Showing posts with label Genre Drama. Show all posts
Showing posts with label Genre Drama. Show all posts

Saturday, 8 February 2014

Rahasia (bananaprincess)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini


Severus Snape, Lily Evans – Harry Potter – J.K. Rowling.
Sherlock – Steven Moffat, Mark Gattis, & BBC. Sherlock Holmes – Arthur Conan Doyle.

Akibat dari Sherlock hangover, akhirnya iseng nulis fanfik ini untuk Snape Day (challenge profesi lain) yang diadakan Ambudaff. Aku menukar Molly Hooper dengan Lily Evans dan Anderson Phillip dengan Severus Snape.
Enjoy!

Beberapa orang berharap bisa mengingat lebih banyak. Yang lain berharap tidak pernah lupa segala sesuatu. Ada juga yang ingin tahu apa yang terjadi pada kehidupan yang lalu.
Akan tetapi, bagaimana jika kamu benar-benar bisa menyimpan semua memori dalam kepalamu? Hidup demi hidup yang dijalani. Kenangan-kenangan.
Saat kamu bisa mengingat segalanya, tanpa bisa melupakan.
Severus sering berdoa agar dapat menghapus memori tentang sepasang mata hijau cemerlang.
-o-
"Lily, kamu harus lihat ini!"
Severus menyamai langkah Lily di koridor rumah sakit St. Bart's. Jas dokter yang dipakai perempuan berambut merah gelap berkelepak setiap kali ia melangkah. Permintaan lelaki tinggi dengan pakaian hitam-hitam itu seakan sengaja diabaikan. Laki-laki itu bisa saja menarik lengan Lily agak berhenti, tetapi ia tidak melakukannya.
"Lily!" panggilnya sekali lagi dengan suara agak keras, meski mereka berjalan bersisian.
"Apa lagi, Sev?" Lily berhenti tepat di depan pintu kamar mayat.
"Kamu harus lihat video ini!"
Lily mengambil ponsel Severus yang sejak tadi ditawarkan. "Video lain tentang Sherlock Holmes?" tanyanya memandangi layar ponsel.
"Greg yang mengambilnya ketika kami memeriksa flatnya untuk mencari narkotika."
"Aku tahu teorimu, Sev."
"Dia memakai kokain, Lily!"
"Mana buktinya?" Lily menyerahkan kembali ponsel itu dengan tidak sabar.
Muka Severus merah padam. Namun dia tidak bergerak sedikit pun dari hadapan Lily. "Kami memang nggak menemukannya kemarin. Lain kali, aku akan mendapatkan bukti," katanya dengan nada rendah.
Lily mendengus dan berpaling. Severus tahu ia sudah membuat Lily terganggu dengan pernyataannya. Akan tetapi, ia tidak akan membiatkan kalau sampai Lily terluka karena pria itu.
"Sev," Lily mendorong pintu kamar mayat, "Kenapa sih kamu selalu mengurusi urusannya? Kalian seharusnya bekerja sama. Kamu—petugas forensik dari kepolisian dan dia—detektif, sorry, konsultan detektif. Bagus untuk kalian kalau bisa akur, kan?"
"Aku nggak bisa!" Severus menahan pintu dengan tangannya agar tidak tertutup.
Mulut Lily terbuka sedikit, menunjukkan kekagetan oleh seruan Severus barusan. Ia mundur, merapat ke pintu. Memasukkan tangan ke saku jas. "Yah, dia memang agak menyebalkan," sahutnya pelan. Lily tertawa kecil dan hampa. Ia sendiri tidak mengerti mengapa tertawa.
Sangat menyebalkan.
Sesaat tak ada yang bicara antara mereka berdua. Severus masih berdiri mengawasi Lily. Bertanya-tanya mengapa ia tidak pernah punya nyali untuk mengatakan apa yang sebenarnya. Rahasia yang lama disimpan. Rahasia yang berdebu di sudut kepalanya. Selalu seperti ini, setiap kali kesempatan datang Severus akan mundur. Ia tahu apa yang akan terjadi. Hidup yang ini hanya ulangan hidup yang lain.
Severus menelan ludah. Menurunkan tangannya dari pintu. Ia mengusap rambutnya yang hitam gelap dan berminyak. Pada setiap kehidupan yang dijalaninya, ia selalu mencoba untuk memperbaiki penampilan. Tetapi itu tidak pernah cukup untuk membuat Lily melihatnya.
"Kukira kita punya janji makan siang bersama," Severus merapikan jaket kulit yang dipakainya.
Lily menunduk. "Aku harus mencatat bentuk memar yang muncul pada mayat di dalam... Sherlock memintaku."
"Apa?!" potong Severus terkejut.
"Ada yang harus aku lakukan, Sev. Pergilah ke kantin, aku akan menyusul."
Pintu kamar mayat itu tertutup tanpa memberi kesempatan Severus untuk menjawab.
-o-
Lily tidak pernah datang.
Pun sampai hari ini.
Severus merindukannya.
Severus berjongkok di samping seorang perempuan muda yang berlumuran darah. Rambutnya merah terurai. Beberapa kotoran yang tampaknya cat-cat terkelupas mengotori helaiannya. Tubuhnya telungkup, wajahnya tertutupi oleh rambut. Severus bersyukur karena itu.
Dia beruntung dulu tidak melihat darah. Bukan Severus benci dengan darah—ini adalah pekerjaan sehari-hari yang harus ia lakoni. Hanya saja, ia sulit membendung memori yang datang bertubi-tubi. Semua kenangan itu sejelas siang hari. Mata itu—hijau yang menghantui.
Tangan Severus gemetar ketika hendak mengambil sidik jari dari korban pembunuhan itu. Ia takut untuk melihat paras korban. Ia tak bisa.
Pintu kamar di rumah kosong itu menjeblak terbuka. Greg Lestrade, Detektif Inspektur dari satuan Scotland Yard datang bersama Sherlock Holmes. Severus menghela napas. Matanya melirik sinis kepada pria itu.
Arogan. Mengapa sejak dulu ia selalu berkompetisi dengan orang-orang seperti dia?
"Ah Severus, kita bertemu lagi," kata pria itu menyebrangi ruangan, lalu berlutut di sisi mayat tersebut.
Dari sudut mata, Severus mengenali kode dari Greg yang memintanya untuk keluar dari ruangan. Tangannya masih bergetar ketika menjauh dari mayat itu. Kali ini, dia tidak ingin membantah bahkan berdebat dengan Sherlock. Ia membencinya. Tetapi, untuk kali ini Severus merasa terselamatkan.
"Ini TKP. Aku tidak ingin terkontaminasi. Jelas?" ujar Severus tegas.
Keduanya saling tatap.
"Cukup jelas, Severus," balas Sherlock, menegaskan nama lawan bicaranya. Matanya tertuju kepada tremor di tangan Severus. "Keluar sekarang. Aku tidak ingin melihatmu."
Severus tersinggung. Ia tahu Sherlock membaca sesuatu dari matanya. Sebelum pria itu mengeluarkan semuanya lewat mulut ularnya, lebih baik Severus menyingkir. Severus buru-buru berpaling, sementara Sherlock meneruskan investigasinya atas mayat perempuan itu.
Saat Severus menyingkir ke arah pintu. Ia mengerling sekali lagi kepada Sherlock. Pria itu menyibak rambut korban. Lampu-lampu yang dipasang di sekitar TKP, membuat Severus bisa melihat warna matanya.
Dia bukan Lily. Bukan Lily.
-o-
Severus tahu itu bukan mimpi. Ia tahu itu adalah memori. Sepasang mata hijau cemerlang. Milik Lily. Milik seorang anak laki-laki yang ia benci. Severus tahu segala sesuatu. Ia tak pernah bisa melupakan apa-apa. Tetapi, memaksa untuk mengingat tak pernah mudah.
Bertahun-tahun ia mencoba untuk melupakan. Apapun. Kian keras ia mencoba, justru ingatan satu persatu mengapung dalam kepalanya.
Kenangan-kenangan tentang Lily Evans. Cintanya kepada Lily yang selalu membuat Severus kembali kepada perempuan itu. Pada setiap kehidupan. Ia tak pernah bisa melupakan. Dan, pada akhirnya, Severus selalu mencari. Selalu menemukan kembali.
Ia mencari tahu apakah ada orang lain yang seperti dirinya. Punya ingatan-ingatan dari berbagai kehidupan. Akan tetapi, hingga kini ia tak pernah menemukan seorang pun yang mengalami layaknya yang terjadi kepadanya.
Bahkan Lily, yang ia tahu merupakan sosok yang sama dengan yang dicintainya dulu. Lily, dokter forensik di St. Bart's yang membuat Severus matian-matian menjadi bagian forensik dari Scotland Yard. Mereka punya rambut sewarna. Mata yang sama terangnya. Semua. namun, tak satupun ingatan bahwa mereka pernah saling mengenal di kehidupan yang lalu tertinggal pada Lily. Severus mengingat semua sendiri. Perasaan-perasaannya yang tak pernah berpindah dari dalam hati.
Tetapi, Severus nyaris selalu luput untuk mengatakan apa yang selama ini dibendung dalam hatinya.
-o-
Janji untuk makan siang bersama itu tak kunjung terpenuhi. Hingga teror mulai datang lagi. Satu demi satu ancaman bom itu datang. Dimulai dari Baker Street dan hari ini, Severus berada di sebuah pabrik gula-gula di Addlestone.
Sepasang anak hilang dari asramanya. Sherlock dengan kemampuannya yang luar biasa, dengan cepat memperkirakan di mana kedua anak itu berada. Severus berjalan di antara lorong mesing yang tidak lagi digunakan. Senter tergenggam erat di tangannya. Langkahnya terhenti saat salah seorang staf berseru sudah menemukan kedua anak tersebut.
Severus melirik Sherlock ketika kedua anak tersebut dievakuasi ke dalam ambulans. Ekspresi pria itu cerah tak tertahankan. Jauh berbeda dengan seluruh orang di dalam sini yang tampak prihatin. Apa dia tak punya hati?
Severus seharusnya bisa lebih cemerlang dibanding Sherlock, tetapi bagaimana bisa ia sama sekali tidak punya daya untuk menguak jejak sepatu anak-anak itu yang tertinggal di asrama mereka?
Karena ia berpikir tentang Lily. Selalu dan setiap saat.
-o-
"Lily, dengarkan aku."
Harus ada korban yang jatuh terlebih dulu, agar akhirnya mereka berdua bisa duduk di kantin St. Bart's siang ini.
"Sev?" sahut Lily kesal. "Itu tidak mungkin."
"Dia bisa menemukan anak-anak itu hanya dengan jejak sepatu. Dan kamu tahu si anak perempuan, Claudette, yang langsung berteriak ketika melihat Sherlock. Bagaimana bisa seorang anak bereaksi seperti itu ketika pertama kali melihat pria itu. Dia memang mengerikan, kecuali..."
"Aku bisa menebak teorimu, Sev. Sherlock Holmes memang berengsek, tetapi dia nggak mungkin melakukan itu," potong Lily, menyuap kentang ke dalam mulutnya. Cerita Severus barusan jelas mengusik Lily, ekspresi menampakkan itu dengan jelas.
"Dia seorang sosiopat, Lily. Dia bukan manusia. Suatu saat kalau dia bosan. Dia akan melakukan itu. Aku sudah menebaknya sejak dulu," ujar Severus dengan suara tertahan.
"Sev!" hardik Lily. Sepasang mata hijau cerlang itu menatap Severus tajam.
Benak Severus memanas karena perdebatan ini. Sejak Sherlock Holmes muncul, Lily selalu menganggap pria itu seperti emas. Lebih brilian. Lebih cakap dalam hal apapun dibanding Severus. Padahal, jelas orang-orang menganggap pria itu hanya bajingan yang terobsesi dengan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.
Ia menenggak cola dingin yang dikirinya bisa memadamkan perasaan terbakar dalam hatinya. Perempuan manis di depannya ini, selalu punya pembelaan untuk Sherlock. Semua orang bahkan jelas tahu kalau Lily menyukai pria itu. Tak ada orang lain yang bahkan berniat untuk melakukan itu kepada Sherlock, pria tidak berhati dan tak pernah bisa berkata-kata dengan benar itu. Tak ada, kecuali Lily.
"Mengapa tidak sekali saja kamu mempercayaiku, Lily." Tangan Severus tergenggam di atas meja. Bola matanya yang gelap membesar ketika mencondongkan tubuh dekat Lily.
"Sekali?!" balas Lily membentak. Gerakannya yang tiba-tiba mengguncang meja mereka dan nyaris menumpahkan jus jeruk. "Sejak sekolah tak ada yang mau berteman denganmu kecuali aku. Kapan aku nggak pernah mempercayaimu. Jangan bersikap seperti anak kecil, Severus."
"Jadi, siapa yang lebih kamu percayai? Aku atau Sherlock Holmes?"
Lily berdiri tiba-tiba, nyaris membuat kursinya terjungkal. Severus ternganga. Sekejap ia menyesali apa yang tadi keluar dari mulutnya. Belum pernah ia melihat Lily semarah itu. seluruh wajahnya bersemburat merah. Kedua mata hijau terang yang biasa lembut itu kini memandang seperti tersulut api.
Severus segera bangkit. Mengambil barang Lily yang tertinggal di atas meja. "Lily! Dengarkan aku," seru Severus yang begitu keras hingga semua orang menoleh kepada mereka.
"Apa lagi?" katanya tanpa memandang Severus. Kakinya bergerak cepat menapaki koridor.
"Kamu harus percaya kepadaku," jelas Severus.
"Kenapa?" tanya Lily. Marahnya tak lagi disembunyikan.
Severus menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang. Dalam udara sejuk St. Bart's, ia bisa merasakan gerah dalam tubuhnya. Panas yang entah datang dari mana dan membuat peluh mulai keluar lewat pori-pori punggung dan tangannya.
Ia mengingat mata hijau cerah. Anak perempuan di balik pohon. Lorong-lorong sekolah tua yang penuh keajaiban.
Ia ingat pertama kali berkenalan dengan Lily karena rumah mereka berdekatan. Berangkat ke sekolah menengah bersama dan memiliki loker bersama. 2010.
Ia belum lupa ketika mereka berdua menjadi pelayan seorang restoran cepat saji. 1970.
Ia tidak pernah lupa bagaimana dulu mereka menaiki kereta bersama. 1890.
Semua berakhir di sebuah gereja kecil. Lily dengan gaun putih. Severus mengawasinya.
Ia mengingat perasaan itu.
"Karena aku tahu. Semua tentangmu," ucapnya, saat mereka tiba di depan pintu laboratorium forensik.
"Omong kosong!" bantah Lily.
Ia tak pernah mengingat apapun. Sedikit pun. Hati Severus mencelus. Perih mendera dadanya.
"Dia bukan seseorang yang pantas untukmu, Lily," ujar Severus, mengikuti Lily masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa kamu mulai mengatur-atur hidupku?! Kamu nggak berhak, Sev!"
Severus membisu dan mematung. "Aku hanya khawatir kepadamu, Lily. Aku nggak mau kamu menjadi korban yang jatuh untuk lain kali."
Lily menggeleng. "Aku bisa menjaga diri."
"Lily, kamu bisa mengandalkanku."
"Sebaiknya kamu menjaga dirimu sendiri."
"Dia tidak mencintaimu. Kamu tahu?" Severus menatap Lily lurus-lurus. "Dia tidak pernah mencintaimu. Karena..."
Kalimat Severus terhenti ketika sebuah tamparan mengenai pipinya. Perih yang merambati wajahnya, tidak sebanding dengan luka yang tertoreh dalam hati.
"Aku melihatmu menikah. Tetapi, bukan bersamanya." Severus berdiri tegak. "Aku melihat bayi dalam pelukanmu."
"Oh, Severus! Kamu kembali dengan khayalan dan teori-teorimu lagi!"
Lily berbalik, namun Severus mencengkeram lengan Lily. "Aku nggak berteori, Lily. Aku mengatakan yang sebenarnya."
"Lepaskan aku, Sev!" Lily menarik tangannya dari Severus. Wajahnya mengernyit menahan sakit.
"Ma-maafkan aku, Lily." Severus melepaskan tangannya.
Suara pintu yang terbuka mendiamkan keduanya.
"Oh, Severus, kamu ada di sini? Apa aku menginterupsi kalian—pertengkaran domestik?" katanya, di depan pintu yang tertutup.
Severus meliriknya mangkel. Selalu saja orang itu muncul di saat yang tidak tepat.
Sherlock melepas mantel dan syalnya, menggantungnya di belakang pintu. Severus bahkan jelas merasa penampilannya jauh lebih baik daripada pria yang menata rambutnya seperti wanita tahun 1950-an itu. Dia hanya memiliki hidung yang lebih baik, mulus, tidak bengkok seperti milik Severus.
Severus berdecak. Melipat tangan di dada.
"Apa kamu sudah selesai dengan Lily, Snivellus? Aku membutuhkannya."
"Jangan panggil aku seperti itu, Holmes," sahutnya keras.
Severus dan Sherlock bersemuka. Tatapan keduanya sama-sama menyorot tajam, hingga Sherlock berpaling. Melengos, tak mau peduli dengan perdebatan itu.
"Panggilan kecilmu. Bagus untuk nostalgia, bukan?" Sherlock berjalan melewati Lily dan Severus, menuju mikroskop di ujung meja.
"Tutup mulutmu, Holmes," hardiknya. Severus mengepalkan tangan di sisi tubuh.
"Nope. Panggilan itu pantas untukmu," katanya, membuka lemari penyimpanan. Mencari sampel yang dia tinggalkan beberapa hari lalu. "Kamu jelas datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu. Kamu mengurungkannya karena Lily tidak mau mendengarmu. Dan kalian bertengkar, sampai ia menamparmu. Apa aku benar?" Sherlock melambaikan tangan, kembali mengamati preparatnya di bawah mikroskop.
Rahang Severus mengeras. Wajahnya memanas.
"Abaikan saja aku. Kalian bisa meneruskan bertengkar. Lily, jika kamu pergi ke bawah, bawakan aku kopi. Hitam. Dua sendok gula."
Severus menoleh kepada Lily yang berlalu. Ia ingin melarangnya, tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian, terdengar pintu yang dibanting.
"Tidak bisakah kamu sedikit saja sopan kepadanya?" tegur Severus.
"Siapa?" sahut Sherlock cuek.
"Lily."
"Aku selalu sopan kepadanya, Snivellus."
Severus bergegas menuju ke dekat Sherlock.
"Apa? Kamu ingin bicara kepadaku?" Sherlock mengangkat wajah, menatap Severus sesaat.
"Jangan sampai aku mengungkapkan siapa dirimu dulu," desis Severus.
Alis Sherlock terangkat. "Oh, menarik. Kamu jelas tahu apa yang tidak aku tahu. Kamu penuh teori dan imajinasi, Snivellus."
"Kamu adalah penjahat besar," tuding Severus. Deru napasnya yang pendek-pendek terdengar jelas saat mereka berdua sama-sama diam. Seperti ada yang meledak dalam pikirannya. Keping-keping kenangan berhamburan. Ia teringat pada janji-janji. Pada kabar yang tak disangkanya datang dulu. Kematian Lily. Ia masih merasakan kepedihan dan penderitaan yang merayap dalam hidupnya mulai detik itu.
Selalu dan setiap saat. Hingga kini. Meski ia dan Lily dipertemukan lagi dan lagi. Rasa bersalah itu seperti batu besar yang tak pernah bisa terungkit dari permukaan hati Snape. Di sana. Diam dan beku. Memberat hari demi hari.
Dia yang mengingkari janji.
Sepasang mata biru di hadapannya itu berkedip. Seluruh pikiran dalam kepala Snape mendadak lenyap.
"Aku?" Sherlock menunjuk dirinya sendiri. "Lanjutkan."
"Kamu membunuh semua orang," Suara Severus perlahan bergetar. "Dan Lily."
Severus terkesiap ketika mengucapkan itu. Semua itu meluncur dari mulutnya begitu saja. Ia tidak pernah mengira. Ia tidak pernah berpikir sampai ke sana. Ia kelihatan begitu terpukul saat mengucapkan itu. Tremor kembali menyerang tangannya.
Ini semua tidak mungkin. Severus bisa mengenali Lily. Mengapa orang ini luput darinya?
"Aku membunuh banyak orang," ujar Sherlock menanggapi dengan santai. "Mengapa aku harus melakukan itu? Dan mengapa aku harus membunuh Lily?" Matanya menyipit, mengamati Severus yang mundur pelan-pelan.
Severus tak pernah lupa, mengapa Lord Voldemort datang malam itu ke Godric's Hollow.
"Aku asumsikan jika kita berada di dalam cerita yang sama, Snivellus. Aku datang membunuhnya karena kamu memberitahuku sebuah rahasia. Tentang kekuatan. Sesuatu yang aku inginkan."
Severus menjauh dari Sherlock, namun langkahnya terhenti saat tubuhnya menabrak pinggiran berisi tabung-tabung reaksi. Satu tabung menggelinding dari rak, tetapi ditangkap dengan cepat oleh Sherlock.
"Dan setelah itu, kamu melarikan diri. Membocorkan semuanya kepada pihak lawan." Sherlock meletakkan tabung kecil itu kembali ke rak. "Itu apa yang selalu dilakukan pecundang ya, Snivellus?"
Severus mendorong tubuh Sherlock. Tubuh pria itu bergeser, hampir terhuyung jatuh, tetapi Sherlock menyeimbangkan dirinya dengan cepat dan kembali berdiri tegap. Ia sama sekali tidak terpancing dengan sikap Severus yang berapi-api.
"Itulah mengapa kamu tidak pernah berani mengungkapkan semuanya kepada Lily. Karena kamu pecundang, Severus." Ia mengatakan itu seakan kejadian barusan tak pernah terjadi.
Kemarahan mengisi benak Severus. Tetapi, ia memilih pergi. Ia melihat memori itu lagi dalam kepalanya. Ketakutan dan kesedihan.
"Kamu tidak ingin tahu apa yang dikatakannya terakhir kali, Severus Snape?"
Langkah Severus terhenti. Ia memandang Sherlock dengan tatapan horor. Sekarang, ia menemukan orang lain seperti dirinya. Orang yang bisa mengingat apapun dan tak bisa melupakan apa-apa. Sama sepertinya.
"... Not Harry. Please — I'll do anything."

Your Psychol No More (kai anbu)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini


All characters belong to J.K. Rowling.
Fic by Kai Anbu
Made for challenge "Snape: Other profession" from ambudaff

::
Your Psychol No More
::

Severus Snape, D. Psych.
Psikolog paling laku di kota. Usianya masih tiga puluhan, tidak terlalu tampan, kurus dan tinggi, dan hidup sendirian melajang di apartemen pinggir kota. Prakteknya buka di malam hari setiap akhir pekan, sisanya ia bekerja di rumah sakit jiwa.
Akhir pekan ini pun, daftar janji temu dengan para kliennya penuh mulai sore hingga malam. Berbeda dengan dokter biasa, kau harus mengatur janji untuk melakukan sesi konsultasi psikologi, karena lama satu sesi bisa antara 30 menit hingga dua jam.
Untuk malam ini, klien pertamanya adalah seorang gadis canggung berambut pirang, Ms. Loony Lovegood.
"Dok, saya phobia kecoak,"
Severus berdehem pelan, pura-pura simpati.
"Mengapa kau takut kecoak?"
"Warnanya coklat hitam, menjijikkan, dan bau,"
Severus tersenyum.
"Sepatumu yang kau pakai itu, Ms. Loony, Jimmy Choo keluaran terbaru?"
Ms. Lovegood menggerakkan tumitnya, memperlihatkan sepatu kulit mengkilat yang baru saja dibelinya di butik.
"Eh? Iya betul…"
"Warnanya coklat seperti kulit kecoak,"
Ms. Lovegood menautkan alisnya di kening, bibirnya mengerucut terperanjat, antara jijik dan menyadari sesuatu.
".. dan kau bilang, kecoak juga bau?"
"Y-ya.."
"Tubuh manusia mengeluarkan bau yang lebih menyengat dari kecoak," sahut Severus.
"Jadi, kenapa harus takut pada kecoak, Ms. Lovegood?" Kali ini Severus menatap mata kliennya, menuntut jawaban yang sepertinya tak perlu dijawab.
rs. Lovegood mengangguk, seengah tak berdaya, setengah menyadari kalau ketakutannya terasa bodoh.
Klien keduanya, seorang remaja berambut perak yang sepertinya menyimpan amarah. Severus melirik nama daftaranya. Draco Malfoy, anak Duke Malfoy yang kaya raya.
Anak-anak orang kaya biasanya bermasalah, pikir Severus.
"Ibuku yang menyuruhku kesini, bukan karena kemauanku," Draco langsung membukanya dengan wajah yang kesal.
"Apa masalahmu?" Severus langung to the point.
"Aku dianggap liar dan lepas kendali. Hanya karena aku bergaul dengan seorang gadis. Padahal tidak ada salahnya. Dia gadis baik dan latar belakang keluarganya juga baik. Hanya saja, dia memang bukan bangsawan,"
Hoo, cinta yang melawan kemauan keluarga, Severus langsung menangkap intinya.
"Kenapa kau berpikir itu tidak salah?" Severus balik menantang.
Draco mengerutkan kening, seharusnya Severus yang selevel Ph. D mengetahui jawaban pertanyaan itu.
"Tentu saja tidak salah!" ia berkata seperti memprotes. "Bukankah manusia diciptakan sama, kenapa harus membeda-bedakan?"
"Kau melawan kehendak orang tuamu, itu salah," Severus berkata tajam.
"Tapi, aku mencintai gadis itu!"
"Kau menyukainya karena kau bangsawan, kau bisa membuatnya tunduk dengan mudah karena gadis itu hanya dari keluarga biasa,"
"Tidak! Oh, kau menjengkelkan!"
Severus menyunggingkan senyum sinis.
"Lalu, kalau kau memang mencintainya, apa kau berani mengatakan argumentasi tadi kepada orang tuamu?"
Draco terhenti. Merenung dan berpikir.
"Masalahnya, kau sendiri tidak bersedia untuk memperjuangkan gadismu,"
"Tidak! Kalau tidak, aku tidak meneruskan hubungan…"
"Baiklah, kalau begitu apa yang menghalangimu bicara jujur pada orang tuamu? Apakah kau takut?"
Draco mengerutkan kening. Ia merasa ditantang.
"Tidak, aku tidak takut."
"Kalau begitu, lakukan apa yang harus kau lakukan." Severus menautkan kedua tangannya, menyunggingkan senyum yang tampak begitu menyebalkan di mata Draco.
Draco Malfoy keluar dengan otak yang terbakar. Severus berharap ia tidak keterlaluan mengkonfrontasi anak muda itu.
Klien ketiga adalah seorang tentara yang frustasi karena baru saja pulang dari medan perang, bernama Charlie Weasley.
"Aku dihantui mimpi buruk tentang perang. Aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa bekerja, dan mood-ku menjadi sangat jelek. Keluargaku mengeluh, kata mereka aku telah berubah,"
Aha, ini menarik. Pikir Sev.
"Apa kau sudah mencoba bebagai cara untuk tidur?"
"Sudah. Mulai dari relaksasi, menghitung domba, membaca buku yang berat, mendengarkan musik yang tenang, semua tak berhasil. Aku baru bisa tidur setelah minum obat tidur, tapi aku tak suka efek sampingnya, membuat jantungku berdebar,"
"Baiklah, aku beri kau satu saran" sahut Severus. Ia mendekatkan tubuhnya kepada Charlie, menjelaskan satu hal yang tampaknya sangat serius.
"Malam ini, cobalah untuk tidak tidur,"
"Hah? Kau sungguh-sungguh? Masalahku adalah tidak bisa tidur!"
"Cobalah sebaliknya. Kau tidak bisa tidur karena kau berusaha menghindari masalah itu. Karena itu kusarankan kau untuk menganggapnya bukan sebagai masalah. Tidak bisa tidur itu bukan masalah. Lakukan segala hal yang bisa membuatmu terjaga semalam suntuk. Cobalah dulu semalam ini, oke?"
Charlie tampak berpikir sejenak.
"Oke,"
"Kita bertemu lagi besok malam, untuk mengetahui hasilnya,"
"Oke dok, akan kucoba mulai malam ini,"
Severus bertaruh, malam ini Charlie akan tidur seperti bayi. Masalah bisa menghilang ketika kita tidak lagi menganggapnya sebagai sebuah masalah, demikian premisnya.
Klien keempat, dan kliniknya sebentar lagi tutup.
Severus menarik napas gelisah.
Wanita ini lagi.
Seorang wanita berambut merah, berusia kira-kira tigapuluhan, masuk ke dalam ruangan. Wajahnya cantik meski riasannya sederhana.
"Saya punya masalah,"
"Katakan,"
"Saya mencintai seseorang,"
"Adakah yang salah dengan itu?"
"Saya sudah bersuami dan memiliki anak. Tapi saya tetap mencintai orang itu,"
"Kau berpikir tidak rasional, Nyonya. Itu tidak diijinkan. Itu salah," tanpa rasa kasihan, Severus langsung memvonis.
"Saya tahu itu salah, tapi hati saya tidak bisa berbohong,"
Severus menghela napas.
"Perasaan anda bisa semaunya sendiri. Tetapi pernikahan, itu adalah komitmen yang harus anda jaga,"
Ada keheningan sejenak antara kliennya dan Sev.
"Apa yang harus saya lakukan?"
Severus menghela napas lagi.
"Sebulan yang lalu anda datang kepada saya dan mengadukan masalah yang sama. Saya sudah memberikan jalan keluar, bukan?"
"Ya, menuliskannya,"
"Tuliskan perasaanmu di selembar kertas. Sudah kau lakukan?"
"Sudah,"
Wanita itu mengeluarkan beberapa lembar kertas yang terlipat rapi, meletakkannya di meja kecil di sampingnya.
Severus meletakkan tangannya di meja. Seperti akan mengambil kertas-kertas itu. Tetapi kemudian ia berhenti.
Ia langsung menuliskan sebuah note pendek, berupa surat referensi. Berikut mengambil sebuah kartu nama dari lacinya.
"Mrs. Potter," Ia menyerahkan note dan kartu nama itu, sambil menatap lurus kepada wanita itu. "kurekomendasikan kau menyerahkan catatanmu kepada rekan kerja saya, Minerva McGonagall D. Psych. Ini surat referensi dariku untuk anda berikan kepadanya. Ms. McGonagall adalah psikolog yang kompeten di bidang perkawinan. Saya yakin ia bisa menjawab masalah anda,"
Wanita bernama Lily Potter itu tampak terkejut.
"Kau.. sungguh-sungguh?"
"Ya, Lily. Aku sungguh-sungguh,"
Kau sudah bersuami. Kau tak boleh mencintai orang lain.
Untuk sesaat mata wanita itu berkaca-kaca.
Lalu ia mengambil catatannya, surat referensi dan kartu nama itu, kemudan berdiri dan mohon diri.
Di pintu, ia berhenti, menatap sang psikolog dengan mata sendu.
"Selamat tinggal,"
Severus melemparkan senyum lembut.
Kau akan baik-baik saja, Lily.
Tetapi ia hanya mengatakan: "Selamat tinggal, Mrs. Potter,"
Lily Potter menutup pintu dengan wajah pedih, Severus sempat melihat jejak air mata di pipi wanita itu.
Ia duduk diam tak bergerak di kursinya. Sentimentalitas tak boleh mengusik objektivitasnya. Ia sudah melakukan hal yang benar. Merujuk Mrs. Potter ke McGonagall.
Klien terakhir telah berlalu pulang.
Severus menutup jendela tirainya. Mematikan lampu dalam ruangan kliniknya.
Tiga klien yang berhasil ia bantu menemukan jalan keluarnya sendiri. Ditambah satu wanita,… yang bersikeras mempertahankan cinta yang telah menjadi mustahil.
Tanpa membaca tulisan tangan Lily Evans Potter pun, Severus sudah tahu siapa yang ia bicarakan. Siapa pria lain yang dicintai Lily Evans, kepada siapa cinta terlarang itu ia tawarkan. Lily Potter yang bersikeras tetap menjadi Lily Evans, seorang gadis yang pernah menjadi bagian dari masa lalu Severus Snape.
Semua sudah berlalu, Lily. Waktu takkan bisa diputar kembali.
Severus takkan mengijinkan perasaan itu meluap, melewati batas integritas dirinya sebagai seorang psikolog. Ia berharap Lily memahami makna penolakannya dalam bentuk rekomendasinya terhadap psikolog lain.
Karena bagi seorang psikolog, menguasai diri itu penting.
Perasaannya pribadi? Itu nomor kesekian.
Ia mengunci pintu klinik kecilnya, menaikkan kerah mantelnya. Lalu menyusuri jalan yang sepi itu sendirian.
Malam yang seperti biasanya untuk Severus Snape, D. Psych.
Sekaligus malam bernostalgia yang hambar untuk Severus.
THE END

Wednesday, 5 February 2014

No More Dreamless Sleep (Zang)

Fiksi Reguler. Link asli ada di sini


Title : No More Dreamless Sleep
Rating : K+
Genre : Drama
Characters : Snape, Harry
Summary : Harry had been consuming Dreamless Sleep Potions in unhealthy dose. Snape did something about it. Response to Dreamless Addiction challenge by Jan_AQ in Potions and Snitches and for Snape Day 2014 in Infantrum.
Disclaimer : Harry Potter isn't mine.
.-.-.
"Can you please brew some more Dreamless Sleep potions?" Pomfrey asked.
Snape frowned. "I thought I already gave you enough to last a month," he replied.
The old matron sighed. "It should be, Severus, but I run out of it now." She sat on one of the desks in the Potions Lab.
"Nonsense, Poppy." Snape stared at the grey haired woman as if she was joking.
Pomfrey stared back. She firmly stated that she was serious.
"Midterm exams are still two months from now. Even the most air headed students won't feel that nervous," Snape snorted. He turned off the flame on a cauldron and let it cool.
"No, it's not the students," the old witch said.
"Then who?"
"It's Harry. He nearly comes everyday to the infirmary, asking for the potions," Pomfrey kindly explained. "I became worried about him," she added softly.
Snape couldn't understand it. It'd been years since The Final Battle. The Dark Lord was gone and Wizarding World was peaceful. He thought that the young Defense Against the Dark Arts teacher should have nothing to worry about, no need to seek comfort in Dreamless Sleep. "Dreamless Sleep shouldn't be consumed every day," he said. "Excessive consumption of it could damage his body. And his minds too. I don't think society would accept it if their Savior goes mental," he grunted.
"I think Harry has his own problems," Pomfrey wisely commented. "He should talk to someone about it."
"True. Dreamless isn't a way out. It's not a solution."
Snape reluctantly contemplated how he had been right after The Final Battle. The Potions Master had needed Calming Draught and Dreamless Sleep almost every other day. It had been very bad that he resorted to consume those potions, to fight off the nightmares about things he had done when he was a foolish and stupid man.
Snape brewed the potions Pomfrey had asked, but she wouldn't give it again to Harry. Not until she saw it fit.
The Head House of Slytherin noticed that Harry was pale and gaunt. The emerald eyes -so much like Lily's- - were in deep reverie nearly every time Snape saw him. Snape instantly knew that the 23 year old professor was profoundly troubled.
Harry didn't ask for Dreamless again to Pomfrey. He realized that the matron wouldn't give it to him. But Snape knew that Harry still consumed it, judging from his worse state.
One evening after the school hours ended, Snape confronted him in the Defense classroom. The Hero was startled.
"Can I help you?" Harry asked tiredly.
Snape shook his head. "I think it's you who need help," he retorted.
Harry rubbed his temple. "I don't need any," he rejected.
Snape crossed the room and stood tall before the sitting young man. "The man who consumes Dreamless Potions in unhealthy dose indeed needs help," he calmly spoke.
Harry stiffened. "I stop having it."
Snape glared. He was a little bit satisfied when Harry flinched. Even though they were not student and teacher again, Snape still had terrifying effects on his former student. "What do you take me for, Mr. Potter?" he snapped, irritated. "I know all of the effects of every potion. You stop pestering Poppy but still have access to get it from outside Hogwarts."
Harry looked up, his face went white.
"The man in the Apothecary in Hogsmeade told me that you order the potions. You owl him every three days. We all know you wouldn't brew it yourself, with your horrible skill in brewing potions."
"That's not your business," the young man hissed murderously.
"No, it's not," Snape agreed, angering Harry even more. "But I don't want to be accused of murdering The Boy Hero by using the seemingly harmless potions. Knowing how the people worship the ground you walk on, I wouldn't be surprised if I'd be targeted and accused, even though I'm not the one who sends you to grave."
"They won't."
"I'm the Potions Master. Who else is the Potions Maker if it's not me?"
Both of them were silent, with Harry looked defeated.
"I'm afraid to break my engagement to Ginny," Harry told him. He looked way older.
"Afraid of breaking her heart or receiving her family's wrath?" Snape offered.
Harry flinched. "I'm afraid of losing a family."
Snape understood. The only real family Harry had so far had was the Weasleys. "I don't see why you would want to do it. You two are the Golden Couple after all."
"I've realized something," Harry said. "I love her, as a sister. Not romantically. I don't know how to break it gently. I don't want to lose the family ties I've had with the Weasleys."
Snape sighed. "I can't help you. I hate to admit it, but maybe Lupin can give better advice than me."
"I didn't consider it before," Harry whispered, eyes wide. The werewolf was one of the wisest and most collected people he knew. Perhaps Lupin could give his best opinion about this.
"And please stop consuming Dreamless Sleep," Snape advised. "You really wouldn't want to know what would happen if you're addicted to it."
Harry shot a small smile. "Thanks, Professor, for your concern"
"I'm not concerned about you, Potter!" the older man denied.
.-.-.

Wednesday, 30 January 2013

Get Well Soon, Prof Snape (arvisha)

Fiksi Challenge. Link asli ada di sini

----------

Tokoh-tokoh dalam Harry Potter merupakan milik JK Rowling tercinta tentunya. Selain itu, terdapat beberapa orang Mr. Holmes dan dr. Watson saya ambil dari nama belakang tokoh ciptaan Sir Arthur Conan Doyle, sedangkan dr. Jekyll saya ambil dari nama belakang tokoh ciptaan Robert Louis Stevenson. Humaira Chehab adalah nama ciptaan saya sendiri. Ulima dan Mbak Retno Setyaningsih nama rekan saya yang berulang tahun sama dengan Prof. Snape (9 Januari), Ibu Retno Lestari merupakan nama dosen pembimbing skripsi saya yang berulang tahun 3 hari setelah Snape. jadi karya ini juga merupakan tribute untuk mereka. Ulima dan Ibu Retno Lestari memang mempelajari bidang genetika di Biologi UI, walaupun bukan secara langsung mempelajari terapi genetik untuk hemofilia. Mbak Retno Setyaningsih memang mendalami ilmu Psikologi, walau tidak secara langsung mempelajari The 5 stages of Griefing. Demikian penjelasan terkait dengan nama tokoh.


Severus Snape bertahan hidup dari serangan Nagini, namun lukanya sangat parah. Harry dan Hermione terus berupaya menyembuhkannya, walau St. Mungo dan pengobatan sihir sudah tidak sanggup.
"Harry, tampaknya St. Mungo sudah menyerah menyembuhkannya. Kita harus mengeluarkannya dari sini", ujar Hermione.
"Mengeluarkannya? Apa maksudmu? Kau juga mau menyerah dan meninggalkanku ya? Seperti Ron dan Ginny? Ya sudah, tinggalkan saja aku. Pergilah! Biar aku sendiri yang merawatnya", tukas Harry marah.
"Bukan begitu Harry, sabarlah dulu. Aku tak akan meninggalkanmu sendiri menghadapinya. Aku hanya berpikir, sudah saatnya kita mencari cara lain. Sudah 7 tahun dia hanya tergeletak diam seperti itu. Tidakkah kau kasihan padanya?"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Hermione? Madam Pomprey, Prof. Slughorn, dan Prof. Sprout sudah menyerah. Kita tidak mungkin membawanya kembali ke Hogwarts. Lagipula menurut Penyembuh Holmes, dia sudah ada sedikit kemajuan. Dia sudah mampu menunjukkan reaksi jika diajak bicara. Dia, mampu menggerakkan kelopak matanya."
"Ya, dia sudah mampu melakukan itu sejak 3 tahun yang lalu, sebelum Ginny dan Ron meninggalkan kita. Tapi baru sampai situ saja kan kemajuannya. Aku mau kita menggunakan cara muggle Harry. Dari buku-buku muggle yang aku baca, Prof. Snape menderita Hemofilia. Luka dia beda dari Mr. Weasley dulu, padahal samasama digigit Nagini. Pendarahan pada Mr. Weasley dapat disembuhkan, sementara luka Prof. Snape tidak, darahnya tak pernah berhenti keluar. Para healer hanya berusaha memberhentikan pendarahannya dan memberinya ramuan penambah darah."
"Cara muggle? Oh, Hermione, terlalu berisiko…"
"Tenanglah Harry, aku sudah mempelajari semuanya. Seminggu yang lalu aku berkenalan dengan gadis asing yang kukira dia muggle, ternyata dia penyihir. Penyihir dari Asia".
"Penyihir asing? Apa hubungannya dengan pengobatan muggle? Ah, kau membuatku bertambah bingung Hermione."
"Begini Harry, aku bertemu dengan Humaira Chehab, minggu lalu begitu aku keluar dari pintu St. Mungo. Penampilannya yang berkerudung dan berjubah panjang ala Timur Tengah membuatku memperhatikannya. Tiba-tiba ia menegurku dan bertanya apakah aku penyihir. Tentu saja aku kaget ditanya begitu, tahu dari mana dia, Kemudian dia tersenyum dan memperkenalkan diri sebagai penyihir dari Indonesia. Namun di sini ia sedang melanjutkan pendidikan S3-nya di bidang Biopsikologi.", cerita Hermione.
"Penyihir berpenampilan Timur Tengah dari Indonesia yang sedang melanjutkan pendidikan S3 di bidang apa itu tadi? Oh Hermione, ceritamu membuatku sangat pusing. Kita lanjutkan sambil makan siang saja di Cafetaria lantai 5.", ujar Harry.
"Ah, tentu saja, kau belum makan apapun dari tadi pagi Harry, baiklah kita lanjutkan sambil makan siang. Prof. Snape, kami tinggal sebentar ya", ucap Hermione kepada Severus Snape.
"Prof, kami akan segera kembali", ujar Harry mengelus tangannya.
Kelopak mata Snape sedikit berkedut sekali, menandakan bahwa ia mengucapkan "iya". Dua kali untuk kata "tidak". Hanya itu yang bisa dilakukannya sampai saat ini.
Sesampainya di Cafetaria St. Mungo dan setelah memesan makanan, Hermione kembali melanjutkan ceritanya. "Seperti ceritaku tadi, Miss Chehab merupakan penyihir yang juga mempelajari ilmu-ilmu muggle. Ilmu sihir dilarang keras di negaranya, sangat sulit mempraktikan bakatnya di sana. Maka dia mempelajari ilmu-ilmu muggle, kemudian dia mendapatkan kesempatan untuk belajar di London. Dia berusaha mencari tahu dunia sihir di Inggris, terutama dunia pengobatan sihir. Maka ketika dia mendapatkan informasi tentang St. Mungo, dia berusaha untuk masuk, namun ditolak sang manekin. Ia menunggu dan memperhatikan sampai ada orang yang keluar dari manekin itu".
"Lalu?"
"Aku adalah orang yang pertama kali dari manekin itu, dia pun menghampiriku. Setelah memastikan bahwa kami sama-sama penyihir, dia lalu bertanya padaku, tentang sesuatu yang tampaknya sangat aku khawatirkan"
"Dia bisa meramal?"
"Oh, Harry, kan tadi sudah kuberitahu bahwa dia belajar ilmu psikologi. Ilmu yang berusaha mempelajari perilaku, emosi, dan kognisi manusia. Dia melihat ekspresi wajahku yang sangat cemas. Aku pun menceritakan kondisi Prof. Snape".
"Kau menceritakan kondisi Prof. Snape pada orang yang baru kau kenal?"
"Ah, Harry, kau terus menerus memotongku. Aku hanya menjawab pertanyaanya. Lagipula dia sudah tahu. Dia dihubungi Kementrian Sihir untuk membantu menyembuhkan Snape. Menteri Sihir sendiri yang menghubunginya".
"Tapi mengapa manekin St. Mungo menolaknya?"
"Karena dia lupa dia harus menemui siapa. Terlalu banyak yang ia pikirkan, biasanya ia mencatat segala hal pada i-pad-nya, namun karena dia begitu bersemangat mengunjungi St, Mungo, ia pun terlupa membawanya. Sementara menunggu orang yang lewat, ia juga sedang memanggil burung hantunya, untuk mengirimkan surat ke Kementrian Sihir, tapi aku sudah terlebih dulu keluar", jelas Hermione.
"Ok, lanjutkan", ujar Harry.
"Yah dia menjelaskan padaku bahwa ia sudah mengetahui kondisi Prof. Snape, namun dia harus memastikannya dengan melihatnya langusng. Ia menduga bahwa Prof. Snape menderita Hemofilia. Hal itu hanya bisa disembuhkan dengan terapi gen". ujar Hermione.
"Hermione, kalau kau yakin dengan dia, bawa langsung dia melihat Prof. Snape, kita upayakan langsung memindahkannya ke Rumah Sakit di London. Aku mempercayaimu sepenuhnya untuk urusan ini".
"Ah, benarkah Harry? Baiklah, aku akan segera menghubunginya, mungkin besok ia bisa datang melihat langsung keadaan Prof. Snape".
Keesokan harinya Hermione Granger datang bersama seorang gadis berkerudung merah jambu dengan jubah berwarna senada. "Humaira Chehab", katanya memeperkenalkan diri kepada Harry Potter.
"Senang bertemu denganmu Miss Chehab, inilah Prof. Snape yang ingin kau lihat. Kata Hermione, kau bisa menyembuhkannya?, ujar Harry.
"Ah, Mr. Potter, bukan aku yang menyembuhkannya, kita hanya berusaha. Tuhanlah yang menentukan dia nakan sembuh atau tidak. Boleh aku cek kondisi Prof. Snape?", ujar Humaira meminta izin.
"Silakan Miss Chehab", ujar Hermione.
"Just call me Aira, ok?" ujarnya seraya mendekati Snape dan memeriksa kondisi sang Profesor serta peralatan pengobatan di sekitarnya.
Tak lama kemudian, Healer Holmes, yang bertanggung jawab atas pengobatan Severus Snape di St. Mungo bergegas masuk. "Apakah Anda Miss Chehab?" tanyanya.
"Ya, Anda, healer Holmes? Anda sudah menerima surat dari Menteri Sihir rupanya? Maaf mendahului Anda, seharusnya aku terlebih dulu menemui dan meminta izin padamu, tapi keadaannya sudah mendesak", ujar Humaira.
"Tidak apa, aku mengizinkannya. Kendaraannya untuk memindahkannya sudah kusiapkan. Kita pindahkan hari ini kalau The Wellington Hospital sudah siap", kata Holmes.
"Pindah hari ini juga? Tapi.. " potong Harry.
"Tenang Mr. Potter. Wellington Hospital sudah siap, ada beberapa rekanku di sana yang akan menyambutnya. Kita memakai ambulans saja. Dia akan langsung dimasukkan ke ruang ICU. Bisa kah kalian membantuku membawanya ke ambulans?", ujar Humaira.
Mereka pun membawa Snape ke ambulans. "Aku menitipkannya sepenuhnya di tanganmu Miss Chehab, ujar healer Holmes.
Harry dan Hermione menemani Snape di dalam ambulans bersama Humaira.
Sesampainya di Wellington Hospital, sudah banyak orang yang bersiap menyambut mereka. Snape pun segera dibawa ke ruang ICU. Humaira masuk ke dalam bersama orang-orang itu sementara Harry dan Hermione menunggu di ruang tunggu. Tiga jam kemudian Humaira keluar bersama beberapa orang, menemui Harry dan Hermione.
"Mr. Potter dan Miss Granger, perkenalkan, mereka adalah rekan-rekanku yang membantu menyembuhkan Mr. Snape. Ini dr. Jekyll,dan dr. Watson, ahli medis yang langsung menangani sistem transportasi dan koordinasi beliau. Sementara ini Prof. Retno Lestari dan Dr. Ulima yang menangani terapi gen untuk beliau."
Harry dan Hermione menyalami mereka satu persatu, Harry kemudian bertanya tentang kemajuan yang mereka peroleh. Dr. Watson menjelaskan, "Kami berupaya memperbaiki sistem sirkulasi darahnya. Sementara sistem saraf memang agak sulit diperbaiki, karena sel-sel saraf tidak dapat melakukan regenerasi. Namun kami akan terus berupaya untuk menyadarkannya. Selain itu, pendarahannya harus segera dihentikan. Untuk itulah para ahli dari Indonesia ini ada di sini, Silahkan Prof. Retno dan Dr. Ulima menjelaskan tentang terapi gen".
"Mr. Potter, ah, beruntung sekali kita bertemu, kami memang sedang mengupayakan terapi gen untuk mengobati Hemofilia. Apakah anda sudah pernah dengar teknik ini?"
"Maaf, Professor, saya tidak tahu, bahkan sebenarnya saya tidak tahu tentang gen maupun hemofilia", ujar Harry.
"Nanti saja kujelaskan tentang itu Harry. Saya sudah membaca tentang hemofilia dan gen, namun saya belum memahami tentang terapi gen", ujar Hermione.
"Ah tak apa. Miss Granger, sebaiknya saya jelaskan saja langsung semuanya. Gen merupakan bagian dari sel kita yang menentukan segala sifat kita dan bersifat diwariskan antar generasi. Salah satu yang dapat diwariskannya adalah penyakit Hemofilia ini. Penyakit yang berasal dari genetik hampir tidak bisa disembuhkan. Karena artinya seumur hidup penderita membawa gen abnormal itu. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya adalah teknik terapi gen", jelas Prof. Retno.
"Oh, baiklah, aku mulai memahami, lalu terapi gen itu apa?, tanya Harry.
"Terapi gen merupakan teknik mengganti gen yang rusak dengan gen yang masih baik, atau menambahkan gen normal untuk menekan penyakit yang disebabkan oleh gen abnormal itu. Hemofilia disebabkan oleh gen abnormal, yang membuat pembekuan darah sulit dilakukan, sehingga pasien kan terus mengeluarkan darah ketika dia terluka", jelas Dr. Ulima.
"Lalu, kapan dia bisa kembali pulih?", tanya Hermione.
"Pengobatan ini memakan waktu yang agak lama memang, paling cepat sekitar 6 bulan. Kami akan bekerja sama dan berupaya sebaik mungkin untuk kesembuhannya. Tetaplah berdoa untuknya", ujar Prof. Retno.
"Kami harus masuk kembali, Humaira akan menemani kalian, semoga dia bisa membantu menenangkan kalian", ujar dr. Jekyll.
"Mari kita beristirahat dulu, perjalanan tadi dan keadaan di dalam tai membuat kalian semakin . Snape berada pada penanganan terbaik. Percayalah. Aku pun tidak akan memberi tahu siapa dia sebenarnya", ujar Humaira menenangkan.
"Ah, aku sangat percaya padamu Aira, lega rasanya mengetahui dia ada kemungkinan bisa pulih kembali", ujar Hermione.
"Apakah mereka mengetahui bahwa kau juga seorang penyihir Aira?", tanya Harry.
"Haha.. tentu saja tidak, hmm.. mungkin mereka mencurigai beberapa perilaku anehku, tapi selebihnya tidak", jelas Humaira sembari tersenyum.
"Lalu, apa perananmu untuk penyembuhan Prof. Snape?", tanya Harry.
"Harry..", tegur Hermione.
"Ah, tak apa Miss Granger, wajar jika Mr. Potter penasaran", ujar Humaira. "Aku bertanggung jawab atas pemulihan Prof. Snape ketika dia sudah sadar nanti. Aku harus mempelajari denah kerusakan sarafnya. Masing-masing sel saraf di otak memiliki fungsi yang berbeda-beda, terkait juga dengan emosi, pikiran, perilaku, dan sikap individu. Seperti penjelasan dr. Watson tadi, sel saraf yang sudah rusak tidak dapat diperbaiki lagi. Sel saraf yang mati akan menyusut dan meninggalkan semacam lubang di antara sel-sel saraf yang masih hidup. Sehingga terjadi putusnya sambungan antar sel saraf itu, yang berakibat putus pula sambungan sinyal-sinyal pada sel saraf. Hmm.. seperti jika ada suatu kota yang terkena bencana, sehingga mematikan aktivitas pada kota tersebut dan jalur dari kota-kota lainnya yang melewati kota itu. Kalian mengerti?"
"Ok, tapi apa yang akan terjadi jika sel-sel saraf itu tidak bisa diperbaiki lagi?", tanya Hermione tidak sabar.
"Tenang, masih ada teknik yang dapat menyambungkan sel saraf itu, yaitu memperpanjang sinaps antar sel saraf. Semoga cara ini bisa menggantikan fungsi sel-sel saraf yang rusak itu. Tentu ada akibatnya, Kalaupun dia sadar nanti, dia mungkin akan mengalami beberapa gangguan, perlu waktu lagi untuk membantunya menghadapi kehidupannya yang baru. Emosinya akan sangat tidak stabil. Tapi tenanglah, aku sudah menyiapkan psikolog untuk menanganinya, the other Retno. Ayo, aku perkenalkan padanya", ujar Humaira sembari mengajak mereka mengunjungi suatu ruangan.
"Retno yang lain? Dia rekanmu juga? Dari Indonesia juga? Wah banyak sekali orang Indonesia di sini, bahkan aku tak tahu Indonesia itu di mana. Tapi kalian hebat-hebat!", puji Harry.
"Setiap orang dari setiap negara punya kelebihan masing-masing Mr. Potter. Sudah saatnya kita saling membantu sama lain di era globalisasi ini. Bahkan menurutku, para penyihir dan muggle sudah saatnya bekerja sama. Inilah yang aku cita-citakan", ujar Humaira.
"Kau hampir merealisasikannya kalau begitu, panggil aku Harry saja, Aira".
"Yah, panggil aku Hermione saja", tambah Hermione.
"Baiklah, Harry dan Hermione, kita sudah sampai di ruangan Dr. Retno Setyaningsih, M. Psy. Dia adalah ahli psikologi yang menangani orang-orang yang terbangun dari koma yang lama. Biar dia yang akan menjelaskan kemungkinan kondisi Prof. Snape nantinya", ujar Humaira.
"Selamat siang, Dr. Retno, anda sudah menerima pesanku?", tanya Humaira setelah dipersilakan masuk.
"Ah ya, Humaira, tentu saja. Inikah rekan-rekanmu? Maaf aku belum sempat mengunjungi pasien barumu. Tapi, tentunya dia sudah mendapatkan penanganan terbaik", ujar Dr. Retno.
"Ya, dia sudah berada di ruang ICU, semoga dia cepat sadar. Perkenalkan ini keluarganya, Harry Potter dan Hermione Granger", ujar Humaira.
"Senang bertemu kalian, kalau boleh tau hubungan kalian dengan Mr. Snape itu apa?", tanya Dr. Retno.
"Kami murid-muridnya, dia sudah tidak memiliki keluarga dekat, hanya kami yang terdekat dengannya", jelas Hermione.
"Oh baiklah, dia akan memerlukan orang-orang terdekatnya ketika dia sadar nanti. Dia akan mengalami trauma dan ketidakstabilan emosi, mungkin juga depresi yang cukup parah. Namun mereka bisa melewatinya, tugas psikolog dan orang-orang terdekatnya-lah untuk tetap mendampinginya pada kondisi apapun. Untuk menunjukkan dan meyakinkannya, bahwa masih ada orang-orang yang berharap akan kesembuhannya. Dia sangat memerlukan itu", jela Dr. Retno.
"Maksudnya, ada kemungkinan dia akan memilih kematian? Dia akan bunuh diri?", tanya Hermione cemas.
"Ya, ada kemungkinan ke sana, terutama jika individu-individu ini selamat dan terhindari dari kematian, namun orang yang mereka sayangi justru tewas. Mereka akan mengalami depresi, ingin menyusul kekasih mereka", ujar Dr. Retno.
"Oh tidak…, dia pasti ingin menyusul Lily", ujar Hermione.
"Lily? Siapa dia?", tanya Humaira.
"Ibuku, kekasihnya…", jawab Harry.
"Kau putranya?", tanya Humaira.
"Bukan, dia guruku, pelindungku sejak kematian ibu. Makanya aku sangat bertekad menyembuhkannya, untuk berterima kasih", jelas Harry.
"Hmm.. baiklah, Setidaknya ada alasan dia untuk tetap hidup. Kita bisa bersuaha menyembuhkannya, walaupun harus masuk ke Five Stages of Griefing. Kau siap?", tanya Dr. Retno.
"Apa itu?", tanya Hermione.
"Five Stages of Griefing merupakan tahapan-tahapan seseorang yang depresi karena kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintainya untuk kembali ke keadaan semula. Tahapan pertama adalah Denial, mereka akan menolak kenyataan tersebut. Mungkin, Prof. Snape akan meonolak kenyataan bahwa dia kembali sadar dan tidak bisa berjumpa kembali dengan kekasihnya. Tahapan kedua adalah Anger, sebagai efek dari kenyataan yang berbeda dari yang ditolaknya. Mereka akan marah karena kenyataan tidak sesuai dengan yang mereka pikirkan., mereka menyalahkan diri sendiri atas keadaan itu. Tahapan selanjutnya adalah Bargaining, mereka akan berusaha menerima kenyataan dan berhenti menyalahkan diri, namun mungkin menyalahkan orang lain atas peristiwa itu. Lalu masuk ke tahapan Depression, mereka menyadari kehilangan itu semakin dalam, dan larut dalam kesedihan. Setelah itu barulah masuk ke tahapan terakhir, Acceptance, kalau mereka berhasil melewati semua tahapan itu dengan baik, mereka akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa mereka telah kehilangan, namun mereka harus melanjutkan kehidupan mereka. Setelah itu mereka bisa kembali ke kehidupan normal mereka, walau terkadang masih teringat pada rasa kehilangan itu. Tahapan-tahapn itu sangat berat untuk dilewati, kalian siap membantunya?", tanya Dr. Retno setelah panjang lebar menjelaskan tentang The Five Stages of Griefing.
Hermione menatap Harry seraya menggenggam tangannya, "Aku siap Harry, aku akan selalu mendampingimu. Kau juga siap kan?".
"Terima kasih Hermione, Iya, aku siap. Kami siap menghadapi apapun. TErima kasih Dr, Retno, terima kasih Aira".
"Sama-sama, Harry. Hei, aku mendapat pesan dari dr. Watson, kita boleh menemuinya. Mau ikut kami Dr. Retno?", ujar Humaira.
"Baiklah kita ke sana sekarang", ujar Dr. Retno.
Mereka berempet kembali ke ruang ICU, setelah menggunakan pakaian higeinis, men-steril-kan tangan, melepas alas kaki, dan memakai masker, mereka diizinkan masuk ke ruang perawatan. Harry Potter mendekati gurunya di sisi kanan, sementara Hermione Granger di sebelah kirinya.
"Kami akan terus berupaya menyembuhkanmu, Profesor. Bertahanlah..", ujar Harry.
"Get well soon, Profesor", tambah Hermione.

Bayangan (Pohon Cerita)

Link asli ada di sini

-----------

Disclaimer: Semua karakter dalam Harry Potter adalah milik JK Rowling. Bukan untuk kepentingan komersial. Fanfic ini hanya hiburan semata.
Rated: K-T - B.Indonesia - Drama atau Family
Awal cerita oleh: Anne
Partisipan : Ambu, Anne, Aisyah, Rury, Astrin, Winda

Penulis yang melanjutkan, harus melanjutkan dari tanda [ :: nama penulis :: ] yang ditinggalkan penulis sebelumnya.

Spinner's End, 8 Januari 2006

Debu-debu tebal masih menyelimuti perabotan di rumah Severus Snape. Sofa, lemari, meja tulis, semua ditutupi kain putih, kontras dengan kegelapan di sekelilingnya.

Cahaya bulan masuk ke dalam ruangan tidur Snape. Tidak ada tirai menutupi jendela. Hanya debu tebal keperakan yang merayakan terangnya malam. Barisan botol ramuan masih berjejer rapi di kabinet dekat perapian kamar. Hampir semuanya kosong, tidak seperti waktu ia masih bekerja di Hogwarts.

Pemandangan sendu ini sudah bosan ia lihat setiap malam. Kadang ia melihat Mr.Filch datang membersihkan tempat ini, tapi sudah seminggu ini pak tua itu sudah tidak pernah lagi. Mungkin sakit? Entahlah.

Lagipula ia hanya hantu sekarang. Hantu kesepian. Tanpa bayangan.

[ :: Anne :: ]
Sudah 1 windu ia meninggalkan jasadnya di dunia, namun tak pula ia bisa menuju kehidupan selanjutnya. Menumpuk rindu untuk bertemu dengan wanita yang ia yang sangat ingin ia jumpai. Satu-satunya wanita di hatinya baik dalam kehidupan, maupun kematian. Namun, belum juga ia bisa temui, karena ada satu hal yang belum ia tuntaskan.

[ :: Aisyah :: ]

Entah hal apa yang membuatnya tertahan tidak bisa segera bersatu dengan pujaan hatinya, bunga Lilynya. Ia sendiri pun tak tau apa gerangan. Sungguh ia penat menjadi sosok tak berjasad seperti ini.

Ditatapnya pemandangan di luar, sepertinya hari ini, hari kedelapan setelah para muggle itu merayakan tahun baru. Hei, itu berarti besok adalah hari ulang tahunnya. Tapi yang keberapa? Entahlah telah lama ia tak lagi menghitung berapa umurnya. Sejak Lily pergi meninggalkannya, ia sudah tak peduli lagi akan hal-hal remeh seperti itu. Apa lagi kini saat ia hanyalah sesosok tanpa bayangan yang kesepian.

[ :: Rury :: ]

Snape termenung dalam kegelapan , seluruh pikirannya sekarang terpusat pada lily sang pujaan hatinya , ia selalu berharap bahwa kematiannya akan bisa membawannya pada Lily, namun Sekarang apa ? Hanya dia yang terperangkap kejamnya kehidupan sihir . Snape tak ingin berlama-lama terperangkap oleh pikiran itu,Ia mulai bangkit dan dari pikiran itu dan memutuskan untuk memulai menjalankan misinya .

[ :: Winda ::]

9 Januari 2006

(di lokasi lain) Seorang pria muda bergegas memasuki lift telepon umum. Lift itu akhirnya membawanya ke atas. Untunglah tidak ada Muggle terlihat. Harry tidak pernah merasakan kalang kabut seperti ini. Pikirannya pun kalut dan sulit berkonsentrasi. Ron barusan mengirimkan perkamen, "Harry, aku dan Hermione mengantar Ginny ke St.Mungo. It's time. Mom menjaga anak-anak. Nyusul ya."

Ginny mau melahirkan! Harry bahagia tapi juga khawatir. Mudah-mudahan ia masih bisa tiba di rumah sakit tepat waktu.

--

Sudah lama ia tidak meninggalkan Spinner's End sejak kematiannya. Ia seolah terkurung di rumah itu, padahal sebenarnya ia bisa bebas bepergian. Setiap keluar dari Spinner's End membuatnya selalu takut kehilangan rumah itu dan tak bisa kembali. Karena ia tahu banyak hantu lain yang datang ke rumahnya mencari kesempatan untuk menempati rumah peninggalan orangtuanya ini.

Pagi ini ia merasa berbeda. Ini hari ulang tahunnya. Ia merasakan rindu yang amat sangat. Rindu pada Lily, rindu kehangatan keluarga. Tiba-tiba ia teringat, meski ia tidak pernah bisa lagi bertemu Lily (setidaknya belum), mungkin salah satu cara bisa dekat dengan Lily adalah mengunjungi rumah Harry Potter.

[ :: Anne ::]

Dalam sekejap ia sudah berada di depan salah satu rumah di Godric Hollow. Rumah yang dari dulu selalu ia hindari, rumah yang selalu membawa trauma, kenangan buruk.

...sepi.

Apakah keluarga Potter tinggal di sini? Apakah mereka tidak tinggal di Grimmauld Place, peninggalan keluarga Black?

Tapi ia bisa merasakan, ada jejak rasa, ada jejak tindakan sihir yang melingkupi. Keluarga Potter belum lama meninggalkan rumah ini. Mungkin dalam hitungan beberapa puluh menit.

Melayang ia memasuki rumah, melewati tembok depan. Semakin terasa jejak rasa keluarga Potter: Potter muda, gadis Weasley, dan ada jejak rasa anak kecil.

Ia berhenti di depan perapian.

Ada jejak rasa beberapa orang lain, sepertinya salah satu Weasley bersama nona Granger. Ah, tentu saja, saat ini sudah tak ada gadis Weasley atau nona Granger. Semua sudah berstatus nyonya.

Dan sepertinya--dari jejak rasa yang mereka tinggalkan, mereka pergi dalam ketergesaan!

Sepotong perkamen nampaknya terjatuh di depan perapian. Sepertinya kartu nama.



Magi-mid-wife Helen Whiteheart - St Mungo.

Bidan?

[ :: ambu :: ]

St.Mungo.

Ron dan Hermione menyambut Harry setibanya di rumah sakit. Ditemani sahabat-sahabatnya di saat genting, membuatnya merasa beruntung. Ginny sudah dipindahkan ke ruangan lain. Tangis bayi terdengar dari ruang operasi. Jantung Harry berdegup kencang.

Seorang magi-mid-wife (bidan) tampak mendekat. "Mr.Potter, istri Anda sudah menunggu, silakan ikuti saya."

Harry lega. Ternyata tadi suara bayi penyihir lainnya. Ia bergegas menuju ruang persiapan operasi. Helen Whiteheart menjelaskan proses operasi dengan cepat. Wanita keturunan Goblin ini terlihat gesit, dan cekatan. Tak lupa ia mengingatkan Harry untuk memakai jubah steril dan mencuci tangan. Ginny sudah menunggunya. Ada beberapa asisten bidan lain membantu Mrs.Whiteheart terihat sibuk mempersiapkan kelahiran bayinya.

"Harry!! (mengatur napas) James ada di The Burrow. (mengatur napas). Kau sudah makan?! (mengatur napas) . Bayi ini sepertinya sudah tidak sabar! (mengatur napas)." Ginny terlihat bersemangat. Dan cantik. Harry mengecup keningnya.

"Sabar cantik. Semua baik-baik saja. Ayo atur napasmu lagi. Kita sambut anak ini bersama-sama. "

[ :: Anne :: ]

------

Sementara itu di Godric Hollow, Severus Snape mencoba mengartikan kartu nama yang ia temukan barusan. Siapa yang melahirkan?

Severus melayang lagi, pergi menuju suatu tempat. Satu rumah lagi untuk memastikan tentang kecurigaannya. Ia melayang menuju The Burrow.

Severus masuk menembus tembok, ia melihat Molly Weasley sedang bermain bersama dua anak kecil di dekat perapian. Tanpa pikir panjang, Severus menghampirinya.

"Molly, katakan siapa yang melahirkan?"



Molly Weasley sejenak bergidik, sehembus angin dingin melewati tengkuknya. Ia merasa seperti dipanggil seseorang. Tetapi hanya ada dia dan cucu-cucunya kan dirumah ini?

Molly mengecek perapian, mungkin Arthur baru saja datang. Tetapi perapian kosong, tak ada jejak api hijau yang tersisa.

"Tetap di sini, anak-anak. Grandma akan ke sana sebentar."

Molly beranjak untuk melihat ke depan rumah, mungkin saja ada seseorang yang memanggilnya dari luar.Halaman rumah pun kosong. Tak ada siapa-siapa. Molly merinding memikirkan kemungkinan yang terjadi. Ia cepat-cepat kembali bersama cucu-cucunya. Semoga Ginny baik-baik saja, harap Molly dalam hati.

Merasa tidak dapat jawaban, hantu Severus Snape mencoba mencari keberadaan Potter lain di lantai dua. Tak ada siapa-siapa. Benar-benar hanya Molly dan anak-anak itu saja di rumah ini.

Severus Snape kembali mengingat nama yang tertera pada kartu nama yang tadi ditemukannya di Godric Hollow. Ia berpikir untuk mencari matron itu di St. Mungo. Ia melewati Molly dan anak-anak itu, melayang menuju rumah sakit. Sayup-sayup, ia mendengar kedua anak kecil itu menangis histeris.

[ :: astrin :: ]

(tarik napas) (buang) (tarik napas) (buang)

“Sedikit lagi, nyonya! Sekarang sudah bukaan 9. Janganmengedan saat belum mulas. Ingat, buang napas lewat mulut, pelan-pelan. Sekalilagi—“

(tarik napas) (buang)

“Bukaan 10—“

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Bersamaan dengan jeritan tertahan Ginny, pecah pula tangisan bocah mungil yang baru saja meluncur keluar dari rahim yang gelap ke dunia yangtera ng benderang.

Bidan sudah bersiap menerima bayi itu, kemudian menelungkupkannya di atas tubuh Ginny.

“Ti-tidak dibersihkan dulu, Madam?”

Bidan Helen menggeleng. Dia bertindak cepat, mengambil gunting tajam steril, menggunting tali ari-ari.

“Sekarang plasenta-nya, nyonya—“

Tepat saat Ginny merasa mulas lagi. Tapi kali ini tidak sehebat mulas yang tadi. Sekali mengedan juga, keluar semua plasentanya.

Syukurlah,” bidan Helen menerima luncuran plasenta, dan menyimpannya dalam baskom alumunium.

Sementara itu, bayi yang ditelungkupkan di atas badan Ginny, refleks maju merangkak mencari sesuatu. Mulutnya mengecap-ngecap. Dengan mata yang masih setengah tertutup, merangkak refleks, akhirnya bibir mungilnya berhasil meraih yang ia inginkan. Otomatis gerakan menyedot dilakukan.

“Ia—ia menyusu!” sahut Harry kagum.

“Harry, dulu James juga kan begini—“ sahut Ginny, sambil masih terengah.

Bidan Helen tersenyum. “Itu Inisiasi Menyusu Dini. Gerakannya refleks kan?”

Ginny mengangguk.

Bidan Helen membersihkan bekas-bekas melahirkan di tubuh Ginny dengan cepat, dan dalam satu gerakan juga membersihkan tubuh mungil bayi yang masih tetap menyusu, sekaligus membungkusnya dengan kain flanel. Bayi mungil itu menyelesaikan menyusunya yang pertama, dan tertidur di pelukan tangan kiri Ginny. Tapi tidak, ia terbangun sesaat, membuka matanya yang kecil, dan--

“Ginny—“ bisik Harry perlahan, “—matanya—“

Ginny mengangguk pelan. “Matanya persis Lily—“

Di sudut kamar bersalin, sesosok gelap yang baru saja masuk, menyusup lewat tembok, tertegun mendengar bisikan Ginny.

[ :: ambu :: ]

Snape tertegun. Ingatannya kembali ke masa lalu, ketika ia dan Lily remaja sedang rebahan di rumput, melihat awan-awan saling berkejaran di siang hari yang cerah.

"Sev, lihat awan itu, bentuknya seperti rusa kecil! Dan itu! Itu! Yang di kanan itu mirip bayi!" Lily menunjuk ke atas langit. Snape mengikuti arah telunjuk Lily yang mungil, masih terdiam.

"Hmm..kalau aku nanti punya anak, mirip siapa ya Sev, kira-kira?"

Snape menjawab, Mirip Lily pastinya. Tapi tentu saja itu hanya jawaban di dalam hati. Lagipula, siapa dia, ikut jawab pertanyaan seperti itu? Mereka tidak pacaran. Setidaknya, meski sudah sering jalan bareng, Lily tidak pernah bilang suka padanya.

"Kayaknya aku ngomong ama patung ya. Sev, jawab dong."

Snape mendengus kecil. Selalu seperti ini. Lily melempar pertanyaan yang membuat ia salah tingkah. Jawab salah, tidak dijawab salah. Membayangkan bisa pacaran dengan Lily aja sudah hampir tidak mungkin, apalagi berkhayal tentang anak Lily?

Tiba-tiba ia mendengar suara bayi. Pusaran kenangan tadi terhenti.

Suara cucu Lily. Dan kalau saja semua terjadi pada waktu dan kejadian berbeda, bisa saja itu cucunya juga. Snape menghela napas dengan sedih, lalu mendekat melihat bayi mungil yang kini sedang didekap oleh Harry.

[:: Anne ::]

Severus Snape melayang mendekati Harry yang sedang menggendong seorang bayi. Ia berusaha melihat wajah bayi mungil itu dari balik punggung Harry.

Tampan. Dan memiliki mata Lily.

Severus terus menatap bayi laki-laki itu. Ada perasaan haru di hatinya saat memperhatikan wajah lugu bayi itu. Bagi Severus, bayi itu mirip Lily, tetapi juga sekaligus mirip Harry.

"Kau akan seperti ayahmu, nak. Kau akan menjadi orang besar seperti ayahmu, Harry Potter." Ucap Severus.

"Profesor Snape?" Harry terkejut mendengar namanya dipanggil dengan lembut oleh seseorang. Ia membalikkan tubuhnya dan mencari asal suara. Tetapi nihil, tak ada sosok yang ia bayangkan. Ia yakin ia mengenali suara itu. Tidak mungkin ia salah.

Severus melayang mundur menjauhi Harry Potter. Ia takut kalau-kalau Harry mengetahui bahwa ia di sini untuk mencarinya.

Ginny yang melihat suaminya kebingungan, bertanya, "Ada apa, Harry?"

"Aku mendengar suara Profesor Snape barusan. Aku yakin ia memanggil namaku."

Potter kecil dalam dekapan Harry menangis, terusik oleh gerakan tiba-tiba ayahnya. Harry akhirnya memberikan putra kecilnya kepada healer. Ia menghampiri Ginny dengan masih setengah berharap dapat menemukan sosok Profesor Snape.

"Sudahlah sayang, kau hanya terlalu memikirkannya. Berhentilah untuk terus merasa bersalah padanya. Kau sudah berbuat banyak untuknya, Harry."

"Yah, mungkin kau benar, sayang. Aku hanya terlalu memikirkannya."

[ :: astrin :: ]

"Harry.. bukankah ini tanggal 9 Januari? Hari ulang tahunnya! Mungkin karena itu, tiba-tiba kau memikirkannya", ujar Ginny.

"Ah, tentu saja! Ini hari ulang tahunnya yang ke-46. Putra kedua kita lahir pada hari yang sama dengannya...", ucap Harry tertahan.

"Dan matanya, seperti mata Lily, wanita yang selalu di hatinya", sambung Ginny.

"Severus", mereka berseru bersama, memikirkan hal yang sama.

"Tapi, kita sudah sepakat akan memberinya nama Albus, sayang", ujar Harry ragu.

"Tambahkan Severus kalau begitu. Albus Severus Potter", lanjut Ginny.

Bayi dalam gendongan Ginny membuka matanya kembali seakan merasa dipanggil, kemudian menatap ke arah Severus Snape, seakan bisa melihatnya, lalu tersenyum. Severus Snape tertegun, Mata hijau kembali bertemu dengan mata hitam. Kemudian dua Severus saling tersenyum, hangat rasanya.

"Wow, ia tersenyum, tampaknya setuju, Harry", kata Ginny.

Harry berbisik lembut pada putranya, "Selamat datang, Albus Severus Potter. Namamu sama seperti kedua idolaku, para pelindungku. Salah satunya adalah pria yang paling berani yang pernah kutemui. Semoga kau sehebat mereka".

[:: Aisyah ::]

Ingin rasanya Snape menangis, tapi ternyata menangis sudah tidak bisa dilakukannya lagi sekarang.

Tak lama, Ginny dipindahkan ke ruang perawatan. Harry, Ron dan Hermione ada di kamar itu. Hermione membantu Ginny supaya bisa nyaman tiduran, sementara Harry dan Ron berbincang pelan.

Sebelum sempat mundur ke belakang, Harry berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan dari menara St.Mungo. Masih tetap aneh rasanya membiarkan seseorang melewati tubuhnya tanpa terasa apa-apa. Seperti ini rasanya menjadi hantu, pikir Snape.

Harry berdiri menghadap jendela.

"Andai Lily ada di sini, Harry," ucapnya pada Harry. Ia berharap Harry bisa mendengarnya.

Harry terkesiap saat melihat pantulan bayangan. Ia yakin betul sempat melihat sosok Snape sekilas, tapi lalu sadar itu bayangan Ron yang malam itu memakai kemeja biru tua. Ia menutup tirai jendela, dan ngga tahu kenapa, ia berbisik, "Ya, wish she was here too."

[:: Anne ::]

Melihat gelagat Harry, Snape berusaha kembali memanggilnya dengann suara yang lebih keras, "Harry!!!"

Snape pun, berkonsentrasi, berusaha mengeluarkan semua energinya, agar ia dapat menampakkan diri. Ah, rasanya sungguh panas, dan ia hampir terjatuh ketika akhirnya Harry tampak menyadari kehadirannya, "Profesor Snape?"

"Ha.. Harry, kau bisa mendengarku? Kau bisa melihatku?", tanya Snape.

"Ya, aku bisa. Ini benar-benar Anda, Profesor? Tapi mengapa? Bukankah seharusnya Anda jalan terus"

"Aku tidak bisa melanjutkan perjalananku, Harry. Jiwaku tertinggal di bumi selama delapan tahun ini. Bahkan untuk menjadi hantu pun aku sulit. Baru kali ini aku benar-benar bisa menampakkan diriku".

"Oh, maaf Profesor. Aku tidak tahu.. Aku.. aku menyesal Profesor, aku tidak tahu apa pun tentang Anda, kebaikan Anda, usaha Anda melindungiku, dan cinta Anda pada ibuku...", Harry tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya, ia terisak.

[:: Aisyah ::]

Snape terdiam. Ia baru sadar hanya Harry yang bisa melihatnya. Ron dan Hermione melihat ke arah Harry dengan heran. Ginny tampak terlalu lelah untuk menyadari peristiwa ini, sepertinya ia sudah tertidur.

"Ada apa? Ada apa Harry? Kau bicara dengan siapa?" Hermione mendekati Harry dengan khawatir.

Harry buru-buru menghapus airmatanya. "Hermione, Ron, kapan-kapan aku jelaskan. Bisakah kau jaga Ginny dulu? Sepertinya Snape barusan.." Harry kesulitan mencari kata yang tepat.. ".. menghubungiku."

"Snape? Di sini? Sekarang? " Ron pucat pasi. Hermione menyikutnya dengan halus.

"Take your time, Harry. Tapi, kau akan pergi ke mana?"

"Aku tidak akan kemana-mana." Harry melihat ke arah Snape yang terlihat lelah. "Tapi mungkin aku perlu waktu di kamar ini sendiri. Maksudku, sementara Ginny tertidur, aku harus bicara dengan Snape."

"Baiklah. Kami..ada di luar kamar, Harry. " Hermione bergegas menggandeng Ron yang terlihat masih bingung dan penasaran.

Snape bersyukur, kini ada waktu untuk bicara langsung pada Harry. "Terima kasih Harry. Saya juga ingin minta maaf atas perlakuanku padamu dulu. Kini aku sadar, itu hanya merugikanku sendiri, dan Lily pasti sedih..dan aku pasti mengecewakannya, karena aku dulu tidak mau berteman denganmu."

Harry hanya bisa melihat Snape dengan mata berkaca-kaca.

Snape merasa energinya mulai melemah.

"Harry, aku harus pergi. Aku tidak tahu apa bisa bertemu denganmu lagi. Kuharap hidupmu bahagia,.. salam untuk Ginny, dan bayi Albus..Terima kasih sudah mengingatku dengan menamakan anakmu dengan namaku."

"Professor.." Harry tercekat. Bayangan Snape lama-lama memudar. Menghilang. Harry merasa begitu sedih, tapi juga sangat lega. Seolah beban pikiran yang terberat terangkat karena ia dan Snape sudah saling memaafkan.

9 January 2013

"Hati-hati James, jangan kau dorong adikmu!" seru Ginny. Lilly Luna digendong di atas kepala Harry.

"Kemana kita Papa?" Lilly kecil bertanya.

Harry dan Ginny berpandangan dan tersenyum.

"Mari kita pulang." kata Harry. James dan Albus berlarian di belakang mereka. Keluarga Harry beranjak pulang.

Di belakang mereka ada nisan batu pualam besar. Tertulis di sana,

RIP. Severus Snape. 9 Januari 1960- 1 Mei 1998. A friend, a hero, a potion master.

Sekumpulan bunga Stargazer Lily tumbuh subur di dekatnya. Ginny dan Harry selalu datang untuk merawat tumbuhan itu, agar selalu menemani Snape selamanya.

-- Fin/ End ---

You are My Inspiration (arvisha)

Link asli ada di sini

----------

Para tokoh di bawah ini bukan milik saya. Milik JK Rowling tercinta tentunya.


Lily Evans berkencan dengan Severus Snape di Hogsmeade?

Lily Evans membenarkan lilitan syalnya, sepasang mata hijaunya tak henti menatap keluar jendela Hog's Head yang berdebu tebal. Gelas kedua berisi Butterbeer sudah hampir kosong lagi. Sudah 3 jam ia menanti kedatangan seseorang di bar yang kumuh ini. Beberapa orang yang berpenampilan aneh berulang kali melirik ke arahnya. Tempat ini bukan tempat terlarang untuk siswa Hogwarts, tapi memang jarang dikunjungi para siswa itu. Masih banyak bar yang lebih layak untuk dikunjungi, seperti Three Broomsticks atau Madam Puddifoot's, namun orang yang dinantinya itu tidak mau ke sana. Dia tidak mau pertemuan ini diketahui banyak orang. Maka dipilihlah bar kumuh yang sangat jarang dikunjungi siswa Hogwarts ini.
Lily sudah hampir kehilangan kesabarannya. Tidak biasanya Severus telat, apalagi sampai 3 jam! Lily sudah berdiri dari kursinya, ketika dari jauh tampak seorang remaja laki-laki berjubah hitam menghampiri bar tersebut. Laki-laki itu berjalan dengan cepat dan sering menoleh ke belakang, tampak khawatir ada yang mengikuti. Tak lama kemudian laki-laki itu masuk ke Hog's Head dan langsung menemukan Lily yang sudah tampak sangat kecewa.
"Maafkan aku Lils.. aku dikerjai James dan teman-temannya… aku berusaha menghindar dan menunggu sampai mereka masuk kembali ke aula Gryffindor..", kata Severus Snape sembari mengatur napasnya.
"Huuuh.. gara-gara mereka lagi! Aku hampir saja pergi, jika tidak melihamu bergegas kemari. Bayangkan Sev, aku sudah menunggu selama 3 jam! Sudah menghabiskan 2 gelas Butterbeer. Butterbeer milikmu yang sudah kupesan pun sekarang sudah dingin. Selain itu, tempat ini menyeramkan, penuh orang asing berpakaian aneh. Pria bertudung itu tak hentinya menatapku! Kalau bukan demi kau, aku tak mau ke sini!", omel Lily.
"Lily, maaf.. aku benar-benar minta maaf. Aku sudah berupaya sembunyi dari mereka, entah mengapa mereka selalu menemukanku. Aku dikerjai sampai akhirnya mereka lelah sendiri. Mereka curiga aku akan menemuimu di luar sekolah, Mereka sangat marah karena kau tak ada di sekolah maupun di Hogsmeade. Yah, karena mereka mengira aku akan menemuimu, mereka mengikutiku terus menerus dan mengerjaiku, Aku baru saja membersihkan bom kotoran terakhir yang mereka lemparkan", jelas Snape.
"Ok, kali ini kau kumaafkan. Alasanmu dapat kuterima. Yah mereka memang memiliki sesuatu yang dapat menemukanmu", ujar Lily seraya duduk kembali.
"Apa? Mereka memiliki sesuatu yang terus menerus bisa menemukanku? Semacam alat pencari jejak? Benda buatan muggle yang berupa lempengan besi yang ditempelkan ke tubuh itu?" ujar Snape panik dan mencari-cari sesuatu yang menempel di tubuhnya.
"Hahaha.. tak usah panik begitu Sev, duduklah dulu, pesan lagi Butterbeer-mu, nanti kujelaskan"
Severus Snape menatap sebal Lily yang masih menertawainya, tapi kemudian dia tersenyum. Lily tertawa, artinya marahnya sudah hilang dan tak ada lagi yang perlu dicemaskan. "Aku habiskan yang ini dulu, pesananmu", ujarnya.
"Tapi kan itu sudah dingin..", tukas Lily.
"Never mind, lagi pula di sini jauh lebih hangat dari pada di luar", ujar Snape malu-malu. "Jelaskan padaku tentang alat penyadap itu", sambungnya.
"Aah.. kita kan ke sini bukan mau membahas James dan gerombolannya", ujar Lily. "Ok, ok, aku jelaskan, jangan menatapku seperti itu Sev..", sambuung Lily begitu menatap mata hitam Snape yang mulai menghujam.
"Mereka memiliki semacam peta yang dapat mendeteksi siapapun orang yang mereka cari. Nama orang yang mereka cari terpampang di peta itu, lengkap dengan lokasinya", jelas Lily.
"PETA? Ah pantas.. mereka selalu menemukanku. Jadi mereka tau kalau aku ada di sini?" tanya Severus Snape kembali panik.
"Hmm.. sepertinya tidak, peta itu hanya berlaku ketika kita berada di Hogwarts. Aku sudah mengeceknya".
"Bagaimana kau tahu?
"Ah tentu saja aku tahu. Aku kan juga korban penguntitan mereka. Ke manapun aku pergi mereka tahu. Awalnya aku pikir mereka mencoba menghafalkan jadwalku. Jadi aku coba mengubahnya, ternyata mereka pun tahu. Sampai akhirnya aku menemukan Pettigrew sendirian di lantai tujuh, di seberang permadani hias Barnabas The Barmy."
"Sedang apa kau di sana?" potong Snape.
"Ah, aku hanya kebetulan lewat saja, tak sengaja menemukan Pettigrew sendirian dan tampak ketakutan. Aku pun mendekatinya, dia tambah ketakutan. Saking takutnya, dia berlari menjauhiku dan menjatuhkan perkamen yang dipegangnya. Aku melihat peta Hogwarts dan menemukan namaku tepat pada lokasi itu".
"Hmm.. begitu caranya, lalu kau apakan perkamen itu?"
"Aku letakkan kembali dan kupanggil dia untuk memberitahunya bahwa perkamennya terjatuh. Sepertinya dia tidak tahu bahwa aku sudah melihat perkamennya itu. Aku pun mencoba membuktikan cara kerja peta itu. Aku pergi ke tempat-tempat tertentu untuk memancing James mencariku, dan ternyata benar.. dia selalu berhasil menemukanku. Tapi kalau di luar Hogwarts, dia tidak bisa menemukanku. Makanya, aku berangkat paling pertama ke Hogsmeade, sebelum mereka turun ke aula besar, jadi mereka tak bisa menemukanku".
"Ah, jadi kau sudah sangat lama berada di sini, aku benar-benar merasa bersalah".
"Ya, aku sudah lama sendirian di sini, sendirian lagi, Huu… untungnya kau datang juga, kalau tidak aku akan masuk menerobos ke asramamu sampai menemukanmu kemudian melemparimu sekantong bom kotoran", ujar Lily.
"Percayakah, jika itu kau lakukan, aku takkan membersihkannya, akan kusimpan sebagai kenangan", ujar Snape menggoda.
"Haha... kau jorok", ujar Lily tertawa geli
"Itu kan karena perbuatanmu, jadi kau yang membuatku jorok", Snape menimpali.
"Ok, ok, kita bicarakan hal lain ya".
"Hmm.. kita harus menghentikan mereka Lils, tak enak rasanya terus menerus diikuti seperti ini".
"Menghentikannya? Bagaimana caranya? Aku tak mau ah kalau berbuat curang, sama saja seperti mereka dong. Sudahlah, jangan terlalu dicemaskan. Kita kan ke sini untuk membicarakan hal lain. Aku butuh bantuanmu untuk tugas Telaah Muggle-ku, Sev".
"Aku? Telaah Muggle? Aku kan tidak pernah mengambil pelajaran itu. Aku tidak tahu apa-apa tentang pelajaran itu. Lagipula kau kan sudah mengetahui banyak tentang muggle, untuk apa kau mengambilnya?"
"Kau kan banyak membaca Sev. Kau sering ke perpustakaan muggle. Wawasanmu tentang muggle cukup luas. Ayolah..".
"Hupft.. baiklah, apa yang bisa kubantu?"
"Huaaa… kau baik sekali Sev..", ujar Lily mencium pipi Snape.
"Upz.. wajahmu jadi merah, yah setidaknya jadi tidak terlalu pucat ya Sev", goda Lily.
"Sudahlah Lils, jangan menggodaku terus, aku batalkan nih niat membantumu", ancam Snape dengan muka masih memerah.
"Hahaha.. kau ini… Ok, ok, kita serius nih. Aku mau kau membagi wawasanmu mengenai sejarah berdirinya kerajaan Inggris Raya. Kau kan selain ahli ramuan, juga ahli sejarah", puji Lily.
"Sejarah berdirinya Inggris Raya? Ah, kau kan juga sudah tahu Lils, kau belajar tentang itu di sekolahmu yang dulu kan? Guru Telaah Muggle-mu tidak menjelaskan? Di buku-buku sejarah sihir, hal itu juga sedikit disinggung, aku pernah mendengar penjelasan Prof. Binss di kelas mengenai Merlin dan King Arthur.."
"Aku lebih suka mendengar penjelasanmu, Sev.. " potong Lily.
"Hmm.. Baiklah, mana perkamen dan penamu?"
"Upz, aku lupa membawanya, sorry.."
"Lily, kau mau belajar, tapi kau tak membawa apapun untuk menulis?", tegur Snape.
"Oh, jangan marah lagi Sev, tunggu sebentar ya, aku keluar untuk membeli.."
"Tidak usah, tetaplah duduk. Accio perkamen dan pena!" seru Snape.
"Accio?" Mantra panggil? Kau sudah menguasainya? Itu kan baru dipelajari tahun depan.. Ah, kau memang hebat Sev, tak salah aku memilihmu", rayu Lily.
"Sudahlah Lils, kau juga pintar, walau kadang ceroboh. Ok, kau mau mulai dari mana?".
"Huuh… memujiku kemudian menjatuhkanku. Dari awal tentunya. Aku bingung dengan berbagai macam versi yang aku dapatkan, bingung juga dengan daerah-daerah kekuasaan, berbagai dinasti, perang, perluasan daerah, perpecahan, serta semua raja dan ratunya".
"Lily, itu kan sejak abad ke-5 M, akan memerlukan waktu berhari-hari untuk menjelaskannya".
"Ah, aku betah mendengar penjelasanmu, Sev. Cepatlah dimulai,"
"Ok, perhatikan ya, agar lebih mudah aku akan menunjukkanmu perbandingan daerah kekuasaan dulu, Ini gambar Inggris raya yang sekarang", ujar Severus Snape seraya menggambar peta Inggris.
"Ah, dengan cara ini lebih mudah dimengerti Sev. Kau menginspirasiku untuk mengerjakan tugas lebih baik. Sejarah itu tidak harus menyangkut tanggal dan nama-nama yang memusingkan saja. Ada cara lain agar lebih menarik dan mudah diingat! Dengan gambar-gambar. Thanks Sev".
Mereka berbincang sampai pelayan bar mengusir mereka pulang, "Kalian murid Hogwarts kan? Cepat pulang sebelum aku mengabarkan pada kepala sekolah, bahwa ada 2 murid bandel yang belum pulang sampai begitu larut!", hardiknya.
"Oops.. jam berapa ini? Jam 10 malam Sev, Gerbang sudah dikunci ya, haduh, bagaimana kita masuk?"
"Kirim kabar saja Aberforth, kurasa kakakmu memang perlu mengetahui bahwa ia kehilangan 2 muridnya. Toh, kami juga sudah tidak bisa masuk kan. Gerbang sudah dikunci", ujar Severus.
"Aberforth? Dia…" Lily kebingungan.
"Lily, perkenalkan, ini adalah Aberforth Dumbledore, adik kepala sekolah kita. Sebaiknya kita langsung menghadap kepala sekolah saja, kita memang sudah melanggar peraturan, sudah seharusnya diberi detensi.
"Huuuh.. Severus Snape. Diam-diam, kau selalu mengetahui hal-hal yang orang tidak tahu. Baiklah, kali ini aku tidak mengadu. Asal kalian berjanji tidak membocorkan rahasiaku pada siswa lainnya. Akan kuhubungi Hagrid agar dia membukakan pintu untuk kalian, namun, tetap siap menerima hukuman jika kalian bertemu salah seorang guru. Jaga Evans baik-baik Snape", ujar Aberforth.
"Terima kasih Abe, tentu saja akan kujaga Lily, selalu!", kata Severus.
"Thanks Mr. Dumbledore", ujar Lily.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan sampai depan gerbang Hogwarts, dan Hagrid sudah menanti mereka di gerbang, "Lily! Severus! Ke mana saja kalian sampai larut malam begini? Ah, untung saja ada yang memberikanku kabar. Kalian tidak ke…"
"Ssstt.. Hagrid, jangan beritahu siapa-siapa ya, please… aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku dan Sev ya membuatmu susah..", potong Lily.
"Ah baiklah, cepatlah kalian masuk, sudah sangat dingin di sini".
"Thanks Hagrid", ujar Lily manja.
"Terima kasih", ujar Severus dengan kaku.
Lily dan Severus pun berjalan memasuki halaman kastil dengan bergegas, udara bertambah dingin. Severus mengantar Lily sampai di depan lukisan Fat Lady. "Sampai jumpa Lils".
"Sampai jumpa, Sev. Terima kasih untuk hari ini. Kau memberitahuku banyak hal, kau memang inspirasiku", ujar Lily.
Severus Snape tersenyum, "Kaulah yang merupakan inspirasiku Lily. Aku banyak membaca dan belajar untuk dirimu. Agar bisa berbincang banyak denganmu. Agar selalu bisa membantumu, Selalu", ucapnya dalam hati.

Surat Lily untuk Severus Snape (arvisha)

Link asli ada di sini

----------

Para tokoh di bawah ini bukan milik saya. Milik JK Rowling tercinta tentunya.

Severus Snape mendapatkan surat terakhir Lily.

January, 9th 1990

Dear Severus…
Aah.. aku tak tahu harus mulai dari mana.. Aku bahkan tak tahu.. tak dapat memastikan bahwa surat ini jatuh ke tanganmu. Namun, aku harus menulisnya. Ya! HARUS! Hanya sekedar untuk menumpahkan seluruh isi hatiku. Seluruh rasa yang kupendam bertahun-tahun, tanpa seorangpun tahu. Aku pandai berahasia ya Sev.. Tentu saja, kan aku belajar darimu.
Kau penuh rahasia. Orang yang paling misterius yang pernah kutemui. Tak pernah berbagi kisah, selain denganku. Itu pengakuanmu dulu. Hanya padaku kau mau berbagi. Tapi tidak semua hal Sev. Masih banyak hal darimu yang tidak ku ketahui, dan sebenarnya aku penasaran. Kau membuatku sangat penasaran! Eits, tunggu dulu. Aku juga menyimpan rahasia besar untukmu. Berarti kita imbang ya?
Aku ingin mengatakan langsung padamu Sev. Ingin kuucap kata-kata ini di depanmu, melihat reaksimu. Apakah kau memiliki perasaan yang sama, kemudian mencium bibirku? Atau kemudian kau meninggalkanku, seperti yang kutakutkan. Yah, aku takut kau akan meninggalkanku Sev. Aku tidak mau sakit hati karena kau tidak membalas cintaku. Itulah yang membuatku menyimpan rahasia ini rapat-rapat seorang diri.
Eh, aku tadi sudah bilang ya? Bahwa aku mencintaimu? YA, SEVERUS SNAPE, AKU, LILY EVANS, SANGAT MENCINTAIMU!
Terkejutkah kau Sev? Kalaupun terkejut, semuanya sudah terlambat. Tak ada yang bisa kita lakukan. Walaupun ternyata kau juga mencintaiku. Maafkan aku Sev, Maafkan aku…
Aku yang bersalah Sev. Aku yang mengingkari janji kita. Kita dulu pernah berjanjikan untuk selalu bersama? Dan akulah yang mengingkarinya. Aku yang meninggalkanmu.
Aku yang dengan angkuh tidak mau memaafkanmu, saat kau mengeluarkan kata penghinaan itu. Seharusnya aku memaafkanmu. Memaklumi bahwa kau tidak sengaja, bahwa kau terlalu angkuh dan egois dibela seorang wanita. Apalagi wanita itu mudblood sepertiku.
Aku yang bersalah Sev, ah kau pasti tidak akan memaafkanku, walaupun kau mungkin mencintaiku. Aku yang berkhianat. Aku menikah dengan orang lain. Bahkan orang yang kunikahi adalah musuh besarmu. Orang yang selalu menghina dan menjahilimu. Severus… Wanita macam apa aku ini, aku tak pantas dimaafkan!
Aku memang sangat bersalah padamu, namun bolehkah aku mengajukan pembelaan? Sev.. Aku sebenarnya selalu menunggumu. Menunggu kau kembali padaku. Kau sudah kumaafkan. Dan aku menunggu kau mendekatiku lagi. Kau menegurku lagi. Kita berbincang bersama lagi. Menunggu kesempatan untuk mengutarakan perasaanku padamu. Dan yah.. menunggu kau mengatakannya padaku. Entahlah, terkadang aku merasa kau juga mencintaiku, walau aku tak yakin akan hal itu.
Aku tak yakin Sev, terkadang kau seperti menunjukkan perhatian yang berlebih. Perhatian yang mengisyaratkan kau ingin lebih dari seorang teman. Saat kita begitu dekat, kau tampak akan menciumku, berulang kali begitu dan selau tidak jadi. Aku bingung Sev. Sampai akhirnya ketika kau memutuskan untuk tidak menuruti keinginanku. Kau lebih memilih teman-teman death eater-mu. Aku pun meyakinkan diri, bahwa kau tak pernah mencintaiku. Kau lebih memilih mereka daripada aku.
Maka, ketika James Potter mendekatiku dan melamarku. Aku menerimanya. Namun aku tak pernah mencintainya Sev. Tidak seperti cintaku padamu. Yah kau tahu, James sangat usil dan serampangan. Dia kurang bertanggung jawab, tapi ia sangat mencintaiku. Ia bisa tampil rapih dan berpakaian muggle dengan layak ketika bertemu dengan orang tuaku. Dia bisa mengambil hati orang tuaku.
Orang tuaku pun merestui hubunganku dengannya. Mum ternyata sudah lama khawatir bahwa aku akan bersamamu. Mum masih agak keberatan atas perlakuanmu terhadap Tuney. Tuney mengadu yang tidak-tidak, sehingga Mum membencimu. Aku sudah membelamu, namun Tuney marah. Dia marah karena aku lebih membelamu daripada dia, kakakku sendiri. Nah, dengan kedatangan James, Mum merasa lega. Aku bisa bersanding dengan pria yang lebih baik menurutnya.
Tak lama kemudian Mum, menyusul Dad ke surga Sev. Kau mungkin tahu beria itu. Rumah kami sudah tak berpenghuni lagi, masihkah kau mengunjunginya? Sepertinya tidak, kau terlalu sibuk dengan tuanmu bukan? Mum yang telah pergi, tak pernah tahu bahwa kehidupanku dengan James selalu diliputi kecemasan. James adalah salah satu orang yang paling diincar tuanmu untuk dibunuh. Dua kali kami berhasil melawan dan kabur. Entah bagaimana kehidupan kami selanjutnya. Kini aku sedang mengandung putra James. Aku diliputi kecemasan. Akankah bayi ini lahir dengan selamat? Akankah aku bisa melihatnya tumbuh dewasa.
Sev, aku merasa tak aman. James memang melindungiku. Tapi aku tahu, bahwa kau pasti akan jauh lebih melindungiku. Seandainya kau bersamaku, seandainya kau memilihku..
Sev.. aku tak sanggup lagi menulis.. Namun harus kuutarakan semuanya padamu. Aku sudah mencintaimu sejak kau bercerita tentang dunia sihir padaku dulu. Kau mempesona dengan gayamu, yang sederhana namun angkuh. Kau membuatku mengenal dunia baru. Kau menumbuhkan rasa percaya diriku. Kau membuat hari-hariku berbeda. Aku nyaman berada di sampingmu. Walau jarang sekali kau tersenyum. Jarang sekali kau bicara. Kita lebih banyak diam. Namun, aku merasa dengan diam itu, semua hal bisa terungkap perlahan.. Tidak, ternyata dengan diam, tidak ada hal yang terungkap Sev.
Maka aku menulis ini. Aku sudah tak peduli, apakah kau membalas cintaku atau tidak. Aku sudah tak peduli bahwa kita tak mungkin bersatu di dunia ini. Namun yang kupedulikan sekarang adalah.. Kau tahu bahwa aku mencintaimu…
Yah, sudah tak berguna memang. Tapi aku merasa bahwa kau perlu tahu. Itu saja. Dan aku menuliskannya di hari ulang tahunmu. Hari yang kau benci sebetulnya. Kau tidak pernah mau merayakannya. Tapi aku menyukai hari ini. Karena di hari inilah, pria yang paling kucintai lahir ke dunia. HAPPY BIRTHDAY, MY LOVELY (Perkenankan aku memanggilmu seperti itu, untuk yang pertama dan terakhir kalinya).
Di hari ini, seharusnya aku memberimu sesuatu Sev, sesuatu yang membahagiakanmu.. Tapi tak ada apapun yang bisa kuberikan, selain pernyataan cinta, yang sudah jauh terlambat.. Maafkan aku.. Bukannya member, aku malah meminta.. Kumohon Sev, maafkan aku..
Satu hal lagi yang kumohon darimu adalah, tolong lindungi anakku. Aku tahu, bahwa kami selalu diincar Voldemort. Aku akan berusaha melindungi anakku sebisaku, namun jika akhirnya aku dan James meninggal, kumohon lindungi dia. Ah.. aku tak pantas meminta ini, orang lain pasti mengira aku bodoh atau gila. Meminta perlindungan padamu, namun hanya kau yang bisa kupercaya Sev.. hanya kau.. kumohon..

Always love you,
Lily

1 Oktober 1981, Ruang kepala sekolah Hogwarts,

Severus Snape melipat kembali surat tersebut dengan wajah bersimbah air mata, dan berkata pada Albus Dumbledore, "Ya, aku akan menjaganya, demi Lily".

Bahkan Setelah Semua Itu (Sanich Iyonni)

Link asli ada di sini

----------

A/N: Untuk Snape Day ….
Disclaimer: J.K. Rowling. I gain no financial advantage by writing this.

~Bahkan Setelah Semua Itu~
#
#

Cinta, terkadang bisa sangat irasional.
Severus Snape paham benar akan hal itu. Cintanya kepada Lily Evans jelas telah sampai pada tahap tak lagi mengandalkan logika. Dia mencintai Lily dengan hati, hanya dengan hati. Dari dulu hingga sekarang.
Lily begini, Snape mencintainya. Lily begitu, Snape mencintainya. Lily tersenyum padanya, Snape mencintainya. Lily meninggalkannya demi musuh besarnya, Snape masih mencintainya.
Bahkan pada suatu waktu, ketika Lily melakukan hal paling jahat yang bisa dilakukan seorang perempuan terhadap lawan jenisnya ….
… Snape tetap mencintainya.
.
.
.
.
.
"Emmm … Severus."
Snape menoleh. Ia tak memercayai apa yang dilihatnya.
"… Lily?"
Keraguan jelas tersurat dalam intonasinya. Tentu saja. Sudah hampir dua tahun Lily tidak bicara padanya, tepatnya sejak frase Darah-Lumpur tak sengaja terlontar dari bibirnya. Seluruh permintaan maaf Snape sepanjang sisa tahun ajaran kelas lima, liburan musim panas, serta beberapa bulan awal kelas enam tidak digubris oleh gadis itu. Akhirnya Snape menyerah, menganggap Lily sudah membencinya sampai ke titik maksimal. Tidak ada lagi yang bisa mengubahnya.
Tapi mendadak, saat ini, detik ini, Lily menghampirinya di perpustakaan ini, lalu menyapanya. Bahkan dia berniat bicara dengannya. Terbukti dari tindakan Lily menarik kursi di sebelah Snape dan menghempaskan tubuh di sana.
Konsentrasi Snape, yang tadinya terfokus pada buku yang sedang dibacanya, kini buyar sepenuhnya. Perasaan dan pikirannya campur aduk tak terkendali—gelisah, senang, bertanya-tanya ….
"Emmm … Sev, aku …."
Baru pertama kali ini Snape melihat Lily tampak sedikit gugup.
"… well, kurasa … kita bisa mencoba kembali berteman."
Jika tadi Snape tidak memercayai matanya saat melihat sosok Lily, kini ia meragukan telinganya. Benarkah apa yang ia dengar barusan?
Snape berusaha menilai mata Lily untuk menemukan kejujuran atau kebohongan, tapi ia tidak sanggup. Mata hijau cemerlang itu malah membuatnya tersedot, tenggelam kembali dalam perasaan hati yang selama ini sudah ia coba kunci rapat-rapat.
persetan dengan itu! Tak perlu mempertanyakan apa pun. Memangnya Lily pernah berdusta? Lagi pula, bukankah ini yang kauinginkan? Lantas, kenapa kau harus skeptis begitu?
Bisikan hati kecilnya langsung diterima oleh otaknya. Perlahan, bibir Snape tertarik ke pinggir, membentuk senyuman kecil. Senyum pertamanya setelah dua tahun. Sepanjang kelas enam lalu dan awal-awal kelas tujuh ini, Snape tidak pernah tersenyum. Bagaimana bisa dia tersenyum, jika satu-satunya orang yang bisa membuatnya tersenyum tak mau bicara padanya lagi?
"Kau memaafkanku?"
Lily mengangguk, ikut tersenyum.
"Sebenarnya kau orang yang baik, Sev. Waktu itu kau tidak sengaja, kan?"
Tentu tidak sengaja. Takkan pernah tebersit di pikiran Snape untuk sengaja melukai Lily.
"Aku sudah berkali-kali mengatakannya."
"Ya. Maafkan aku, Sev."
"Kau tidak perlu minta maaf. Aku yang salah."
"Kurasa aku juga harus minta maaf karena sudah mengabaikan permintaan maafmu."
"Tidak. Aku yang salah."
Keduanya berpandangan, lalu tertawa bersama. Tawa yang begitu lepas, bebas … seperti ketika mereka mengobrol waktu masih kanak-kanak dulu, sekian tahun silam.
Madam Pince memelototi mereka, tapi mereka tetap saja tertawa.
"Jadi … kita berteman lagi?"
"Ya."
"Mau menjabat tanganku?"
Snape memandangi tangan Lily yang terulur. Sedetik kemudian—tanpa ragu—dia menjabatnya erat, meski tangannya sendiri sedikit gemetar.
"Terima kasih," hanya itu yang bisa ia katakan. Entah apakah Lily menangkap kaca-kaca di mata hitamnya.
.
.
.
.
.
Dunia Snape berputar 180 derajat, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan—bahkan harapkan.
Kini ia sangat sering menghabiskan waktu bersama Lily. Perpustakaan menjadi tempat mereka kerap bertemu hampir setiap hari, belajar bersama demi mempersiapkan ujian NEWT yang sudah di depan mata. Kalau bukan perpustakaan, bawah pohon tepi danau adalah pilihan kedua. Atau Three Broomsticks. Biasanya Lily yang traktir.
Hati Snape kini dipenuhi bunga. Aura suram dan muram yang biasa menyelimutinya terbang entah ke mana. Lily sendiri tampak menikmati rekonsiliasi persahabatan mereka. Gadis itu tidak menutup-nutupi kedekatannya dengan pemuda berhidung bengkok dari asrama lain. Meskipun orang-orang memandang aneh, Lily tetap bicara seperti biasa pada Snape.
Masa-masa itu adalah masa-masa terbaik dalam hidup seorang Severus Snape. Cintanya pada Lily tumbuh subur, berkembang pesat. "Pupuk" berdosis tinggi yang Lily berikan memiliki andil besar dalam prosesnya.
Hingga akhirnya, Snape tak tahan lagi. Dia harus menyatakannya.
Maka hari itu, di perpustakaan ketika mereka sedang belajar seperti biasanya, Snape berdeham. Lily berpaling ke arahnya.
"Ada apa, Sev?"
"Aku sudah lama berpikir, Lily," kata Snape pelan. Ia menatap Lily lekat. "Aku … aku menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu. Mungkinkah … kita menjadi lebih dari sekadar teman?"
Jantung Snape berdegup kencang usai mengatakan kalimat itu. Rasa tegang menjalari sekujur tubuhnya. Hatinya kebat-kebit melihat ekspresi di wajah Lily.
Raut muka gadis itu berubah pias. Mata hijaunya melebar, menunjukkan mimik yang susah dideskripsikan. Mungkin campuran antara kaget, tak percaya, menganggap Snape gila ….
"Kau tidak—"
"Sebentar, Sev. Ini … ini terlalu mendadak," Lily menjatuhkan pena bulu yang dipegangnya ke atas perkamen. "Aku … butuh waktu untuk berpikir …."
"Kau tidak harus menjawab sekarang," kata Snape segera. "Tidak perlu buru-buru, Lily."
"Yah," Lily mengusap rambut panjangnya gugup, "ya, tentu … aku …."
Suaranya menghilang. Snape tidak pernah melihat Lily salah tingkah seperti itu sebelumnya.
"Sev, maaf … aku harus pergi," Lily membereskan semua barangnya cepat-cepat. Tindakan tergesanya itu membuat botol tintanya terguling, isinya tumpah membasahi perkamen berisi rangkuman materi yang tadi sedang digarapnya. Lily tidak peduli dan tetap meraup buku, pena bulu, perkamen dan botol tinta ke dalam pelukan. "Sampai nanti."
Gadis itu cepat-cepat memalingkan wajah dan melangkah pergi. Namun, Snape sempat melihat zat cair bening di sudut-sudut mata hijaunya.
Hati Snape serasa diremas.
Salahkah dirinya telah menyatakan cinta?
.
.
.
.
.
Lily menghindarinya selama beberapa hari berikut. Dia tak mau bicara pada Snape, tidak datang ke perpustakaan, sengaja terlambat ke Aula Besar saat waktu makan. Benar-benar persis ketika Lily sedang marah dulu.
Batin Snape tersiksa. Tak ada detik yang tak digunakannya untuk merutuki diri karena telah mengutarakan perasaan. Satu kalimat itu sungguh terkutuk—merusak persahabatan mereka yang baru saja terjalin kembali. Snape menyumpah-nyumpah dalam hati, berulang kali memaki kebodohannya sambil memikirkan sejuta cara untuk meminta maaf.
Dia jadi sering sekali melamun, lebih dibanding dulu saat Lily marah padanya untuk pertama kali. Saat ini pun tidak berbeda. Pikiran Snape berkelana ke mana-mana, bahkan ia tak sadar posisi buku yang terbuka di hadapannya terbalik. Jarinya memainkan pena bulu di tangan, tintanya menetes satu demi satu ke meja baca. Bergeser sedikit saja, tinta itu akan mengotori buku dan Snape pasti akan menjadi sasaran kutukan Madam Pince.
"Ckckck, Snivellus terlalu kaya sampai membuang-buang tinta seenaknya."
Snape tidak perlu repot-repot melihat siapa yang bicara itu. Suara menyebalkan Sirius Black sudah ia programkan otomatis sebagai "suara yang tak perlu dihiraukan".
"Pasti kau sedang berkhayal lagi. Menjadi anak populer, kapten Quidditch, atau mungkin Ketua Murid? Snivellus, kalau berkhayal jangan ketinggian. Fantasi yang berlebihan itu tidak baik, tahu?" Sirius menarik kursi yang berjarak tiga meja dari Snape. Dia duduk di sana dan membuka buku yang baru diambilnya dari rak. Kalau tidak ingat ini perpustakaan, Sirius pasti sudah bersiul-siul.
"Lily memaafkanmu, ya? Tak kusangka orang sepertimu punya keberuntungan sebesar itu," Sang Padfoot masih melanjutkan membuli Snape secara verbal. "Tapi tentu saja, keberuntunganmu tidak berlangsung lama. Karena terlalu sering sial, kau jadi tak tahu harus bagaimana memperlakukan keberuntungan agar tahan lama di sisimu. Benar-benar payah."
Snape menggertakkan gigi, berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak bangkit dan memukul Sirius. Sebagai gantinya dia genggam erat pena bulu di tangannya sampai bulu-bulunya kusut, bahkan ada yang rontok beberapa helai.
"Kapan sih kau akan belajar menjadi laki-laki sejati, Snivellus? Pasti kau membuat Lily marah lagi, kan?"
"Diam saja kalau tidak tahu apa-apa," balas Snape kaku, masih berupaya menelan kemarahannya. Namun, Sirius malah tertawa mengejek.
"Tidak tahu apa-apa? Kau yang tidak tahu apa-apa! Memangnya Lily bakal memaafkanmu begitu saja setelah kau mengatainya Darah-Lumpur? Setelah dia bertekad untuk tidak bicara padamu lagi? Menurutmu kenapa Lily mau—ya ampun, aku benci kata ini—berteman denganmu lagi?"
"Karena kami memang berteman sejak kecil," sahut Snape ketus.
"Teman masa kecil, eh? Luar biasa, Snivellus. Aku baru tahu ada orang yang mengatai teman masa kecilnya Darah-Lumpur," Sirius terkekeh. "Dan kaupikir kau mencintai Lily? Benar-benar luar biasa."
Saat itu Snape ingin sekali menghancurkan wajah Sirius. Tapi dia menahan diri karena tak mau terlibat masalah besar lagi seperti dulu. Sejak Lily menolak bicara dengannya gara-gara insiden Darah-Lumpur, Sirius dan konco-konconya jarang mengganggunya secara terang-terangan lagi. Snape sendiri lebih memilih menghindari mereka saking muaknya melihat tampang keempat orang itu.
Snape menutup bukunya keras-keras, lalu mengelap kasar tetesan-tetesan tinta di meja sampai tangannya menghitam. Dia mendorong mundur kursinya. Biarlah Sirius menganggapnya pengecut atau apa … mengalah bukan berarti kalah.
"Sebenarnya aku tak mau berkata buruk tentang Lily, Snivellus. Tapi kau harus tahu, Lily tak pernah benar-benar memaafkanmu!"
Mode pura-pura tuli sudah kembali diaktifkan Snape. Dia beranjak menjauh, mengabaikan perkataan maupun tawa merendahkan Sirius Black yang sangat ingin dibunuhnya.
.
.
.
.
.
"Kau mencintainya?"
Snape menghentikan langkah, alisnya berkerut. Suara yang berasal dari kelas kosong yang dilewatinya itu terasa familier di telinganya. Rasa ingin tahunya timbul. Perlahan, ia mendekati pintu kelas tersebut. Ia sibakkan rambutnya yang berminyak, lalu mendekatkan telinga ke pintu.
"Kenapa aku harus mengatakannya padamu?"
"Jawab saja, Lily. Apa kau mencintainya?"
"Bukan urusanmu."
Terdengar suara kayu berderit. Sepertinya salah satu dari kedua orang di dalam baru saja duduk.
"Belakangan ini kau dekat dengannya. Bukankah kau marah padanya gara-gara peristiwa waktu itu?"
"Memangnya kaupikir siapa yang membuat makian itu terlontar dari mulutnya?" intonasi suara itu terdengar sengit. "Dia tidak akan begitu kalau kau tidak keterlaluan mengganggunya!"
"Cukup! Jangan membelanya, Lily. Kumohon, jangan membelanya. Aku muak mendengarnya."
"Itu bukan urusanku."
"Baiklah! Kurasa aku benar-benar harus mengatakannya dengan jelas padamu. Aku mencintaimu, Lily. Aku sangat mencintaimu. Sepertinya sudah begitu sejak pertama kali aku melihatmu di Hogwarts Express. Beberapa bulan ini, setiap melihatmu bersama Snape, aku jadi tersadar. Bagaimana kalau kau menjadi milik orang lain? Aku tak sanggup membayangkannya. Aku tak tahan melihatmu bersama laki-laki lain, terutama dia. Si Snivellus."
Hening sejenak.
"Lily … aku tak tahu apa yang akan kulakukan kalau kau menolakku. Aku benar-benar …." suara itu melemah, lalu terputus.
Kembali hening.
Yang akhirnya pecah oleh isak tertahan.
"Lily …."
Snape membuka pintu sedikit. Lily terduduk di lantai, air mata mengalir di pipinya. Tangis itu terdengar begitu sedih, menyayat, penuh luka. Snape merasa hatinya teriris-iris melihat Lily menangis seperti itu.
"Dia … dia menyatakan cinta padaku, James," isaknya. "Katanya, dia mencintaiku …."
James bangkit dari kursi, berjalan perlahan mendekati Lily. Dia berjongkok dan memeluk gadis itu.
"Aku bersalah kepadanya … aku mendekatinya lagi agar kau melihatku … melihat kami dan …." Lily tak melanjutkan.
"Aku selalu melihatmu, Lily. Tak pernah gadis lain," James mengelus rambut Lily pelan.
"Dia mencintaiku, James—"
"Dan kau tidak mencintainya?" tanya James lembut.
Lily mengendurkan diri dari rengkuhan James. Dengan air mata yang masih berkilauan di manik hijaunya, dia memegang pipi pemuda itu dan mencium bibirnya.
Begitu lama.
Itu sudah menjawab semua.
Snape menutup pintu. Dadanya remuk redam, kepalanya terasa kosong.
Masih sulit baginya untuk percaya.
Lily … Lily memanfaatkan dirinya agar James Potter merasa cemburu dan menyatakan cinta? Seluruh kebaikan Lily setelah mereka berteman lagi hanya demi itu?
Seorang Lily mempermainkan perasaannya ….
Snape tak percaya … tak ingin percaya ….
Dengan langkah-langkah seperti zombie, Snape terus berjalan.
Tapi mendadak, matanya terasa panas. Tubuhnya bergetar hebat. Dia berlari ke toilet dan mengunci diri di dalam salah satu bilik. Dibiarkannya air mata membanjir, berjatuhan deras ke pipinya, mengalir sampai ke dagu, menetes ke jubah hitamnya ...
Bahunya berguncang naik turun, mengikuti irama sesenggukannya ...
Hatinya sakit, sakit, sakit sekali.
Belum cukupkah dua tahun saling terasing menjadi hukuman baginya setelah kata Darah-Lumpur itu terlontar? Haruskah Lily menghukumnya dengan sanksi seberat ini?
"Lily …." lirih, nama itu terucap dengan gemetar. "Lily …."
Ternyata, perkataan Sirius benar. Lily tak pernah benar-benar memaafkannya.
Dan Severus Snape tak pernah ada di hati Lily Evans.
.
.
.
.
.
Setelahnya, Snape tak pernah lagi berusaha mendekati Lily. Dia biarkan dirinya kembali tenggelam dalam aura suramnya. Setelah beberapa minggu, Lily pernah berusaha menghampirinya di perpustakaan, tapi Snape buru-buru berlalu. Kini dia tak pernah lagi ke perpustakaan dan menghabiskan sebagian besar waktunya di Ruang Rekreasi Slytherin.
Pernyataan cintanya mengambang, tak terjawab. Tak perlu. Snape sudah tahu.
Anehnya, dia masih menangis ketika mendengar kabar Lily akan menikah dengan James Potter, beberapa tahun setelah mereka lulus. Dan dia masih merasa dunianya hancur ketika Lord Voldemort, tuannya sendiri, membunuh Lily. Dan dia masih dengan sukarela melindungi putra Lily sampai tujuh belas tahun setelah kematian wanita itu.
Bahkan setelah semua yang Lily lakukan padanya, Snape masih mencintainya.
Entahlah. Snape tidak punya jawaban untuk yang ini.
Cinta, terkadang memang bisa sangat irasional.
.The End.
#
#