisi ruangan. Kedua pasang mata mereka segera saja terpaku pada satu-satunya tubuh yang ditunggu-tunggu untuk mengeluarkan suara seperti itu disana. Gerakan-gerakan kecil lain muncul beriringan setelahnya pada semua bagian tubuh, tidak hanya sebelah kanan, tapi juga sebelah kiri, atas, dan bawah.
Ketika Harry bisa merasakan mulai ada napas yang keluar, ia tahu ia akan kembali menatap mata tajam guru ramuannya itu sesaat lagi. Sebentar lagi, "Professor? Professor Snape?"
Draco memegang pundak Snape dan hampir saja berteriak ketika gerakan tangan lain yang cukup cepat menangkap tangannya, "Draco?"
Dengan suara bergetar antara kaget dan takut dan bahagia, Draco menjawab, "Ya, Professor ini aku Draco Malfoy. Selamat datang kembali."
Mata Snape bertabrakan dengan mata hijau Lily Evans pada mata Harry, "Potter?"
"Panggil saja Harry, Professor. Kita bukan lagi guru dan murid, dan ini bukan Hogwarts." Jawab Harry tanpa bisa menahan senyum, "Selamat datang kembali."
Snape mengernyit sebentar kemudian mengangguk, "Kalian punya rencana bagaimana aku akan muncul tanpa harus membuat orang lain menjerit mengira mereka melihat hantu?"
Harry mengangguk cepat, "Anda bisa berubah bentuk?"
"Menjadi anjing atau rusa?"
"Terserah anda."
"Baiklah." Snape menyiapkan dirinya terlebih dahulu sebelum berubah bentuk. Harry tersenyum ketika Snape sudah selesai berubah bentuk. Rusa betina. Tentu saja.

THE END


Author's note:
DAMMMIIIITTTTT! I don't even know how to write a story like this! oh God. so it's cheesy I know -_- k bye
btw, you can write a review for me if you want to :)) but it's okay if you don't want to well this story don't deserve it I know...

Kado Terbaik (aniranzracz)

Link asli di sini

----------

Kado Terbaik
Oleh aniranzracz
Harry Potter oleh JKR
Warn: Sangat OOC untuk kepentingan alur cerita.
Dibuat untuk Snape Day :D
Yah, walaupun telat 10 hari… HBD SS! We love you! ({})
,
,
Severus Tobias Snape adalah guru kesayangan siswa-siswi Hogwarts.
Severus mengajar mata pelajaran Ramuan—yah, keahliannya—dan berhasil mengubah siswa-siswi Hogwarts. Awalnya—ketika Ramuan masih diajar oleh guru yang lama—murid-murid hanya mengerti cara meledakkan kuali beserta isinya. Tapi, begitu belajar bersama Severus, ramuan Polyjuice atau Amortentia yang ribetnya minta ampun pun rasanya bisa dibuat oleh seluruh murid.
Dan Severus adalah guru yang sangat sabar.
Kalau muridnya gagal dan menghancurkan kelasnya, dia tidak akan marah. Dia hanya memberitahu murid itu agar tidak mengulangi kesalahannya untuk kedua kali disertai dengan senyuman. Dia baru akan memberi detensi kalau kesalahan muridnya itu diulangi kembali atau sudah kelewatan.
Dan tak ada yang tidak bertekuk lutut ketika melihat… rambutnya.
Rambutnya yang hitam gelap, kuat, sehat, dan mengkilau. Wow. Rambutnya benar-benar serasi dengan matanya beserta selera pakaiannya yang serbahitam—mengesankan orang yang kuat, gagah, dan berani menghadapi segala tantangan.
Senyum manisnya juga tak kalah 'wow'! Severus bahkan juara dua dan nyaris menyaingi Lockhart dalam kontes Senyum-Paling-Menawan oleh majalah Witch-Weekly. Benar-benar amazing!
Tidak hanya murid-murid Hogwarts yang senang pada Severus. Rekan-rekan kerjanya juga. Setiap ada acara minum teh atau pesta dansa bagi para guru, Severus selalu menjadi orang pertama yang dibuatkan undangan atau diberitahu.
Oh! Karena sifat Severus yang penolong dan seperti… er, tahu segalanya, guru-guru menjadi suka meminta tolong pada Severus. Sedikit-sedikit… Severus. Sedikit-sedikit… Severus. Ckck. Maklum saja, Severus kan tidak hanya menguasai Ramuan. Dia juga menguasai Transfigurasi, Mantra, Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, dan bahkan Sejarah Sihir! Iya, yang banyak menghapal tahun itu. Sayangnya, hanya Ramalan saja yang dia kurang lancar.
Banyak yang jatuh cinta padanya. Tapi seluruh wanita itu harus mengantri dulu, karena seseorang sudah memiliki hatinya.
Siapakah wanita yang beruntung itu?
Dialah ibu dari Harry Potter, Lily Potter.
Dari dulu hingga sekarang, cintanya hanya bisa ia berikan pada Lily Potter. Tidak pada orang lain.
Severus benar-benar orang yang sangat setia.
Dan tidak heran, karena sifat dan sikapnya yang nyaris sempurna—sebenarnya dia sempurna, tapi tidak bisa dikatakan sempurna karena tidak ada orang yang sempurna—dia selalu mendapatkan hadiah dari siapa pun.
Saat hari Valentine, hari Natal, bahkan hari Halloween juga masih ada yang nekat mengirimkannya hadiah! Ckck… aneh-aneh saja.
Tapi hadiah-hadiah di semua hari itu tidak ada yang mengalahkan hadiahnya saat ia berulang tahun.
9 Januari. Hari dimana hadiah-hadiah bertumpukan di kantornya dan bahkan sebagian hadiah itu harus ia titipkan di ruangan Profesor Flitwick—sahabat sejatinya—agar tidak benar-benar meledakkan kantornya.
Dan hari itu adalah hari ini.
Hari ini kalender menunjukkan tanggal 9 Januari 2013. Umur Severus tepat 53 tahun.
Dan karena kemarin ia sibuk mengajar dan membantu Madam Pince membereskan buku di Perpustakaan sampai larut malam, ia merasa kurang sehat hari ini.
Dia batuk. Dan hidungnya juga berlendir.
Penyakit ringan yang menganggu segala hal.
"Ah, mungkin karena kecapekan," batin Severus. "Aku harus semangat mengajar hari ini! Hari ini ulang tahunku! Guru-guru bahkan menyiapkan pesta untukku nanti malam! Dan murid-muridku tidak boleh kehilangan satu menit pun tanpa ilmu yang kuajarkan! Ayo Severus, semangaaaatt!"
Ia memaksakan diri beranjak dari kasur, lalu memakai jubah tidur. Ia hendak mandi, lalu beraktivitas seperti biasa.
Dan begitu keluar dari pintu kamarnya, dia sudah menemukan kurang lebih sebelas kado besar-besar di depan pintu.
Baru jam enam pagi, ia sudah mendapatkan sebelas kado. Bagaimana selanjutnya?
Mungkin kado hari ini harus ia titipkan ke kantor Profesor Flitwick dan juga ke McGonagall.
Selesai mandi, ia segera berpakaian, lalu pergi ke Aula Besar. Dia sudah tidak sabar mencicipi sup krim yang mungkin saja bisa meredakan batuk-pileknya.
"Selamat pagi, Profesor!"
"Selamat ulang tahun, Profesor!"
"Aku punya kado untuk Anda!"
Baru saja berjalan beberapa langkah di koridor dan bahkan belum sempat membalas sapaan dari murid-muridnya, Severus sudah 'dipaksa' membawa dua kado berat. Dan kado-kado lain—ia lihat dari jauh—sudah berdatangan. Dibawa oleh murid-murid sambil berlarian ke arahnya.
"Astaga," batin Severus.
Tapi murid-murid itu tak peduli kalau Severus kesusahan membawa kado itu. Mereka terus saja memberikan kado. Walaupun ada di antara mereka yang menawarkan bantuan pada Severus untuk membawa beberapa kado.
"Profesor, kado Anda banyak sekali! Mau kubantu?" tanya seorang anak—entah siapa.
"Tidak usah," jawab Severus sambil tersenyum dan berbatuk kecil. Ia sudah menahan batuknya agar tidak keluar, tapi tidak bisa. Jadi ia memperkecil saja suara batuknya. "Uhuk. Terima kasih tawarannya, tapi energimu nanti habis. Kau harus belajar hari ini."
Dan seterusnya begitu.
Severus memang orang yang kelewat baik.
Akhirnya Severus membawa entah berapa kado yang ditumpuk-tumpuk seperti ikan sarden—saking banyaknya—dengan kedua tangan. Bahkan Severus sudah tidak bisa melihat jalan lagi karena pandangannya tertutup oleh kado-kado.
Untung saja Argus Filch lewat. Jadi Argus bisa membantu Severus membawa kado-kado.
Dan begitu sampai di Aula Besar, ada empat spanduk yang dibawa oleh masing-masing asrama. Tulisannya…
SELAMAT ULANG TAHUN PROFESOR SNAPE! WE LOVE YOU MUACH!
Severus hanya bisa tersenyum sambil menelan ludah. Tidak terbayang betapa repotnya hari ini.
Setelah mencoba beberapa sendok sup krim saat sarapan—hanya sedikit, karena ia terus-menerus diajak bicara oleh orang lain sehingga tidak sempat banyak-banyak makan—ia pergi ke kantornya sebelum mengajar. Dia harus menaruh kado-kado yang sangat banyak itu dulu jika tidak ingin kerepotan.
Setelah menaruh kado-kadonya di kantor—dibantu oleh Profesor Flitwick dan Argus Filch—dia langsung pergi mengajar.
Dan begitu ia masuk ke kelasnya, murid-murid kelas satu Gryffindor dan Slytherin—yang akan belajar—sudah menunggu di luar. Dengan seribu pertanyaan.
"Kenapa terlambat, Profesor?"
"Profesor capek, ya?"
"Kado-kado Profesor mana?"
Severus hanya bisa tersenyum dan lagi-lagi batuk. Ia menjawab seribu pertanyaan itu dengan satu jawaban singkat—yang tidak nyambung.
"Iya."
Begitu kelas terbuka oleh lambaian tongkat sihir Severus, murid-murid segera menghambur ke dalam. Mencari tempat duduk yang nyaman sehingga bisa belajar dengan tenang.
"Uhuk."
Tapi satu murid masih mengekor di belakangnya.
Severus berbalik.
Dan gadis berambut keriting tebal berjubah Gryffindor ada di sana. Namanya Hermione Granger.
Severus sendiri baru mengenal anak itu beberapa hari yang lalu. Saat anak itu berhasil menjadi orang pertama di kelasnya yang membuat ramuan-entah-apa. Severus sudah lupa.
"Hermione, kenapa tidak mencari tempat duduk seperti teman-temanmu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Severus, anak itu malah bertanya balik, "Profesor batuk ya?"
Yah, namanya juga anak-anak.
Severus mengangguk. Senyumnya belum luntur. "Ya."
Anak itu mengangguk, lalu mencari tempat duduk sisa. Untung saja Harry Potter menyisakan tempat duduk di sebelahnya sehingga anak itu bisa duduk dengan nyaman.
Severus berdecak heran, lalu berjalan ke depan kelas dan memulai mengajar.
Selesai mengajar, makan siang, lalu mengajar lagi, lalu makan malam, Severus pergi ke kamarnya—sambil membawa beberapa kado. Dan sesampainya di depan pintu kamar, ada lagi tumpukan kado yang meminta dibawa masuk.
Severus membuka pintu, menaruh kado-kado di lantai kamar, lalu mengambil kado-kado di depan pintu lagi.
"Hah, repotnya," batin Severus sambil menyeka keringat di dahinya. "Setelah ini masih ada pesta guru, lagi."
Dan setelah menaruh kado-kadonya—yang memenuhi nyaris seluruh ruangan—ia langsung keluar lagi. Hendak pergi ke pesta ulang tahunnya yang diadakan oleh rekan-rekannya.
Dan pesta berjalan lancar—walaupun Severus masih batuk.
Ada kue tart tinggi beserta krim dan ceri kesukaannya, ada balon-balon dan konfeti yang meriah, dan ada juga acara minum Wiski Api.
Walaupun Severus suka Wiski Api, dia tidak minum itu di sana.
Dia tidak ingin batuknya bertambah parah.
Karena itu, selesai acara makan kue, dia langsung menghilang. Kembali ke kamarnya.
Dan kado-kado masih ada juga yang bertumpuk di luar pintu kamarnya.
Sambil membawa kado-kado itu, ia masuk ke kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Ternyata lama juga ia ada di pesta itu.
Karena bingung hendak berbuat apa, Severus membuka kadonya satu-satu.
Ada yang berisi boneka—entah siapa yang memberikannya, bahan-bahan ramuan, jubah berwarna merah baru, sepatu ski—yang mungkin akan Severus sumbangkan, buku-buku baru, cemilan-cemilan kecil, permen Honeydukes, dan bahkan Menteri Sihir sendiri memberikan Severus hadiah Wiski Api Ogden.
Masih banyak lagi hadiah yang menunggu dibuka.
"Hadiah-hadiah yang bagus," pikir Severus. "Tapi tidak ada yang kubutuhkan. Semua hadiah ini sama dengan hadiah-hadiahku tahun lalu."
Lalu Severus beranjak ke kasurnya. Ia sudah lelah sekali hari ini karena aktivitasnya. Apalagi ditambah dengan batuk dan pileknya yang menganggu.
Severus menatapi bekas-bekas bungkus kado yang berserakan di kamarnya.
"Besok saja beres-beresnya," batin Severus. Lalu ia tertidur.
Jam 12 malam, ia terbangun. Ia kebelet buang air kecil.
"Uhuk."
Ia beranjak dari kasur, berjalan beberapa langkah, membuka pintu—
Tetapi, di luar kamarnya, masih ada satu kado.
Mendadak rasa kebeletnya hilang.
Kado itu hanya dibungkus kertas biasa, bukan kertas kado dengan corak yang ramai dan norak. Kado itu tidak dihiasi apa pun. Pita pun tidak. Hanya ada satu kartu ucapan dengan tulisan anak-anak yang lumayan rapi.
Selamat ulang tahun Profesor Snape.
Aku bingung ingin memberikan hadiah apa, jadi ini saja yang kuberikan.
Semoga Profesor cepat sembuh.
Hermione Granger.
Severus membuka kado itu.
Dan ia menemukan obat batuk di sana.

Itulah yang ia butuhkan!
FIN.
Selesai :D semoga bisa diterima, ya. Ini dibikin susah-payah banget…waktu Writer's Block lagi melanda. Jelek banget jadinya -,- udah gitu, telat 1o hari lagi dari ultah Sev. Dan telat 3 hari dari batas publish Snape Day -,- Maaf semuanya…
Mind to RnR?